| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI =
01
02
03
04
05
06
= Hj Aisyah Aminy, SH (03)
Perempuan di Ranah Publik
Dedikasi Aisyah Aminy tidak terbatas hanya di parlemen. Pada usia 70-an
pun ia masih memperjuangkan persamaan gender yang dirasakannya berjalan
lambat.
Sejak muda, Aisyah sudah dikenal sebagai perempuan yang ingin
diperlakukan sejajar dengan kaum laki-laki. Kalau ada teman laki-laki
yang meremehkan kemampuannya, serta merta ia akan menunjukkan bahwa
pendapat itu salah. Hal itu dilakukannya dengan elegan dan terbukti
bahwa ia memang mampu.
Karena caranya membuktikan diri yang elegan itu maka tak pernah ada
konfrontasi dengan teman-teman laki-lakinya. Mereka menerima
keberadaannya dalam organisasi karena ia memang patut diperhitungkan
sebagai teman seperjuangan.
Persamaan gender yang diperjuangkannya tidak hanya diucapkan belaka,
melainkan ditunjukkannya dengan perbuatan, dengan segala kelebihan dan
kekurangannya. Namun Aisyah tetap tampil sebagai sosok perempuan feminin
dengan caranya bersikap dan berbusana. Sejak dulu, ia identik dengan
pakaian panjang dan kerudung, serta seuntai kalung di lehernya.
Demikian kenangan itu dituturkan salah seorang teman seperjuangannya di
HMI tahun 1956/1957 yang juga penulis terkenal, Titie Said. Kesan itu
ditorehkan Titie dalam buku biografi Aisyah berjudul Dedikasi Tanpa
Batas.
Dalam buku itu pula, teman seperjuangan Aisyah di Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM), Prof. Miriam Budiardjo, menjulukinya
‘Parlementarian Perempuan yang Unggul.’
Mengenai buku biografi itu sendiri, Aisyah menuturkan, bahwa tadinya ia
tidak pernah berpikir untuk membuat sebuah biografi. Namun atas desakan
teman-temannya, terutama para yuniornya di PPP, maka akhirnya terbitlah
buku itu. Mereka ingin Aisyah berbagi pengalaman, sehingga bisa memetik
teladan dari kiprahnya di panggung politik nasional.
Selain buku yang diluncurkan tepat di hari ulangtahunnya yang ke-70,
bulan Agustus 2004 di akhir masa jabatannya di DPR-MPR RI, Aisyah
menerbitkan sebuah buku lagi yakni Pasang Surut Peran DPR-MPR 1945-2004.
Buku itu merupakan refleksi pengalamannya selama empat periode di
parlemen.
Perjuangan Aisyah Aminy agar kaumnya ikut berperan aktif di ranah publik
semakin menonjol saat ia masuk parlemen. Bersama anggota-anggota
parlemen perempuan lainnya, digagas Kaukus Perempuan Parlemen, yang
diresmikan 19 Juli 2001. Salah satu yang direkomendasikan Kaukus
Perempuan itu adalah kuota 30 persen perempuan di parlemen.
Dasar Perjuangan
Darah Minang dalam tubuhnya tampaknya ikut mempengaruhi gejolak semangat
Aisyah untuk menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan. Budaya Minang
adalah budaya maternalistik yang menempatkan perempuan dalam kedudukan
terhormat dan diakui eksistensinya.
Keberadaannya sebagai seorang muslimah dan anggota sebuah partai Islam
bukannya membatasi sepak terjangnya, sebaliknya membuat ia semakin
mendobrak maju.
Sejak dulu orang selalu beranggapan Islam membatasi gerak perempuan.
Menurut Aisyah, Islam tidak pernah melarang perempuan menjadi pemimpin.
Pada masa Nabi Muhammad, kedudukan perempuan sangat dihormati dan
mempunyai peranan penting. Isteri Nabi, Aisyah, adalah perawi hadist di
zamannya. Ia juga memimpin pasukan di Perang Jamal.
Demikian juga dalam sejarah Indonesia. Di Aceh dulu pernah dipimpin
sultan-sultan perempuan (sultanah). Bahkan, banyak perempuan Aceh yang
ikut berjuang mengangkat senjata di masa perang melawan penjajah,
seperti halnya Cut Nya’ Dien.
Aisyah sangat ingin perempuan Indonesia mendapat kesempatan
seluas-luasnya untuk unjuk kemampuan di segala bidang, seperti dirinya.
Perempuan bukan hanya untuk ditempatkan di urusan domestik. Istilah Jawa
dahulu, bahwa perempuan itu hanyalah konco wingking (teman di
belakang/pengikut suami-Red) atau pepatah swargo nunut neroko katut
(surga ikut, neraka terangkut-Red) sudah bukan zamannya lagi.
Tahun 1957, Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) mencanangkan International
Women Year. Hal itu membuka kesempatan kaum perempuan Indonesia untuk
ikut berperan serta dalam pembangunan. Tahun 1977-1987, Aisyah yang kala
itu menjadi anggota MPR turut bersama-sama memelopori dimasukkannya
klausul tentang peningkatan peran perempuan di ranah publik dalam GBHN.
Sebelumnya, pemerintah tidak pernah memberi kesempatan pada perempuan
untuk duduk dalam kabinet. Aisyah yang ketika itu juga sekaligus
pengurus KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) melakukan berbagai lobi yang
ternyata tidak mudah.
Bersama teman-temannya di KOWANI, ia menghadap Presiden dan melobi agar
dalam kabinet ada menteri perempuan. Untungnya Presiden cukup tanggap
dan membentuk Kementerian Peranan Wanita.
Berangsur-angsur, istilah peran serta, mitra sejajar dan gender mulai
merambah peraturan-peraturan hukum yang ada. Kemudian, Aisyah menyadari
jumlah perempuan di DPR tidak pernah lebih dari 11 persen. Maka
dibentuklah Kaukus Perempuan Parlemen, yang salah satu rekomendasinya
mengenai kuota perempuan di parlemen menjadi wacana hangat. Pada
dasarnya, Kaukus Perempuan Parlemen memperjuangkan peran perempuan di
ranah publik.
Kaukus Perempuan memasukkan usulan agar perempuan diberikan kesempatan
yang lebih luas dalam berbagai rancangan undang-undang. Di antaranya UU
tentang Partai Politik, yang diingat Aisyah perlu lobi berminggu-minggu
sampai akhirnya disetujui bahwa dalam kepengurusan harian partai harus
ada perempuan dengan kuota 30 persen.
Namun, tiba-tiba terjadi perubahan. Masukan mereka yang tadinya
dituangkan dalam pasal tersendiri kemudian hanya dituangkan di bagian
penjelasan. Isinya pun berubah. Aisyah protes. Terjadilah perdebatan
alot. Pada akhirnya perubahan itu diterima, namun ditambahkan dalam
penjelasan itu penegasan bahwa peningkatan jumlah perempuan dalam partai
secara signifikan di semua level. Meski demikian, faktanya belum
berjalan.
Kaukus Perempuan Parlemen kembali memasukkan klausul kuota 30 persen itu
pada pembahasan RUU Pemilu. Banyak protes muncul dan mengatakan bahwa
itu tidak demokratis. Namun Aisyah berargumen, bahwa hal itu bukan
berarti jumlah perempuan harus ditambah sekaligus 30 persen. Pemerintah
pun bisa memberikan batas waktu untuk beberapa periode saja.
Nomor Sepatu
Aisyah menyayangkan, dalam proses penyusunan daftar caleg, perempuan
biasanya diberi nomor urut belakang atau nomor sepatu. Akhirnya yang
terpilih caleg laki-laki yang selalu di urutan atas. Perjuangannya untuk
pemilihan caleg perempuan ini belum berakhir. Kaukus Perempuan
sebenarnya tidak menuntut jumlah perempuan harus sama banyak dengan
laki-laki, melainkan hanya perlu keseimbangan yang wajar saja.
Dalam Pemilu, jumlah pemilih perempuan selalu lebih dari 50 persen. Tapi
tampaknya kesadaran perempuan untuk memilih caleg perempuan pun masih
kurang. Jadi, menurut Aisyah, kesadaran perempuan pun harus
ditingkatkan. Kepada teman-temannya yang masih di DPR, Aisyah berpesan
untuk tetap memperjuangkan itu.
Jika pemilihan untuk caleg DPR menggunakan suara terbanyak, bukannya
nomor urut, kemungkin-an besar caleg perempuan bisa memperoleh suara
lebih banyak lagi dibandingkan sebelumnya.
Terbukti dalam pemilihan caleg Dewan Perwakilan Daerah (DPD), jumlah
perempuan yang terpilih lebih banyak karena pemilihannya tidak
berdasarkan nomor urut dan tidak ada partai yang bermain di sana. Jadi
siapa pun yang dipilih, akan menduduki kursi DPD.
Hambatan perempuan untuk berperan di ranah publik adalah kebudayaan kita
yang mayoritas paternalistik. Selain itu penafsiran agama (Islam), di
mana peran kaum laki-laki kadang-kadang membatasi peran kaum perempuan.
Contohnya, ketika Megawati Soekarnoputeri dicalonkan sebagai presiden,
banyak yang memprotes karena ia seorang perempuan yang dianggap tidak
akan mampu memimpin negara. Kala itu, Aisyah Aminy termasuk orang yang
mendukung Mega jadi presiden, meskipun pendapat partainya bertentangan
dan tidak setuju.
Hampir sepanjang hidup, Aisyah konsisten dalam memperjuangkan kesetaraan
kaumnya di ranah publik. Hal itu bisa dilihat dari sederet aktivitas
yang pernah dige-lutinya, yang spesifik di antaranya adalah Kesatuan
Aksi Wanita Indo-nesia (KAWI), Komnas Kedudukan Wanita Indonesia,
Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Wanita Islam dan Women Movement
RISEAP (Regional Islamic Da’wah Council of South East Asia and the
Pasific). ►e-ti/rh-ht ==> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|