| |
C © updated 27032007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
HM Aksa Mahmud
Lahir:
Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945
Agama:
Islam
Istri:
Hj. Ramlah Aksa
Anak:
5 orang
Pendidikan:
:: 1965 - Fakultas Teknik Elektro Univ. Hasannudin di Makassar
:: 1965 - Sekolah Teknik Menengah di Makassar
:: 1962 - Sekolah Teknik Negeri di Parepare
:: 1959 - Sekolah Rakyat di Barru
Pekerjaan:
:: 2004-2009 Wakil Ketua MPR RI
:: 2004-2009 Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Selatan
:: 2002-sekrg Penasehat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Bidang
Perekonomian Daerah
:: 1999 – 2004 Anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah
:: 1968-sekrg Pendiri dan pemimpin Group BOSOWA
Organisasi:
:: 2004-sekrg Anggota Badan Pertimbangan KADIN Indonesia
:: 2003-sekrg Ketua Dewan Bisnis Sulawesi
:: 2001-sekrg Anggota Dewan Wali Amanat Universitas Gajah Mada
Yogyakarta
:: 2001 Ketua Dewan Pembinaan Daerah dan Pemasyarakatan Bulutangkis
Seluruh Indonesia (PBSI)
:: 2000-sekrg Ketua Yayasan Univ. Islam Indonesia Makassar, Ketua Dewan
Penyantun Politeknik Negeri Makassar, Ketua Dewan Penyantun Politani
Negeri Pangkep
:: 1999-sekrg Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
:: 1994-sekrg Ketua Dewan Penasehat GAPENSI Pusat
:: 1987-1994 Ketua GAPENSI Sulawesi Selatan
:: 1983- 1986 Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Pengurus Pusat (BPP)
HIPMI
:: 1980- 1983 Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Badan Pengurus
Pusat (BPP) HIPMI
:: 1976- 1985 Sekretaris Umum AKI (Asosiasi Kontraktor Indonesia)
Sul-Sel
:: 1982- 1985 Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Sul-Sel
:: 1966 Aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)
:: 1965 Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar
:: 1962 Alumni Pelajar Islam Indonesia
:: Wakil Ketua Umum Bidang Dana Persatuan Anggar Seluruh Indonesia
Hoby:
Olahraga Golf, Renang, Diving
Alamat Kantor:
Gedung Nusantara III Lt. 9
Jl. Jend. Gatot Subroto No.6, Senayan, Jakarta Pusat Telp. 021 -
57895006, 57895026
Alamat Rumah:
= Jl Khairil Anwar No 4, Makasar, Sulawesi Selatan
= Jl. Denpasar Raya Blok C No. 12 Kuningan, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| WAWANCARA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 =
WAWANCARA:
06
=
OPINI:
07
08
= DEPTHNEWS:
09
KAPUR SIRIH:
10 ==
Aksa Mahmud, HM (06)
SBY-JK Telah Bekerja Siang-Malam
Duet SBY-JK (Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla) sebagai Presiden dan
Wakil Presiden pilihan rakyat secara langsung, merupakan duet yang
paling ideal sepanjang sejarah republik ini. Mereka berdua telah bekerja
luar biasa. Tidak mengenal hari Sabtu-Minggu, siang dan malam. Wakil
Ketua MPR HM Aksa Mahmud menegaskan hal itu dalam wawancara dengan
Wartawan Tokoh Indonesia. Menurutnya, pemerintahan ini masih jauh lebih
baik dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.
Aksa Mahmud
menilai duet ini sangat baik, karena kemampuannya yang saling melengkapi,
dwi tunggal
Indonesia. Satu berfungsi sebagai pengarah atau steering, satu sebagai
pekerja atau organizing. Seorang pekerja membutuhkan visi sebagai
panduan yang menjadi tugas pengarah. Sementara sebuah visi perlu
diterjemahkan menjadi kerja yang konkrit di lapangan. Sehingga
membutuhkan pekerja keras yang ulet dan serius. “Jadi pasangan ini
sangat ideal, ada pengarah dan ada pekerjanya. Tentu harapan kita
hasilnya menyejahterakan dan memakmurkan rakyat,” ujar Aksa Mahmud.
Menurutnya, pasangan ini telah bekerja maksimal dua tahun ini. Walaupun
masyarakat belum puas. Belum puas karena terlalu lambatnya pergerakan
ekonomi. “Sebagai orang yang mempunyai background pegusaha, seharusnya
bisa diselesaikan beberapa hari tapi kenapa dua tahun belum selesai. Itu
ketidakpuasan saya,” ujar pendiri kelompok usaha Bosowa itu. Namun,
anggota Badan Pertimbangan KADIN Indonesia, itu menambahkan, tentu tidak
bisa seperti membalik tangan, memerlukan proses.
Tapi, Anggota Dewan Wali Amanat Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini
menaruh kepercayaan pada pasangan ini bahwa tahun depan pertumbuhan
ekonomi akan jauh lebih baik daripada tahun ini. Dia juga yakin
investasi akan jauh lebih meningkat tahun ini. Harapan dan keyakinan itu
muncul, melihat beberapa indikasi keberhasilan pemerintah. Pertama,
cadangan devisa cukup baik, tidak pernah tercatat dalam sejarah
kemerdekaan kita. Kedua, stabilitas inflasi sudah bisa diatasi, sudah
juga di bawah dua digit. Ketiga, nilai tukar juga sudah stabil. Keempat,
keamanan juga sudah membaik.
HM Aksa Mahmud, putra bangsa kelahiran Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli
1945, itu juga menguraikan prediksinya tentang keadaan Indonesia pada
tahun 2009, baik kondisi ekonomi maupun politik. Kondisi ekonomi,
katanya, pasti lebih baik. Sementara suhu politik akan naik dan terjadi
peta-peta baru dalam rangka Pemilu Presiden. “Tentu peta lama sudah
lewat dan akan timbul peta baru,” katanya.
Ipar Jusuf Kalla ini juga mengomentari peringkatnya di urutan ke-28
orang terkaya di Indonesia sebagaimana dirilis Forbes. Juga tentang
posisinya sebagai pengusaha, politisi dan pejabat negara. Dia menegaskan
bahwa Bosowa Group yang kini telah dikendalikan anaknya, tidak masuk
dalam proyek yang didanai pemerintah.
Selain itu, secara terbuka, dia menyarankan agar SBY-JK segera melakukan
reshuffle beberapa menterinya. Seharusnya dievaluasi, yang perlu diganti
agar diganti, yang perlu didorong kita dorong. Di antaranya, Menneg BUMN.
“Kalau saya, tahun pertama sudah saya ganti itu,” katanya blak-blakan,
mencerminkan keterbukaannya.
Dia memang dikenal sebagai seorang tokoh yang terbuka, bicara apa adanya,
dengan tetap memegang prinsip secara bijaksana. Sebagai seorang
pengusaha sukses, dia bisa cepat menganalisis situasi dan mengambil
tindakan yang tepat secara cepat. Dia tokoh yang amat peduli pada
pendidikan. Dia menyarankan agar pemerintah menjadikan pendidikan
sebagai skala prioritas. Selain itu, dia juga mengemukakan pendapat
mengenai AA Gym, yang berpoligami. Aksa mengemukakan hal itu membuat
ibu-ibu resah dan menjadi persoalan bagi laki-laki dan perempuan.
HM Aksa Mahmud diwawancara wartawan Tokoh Indonesia DotCom Ch Robin
Simanullang, Haposan dan Marjuka di ruang kerjanya selaku Wakil Ketua
MPR, 6 Desember 2006 di Gedung Nusantara III Lantai 9 DPR-MPR RI,
Senayan Jakarta. Berikut petikannya:
MTI: Melihat keadaan pemerintahan sekarang ini, banyak orang mengatakan
kalau Pak Jusuf Kalla jadi presiden, gerakan pemerintah ini akan lebih
cepat. Anda sendiri melihat duet SBY-JK ini bagaimana kira-kira?
AKSA: Kalau saya melihatnya, duet sekarang ini duet yang sangat baik.
Satu jago berpidato, satu jago bekerja. Jadi memang harus perlu ada ahli
pidato dan ada yang bekerja. Jadi pasangan ini sangat ideal, karena ada
tukang pidatonya, ada tukang kerjanya. Tentu harapan kita, hasilnya
bagaimana menyejahterakan dan memakmurkan rakyat.
MTI: Sejauh ini, hasil yang dicapai pemerintahan SBY-JK ini apa
kira-kira. Kalau ada kendala, dimana kendalanya?
AKSA: Kalau saya menganggap, dalam perjalanan kemerdekaan, saya kira
inilah pemerintahan yang paling ideal. Namun saya yakin masyarakat belum
puas. Belum puas akan kinerja pemerintah sekarang ini karena terlalu
lambatnya pergerakan mengenai ekonomi. Sebagai orang yang mempunyai
background pegusaha, seharusnya bisa diselesaikan satu hari tapi kenapa
dua tahun belum selesai. Jadi itu ketidakpuasan saya.
Namun kita juga memahami karena beliau memiliki skala prioritas yang
lain. Dan kita juga tidak boleh menghukum secara tidak rasionil karena
memang pemerintahan ini diantarkan dengan banyaknya bencana, mulai
dilantik sampai hari ini terus ada persoalan. Termasuk persoalan AA Gym
yang terakhir ini, ‘kan membuat seluruh ibu-ibu resah. Dan dampak kedua,
merugikan kita kaum laki-laki karena akhirnya ibu-ibu, istri-istri kita
waspada. Jadi AA Gym ini membuat persoalan pada kita, baik wanita maupun
laki-laki.
MTI: Dianggap malapetaka itu?
AKSA: Ya, dianggap malapetaka, karena itu jadi persoalan bagi semua
laki-laki dan perempuan.
Kembali ke skala prioritas pemerintah. Jadi saya kira, memang
prioritas-prioritas pembangunan tentu penegakan hukum. Kedua, juga
kebijakan-kebijakan bagaimana merombak satu budaya birokrasi yang sama
sekali sangat menghambat, tentu tidak bisa seperti membalik tangan, jadi
memerlukan proses. Oleh karena itu saya katakan, beliau berdua telah
bekerja luar biasa. Tidak mengenal hari Sabtu-Minggu, siang dan malam.
Namun bahwa seluruh hasil keringat kerjaan itu, inilah yang maksimal
untuk dua tahun ini. Tapi saya tentu menaruh kepercayaan pada pasangan
ini bahwa tahun depan itu pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih baik
daripada tahun ini.
Memang, saya harapkan supaya pemerintah sekarang ini lebih memfokuskan
kepada sektor riil karena masyarakat kita di sektor riil inilah yang
banyak menderita, banyak jatuh miskin. Dan terjadinya
kekacauan-kekacauan lokal adalah akibat kemiskinan, akibat tidak
terjadinya pemerataan atau tidak terjadinya pendidikan yang baik.
Menuju bangsa yang lebih baik, lebih maju, lebih makmur, landasan
utamanya adalah pendidikan. Tidak ada kemakmuran yang baik tanpa
pendidikan yang bagus. Tidak ada kesehatan yang bagus tanpa pendidikan
yang bagus. Tidak ada demokrasi yang bagus tanpa pendidikan yang bagus.
Karena itu, kalau saya bilang, kalau landasannya seperti itu, harus
pendidikan yang jadi priority. Oleh karena itu, saya mengharapkan
pemerintah betul-betul memfokuskan pendidikan ini.
Cuma saya sayangkan para pejabat ini jarang sekali berkunjung ke
sekolah-sekolah, jarang sekali mengajak dialog guru-guru. Padahal tidak
ada pendidikan yang bagus tanpa guru yang baik. Oleh karena itu,
mestinya harus dipikirkan bagaimana memperbaiki guru, bagaimana
memperbaiki fasilitas sekolah. Hanya dengan cara itulah kita ke depan
akan maju.
MTI: Salah satu prestasi yang sudah dicapai pemerintah ini adalah
menyelesaikan konflik di Aceh. Pendapat Anda sendiri tentang itu?
AKSA: Ya benar itu, bahwa sejarah mencatat sejak merdeka Aceh itu
menjadi kawasan konflik, Papua itu kawasan konflik, beberapa lagi
seperti Poso dan sebagainya. Jadi keberhasilan pertama pemerintah ini
yang tidak pernah dicatat oleh pemerintah atau presiden sebelumnya, itu
adalah penyelesaian konflik. Seperti Papua, konflik terhadap pemerintah
pusat dulu, sekarang tidak terdengung lagi kecuali konflik antarsuku.
Tapi itu memang karena di Papua itu sukunya ada 400 suku. Jadi kalau ada
riak-riaknya, itu tidak terlepas oleh karena banyaknya suku tadi.
MTI: Sebagai wakil rakyat di Majelis, apa Anda melihat sesuatu yang
menjadi kendala atau kelemahan dalam pemerintahan ini. Dan apa saran
Anda untuk mengatasi kendala itu ke depan?
AKSA: Memang tentu sebagai anggota parlemen, sebagai anggota lembaga di
legislatif, tugas pokoknya adalah bagaimana mengawasi perjalanan
pemerintahan ini, bagaimana melihat pemerintah melaksanakan UU dan
berbagai peraturan yang telah dikeluarkan.
Tentu saya belum melihat satu gebrakan terutama di sektor peningkatan
kualitas atau kinerja dari perusahaan-perusahaan milik negara itu.
Padahal kita harus tahu peranan dari perusahaan milik negara itu yang
memegang 50 persen dari pergerakan ekonomi Indonesia bisa dilakukan
akibat action dari jaringan daripada perusahaan BUMN itu.
Oleh karena itu, disitu saya belum melihat keunggulan-keunggulan
mengambil langkah-langkah dari pemerintah dalam mengatasi hal-hal ini.
Padahal ini adalah salah satu kekayaan aset bangsa yang seharusnya
sebagai motor (yang sangat penting) penggerak ekonomi bangsa ini.
Menjadi penggerak pengembangan lapangan kerja, pengembangan sumber daya
manusia dan sebagainya, dan juga menjadi kekuatan ekonomi kita yang kuat.
Nah, itu mengenai sektor keuangan.
Kemudian yang kedua, saya belum melihat kemauan yang secara serius dari
pemerintah memperbaiki kebijakan-kebijakan atau perilaku pelaksanaan
pemerintahan yang dihambat dengan tata cara birokrasi. Begitu tinggi
tingkat ketidakefisienan pelaksanaan dan pengelolaan pemerintah ini
akibat pengelolaan dengan birokrasi yang tidak efisien.
Kemudian saya melihat, baik dari segi kesehatan maupun dari segi
pendidikan, memang pemerintah telah berbuat, melangkah, tapi hasil dari
pendapat teman-teman Dewan Perwakilan Daerah, hasil daripada pendapat
atau suara rakyat itu, tidak sedikit rakyat menjadi korban akibat
pelayanan kesehatan di rumah sakit-rumah sakit. Oleh karena itu, kita
ingin juga supaya pemerintah mengambil langkah dan tindakan kepada
dokter-dokter yang tidak disiplin, yang sangat mengabaikan yang disebut
bagaimana pengabdian kepada penyelamatan jiwa manusia terutama
peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Nah, itu yang saya lihat
hal-hal yang menjadi kendala.
Sedangkan keberhasilan pemerintah itu sudah terasa di sektor penegakan
hukum, dan sektor kebijakan-kebijakan ekonomi. Tanda-tanda keberhasilan
pemerintahan dalam bidang ekonomi, pertama, dalam sejarah perjalanan
bangsa ini sejak merdeka tidak pernah tercatat dalam sejarah bangsa kita,
mampu mencatat cadangan devisa di atas 40 miliar dollar. Pemerintahan
sekarang dengan 2 tahun, begitu banyak kesulitan, gangguan bencana tapi
dia mampu menaikkan cadangan devisa jadi 43 miliar, sehingga di dalam
pemerintahan inilah terjadi pengembalian pinjaman yang begitu besar yang
sesungguhnya pinjaman itu juga dibuat oleh pemerintah sebelumnya.
Nah, oleh karena itu, menurut saya ada keberhasilan tapi ada juga yang
belum berhasil. Kalau di record secara keseluruhan bahwa pemerintahan
sekarang ini masih jauh lebih baik dibanding dengan yang
sebelum-sebelumnya. Namun sebelumnya pun dicatat ada pengabdian, ada
keberha-silan. Tapi kalau saya lihat keseriusan dan apa-apa yang
dilakukan beliau berdua ini dan seluruh pembantu-pembantunya,
menteri-menteri itu, adalah cukup baik.
Namun, saya terus terang kalau presiden tidak melakukan reshuffle maka
yang sesungguhnya, masih banyak hal-hal yang dapat dicapai lebih baik.
Ada beberapa hal yang bisa diantar lebih berhasil, tapi karena beberapa
menteri yang belum menggembirakan prestasinya. Seharusnya dievaluasi,
yang perlu diganti agar diganti, yang perlu di dorong kita dorong.
MTI: Menurut Anda, menteri mana yang perlu di dorong atau di reshuffel?
AKSA: Ya saya secara tegas melihat cukup banyak, ada beberapa departemen,
menteri.
MTI: Menteri BUMN?
AKSA: Ya, termasuklah Menteri BUMN, karena saya sudah bicara tadi
mengenai kinerja BUMN. Maka kalau saya, tahun pertama sudah saya ganti
itu tapi karena saya tidak punya wilayah. Sebagai anggota parlemen,
berbicara menyarankan kepada presiden. Kalau mau prestasi presiden lebih
baik dan supaya mendapat pengakuan keberhasilan oleh rakyat, karena
kalau BUMN tidak berhasil maka bagaimanapun rakyat yang akan memberi
penilaian ketidakberhasilan pemerintah sekarang.
Tentu saya mendoakan supaya beliau mendapat predikat pengakuan dari
rakyat, berhasil. Karena keberhasilan itu tentu juga keberhasilan
parlemen. Dan kegagalan dia, juga bahagian ketidakberhasilan kita, tidak
berhasil mengawal dia untuk sukses.
MTI: Iklim investasi, menurut Anda bagaimana?
AKSA: Sebenarnya iklim investasi itu secara berangsur-angsur cukup
meningkat di Indonesia. Memang investasi yang masuk di Indonesia
sekarang ini didahului dengan investasi dengan membeli saham di bursa
efek atau di pasar modal. Tapi lama-lama nanti akan bergeser kepada
investasi fisik setelah kita berhasil membangun keyakinan bahwa masalah
hukum tidak ada masalah lagi, masalah ketenagakerjaan tidak ada masalah.
Saya ada keyakinan bahwa tahun 2007 investasi jauh lebih meningkat
daripada tahun 2006. Kenapa? SBI sudah di bawah dua digit.
Itulah saya katakan tanda-tanda keberhasilan pemerintah itu. Pertama,
cadangan devisa cukup baik, tidak pernah tercatat dalam sejarah
kemerdekaan kita. Kedua, stabilitas inflasi sudah bisa diatasi, sudah
juga di bawah dua digit. Ketiga, nilai tukar juga sudah stabil. Keempat,
keamanan juga sudah membaik. Nah itulah semua rambu-rambu untuk
datangnya investasi. Jadi saya kira memang tidak bisa sekaligus langsung
ramai. Seperti juga terjadinya bom Bali, meledak bom itu lantas ramai
orang datang, tapi sempat terjadi kekurangan, baru bangkit kembali. Nah
itulah saya bilang 2007 ini adalah kebangkitan investasi.
MTI: Kondisi Indonesia pada 2009 menurut gambaran Anda kira-kira
bagaimana, baik secara ekonomi maupun politik.
AKSA: Kondisi Indonesia itu pada 2009 pasti akan bagus dari segi ekonomi.
Dan kalau semua konsep pemerintah sekarang ini bagaimana membangun
infrastruktur, jalan tol lintas Jawa, Jakarta – Surabaya. Dan kedua mau
membangun 10 ribu Mega Watt tenaga listrik berarti ada satu
infrastruktur ekonomi yang terselesaikan, ada satu infrastruktur bidang
kelistrikan yang selesai.
Kedua kekuatan ini akan menjadi urat nadi daripada tumbuhnya ekonomi.
Karena tidak ada pertumbuhan ekonomi yang bagus dan investasi yg bagus
tanpa infrastruktur jalanan yang bagus. Tidak ada investasi yang datang
tanpa listrik yang baik. Sehingga saya yakin pada 2009, masalah ekonomi
ini akan baik.
Kemudian masalah pergeseran-pergeseran kemungkinan terjadi akibat adanya
perintah UU yaitu pelaksanaan Pemilu Presiden, pasti suhu politik akan
naik dan terjadi peta-peta baru. Tentu peta lama sudah lewat dan akan
timbul peta baru. Peta-peta baru ini nanti akan menimbulkan
analisa-analisa baru, perhitungan-perhitungan baru sehingga akan
melahirkan hasil-hasil yang maksimum.
Tapi saya yakin bahwa Pemilu 2009 ini akan lebih mendewasakan masyarakat
kita dalam soal pelaksanaan Pilpres. Namun konsep kita bahwa sebenarnya
kita ingin sama dengan Aceh dimana pemilihan gubernur dan seluruh bupati
dilakukan sekaligus secara bersamaan. Ke depan tentu harapan kita,
pemilihan presiden, pemilihan gubernur dan bupati dilakukan secara
serentak, sehingga kita hanya menghadapi getaran suhu poitik yang tinggi
hanya sekali dalam 5 tahun, sesudah itu kita bekerja penuh.
Kalau sekarang ini, sepanjang hari, sepanjang tahun suhu politik tidak
pernah surut karena dimana-mana Pilkada terus. Jadi tiada hari tanpa
berita demo, tiada hari tanpa berita protes. Oleh karena itu, harapan
kita ke depan supaya Pilkada hanya sekali. Walaupun saya kira pada tahun
2009 masih sulit dilaksanakan. Tapi minimal 2009 sudah bisa menghasilkan
wacana. Jadi 2014 kita sudah bisa melaksanakan sehingga bangsa kita ke
depan itu makin bagus berdemokrasi.
Kenapa 2009 ini saya katakan lebih bagus dibanding sebelumnya, karena
diharapkan perekonomian sudah lebih bagus. Kedua, tingkat pendidikan
juga sudah semakin merata. Tingkat kesejahteraan juga mungkin sudah
lebih luas. Tapi belum mencapai tingkat yang ideal karena income
perkapita kita itu masih di bawah rata-rata. Bisa dibilang bagus apabila
sudah bisa di atas $3000 perkapita. Sedangkan kita itu pada 2009 paling
bisa naik $1750, saya kira. Jadi masih di bawah rata-rata.
Harapan kita nanti bahwa Pemilu 2009 akan lebih baik. Mungkin analisa
saya saja, tapi mudah-mudahan benar, karena kalau benar akan menaikkan
kredibilitas kita juga dan kalau salah ya reputasi kita turun.
Pikiran saya, 2009 ini tidak seramai dengan partai politik 2004. Karena
berdasarkan pengalaman, kalau sebelumnya itu setiap partai politik atau
partai peserta Pemilu dapat santunan dari negara. Berdasarkan 2004,
santunan itu tidak lagi sehebat Pemilu sebelumnya, hanya berdasarkan
perolehan kursi. Jadi orang juga mungkin balance-balance saja dengan
biaya yang dikeluarkan. Nah, kalau itu terjadi, saya harapkan bahwa ke
depannya itu nanti akan lebih bagus.
MTI: Kemudian ke wilayah politik lagi, kemitraan DPR atau legislatif
dengan pemerintah. Tampaknya perkembangan demokrasi itu sekarang
mengarah dimana kewenangan DPR itu sangat kuat. Pendapat Anda tentang
itu dalam menjemput kemakmuran Indonesia masa depan?
AKSA: Sebenarnya kewenangan DPR itu memang berdasarkan UUD 45, setelah
mengalami perubahan. Hasil perubahan itu dibuat keseimbangan antara
eksekutif dengan legislatif. Karena pengalaman kita sebelum perubahan
UUD bahwa eksekutif itu powerfull. Tapi tidak bisa kita salahkan karena
UU seperti itu, membuat eksekutif powerfull.
Saya kasih contoh pasal 1 UUD 45 berbunyi “Kedaulatan berada di tangan
rakyat dan selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada MPR. Dan MPR
memberikan mandat, menunjuk presi-den sebagai mandataris. Jadi kembali
dari rakyat ke majelis, majelis kepada presiden, ya pasti jadi full
power.
Lalu hasil perubahannya itu berbunyi “ Kedaulatan berada di tangan
rakyat dilaksanakan sepenuhnya menurut UUD. Sehingga tidak terus lagi ke
eksekutif. Itulah sebabnya presiden dipilih langsung, wapres dipilih
langsung, bupati dipilih langsung, gubernur dipilih langsung. Karena
kedaulatan di tangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya menurut UU. Jadi
tidak lewat ke MPR, dari MPR ke mandataris presiden. Jadi itu salah satu
pasal yang membuat bahwa pemerintah tidak super power lagi karena
perintah UU.
Nah kenapa ada anggapan bahwa DPR super power. Sebenarnya DPR juga tidak
super power, cuma pemerintahnya yang tidak mampu bertahan kalau ada
masalah-masalah sehingga ada kecenderungan semua permasalahan yang di
DPR, pemerintah cenderung untuk mengalah. Jadi sebenarnya pemerintah
juga harus bertahan bahwa ini bukan wilayah DPR, tapi dia juga mau, biar
juga bukan wilayah DPR tapi mau dipanggil DPR, ya sudah. Salahnya
sendiri kan?
MTI: Saat ini Anda sudah berjuang dan mengabdi dalam tiga dimensi
kehidupan, mulai dari sebagai pengusaha, politisi dan pejabat negara.
Bagaimana Anda menyikapinya?
AKSA: Iya, ada tiga kehidupan. Kehidupan pertama sebagai pengusaha,
kehidupan kedua sebagai politisi, dan kehidupan ketiga sebagai pejabat
negara. Kalau antara posisi sebagai politisi dengan pengusaha dalam
kehidupan sehari-harinya seolah bertentangan. Hal mana dalam dunia
politik berbohong seperti lumrah, tapi dalam bisnis itu paling haram.
Sebagai pengusaha kejujuran adalah modal utama. Lalu sebagai pejabat
negara, kedua-duanya posisi ini harus kombinasi. Jika dikatakan di
politisi bohong itu tidak dosa, kalau di pejabat Negara, bohong itu
tidak boleh. Semata-mata intinya harus kejujuran.
Jadi saya simpulkan, antara dunia usaha, dunia politisi dan pejabat
negara, akan melahirkan landasan utamanya adalah kejujuran. Kenapa?
Bahwa bangsa ini harus diurus dengan landasan kejujuran supaya
masyarakat ini bisa percaya kepada pemimpinnya karena tidak ada pemimpin
yang sukses tanpa mendapat dukungan kepercayaan daripada yang dipimpin.
Oleh karena itu, saya berpikir bahwa posisi saya sebagai pejabat negara
harus berada dalam landasan kejujuran. Kejujuran itu artinya, tidak
boleh menghianati komitmen-komitmen sebagai pejabat negara. Oleh karena
itu, kalau menjadi pejabat negara, kita jangan mencari kekayaan tapi
mencari keharuman nama, karena memang negarawan, ya begitu. Tidak ada
negarawan yang kaya, tapi negarawan itu punya keharuman nama dan selalu
dikenang. Lebih mahal nilainya kenegarawanan itu daripada kekayaan oleh
karena kenikmatan yang tinggi menjadi pejabat negara itu adalah kita
mencari keharuman nama.
Kalau dua tadinya itu berbeda. Kalau politisi bagaimana berjuang untuk
merebut kekuasaan. Kalau bisnis, bagaimana berjuang mendapatkan
keuntungan. Sedangkan kenegarawanan itu bagaimana kita berbuat untuk
mendapatkan keharuman nama. Tentu keharuman hanya bisa dicapai kalau
dilandasi pengabdian, apa yang kita buat untuk kepentingan orang banyak,
apa yang kita bikin untuk kepentingan yang lebih luas. Apa kita bikin
pada dasarnya untuk kepentingan bangsa. Itulah landasan untuk menjadi
pejabat negara.
Jadi kalau kita mau di luar dari jalur koridor itu, mau kaya, mau
merebut kekuasaan yang terus menerus, kita bukanlah negarawan. Walaupun
pejabat negara itu pada dasarnya perjuangannya juga untuk merebut
kekuasaan tapi kekuasaan kita melalui partai politik, namun kita harus
menempatkan diri sebagai negarawan. Sudah lain cara berpikirnya.
Tapi selama masih ada kaitan bisnisnya atau kepentingan politiknya,
posisi kenegarawanannya akan terganggu. Oleh karena itu, tidak sedikit
orang yang menduduki kepecayaan sebagai pejabat negara tapi tidak
menghasilkan keharuman nama, malah menghasilkan kesan yang tidak bagus
dalam pengabdiannya. Karena dia tidak bertindak sebagai negarawan. Nah,
tinggal kita pilih, mau menjadi kesan baik, teladan kepada generasi
pengganti kita, mari berbuat yang sebaik-baiknya. Kalau mau dicaci-maki
oleh generasi pengganti kita, bikinlah dosa selama kepercayaan dan
kekuasaan itu dilaksanakan.
Oleh karena itu, itu yang saya katakan bagaimana kita berbuat
sebaik-baiknya sesuai amanat rakyat, amanat bangsa ini, perintah UU.
Semua yang dipercayakan mengurus negeri ini seharusnya berbuat
sebaik-baiknya untuk kepentingan yang lebih besar.
MTI: Anda berlatarbelakang pengusaha kemudian jadi politisi dan pejabat
negara. Dan kebetulan juga dekat dalam hubungan keluarga dengan M Jusuf
Kalla sebagai Wakil Presiden yang berada di pusat kekuasaan. Pertanyaan
yang muncul di publik, apa tidak ada perbenturan kepentingan antara
bisnis dengan jabatan sebagai pejabat negara?
AKSA: Oleh karena itu, seluruh bisnis Bosowa yang kini dikendalikan anak
saya, saya larang mengerjakan proyek pemerintah. Boleh dicari, mana ada
proyek Bosowa Group bersumber dananya dari pemerintah, tidak ada.
Semuanya bekerja untuk umum. Seperti jalan tol, dana pembangunannya
bukan dari pemerintah. Bikin pembangkit listrik dan kebun, uangnya bukan
dari pemerintah. Jadi tidak ada bersumber dari dana pemerintah.
Yang ada adalah kebijakan pemerintah yang memang siapa yang mau bangun
jalan tol, apabila ada uangnya silahkan bangun. Siapa mau bangun
pembangkit listrik, yang ada uangnya silahkan bangun, itu saja kita.
Pemerintah hanya menciptakan iklimnya. Jadi saya suruh anak saya,
masuklah pada bisnis yang tidak bersumber dari dana pemerintah tapi
masuk dalam bisnis yang iklimnya diciptakan pemerintah.
MTI: Anda mendirikan pabrik semen Bosowa dari uang yang tidak ada dan
keahlian juga tidak ada tapi menjadi ada, filosofinya begitu.
Sesungguhnya bagaimana Anda mewujudkannya?
AKSA: Memang, saya tidak punya uang, selain uangnya besar, kemudian
tidak punya pengetahuan bagaimana membuat pabrik semen, tapi saya pu-nya
ide untuk bangun pabrik semen. Tidak punya uang, tidak punya lokasi,
tidak punya apa-apa, tapi idenya ada. Modalnya hanya ide dan nekad. Maka
saya bilang, pengusaha itu harus ada keberanian. Keberanian itu
landasannya juga adalah nekad-nekad, dalam artian berani mengambil
risiko dan yakin mampu mengatasi bahkan memperoleh hasil dari risiko itu.
Juga harus ada kejujuran dan kepercayaan. Kenapa? Setelah ada ide, ide
itu saya jual ke lembaga keuangan. Tentu lembaga keuangan menyambut ide
saya karena ada kepercayaan. Itulah yang saya katakan landasan
kepercayaan. Ide saya jual ke lembaga keuangan. Lembaga keuangan memberi
harapan kemudian saya cari ahlinya, siapa ahli membangun pabrik semen
karena saya tidak punya keahlian. Maka saya rajin ikut seminar.
Ketemulah seorang Swiss, namanya Resi Hamdan, membawakan makalah tentang
bisnis semen. Lalu ia saya undang, kemudian saya rekrut pindah sama saya
dan akhirnya sampai sekarang masih dia.
Jadi dari tidak punya uang, tidak punya pengetahuan, tapi punya ide.
Saya memenej keduanya maka lahirlah semen Bosowa itu.
MTI: Itulah pebisnis sesungguhnya ya?
AKSA: Ya mudah-mudahan, tapi begitu menurut saya. Bagaimana suatu ide
dikembangkan, diyakini bahwa ini akan berputar, bagaimana. Sebab kalau
secara teori semuanya tidak mungkin. Sampai ada seorang guru besar dari
Universitas Hasanuddin yang diberitahu direktur pengembangan saya bahwa
saya akan membangun pabrik semen. Guru besar itu bilang, “Kau punya bos
sudah sakit-sakit itu. Itu ide orang sakit, ide orang gila itu.”
Sebab yang bisa membangun pabrik semen waktu itu hanya Lim Swie Liong
sama Hasyim adiknya Prabowo, semua yang berada di sekitar kekuasaan.
Nah, saya kan orang yang jauh dari kekuasaan, pinggiran Republik
Indonesia lagi, Makassar. Jadi professor itu bilang begitu, ide gila.
Tapi ya, modal saya yakin percaya, tentu di samping berdoa. Tuhanlah
yang memutuskan bahwa ide saya, cita-cita saya bisa terwujud atau tidak.
Itulah terjadinya. Kalau memang Tuhan menghendaki, tidak ada yang bisa
menghalangi.
MTI: Sekarang Bosowa Group itu sudah mencakup bidang bisnis apa?
AKSA: Kalau bidang usaha kita, kor bisnis kita itu ada di bidang
industri semen tetapi tetap kita mempertahankan kor bisnis properti,
juga ada taksinya, ada banyak. Juga masuk dalam wilayah transportasi,
ada kapalnya dan banyak di situ. Kemudian ada perkebunan sawit, ada
jalan tol dan tentu ada lembaga keuangan. Jadi kita lakukan seperti itu,
mudah-mudahan bisa jalan dengan baik.
MTI: Jumlah perusahaan di bawah Grup Bosowa bisa kita tahu?
AKSA: Kalau sekarang ini kira-kira 30-an.
MTI: Lalu asetnya kira-kira berapa?
AKSA: Sebenarnya sih ada, cuma saya kira kita belum report untuk tahun
2006. Nantilah. Yang penting bahwa semen Bosowa itu nilainya kurang
lebih 2,5 triliun ditambah semen Mil yang dibangun di Batam lagi kurang
lebih 50 juta dollar. Jadi industri semennya saja kurang lebih sekitar
itulah. Ditambah yang lain-lainnya.
MTI: Masuk lagi ke dunia politik. Sebagai anggota DPD, dalam proses
demokrasi, itulah pertama kali utusan daerah dipilih secara langsung.
Tentu tidak mudah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Itu pasti karena
dikenal dan diakui sehingga Anda dipilih menjadi utusan dari Sulawesi
Selatan dengan suara terbanyak. Tapi di samping itu, dalam proses
demokrasi di DPD, Anda terpilih menjadi utusan DPD untuk duduk di
kepemimpinan MPR. Tentu sudah mencakup dalam posisi politik yang lebih
tinggi dalam urusan-urusan kepentingan kenegaraan. Peranan apa saja
sekarang yang Anda lakukan?
AKSA: Ya, memang saya sebagai wakil daerah, Dewan Perwakilan Daerah yang
dipilih langsung rakyat dan suara terbanyak di daerah pemilihan saya,
tentu tugas saya sesuai dengan UU, menyuarakan daerah yang saya wakili,
mewakili wilayah termasuk rakyat di dalamnya.
Berbeda dengan anggota DPR mewakili kelompoknya, kalau DPD mewakili
wilayahnya dan seluruh rakyatnya. Jadi bukan kelompok manusia yang kita
wakili tapi wilayah dan masyarakatnya. Tentu tugas-tugas pokok adalah
menyuarakan suara-suara daerah, kepentingan daerah dan suara rakyat itu.
Jadi memberi perjuangan bagaimana masyarakat yang saya wakili ada
kesetaraan dengan kawasan-kawasan lainnya sehingga kehidupan di daerah
yang diwakili itu tidak menjadi daerah yang tertinggal dibanding daerah
lainnya.
Kemudian tugas-tugas kenegaraan setelah menjadi wakil pimpinan MPR,
tentu saya lebih menempatkan diri memikirkan setiap langkah kebijakan
dan keputusan-keputusan yang selalu mementingkan nasional. Oleh karena
itu, tidak lagi berpikir dari kawasan tapi seluruh kawasan bagaimana
kebijakan-kebijakan perjuangan yang bersifat menyeluruh karena pada
dasarnya kita tidak lagi hanya memikirkan 8 juta rakyat Sulawesi Selatan
tapi berpikir bagaimana seluruh rakyat Indonesia yang memerlukan
perbaikan kehidupan.
Dari yang sudah mampu didorong supaya lebih mampu lagi dan yang tidak
mampu didorong supaya jadi mampu. Dari miskin menjadi tidak miskin. Saya
pikir itulah posisi sebagai pimpinan MPR. Mudah-mudahan tugas-tugas ini
bisa saya jalankan sebaik-baiknya. Pertama, tidak mengecewakan daerah
yang saya wakili. Kedua, tidak terlalu mengecewakan seluruh rakyat
Indonesia.
Saya duduk di sini bukan berpikir demi kepentingan diri saya sendiri,
tapi saya selalu mau berdoa memohon mudah-mudahan di posisi ini saya
selalu berpikir untuk kepentingan rakyat Indonesia, bangsa Indonesia,
dan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa bagaimana pun
tugas kita ini adalah menjaga negeri ini, negara kesatuan dan menjaga
rakyat Indonesia.
MTI: Dalam beberapa waktu yang lalu ketika Partai Bintang Reformasi
dalam konflik, kelihatannya Anda sangat aktif menjembatani perbedaaan di
dalam partai itu. Apa motivasi dan tujuannya?
AKSA: Itulah, bahwa posisi saya sebagai wakil ketua MPR, bahwa Partai
Bintang Reformasi adalah salah satu partai yang anggotanya yang duduk di
DPR sebagai anggota MPR. Tugas kenegaraan itu, tugas pimpinan bagaimana
hal-hal perbedaan untuk kita persatukan. Karena saya punya pendapat,
tidak ada perbedaan yang tidak bisa diselesaikan. Karena menurut saya
perbedaaan itu hanya karena adanya perbedaan kepentingan, tapi orang
yang berbeda sesungguhnya awalnya adalah orang bersatu. Setiap orang
berbeda, awalnya orang bersatu. Kemudian dia berbeda karena ada
kepentingan berbeda. Oleh karena itu, bagaimana mempersatukan, ya kita
mencoba menggiring kembali seperti awal bersatunya. Jadi jangan
terlampau banyak mempersoalkan di ujungnya. Di upayakan kembali seperti
pada saat dia bersatu.
Saya bilang, kenapa tidak kembali ke seperti itu, karena kalau kau
kembali ke sana, anda berjalan langgeng bersama-sama ke depan dengan
baik. Kalau kau ambil perbedaan ini, dua-duanya tidak akan berjalan baik
dan dua-duanya hancur. Dulu kan Anda bersatu, menjadi besar kan, menjadi
baik. Kenapa memilih berbeda untuk hancur? Nah itu saja saya ingatkan,
menyadarkan komitmen-komitmen pertamanya, cobalah kembali ke sana. Di
lain pihak kalau ada perbedaan selama perjalanan, Anda kan mengakui
sendiri manusia biasa. Nah, karena manusia biasa itu kita bisa berbeda,
tapi sebagai manusia biasa bisa juga bersatu. Karena berkelahi, kemudian
kita bersatu kembali. Itu saja.
MTI: Tidak ada kepentingan atau agenda politik praktis untuk kepentingan
Pemilu 2009, misalnya?
AKSA: Tidak! Kalau saya sih punya kehidupan bagaimana menolong orang
karena menurut pendapat saya, setiap pertolongan pasti ada hasilnya.
Kalau tidak dapat di dunia, kita dapat di akhirat.
Sama dengan saya di yayasan perusahaan kita, bagaimana setiap tahun
membiayai orang sekolah, ada yang tamat SMA, S1, S2. Kalau baik
prestasinya, kita biayai masuk S2 tapi kita tidak ada ikatan bahwa harus
kerja di Bosowa, tidak. Tugas kita hanya mengantarkan anak bangsa ini
yang prestasinya baik untuk selesai sekolahnya karena orangtuanya tidak
mampu. Kita mewakili orangtuanya mengantarkannya menjadi anak bangsa
yang baik. Setelahnya, silahkan saja masuk masyarakat. Kalau sudah jadi,
mau ngomong dengan saya tidak apa-apa, kalau ketemu di jalan tidak tegur
tidak apa-apa. Kalau tegur alhamdulillah.
Salah satu anak yang saya biayai sekolah di Amerika. Anaknya memang baik,
saya bahagia saja. Lama kerja di sana, di perusahaan Amerika. Sekarang
kembali ambil S2-nya sudah biaya sendiri. Artinya, saya membukakan
pintunya, kemudian dia jadi, ya sudah. Mudah-mudahan anak ini akan lebih
baik. Masalah dia sudah jadi, lantas kalau ketemu dia memberikan senyum,
alhamdulillah, kalau tidak, ya, nggak apa-apa.
MTI: Kalau tidak salah, Majalah Forbes Asia menyebut Anda orang terkaya
nomor 28 di Indonesia dari 40 orang terkaya di Indonesia. Bahkan untuk
pribumi, Anda orang terkaya nomor 6 di Indonesia. Apa komentar Anda
mengenai itu.
AKSA: Ya, tentu komentar pertama adalah saya selalu mensyukuri setiap
berita baik tentang diri saya bahwa ada orang berpendapat seperti itu
apalagi ini adalah majalah sekaliber Forbes itu. Tapi namun demikian,
bahwa saya juga merasa tidak merasa berada di pering-kat itu karena
orang Forbes sama se-kali tidak saya kenal dari mana ujung-pangkalnya.
Sama dengan sebelumnya, Warta Ekonomi menulis bahwa saya nomor 24, saya
juga mencari koran itu, mencari siapa orang-orang ini dan darimana data
ini. Jadi saya tidak menghitung kriteria-kriteria itu tapi mungkin apa
yang dia tulis tentu berdasarkan analisa pendapat dia.
Tapi saya berfikir masih banyak pengusaha nasional Indonesia yang belum
dianalisa. Jadi kalau dianalisa 100, menemukan 40, saya berada di situ.
Seandainya dianalisa 300, mungkin saya tidak berada di situ. Itu
pemikiran saya. Karena saya sungguh berusaha dan bekerja itu belum
pernah bercita-cita peringkat itu kecuali saya selalu berpikir bagaimana
bekerja sebaik-baiknya, mengabdi sebaik-baiknya, buka lapangan kerja
sebanyak-banyaknya dan kemudian bagaimana Bosowa ini bermanfaat bagi
orang banyak. Jadi bagaimana supaya Bosowa ini dimiliki orang banyak,
supaya jangan hanya milik saya.
Banyak teman-teman yang terpilih di situ takut berbicara, saya bilang
kenapa takut berbicara. Kenapa takut, itu hak kita. Hak orang menulis,
kita punya hak bicara. Forbes punya hak menulis, ya kita punya hak
berbicara.
Jadi itu haknya dia, dan sebagai media terkemuka tidak mungkin sembarang
menulis. Saya hanya berdoa saja sudah dimasukkan dalam wilayah peringkat.
Ya akhirnya saya dipaksa bercita-cita naik peringkat. Yang tadinya saya
tidak bercita-cita peringkat, akhirnya karena masuk peringkat, ya tentu
saya bilang sama anak saya, “Kalau saya berhasil begini, kalau tidak
berhasil Anda lebih baik dari saya, Anda tidak hebat. Kalau Bosowa tidak
naik peringkat berarti kan tidak hebat sebagai CEO, sebagai penerima
estafet. Jadi tolonglah ini supaya naik peringkat karena naik peringkat
itu suatu cita-cita mulia,” saya bilang. Mudah-mudahan Forbes itu nanti
tim evaluasi yang menilainya menemukan adanya data baru karena kalau
masih ada data yang belum masuk ditemukan, mungkin naik peringkat kan?
MTI: Sekarang kira-kira berapa persen pengaruh Anda dalam pengambilan
keputusan perusahaan Bosowa Group?
AKSA: Sekarang ini relatif saya tidak lagi, kecuali anak saya bertanya,
saya bantu saja. Saya sering membantu memotifasi karyawan saja karena
ada gap antara saya dengan generasi yang baru. Mereka itu kan sebagai
anak muda masih penuh agresif, maunya cepat, pensiunkan saja semua. Saya
bilang bertahap, yang masih produktif pertahankan. Jadi itulah
tugas-tugas saya, hanya sebagai stabilisator dan yang kedua, memotifasi
yang baru-baru.
MTI: Kita mengalami goncangan ekonomi pada 1997 – 2000, krisis moneter,
sehingga banyak perusahaan yang kolaps. Bagaimana Bosowa Group bisa
eksis. Bagaimana goncangan yang dialami pada waktu itu, terasa tidak
pada Bosowa?
AKSA: Semua perusahaan di Indone-sia pada tahun resesi itu, tahun
1997-2000 tidak ada yang tidak mengalami goncangan, semua merasa sakit,
sehingga ada yang harus menyelesai-kan tugasnya sebagai pengusaha. Tapi
kita syukur alhamdulillah, kita berhasil melewati satu goncangan, satu
ombak, satu topan yang begitu keras. Seperti musibah Durian di Filipina,
tapi tidak semua orang Filipina mati kan? Kira-kira seperti itu. Jadi
kita juga meng-alami goncangan yang begitu keras.
Pada awalnya, kita justru sempat menganggap salah langkah mengambil
keputusan. Kenapa saya bilang salah mengambil keputusan? Karena kita
bela betul-betul Bosowa tidak masuk BPPN. Kita salah ambil keputusan
saya bilang karena semua perusahaan yang masuk BPPN memperoleh
kenikmatan dan keuntungan. Kita yang membela betul-betul tidak masuk
BPPN tetap membayar kewajiban di Bank, utang-utang dibayar bahkan utang
bertambah gara-gara itu, karena nilai dollar ke rupiah. Tapi teman-teman
yang masuk BPPN selama resesi tidak pernah bayar bunga, tidak pernah
bayar pokok kemudian setelah itu dia beli 20% kembali. Maka dia yang
sebelumnya orang kaya tapi banyak utang, tapi setelah masalah BPPN, dia
menjadi orang kaya tanpa utang, kaya raya dia.
Kalau saya sebelumnya juga umpama seperti itu (orang kaya) tapi tetap
ada utang. Tapi saya bersyukur tidak masuk seperti itu, karena tidak
termasuk pengusaha yang merugikan negara. Saya merasa nikmat karena saya
tidak merugikan negara, justru negara merugikan saya. Namun yang saya
sayangkan, bahwa orang yang niatnya baik, negara tidak sedikitpun
memberi penghargaan. Justru yang menikmatinya dipuji-puji lagi bahwa
banyak uangnya padahal uangnya itu uang negara juga, tapi ya sudahlah.
MTI: Tadi Anda singgung mengenai yayasan yang didirikan dan dikelola
oleh Bosowa Group. Apa kira-kira kegiatan yayasan ini?
AKSA: Kegiatannya saat ini yang pertama menyangkut masalah pendidikan
dan masalah sosial. Oleh karena itu, lembaga ini kalau ada bencana, itu
langsung turun dengan memakai dana yayasan. Dan juga mengumpul dana dari
karyawan untuk berpartisipasi. Kemudian masalah pendidikan, ya memang
tiap tahunnya kita memberi kesempatan pada anak-anak yang berpotensi
tapi orang tuanya tidak mampu.
Yang kedua bagaimana lembaga itu juga ikut dalam pembentukan karakter
dan landasan masa depan dengan membangun pusat-pusat pendidikan
anak-anak, terutama bagaimana anak-anak ini bisa belajar agama yang baik.
Karena kita pikir bahwa hanya dengan pendidikan agama yang baik dari
agama apapun akan membentuk karakter masyarakat ini baik. Dengan
karakter ini akan melahirkan suatu budaya yang bagus sehingga ada moral,
sehingga anak bangsa ini menjadi anak bangsa yang baik dan menjadi warga
yang baik yang mengurus negeri ini dengan bagus.
MTI: Nama yayasannya?
AKSA: Yayasannya ada dua. Satu yayasan ini kita sebut Yayasan Bosowa,
yayasan ini sebenarnya kita pakai mengembangkan sektor-sektor masyarakat.
Satu lagi namanya Yayasan Haji Mahmud. Jadi saya bikin kayak yayasan
bapak saya itu namun saya fokuskan yayasan orang tua itu untuk
pendidikan taman kanak-kanak. Jadi Yayasan Haji Mahmud fokus atau khusus
membuat taman kanak-kanak supaya anak-anak ini sejak sedini mungkin
sudah diberi training pengembangan diri melalui kreatifitas.
MTI: Ada kegiatan sosial keagamaan selain itu?
AKSA: Ya kita di Yayasan Bosowa membangun TPA. TPA itu adalah taman
tempat belajar mengaji. Itu kita ada bangun 150 TPA. Tentu betul-betul
kita arahkan. Ya, membantulah bagaimana mendorong sekolah-sekolah swasta
supaya bisa memperbaiki kualitasnya supaya ke depan ini sekolah swasta
menjadi sekolah yang memiliki kualitas yang sama dengan sekolah negeri.
Memang sebagian sekolah swasta lebih unggul kualitasnya tapi tidak
sedikit juga sekolah swasta yang di bawah rata-rata. Nah, yang kita
dorong ini yang di bawah rata-rata. Kita mengundang ketua-ketua
yayasannya untuk diskusi, seminar bagaimana sebenarnya mengelola sekolah
yang baik dan kemudian bagaimana dana sekolah itu bisa dikembalikan.
Jangan semua pendapatan dipergunakan untuk kepentingan pendiri yayasan
tapi justru bagaimana itu digunakan untuk peningkatan sekolah sehingga
kualitas sekolah itu makin baik dan makin baik.
MTI: Yang memimpin yayasan ini langsung Anda atau orang lain?
AKSA: Nggak, saya hanya pembina. Yang memimpin ini adalah karyawan
senior yang sudah pensiun. Jadi karyawan-karyawan pensiun yang memang
masih punya potensi itu dikirim ke situ untuk mengurus yayasan.
MTI: Bagaimana Anda menjaga dan memelihara kesehatan?
AKSA: Saya dalam memelihara kesehatan yang saya perhatikan yaitu
bagaimana kontiniutas main golf, dan kalau saya pulang ke tempat
kelahiran saya, ya saya pergi di laut berenang, menyelam. Karena itu
menikmati, kalau kita di Jakarta atau negeri lainnya menikmati alam ini
tapi kalau di laut, kita menikmati bagaimana indahnya dalam air. Di sana
juga banyak keindahan-keindahan dalam air. Kalau sebagai pengusaha,
menyelam itu semua utang kita lupakan. Kalau sebagai politisi, semua
persoalan kita lupakan.
Menyelam itu adalah sesuatu dunia kenikmatan, keindahan bebas dari
segala-galanya. Pada dasarnya untuk memelihara kesehatan ini juga harus
ada waktu yang harus dibebaskan dari segala beban. ► mti/ms-srs-hbs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|