| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI =
01
02
03
04
05
06
= Hj Aisyah Aminy, SH (04)
Nyaris Tertangkap Belanda
Pemerintah memberinya gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik
Indone-sia. Ia punya banyak kenangan ketika ikut berjuang dalam kancah
pertempur-an saat Agresi Militer Belanda II.
Aisyah masih duduk di bangku terakhir di KMI Diniyah Puteri (setingkat
SMU), saat agresi militer Belanda kedua terjadi tahun 1948, yang disebut
juga Perang Kemerdekaan. Sekolahnya di KMI pun tidak sempat selesai,
karena ia ikut terjun membantu perjuangan.
Di masa itu, Aisyah dipercaya menjadi anggota Palang Merah Indonesia
(PMI) dan ketua Badan Penolong Kecelakaan Korban Perang (BPKKP) yang
tugasnya selain membantu masyarakat yang menjadi korban perang, juga
membantu tentara menyediakan nasi bungkus.
Bukan perkara mudah menyiapkan ransum makanan kala itu. Orang-orang yang
mengelola dapur umum harus sangat hati-hati. Tidak boleh ada makanan
tercecer, tersisa dan bungkus nasi yang tertinggal.
Jika Belanda mengadakan patroli dan di sebuah rumah mereka menemukan ada
tanda-tanda bekas dapur umum, seperti ceceran makanan atau daun-daun
pisang bekas membungkus, maka tanpa banyak cingcong mereka akan membakar
rumah-rumah penduduk desa yang membantu para pejuang dan menembaki
mereka membabi buta.
Sewaktu aktif di PMI dan BPKKP, Aisyah muda seolah-olah ditempa menjadi
perempuan yang tegar dan berani. Ia banyak menyaksikan pembunuhan keji
yang dilakukan Belanda kepada penduduk desa, juga kontak senjata antara
pasukan penjajah dengan para pejuang.
Di masa itu, obat-obatan dan peralatan medis yang tersedia pun sangat
minim dan seadanya. Aisyah pernah menolong seorang korban kontak senjata
yang lehernya tertembak namun masih hidup. Keadaannya sangat memilukan,
namun apa daya peralatan medis yang ada tidak bisa mengatasi
luka-lukanya yang parah itu. Aisyah merasa sangat sedih. Korban itu
akhirnya meninggal dunia dengan luka-lukanya yang parah dan menimbulkan
rasa sakit yang luar biasa itu.
Kepedulian Aisyah terhadap perjuangan kala itu mendorongnya untuk ikut
membantu para gerilyawan dengan menjadi wartawan perang. Ia tergabung
dalam Wartawan Perang Sumatera Tengah sekaligus anggota Tentara Pelajar
Sumatera Tengah.
Tugas para wartawan perang kala itu adalah menginformasikan posisi
Belanda dan perkembangan situasi garis depan kepada masyarakat dan
pejuang. Ini bukan tugas enteng. Taruhannya adalah nyawa. Karena itu,
dalam setiap aksinya, Aisyah selalu berhati-hati dan waspada. Dengan
informasi yang diberikan para wartawan perang ini, masyarakat selalu
tahu perkembangan situasi suatu daerah yang dimasuki Belanda dan
keberadaan pemerintah Republik Indonesia.
Nyaris tertangkap
Tugas ini bukan main-main, amat berbahaya, apalagi buat seorang gadis
muda seperti Aisyah. Pamannya sempat mengingatkannya untuk mengungsi ke
desa yang lebih aman. Tetapi Aisyah memilih tinggal di rumahnya, karena
ia lebih mudah mengetahui perkembangan situasi dan memperoleh informasi
berharga bagi para pejuang.
Kekhawatiran pamannya terbukti. Pada suatu hari, Belanda datang
mengobrak-abrik kampungnya. Penduduk berlarian menyelamatkan diri dan
berusaha bersembunyi. Situasi saat itu sangat mencekam. Para pemuda
banyak yang bersembunyi di antara rumpun semak ilalang di pinggir
sungai. Namun, pesawat Capung Belanda yang terbang mengitari desa bisa
melihat mereka. Pesawat itu memuntahkan ribuan peluru ke arah
persembunyian mereka. Tercatat 35 orang pemuda gugur dan mereka
dikuburkan secara massal di halaman sebuah masjid.
Tentara Belanda pun memasuki kampung dan mendobrak rumah-rumah penduduk.
Rumah keluarga Aisyah tak luput dari penggeledahan Belanda. Untunglah
keluarganya sudah keburu mengungsi, namun Aisyah yang bersikeras
bertahan tak sempat lari keluar rumah ketika Belanda mendobrak masuk ke
rumahnya.
Aisyah gemetaran mencari akal. Akhirnya, ia bersembunyi di balik pintu
sebuah kamar. Belanda mendobrak pula kamar tempatnya bersembunyi. Aisyah
sangat ketakutan. Ia tak putus-putus membaca doa sambil memperhatikan
dari balik pintu bagaimana seorang serdadu Belanda masuk dengan senter
di tangannya dan memandangi foto datuk (kakeknya).
Untungnya, serdadu itu tidak memeriksa dengan seksama sampai ke balik
pintu. Ia hanya mengambil lampu stromking di kamar itu dan langsung
pergi. Tuhan YME masih memberi keselamatan bagi Aisyah. Padahal,
sepupunya yang sedang sakit di rumah sebelah malah diangkut Belanda.
Di masa clash kedua ini, gerilyawan kita sangat sulit dilumpuhkan.
Ketika pasukan Belanda melintasi perbukitan, mereka diserang para
pejuang dari atas bukit sehingga mereka kocar-kacir. Namun akibatnya,
Belanda sering balas menyerang dengan membabi buta ke desa-desa
sekitarnya, bahkan sampai membakar rumah-rumah penduduk.
Namun karena Belanda tidak setiap hari melakukan penyerangan, para
pelajar yang berasal dari berbagai sekolah dan perguruan berinisiatif
mengundang guru untuk memberi kursus. Untuk mengawasi gerak-gerik
Belanda, ada sukarelawan yang bertugas mengintai di atas bukit. Jika
Belanda datang, para pengintai akan memberikan peringatan dengan meniup
puput kerbau, yakni sebuah terompet yang terbuat dari tanduk kerbau.
Mereka meniupnya dengan keras, sehingga penduduk kampung segera
bersembunyi ke bukit-bukit.
Pengalaman selama tahun 1949 itu begitu mendalam di hati Aisyah. Tidak
heran jika akhirnya Aisyah tumbuh dewasa dengan prinsip dan keyakinan
untuk terus mempertahankan kemerdekaan dan berjuang penuh pengorbanan
demi kebenaran. ►e-ti/rh-ht ==> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|