| Majalah Tokoh Indonesia |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 =
WAWANCARA:
06
=
OPINI:
07
08
= DEPTHNEWS:
09
KAPUR SIRIH:
10 ==
Aksa Mahmud, HM (09)
Pengusaha yang Ingin Berbagi
Sebagai seorang pengusaha sukses membangun imperium bisnis Grup Bosowa
yang kini menduduki jabatan dan peran kenegaraan sebagai Wakil Ketua MPR
periode tahun 2004-2009 memiliki keinginan sederhana saja. Ia sangat
ingin mengisi masa-masa pengabdiannya sebagai negarawan dan tokoh bisnis
dengan berbagi pengalaman kepada siapa saja. Itulah yang dilakukannya
tatkala memberi kuliah umum di Universitas Al-Zaytun Indonesia, di Desa
Sandrem, Indramayu.
Aksa Mahmud, yang pada Pemilu 2004 lalu terpilih
menjadi Anggota Dewan Perwakilan daerah (DPD),
sebuah lembaga tinggi kenegaraan sesuai hasil amandemen UUD 1945, memang
tergolong negarawan yang amat peduli pada upaya pencerdasan bangsa, baik
itu melalui pembangunan pendidikan maupun pembangunan ekonomi.
Karena itu setiap kali diundang untuk berkunjung ke lembaga pendidikan,
seperti ke Kampus Universitas Al-Zaytun (UAZ) Indonesia, ia bersedia
saja untuk menyambangi bahkan tak henti-hentiya menyatakan kekaguman
kepada lembaga yang berhasil mensenyawakan unsur pendidikan dan unsur
ekonomi dalam sebuah sistem yang simbiosis mutualis.
Berkunjung ke Al-Zaytun bagi Aksa sepertinya bercermin kepada diri
sendiri, betapa dia menemukan seorang figur guru enterpreneur sejati di
sini yaitu Syaykh AS Panji Gumilang.
Disebut guru, sebab
segala sepak-terjang Aksa dalam memulakan, menjalankan, mengembangkan,
hingga mewariskan Grup Bosowa yang kini tercatat sebagai konglomerat
papan atas milik pribumi asal kawasan timur Indonesia, kepada generasi
anak-anaknya, itu ternyata sudah dimeteraikan oleh Syaykh sebagai sebuah
peta perjalanan yang akan ditempuh oleh Al-Zaytun kini dan seterusnya.
Peta perjalanan tersebut, lebih tepatnya lagi disebut sebagai visi, misi,
cita-cita, motto dan masa depan Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan
pengembangan budaya toleransi dan pusat pengembangan budaya perdamaian,
membuat Aksa berkenan menyumbangkan segala daya dan upaya serta
sumberdaya yang dimiliki untuk mewujudkan berdirinya Universitas Al-Zaytun
(UAZ) Indonesia.
Maka tatkala Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo hadir ke Kampus untuk
meresmikan berdirinya UAZ pada 25 Agustus 2006, Aksa Mahmud yang juga
Wali Amanat Universitas Gajahmada (WA-UGM) Yogyakarata turut hadir untuk
menunjukkan sekaligus memberikan dukungan atas rencana UAZ Indonesia
menjadi universitas berkelas dunia.
Bertemu “Sang Guru Entrepeneur”
Ketika itu Aksa hadir ke Al-Zaytun sebentar saja mengikuti jadwal
perjalanan rombongan Menteri dengan pesawat helikopter. Tetapi tatkala
berkesempatan bertemu kembali dengan Syaykh Panji Gumilang di kampus
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, saat
berlangsung Munas-III Ikatan Alumni UIN Jakarta pada 18 November 2006,
keinginan menggebu-gebu untuk melihat langsung keseluruhan Kampus Al-Zaytun
dimatangkan.
Syaykh Panji Gumilang adalah Ketua IKALUIN, yang berhasil melaksanaan
pembukaan Munas di Istana Wakil Presiden dan dibuka langsung oleh Wapres
Jusuf Kalla. Syaykh yang kemudian terpilih kembali secara aklamasi
sebagai Ketua Umum IKALUIN untuk periode tahun 2006-2010, saat itu
memberikan kesempatan khusus kepada Aksa Mahmud untuk bersedia
membagi-bagikan pengalamannya sebagai pengusaha tangguh kepada civitas
akademika UIN yang mengadakan seminar, sebagai bagian dari perayaan 50
tahun UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1957-2007). Aksapun dengan senang
hati menyanggupi dan menyampaikan makalah.
Setelah dimatangkan akhirnya Aksa Mahmud datang ke Al-Zaytun pada hari
Sabtu 25 November 2006, dengan tema kunjungan memberikan kuliah umum
(stadium general) kepada mahasiswa UAZ Indonesia. Tetapi kali ini ia
memiliki banyak waktu, berkunjung selama dua hari di Al-Zaytun hingga
Minggu 26 November 2006. Maka itu untuk kedatangannya yang kedua kali
ini Aksa Mahmud terlihat ingin berpuas diri bertemu dan
berbincang-bincang dengan “Sang Guru Enterpreneur” Syaykh Panji Gumilang.
Iapun dengan terus terang menyatakan perasaan kebanggaannya berada di
sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Ia memiliki alasan
tersendiri mengapa berani menyebutkan UAZ Indonesia sebagai perguruan
tinggi yang terbaik di Indonesia. Sebab Sofian Effendi, Rektor UGM,
sebuah perguruan tinggi terbaik peringkat ke-42 di seluruh dunia pada
beberapa mata pelajaran unggulan itu justru mengagumi Universitas Al-Zaytun
sebagai perguruan tinggi yang memiliki manajemen lebih hebat dari UGM.
“Pada malam ini kita berada di salah satu kampus pendidikan modern,
sebuah pondok pesantren yang harus kita teladani, dan harus kita contoh
di bawah kepemimpinan Syaykh DR. AS Panji Gumilang. Ini adalah
kebanggaan bagi santri kita di Indonesia,” tegas Aksa Mahmud, mengawali
sambutan saat memberikan kuliah umum tentang “Membangun Jiwa dan
Perilaku Kewirausahaan (Enterpreneurship) di Kalangan Mahasiswa
Universitas Al-Zaytun Indonesia”.
HM Aksa Mahmud yang sudah puluhan tahun malang melintang sebagai
enterpreneur sukses, sangat mengerti betul bahwa Al-Zaytun adalah sebuah
pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pusat
pengembangan budaya perdamaian yang pengelolaannya dilakukan murni
seperti layaknya sebuah institusi wirausaha. Semua biaya pengelolaan
pendidikan dihitung rinci untuk tak menyisakan sedikitpun material
terbuang percuma.
Sementara dari sisi keseimbangan lain tak ada sejengkal tanah pun yang
dibiarkan percuma tak berproduksi. Di Al-Zaytun setiap mahasiswa bukan
hanya dididik menjadi guru sandaran, melainkan, bersama santri, ustad,
serta seluruh eksponen mereka bahu-membahu membangun kewirausahaan khas
ala lembaga pendidikan terpadu.
Menjadi “Virus”
Di Al-Zaytun inilah Aksa Mahmud menyaksikan sendiri bagaimana ilmu dan
penerapan aplikatifnya berjalan seiring sejalan. Karena sasaran yang
hendak dicapai di tahun 2020 yakni menciptakan Indonesia yang kuat harus
sudah merupakan sebuah cita-cita yang wujudnya seolah sudah berada di
hadapan mata. Aksa Mahmud mengagumi betul bagaimana pola pendidikan
terpadu dengan sistem satu pipa sangat mendukung realisasi mencapai
cita-cita menciptakan Indonesia yang kuat.
Karena itulah jurus-jurus bagaimana menjadi enterpreneur yang sejati,
yang ditebarkan oleh H.M. Aksa Mahmud seorang “Saudagar Bugis Yang
Cerdas” seolah menjadi “virus” baru yang menghinggapi seluruh civitas
akademika Universitas Al-Zaytun (UAZ) Indonesia. Maklum, penyajinya
sudah terbukti jitu menyiasati peta perjalanan pasang-surut sebuah dunia
usaha.
“Virus” itu kini mulai membuat seluruh civitas akademika UAZ Indonesia
“demam” akan semangat membangun kewirausahaan secara mandiri, untuk
mengembalikan kejayaan jiwa enterpreneur di lingkungan pondok pesantren.
“Saya melihat, saya keliling, dan saya mendengar dari Syaykh tadi, guru
enterprenur itu ada di sini yaitu Syaykh. Saya membayangkan lahan yang
ada di sini, tanah yang kering, dari tidak ada air menjadi ada air, dari
yang tidak bisa hujan bisa dibikin menjadi hijau, dan semuanya menjadi
bisa berproduksi,” kata Aksa.
Aksa menyebutkan problem semua pondok pesantren di seluruh Indonesia
sama saja. Yakni, kendati memiliki aset yang besar tetapi manajemennya
tidak dikelola secara profesional. Banyak sekali pondok pesantren di
Indonesia tidak dikelola oleh enterpreneur tetapi secara lillahi taala (semua
terserah Tuhan).
Aksa Mahmud berharap bangsa ini dapat menciptakan banyak pengusaha.
Mahasiswa UAZ Indonesia diharapkannya kalau sudah tamat menjadi
pengusaha untuk menggantikan pengusaha dari pondok pesantren yang sempat
menghilang.
Aksa berkisah dahulu era awal kemerdekaan di Indonesia banyak tersebar
enterpreneur. Mereka ada di setiap desa dan di setiap pelosok. Tetapi
semua mati karena di era pemerintahan lalu terjadi kerusakan
enterpreneur. Para enterpreneur hilang dari permukaan dan tidak
berkembang. Semua pengusaha baru yang lahir saat itu adalah produk
penguasa.
Aksa memastikan era pemerintahan saat ini sudah berbeda. Pemerintah
membuka kesempatan lebar kepada siapa saja yang mau maju dan berkembang
untuk menjadi pengusaha.
“Inilah harapan kita, mudah-mudahan menjadi konsistensi pemerintah,
bahwa para alumni yang masih mahasiswa sekarang ini, setiap tahunnya
agar diberi kesempatan untuk berusaha. Untuk diberi berusaha ini harus
ada persiapan. Tidak ada negara yang maju tanpa keberpihakan kepada
perusahaan dan pengusaha pribuminya. Harus diantar keberpihakan dulu,
setelah siap bersaing baru dilepas,” kata Aksa Mahmud.
Kesamaan Sudut Pandang
Selama Aksa Mahmud berada di Al-Zaytun 25-26 November 2006 menit demi
menit waktu yang tersedia tak diluputkannya untuk berdiskusi dengan
Syaykh.
Ia merasakan betul manfaat kehadirannya kali ini. “Orang terdekat” Wakil
Presiden Muhammad Jusuf Kalla ini bisa bercengkerama mengenai banyak hal
dengan Syaykh Panji Gumilang. Keduanya bertukar-pikiran mengenai
berbagai perkembangan sosial politik dan kenegaraan terbaru di tanah
air, membicarakan situasi global yang semakin menunjukkan gejala kuatnya
interdependensi antar umat manusia dan antar bangsa, serta mencari
peluang-peluang usaha baru yang memungkinkan untuk bisa memberikan lebih
banyak lagi kesejahteraan dan lapangan kerja kepada masyarakat di
berbagai daerah secara merata.
Kedua tokoh terlihat mempunyai kesamaan pandangan dalam banyak hal.
Secara fisik keduanya pun rupanya memiliki kesamaan pula dalam darahnya
sama-sama mengalir darah Bugis. Aksa Mahmud adalah orang Bugis tulen
hingga ia digelari sebagai “Saudagar Bugis Yang Cerdas”. Sementara
Syaykh AS Panji Gumilang, dari garis keturunan ayah yang orang Madura
bila silsilahnya diurut ke atas ternyata masih ada pula titisan darah
Bugisnya.
Khusus mengenai cita-cita Indonesia masa depan yakni menciptakan
Indonesia yang kuat, antara Aksa Mahmud dan Syaykh juga sangat setuju
sekali apabila setiap pemimpin Indonesia berkesempatan menaikkan
pendapatan perkapita Indonesia hingga paling tidak mencapai 5.000 dollar
AS perkapita. Bila kondisi minimal itu sudah tercapai keduanya tak lagi
mempermasalahkan apabila pemimpin negerinya berganti-ganti.
Karena itu untuk menciptakan kepemimpinan yang kuat keduanya setuju agar
setiap pemimpin, seperti presiden, diberi kesempatan untuk membangun
perekonomian yang kokoh selama dua periode. Demikian pula kepada wakil
presiden diberi berkesempatan untuk menjabat selama dua periode.
Bulatkan Tekad Mengabdi
Aksa Mahmud yang dipercaya duduk sebagai Wakil Ketua MPR RI bersyukur
sekali berada pada posisinya saat ini semakin membulatkan tekadnya untuk
sepenuhnya mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai negarawan. Aksa tak
lagi hanya memperhatikan perbaikan kesejahteraan belasan ribu karyawan
yang tergabung dalam Grup Bosowa, beserta keluarganya, atau delapan juta
warga Sulawesi Selatan, melainkan ingin memberikan sumbangsih utuh
kepada seluruh 220 juta warga Indonesia.
Sebagai negarawan ia tak lagi memikirkan bagaimana kelanjutan karir dan
jabatan politiknya pada Pemilu yang akan datang. Melainkan, ia ingin
bergerak untuk mempersiapkan dan memikirkan masa depan bangsa dan
generasi mudanya secara lebih luas.
“Saya duduk di sini betul-betul bukan lagi untuk berpikir demi
kepentingan diri saya sendiri. Tetapi, saya selalu berdoa memohon
mudah-mudahan di posisi ini saya selalu berpikir untuk kepentingan
rakyat dan bangsa Indonesia serta demi kepentingan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Bagaimanapun tugas saya adalah menjaga keutuhan
negara kesatuan dan rakyat Indonesia,” kata Aksa menjawab pertanyaan
Tokoh Indonesia di Gedung Nusantara III DPR/MPR RI Senayan, Jakarta,
tempatnya sehari-hari berkantor.
Dalam kapasitas kenegarawanannya itu pulalah Aksa Mahmud berkali-kali
berkenan mengunjungi sebuah pusat pendidikan terpadu sistem satu pipa
yang sedang bergerak maju menjadi pusat pendidikan berskala
internasional yakni Kampus Universitas Al-Zaytun yang terletak di
Kampung Sandrem, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu,
Jawa Barat pada Agustus 2006, 25-26 November 2006, dan diulanginya lagi
untuk ketiga kali pada 20 Januari 2007 bertepatan dengan peringatan
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 Hijriyah.
Secara khusus Aksa ingin menunjukkan dukungannya bahwa sebagai pimpinan
nasional sekaliber dirinya masih sangat peduli akan keberadaan
Universitas Al-Zaytun (UAZ) Indonesia, yang dengan sistem pendidikan
satu pipanya kelak akan mencetak kader-kader pemimpin bangsa setelah
tamat pendidikan S-3 dalam usia yang masih relatif sangat muda sekali 25
tahun.
Terasa sekali ada ikatan emosional yang sangat dalam antara Aksa Mahmud
dengan UAZ Indonesia, sebuah lembaga pendidikan tinggi berstandar
internasional yang pendiriannya turut dibidaninya. Bahkan, Aksa masih
menyatakan tingginya komitmennya untuk terus mengawal cita-cita UAZ
Indonesia hingga paripurna mencapai pengakuan berstandar internasional.
Tatkala mengadakan dialog langsung dengan para santri yang masih
menempuh pendidikan di Al-Zaytun, baik di ruang-ruang kelas belajar,
maupun di ruang komputer ICT Training Center milik Al-Zaytun yang
didesain berstandar internasional, dan terhubung langsung ke seantero
dunia lewat internet, Aksa Mahmud di situ aktif memompakan semangat agar
para santri bersiap-siap menerima tongkat estafet sebagai calon pemimpin
nasional di masa datang. Baik itu sebagai pemimpin di bidang bisnis,
seni budaya, olahraga, pemerintahan, dan politik nasional dan
internasional.
Pemompaan semangat yang dia lakukan sama persis dengan bagaimana dia
berbicara kepada anak-anaknya di rumah agar mereka berlima bersedia
meneruskan cita-cita dan roda bisnis Grup Bosowa sebagai aset nasional. ► mti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|