| |
C © updated 11122008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Ali Alatas
Lahir :
Jakarta, 4 November 1932
Meninggal:
Singapura, 11 Desember 2008
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008
Pendidikan :
:: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1956
:: Akademi Dinas Luar Negeri, 1956
Karir :
:: Korektor Harian Niewsgierf (1952-1952)
:: Redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954)
:: Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Bangkok (1956-1960)
:: Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri
(1965-1966)
:: Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970)
:: Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972)
:: Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri
(1972-1975)
:: Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976)
:: Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978)
:: Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982)
:: Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987)
:: Menteri Luar Negeri (1987-1999)
:: Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004)
:: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008
Penghargaan:
Bintang Adi Mahaprana dan Bintang Republik Indonesia Utama
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
In Memoriam Ali Alatas
Mengenang Filosofi Bermain Kartu
Kita kehilangan sosok diplomat ulung sekaligus putra terbaik bangsa
bernama Ali Alatas. Alex, sapaan akrab almarhum, yang lahir pada 4
November 1932 itu wafat karena serangan jantung di RS Mount Elizabeth,
Singapura, Kamis pagi, pukul 7.30 waktu setempat, dalam usia 76 tahun.
Indonesia selayaknya berdukacita sekaligus menundukkan kepala atas jasa
diplomat ulung satu ini.
Ketika menjabat Menlu (1987-1999) dalam empat kabinet, saya sempat
beberapa kali bertemu. Pada 1999, saya pernah bertemu almarhum yang
kecewa atas rencana Presiden Habibie terkait dengan Timor Timur (Timtim).
Habibie mengeluarkan dua opsi kepada rakyat Timtim. Pertama, merdeka
atau lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, diberi otonomi khusus atau tetap bergabung sebagai provinsi
termuda Indonesia. Setelah referendum dilakukan pada 29 Agustus 1999 dan
hasilnya diumumkan pada 4 September 1999, mayoritas warga Timtim atau
tepatnya sekitar 78,5 persen penduduknya memilih opsi pertama.
***
Ali Alatas pantas kecewa, mengingat dialah yang paling banyak berupaya
meyakinkan publik dunia bagaimana Timtim telah berintegrasi dengan
Indonesia. Itu dilakukan Alex bahkan sebelum ditunjuk jadi Menlu, yakni
ketika menjabat wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa di
New York (1983-1987). Dialah yang menjaga gawang Indonesia ketika negeri
ini harus menghadapi cacian dan kritikan dari masyarakat dunia yang
menentang aneksasi Timtim.
Ketika dia mulai menjabat Menlu, kritik untuk Indonesia justru kian
menggila. Syukurlah dengan kesantunan dan kecerdasan berdiplomasi, Alex
menjawab semuanya dengan bermartabat.
Ketika meletus insiden Santa Cruz yang menewaskan puluhan orang pada 12
November 1991, Alex bisa tetap cool tanpa kehilangan wibawa sehingga
kemarahan dunia bisa diredam. Alex tidak bosan menjelaskan, setelah
Timtim dua dekade berintegrasi dengan Indonesia (1976-1996), tingkat
pendapatan masyarakatnya meningkat 70 persen. Pemerintah RI juga
memberikan anggaran lebih daripada provinsi lain di Indonesia.
Karena itu, terkait dengan lepasnya Timtim, jelas sangat masuk akal bila
Alex sangat kecewa, apalagi Presiden B.J. Habibie tidak pernah
berkonsultasi atau meminta pendapatnya terlebih dahulu. Tapi, sejarahlah
yang akan mencatat, apakah lepasnya Timtim dari Indonesia itu kekeliruan
Habibie atau justru sebaliknya, blessing in disguise bagi Indonesia.
Yang pasti, karena Timtim lepas itu, pertanggungjawaban Habibie ditolak
MPR.
Sebaliknya, nama Ali Alatas tetap berkibar. Terbukti, meski tak menjabat
Menlu di era pemerintahan Gus Dur, Megawati, atau SBY, Alex tetap
diangkat sebagai penasihat presiden untuk masalah diplomasi atau urusan
luar negari. Bahkan, beberapa negara dulu pernah mengusulkan Ali Alatas
sebagai kandidat Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa.
***
Yang perlu digarisbawahi adalah kontribusi maksimal yang ditorehkan Ali
Alatas selama puluhan tahun di kancah pergaulan masyarakat internasional.
Bayangkan, sejak usia sangat muda, yakni 22 tahun, Ali Alatas sudah
meniti karir sebagai diplomat. Dia mengawali tugas diplomatnya sebagai
sekretaris kedua di Kedutaan Besar RI Bangkok (1956-1960).
Sebelum jadi diplomat, Ali Alatas pernah terjun di dunia jurnalistik
sebagai korektor harian Niewsgierf (1952-1952) dan redaktur Kantor
Berita Aneta (1953-1954).
Mengingat jam terbangnya yang tinggi sebagai diplomat, wajar sudah
banyak kontribusi yang beliau berikan bagi tanah air. Lalu, apa rahasia
kesuksesan diplomasinya? Berkali-kali di depan wartawan, analis politik
luar negeri, atau diplomat junior dari tanah air, Alex memaparkan
kiatnya: "Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan semua
kartu kepada orang lain. Dan, jatuhkan kartu tersebut satu per satu."
Terbukti dengan kiat semacam itu, citra Indonesia di mancanegara selalu
bisa terjaga secara bermartabat. Karena itu, diplomasi jelas punya
tempat dan peran strategis.
Bahkan kalau merunut sejarah kemerdekaan, keberhasilannya bukan
semata-mata terletak pada perjuangan bersenjata. Diplomasi merupakan
kekuatan ketiga dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan
kemerdekaan yang merebak di hampir seluruh Nusantara dimenangkan bukan
hanya oleh kekuatan militer, tetapi terutama oleh keahlian diplomasi
(Prof Dr Richard Jakaryas Lerisa, Kekuatan Ketiga dalam Perjuangan
Kemerdekaan Indonesia, 2007).
Sejarah diplomasi Indonesia jelas tidak akan lengkap tanpa menyebut nama
Ali Alatas. Apalagi, sepanjang dedikasinya sebagai diplomat, dia juga
teguh dalam diplomasi merah putih. Artinya, lewat perjuangan diplomasi,
Ali Alatas sungguh menjadi inspirasi -khususnya bagi warga negara
Indonesia di luar negeri-untuk tetap memiliki jiwa nasionalisme dan
patriotisme. Apalagi, kita kian bangga mengingat negeri kita sudah masuk
sebagai anggota G20.
Karena itu, pemakaman Ali Alatas di Taman Makam Pahlawan Kalibata sudah
selayaknya dilakukan. Ali Alatas memang seorang pahlawan bagi bangsa ini.
Semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan
diberi ketabahan. (Indo Pos, 13 Desember 2008 Oleh Andika Hadinata,
analis politik internasional, menetap di Tubingen, Jerman).
►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|