| |
C © updated 27032007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
HM Aksa Mahmud
Lahir:
Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945
Agama:
Islam
Istri:
Hj. Ramlah Aksa
Anak:
5 orang
Pendidikan:
:: 1965 - Fakultas Teknik Elektro Univ. Hasannudin di Makassar
:: 1965 - Sekolah Teknik Menengah di Makassar
:: 1962 - Sekolah Teknik Negeri di Parepare
:: 1959 - Sekolah Rakyat di Barru
Pekerjaan:
:: 2004-2009 Wakil Ketua MPR RI
:: 2004-2009 Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Selatan
:: 2002-sekrg Penasehat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Bidang
Perekonomian Daerah
:: 1999 – 2004 Anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah
:: 1968-sekrg Pendiri dan pemimpin Group BOSOWA
Organisasi:
:: 2004-sekrg Anggota Badan Pertimbangan KADIN Indonesia
:: 2003-sekrg Ketua Dewan Bisnis Sulawesi
:: 2001-sekrg Anggota Dewan Wali Amanat Universitas Gajah Mada
Yogyakarta
:: 2001 Ketua Dewan Pembinaan Daerah dan Pemasyarakatan Bulutangkis
Seluruh Indonesia (PBSI)
:: 2000-sekrg Ketua Yayasan Univ. Islam Indonesia Makassar, Ketua Dewan
Penyantun Politeknik Negeri Makassar, Ketua Dewan Penyantun Politani
Negeri Pangkep
:: 1999-sekrg Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
:: 1994-sekrg Ketua Dewan Penasehat GAPENSI Pusat
:: 1987-1994 Ketua GAPENSI Sulawesi Selatan
:: 1983- 1986 Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Pengurus Pusat (BPP)
HIPMI
:: 1980- 1983 Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Badan Pengurus
Pusat (BPP) HIPMI
:: 1976- 1985 Sekretaris Umum AKI (Asosiasi Kontraktor Indonesia)
Sul-Sel
:: 1982- 1985 Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Sul-Sel
:: 1966 Aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)
:: 1965 Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar
:: 1962 Alumni Pelajar Islam Indonesia
:: Wakil Ketua Umum Bidang Dana Persatuan Anggar Seluruh Indonesia
Hoby:
Olahraga Golf, Renang, Diving
Alamat Kantor:
Gedung Nusantara III Lt. 9
Jl. Jend. Gatot Subroto No.6, Senayan, Jakarta Pusat Telp. 021 -
57895006, 57895026
Alamat Rumah:
= Jl Khairil Anwar No 4, Makasar, Sulawesi Selatan
= Jl. Denpasar Raya Blok C No. 12 Kuningan, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05 =
WAWANCARA:
06
=
OPINI:
07
08
= DEPTHNEWS:
09
KAPUR SIRIH:
10 ==
Aksa Mahmud, HM (01)
Pengusaha dan Politisi Negarawan
Dia seorang pengusaha pejuang yang kemudian bertekad mengabdi sebagai
politisi negarawan. Setelah berjuang dengan kerja keras membangun
imperium bisnis Bosowa Group, HM Aksa Mahmud, bertekad mengabdikan diri
sebagai negarawan, baik dalam posisi politisi sebagai Anggota DPD (Dewan
Perwakilan Daerah) dari Sulawesi Selatan maupun pejabat lembaga tinggi
Negara sebagai wakil Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) periode
2004-2009, serta dalam posisi pelayan sosial sebagai filantropi melalui
beberapa yayasan yang didirikannya.
Semangat juang dan tekad pengabdian, pendiri Grup Bosowa yang dirilis
Forbes Asia (September 2006) sebagai urutan 28 dari 40 orang Indonesia
terkaya, dan urutan 6 pribumi terkaya, dengan kekayaan $195 juta, itu
pantas diapresiasi dan dianalogikan laksana proses pengasahan berlian
yang kuat dan indah.
Semangat dan kisah suksesnya sebagai pengusaha diraih dengan doa,
kejujuran, bekerja keras, belajar terus menerus, berani mengambil risiko
dan bertanggung jawab, yang merupakan filosofi hidupnya. Ulet dan piawai,
laksana mengasah batu intan berlian yang amat keras sehingga memancarkan
kilauan yang amat indah. Keberaniannya sebagai pebisnis pejuang
terbentuk laksana letusan gunung merapi yang memuntahkan dan menyisakan
batu-batu berlian dari kedalaman perut bumi. Pernyataan atau analogi ini,
seakan terlalu berlebihan. Namun, setuju atau tidak, jika disimak,
pernyataan itu cukup komunikatif untuk menganalogikan kisah perjalanan
hidup putera bangsa kelahiran Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945, ini.
Walau tidak sempurna, perjalanan hidup Aksa Mahmud, dapat dianalogikan
laksana proses pengasahan (cutting) berlian. Dengan asumsi, bahwa semua
manusia adalah laksana berlian. Setidaknya, berlian dalam dirinya
sendiri. Masalahnya adalah bagaimana seseorang itu mengasah berlian
dalam dirinya itu. Itulah yang paling menentukan kualitas berlian dalam
diri seseorang. Aksa Mahmud dapat secara mumpuni mengasah berlian dalam
dirinya sehingga menghasilkan kilauan cemerlang, baik dalam
perjuangannnya yang keras sebagai pebisnis maupun dalam tekad
pengabdiannya sebagai politisi negarawan. Selengkapnya baca: Berlian
Bangsa dari Timur, halaman 16.
Hampir seperampat abad, Aksa berjuang mendirikan dan membesarkan Bosowa
Group, serta mempersiapkan generasi kedua mengambil-alih estafet
kepemimpinan untuk pengembangan Bosowa memasuki kejayaan sebagai
perusahaan multinasional ke depan. Selengkapnya baca: Entrepreneur
Pendiri Bosowa, halaman 22; dan, Bosowa, Tiga Kerajaan Berlian, halaman
26.
Kemudian Aksa Mahmud pun kembali ke habitatnya dalam dunia politik.
Tatkala masih mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin
di Makassar, dia seorang aktivis, Angkatan 66. Saat ini, seperti
dikemukakannya kepada Wartawan Tokoh Indonesia, dia telah mantan
pengusaha, menjadi politisi dan pejabat negara.
Sebagai pengusaha, Aksa menyebutnya sebagai era perjuangan. Pebisnis
pejuang! Dia adalah pengusaha yang bertanggung jawab sebagai warga
negara yang baik. Pengusaha yang tidak mau merugikan Negara. Sebagai
contoh, ketika krisis ekonomi melanda negeri ini 1997-2000, banyak
konglomerat yang melepas perusahaannya masuk BPPN untuk menghindari
kewajiban, tapi Aksa tidak melakukannya. Dia menyelesaikan semua
kewajibannya, walaupun kondisi sangat sulit.
Bahkan setelah melewati dan mengatasi kondisi sulit itu, dia mampu
mengembangkan sayap Bosowa Group, selain sukses membangun pabrik semen,
juga mengambil-alih pengelolaan jalan tol Bintaro, membangun pembangkit
tenaga listrik di Cirebon dan lain-lain. Sekarang, setelah melepas
kepemimpinan perusahaannya kepada putera-puterinya yang juga telah
dipersiapkannya, dia pun memanfaatkan sisa hidupnya untuk sepenuhnya
mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negaranya dalam posisi sebagai
politisi dan pejabat negarawan.
Sejak kecil hingga berusia 60 tahun, dia sudah berjuang dan berhasil
membangun Bosowa Group, kini dia bertekad untuk mengabdi. “Jadi dalam
sisa hidup, saya lebih berpikir bagaimana banyak berbuat kepada negeri
ini, kepada bangsa ini, kepada umat ini. Saya lebih banyak mengharap
bahwa mudah-mudahan sisa umur ini bisa lebih banyak bekerja untuk bangsa
dan negara ini dan agama sehingga manfaatnya bisa dirasakan lagi kepada
generasi selanjutnya,” ujar Anggota Dewan Wali Amanat Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta ini.
Aksa merasa lepas, plong, karena di dunia usaha sudah bisa mengantarkan
perusahaan yang didirikannya untuk diserahkan kepada generasi kedua.
Kepada generasi kedua, Aksa berpesan: Buktikan bahwa anekdot Tiongkok
itu tidak benar. Bahwa pendirinya berdarah, berkeringat dan bersusah
payah membesarkan usaha, generasi kedua menikmati, lalu generasi ketiga
menghancurkan. Tapi cobalah sebagai anak bangsa membuktikan bahwa
pendirinya berkeringat, bersusah payah membangun, second generation
membesarkan dan generasi ketiga membuat kejayaan.
Kepada putera-puterinya, Aksa selalu mengingatkan filosofi hidup yang
dianutnya, yakni bekerja keras, belajar terus menerus dan berdoa.
Filosofi ini selalu ditanamkan dan dilakoni dalam setiap detik dan gerak
kehidupannya. Itulah kunci utama keberhasilannya mengasah berlian (talenta)
dalam dirinya sehingga mencapai sukses, baik dalam membangun usaha,
membina keluarga dan berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.
Dia sangat mengandalkan bekal yang diterima dari orang tuanya waktu
kecil, bahwa segala sesuatu yang ingin kita capai adalah kehendak Tuhan,
kehendak Allah. Kita hanya boleh bercita-cita, boleh berniat, boleh
bekerja keras tapi pada akhirnya keputusan di tangan Allah. Oleh karena
itu, dia menyimpulkan, kita bekerja keras, kita belajar terus menerus,
kita berdoa supaya lahir keputusannya dari Tuhan. Karena kita hanya
sampai pada tingkat berdoa, keputusan ada di tangan Tuhan, bukan ada di
tangan kita.
Atas bekal itu, dia selalu menekankan bahwa di dalam dunia bisnis itu
harus berusaha menjadi seorang pebisnis yang baik? Pertama, landasannya
adalah kejujuran, kedua kerja keras, dan ketiga punya keberanian dan
percaya diri. Jadi kalau tidak jujur jangan masuk dunia bisnis, kalau
juga tidak mau kerja keras jangan masuk dan tidak punya keberanian juga
jangan masuk. Kenapa? Bisnis itu bagaikan perang yang tiada
habis-habisnya. Selengkapnya baca: Kiat Bisnis Bosowa halaman 27.
Melalui kiprah bisnisnya yang telah digeluti lebih seperempat abad, ayah
lima orang anak ini telah menggoreskan tinta emas dalam pembangunan
Kawasan Timur Indonesia. Citranya sebagai konglomerat juga relatif
bersih. Namanya bersih dari berbagai kasus kredit macet, penggelapan
pajak, perusakan lingkungan hidup dan kasus miring lainnya yang selama
ini banyak ditudingkan kepada sejumlah konglomerat Indonesia.
Perjalanan hidup pendiri Bosowa Grup ini benar-benar sarat dengan
hal-hal yang patut diteladani oleh orang-orang yang mau belajar dari
pengalaman berharga orang lain. Dia terkenal sebagai pekerja keras dan
pantang menyerah. Laksana diamond (berlian) yang “mustahil untuk
dijinakkan”. Sebagai pengusaha, kejeliannya mengendus dan memanfaatkan
peluang bisnis pantas dikagumi. Dengan hanya diawali modal sebesar Rp 5
juta, dia kini tercatat menjadi salah satu pengusaha pribumi yang amat
disegani.
Bahkan menurut Majalah Forbes Asia, yang dirilis September 2006, Aksa
menembus ranking 28 orang terkaya di Indonesia, berada beberapa tingkat
di atas kekayaan kakak iparnya M Jusuf Kalla yang berada di urutan 36
dari 40 orang terkaya Indonesia.
Politisi Menipu, Dosa!
Kemudian Aksa masuk di dunia politik. Dalam dunia politik, dia
menghadapi suatu kondisi yang sangat berbeda. Dalam dunia bisnis dia
selalu menanamkan disiplin dan kejujuran. “Kalau kita bicara kejujuran
pasti sangat menghindari kebohongan kan?” ujar mantan Anggota MPR RI
Fraksi Utusan Daerah dari Sulawesi Selatan (1999-2004) itu. Sementara
berada dalam wilayah politik, bahwa berbohong itu tampaknya legitimate,
sangat lazim. “Tampaknya kalau kita berada di politik, seolah tidak
menjadi politisi yang cerdas kalau tidak tahu berbohong,” ujar suami
dari Hj Ramlah Aksa dan ipar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla itu.
Jadi ada tiga kehidupan yang berbeda, kehidupan pebisnis atau pengusaha
dan kehidupan politisi serta kehidupan sebagai pejabat negara. Seorang
politisi dianggap cerdas apabila ada kemampuan ‘berbohong’ dan tebar
pesona, ada kemampuan membangun citra yang pada dasarnya adalah juga
bertujuan yang baik. Oleh karena itu, seolah-olah kebohongan adalah
modal dasar seorang politisi. Sedangkan kejujuran adalah modal dasar
seorang pebisnis.
Dalam dunia yang berbeda itu, Aksa dengan cerdas dan bijak beradaptasi
untuk bisa berperan secara optimal. Beradaptasi dari satu alam yang
sangat mengharamkan berbohong, masuk dalam wilayah kehidupan politisi
yang justru seolah menolerir. Dalam dunia bisnis, bohong itu dianggap
dosa. Sedangkan dalam dunia politisi ‘bohong’ itu tidak dosa. Oleh
karena itu, Aksa mengatakan, akan menjadi seorang politisi yang akan
mengikuti segala peralatan-peralatan politisi. “Kalau harus ‘bohong’
saya harus ‘bohong’, tapi saya tidak akan menipu,” ujarnya.
Kalau ‘bohong’ dinyatakan oleh politisi tidak dosa, tapi menurutnya,
menipu itu dosa besar. Jadi, ‘berbohong’ yang tidak dosa dengan
menghindari menipu. Muncullah politisi yang bisa berbohong tapi tidak
menipu, supaya tidak berbuat dosa. Itulah yang muncul dalam pikirannya
ketika kembali memasuki dunia politik. Sehingga dalam perjalanan ke
depan, dalam dunia politik, dia bertekad tidak akan menipu konstituen.
Bagi dia, tegas, dalam politik, menipu adalah dosa.
Aksa memberi contoh tentang kebohongan yang tidak menipu. Kalau
berbicara harapan-harapan atau janji-janji, dengan kesadaran
sesungguhnya itu tidak bisa tercapai adalah menipu dan dosa. Itu janji
yang menipu! Tapi kalau berbicara harapan dan janji yang memang
sesungguhnya diniatkan untuk dicapai, tapi ternyata setelah dilakukan
berbagai usaha untuk mencapainya, belum juga terwujud, itu bukan menipu.
“Tapi kalau kita bicara lantas tidak ada usaha, itu menipu namanya,”
kata Aksa Mahmud.
“Kalau kita berusaha tapi tidak tercapai, di situ seolah ada kebohongan,
tapi tidak ada niat menipu. Tapi kalau kita bicara tapi tidak berbuat
untuk mencapai, itu memang niatnya sudah menipu, itulah haram. Itulah
menurut saya tidak benar,” Aksa Mahmud menjelaskan. Itulah barangkali
yang dimaksud berbohong di politik boleh, tidak haram, tapi menipunya
haram. Artinya, katanya, kita berbicara harapan dan ada usaha untuk
mencapainya tapi kemudian tidak tercapai, memang terjadi kebohongan.
Tapi, menurut Aksa, itu tidak dosa karena ada usaha. “Tapi kalau memang
berjanji lantas tidak ada usaha, kemudian tidak tercapai, itu menipu
namanya. Dosa itu!” tegas Aksa, dalam menentukan sikap di dunia politik.
Negarawan, Intinya Kejujuran
Kemudian posisinya berbeda lagi setelah menjabat Wakil Ketua MPR,
sebagai pejabat negara di lembaga tinggi negara. Lengkaplah dia berjuang
dan mengabdi dalam tiga dimensi kehidupan. Kehidupan pertama sebagai
pengusaha, kehidupan kedua sebagai politisi, dan kehidupan ketiga
sebagai pejabat negara. Kalau tadi antara pengusaha dengan politisi
seolah saling bertentangan. Tapi sebagai pejabat negara, kedua-duanya
harus kombinasi. “Jika di politisi bohong itu seolah tidak dosa, kalau
di pejabat negara semuanya itu tidak boleh,” tegasnya. Sebagai pejabat
negara, semata-mata intinya harus kejujuran.
Jadi dia berkesimpulan, antara dunia usaha, dunia politisi dan pejabat
negara, akan melahirkan landasan utamanya adalah kejujuran. Kenapa?
Bahwa bangsa ini harus diurus dengan landasan kejujuran supaya
masyarakat ini bisa percaya kepada pemimpinnya. Karena tidak ada
pemimpin yang sukses tanpa mendapat dukungan kepercayaan dari yang
dipimpin.
Oleh karena itu, dia berprinsip bahwa posisinya sebagai pejabat negara
harus berada dalam landasan kejujuran. Kejujuran itu artinya, tidak
boleh mengkhianati komitmen-komitmen sebagai pejabat negara. Oleh karena
itu, kalau menjadi pejabat negara, jangan mencari kekayaan tapi mencari
keharuman nama. Karena memang negarawan, ya begitu. Menurutnya, tidak
ada negarawan yang kaya, tapi negarawan itu punya keharuman nama dan
selalu dikenang. Lebih mahal nilainya kenegarawanan itu daripada
kekayaan. Kenikmatan yang tinggi menjadi pejabat negara adalah keharuman
nama.
Kalau politisi berjuang untuk merebut kekuasaan. Pengusaha berjuang
mendapatkan keuntungan. Sedangkan negarawan bagaimana berbuat untuk
mendapatkan keharuman nama. Tentu, menurut Aksa, keharuman nama hanya
bisa dicapai kalau dilandasi pengabdian yang tulus dan jujur. Apa yang
kita buat untuk kepentingan orang banyak. Apa yang kita lakukan untuk
kepentingan yang lebih luas. Apa yang kita perbuat pada dasarnya untuk
kepentingan bangsa. Itulah landasan untuk menjadi negarawan.
Memang, pejabat negara itu pada dasarnya juga diperoleh melalui
perjuangannya mencapai kekuasaan, baik melalui partai politik atau tidak,
namun sesudah menjabat kita harus menempatkan diri sebagai negarawan.
Cara berpikirnya sudah lebih luas, tanpa interes pribadi. Sebab jika
masih ada kaitan kepentingan bisnisnya atau kepentingan politiknya,
posisi kenegarawanannya akan terganggu.
Oleh karena itu, menurut Aksa Mahmud, tidak sedikit orang menduduki
jabatan kenegaraan tapi tidak menghasilkan keharuman nama malah
menghasilkan kesan yang tidak bagus dalam pengabdiannya.
Nah, tinggal kita pilih, mau menjadi teladan kepada generasi pengganti
kita, mari berbuat yang sebaik-baiknya. Kalau mau dicaci-maki oleh
generasi pengganti kita, bikinlah dosa selama kekuasaan itu ada ditangan.
Maka, itu yang saya katakan bagaimana kita berbuat sebaik-baiknya sesuai
amanat rakyat, amanat bangsa ini, perintah UU. Semua yang dipercayakan
mengurus negeri ini berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan yang lebih
besar.
Pengabdian Politisi Negarawan
Bagi Aksa, masuk dalam dunia politik, sesungguhnya adalah untuk mengabdi.
Sama sekali dia tidak punya interes pribadi. Dia hanya ingin
mendayagunakan sisa hidupnya untuk bisa berperan meningkatkan
kesejahteraan, harkat dan martabat bangsa ini. Sebab, menurutnya,
menjadi politisi adalah pintu masuk yang demokratis ikut terjun langsung
dalam memengaruhi kebijakan negara demi kemakmuran seluruh rakyat bangsa
ini.
Secara pribadi, Aksa yang sudah berkecukupan secara ekonomi dan
diberkahi lima putera-puteri yang sudah jadi, tidak punya lagi interes,
ambisi menjabat sesuatu jabatan penting untuk kepentingan diri sendiri
atau kelompoknya. Justru sebaliknya, dia ingin mendayagunakan diri dan
kemampuannya demi kepentingan orang banyak, bangsa dan negara. Dia ingin
mengabdikan diri kepada Allah dan sesama manusia di sekitarnya, tanpa
membedakan asal-usul, golongan dan kelompok.
Dia bertekad menjadi seorang politisi yang negarawan. Apalagi dalam
posisinya saat ini sebagai Wakil Ketua MPR, yang harus berpikir, berbuat
dan mengabdi untuk seluruh rakyat di wilayah NKRI. Aksa tak lagi cukup
hanya hanya memperhatikan perbaikan kesejahteraan belasan ribu karyawan
yang tergabung dalam Grup Bosowa, beserta keluarganya, atau delapan juta
warga Sulawesi Selatan, daerah yang memilihnya menjadi anggota DPD.
Melainkan ingin memberikan sumbangsih utuh, mengabdi, kepada seluruh (hampir
240 juta) warga Indonesia.
Sebagai contoh, Aksa Mahmud, tampaknya sama sekali tidak berambisi untuk
menduduki kursi gubernur Sulsel yang kini tengah jadi incaran sejumlah
tokoh. Padahal, melihat arus politik yang tengah mengkristal di tanah
kelahirannya itu, pendiri Bosowa Grup ini sangat dijagokan dan memiliki
peluang besar untuk menduduki kursi Gubernur Sulsel. Namun, baginya,
jabatan sebagai anggota DPD dan Wakil Ketua MPR sudah begitu terhormat
untuk bisa berbakti dan mengabdi, sekecil apapun, untuk bangsa dan
negara ini.
Aksa yang lebih afdol dengan istilah entrepreneur dibanding sebutan
konglomerat itu, sejak tahun 2004, memang mengabdi ke dunia politik
dengan menjadi anggota DPD (di AS kedudukan ini sangat terhormat dengan
sebutan senator). Sebelumnya dia juga pernah menjadi anggota MPR sebagai
utusan daerah dari Sulsel. Tapi karier politiknya tidak hanya sebatas
menjadi anggota DPD. Peraih suara terbanyak dalam Pemilihan Umum anggota
DPD dari Sulsel ini ternyata terpilih menjadi wakil ketua MPR. Sebuah
jabatan prestisius dan menjadi dambaan ratusan wakil rakyat yang
berkantor di Senayan. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua pulau
terlampaui, begitulah perjalanan politik Aksa Mahmud. Seperti halnya
dalam berbisnis, dalam berpolitik pun ia tak mau bekerja
setengah-setengah.
Konsekuensi jabatan ini tentu saja sudah diperhitungkan oleh pendiri
Grup Bosowa ini. Sebab sejak mula sudah timbul tekadnya bahwa dunia
politik baginya adalah pengabdian. Jabatan atau kekuasaan adalah sarana
utama pengabdian. Dengan jabatan di lembaga tinggi negara itu, dia sudah
sangat menyadari harus lebih banyak mencurahkan tenaga dan pikirannya
untuk mengurusi masalah bangsa dan negara, khususnya yang terkait dengan
fungsi MPR dan Dewan Perwakilan Daerah sebagai lembaga legislatif.
Sama sekali dia tidak memikirkan masalah gaji/pendapatan yang sudah
barang tentu tidak seberapa dibanding penghasilannya sebagai pengusaha.
Termasuk kendaraan yang ditumpanginya sehari-hari, sudah pasti tidak
semewah mobil pribadinya sebagai pemilik dari tidak kurang 30 buah
perusahaan yang bernaung dalam panji-panji Bosowa Group.
Tapi bagi Aksa Mahmud, ini justru menjadi kepuasan tersendiri, yakni
pengabdian. Jabatan di lembaga kenegaraan yang dilakoninya sekarang
baginya merupakan manifestasi dukungan dan kepercayaan rakyat kepadanya.
Sebagai wakil ketua MPR, dia kini punya kapasitas untuk ikut memecahkan
masalah-masalah strategis, menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi
kemajuan bangsa dan negara.
Kepuasan itulah antara lain yang mendasari niatnya untuk tidak
ikut-ikutan terjun dalam pemilihan gubernur Sulawesi Selatan yang akan
digelar dalam waktu dekat. Padahal, dukungan masyarakat Sulsel agar dia
mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat mengalir begitu deras dan
mengemuka dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, dia memang kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi
“Garuda Satu” Sulsel (2002). Tapi sistem pemilihannya waktu itu tentu
saja masih pola lama, sepenuhnya ditentukan oleh perhitungan suara di
DPRD Tkt I. Sedangkan sekarang, sudah era pemilihan langsung. Sementara,
dalam Pemilu lalu, ketika memperebutkan kursi anggota DPD Sulsel, Aksa
Mahmud meraih jumlah suara terbanyak untuk lolos ke Senayan. Karena
itulah, banyak pengamat memperkirakan bahwa peluangnya untuk memenangkan
pemilihan gubernur Sulsel kali ini, sangat besar.
Namun, tampaknya Aksa Mahmud menolak secara halus aspirasi pendukungnya.
Aksa Mahmud telah memantapkan pilihannya untuk mengabdi sebagai Wakil
Ketua MPR. Artinya, dia sudah merasa berguna dalam posisinya sebagai
senator dan wakil ketua MPR. Padahal, bagi sebagian besar orang, kalau
dihitung-hitung dari berbagai aspek, posisi gubernur sangatlah strategis
baik dari segi pendapatan dan fasilitas yang akan didapatkannya.
Terlebih lagi dengan pengembangan mata rantai bisnisnya yang berbasis di
Sulawesi, posisi sebagai gubernur Sulsel sangat menggiurkan. “Saya yakin,
Tuhan akan memberikan figur yang lebih berpotensi untuk melanjutkan
pembangunan Sulsel,” katanya seperti dikutip oleh pers.
Sikap ini menunjukkan pribadinya yang tidak haus kekuasaan. Walau
sebenarnya secara material dan pengaruh politik dia mampu melakukan itu.
Dengan demikian, dia rela dan memberi kesempatan kepada yang lebih muda
untuk memimpin Sulsel, begitu komentar seorang tokoh muda yang sangat
terkesan dengan sikap Aksa Mahmud tersebut.
Aksa menyadari sebagai wakil daerah, Dewan Perwakilan Daerah, yang
dipilih langsung rakyat dengan suara terbanyak di daerah pemilihannya,
tentu mempunyai tugas sesuai dengan UU, menyuarakan daerah yang diwakili,
mewakili wilayah termasuk rakyat di dalamnya. Berbeda dengan anggota DPR
mewakili kelompok atau partainya. Anggota DPD mewakili wilayah dan
seluruh rakyatnya.
Namun sebagai Wakil Ketua MPR, dia mengemban tugas-tugas kenegaraan. Dia
lebih menempatkan diri memikirkan setiap langkah kebijakan dan
keputusan-keputusan yang selalu mementingkan nasional. Tidak lagi
berpikir dari kawasan tapi seluruh kawasan bagaimana kebijakan-kebijakan
perjuangan yang bersifat menyeluruh. “Mudah-mudahan tugas-tugas ini bisa
saya jalankan sebaik-baiknya. Pertama, tidak mengecewakan daerah yang
saya wakili. Kedua, tidak terlalu mengecewakan seluruh rakyat
Indonesia,” kata Aksa dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia.
“Saya duduk di sini bukan berpikir demi kepentingan diri saya sendiri
tapi saya selalu mau berdoa mohon mudah-mudahan di posisi ini saya
selalu berpikir untuk kepentingan rakyat Indonesia, bangsa Indonesia,
dan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa bagaimana pun
tugas ini adalah menjaga negeri ini, negara kesatuan, dan menjaga rakyat
Indonesia,” urai Aksa Mahmud.
Aksa juga sangat bersyukur atas mulai tumbuhnya bibit demokrasi di
negeri ini. Menurutnya, negara yang demokratis telah menjadi tren dunia
modern. Setiap negara, membutuhkan waktu yang relatif lama dan
perjuangan yang cukup berat untuk mewujudkannya. Menurut Aksa, demokrasi
mensyaratkan kesejahteraan dan pendidikan yang memadai paling tidak
untuk sebagian besar anggota masyarakat. Walaupun, dia melihat,
benih-benih demokrasi yang mulai bertunas di Indonesia itu masih penuh
dengan tantangan. Antara lain, terlihat dari munculnya rasa tidak puas
terhadap amandemen UUD 45, yang merupakan pilar utama demokratisasi di
Indonesia. Selengkapnya baca: Langkah Mundur, Kembali ke UUD 1945,
halaman 39.
Sorotan Publik
Sebagai politisi dengan latar belakang pengusaha dan kebetulan juga
dekat dalam hubungan keluarga dengan M Jusuf Kalla sebagai Wakil
Presiden yang berada di pusat kekuasaan, Aksa Mahmud memang tak bisa
lepas dari sorotan publik yang terkadang menyudutkannya. Di antaranya
ada saja pihak yang meragukan ketulusannya memilah-milah ketiga
posisinya sebagai pebisnis, politisi dan sebagai pejabat negara (pejabat
publik) ditambah lagi sebagai keluarga dekat Wapres Jusuf Kalla.
Pertanyaan yang muncul di publik, apa tidak ada perbenturan kepentingan
antara bisnis dengan jabatan sebagai pejabat negara?
Namun, semua tudingan miring yang dialamatkan ke arahnya ditanggapinya
secara arif dan bijaksana. Dia menampik bahwa statusnya sebagai adik
ipar Wapres Jusuf Kalla menjadi kunci sukses bisnis dan politiknya.
Justru, seperti diakui sendiri, dia terkadang malah risih sendiri dan
terbebani dengan posisinya sebagai bagian dari keluarga Wapres Jusuf
Kalla. Aksa bukanlah tipikal manusia yang suka bersandar kepada pihak
lain atau kepada penguasa.
Oleh karena itu, seluruh bisnis Bosowa yang kini dikendalikan anaknya,
dia larang mengerjakan proyek pemerintah. “Boleh dicari, mana ada proyek
bersumber dananya dari pemerintah, tidak ada. Semuanya bekerja untuk
umum. Seperti jalan tol, dana pembangunannya bukan dari pemerintah.
Bikin pembangkit listrik bukan uangnya pemerintah, bikin kebun bukannya
uang pemerintah. Jadi tidak bersumber dari dana pemerintah.”
Yang ada adalah kebijakan pemerintah yang memang siapa yang mau bangun
jalan tol, maka ada uangnya silahkan bangun. Siapa mau bangun pembangkit
listrik, yang ada uangnya silahkan bangun. Pemerintah hanya menciptakan
iklimnya. “Jadi saya suruh anak saya, masuklah pada bisnis yang tidak
bersumber dari dana pemerintah tapi masuk dalam bisnis yang iklimnya
diciptakan pemerintah,” jelas Aksa. (Selengkapnya Baca: Wawancara HM
Aksa Mahmud, halaman 30.
Proses pembentukan jati dirinya sejak kecil, cukup memberi jaminan bahwa
dia seorang manusia yang berkepribadian kuat, punya harkat dan martabat
yang tinggi. Sejak kecil, dia sudah melakoni bisnis antara lain dengan
berjualan permen di sekolahnya. Menjual hasil dari desanya ke kota.
Memisahkan diri dari perusahaan mertuanya dengan secara mandiri
mendirikan perusahaan sendiri.
Aksa menempa diri laksana mengasah berlian dalam dirinya.Menamatkan
Sekolah Rakyat di desa kelahirannya Barru, 1959. Kemudian melanjut ke
Sekolah Teknik Negeri di Parepare, tamat 1962. Lalu setelah tamat
Sekolah Teknik Menengah di Makassar (1965), melanjut ke Fakultas Teknik
Elektro Universitas Hasanuddin di Makassar.
Aksa Mahmud juga aktif berorganisasi. Dia aktif sebagai Anggota Badan
Pertimbangan KADIN Indonesia (2004-Sekarang). Ketua Dewan Bisnis
Sulawesi (2003-sekarang). Anggota Dewan Wali Amanat Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta (2001-sekarang).
Ketua Dewan Pembinaan Daerah dan Pemasyarakatan Bulutangkis Seluruh
Indonesia (PBSI), 2001. Ketua Yayasan Universitas Islam Indonesia
Makassar, Ketua Dewan Penyantun Politeknik Negeri Makassar, dan Ketua
Dewan Penyantun Politani Negeri Pangkep (2000-sekarang).
Tahun 1999 sampai saat ini menjabat Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan.
Tahun 1994 sampai saat ini menjabat Ketua Dewan Penasehat GAPENSI Pusat.
Tahun 1987-1994 Ketua GAPENSI Sulawesi Selatan. Tahun 1983-1986 Ketua
Bidang Pembinaan Anggota Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI. Tahun
1980-1983 Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Badan Pengurus Pusat (BPP)
HIPMI. Tahun 1976-1985 Sekretaris Umum AKI (Asosiasi Kontraktor
Indonesia) Sul-Sel. Tahun 1982-1985 Ketua Umum Badan Pengurus Daerah
(BPD) HIPMI Sul-Sel. Juga pernah aktif sebagai Wakil Ketua Umum Bidang
Dana Persatuan Anggar Seluruh Indonesia.
Sewaktu mahasiswa aktif sebagai Aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia), 1966. Tahun 1965 Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Cabang Makassar dan tahun 1962 Alumni Pelajar Islam Indonesia.
Karirnya, selain sebagai pendiri dan pemimpin Group Bosowa (1968-2004),
Aksa menjabat Wakil Ketua MPR RI (2004-2009), Anggota DPD dari Provinsi
Sulawesi Selatan (2004-2009), Penasehat Gubernur Provinsi Sulawesi
Selatan Bidang Perekonomian Daerah (2002 –sekarang) dan Anggota MPR RI
Fraksi Utusan Daerah (1999 – 2004).
Sebagai wakil Ketua MPR, Aksa kini berkantor di Gedung Nusantara III Lt.
9, Jl Jend Gatot Subroto No.6, Senayan, Jakarta Pusat, Telp. 021 -
57895006, 57895026, dan tinggal di rumah dinas di Jl Denpasar Raya Blok
C No 12 Kuningan, Jakarta.
Dalam usia hampir mencapai 62 tahun (lahir 16 Juli 1945), penampilan
Aksa tampak jauh lebih muda dari usianya. Penggemar olahraga golf,
renang dan diving ini memelihara kesehatan dengan menjaga kontinuitas
main golf. Kemudian kalau pulang ke tempat kelahirannya di Barru,
Sulawesi Selatan, dia pergi berenang dan menyelam ke laut. Saat menyelam
di laut, dia sangat menikmati bagaimana indahnya dalam air.
“Di sana juga banyak keindahan-keindahan dalam air. Kalau sebagai
pengusaha, menyelam itu semua utang kita lupakan. Kalau sebagai politisi,
semua persoalan kita lupakan. Menyelam itu adalah suatu dunia kenikmatan,
keindahan, bebas dari segala-galanya,” kata Aksa Mahmud. Menurutnya,
pada dasarnya untuk menjaga kesehatan harus ada waktu yang harus
dibebaskan dari segala beban.
Filantropi
Melengkapi sarana pengabdian-nya, selain aktif sebagai Anggota Dewan
Wali Amanat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Ketua Yayasan Universitas
Islam Indonesia Makassar, Ketua Dewan Penyantun Politeknik Negeri
Makassar, dan Ketua Dewan Penyantun Politani Negeri Pangkep, Aksa juga
mendirikan beberapa yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan
masalah sosial. Antara lain, Yayasan Bosowa dan Yayasan Haji Mahmud.
Yayasan Bosowa, antara lain langsung turun ikut membantu jika terjadi
bencana. Juga dalam pendidikan, tiap tahun memberi kesempatan beasiswa
pada anak-anak yang berpotensi tapi orang tuanya tidak mampu.
Yayasan Haji Mahmud, mengabadikan nama ayahnya, difokuskan dalam
pendidikan taman kanak-kanak. Yayasan ini diharapkan ikut dalam
pembentukan karakter dan landasan masa depan bangsa dengan membangun
pusat-pusat pendidikan anak-anak terutama bagaimana anak-anak ini bisa
belajar agama yang baik.
Yayasan Bosowa juga membangun TPA. TPA itu adalah taman tempat belajar
mengaji. Sudah dibangun 150 TPA. Tujuannnya untuk membantu mendorong
sekolah-sekolah swasta untuk bisa memperbaiki kualitasnya supaya ke
depan bisa menjadi sekolah yang memiliki kualitas yang sama dengan
sekolah negeri. ► mti/ch robin simanullang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|