| |
C © updated 27102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Ahmad Fuad Fanani
Lahir:
Agama: Islam
Pekerjaan:
- Ketua Lembaga Studi Islam DPP IMM
- Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
- Ketua Program Kajian Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
- Dosen FE UHAMKA, Jakarta
- Direktur al-Maun Center for Islamic Transformation Jakarta
- Kontributor Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)
Pendidikan:
Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta
Kegiatan Lain:
- Penggagas Lingkar Muda Indonesia
- Peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity |
|
| |
|
|
|
|
| OPINI |
|
|
 |
OPINI: Ahmad Fuad Fanani (07)
Gerakan Mahasiswa dan Konstruksi Indonesia Baru Gelombang
aksi gerakan mahasiswa Indonesia akhir-akhir ini sedang mengalami
pendulum balik yang rada memprihatinkan. Hal itu tampak dari fenomena
demonstrasi yang dilakukan menyambut ST MPR yang baru saja berlalu. Saat
itu, dari elemen-elemen mahasiswa yang melakukan aksi, hanya tampak
beberapa gelintir organ saja. Dan itu pun, dari presentase kelembagaan,
terlihat organisasi yang besar semisal HMI, PMII, IMM, PMKRI, GMKI, dan
lainnya tidak unjuk gigi memanfaatkan momen tersebut.
Bila kita bandingkan dengan saat pemerintah menaikkan harga BBM, tarif
telepon dan listrik awal 2003 lalu, akhir-akhir ini memang terjadi
kesenjangan yang luar biasa. Pada peristiwa terdahulu, hampir
keseluruhan organ mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes kebijakan
pemerintah yang paradoks. Bahkan, banyak elemen mahasiswa yang solid dan
bergabung dalam wadah BOKMM (Barisan Oposisi Kaum Muda Mahasiswa) yang
di dalamnya Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah menjadi salah satu pelopornya.
Saat itu, di Jakarta dan daerah-daerah, hampir setiap pekan demonstrasi
marak dilakukan, baik oleh BEM, BOKMM, ataupun organ lainnya.
Terhadap Pemilu 2004 pun, saat ini hampir mayoritas dari gerakan
mahasiswa menerimanya. Padahal, dari perangkat undang-undang pemilihan
umum dan pemilihan presiden langsung, terdapat kekurangan yang sangat
besar dan hanya mengesankan kompromi para politisi di Senayan. Hal itu
tampak terlihat dari persyaratan seorang calon presiden yang hanya
mengharuskan perolehan 3 % saat pemilu legislatif, diperbolehkannya
seorang terdakwa mencalonkan diri, sahnya lulusan SMA sebagai kandidat,
serta tidak adanya larangan seorang yang sakit mengajukan diri. Begitu
juga di pemilihan legislatif, semisal: aturan-aturan tentang dana
kampanye yang tidak jelas, ketidaktegasan sistem yang dipakai, serta
gerak KPU dan Panwaslu yang terlihat sangat lamban dan tidak tegas. Dan
yang lebih ironis lagi, penulis pernah mendengar bahwa dalam sebuah
rapat akbar sebuah organisasi kemahasiswaan, terdapat aspirasi untuk
mendirikan partai mahasiswa guna diikutkan dalam Pemilu 2004.
Sikap mahasiswa yang mulai berubah tersebut, mungkin dikarenakan
realitas politik di hadapan mereka tidak memungkinkan untuk bergerak.
Hal itu bisa dikarenakan kebutuhan untuk mencari posisi aman,
ketidakenakan dengan senior, atau rasa frustasi karena kurang adanya
dukungan dan simpati masyarakat terhadap aksi-aksi yang mereka lakukan.
Seharusnya, para mahasiswa tidak larut dalam kekecewaan dan
keengganan untuk bergerak demi mengawal proses transisi menuju demokrasi
yang sedang berjalan dan ditumpangi oleh para sopir dan penumpang yang
tidak bertanggung jawab ini. Untuk menyegarkan aktivitas mereka, gerakan
mahasiswa harus mampu mereposisi strategi dan membuat skala prioritas
terhadap kebutuhan mendesak apa yang perlu mereka jalankan. Janganlah
karena kurang adanya dukungan dan habisnya kesabaran yang revolusioner,
mereka menjadi pragmatis dan ikut arus para politisi.
Paradigma Baru
Mahasiswa adalah struktur yang unik dalam tatanan masyarakat, baik
dilihat dari sudut politik, ekonomi, maupun sosial. Hal dikarenakan masa
ketika menjadi mahasiswa adalah masa transisi sebelum mereka melanjutkan
dirinya sebagai seorang profesional, pejuang, politisi, atau pengusaha.
Selain itu, keunikannya juga tampak dari kebebasan yang mereka miliki,
baik kebebasan berpikir, berpendapat, berekspresi, atau melakukan apa
pun. Komunitas mahasiswa juga merupakan satu-satunya komunitas yang
paling dinamis dalam menangkap dan mengakomodasi sebuah perubahan serta
paling harmonis dalam menyuarakan pendapat. Sebab, mahasiswa adalah
asosiasi dari kejujuran, integritas dan semangat moral. Dalam diri
mahasiswa, juga terdapat kumpulan calon cendekiawan, pahlawan,
negarawan, serta profesi lainnya (Gerakan Mahasiswa, Rezim Tirani &
Ideologi Reformasi, 2000).
Alangkah sayangnya, jika posisi yang strategis dan unik dari mahasiswa
di atas, dibiarkan begitu saja berjalan tanpa ada pemompa semangat dan
simpati masyarakat. Yang sering terjadi dan dijadikan ukuran gerakan
mahasiswa, memang adalah keunggulannya dalam mengkonsolidasi sebuah
gerakan dan penjatuhan sebuah rezim. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa
1966, 1998, dan 2001 dianggap sukses. Sedangkan gerakan mahasiswa 1974,
1978, dan 2002 dianggap sebagai pecundang dan hanya mengacaukan
ketenangan masyarakat. Penilaian seperti itu sangat simplistis dan
ukuran sebuah keberhasilan gerakan tidak semudah analisis formal seperti
itu.
Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan
moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran
kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar
penilaian. Yang lebih penting adalah, bahwa ketika terjadi pertarungan
antara isu demokrasi dan dagang sapi, penindasan dan keadilan sosial,
kejujuran dan korupsi, maka mahasiswa harus tetap konsisten berdiri di
belakang rakyat. Dengan begitu, meskipun tidak berhasil menumbangkan
rezim, mereka tetap akan dikenang rakyat sebagai pahlawan hati nurani
dan penyambung aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Menurut Craig Calhoun,
peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di
lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam
penumbangan kekuasan Deng Xiaoping.
Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di
pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran
kekuasaan (Neither Gods Nor Emperors, Students and Struggle for
Democracy in China, 1997).
Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan
bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik
nasional ataupun kekuatan kapitalisme global. Berkaitan dengan ini,
Sutan Syahrir dalam sebuah konferensi Sosialis Asia di Bombay (India)
tahun 1956 pernah meneriakkan sebuah kata-kata yang bagus untuk dikenang
dan dipraktikkan. Yaitu: "Para mahasiswa sebagai kelompok pemuda harus
bangkit melawan ketidakadilan sosial di negeri-negeri mereka sendiri.
Para mahasiswa harus mengoreksi leadership formal di suatu negeri". Jika
mahasiswa mampu melakukan hal itu, maka pengandaian Hariman Siregar
bahwa gerakan mahasiswa adalah pilar kelima demokrasi setelah pers,
bukanlah sebuah isapan jempol dan harapan semu belaka.
Indonesia Baru
Pengawalan rezim pemerintah yang tentu tidak ada ada yang berjalan
secara sempurna itu, memang mutlak dipelopori oleh mahasiswa. Paling
tidak, hal itu dikarenakan keharusan mahasiswa sebagai aset masa depan
bangsa untuk sadar akan posisi bangsa yang sedang suram dan oleh
karenanya membutuhkan sebuah perbaikan. Dan sebuah perbaikan itu, tidak
akan dijalankan oleh pemerintah dengan sebaik mungkin, jika tidak
dikritisi dan dikoreksi setiap saat. Selain itu, sebagai pelopor gerakan
yang mengkritisi pemerintah, mahasiswa mempunyai posisi yang signifikan.
Maksudnya, dibandingkan elemen masyarakat atau gerakan lain, gerakan
mahasiswa relatif masih bersih dan tidak terkontaminasi oleh arus
kepentingan pragmatis. Meskipun ada sebagian yang seperti itu, pada
umumnya para mahasiswa masih punya hati nurani dan kemauan berpikir
secara jernih.
Yang tidak boleh dilupakan oleh gerakan mahasiswa, tentu saja adalah
pengambilan simpati rakyat dan agenda transformasi masyarakat. Yang
sering terjadi dan menyebabkan kekecewaan masyarakat, bahwa setiap aksi
mahasiswa selalu menyebabkan jalan-jalan macet dan ketenangan mereka
terusik. Hal itu sebetulnya bisa diatasi dengan mencontoh aksi-aksi yang
dilakukan di luar negeri yang berjalan dengan tertib. Aspek kekerasan
dan kesemrawutan seyogyanya sebisa mungkin mereka hindari. Dengan
begitu, rakyat sedikit demi sedikit akan bersimpati dan sadar akan makna
penting perjuangan mahasiswa. Selain itu, advokasi rakyat yang terkena
penyerobotan tanah, kekerasan preman, serta arogansi penguasa di
daerah-daerah juga penting untuk mereka lakukan. Dengan melakukan itu,
gerakan mahasiswa tidak hanya menjadi gerakan elitis yang tidak berbasis
di akar rumput. Pendidikan politik rakyat kecil adalah salah satu upaya
yang sangat signifikan guna membuka jalan lapang menuju Indonesia Baru
yang demokratis.
Harapan konstruksi Indonesia Baru memang layak disematkan pada gerakan
mahasiswa yang mempunyai paradigma baru seperti di atas. Sebab, di saat
para politisi sibuk berkampanye diri, para tokoh bangsa berlomba-lomba
menjadi calon presiden, banyak aparat keamanan menjadi beking judi, para
agamawan sibuk berdebat tafsir kebenaran, serta para LSM giat mencari
proyek pemberdayaan rakyat, pers dan media massa tidak jarang yang jadi
ajang iklan politik, maka gerakan mahasiswa adalah aset bangsa yang
patut untuk dijaga.
Terlebih lagi, perjalanan reformasi yang berjalan terseok-seok ini, bisa
menyebabkan rakyat frustasi dan rindu akan masa lalu. Jika itu terjadi,
ibaratnya kita keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya, dan
tercebur lagi ke mulut singa. Tentu saja, masa depan bangsa ini harus
diselamatkan dengan kebersihan hati nurani, progresivitas gerakan, dan
pemotongan aktor-aktor masa lalu yang ingin berkuasa lagi tapi terbukti
culas dan menipu rakyat.
Terakhir, basis intelektualisme pada diri aktivis gerakan mahasiswa,
adalah sebuah keharusan yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Dengan
intelektualisme ini, maka pengajuan analisis dan konsep alternatif untuk
rekonstruksi Indonesia ini akan mudah dilakukan. Selain itu, kejayaan
para pejuang dan negarawan Indonesia zaman kemerdekaan yang sanggup
menggabungkan kualitas intelektualisme dan aktivisme dapat kembali
terulang menjadi kenyataan. Sosok-sosok seperti inilah, yang sebetulnya
relatif bisa dipercaya memimpin dan mengatur Indonesia ke depan. Tentu
saja, kualitas moral dan spiritual adalah sebuah pencapaian diri yang
juga harus diupayakan terus-menerus. Wallahu A'lam.
(Sinar Harapan, Senin, 15 September 2003) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|