| |
C © updated 11122008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Ali Alatas
Lahir :
Jakarta, 4 November 1932
Meninggal:
Singapura, 11 Desember 2008
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Ali Alatas Wafat
Jenazah Tiba Pukul 18.00
Jakarta, Sinar Harapann 11/12/2008 - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden,
yang juga mantan Menteri Luar Negeri RI Ali Alatas, meninggal dunia pada
usia 76 tahun, Kamis (11/12) pagi, pukul 06.30 WIB, di RS Mount
Elizabeth, Singapura.
Jenazah diplomat kawakan yang banyak memperjuangkan Indonesia dalam
masalah Timor Timur ini akan disemayamkan di KBRI Singapura siang ini,
dan akan tiba di Jakarta pukul 18.00. Jenazah akan langsung dibawa ke
Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri, untuk disemayamkan, sebelum
dibawa ke rumah duka di Jalan Kemang Timur V Kavling 2, Jakarta Selatan.
Pejuang diplomasi ini akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,
Jumat (12/12) pagi, pukul 09.00.
Terkait dengan kepergian salah satu putra terbaik bangsa ini, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono telah menyatakan rasa duka citanya atas
meninggalnya anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Ali Alatas.
”Presiden sedih dan terkejut mendengar kabar itu,” kata juru bicara
Kepresidenan Dino Patti Djalal ketika dihubungi melalui telepon.
Menurut Dino, hingga kini Presiden juga belum memikirkan untuk mencari
pengganti Ali Alatas yang merupakan penasihat bidang luar negeri dalam
Wantimpres. Sebelum Alatas, salah seorang anggota Wantimpres yang
meninggal dunia adalah Dr Sjahrir pada 28 Juli lalu. Penasihat Presiden
di bidang ekonomi ini, juga meninggal di RS Mount Elizabeth, Singapura
akibat sakit kanker paru-paru.
Menurut Iwanshah Wibisono, Sekretaris Ketua Dewan Pertimbangan Presiden,
Ali Alatas sempat dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta sebelum dibawa
ke RS Mount Elizabeth Singapura. Komplikasi yang dialami diperkirakan
karena Pak Alex, begitu dia biasa disebut, terlalu lelah sehingga
jantungnya terkena. Ali Alatas meninggalkan seorang istri, Junisa, dan
tiga putri yang semua telah berkeluarga, yakni Soraya Alatas, Nadita
Alatas, dan Fauzia Alatas.
”Beliau pernah menjalani operasi jantung pada tahun 1994,” kata Iwan
yang juga mantan konsul di Konsulat Jenderal RI New York. Pada hari
Senin lalu, kondisinya membaik sehingga dipindahkan ke ruang perawatan
nomor 6003. ”Sudah bisa bicara,” kata Iwan. Namun Kamis pagi, Ali Alatas
dipindahkan kembali ke ruang perawatan intensif (ICU) pada pukul 05.40
waktu Singapura.
Selama setahun terakhir menjadi sekretaris Ketua Watimpres, Ali Alatas
menurut Iwan adalah orang yang tidak pernah menyerah dan penuh dedikasi
pada pekerjaannya. Pada komunikasi terakhir yang dilakukan Jumat pekan
lalu, Ali Alatas menanyakan pekerjaan kepadanya.
Tokoh Dunia
Ali Alatas adalah manteri luar negeri (menlu) paling lama dalam sejarah
RI. Dia menjadi menlu untuk empat kabinet semasa Orde Baru (1987-1999).
Namanya pernah dinominasikan untuk mendapat Nobel Perdamaian pada 1996,
namun berbagai pelanggaran HAM di Timor Timur mengganjalnya.
Siapa pun tidak akan lupa bahwa Ali Alatas yang bertugas sebagai
co-chairman Paris Conference (1989-1991) adalah tokoh utama yang banyak
berperan dalam proses perdamaian di Kamboja, sampai negara itu berhasil
menyelenggarakan pemilihan umum demokratis pertama tahun 1992 dengan
bantuan PBB (UNTAC).
Dia juga yang banyak berperan dalam proses perdamaian di Mindanao,
Filipina Selatan, antara pemerintah Filipina dengan Front Nasional
Pembebasan Moro (MNLF).
Dia termasuk tokoh yang meletakkan dasar dan mengarahkan terbentuknya
berbagai forum dunia seperti ASEAN, APEC, ASEM, ASEAN Regional Forum,
Gerakan Non-Blok sehingga nama Indonesia tetap berkibar, meski selalu
disandung masalah Timor Timur. Namun, ironisnya, ketika ada keputusan
politik untuk melepas Timor Timur lepas dari Indonesia pada 1999,
Presiden BJ Habibie sama sekali tidak berkonsultasi dengannya karena dia
dianggap yang menolak melepas Timor Timur.
Setelah tidak menjadi menlu pun, dia menjalankan tugas sebagai Penasihat
Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004) dan terakhir duduk di
Dewan Penasihat Presiden, menjadi anggota Eminent Persons Group (EPG)
untuk urusan hubungan RI-Malaysia, juga dalam penyusunan Piagam ASEAN
(ASEAN Charter). Dia juga menjadi anggota Dewan Penasihat untuk Piagam
Organisasi Konferensi Islam (2005-2006). Di luar itu, dia juga aktif
dalam berbagai yayasan sosial termasuk menjadi penasihat di Firma Hukum
Makarim & Taira.
Ali Alatas adalah lulusan Akademi Dinas Luar Negeri (1954) dan juga
Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1956.
Pria kelahiran 4 November 1932 ini, menjalani penempatan pertama
sebagai diplomat ketika menjadi Sekretaris II KBRI Bangkok (1956-1960).
Sebelum itu, dia bekerja merangkap sebagai redaktur ekonomi di Kantor
Berita Aneta (1953-1954).
Di Departemen Luar Negeri, Alex pernah menduduki sejumlah pos penting di
luar negeri dan dalam negeri. Dia ditunjuk Presiden Soeharto sebagai
menteri luar negeri ketika masih menjadi Kepala Perwakilan Tetap RI (PTRI)
New York (1983-1987), menggantikan Menlu Prof Dr Mochtar Kusuma Atmaja.
Oleh karena keahliannya dan jasa-jasanya, Ali Alatas mendapatkan gelar
kehormatan doctor honoris causa dari Universitas Diponegoro, Semarang. n ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|