| |
C © updated 01082009 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/muhammadiyah.or.id |
|
| |
BIODATA
Nama:
KH Ahmad Dahlan
Nama Kecil:
Muhammad Darwisy
Lahir:
Yogyakarta, 1 Agustus 1868
Meninggal:
Yogyakarta, 23 Februari 1923
Agama:
Islam
Isteri:
- Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan
pendiri Aisyiyah, dikaruniai enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj
Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah).
- Nyai Abdullah, janda H. Abdullah
- Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak
- Ibu Nyai Aisyah (dikarunia satu anak)
- Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta
Ayah:
KH Abu Bakar
Ibu:
Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim)
Saudara:
Tujuh bersaudara
Pendidikan:
- Pesantren, Yaogyakarta, agama dan bahasa Arab, sampai 1883
- Menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah, 1883-1888, dari
pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid
Ridha, dan Ibn Taimiyah
- Memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah, 1902-1904
Karir:
- Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta
- Khatib Masjid Besar Yogyakarta
- Guru Agama Islam di OSVIA Magelang dan Kweekschool Jetis Yogyakarta.
- Pendiri sekolah guru Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah)
dan Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah)
Organisasi:
- Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah
- Aktif di Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite
Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Penghargaan:
Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961).
Sumber:
Muhammadiyah.or.id
|
|
| |
|
|
|
|
| AHMAD DAHLAN HOME |
|
|
 |
KH Ahmad Dahlan (1868-1923)
Pendiri Muhammadiyah
Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak
pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868,
inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.
Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta,
23 Februari 1923.
KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan
cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu
pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama
Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup
menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah
bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial
kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.
Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia
mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari
keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak
mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya
kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan
macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya.
Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan
hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di
tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. 1)
Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini
melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik
Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan
Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional
didasarkan pada empat pokok penting yakni: Pertama, KH Ahmad Dahlan
telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya
sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak
memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang
menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat,
dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah
telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan
bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat,
dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah
mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.
Diasuh di Lingkungan Pesantren
Muhammad Darwisy lahir dari keluarga ulama dan pelopor penyebaran dan
pengembangan Islam di tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang
ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan
ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat
penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Ia anak keempat dari tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan
dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia
termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang
wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang
merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di
Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). 2)Idem
Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu
Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin
Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin
Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad
Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin
Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren, yang
membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun
(1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan
dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun.
Ia pun semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu
dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan
ibn Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat
berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy.
Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan
menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan
untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar
dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan
memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam,
serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia
memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan
diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam
dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.
Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20
tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad
Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan
Kesultanan Yogyakarta.
Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya,
sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru
di Makkah hingga tahun 1904.
Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri,
anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal
dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri
Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj
Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan
Safwan, 1991).
Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah,
janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir
Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya
dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama
Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman
Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).
Mendirikan Muhammadiyah
Semangat, jiwa dan pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, yang
diperolehnya dari Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah
dan lain-lain selama belajar Makkah (1883-1888 dan 1902-1904), kemudian
diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui
Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman)
di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).
Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan
ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat
Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus
diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran
Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.
Dahlan sendiri sadar bahwa semaangat pembaharuannya tidak akan
serta-merta dapat dipahami dan diterima keluarga dan masyarakat
sekitarnya. Tidak mudah melakukan pemharuan pada suatu sifat ortodoks
yang sudah membeku. Maka, entah terkait atau tidak, ada sebuah nasehat
yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri.
Bunyinya demikian: "Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar
dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus
engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi
mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau
bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah,
sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan
neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang
terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh
Djarnawi Hadikusumo).
Dalam artikel riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan
Muhammadiyah (muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah
semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai
kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang
harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak
ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin
ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan
menegakkan kalimah Allah.
Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang
baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya
tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui
upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.
Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang menyebabkan
Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini
merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan,
menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu
tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh
beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa
orang itu tidak mungkin tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan
gerakan dakwah: Muhammadiyah.
Dahlan pun memilih strategi yang amat baik dengan lebih dahulu membina
angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah
tersebut, sekaligus meneruskan cita-citanya memajukan bangsa ini.
Apalagi ia berkesempatan mengakselerasi dan memperluas gagasannya
tentang gerakan dakwah Muhammadiyah itu dengan mendidik para calon
pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para
calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta. Karena, ia
sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk mengajarkan agama Islam
di kedua sekolah tersebut.
Tentu saja para calon pamongpraja tersebut dapat diharapkan
mengaselerasi dan memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan
menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Begitu
pula para calon guru akan segera mempercepat proses transformasi ide
tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, kepada murid-muridnya. Guna
mengintensifkannya, Dahlan pun mendirikan sekolah guru yang kemudian
dikenal dengan Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan
Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah). Di sekolah ini,
Dahlan mengajarkan agama Islam dan menyebarkan cita-cita pembaharuannya.
Dahlan dikenal sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat.
Dengan gagasan-gagasan cemerlang dan kegiatan kemasyarakatannya, Dahlan
juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat.
Termasuk dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair,
Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad
saw.
Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun
mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita
pembaharuan Islam. Ia punya visi untu melakukan suatu pembaharuan dalam
cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin
mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an
dan al-Hadits.
Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan pendirian
Muhammadiyah itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang
menyalahi agama Islam. Kiai palsu. Sampai ada pula orang yang hendak
membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar.
Dahlan teguh pada pendiriannya. Pada tanggal 20 Desember 1912, ia
mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan
badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan
Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Tampaknya,
Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan organisasi
ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan
organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta
Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti
Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri
cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan
pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan
menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar
Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung
Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah.
Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF)
yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota
Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk
mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.
Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari
Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin,
Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam,
Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kan,u
wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan
Safwan, 1991: 33).
Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan
dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui
relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan
sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia.
Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk
menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin
berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7
Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda
untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2
September 1921.
Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah
dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh
Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan
ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkumpulan
golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad
Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari
Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersalahkan menyerang aliran yang
telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap membangun mazhab
baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.
Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir Qur'an baru, yang
menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang.
Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan perkataan,
"Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan
terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para
ulama dari pada Qur'an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada
Qur'an dan Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak
hanya melalui kitab-kitab tafsir".
Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan
dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah
untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah.
Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah
diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun),
yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).
Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah
Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang
mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Sebagai salah seorang
keturunan bangsawan yang menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar
Yogyakarta, ia mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung
sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik. ►crs
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber:
1)
Riwayat KH Ahmad Dahlan
|
|