| |
C © updated 02032008-20052002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
BIODATA
Nama :
AHMAD SYAFI'I MA'ARIF
Lahir :
Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935
Agama :
Islam
Pendidikan :
:: SD, Sumpurkudus (1947)
:: SMP, Lintau/Yogya (1950)
:: SMA, Yogyakarta (1956)
:: FKIP Cokroaminoto, Surakarta (1964)
:: FKIS IKIP, Yogyakarta (1968)
:: Universitas Chicago, AS (Doktor, 1982)
Karya Tulis :
:: Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan
FKIS-IKIP Yogyakarta 1975
:: Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984)
:: Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984
:: Percik-Percik Pemikiran Iqbal (bersama M. Diponegoro), Shalahuddin
Press, 1984)
:: Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985
Karier :
:: Anggota Kelompok Pemikir Masalah Agama Departemen Agama
(1984-kini)
:: Guru Besar IKIP Yogyakarta
:: Dosen Pascasarjana IAIN Yogyakarta
Organisasi :
:: Anggota Muhammadiyah (1955-kini)
:: Anggota HMI (1957-1968)
:: Pengurus HMI Surakarta (1963-1964)
:: Pejabat Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah
:: Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999 -2004
Penghargaan:
- Magsaysay Award 2008
Alamat kantor :
Karangmalang, Yogyakarta Telp: 86168
Maarif Institut
Gedung Wisma Nusantara Lt 7
Jl MH Thamrin No.59, Jakarta Pusat 10350
Telp 021-3914004
Fax 021-3914003
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Ahmad Syafi'i Ma'arif
Bersahaja dan Kritis
Di bawah kepemimpinnya, Muhammadiyah menunjukkan kemitmen keislaman dan
kebangsaan yang kuat.
Ahmad Syafi'I Ma'arif, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, memang
dikenal sebagai seorang tokoh dan ilmuwan yang mempunyai komitmen
kebangsaan yang kuat. Sikapnya kritis, tegas, dan bersahaja. Ia tidak
segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu
adalah temannya sendiri.
Salah satu yang pernah kena kritik adalah Amien Rais, ketika sedang "berseteru"
dengan Gus Dur. Ia mengharapkan kepada Amien supaya dapat bersikap tepo
seliro. "Janganlah mengeluarkan kritikan kepada pihak lain, termasuk Gus
Dur, dengan kalimat-kalimat yang terlalu tajam," ujarnya, dikutip Kompas,
18 April.
Lahir di Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Sejak kecil ia hidup
dalam lingkungan keislaman yang kental. Lulus dari Ibtidaiyah Sumpurkudus,
ia melanjutkan ke Madrasah Muallim Lintau, Sumbar, kemudian pindah ke
Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan
menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia melanjutkan
pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga
memperoleh gelar sarjana muda. Kemudian ia melanjutkan ke IKIP Yogyakarta,
dan memperoleh gelar sarjana sejarah.
Selanjutnya, bekas alktivis HMI ini, terus meneruskan menekuni ilmu
sejarah dengan mengikuti program master di Departemen Sejarah Universtias
Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa
dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi
"Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as
Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia."
Selama di Chicago inilah, anak bungsu di antara empat bersaudara ini,
terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dibimbing
oleh seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula,
ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais
yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.
Kini, selain mengurus Muhammadiyah, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga
rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar.
Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan
di sejumlah media cetak. Selain itu, ia juga menuangkan pikirannya dalam
bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, berjudul "Dinamika
Islam" dan "Islam, Mengapa Tidak?", kedua-duanya diterbitkan oleh
Shalahuddin Press, 1984. Kemudian "Islam dan Masalah Kenegaraan", yang
diterbitkan oleh LP3ES, 1985.
Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari
olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola
dan menembak burung. ►ti/tsl (Tokoh Indonesia/dari berbagai sumber, terutama
Tempo interaktif)
****
ACHMAD SYAFII MAARIF dilahirkan pada 31 mei 1935 di sebuah desa
udik di Sumpurkudus, Sumatra Barat, sebuah daerah yang sumber
penghasilannya dari perdagangan serba kecil dan tani. Putra Bungsu dari
empat bersaudara pasangan Ma'rifah Rauf dan Fathiyah ini, waktu ecilnya
mempunyai hobi menjala, memancing ikan dan menembakd dengan 'bedil'
angin. Disamping itu dia juga aktif berolah raga joging, badminton serta
tenis meja, tapi sekarang yang tersisa hanya joging dan Badminton
Sebelum meraih Ph.D di Chicago, Syafii kecil memulai pendidikannya di
sekolah rakyat neegri, tetapi tidak punya ijazah, sebab masih zaman
revolusi, dan merangkap di Madrasah Mualimin Lintau, Sumatra Barat
sampai kelas tiga. Sebelum ke Lintau dia nggangur tiga tahun karena
revolusi, kemudian dia belajar di Mualimin Yogjakarta sampai selesai
Lulus di Yogyakarta di ditugaskan ke Lombok Timur sebagai pengajar
sekolah Muhammadiyah selama satu tahun, lalu pindah ke Jawa memulai
belajar di FKIP Cokroaminoto Solo sampai sarjana muda pada usianya 29
tahun, di kampus inilah dia aktif di HMI cabang Solo dan menjadi ketua
bidang pendidikan HMI cabang Solo periode 1963-1964. Dan pada tahun 1968
menyelesaikan sarjananya di FKIP Yogyakarta. Kemudian, meninggalkan
Indonesia untuk belajar sejarah pada program master di universitas Ohio,
AS
Guru besar UNY Yogyakarta ini jugapernah menjadi dosen pasca sarjana
IAIN Yogyakarta. Dan sebelumnya terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah
pada 1999-2004, tokoh yang juga pernah aktif di GPII dan pemuda
Muhammadiyah, menggantikan Amien Rais yang memilih serius di partai
politik PAN, walapun sesuasan sangat menyedihkan saat dua putranya,
hanya tinggal Muhammad Hafizh yang baru selesai S2 di Roterdam Belanda
jurusan Manajemen perkotaan (S.J Arifin 2004.Elkasa)
VISI Dunia International
Syafii berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus lebih mengintensifkan
dengan Masyarakat Eropa, khususnya Belanda dan Jerman. Alasannya pertama;
mereka telah banyak membantu Indonesia, dan masa depan mereka bisa
menjadi 'kompetitor' Amerika Serikat dan ini adalah asas paling penting
bagi politik luar negeri Indonesia, walapun pendapat ini dimungkinkan
para diplomat EU selalu memberikan 'Conflict manajement' pada anti
Amerika dan Israel, sehingga, yang terjadi di Jakarta bahwa gerakan
anti-semitic dan Israel telah mendapat dukungan dan pengaruhnya dari
para kebijakan kebijakan anggota EU dan para diplomatnya (S.J Arifn
2004) dari sinilah gerakan anti semitic berkembang dan mendapat dukungan
dari para deplomat EU di Jakarta
Maarif, yang juga akrab dengan panggilan Syafii, ahli di bidang
pemikiran Islam. Ia mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin
Muhammadiyah. Mula-mula di Lintau, Sumatera Barat, kemudian di
Yogyakarta. Setelah mengambil pendidikan FKIP Cokroaminoto Surakarta di
Solo, ia kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan FKIS IKIP, 1968.
Syafii juga bekas aktivis HMI Surakarta. Saat ini Pak Syafii juga
menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah
Anak bungsu di antara empat bersaudara ini kemudian pergi ke AS untuk
mendalami ilmu pemikiran Islam pada Universitas Chicago, Illinois. Di
sanalah ia meraih gelar doktor pada 1982, dengan disertasi Islam as the
Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in
the Constituent Assembly Debates in Indonesia
Maarif rajin berseminar dan menulis, dan sebagian besar karangannya
mengenai Islam. Bukunya antara lain berjudul Dinamika Islam dan Islam,
Mengapa Tidak? kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984.
Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES,
1985.
Sebagai kolumnis, dosen Pasca-Sarjana IAIN Yogyakarta yang
sehari-harinya mengajar di FP IPS IKIP Yogyakarta ini menulis artikel di
majalah Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Genta, di samping di
harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.
Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia
menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping
menonton sepak bola dan menembak burung. Sumber : www.hamline.edu
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|