| |
C © updated
08102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Akbar Tandjung
Lahir:
Sibolga, 14 Agustus 1945
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua DPR-RI 1999-2004
Pendidikan:
SR Muhammadiyah,Sorkam, Tapanuli Tengah
SR Nasrani, Medan Tamat
SMP Perguruan Cikini, Jakarta, Tamat
SMA Kanisius, Jakarta Tamat
Perguruan Tinggi Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tamat
Istri:
Dra. Krisnina Maharani, MSi (Lahir Solo, 5 April1960)
Anak :
1. Fitri Krisnawati, 21 tahun, Mahasiswi Oregon State University,
Corvallis, Oregon, USA.
2. Karmia Krissanty, 16 tahun, Siswi High School, Corvallis, Oregon, USA.
3. Triana Krisandini, 13 tahun, Siswi SMP di Jakarta
4. Sekar Krisnauli, Siswi SD di Jakarta.
Organisasi
= 1966 Aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S
PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-
UI) dan LASKAR AMPERA Arief Rahman Hakim.
= 1967 -1968 Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
= 1968 Aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis
Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia. Ketua Mapram Universitas
Indonesia.
= 1969-1970 Ketua Umum HMI Cabang Jakarta .
= 1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI
= 1972 Ikut Mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra
Universiter (GMNI, PMKRI, PMII, GMNI, HMI) dengan nama Kelompok Cipayung.
= 1973 Ikut Mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
= 1978-1981 Ketua Umum DPP KNPI.
= 1978 Ikut Mendirikan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).
= 1978-1980 Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).
= 1983-1988 Wakil Sekretaris Jenderal DPP GOLKAR.
= 1998-Sekarang Ketua Umum DPP Partai GOLKAR.
Pengalaman di DPR/MPR RI
1977 -1988 : Anggota FKP DPR RI Mewakili Propinsi Jawa Timur.
1982-1983 : Wakil Sekretaris FKP DPR RI.
1987-1992 : Sekretaris FKP-MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI.
1992-1997 : Sekretaris FKP MPR RI, Anggota Badan Pekerja MPR RI.
1997-1998 : Wakil Ketua FKP MPR RI.
1997 -1999 : Wakil Ketua Fraksi FKP MPR RI, Wakil Ketua PAH II Badan
Pekerja MPR RI.
1999-Sekarang : Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI.
Organisasi Parlemen Dunia
2002 -2003 : President of AIPO (Asean Inter Parliamentary
Organization)
2003 -2004 : President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members)
Dewan Pembina Golongan Karya
1998-1993 : Anggota Dewan Pembina.
1993-1998 : Sekretaris Dewan Pembina.
Pengalaman di Pemerintahan
1988-1993 Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, Kabinet Pembangunan
V.
1993-1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI.
1998 Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman.
Kabinet Pembangunan VII.
1998-1999 Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan.
Pengalaman Internasional
1972 Mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement
of State USA, selama tiga bulan.
1974 Mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth)
di Nakhadka, Rusia.
1988 Memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga
se Dunia di Moskow.
1990 Memimpin Delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo),
di Kuala Lumpur.
1995 Mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris,
Perancis. -.
1996 Mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika. ! "
1998 Mengikuti KTTASEAN di Hanoi
1999 Memimpin Delegasi untuk Mengikuti Sidang International Parliament
Union (IPU) di Yordania, Oktober.
2000 Memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU) di
Jakarta. . Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Singapura. ..
2001 Memimpin Delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di
NewYork. Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Thailand.
2002 Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.
Penghargaan
1992 Memperoleh Penghargaan Bintang MahaputraAdi Pradana dari
Pemerintah Republik Indonesia.
1996 Memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari
Pemerintah Kerajaan Belanda.
1998 Memperoleh Bintang Republik Indonesia dari Pemerintah Republik
Indonesia. ..
Alamat Rumah:
JI. Widya Chandra 111/No.10 Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
1
2 ==
Akbar Tandjung
Hidupnya adalah Dunia Politik
Mantan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI menapaki jenjang karir
politik dari bawah. Hidupnya adalah dunia politik.
Pria kelahiran Sibolga, 14 Agustus 1945, ini kalah di
kandang sendiri dalam konvensi capres Partai Golkar. Kemudian dalam Munas
Partai Golkar di Bali harus rela melepas jabatan Ketua Umum dan
menyerahkannya kepada Jusuf Kalla.
Akbar, politisi ulung dan licin yang bebas dari ancaman jerat hukum setelah Mahkamah Agung menerima permohonan kasasinya, diungguli Wiranto dalam Konvensi Nasional Calon Presiden
Partai Golkar, Selasa 20 April 2004,
melalui dua putaran pemungutan suara.
Pada putaran pertama Akbar Tandjung masih mengungguli Wiranto dengan
perolehan suara 147-137. Disusul Aburizal Bakrie 118, Surya Paloh 77 dan
Prabowo Subianto 39 suara, dengan 28 suara tidak sah dan 1 suara abstein.
Namun pada putaran kedua limpahan suara dari kandidat lain lebih banyak
beralih ke Wiranto. Di putaran kedua, ia meraih 227 sedangkan Wiranto
315 suara, dengan abstain 1 dan tidak sah 4 suara.
Setelah melalui masa kecil dan menamatkan Sekolah Rakyat (SR) di Medan, ia
pun pindah ke Jakarta. Di kota ini ia menamatkan pendidikan SMP Perguruan
Cikini dan SMA Kanisius. Selanjutnya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik
Universitas Indonesia.
Pergumulannya dengan dunia politik dimulai ketika masih kuliah. Tahun 1966
ia aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30 S /PKI
melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI)
dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Aktivitasnya itu merupakan modal
kuat untuk ikut dalam bursa pemilihan ketua senat mahasiswa.
Tahun 1967-1968 terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa
Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Tahun 1998 1968 aktif dalam Dewan
Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa
Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga terpilih menjadi Ketua Mapram
Universitas Indonesia.
Aktivitasnya tidak hanya dilakukan di dalam kampus. Ia pun terdaftar
sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 1969-1970
berhasil terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta dan tahun
1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Organisasi mahasiswa ekstrakampus
bukan hanya HMI. Untuk menjalin kerja sama dengan organisasi lainnya, pada
tahun 1972 ia ikut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra
Universiter (GMNI, PMKRI, PMII, GMNI, HMI) yang kemudian dikenal dengan
nama Kelompok Cipayung.
Kehidupan berorganisasi Akbar Tandjung tidak berhenti sampai di situ.
Tahun 1973 ia pun ikut mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Baru pada tahun 1978-1981 menduduki posisi Ketua Umum DPP KNPI. Sebagai
Ketua Umum KNPI, ia juga turut mendirikan Angkatan Muda Pembaruan
Indonesia (AMPI) tahun 1978 dan hingga tahun 1980 duduk sebagai Ketua DPP
Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI).
Kiprahnya yang cemerlang di organisasi kepemudaan membuat langkahnya
semakin lempang dalam menapaki jalur politik. Tak heran jika tahun
1983-1988 ia diberi kepercayaan menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal
DPP Golkar. Seiring perubahan angin politik, Golkar yang begitu dominan
pada masa Orde Baru terkena tuntutan perubahan. Golkar yang semula alergi
disebut partai akhirnya mendeklarasikan diri sebagai partai menjadi Partai
Golkar. Pada tahun 1998 sampai sekarang ia kukuh sebagai Ketua Umum DPP
Partai Golkar.
Anggota DPR
Berbeda dengan kebanyakan politikus di Indonesia, Akbar tidak perlu
menjadi anggota legislatif dari DPRD II kemudian naik ke DPRD I, setelah
itu baru menjadi anggota DPR RI. Track record-nya sebagai aktivis kampus
dan Ketua HMI menjadi modal besar baginya untuk langsung menjadi anggota
DPR RI dari fraksi Golkar. Sejak tahun 1977 sampai 1988 ia menjadi anggota
FKP DPR RI mewakili Propinsi Jawa Timur. Di lembaga perwakilan ini ia
sempat mengecap posisi Wakil Sekretaris FKP DPR RI periode 1982-1983.
Tahun 1987-1992 ia dipercaya menduduki Sekretaris FKP-MPR RI sekaligus
sebagai anggota Badan Pekerja MPR RI. Setelah Pemilu tahun 1992, kembali
ia menjadi anggota DPR/MPR. Untuk periode 1992-1997, ia kembali menduduki
jabatan Sekretaris FKP MPR RI.dan sekaligus Anggota Badan Pekerja MPR RI.
Tahun 1997-1998 ia terpilih menjadi Wakil Ketua FKP MPR RI. Tahun
1997-1999 sebagai Wakil Ketua Fraksi FKP MPR RI dan Wakil Ketua PAH II
Badan Pekerja MPR RI.
Setelah mengalami gejolak politik tahun 1998, Golkar segera melakukan
perubahan internal. Golkar menjadi partai politik yang menggaungkan
paradigma baru. Akbar Tanjung pun terpilih sebagai ketua umum. Setelah
Pemilu dipercepat menjadi tahun 1999, Akbar terpilih sebagai Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat RI sampai sekarang..
Dalam situasi global yang memungkinkan semakin terbukanya arus komunikasi
dan semakin pentingnya kerja sama, maka DPR pun menjalin kerja sama dengan
parlemen-parlemen negara sahabat. Sebagai Ketua DPR, Akbar pun dipercaya
menjadi President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization) periode
2002-2003 dan President of PUOICM (Parliamentary Union of OIC Members)
periode 2003-2004.
Pembantu Presiden
Kemampuan organisasi dan manajerial semasa aktif di organisasi
kemahasiswaan, kepemudaan, maupun di partai politik menarik perhatian
Presiden untuk mengangkatnya sebagai menteri. Tercatat beberapa kali Akbar
Tandjung memasuki lingkaran dalam pengambil keputusan.
Tahun1988-1993 untuk pertama kalinya ia menjadi menteri dengan jabatan
Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, pada Kabinet Pembangunan V.
Selanjutnya periode 1993-1998 Suami dari Krisnina Maharani ini dipercaya
menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Pada
Kabinet Pembangunan VII yang tidak berumur panjang, Akbar mendapat
kepercayaan menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman. Selepas
pergantian presiden dari HM Soeharto ke BJ Habibie, ia diangkat menjadi
Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan periode
1998-1999.
Pengalaman Internasional
Kesibukan berorganisasi bukanlah halangan untuk menimba ilmu dan
memperkuat jaringan internasional. Jika ada kesempatan, mengapa hal itu
harus disia-siakan? Maka, pada tahun 1972 ia Mengikuti Asia and Pacific
Students Leaders Program-Departement of State USA, selama tiga bulan.
Disusul kemudian tahun 1974 mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia
(World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia. Tahun 1988 Memimpin Delegasi
Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se Dunia di Moskow.
Pada tahun 1990 memimpin delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia
Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur. Tahun 1995 mengikuti Seminar
Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. Selanjutnya
tahun 1996 mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika.
Tahun 1998 mengikuti KTT ASEAN di Hanoi. Satu tahun kemudian yaitu pada
Oktober 1999 memimpin delegasi untuk mengikuti Sidang International
Parliament Union (IPU) di Yordania.
Tahun 2000 Memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU)
di Jakarta. Pada tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di
Singapura.
Tahun 2001 memimpin delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia,
di NewYork. Masih di tahun yang sama memimpin delegasi pada Sidang AIPO di
Thailand. Dan, tahun 2002 memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.
Penghargaan
Sumbangan dan dharma bakti Akbar Tandjung terhadap bangsa dan negara tidak
sia-sia. Pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan Penghargaan Bintang
MahaputraAdi Pradana tahun 1992 dan Bintang Republik Indonesia tahun 1998.
Yang menarik adalah, kiprah Akbar Tanjung pun mendapat perhatian dari luar
negeri. Ia memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari
Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1996.
Menuju RI-1
Kini Akbar Tandjung telah masuk dalam kompetisi bersama waraga negara
terbaik negeri ini untuk menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sebagai calon pemimpin dari 220 juta jiwa penduduk, perlu visi yang kuat
agar dapat memajukan bangsa ini dari keterpurukan, terutama agar keluar
dari krisis sejak 1997.
Sebagai kandidat presiden, Akbar memiliki pemandangan bahwa saat ini
Indonesia masih berada pada masa transisi. Namun menurutnya, mtransisi
tidak boleh dibiarkan berjalan terlalu lama. Pemilihan umum 2004 merupakan
batas konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 untuk menciptakan
kepemimpinan nasional yang baru, yang mampu mengatakan bahwa situasi yang
tidak menentu ini harus segera diakhiri. Kewenangan yang ada pada pemilu
2004 diharapkan dapat melahirkan pimpinan nasional yang terampil, yang
memiliki agenda yang jelas dan terukur untuk membawa Indonesia kepada
situasi yang lebih baik.
Untuk dapat keluar dari krisis, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang
mempunyai catatan pengalaman panjang; seorang pemimpin dengan gagasan dan
pandangan yang jelas; yang memiliki keterampilan politis dan birokratis
yang memadai; yang mampu melakukan koordinasi dan mengkomunikasikan
kebijakan-kebijakannya tidak saja kepada elite nasional yang ada, tetapi
juga kepada masyarakat banyak.
Akhirnya, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang dapat
menciptakan kesepakatan-kesepakatan yang dinegosiasikan. Kemampuan untuk
membangun konsensus di antara kekuatan-kekuatan sosial-ekonomi dan politik
yang ada merupakan modal tambahan yang amat diperlukan untuk membawa
Indonesia ke arah situasi yang lebih baik.
Akbar melihat terdapat beberapa persoalan mendesak yang perlu segera
diselesaikan oleh pemerintahan yang akan terbentuk nantinya. Di antara
persoalan itu adalah (1) pemulihan ekonomi, yang menurutnya saat ini
prosesnya cenderung tidak terstruktur dan tidak sistematis karena
dilaksanakan tanpa prioritas yang layak dan dapat dipercaya;
(2) kesejahteraan dan kualitas manusia, yang secara kuantitas
laju pemulihan ekonomi sepanjang lima tahun terakhir ini belum mampu
menciptakan lapangan kerja dan penghidupan yang layak bagi banyak warga
negara;
(3) kedaulatan ekonomi dan kemandirian bangsa yang menurun
drastis sejak krisis terjadi; (4) lingkungan hidup dan pertanahan.
Menurutnya, persoalan mendesak di bidang lingkungan hidup dan pertanahan
adalah menurunnya kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup serta
buruknya penegakan hukum dan property rightsdi bidang pertanahan;
(5) keamanan dan rasa aman, di mana terjadi kemerosotan sangat
besar pada sektor ini; (6) penegakan hukum dan HAM. Masalah ini
kemungkinan terjadi karena perangkat hukum yang ada tidak mampu
menanggulangi pelanggaran hukum atau pelaku dan institusi yang ada saat
ini tidak mampu menjalankan langkah penegakan hukum;
(7) demokrasi, kemandirian daerah, dan integrasi bangsa.
Selama lima tahun terakhir perjalanan demokrasi mengalami perkembangan
yang menggembirakan, namun sayangnya sering pula muncul kekerasan, konflik
sosial, teror, dan persaingan antarelite. Aspirasi dari bawah sering
diabaikan atau dijadikan komoditi untuk hal-hal uang tidak produktif atau
disintegrasi;
(8) keharmonisan dan kerukunan sosial. Sama seperti masalah
lainnya, keharmonisan dan kerukunan sosial pun mengalami kemerosotan; (9)
perempuan dan kesetaraan jender. Perempuan Indonesia masih memiliki banyak
masalah seperti rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, tingginya angka
kematian ibu dan bayi, juga kekerasan terhadap perempuan, baik di
lingkungan rumah tangga maupun di luar rumah tangga.
Strategi Membangun Indonesia Sejahtera
Peliknya masalah yang dihadapi membuat berbagai masalah itu tidak dapat
diselesaikan sekaligus. Untuk itu diperlukan ketajaman untuk memilih
hal-hal mana saja yang mendesak diselesaikan. Akbar Tandjung menyebut
formula bagi strateginya itu adalah Tri Sukses Pembangunan yang terdiri
dari Sukses Pembangunan Ekonomi, Sukses Pembangunan Hukum, dan Sukses
Pembangunan Sosial-Kemasyarakatan.
Untuk menyukseskan program itu Akbar secara terbuka mengatakan membutuhkan
dukungan dari banyak pihak. Selain itu, dari figur pemimpin sendiri
diperlukan kepemimpinan nasional yang terampil, mempunyai pandangan dan
agenda kerja yang jelas, yang bersedia menghimpun seluruh kekuatan yang
ada, baik pada tingkat masyarakat maupun negara, dan yang paham tantang
kondisi objektif yang dihadapi bangsa dan negara.
Hanya orang yang mempunyai visi yang kuat, pengalaman yang
teruji, dan yang dapat memenangkan hati rakyatlah yang mampu membawa
Indonesia ke arah yang lebih baik, yakni Indonesia sejahtera. Kepemimpinan
nasional yang demikian itu akan lahir dari suatu proses seleksi
kepemimpinan yang objektif dan rasional, yakni melalui pemilihan umum yang
demokratis, jujur dan adil.
Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman di bidang pemerintahan,
legislatif, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, serta kini Ketua
Umum DPP Partai Golkar, Akbar mengaku merasa terpanggil untuk menjalankan
amanat yang mulia itu. Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan dan doa
restu dari segenap Keluarga Besar Partai Golkar untuk ikut berkompetisi
dalam Konvensi Partai Golkar, dengan harapan dapat terpilih sebagai Calon
Presiden RI dari Partai Golkar.
Tak lupa, Akbar meneriakkan slogan andalannya “Mari ‘Maju Bersama,
Membangun Indonesia Sejahtera’.”
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|