|
|
 |

Nama
dr. Mayor (Purn) Alexander Hendrato Suryoprawiro
Lahir
Jakarta 25 Juni 1940
Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (1967)
Wajib militer dan militer sukarela
Pekerjaan
Dokter berpangkat Mayor di Rumah Sakit Tentara Balikpapan.
Tahun 1982 mundur dari dinas militer.
Menekuni seni sampai sekarang
Anggota DPRD Balikpapan (1982-1987).
Direktur Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan sampai 1997
Pengurus Yayasan RS Restu Ibu sampai sekarang
|
|
dr Alexander Hendrato Suryoprawiro
Pematung Adat Dayak
Tidak ada kata terlambat untuk menekuni sebuah pekerjaan yang dicintainya.
Itulah yang dilakukan oleh dr Mayor (Purn) Alexander Hendrato Suryoprawiro
(62) saat mulai menekuni seni patung Dayak pada usianya yang sudah
menjelang 50 tahun.
Kini namanya dikenal di kalangan pencinta benda-benda
etnis dan para kolektor patung-patung tradisional. Ratusan karyanya sudah
tersebar di berbagai penjuru dunia karena sudah sangat sering menjadi
cendera mata di lingkungan perusahaan pertambangan minyak di Kota
Balikpapan.
Berbicara dengan Alex tentang seni patung dapat berlangsung berjam-jam.
Pengetahuannya yang luas terhadap detail-detail pakaian adat berikut
aksesorinya dari berbagai sub-etnis Dayak Kalimantan Timur sangatlah
mengagumkan.
Ketika berlangsung bazar ekstravaganza yang digelar Balikpapan Expatriat
Women Club (BEWC) beberapa waktu lalu, ia dengan telaten menjawab
pertanyaan pengunjung tentang perbedaan khas pakaian adat Dayak Kenyah,
Punan, Bahao, Tunjung-Benuaq, dan Lundaya.
"Sekarang sulit membedakan pakaian mereka karena relasi antarmereka lalu
saling mempengaruhi. Tetapi ada yang khas pada Dayak Kenyah dan Bahao,"
katanya. "Yaitu adanya aksesori yang terbuat dari bulu-bulu burung enggang
dan burung terda yang panjang di kepala."
Selain pengamatan dan pergaulannya dengan orang Dayak, model-model patung
berikut pakaian adat dan aksesorinya dia pelajari dari buku-buku tentang
Dayak terbitan lama, seperti Naga dan Burung Enggang karya Bernard Sellato
dan A Journey Among the Peoples of central Borneo karya HF Tillema.
Lahir di Jakarta 25 Juni 1940, Alex menamatkan pendidikan dokternya di
Universitas Airlangga (1967), kemudian masuk wajib militer dan diteruskan
dengan militer sukarela sampai akhirnya berpangkat Mayor saat bertugas di
Rumah Sakit Tentara Balikpapan. Tahun 1982, ia mundur dari dinas militer
karena jiwa seninya ternyata lebih kuat memanggil.
Selama aktif di tentara, hobi melukisnya terus diasah. Konon, sejumlah
jenderal pernah minta dilukis oleh Alex.
"Saya melukis sejak kecil. Ayah saya memang senang melukis," kata anak
juragan batik di Pekalongan itu.
Ia merasa beruntung, dulu sering bertugas ke pedalaman Kaltim dan bertemu
banyak orang Dayak dari berbagai sub-etnis. Itulah modal dasarnya saat
membuat model patung Dayak.
"Terus terang saya gelisah, budaya Dayak lama-lama akan punah dan anak
cucu kita tidak akan pernah bisa menyaksikannya. Di sinilah saya berusaha
melestarikan budaya mereka dalam bentuk tiga dimensi," katanya memberi
alasan kenapa ia memilih patung Dayak sebagai model.
Ia kemudian bercerita soal tradisi memanjangkan telinga di kalangan wanita
Dayak Kenyah, Bahao, dan Punan. Katanya, "Di kalangan anak muda sekarang
tradisi itu sudah tidak ada. Bahkan di kalangan orangtua pun sudah banyak
yang malu berkuping panjang dan ada kecenderungan memotongnya. Saya
berusaha mengabadikannya dalam bentuk tiga dimensi yang tentu berbeda
dengan foto."
***
Setelah mundur dari tentara, Alex sempat menjadi politikus dengan duduk
sebagai anggota DPRD Balikpapan (1982-1987). Sampai dengan 1997, ia
menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan dan sampai
sekarang aktif di yayasannya. Tetapi di luar semua itu, dr Alex tetap
aktif melukis.
Menjelang usia 50 tahun, ia berpikir untuk mengembangkan bakat lebih dalam
dirinya yang merupakan anugerah Tuhan. Secara kebetulan ia bertemu dengan
seorang rekannya yang sudah biasa membuat patung-patung rohani untuk
keperluan gereja. Ia mulai tertarik. Katanya, "Ketika mencoba, ternyata
saya langsung sreg."
Bermula dari situ, Alex mengembangkan seni patungnya dengan membuat model
patung Dayak. Alasannya sangat sederhana, patung serupa belum ada. Orang
Dayak sendiri masih sebatas membuat patung atau ukiran dari kayu.
Sedangkan patung yang dihasilkannya terbuat dari bahan campuran marmer dan
resin yang mudah dibentuk dan kokoh ketika kering.
Dibantu dua orang karyawannya, di sela-sela kegiatannya sebagai dokter
praktik dan berbagai kegiatan lainnya, Alex terus bergiat membuat
patung-patung Dayak maupun patung lainnya. Ia yang membuat desain patung
serta mengerjakan finishing dengan memberi sentuhan warna-warni maupun
aksesorinya.
"Pekerjaan yang halus masih harus saya kerjakan sendiri sampai karyawan
saya benar-benar dapat dipercaya," katanya.
Untuk membuat patung-patung Dayak atau pernik-pernik kecil berornamen
Dayak seperti tempat pensil, Alex pertama-tama membuat model dari tanah
liat. Model yang sudah jadi itu kemudian dibuatkan cetakan lunak dari
campuran silikon dan resin. Model patung berikut cetakannya itu kemudian
dibungkus dengan cetakan keras yang terbuat dari campuran marmer dan
resin.
Setelah dikeringkan 2-3 jam, model dari tanah liat itu kemudian
dihancurkan, diganti dengan bubur marmer dan resin. Satu jam kemudian,
cetakan siap dibongkar dan patung sudah jadi. Pekerjaan selanjutnya adalah
mewarnai dan menambah aksesori, sehingga penampilannya benar-benar mirip
orang Dayak. Ada yang sedang menari, ada yang sedang memadu kasih, ada
yang siap berperang, dan bermacam-macam model penampilan tokoh warrior
Dayak.
Pembuatan patung itu sendiri semula hanya sekadar hobi, tetapi lama-lama
rumahnya penuh dengan patung. Lalu seorang rekannya menawari pameran. Ia
pun bingung menentukan harga.
"Teman saya bilang bikin saja harga sesukamu. Jangan murah-murah. Ternyata
ada juga yang beli," katanya mengenang pameran perdananya.
Dalam pameran, yang banyak laku justru patung-patung kecil dengan harga Rp
250.000 - Rp 500.000. Patung berukuran sedang biasa dipesan perusahaan
untuk cendera mata. Sedangkan patung besar yang harganya bisa Rp 30 juta
ke atas, biasa dibeli para kolektor.
"Wali Kota Balikpapan sudah setuju menggunakan patung-patung ini sebagai
cendera mata. Malah beliau minta dibuatkan model patung beruang madu,"
kata Alex.
Beruang madu direncanakan akan menjadi maskot Kota Balikpapan sebagai
simbol upaya melestarikan Hutan Lindung Sungai Wain yang menjadi habitat
beruang itu.
***
Dari berbagai pameran, ia kemudian mulai dikenal sebagai pematung Dayak.
Di arena pameran itu pula ia mendapat kritik atau masukan dari tokoh-tokoh
adat Dayak yang semakin menyempurnakan karya-karyanya.
Kini, banyak peminat yang datang ke rumahnya, banyak juga yang memesan
dalam jumlah banyak untuk cendera mata. Ia bermaksud membuka outlet untuk
pemasaran di hotel atau bandar udara, tetapi tidak mungkin ia kerjakan
sendiri. Karena itu, ia sangat antusias ketika Lembaga Pemberdayaan Dayak
meminta koleksinya dipajang di kantornya yang merangkap gerai artshop di
Balikpapan. Ketika ternyata kantor lembaga itu on-off on-off, ia terpaksa
menarik semua koleksinya. "Kalau ada yang mau beli biar pesan," katanya.
Banyak orang Dayak yang sudah mengenal dirinya dan karyanya, tetapi belum
ada orang Dayak sendiri yang termotivasi untuk berbuat sesuatu bagi orang
Dayak itu sendiri. Tuturnya, "Saya menunggu kok belum ada pemuda Dayak
yang mau belajar kemari."
Sekarang ia sangat ingin mewujudkan obsesinya membuat sebuah museum di
Kalimantan Timur lengkap dengan isinya.
"Saya ingin membuat patung Dayak dalam ukuran raksasa yang monumental,"
katanya. Untuk itu, proposal sudah ia kirimkan ke banyak instansi, tetapi
belum juga mendapat respons. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas, M
Suprihadi)
|
|