| |
C © updated 01042007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata:
Nama:
Agustin Teras Narang, SH
Lahir:
Banjarmasin, 12 Oktober 1955
Agama:
Kristen Protestan
Jabatan:
Gubernur Kalimantan Tengah 2005-2010
Istri:
Moenartining T. Narang, SH
Anak:
- Agnesya Munita Narang (Lahir 22 Juni 1984)
- Bernika Yustiasiana Narang (Lahir 22 Januari 1986)
- Alfina Kathlinia Narang (Lahir 5 Mei 1990)
Ayah:
Waldemar August Narang
Ibu:
Adile Mangkin
Pendidikan:
- SD Kristen Banjarmasin (1967)
- SMP Bruder Banjarmasin (1967-1970)
- SMAN I Banjarmasin (1970-1973)
- S1 Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)
Pengalaman Kerja:
- Ketua LBH, Fakultas Hukum UKI, Jakarta (1977-1979)
- Pengacara Kantor Pengacara Kusnandar and Associates, Jakarta
(1981-1982)
- Pengacara Kantor Pengacara RO Tambunan, SH, Jakarta (1981-1984)
- Pengacara Kantor Pengacara Albert Hasibuan, SH, Jakarta (1983-1989)
- Pimpinan Kantor Advokat dan Pengacara A. Teras Narang, SH and
Associates (1989-1999)
- Anggota/Ketua Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 1999-2004
- Anggota/Ketua Komisi III (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 2004-2009
- Anggota Panitia Anggaran DPR RI
- Anggota Panja Bank Bali DPR RI
- Anggota Panja RUU Pemilu DPR RI
- Anggota Panja RUU Perpajakan DPR RI
- Anggota Panja RUU HAM DPR RI
- Anggota Panja RUU Kepulauan Riau DPR RI
- Anggota Panja Pemilihan Calon Hakim Agung DPR RI
- Anggota Pansus RUU Provinsi Gorontalo DPR RI
- Anggota Panja BI DPR RI
- Anggota Sub Komisi Otonomi Daerah DPR RI
- Koordinator Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan
Pengalaman Organisasi:
- Ketua BPM Fakultas Hukum UKI Jakarta (1974-1975)
- Ketua Sema Fakultas Hukum UKI Jakarta (1977-1979)
- Sekretaris Jenderal DPD Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, Jakarta
(1986)
- Anggota Fraksi PDIP DPR RI
- Anggota Fraksi PDIP MPR RI
- Anggota DPD PDIP Kalimantan Tengah (1991)
- Ketua Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah, Jakarta (1992)
- Ketua Ikadin, Jakarta Timur (1993-1998)
- Wakil Sekretaris Jenderal PIKI (1993-1998)
- Sekretaris Dewan Pengurus Pusat Bantuan dan Pengabdian Hukum Indonesia
(1982-1992)
- Sekretaris I Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia
(1986-2004)
- Ketua Majelis Adat Nasional Dayak
Alamat kantor:
Jalan RTA Minolo No. 1, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Telp. (0536) 322.1353, 322.2000, 322.2845
Alamat Rumah:
Rumah Pribadi: Jl Kayu Putih VIII D No 30, Pulogadung, Jakarta
Timur
Telp. (021) 45884.5937
|
|
| |
|
|
|
|
| MAJALAH TI-36 |
|
|
 |
MTI-36: TOKOH UTAMA: 01
02
03
04
05
WAWANCARA: 06
TOKOH PILIHAN:
07 PERSPEKTIF:
08
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24 == Agustin Teras Narang
Obsesi Membangun Indonesia MTI-36-06- Wawancara:
Teras Narang melepas posisi strategisnya selaku Ketua Komisi III DPR-RI
untuk mengabdi di kampung halaman. Kader terbaik PDI Perjuangan inipun
akhirnya memenangkan kursi Gubernur Kalimantan Tengah, dan dipercaya
memimpin langsung pelaksanaan pembangunan di daerah asalnya itu. Ia
memiliki pandangan yang luas sebagai negarawan.
Ia berprinsip membangun Indonesia bisa juga dari Kalteng. Karena itu,
calon pemimpin masa depan yang terbiasa memimpin secara efektif, efisien,
dan produktif ini, merasa tak perlu mempersiapkan periode kedua
jabatannya. Ia lebih suka muncul pengganti yang lebih baik darinya.
\
Teras sangat obsesif akan membangun Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dari Palangkaraya, sama seperti yang bisa
dilakukan siapa saja dan dari daerah mana saja, tidak melulu dari
Jakarta. Ia melihat banyak aspek yang harus dipacu untuk memajukan
daerah, dan itu dibingkai juga untuk memajukan pembangunan bangsa.
Kepada Tokoh Indonesia ia berbicara mengenai banyak soal hingga ke
hal-hal yang sangat sederhana sekalipun. Didampingi oleh Kepala Biro
Humas Pemprov Kalimantan Tengah Dendul Toepak, dan staf Johny Toendan,
berikut petikan wawancara Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras
Narang dengan Ch. Robin Simanullang dan Haposan Tampubolon, berlangsung
di Kantor Gubernur Jalan RTA Milono, Kota Palangkaraya.
Anda tidak terbentuk seperti sekarang secara tiba-tiba. Tetapi ada
proses pengasuhan sejak dari kecil. Tentu, Anda bisa bercerita mulai
dari masa saat kecil?
Saya ini anak bungsu dari tujuh bersaudara. Kami, laki-laki lima,
perempuan dua. Kehidupan keluarga saya, saya tidak bisa memungkiri, itu
dalam kategori pada saat keluarga saya senang. Jadi kakak saya yang satu
sampai empat dalam keadaan Papah berjuang. Mereka merasakan betul
perjuangan dari orangtua. Kami yang lima, enam, tujuh ini sudah
sejahteralah.
Akibatnya saya terbiasa dengan lingkungan yang seperti itu. Dan kemudian,
bimbingan dari orangtua pada saat itu tidak lagi begitu spartan, yang
begitu keras. Tapi penuh dengan dialog. Karena, mungkin berubah. Jadi,
era saya tidak lagi. Sebab dulu papah terkenal dengan rotannya. Kalau
dia bilang balik, sudah, siap dicambuk dari belakang.
Saya tidak di era itu lagi. Saya di era yang penuh dengan dialog, yang
penuh dengan keterbukaan. Itu yang membuat kebiasaan saya berdialog
seperti itu. Jadi saya dengan orang tidak dengan kekuatan otot, tapi
lebih dominan dengan kekuatan dialog.
Itu terbawa-bawa. Terbawa dalam kehidupan saya selama sekolah. Dan saya
ini terbiasa memimpin, di sekolah dan di kampung. Dulu di kampung ada
yang namanya Persatuan Olahraga Langgar Tengah. Langgar itu semacam
mushola, tapi yang ada dekat rumah. Porlateng, istilahnya, itu adalah
persatuan olahraga. Jadi saya memimpin sepakbola, saya memimpin tenis
meja, umur saya saat itu baru 12 tahun, kelas enam SD.
Kelas enam saya sudah memimpin, saya sudah bisa membuat pertandingan,
saya sudah bisa menggerakkan untuk menjadi juara, saya sudah bisa
mengatur. Dulu bola kita yang dipompa, jadi bola kulit, ada ban di dalam,
ada ususnya, dikasih tali. Dulu tali itu yang sering membuat orang luka,
saya sudah bisa menutup itu dulu dengan.. apa ya, kaya semacam isolasi,
tapi isolasi dulu tidak seperti sekarang yang lemnya gampang nempel ke
mana-mana. Tapi saya sudah berpikir seperti itu.
Itu meningkat di SD. Kemudian di SMP saya juga masih terbiasa, dan hobi
saya di SMP balap motor, saya pembalap, itu sampai SMA. Saya banyak jadi
juaranya di Banjarmasin, karena saya sampai SMA di Banjarmasin.
Kemudian saya pindah tahun 1973, saya selesai SMA, saya hijrah ke
Jakarta, saya masuk di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya
mendaftar di Universitas Indonesia (UI), tapi ternyata saya tidak
diterima. Karena pada saat test, ternyata, ilmu yang ada di daerah tidak
mumpuni. Ya, tesnya gampang, gampang bagi kita yang sudah tahu, siapa
nama walikota Jakarta Utara, pada saat itu. Manalah awak tahu. Kalau
ditanya walikota Banjar, saya tahu, siapa gubernurnya, manalah awak tahu,
biasanya ngebut.
Sebenarnya, tesnya nggak seperti itu, kan?
Nggak, nggak seperti itu. Tapi aku mau kasih tahu bahwa ternyata untuk
masuk UI itu tidak mudah. Nah, akhirnya awak terdampar di UKI, di UKI
Jalan Diponegoro. Baru aku masuk, mungkin mukaku muka yang organisatoris.
Aku masuk rambutku masih gondrong, sudah metal, segini (sebahu), tapi
rapi, rapilah. Ingat Anjasmara (pemain bola), persis kayak begitu,
pokoknya keren punya.
Pada saat masuk aku sudah disuruh memimpin. Jadi pada saat itu memimpin
kalau kita mau plonco dulu, masa perpeloncoan, harus ada upacara,
gunting rambut, aku disuruh, ada dua orang, satu laki-laki satu
perempuan. Nah aku kebagian, yang laki aku.
Selesai itu, kemudian masuk tingkat satu, tidak berapa lama, di tingkat
satu aku dipilih jadi sekretaris BPM, Badan Perwakilan Mahasiswa, tidak
sampai setahun. Jadi Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa. Dulu kita
ada tingkat lima, tingkat satu, dua, tiga, empat, lima. Jadi BPM itu
masing-masing tingkat, lima orang, lima kali lima dua puluh lima orang.
Nah, di tingkat persiapan lima orang, salah satunya aku. Pada saat masuk
ke BPM-nya aku dipilih jadi sekretaris BPM. Bingung juga, baru berkibar
sudah jadi sekretaris pula. Eh, jalan.
Tingkat dua, hebat juga sekretaris, kata teman-teman, jadilah aku Ketua
BPM. Jadi di tingkat satu jadi sekretaris, tingkat dua sudah Ketua BPM,
sampai tingkat tiga. Sudah jadi BPM, rupanya aku lihat-lihat, rupanya
mereka ini perlu ada pemimpin. Akhirnya aku jadi Ketua Senat. Ketua
Senat Fakultas Hukum UKI, ini yang membuat aku agak terlambat selesainya.
Lagi asyik, biasa, kalau sudah jadi Ketua Senat, sudah lupa
segala-galanya.
Dan salah satu masukan kami, pada saat saya Ketua Senat itu, pada saat
KUHAP, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Aku sudah ke parlemen,
aku sudah ngomong di parlemen itu, tahun 1979. Sudah mantap itu,
mikrofon itu sudah kupegang. Jadi kalau aku kembali ke situ pada saat
itu (anggota DPR), aku bilang, aku sudah pernah ke sini. Jadi, sudahlah.
Nah, dikoordinir pada saat itu oleh Pak Buyung. Jadi dari Senat
Mahasiswa ada beberapa yang diundang, di situ aku merasa tidak melihat
kepada sekolah. Karena pada saat itu ada dari UI, ada dari Unpad, ada
dari Airlangga, aku dari UKI. Boleh ngomong. Artinya swasta boleh punya
nih. Di situ rasa percaya diri ada, bahwa ternyata di mana pun itu
tergantung kita.
Begitu, ngomong aku. Masalah KUHAP, kita kasih masukan ba…ba…ba sudah.
Pokoknya pada saat itu hearing-nya sudahlah, sudah punya kitalah. Sampai
Bang Buyung juga bingung, ini kok masih mahasiswa tapi sudah berani
berbicara masalah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Karena dulu
kita masih terpaku kepada ini, hukum acara yang RBG, yang lama. Jadi
kita teroboskan.
Memang kita pada saat itu berkeinginan, bukan hanya berhenti di KUHAP.
Saya dulu sudah pernah mengusulkan juga KUHP. KUHP itu kita harus segera
ubah, sudah ngomong aku 1979, kita tidak boleh pakai yang ini. Karena
aku pernah ngomong, itu diskriminasi. Nggak boleh kita membedakan lagi,
ini Indonesia Barat, ini Indonesia Timur, ini Jawa, ini Jawa Madura,
tidak boleh. Masih belum ngomong wawasan nusantara pada saat itu, cuma
spiritnya adalah negara kesatuan.
Nah, kalau negara kesatuan maka hukumnya pun satu. Tidak boleh
membedakan karena wilayah. Ini kan kita dulu berlaku, KUHP acaranya dulu
luar Jawa lain. Sekarang RBG masih, perdata, masih berlaku hukum
acaranya, ada yang Jawa ada yang luar Jawa, Jawa Madura ada yang luar
Jawa. Nah, aku sudah ngomong itu, tidak boleh, yang namanya negara,
masih mahasiswa, jadi itu.
Aku selesai. Kemudian, aku di dunia hukum, memang duniaku, dan, setelah
itu kembali seperti yang saya katakan, saya sekolah ke Inggris, tapi
akhirnya kembali ke habitat, masuklah pekerjaan di salah satu law firm (kantor
hukum), namanya Koesnandar and Associates, setelah itu aku pindah ke RO
Tambunan, terakhir aku di Albert Hasibuan. Setelah itu, tahun 1989, aku
mendirikan kantor sendiri. Tahun 1989 aku keluar dari Pak Albert
mendirikan kantor sendiri, sampai dengan 1999. Karena aku harus masuk ke
DPR.
Jadi, terbentuknya kenapa aku cinta hukum, itu dari orangtua. Ya,
ngobrol-ngobrol. Ras, dia bilang, pemimpin di Amerika, senatornya,
presidennya, itu dari fakultas hukum. Ada yang dari Harvard. Beliau
rupanya tidak berhenti sampai di situ. Nah inilah hebatnya almarhum
ayahku. Jadi bukan hanya dia berpikir, bukan hanya berucap, tetapi juga
beliau berbuat. Yaitu dengan yang tadi, aku dikasih kesempatan untuk
hubungan sama lawyer tadi.
Banyak keluarga, dengan kemampuan material, tidak membekali anaknya
suatu spirit atau kemandirian, bahkan memanjakannya. Kenapa itu tidak
terjadi pada diri Anda?
Karena aku lain sendiri dari enam. Yang enam itu, orang dagang.
Sedangkan aku, beda, aku bukan orang dagang. Jadi aku berpikir, aku
tidak bisa hidup seperti mereka. Dan aku tidak bertopang pada mereka.
Karena apa, karena mereka tidak kenal Adnan Buyung, tidak ada fase itu,
dulu tidak ada KKN.
Manalah orangtuaku bisa tahu Yap Thiam Him, aku melamar ke siapa, dia
tidak mengerti, karena urusan dia, urusan mereka ekspor-impor. Tapi
kalau urusan lawyer akhirnya aku, berusaha sendiri, dan kebetulan aku
ini terbiasa mandiri. Ini maaf, yang namanya sekolah saja papahku tidak
tahu aku itu tingkat berapa. Karena memang aku rahasiakan. Aku cuma
berpikir satu, papah dan mama itu, cuma tahu Teras lulus, that’s all (hanya
itu). Proses dia lulus, jangan tahu, pokoknya hasil akhirnya saja. Dan
aku janji sama papah-mama, aku melakukan yang terbaik untuk mereka.
Karena itu, kedekatan itu lo.
Dan, orangtua percaya?
Ya, saya tidak tahu, apakah mereka percaya sama aku, aku tidak tahu.
Cuma tekadku, adalah memberi kepercayaan. Dan itu bukan hanya masalah
sekolah, semuanya. Termasuk masalah jodoh. Ya, maaf ya, bukannya sombong,
orang-orang Dayak kepengennya ke mamah, ya, sudah deh, yang itu buat
kami saja, kita besanan. Aku bilang sama mamah, janganlah, aku sudah
sekolah, aku sudah ini, kasih kesempatan aku, aku mau cari jodoh sendiri,
boleh kan mah? “Boleh,” katanya.
Sudah, berlanglang buana lah kita. Kalau berlanglang buana itu konotasi
dengan playboy… nggak jauh, beda-beda tipis itu. Karena apa, kemandirian
itu, dan itu juga sekarang menjadi sikapku. Termasuk dengan kakak saya
yang sekarang, (Ketua DPRD Kalteng, R. Atu Narang). Orang selalu katakan,
kalau orang melihat hubungan, ini kakak-adik. Tapi kami berdua, karena
sudah terbiasa, itu membedakan yang mana masalah keluarga, yang mana
masalah profesi.
Karena mereka sudah tahu Teras, mereka sudah tahu. Dan saya pernah
ngomong, ke saudara-saudara saya. Saya bilang saya mohon maaf, mungkin
dengan saya jadi gubernur, kalian jadi tambah sulit. Dan itu mungkin
terjadi. Makin mereka jadi sulit. Dan saya orangnya, karena terbiasa
mandiri, terbiasa tegas, terbiasa punya obsesi, nah obsesi saya adalah
untuk kepentingan rakyat. Nah, saya bilang sama mereka, sepanjang Anda
punya program itu untuk kepentingan rakyat, ayo. Tetapi kalau itu untuk
kepentingan diri sendiri, apalagi memakai nama macam-macam, ya sudahlah.
Dan juga saya untungnya banyak yang nasehatin untuk bersikap dengan baik.
Nah, itu yang membuat seorang Teras memiliki kepribadian. Karena dari
proses. Dari proses, tapi saya tidak bisa memungkiri, bahwa saya dalam
situasi hidup yang penuh dengan suka-cita. Orangtua, saya bungsu,
rupanya enak jadi anak bungsu.
Bagaimana dengan pembekalan moral, maupun religi dari orangtua?
Oh, itu iya. Itu dari awal. Karena saya sudah terbiasa dengan orangtua
saya di lingkungan Kristen Protestan, dan beliau ini, memang, kakek saya
itu dulu adalah sebagai pendiri dari Gereja Dayak Besar, di Kalteng.
Dan beliau adalah satu-satunya pribumi, yang pada saat itu ketuanya
orang Belanda, dan yang bukan Evangelis, yang bukan pendeta. Tetapi
beliau adalah sebagai seorang tokoh di satu tempat, nah beliau itu. Nah,
turun rupanya, turun ke almarhum ayah saya, dan turun sampai ke saya.
Jadi itulah sebagai pedoman, sebagai suatu kendali di dalam saya
menempuh semuanya. Jadi, di samping saya kepribadiannya mandiri, dan
saya juga ditempa oleh lingkungan keagamaan yang mempengaruhi di dalam
saya bersikap.
Kemudian, Anda menjadi anggota DPR, dengan nama yang sangat begitu
menonjol, memimpin Komisi II dan III. Tetapi mengambil keputusan menjadi
Gubernur tentu ada faktor-faktor yang mendorong Anda, kenapa mau jadi
Gubernur?
Pertama bahwa ada satu keinginan saya untuk berbuat. Karena, saya
menentukan ini setelah saya menjadi anggota DPR tahun 1999-2004.
Untuk menentukan saya menjadi gubernur setelah proses kedua saya yaitu
2004-2009. Saya merasa, kalau saya menjadi anggota DPR, saya tidak bisa
banyak berbuat. Karena pada akhirnya DPR itu keputusannya adalah
kolektif. Nah, kalau keputusannya kolektif cenderung masalahnya masalah
politik dan masalah nasional. Sedangkan di satu sisi, Kalimantan Tengah,
menurut hemat saya pada saat itu memerlukan kepemimpinan yang lain,
kepemimpinan yang mampu menerobos.
Dan yang tidak kalah penting, ini adalah pemilihan langsung oleh rakyat.
Dan ini yang pertamakali pada saat itu, yang lima gubernur tadi (Sulawesi
Utara, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Riau).
Jadi ini yang membuat saya makin merasa sudah saatnya saya berbuat
banyak untuk kepentingan bangsa melalui Provinsi Kalimantan Tengah.
Cita-cita saya bukan hanya untuk kepentingan rakyat di provinsi ini.
Tetapi adalah untuk kepentingan bangsa, melalui provinsi Kalimantan
Tengah. Makanya saya selalu ngomong, untuk memimpin bangsa, untuk
memimpin negara, tidak harus melalui Jakarta. Bisa juga kita lakukan
melalui daerah. Kenapa, karena pembangunan yang terjadi di daerah itu
akan berdampak kepada negara.
Kenapa memilih Kalimantan Tengah?
Pertama, karena aku berasal dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah.
Kedua, memang aku mengetahui banyak tentang keadaan daerah ini. Dan aku
tahu apa yang menjadi kebutuhan dari Provinsi Kalimantan Tengah. Dan aku
mempunyai harapan, tentunya dengan kebersamaan dengan rakyat, kebutuhan
ini akan bisa terpenuhi. Tetapi tentunya dengan kerja keras, dengan
tekad yang sama.
Dengan keyakinan, akan mampu mengangkat kesejahteraan rakyat di
daerah ini?
Kalau keyakinan, sudah pasti. Tetapi kembali saya katakan, keyakinan
Teras Narang tidak akan bermakna apapun kalau tidak ada kebersamaan.
Teras Narang tidak akan bermakna, tidak akan mempunyai arti kepada
pembangunan di Kalteng, kalau tidak secara bersama-sama.
Nah, bersama-sama di sini adalah, bersama dengan jajaran pemerintah
provinsi, bersama dengan 13 bupati dan satu walikota, bersama-sama
dengan DPRD kabupaten-kabupaten kota dan provinsi, bersama dengan rakyat,
yang kita katakan tadi punya keinginan bersama untuk membangun.
Sebagai seorang pemimpin di wilayah ini, pemimpin politik dan
pemimpin di bidang lain, tentu Anda, sebelum mengambil keputusan melihat
potensi maupun tantangannya. Yang Anda lihat, yang menonjol, sehingga
punya keyakinan akan berhasil sebagai pemimpin, itu potensi apa?
Pertama masyarakatnya yang mempunyai keinginan kuat untuk maju. Itu saya
anggap sebagai potensi. Kemudian kedua, sumber daya alam.
Dan yang perlu dikelola bersama adalah kepemimpinan. Kita memerlukan
kepemimpinan untuk mengangkat semuanya. Untuk mengangkat, membawa
keinginan masyarakat untuk maju, keinginan masyarakat untuk sejahtera,
dan mengelola sumber daya alam ini dengan baik. Karena tanpa keinginan
pemimpinnya, tekad dari pemimpinnya, maka semua potensi ini tidak akan
bermakna apa-apa.
Tentu, ada tantangan?
Oh, pasti. Ini kan dunia politik. Dunia politik itu ada faktor like and
dislike (suka dan tidak suka). Ada faktor kepentingan. Kemudian yang
kedua, adalah tantangan geografis, karena sangat minimnya infrastruktur.
Ini yang sangat mempersulit, yang menjadi tantangan, tetapi kembali saya
katakan bahwa tantangan ini akan menjadi suatu… bukan lagi tantangan
apabila kita mempunyai suatu keinginan bersama.
Keinginan politik akan bisa kita hindari karena kita memiliki keinginan
politik yang sama, yaitu untuk membangun daerah, untuk mengangkat
kesejahteraan masyarakat. Masalah geografis akan terjawab kalau
infrastruktur kita bangun. Nah, inilah yang sedang saya lakukan.
Secara latar belakang politik, Anda itu dibesarkan atau sekaligus
membesarkan PDI Perjuangan. Secara ideologis mungkin ideologi PDI
Perjuangan juga ada dalam diri Anda dalam memimpin. Tapi ketika diangkat
menjadi gubernur bagaimana Anda menempatkan diri?
Ya. Ideologi yang paling penting dari PDI Perjuangan itu adalah berbuat
untuk kepentingan rakyat.
Ideologi PDI Perjuangan inilah yang saya selalu terapkan. Dan ini bukan
hanya ideologi PDI Perjuangan, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat,
tetapi ini adalah juga merupakan suatu ideologi dari bangsa kita.
Sehingga pada saat saya memimpin, warna saya yang merah itu tidak pernah
menjadi kendala bagi warna-warna lain.
Karena saya selalu mengatakan, sejak saya dipilih oleh rakyat Provinsi
Kalimantan Tengah, menjadi Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah, Teras
Narang bukan hanya milik PDI Perjuangan. Tetapi Teras Narang adalah
sudah milik rakyat Provinsi Kalimantan Tengah. Apakah dia Partai
Demokrat, apakah dia itu Golkar, apakah dia itu PPP, apakah dia itu PKS,
apakah dia itu PAN, PBB dan lain sebagainya. Itulah, yang saya katakan
bahwa saya milik semuanya.
Dan pada saat itu, saya juga diinginkan untuk menjadi ketua DPD PDI
Perjuangan. Tetapi secara halus saya katakan, please, jangan ke saya.
Karena saya sudah dipercayakan bapak-bapak, saya bilang, dipercayakan
PDI Perjuangan. Saya kan masuk dari PDI Perjuangan.
Saya dipercayakan PDI Perjuangan untuk menjadi pemimpin di Provinsi
Kalimantan Tengah, sekarang saya sudah terpilih, kasih kepercayaan saya
untuk melaksanakan amanah yang sudah diberikan oleh rakyat, yang dimana,
di rakyat itu juga ada PDI Perjuangan. Itu yang saya lakukan.
Seorang politisi seharusnya menjadi negarawan juga, walaupun tidak
semua politisi yang negarawan. Demikian juga seorang Gubernur. Menurut
pandangan Anda, yang negarawan itu seperti apa?
Seorang negarawan itu yang harus, seseorang yang tahu persis posisinya,
yang menempatkan kepentingan bangsa, kepentingan negara, itu yang utama.
Dia tidak, pada saat dia di posisinya, yang utama bagi dia adalah dia
tidak melihat kepada kepentingan kelompoknya, dia tidak melihat kepada
kepentingan tertentu. Tapi yang dia lihat adalah untuk kepentingan
bangsa, untuk kepentingan negara, yang pada akhirnya, apa yang dia
lakukan itu adalah untuk kepentingan rakyat.
Karena dalam pembukaan UUD 1945 kita sudah jelas. Kenapa sih, tanggal 17
Agustus 1945 kita proklamasikan sebagai negara. Karena kita mempunyai
tujuan yang sama, untuk memakmurkan, untuk menyejahterakan rakyat.
Tujuan kita itu. Jadi kalau kita, sebagai pemimpin, seorang negarawan,
yang kita utamakan adalah kepentingan rakyat.
Barangkali Anda bisa memberikan satu dua contoh, bagaimana Anda
sendiri mengimplementasikan prinsip tadi?
Yang tadi, yang tadi salah satunya kongkritnya, yang saya katakan,
sejak saya dipilih sebagai Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah, saya
bukan lagi milik PDI Perjuangan.
Ekstrimnya lagi, saya bukan lagi milik keluarga, saja. Ya, nggak boleh
dong kita bilang, begitu kan? Karena keluarga memang milik kita. Tapi
bukan hanya milik keluarga saja, tetapi saya sudah milik rakyat Provinsi
Kalimantan Tengah.
Artinya, semua pikiran saya, semua perkataan saya, dan semua perbuatan
saya, adalah untuk kepentingan Provinsi Kalimantan Tengah. Makanya
selalu saya katakan, pada anak-anak saya, yang tabah, doakan papah untuk
bisa menyelesaikan tugas sampai dengan nanti Agustus 2010. Karena papah
lagi berbuat untuk kepentingan rakyat di Provinsi Kalimantan Tengah.
Itu mungkin sebagai salah satu contoh ya. Dan kemudian yang kedua, tadi,
yang saya dipercayakan untuk sebagai calon tadi (Ketua DPD PDI
Perjuangan). Saya bilang jangan, karena saya mau memimpin. Kalau saya
menjadi Ketua DPD, repot saya, akan amat sulit bagi saya. Dan saya tidak
bisa lagi konsentrasi. Pastilah, manusiawi, kan, saya pasti ada vested
juga ya.
Wah, ini, buat partai gimana nih, kan pasti itu. Nah, kalau sekarang,
kan saya enak. Sudah dua, contohnya tadi, kan, sudah terjawab, karena
beliau minta satu dua saja contohnya ha ha haaa.
Negarawan itu mementingkan kepentingan bersama (negara), kepentingan
pribadi atau kelompok harus dibelakangkan, bukan tidak penting. Anda
berkuasa di sini tentu sangat berpengaruh terhadap semua gerak kehidupan,
termasuk dalam pembagian kue. Kalau Anda dikelilingi oleh kepentingan
keluarga dan partai, bagaimana menyikapinya?
Aku tidak pernah tahu itu. Saya tidak pernah tahu tentang proyek. Yang
saya tahu cuma satu, bahwa Anda, target, harus membangun A, B, C, D ini
dan ini harus Anda lakukan sesuai dengan prosedur. Dan itulah
mengakibatkan saya enak. Karena saya tidak ada jago. Semua jagoan.
Dan saya tidak pernah membawa orang. Kan, biasanya begitu, ceritanya.
Jadi kalau mau maju ada orang bawaan, ini, ada yang mendukung. Saya
tidak ada. Yang mendukung saya rakyat, yang mendukung saya Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Tidak ada sponsor waktu pencalonan gubernur?
Di situ kelebihannya Teras. Di situ.
Sehingga tidak ada beban?
Orang kaget. Berapa miliar, Teras? Aku tidak. Paling banyak keluar untuk
bikin kaos. Tidak sampai dua miliar rupiah dan untuk aku jalan-jalan.
Tanya Wagub, pernah kami berdua kehabisan duit. Boleh Pak Wagub diajak
bicara, bagaimana kami kehabisan duit.
Waktu proses?
Lagi lagi kampanye, Pak, kehabisan duit. Mana, dulu, ada orang ada yang
mendukung, ada yang dampingin, ini, tidak ada.
Tidak ada yang menawarkan diri?
Itu, yang membuat saya itu tidak ada beban. Setelah saya menjadi
gubernur tidak ada utang. Saya dulu kan punya empat tim. Ada tim
kampanye yang resmi, yang memang itu harus terdaftar di KPU. Nah,
kemudian ada kekuatan dari partai, ada kekuatan dari keluarga, dan ada
kekuatan yang namanya Tim Sukarelawan.
Tim sukarelawan ini, ini dari mana-mana. Di Lamandau dia bikin. Jadi
kalau aku datang ke Lamandau jangan kaget, sudah ada panggung, sudah ada
orkes, kalau di kampung itu orkes.
Jadi, sukarelawan yang memang sukarelawan. Kan, ada sukarelawan yang
disponsori?
Ini benar-benar sukarelawan. Ini memang benar-benar terbentuk karena
memang keinginan mereka. Kalau tidak, aku jadi beban.
Ketika selesai Pilkada, dan Anda memperoleh suara yang cukup
signifikan, apa di benak Anda yang pertama?
Ya, tentu berbuat sesuai dengan janji saya, yang termuat di dalam visi,
misi dan program. Saya harus melakukan percepatan terhadap beberapa
sektor yang memang menjadi kebutuhan dari rakyat, yang empat tadi:
infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan peningkatan perekonomian yang
berbasis kerakyatan.
Itu semacam janji di dalam…?
Benak saya. Dan, janji itu sebagian saya sudah penuhi. Jembatan
Tumbang Nusa, yang panjangnya 7,1 Km. Itu, 3,4 Km dibangun dalam empat
tahun, tahun 2000-2004. Sisanya, saya, 3,7 Km, dibangun 4,5 bulan.
Dengan biaya jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya 3,4 Km. Biaya
yang 3,4 Km itu sekitar Rp 90 miliar lebih, yang 3,7 Km 4,5 bulan
biayanya Rp 62 miliar.
Sebagai seorang Gubernur dia adalah seorang pemimpin baik ke dalam
maupun ke luar. Ke dalam, apa yang Anda lakukan, misalnya, sudah adakah
daerah yang Anda kunjungi sebagai realisasi dari janji tersebut?
Sudah keliling. Saya sudah keliling. Dan, itu bukan hanya pada saat ini.
Dari dulu juga begitu. Pada saat saya jadi anggota DPR pun, pada masa
reses, saya turun sampai ke bawah.
Dan itu terbukti juga dengan tekad saya untuk merehabilitasi dan
merevitalisasi PLG. Karena dulu saya paling sering ke situ. Karena saya
menganggap, itu adalah satu kawasan yang memang perlu mendapat perhatian.
Jadi, kalau masalah turun ke bawah itu santapan kita.
Mungkin ada dialog dengan rakyat yang paling berkesan, satu dua
contoh, ketika Anda turun ke lapangan, sehingga memberi inspirasi dalam
pengambilan keputusan?
Yang sangat menarik itu adalah pada saat saya ke salah satu desa, Kurun
Durut namanya, yang kemarin itu. Sebelumnya saya ketemu sama mereka
tahun 2006. Mereka berkeinginan pemerintah membuat jalan produksi kepada
mereka. Jadi, artinya, pemerintahlah yang mereka suruh untuk membuat
jalan kepada mereka, padahal itu perkebunan rakyat.
Saya katakan, saya justru minta kepada kalian untuk kalian sendiri yang
membuat itu. Dan kalian, berapa kelompok di situ, katanya di situ ada 10
kelompok. Saya bilang, kalian harus membuat itu sendiri. Kalian harus
bergotong royong. Karena apa, karena saya bilang, jalan produksi ini
adalah untuk kepentingan kalian, perkebunan karet.
Saya kasih waktu, saya bilang 15 menit, untuk kalian memutuskan bisa
atau tidak. Pada saat itu, Pak Dendul, ya, tidak sampai 15 menit, 10
menit, langsung pimpinan kelompoknya bilang, Pak, kami bisa. Oke, saya
bilang, saya salaman sama dia, saya bulan Februari tahun 2007 akan
datang, untuk melihat ini. Dan kalian akan saya kasih hadiah, kalau
kalian bisa membangun itu sendiri.
Tanggal berapa, kita datang Pak Dendul? Tanggal 4 Februari saya datang.
Saya kasih hadiah. Saya belikan motor Tossa, yang ada motor terus ada
gerobak belakangnya, karena jalannya itu 2 meter, sempitlah, jalan
produksi dua meter. Tapi memang perlu dilakukan pembenahan lagi.
Nah, itu yang paling terkesan untuk saya. Artinya, rakyat di sini bisa
melakukan sesuatu yang positif, sepanjang memang mereka diberikan
motivasi.
Jadi itu yang Anda sebut tadi salah satu potensi?
Benar. Artinya, di sini rakyat itu berkeinginan untuk sejahtera dan maju.
Kita sebagai pemimpin hanya mengendalikan.
Kalau saya, hanya sekadar menarik simpati, saya langsung bilang, oke
kami bangun, selesai. Bisa saja kuperintahkan dinas perkebunan, apalah
arti 7 kilometer, kecil itu. Tapi bukan itu yang saya lakukan. Kenapa,
karena saya mau mengangkat sense of belonging, rasa memiliki.
Karena nanti, yang memelihara mereka. Yang mempergunakan mereka. Mereka
harus merasa bahwa jalan ini kita yang bikin, ini jalan kebutuhan kita,
karenanya harus saya pelihara. Itu, kan dari mereka.
Tetapi kalau mereka kita kasih saja, tidak ada rasa memiliki, tidak ada
rasa sayang, tidak ada rasa capek. Ini yang selalu, itu yang membuat hal
yang berkesan kepada saya. Dan saya, melihat ini, saya tidak hanya
berhenti di situ, dan saya juga akan ke desa-desa lain untuk juga selalu
mendengungkan ini.
Dan ada satu program saya, yang ini terinspirasi dengan adanya bedah
kampung. Tapi saya merubah bedah kampung itu menjadi mahaga lewu. Mahaga
itu menjaga, leu itu kampung, dan membangun lewu, membangun kampung.
Nah, kemarin saya sudah mulai di Kabupaten Katingan. Saya mengharapkan
itu nanti merupakan suatu langkah awal di dalam rangka, kembali ke
peningkatan kesejahteraan dari manusia, masyarakat.
Karena dimulai dari mahaga lewu, memelihara. Karena dengan dia membangun,
dengan dia memelihara, timbul rasa kecintaan, hilang rasa bengis.
Keinginan untuk menebang pohon, hilang. Keinginannya tiada lain menjaga.
Menjaga lingkungan, menjaga flora, menjaga fauna dan lainnya.
Kemudian seorang Gubernur dalam sebuah negara kesatuan, dengan
otonomi yang sudah sedemikian rupa sekarang, Gubernurnya mempunyai tugas
juga membina hubungan dengan daerah lain, terutama dengan pemerintah
pusat untuk mengakselerasi pembangunan di daerahnya masing-masing. Dalam
kaitan ini apa saja sudah dikembangkan?
Saya, sejak dilantik 4 Agustus 2005, selalu menjalin hubungan, terutama
dengan pemerintah pusat, dan juga kepada pihak legislatif. Jadi ini yang
selalu saya jaga, dan kebetulan, karena saya berasal dari anggota DPR.
Jadi, tidak begitu sulit bagi saya untuk menjalin hubungan.
Dan, ini sudah menjadi barang tentu harus saya maknai sebagai sesuatu
yang positif, tentu saya harus menghormati hubungan ini. Saya selalu
menjaga agar hubungan ini betul-betul terjalin dengan baik, yang pada
akhirnya, ini kembali lagi, pada kepentingan masyarakat.
Karena saya tahu, apa yang mereka lakukan pun sama seperti apa yang saya
lakukan. Apa yang mereka pikirkan pun sama dengan apa yang saya pikirkan.
Bahwa apa yang kebetulan sekarang kita diberikan kesempatan, jadi kita
harus berbuat.
Secara nasional PDI Perjuangan menempatkan diri sebagai partai
oposisi. Bagaimana posisi ini, apakah mempengaruhi, karena Anda sebagai
kader PDI Perjuangan, hubungannya dengan Presiden?
Tidak, tuh. Selama ini Bapak Presiden selalu melihat saya sebagai
seorang Gubernur. Dan saya pun juga melihat Bapak Presiden sebagai
Presiden Republik Indonesia. Masalah sikap politik PDI Perjuangan, dan
sebagai satu partai, saya pikir itu sebagai suatu sikap politik. Tetapi
manakala kadernya dipercayakan sebagai pemimpin di satu daerah, di mana
Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah terbagi habis, bahwa
presiden, wakil presiden, menteri-menteri, gubernur, kemudian bupati
sampai tingkat ke pedesaan.
Nah, saya bersyukur, mungkin karena orang lihat saya selama memimpin di
Komisi II dan III, jadi mereka tahu itu warnanya Teras. Jadi kalau Teras
mempunyai sikap politik, itu mereka sudah tahu. Jadi, itulah yang saya
bilang tidak sulit, tidak sulit buat Teras Narang karena orang tahu
bahwa Teras Narang itu dari dulunya memang seperti itu.
Sebelum Anda ke sini ada latar belakang kerusuhan di daerah ini.
Kerusuhan yang secara manusiawi akhirnya sangat demikian rupa, walaupun
ada latar belakang juga dengan sebelumnya. Dan sesudah itu terjadi Anda
menjadi Gubernur. Apa yang ada dalam pikiran Anda?
Yang saya tangkap di sini, bahwa tidak semua orang yang berkeinginan
kejadian itu terulang. Dan siapa pun dia, tidak menginginkan hal itu
terjadi lagi. Dan, saya menyadari betul, bahwa kejadian itu adalah suatu
kejadian yang amat sangat memprihatinkan.
Dan saya sadar betul, bahwa keinginan luhur dari pendiri bangsa kita
terusik dengan adanya kejadian ini. Para pendiri bangsa menginginkan
seperti yang terpampang di burung garuda, kita berbeda-beda tapi kita
satu.
Provinsi Kalimantan Tengah sekarang ini mempunyai tekad membangun,
mempunyai tekad kebersamaan, dan juga mempunyai falsafah humabetang.
Humabetang itu adalah rumah besar, di mana di dalam rumah itu dihuni
oleh semua orang, semua agama, dengan agama berbeda, dengan suku yang
berbeda.
Nah, inilah yang saya harapkan kejadian ini tidak berulang, ke depan
jadilah Provinsi Kalimantan Tengah sebagai humabetang, yang mampu
bersama-sama dengan suku apa pun, dengan agama apa pun, untuk membangun
daerah ini.
Tetapi ada satu lagi falsafah yang paling tinggi di negara kita ini, di
mana bumi dipijak di situ langit di junjung. Nah, saya berada di
Sumatera Utara, saya berada di Pulau Jawa, saya tetap harus menghormati
bahwa saya berada di sana. Saya harus menghormati tetangga saya, saya
harus menghormati keluarga baru saya, di dalam satu kesatuan pendapat,
kesatuan keinginan, dengan kita membangun daerah itu bersama.
Indonesia sudah 62 tahun merdeka tapi Kalimantan Tengah, dan secara
keseluruhan, yang mempunyai kekayaan alam sedemikian rupa ternyata masih
banyak daerah yang terisolasi, ada kabupaten yang tidak tembus?
Ya, 13 kabupaten dan satu kota.
Bagaimana sampai daerah-daerah tersebut masih terisolasi?
Provinsi Kalimantan Tengah lahir sekitar 50 tahun lalu. Kalimantan
Tengah ini dulu adalah hutan. Kalimantan Tengah ini adalah satu-satunya
provinsi yang tidak pernah dijajah oleh Belanda, ya, karena kita baru
lahir.
Terisolirnya Provinsi Kalimantan Tengah memang karena proses pembangunan,
yang masih belum sebagaimana kita harapkan. Itulah yang menjadi tekad
saya, agar proses pembangunan yang sekarang sedang dilakukan oleh kita,
bisa membuka keterisolasian.
Tetapi kita bukan hanya meratap, harus berbuat. Tidak mungkin kita bisa
membuka keterisolasian itu bagaikan kita membalik tangan. Itu harus
dengan proses.
Kita harus memprioritaskan beberapa kabupaten dan kota dulu. Mungkin
periode saya, semua kabupaten bisa tersambung, sampai 2010. Tetapi antar
kecamatan saya juga minta kabupaten untuk memiliki tekad yang sama. Dia
memberikan prioritas juga, untuk pembangunan antarkecamatan. Dan juga
mereka harus memikirkan hubungan antardesa satu dengan desa yang lain.
Nah, kita sudah menerima, ini sudah terjadi, suatu konsep transmigrasi
yang penyebaran itu terlalu jauh. Di periode saya, dan saya bekerja sama
dengan Pak Erman, Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja, untuk membangun
satu proyek, yaitu kawasan transmigrasi mandiri, yang akan kita bangun
nanti di lahan PLG. Jadi di situ akan kita bangun, dan saya sudah
bekerja sama dengan beliau untuk melaksanakannya. Nah, ini untuk
mengobati salah satu keterisolasian itu.
Jadi, prinsipnya, kita kembalikan kepada daerah kita, sejauh mana kita
mampu memprioritaskan. Karena saya berpikir sederhana, sederhana sekali.
Ketidakmajuan dari suatu daerah, itu andil yang besar adalah dari
pemimpinnya. Jadi kalau pemimpinnya meratap, bahwa daerah tidak maju,
berarti sama saja dia menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saya begitu
lebih baik saya mengundurkan diri. Karena kalau saya meratap, aduh
daerah saya miskin, daerah saya ini, justru karena itulah kerjaan dia
sebagai pemimpin bagaimana menyejahterakan rakyatnya.
Jadi kalau dia bilang bahwa daerahnya terisolir, kita harus balik tanya
ke dia, ya, apa yang Anda sudah lakukan sebagai pemimpin? Jangan hanya
sekadar meratap. Berbuatlah untuk jangan ikut terisolir. Nah, itulah
yang saya lakukan sekarang. Sehingga visi saya, misi saya adalah membuka
keterisolasian agar Provinsi Kalimantan Tengah sejahtera dan bermartabat.
Martabat ini filosofinya tinggi. Karena ada orang sejahtera yang tidak
bermartabat. Saya ingin Provinsi Kalimantan Tengah orang yang sejahtera
dan orang yang santun dan orang yang bermartabat. Dia menghargai siapa
pun yang datang.
Ada yang sejahtera, tapi dia tidak bermartabat, sudah, mabok-maboklah
dia kan? Ha ha ha….
Untuk mewujudkan visi yang sudah dijabarkan ke dalam 20-an Misi,
tentu harus didukung juga dengan dana. Kita masuk ke angka terutama
APBD-nya. Bagaimana Anda memperjuangan APBD yang lebih besar untuk
membangun itu?
Saya ini datang dengan APBD yang sangat kecil. Tahun 2005 hanya Rp 500
miliar sekian. Tahun 2004 baru Rp 300 miliar sekian. Tahun 2006 naik
sedikit, menjadi Rp 962 miliar.
Janji kampanye saya, kalau tahun 2008 APBD Kalteng tidak sampai Rp 1
triliun, saya mundur. Ngapain aku jadi pemimpin, kalau aku tidak mampu
menaikkan APBD. Buat apa jadi pemimpin, kalau hidup dari APBD yang hanya
sebegitu. Karena aku sadar betul, dengan APBD yang kurang itu, saya
bilang bagaimana kita bisa membangun daerah yang begitu luas?
Makanya saya bilang, tekad, harus satu triliun, lewat Rp 1 triliun tahun
2008. Saya bersyukur, tahun 2007, ternyata tembus pula Rp 1 triliun, kan.
Jadi belum sampai tahun 2008 sudah tembus.
Tahun 2007 sebesar Rp 1.082.000.000.000. Tembus Rp 1 triliun sebelum
waktunya. Karena apa, karena aku melihat, untuk membangun Kalimantan
Tengah, dengan APBD yang sebesar itu tidak akan sanggup. Makanya aku
selalu bilang begini. Pemerintah tanpa pemimpin jalan.
Maaf ini, saya bilang, daerah, provinsi, tanpa gubernur, tanpa wakil
gubernur, jalan. Suruh saja Sekda, suruh saja Kepala Dinas, Kepala Badan,
Kepala Biro jalan dia. Dengan anggaran yang biasa dikasih sekian, ya
sudah, jalan dia, tanpa pemimpin.
Nah, pemimpin tugasnya adalah mempercepat. Mempercepat pembangunan,
mempercepat pengentasan kemiskinan, mempercepat untuk meningkatkan
kesehatan, mempercepat untuk pendidikan. Itu pemimpin. Kalau mau jadi
pemimpin cuma sekadar dapat ini, ya jangan jadi pemimpin. Nah, itu tekad
aku.
Untuk bisa mencapainya?
Ya, dengan program. Aku beberkan, aku datang ke DPR, aku datang ke
menteri-menteri, ke Bapak Presiden aku sampaikan, ke Bapak Wapres aku
paparkan.
Mereka bilang, oh ini kebutuhan, apa yang kamu katakan benar. Panitia
Anggaran, mereka datang, aku nyanyi, aku realis. Tidak ada sesuatu yang
aku tutup tutupin. Ini panjang sekian jalan negara, ini tugas pemerintah,
tugas negara, untuk membangunnya, 85% rusak berat. Bagaimana bisa
rakyatku makmur kalau aku tidak dibantu. Oke, kami bantu. Aku bikin
gambarnya, slide-nya. Jadi aku jalan lagi… yang lagi laju, aku kasih
tahu.
Nah nanti aku lapor. Kemarin anggaran 2006, aku sudah selesaikan 26%,
ini hasilnya. Coba, bapak-bapak jalan, nanti dari Banjarmasin ke Kuala
Kapuas, kalau ada jalanku yang rusak kasih tahu aku, nanti aku benarin.
Jembatan, yang dulu tidak ada, sekarang sudah aku sambung. Ini tahun
2007, nanti ke Sampit aku bikin jalan yang bagus. Kalau misalnya nanti
aku cek terus. Nah, itu, program. Dengan program, dengan keadaan, dengan
kebutuhan, tenyata (bisa meyakinkan) betul.
Karena mereka ini begini. Mereka ini tidak akan mau memberikan kita
anggaran kalau kita tidak punya program. Dia kasih saya Rp 100 miliar,
kalau saya tidak ada program, walaupun teman, misalnya, dikasih. Tahun
2006 aku sudah lapor, aku sudah selesaikan semuanya, semuanya sudah
terserap sampai menteri saja bingung, kok baru bulan Juli penyerapan
kita sudah 80%. ‘Oh, ini Provinsi Kalimantan Tengah ini bukan main’, dia
bilang, ‘percepatannya’.
Karena memang kebutuhan kita, bukan karena gubernurnya. Duit ada,
kebutuhan, memang butuh, masa iya kita tidak melakukan. Orang saja susah
cari duit.
Jadi ada program, kemudian proyek tadi tidak bapak tangani,
didelegasikan kepada para staf?
Ya, sesuai dengan itu porsinya.
Bagaimana Anda mengawasinya?
Oh, selalu. Saya, setiap saat minta mereka untuk memaparkan, dan saya
juga selalu berkomunikasi dengan DPRD untuk melakukan pengawasan. Ada
proyek-proyek yang beberapa ini yang saya anggap gagal, yang saya anggap
tidak membuat sesuatu yang positif, saya minta pertanggungjawaban kepala
dinasnya, saya minta Bawasda turun.
Anda menghindari menangani proyek supaya…?
Ya, karena memang bukan bidangku.
Ya, supaya kepentingan yang tidak relevan terhindar. Tapi ketika
proyek itu ditangani Kepala Dinas PU dia kan juga punya lingkaran.
Bagaimana Anda memantau ini?
Yang penting bagi saya, pertama, proses. Jadi proses pelelangannya itu
berjalan sebagaimana mestinya.
Nah masalahnya diduga ada permainan, saya bilang, hentikan. Saya, kalau
suatu saat memang Kepala Dinas PU-nya melakukan permainan, dia tidak
sesuai dengan aturan yang berlaku, saya bilang ada polisi, ada jaksa,
silahkan tempuh prosedurnya.
Karena memang dia yang sesuai dengan itu porsinya yang harus bekerja
untuk itu. Bagi saya, lebih mudah lagi. Malahan lebih mudah bagi saya
karena saya tidak ada sesuatu yang membuat saya rikuh, tidak ada yang
membuat saya pakewuh. Siap setiap saat, saya bisa tegur dia. Siapa pun
yang menjadi pemenang karena memang dia mesti jadi pemenang, bukan
karena Teras Narang. Jadi mudah.
Kembali ke ide Anda supaya bisa diimplementasi. Tetapi tanpa didukung
oleh sumberdaya di birokrasi, karena ini masih sebuah masalah besar,
bagaimana ini ditangani?
Saya tinggal bilang sama mereka, kalau saya punya target, kalau saya
punya program, kalau saya melihat Anda tidak bisa mengikuti sesuai
dengan target dan program yang saya buat, mohon maaf, saya akan jalan
terus, dan saya akan tinggal Anda.
Jadi makanya jangan kaget, kalau ada Kepala Dinas atau Kepala Badan yang
baru tidak sampai setahun itu sudah berpindah. Itu, dalam kaitan
percepatan, dalam rangka saya ingin memiliki bahwa ini bukan jatah Anda
duduk di sini.
Bagaimana dengan pembinaan SDM, kan tidak cukup hanya dengan
melakukan mutasi. Ada upaya meningkatkan kualitas sumber dayanya?
Ya, itu tentunya kalau sesuai dengan itu porsinya, ada pendidikan dan
pelatihan yang secara administratif. Dan di samping itu pula, kita ini,
saya terbuka dengan Kepala Dinas dan Kepala Badan, kita sering bertemu,
dan sharing antara satu dengan yang lain, saya memberikan kesempatan
kepada mereka untuk 24 jam kontak saya.
Jadi apapun kendala di lapangan yang mereka hadapi selalu akan kita
selesaikan bersama. Karena saya tidak memandang bahwa Kepala Dinas ini
dia tahu semuanya, tidak juga. Atau sebaliknya, Teras Narang tahu
semuanya, tidak juga. Tapi antara satu dengan yang lain kita saling bagi,
saling mengisi. Saling mengisi pekerjaannya masing-masing.
Dan saya, misalnya kemana-mana, upayakan untuk mengajak orang-orang yang
saya anggap bisa melihat situasi dan kondisi. Misalnya seperti kemarin
saya ke China, saya juga bawa beberapa Kepala Dinas biar mereka tahu
perkembangan bangsa-bangsa lain, tekad mereka untuk membangun, dan itu
selalu saya dengang-dengungkan kepada mereka, dan saya minta
pertanggungjawaban mereka, dan ternyata sampai saat ini saya tidak
menemui kendala terhadap hal itu.
Nanti lima tahun ke depan seperti apa dalam bayangan Anda Provinsi
Kalimantan Tengah ini secara garis besar?
Ya, tentu yang saya harapkan adalah lebih, pembangunannya jauh lebih
konkrit. Dan yang terpenting bagi saya keterisolasian itu sudah mulai
terbuka. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah adanya suatu keyakinan
dari rakyat Provinsi Kalimantan Tengah, yang mereka berkata, “oh,
ternyata Kalimantan Tengah juga bisa menjadi seperti provinsi yang
lain.” Karena selama ini mereka selalu terkungkung.
Ya, selalu bertanya mereka, bisa nggak, ya, kita seperti ini, bisa nggak
kita seperti ini. Nah, saya sebagai orang yang di sini menyatakan bisa.
Jadi, membangun negara bisa dimulai dari Provinsi Kalimantan Tengah?
Betul.
Sudahkah Anda berpikir untuk mempersiapkan periode yang kedua?
Saya tidak pernah berpikir untuk periode berikutnya. Saya hanya berpikir,
saya melakukan sesuatu yang terbaik sampai dengan tahun 2010. Dan saya
tidak bercita-cita, untuk memikirkan, kalau saya duduk, untuk selalu
duduk di situ.
Saya ini orangnya mobilitasnya tinggi. Saya pernah bilang sama Pak Alex
Litay, saya tidak kepengen menjadi anggota DPR dua kali. Ternyata benar.
Saya juga begitu. Saya akan berupaya secara maksimal untuk bekerja,
bekerja dan bekerja sampai dengan 2010. Dan saya tidak pernah memikirkan,
untuk saya bisa dua periode. Malahan saya senang, kalau saya sudah
melakukan sesuatu yang terbaik sampai dengan 2010, kemudian ada
berikutnya yang mengganti saya yang jauh lebih baik.
Nggak enak, kalau duduk terus.
Anda adalah Ketua Majelis Adat Dayak Nasional. Tanpa bermaksud
berpikir sektarian, bagaimana Anda memposisikan suku Dayak dalam konteks
nasional supaya setara sejajar dengan suku-suku bangsa lainnya di
Indonesia?
Dayak ini adalah bahagian dari orang yang warga Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Orang Dayak menginginkan mereka juga ingin maju. Mereka
menginginkan bahwa mereka juga diakui punya eksistensi. Dan, hal ini
saya pikir wajar.
Mereka mempercayakan kepada Teras Narang untuk memimpin. Untuk mencapai
itu, saya bilang oke, saya mau, tetapi kita harus bersama. Jangan kita
hanya menginginkan sekadar kemajuan, tetapi kita tidak berusaha. Teras
Narang, yang orang Dayak, tidak akan jadi seperti ini kalau dia juga
tidak berusaha dari proses.
Nah, ini saya ajak mereka. Jabatan, kedudukan, bukan hadiah. Jabatan,
kedudukan, adalah karena anda mampu, karena ada pertolongan dari Tuhan
Yang Maha Kuasa, yang mendudukkan Anda di situ. Saya paling tidak setuju
terhadap orang yang menuntut, “eh ini jatah gue, lo.” Tidak. Kedudukan
itu bukan jatah Anda. Tetapi karena kemampuan Anda.
Itu yang saya sekarang sedang bawa ke masyarakat Dayak. Dan, saya bilang,
jangan macam-macam. Kita ini ada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kita harus konsentrasi, kita harus bekerja, dan kita harus
melakukan sesuatu.
Tambah berat mereka setelah menunjuk saya jadi Ketua. Saya bilang sama
mereka, kok, eh, mohon maaf, saya bilang, saya tidak mau Majelis Adat
Dayak Nasional ini dijadikan kendaraan politik. Kalau kita bermain
politik silakan masuk partai. Kalau ada yang mau maju jadi gubernur,
yang mau maju jadi bupati, dengan kendaraan Majelis Adat Dayak Nasional,
dia berhadapan dengan Teras Narang.
Kalau mau maju jadi gubernur, mau maju jadi bupati, silakan ada partai
politik. Majelis Adat Dayak Nasional adalah hanya untuk paguyuban yang
sifatnya peningkatan sumber daya manusia, agar Anda bisa sejahtera. Nah,
ini saya pakai lagi, lebih bermartabat. Gitu. Berat, berat.
Saya bilang sama yang tua-tua, benar, nih, menyuruh Teras Narang jadi
ketua, ini berat, lo, saya bilang. Nggak ada lagi yang boleh makai ini.
Makanya kalau ada yang… ‘lo, janjinya dulu, nggak begini, masa sekarang
mau maju jadi bupati aja musti duduk di Majelis Adat Dayak Nasional,
kalau mau jadi bupati sono, ada urusan partai itu’.
Jadi, enaknya Teras Narang ini nggak ada beban. Nothing to lose. Karena
apa, karena sudahlah plong plong saja. Kalau sudah begitu sudah enak
kita. Sudah lancar-lancar saja. Tidak ada yang kita bebani. ►ti-crs-ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|