A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 PENGUSAHA
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Kadin
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 27032007-02082005  
   
  ► e-ti  
  Nama:
HM Aksa Mahmud
Lahir:
Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945
Agama:
Islam

Pendidikan:
:: 1965 - Fakultas Teknik Elektro Univ. Hasannudin di Makassar

Pekerjaan:
:: 2004-2009 Wakil Ketua MPR RI
:: 2004-2009 Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Selatan
:: 2002-sekrg Penasehat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Bidang Perekonomian Daerah
:: 1999 – 2004 Anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah
:: 1968-sekrg Pendiri dan pemimpin Group BOSOWA

Alamat Kantor:
Gedung Nusantara III Lt. 9
Jl. Jend. Gatot Subroto No.6, Senayan, Jakarta Pusat Telp. 021 - 57895006, 57895026

Alamat Rumah:
= Jl Khairil Anwar No 4, Makasar, Sulawesi Selatan
= Jl. Denpasar Raya Blok C No. 12 Kuningan, Jakarta
 
 
     
 
AKSA MAHMUD HOME

 

BIOGRAFI:  01  02  03  04  05  = WAWANCARA: 06  =

OPINI:  07  08  = DEPTHNEWS: 09  KAPUR SIRIH: 10  ==

 

Aksa Mahmud, HM (01)

Pengusaha dan Politisi Negarawan

Dia seorang pengusaha pejuang yang kemudian bertekad mengabdi sebagai politisi negarawan. Setelah berjuang dengan kerja keras membangun imperium bisnis Bosowa Group, HM Aksa Mahmud, bertekad mengabdikan diri sebagai negarawan, baik dalam posisi politisi sebagai Anggota DPD dari Sulawesi Selatan maupun pejabat lembaga tinggi Negara sebagai wakil Ketua MPR periode 2004-2009, serta dalam posisi pelayan sosial sebagai filantropi melalui beberapa yayasan yang didirikannya.
 

Aksa Mahmud, HM (02)

Berlian Bangsa dari Timur

Walau tidak sempurna, semangat dan perjalanan hidup HM Aksa Mahmud, dapat dianalogikan laksana proses pengasahan batu intan berlian yang amat keras sehingga memancarkan kilauan yang amat indah. Dia salah seorang berlian bangsa dari Timur Indonesia! Dia mumpuni mengasah berlian dalam dirinya sendiri. Semangat dan kisah sukses pendiri kelompok usaha Bosowa dan Wakil Ketua MPR ini juga menjadi berlian berharga bagi setiap orang yang mau belajar dari pengalaman berharga orang lain.

 

Aksa Mahmud, HM (03)

Entrepreneur Pendiri Bosowa

Setelah keluar dari tahanan Kodam, dia memutuskan harus meninggalkan profesi jurnalistik yang sempat digumuli bersama rekan-rekan di Koran Mahasiswa Indonesia di Sulawesi Selatan. Kemudian dia kembali dalam wilayah bisnis. Kebetulan, seorang sahabatnya, Jusuf Kalla, anak Haji Kalla, seorang pengusaha terkemuka di Sulawesi Selatan, mengajaknya bekerja di Dolog Makassar dan diperusahaan NV Haji Kalla. Setelah tiga tahun di perusahaan Haji Kalla, yang telah menjadi mertuanya, dia pun pamit, mendirikan usaha sendiri, yang kemudian berkembang menjadi imperium bisnis Bosowa Group.

 

Aksa Mahmud, HM (04)

Bosowa, Tiga Kerajaan Berlian

Bosowa sebuah nama yang amat menarik, unik, mudah diucapkan, enak dan akrab didengar dan karenanya mudah melekat dalam ingatan. Siapa dan bagaimana nama ini ditemukan? Penemunya adalah HM Aksa Mahmud sendiri, selaku pendiri perusahaan Bosowa, yang kini telah berkembang menjadi salah satu perusahaan raksasa dengan lebih 30 anak perusahaan dengan asset lebih Rp 3,5 triliun.

 

Aksa Mahmud, HM (05)

Kiat Bisnis Bosowa

Apa kiat utama HM Aksa Mahmud hingga berhasil membangun imperium bisnis Bosowa Group? Pertama, dia selalu berusaha menjadi seorang manusia yang baik, yang dilandaskan di atas filosofi hidup bekerja keras, belajar terus menerus dan berdoa. Kedua, selalu berusaha menjadi seorang pebisnis yang baik, yang dilandaskan pada kejujuran, kerja keras, punya keberanian dan percaya diri, serta menghargai tenaga profesional.

 

 

         

Aksa Mahmud, HM (06)

SBY-JK Telah Bekerja Siang-Malam

Duet SBY-JK (Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla) sebagai Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat secara langsung, merupakan duet yang paling ideal sepanjang sejarah republik ini. Mereka berdua telah bekerja luar biasa. Tidak mengenal hari Sabtu-Minggu, siang dan malam. Wakil Ketua MPR HM Aksa Mahmud menegaskan hal itu dalam wawancara dengan Wartawan Tokoh Indonesia. Menurutnya, pemerintahan ini masih jauh lebih baik dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.

 

Aksa Mahmud, HM (07)

Mendorong Enterpreneurship di Daerah

Di era Orde Baru yang identik dengan kekuasaan Pak Harto, usahawan di tingkat desa dan kabupaten seakan sulit bangkit. Yang terus berkembang hanyalah pengusaha karbitan atau cukong-cukong yang kebetulan dekat dengan lingkaran kekuasaan. Hanya seorang entrepreneur sejati yang tahan banting yang bisa muncul tanpa bersandar pada penguasa. Sementara dalam era reformasi ini, menurut HM Aksa Mahmud, peluang munculnya pebisnis baru, pengusaha daerah, kini sangat terbuka.

 

Aksa Mahmud, HM (08)

Langkah Mundur, Kembali ke UUD 1945

Benih-benih demokrasi yang mulai bertunas di Indonesia penuh dengan tantangan. Antara lain dengan munculnya rasa tidak puas terhadap amandemen UUD 45, yang merupakan pilar utama demokratisasi di Indonesia, antara lain dengan pembatasan periode boleh-tidaknya presiden dipilih lagi. Menurut Wakil Ketua MPR HM Aksa Mahmud, kalau kita kembali ke UUD 45, berarti kita menggiring kembali negara ini ke era lama, zaman susah.

     

Aksa Mahmud, HM (09)

Pengusaha yang Ingin Berbagi

Sebagai seorang pengusaha sukses membangun imperium bisnis Grup Bosowa yang kini menduduki jabatan dan peran kenegaraan sebagai Wakil Ketua MPR periode tahun 2004-2009 memiliki keinginan sederhana saja. Ia sangat ingin mengisi masa-masa pengabdiannya sebagai negarawan dan tokoh bisnis dengan berbagi pengalaman kepada siapa saja. Itulah yang dilakukannya tatkala memberi kuliah umum di Universitas Al-Zaytun Indonesia, di Desa Sandrem, Indramayu.

 

KAPUR SIRIH MTI-35

Pengusaha Negarawan

Pembaca yang budiman! Apakah seorang pengusaha memungkinkan disebut negarawan? Pertanyaan ini dimunculkan sehubungan anggapan yang mengemuka di tengah masyarakat bahwa hanya para pejabat negaralah yang layak disebut negarawan. Sementara para pengusaha hanya dipandang sebagai orang-orang yang mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Mereka, para pengusaha, itu nyaris tak pernah dipandang sebagai warga negara yang berjasa dan berbakti kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara.