| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama:
Akbar Tandjung
Lahir:
Sibolga, 14 Agustus 1945
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua DPR-RI 1999-2004
Pendidikan:
SR Muhammadiyah,Sorkam, Tapanuli Tengah
SR Nasrani, Medan Tamat
SMP Perguruan Cikini, Jakarta, Tamat
SMA Kanisius, Jakarta Tamat
Perguruan Tinggi Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tamat
Istri:
Dra. Krisnina Maharani, MSi (Lahir Solo, 5 April1960)
Anak :
1. Fitri Krisnawati, 21 tahun, Mahasiswi Oregon State University,
Corvallis, Oregon, USA.
2. Karmia Krissanty, 16 tahun, Siswi High School, Corvallis, Oregon, USA.
3. Triana Krisandini, 13 tahun, Siswi SMP di Jakarta
4. Sekar Krisnauli, Siswi SD di Jakarta.
Alamat Rumah:
JI. Widya Chandra 111/No.10 Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 ==
Akbar Tandjung
Berpeluang Menang Konvensi
Langkah politisi ulung dan licin ini semakin mantap dalam persaingan
kandidat pesiden dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar, setelah
Mahkamah Agung menerima permohonan kasasinya. Ia bebas dari jerat hukum
dengan tuduhan korupsi Rp. 40 milyar. Sehingga peta persaingan dalam
Konvensi Capres Golkar bergerak memberi peluang besar baginya memenangkan
konvensi tersebut. Ia memang seorang politisi yang paling berpengalaman di
antara para kandidat presiden konvensi Partai Golkar.
Maka ketika pria kelahiran Sibolga, 14 Agustus 1945, ini berkata bisa saja
kemungkinan Capres Partai Golkar berkoalisi menjadi Cawapres Megawati,
jika perolehan suara Pemilu legislatif Partai Golkar tidak di posisi satu,
langsung dikritik tajam para pesaingnya, terutama Surya Paloh dan Wiranto.
Tetapi politisi ulung yang menapaki jenjang karir politik dari bawah ini,
tetap bersikap tenang. Bahkan ketika kampanye Surya Paloh menyuarakan tema
KKN dalam tubuh Partai Golkar, ia meminta agar Surya jentlemen, menunjuk
siapa yang dimaksud.
Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI dalam bersaing memperebutkan
posisi RI-1 mengusung slogan andalan: "Mari Maju Bersama, Membangun
Indonesia Sejahtera."
Suami dari Krisnina Maharani ini menikmati masa kecil dan menamatkan
Sekolah Rakyat (SR) di Medan, lalu pindah ke Jakarta. Di kota ini ia
menamatkan pendidikan SMP Perguruan Cikini dan SMA Kanisius.
Pergumulannya dalam dunia politik dimulai ketika masih kuliah di Fakultas
Teknik Universitas Indonesia. Tahun 1966 ia aktif dalam gerakan mahasiswa
pada saat pengganyangan G-30-S/PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) dan Laskar Ampera Arief Rahman
Hakim. Aktivitasnya itu merupakan modal kuat untuk ikut dalam bursa
pemilihan ketua senat mahasiswa.
Tahun 1967-1968 terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik
Universitas Indonesia. Tahun 1968 aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas
Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia.
Selain itu, ia juga terpilih menjadi Ketua Mapram Universitas Indonesia.
Aktivitasnya tidak hanya dilakukan di dalam kampus. Pada tahun 1969-1970
terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta dan tahun 1972-1974 Ketua
Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus bukan hanya HMI.
Untuk menjalin kerja sama dengan organisasi lainnya, pada tahun 1972 ia
ikut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI,
PMKRI, PMII, GMNI, HMI) yang kemudian dikenal dengan nama Kelompok
Cipayung.
Tahun 1973 ia pun ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Kemudian tahun 1978-1981 menduduki posisi Ketua Umum DPP KNPI. Sebagai
Ketua Umum KNPI, ia juga turut mendirikan Angkatan Muda Pembaruan
Indonesia (AMPI) tahun 1978 dan hingga tahun 1980 duduk sebagai Ketua DPP
Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).
Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkahnya
semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Tak heran jika tahun
1983-1988 ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal
DPP Golkar.
Kemampuan organisasi dan manajerial semasa aktif di organisasi
kemahasiswaan, kepemudaan, maupun di partai politik itu mengantarkannya
berada di pusat kekuasaan. Tahun1988-1993 untuk pertama kalinya ia menjadi
menteri dengan jabatan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, pada Kabinet
Pembangunan V. Selanjutnya 1993-1998 dipercaya menjadi Menteri Negara
Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Pada Kabinet Pembangunan VII
yang tidak berumur panjang, Akbar mendapat kepercayaan menjadi Menteri
Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman. Selepas pergantian presiden dari HM
Soeharto ke BJ Habibie, ia diangkat menjadi Menteri Sekretaris Negara,
Kabinet Reformasi Pembangunan periode 1998-1999.
Kemudian ia melepas jabatan Mensesneg setelah terpilih menjadi Ketua Umum
DPP Partai Golkar. Di bawah pimpinannya, Golkar segera melakukan perubahan
internal. Golkar menjadi partai politik yang menggaungkan paradigma baru.
Setelah Pemilu dipercepat menjadi tahun 1999, Akbar terpilih sebagai Ketua
Dewan Perwakilan Rakyat RI sampai sekarang.
Ia pun telah menerima Penghargaan Bintang Mahaputra Adi Pradana tahun 1992
dan Bintang Republik Indonesia tahun 1998 dari Presiden RI. Yang menarik,
ia juga memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari
Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1996. ► e-ti/Majalah Tokoh
Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|