A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P O L I T I S I
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai-Pemilu
  P E J A B A T
 ► Presiden
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Pemda
     ► KALTENG
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01042007  
   
  ► e-ti/esero  
  Biodata:

Nama:
Agustin Teras Narang, SH
Lahir:
Banjarmasin, 12 Oktober 1955
Agama:
Kristen Protestan
Jabatan:
Gubernur Kalimantan Tengah 2005-2010

Istri:
Moenartining T. Narang, SH
Anak:
- Agnesya Munita Narang (Lahir 22 Juni 1984)
- Bernika Yustiasiana Narang (Lahir 22 Januari 1986)
- Alfina Kathlinia Narang (Lahir 5 Mei 1990)
Ayah:
Waldemar August Narang
Ibu:
Adile Mangkin

Pendidikan:
- SD Kristen Banjarmasin (1967)
- SMP Bruder Banjarmasin (1967-1970)
- SMAN I Banjarmasin (1970-1973)
- S1 Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)

Pengalaman Kerja:
- Ketua LBH, Fakultas Hukum UKI, Jakarta (1977-1979)
- Pengacara Kantor Pengacara Kusnandar and Associates, Jakarta (1981-1982)
- Pengacara Kantor Pengacara RO Tambunan, SH, Jakarta (1981-1984)
- Pengacara Kantor Pengacara Albert Hasibuan, SH, Jakarta (1983-1989)
- Pimpinan Kantor Advokat dan Pengacara A. Teras Narang, SH and Associates (1989-1999)
- Anggota/Ketua Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 1999-2004
- Anggota/Ketua Komisi III (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 2004-2009
- Anggota Panitia Anggaran DPR RI
- Anggota Panja Bank Bali DPR RI
- Anggota Panja RUU Pemilu DPR RI
- Anggota Panja RUU Perpajakan DPR RI
- Anggota Panja RUU HAM DPR RI
- Anggota Panja RUU Kepulauan Riau DPR RI
- Anggota Panja Pemilihan Calon Hakim Agung DPR RI
- Anggota Pansus RUU Provinsi Gorontalo DPR RI
- Anggota Panja BI DPR RI
- Anggota Sub Komisi Otonomi Daerah DPR RI
- Koordinator Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan

Pengalaman Organisasi:
- Ketua BPM Fakultas Hukum UKI Jakarta (1974-1975)
- Ketua Sema Fakultas Hukum UKI Jakarta (1977-1979)
- Sekretaris Jenderal DPD Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, Jakarta (1986)
- Anggota Fraksi PDIP DPR RI
- Anggota Fraksi PDIP MPR RI
- Anggota DPD PDIP Kalimantan Tengah (1991)
- Ketua Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah, Jakarta (1992)
- Ketua Ikadin, Jakarta Timur (1993-1998)
- Wakil Sekretaris Jenderal PIKI (1993-1998)
- Sekretaris Dewan Pengurus Pusat Bantuan dan Pengabdian Hukum Indonesia (1982-1992)
- Sekretaris I Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia (1986-2004)
- Ketua Majelis Adat Nasional Dayak

Alamat kantor:
Jalan RTA Minolo No. 1, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Telp. (0536) 322.1353, 322.2000, 322.2845

Alamat Rumah:
Rumah Pribadi: Jl Kayu Putih VIII D No 30, Pulogadung, Jakarta Timur
Telp. (021) 45884.5937
 
 
     
 
MAJALAH TI-36

 

MTI-36: TOKOH UTAMA: 01  02  03  04  05  WAWANCARA: 06  TOKOH PILIHAN: 07  PERSPEKTIF: 08  09  DEPTHNEWS: 10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20  21  22  23  24  ==

 

Agustin Teras Narang

Peraih Penghargaan PPMI 2006


MTI-36-02: Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menggambarkan figur kepemimpinannya seperti layaknya seorang dirigen dalam orkestra. Semua alat musik dalam orkestra bisa hidup bunyi sendiri tetapi tanpa dibarengi keteraturan dan kebersamaan di bawah konduk sang dirijen suara orkestra itu tak memiliki makna apa-apa.

 

Kalimantan Tengah saat ini adalah provinsi yang paling sibuk membenahi dirinya sendiri, dikendalikan langsung oleh sang dirijen. Tak lama setelah dilantik pada 5 Agustus 2005, bersama Wakil Gubernur Achmad Diran, irama yang dimainkan oleh Teras Narang dalam membangun daerah Kalimantan Tengah segera memperoleh apresiasi dari pemerintah pusat.

 

Pada tanggal 10 November 2006 ia memperoleh piala dan piagam Penghargaan Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia (PPMI) 2006, yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi pemimpin yang rendah hati ini menyebut, “Penghargaan itu untuk rakyat Kalteng”.

 

“Kami berdua tidak akan berdaya, tidak bermakna apapun dan tidak akan bisa melaksanakan program dengan baik kalau tidak dibantu oleh Sekda, para Asisten, Kepala Dinas/Badan/Unit Satuan Kerja sampai di jajaran paling bawah,” kata mantan advokat terkemuka ini.


Badan dunia PBB untuk pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya UNESCO menetapkan tiga komponen untuk mengukur tingkat keberhasilan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Ketiga komponen itu Indeks Kesehatan yang diukur dari rata-rata usia harapan hidup, Indeks Pendidikan diukur dari dua aspek yaitu angka/tingkat melek aksara orang dewasa dan rata-rata lama pendidikan, serta Indeks Perekonomian diukur dari pengeluaran perkapita (purchasing power parity).


Berdasarkan komponen itu Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 10 November 2006 memberikan penghargaan kepada Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang sebagai peraih Piala dan Piagam Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia (PPMI) 2006, berlangsung di Jakarta dan diserahkan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Teras Narang adalah satu-satunya gubernur yang menerimanya, bersama-sama dengan satu walikota (Blitar), dan dua bupati yaitu Bupati Nabire dan Bupati Toba Samosir Monang Sitorus.


Provinsi Kalimantan Tengah yang masih memiliki banyak ketertinggalan di berbagai bidang, begitu diberi stimulus oleh pemimpinnya akan segera melaju dengan cepat. Buktinya, Gubernur Agustin Teras Narang bersama Wakil Gubernur Achmad Diran baru dilantik pada 5 Agustus 2005, namun dengan mencanangkan empat prioritas pembangunan yaitu infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perekonomian rakyat, cepat terasa dampak positifnya bagi masyarakat.


Keberhasilan pembangunan keempat sektor dalam waktu singkat, serta kuatnya komitmen pemimpinnya untuk membangun manusia, itulah yang dinilai oleh pemerintah pusat untuk memilih Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang sebagai peraih penghargaan PPMI 2006.


Sekadar catatan pembanding, kondisi kesejahteraan masyarakat Kalteng pada tahun 2005 menunjukkan, jumlah penduduk 1.912.747 jiwa, jumlah keluarga miskin 158.742 KK (35%), usia harapan hidup 71,98 tahun (2003), tingkat pengangguran 70.359 orang (88%), angka kematian bayi 32 per 10.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu 307 per 100.000 kelahiran hidup, jumlah balita gizi buruk tahun 2004, 252 orang (0,8%), serta balita busung lapar 16 orang.


Berikut tanya jawab dan penjelasan Gubernur Teras Narang perihal keberhasilannya meraih Penghargaan PPMI 2006, kepada wartawan Tokoh Indonesia dan dua wartawan dari Kantor Menko Kesra, Jakarta, berlangsung di Kantor Gubernur Kalteng Jalan RTA Milono No. 01, Palangkaraya. Gubernur didampingi oleh Kepala Biro Humas Pemprov Kalteng Dendul Toepak, dan staf Johny Toendan.

Apa yang menjadi prioritas Bapak selama menempati kursi Gubernur ini?


Masalah kebersihan masih selalu menjadi beban. Karena, ada sebuah kebiasaan jelek kita yang kurang memperhatikan kebersihan. Saya bilang, tanaman itu seperti kita: dia pengen disayang, dia pengen dibelai, dia pengen bersih. Kita bangun tiap pagi kan pengennya segar. Saya bilang, tanaman juga begitu.


Kita terbiasa untuk, saya akan keras ngomongnya, suka menganiaya lingkungan, suka menganiayai tanaman, suka menganiayai binatang. Padahal mereka kan perlu kasih, perlu belaian. Nah, ini yang selalu saya… saya bikin SABTU BERIMAN: Sabtu Bersih, Sabtu Indah, Sabtu Nyaman.


Orang tanya ke saya, “lo, Pak, apa hanya Sabtu yang beriman?” Saya bilang, “maunya saya sih setiap hari, tapi untuk awal ini saya mulai dari hari Sabtu.” Karena saya ikutin bahwa untuk kota, ada, “Jumat Bersih”. Kemudian ada beberapa kabupaten juga begitu. Ya, kita mulai dari yang kecil dululah. Biar tetap bersih, enak dilihat, enak dihuni dan jadi nyaman.

Berawal dari kebersihan?


Betul. Saya selalu, seperti yang saya bilang, mulai dari diri kita sendiri. Kita bawa dari lingkungan rumah kita dulu, lingkungan kantor, lingkungan kerja, baru kita lebih luas dan lebih luas.
Kalau kita berangkatnya dengan hati bersih, mau kerja juga enak. Melihat orang juga senyum terus. Turun mobil, Satpam (bilang) selamat pagi, selamat pagi. Tapi kalau kita dari rumah bawaannya sudah grasa grusu, Satpam ngomong, “selamat pagi,” kita udah repot.


Nah, spirit itu yang coba saya dengungkan terus, dan tidak pernah berhenti. Mungkin Humas sudah bosan dengar omongan saya. Karena saya nggak pernah berhenti. Dan saya menganggap itu nggak boleh berhenti. Karena, kembali saya bilang, kita ini gampang lupa.

Bagaimana soal kabut asap?


Minimal tahun depan, saya maunya tidak terjadi lagi yang sebesar itu. Karena prosesnya tidak seperti membalik tangan. Tetapi kesadaran. Nah, ini dari Sabtu Beriman dulu. Kalau lingkungan kita tertata rapih, gambut yang ada, lahan pekarangan kita manfaatkan secara baik, secara maksimal, itu bahagian dari upaya. Nah, hal-hal seperti ini yang menjadi obsesi saya, ke depan harus jauh lebih baik.


Kebakaran hutan bukan hanya mengganggu Kalteng. Di Kalteng saja mengganggu semua segi. Masalah sosial, ekonomi masyarakat, pendidikan dan kesehatan jadi terganggu. Bisa dibayangin, untuk ukuran sehat atau tidaknya udara, itu sudah di atas 140. Kalau sudah di atas 140, sudah mahagawat. Kita itu terjadi sampai 300 lebih. Dan itu sudah dalam keadaan luar biasa, KLB.


Nah, Anda bisa bayangin, anak kecil menghirup udara yang begitu kotor. Kalau lagi kabut asap, saya tidak bisa melihat lampu itu. Bisa dibayangin betapa menyedihkan keadaannya. Masker hanya salah satu penolong. Tapi saya pikir yang lebih bagus kita masuk ke dalam kedap ruangan, yang sama sekali nggak ada asapnya. Di sini saja saya harus pakai air cleaner (pembersih udara). Kita nggak mampu untuk mengatasinya. Itulah kondisi-kondisi yang kita harapkan bisa diperbaiki ke depan.

Melibatkan masyarakat peduli lingkungan, itu penting sekali?
Ya. Rakyat kita ini melihat kepada pimpinannya, akan mencontoh kepada pimpinannya. Kalau kita punya niat, kalau kita punya tekad untuk itu, kita mulai dari diri kita. Kembali ke masalah kebersihan, satu contoh saja, saya, kalau berangkat atau pulang dari Jakarta atau dari manapun, nggak pernah ke VIP. Saya selalu lewat terminal umum yang ibu dan bapak-bapak lewatin.


Kenapa? Karena saya merasa, kalau saya di sana (VIP): pertama, saya makin jauh dari rakyat. Kedua, saya tidak bisa melihat keadaan yang dirasakan oleh rakyat. Dan yang paling penting, yang saya nggak pernah berhenti, masalah kebersihannya. Jadi kalau tadi lewat situ, kalau ada yang kotor, kasih tahu saya, SMS saya deh. Biar bergulir terus.
Memang masalahnya kecil saja (tidak lewat VIP), tetapi itu punya makna besar sekali. Itu kan pintu gerbang kita. Ibu dan bapak-bapak sebelum melihat Kalteng, kan melihat airportnya dulu. Kalau tertata bersih, orang Medan bilang, “alamak bersih kali.”

Anda memperoleh penghargaan PPMI (Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia), agar masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha berprakarsa membenahi pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM. Sekarang, kebersihan dan kesehatan lingkungan sudah menjadi barang mahal. Seperti masalah DBD di Jakarta awalnya masalah kebersihan, juga flu burung?


Betul, persis, betul sekali. Kita, sakit, karena lingkungan. Apa pun semuanya karena lingkungan. Tetapi kalau kita berada di lingkungan yang bersih, di lingkungan yang nyaman, penyakit hilang, hati sejuk, emosi pun tereda. Jadi kalau teman-teman wartawan wawancara, masih bisa senyum terus.


Pemimpin kita sekarang perlu itu. Saya lihat teman-teman saya, yang di DPR, yang jadi menteri, kok cepat benar emosional. Baru ditanya wartawan sedikit sudah merah mukanya. Pernyataannya yang keras-keras saja. Saya kadang-kadang bingung, udah deh, jalan-jalan ke Kalteng, biar sejuk sedikit, saya bilang begitu.


Jadi, kembali kepada masalah prakarsa, ada satu hal yang menarik di situ. Kita harus berbicara masalah kualitas. Seseorang itu, berada di situ, apa sih yang harus dia lakukan untuk mengangkat harkat dan martabatnya.


Kalau masalah pendidikan, UUD 1945 sudah mensyaratkan itu urusan pemerintah. Masalah kemiskinan, fakir miskin, itu urusan pemerintah. Masalah kesehatan, itu urusan pemerintah. Karenanya, kita sebagai pemimpin harus tahu apa yang harus kita lakukan.


Kalau kita tidak berempati kepada masyarakat, kalau Teras Narang hanya duduk saja di belakang meja, tidak mengajak Pak Dendul (Toepak, Kepala Biro Humas Pemprov Kalimantan Tengah) turun ke bawah, tidak berdialog dengan masyarakat, komunikasi kita tertutup hanya karena soal protokoler, saya ini sedih. Saya dikasih waktu, tetapi saya juga harus mengikuti protokoler, karena semuanya kepengen ketemu, jam segini, jam segini, jam segini. Nah, apa yang harus saya lakukan dalam berdialog dengan masyarakat? Salah satunya dengan SMS. Dari situ saya bisa tahu kejadian di Lamandau, saya mau tahu kejadian, misalnya di Murung Raya, bukan dari pemerintah. Bukan dari bupatinya, kalau dari bupatinya laporannya bagus terus.


Tetapi yang paling penting yang ada di balik layar (behind the screen). Nah, Kalimantan Tengah, saya rasa kita harus memerlukan orang yang mampu untuk menciptakan prakarsa pembangunan manusia. Karena infrastrukturnya amat sangat lemah, pendidikannya sangat memprihatinkan, demikian juga kesehatan dan perekonomian yang berbasis kerakyatan tidak jalan.


Bapak bisa bayangkan, dari DIPA tahun 2006 sekitar Rp 7,6 triliun, yang dirasakan oleh rakyat golongan yang bawah, tidak sampai 10 persen, hanya sekitar 9,8 persen. Berarti, 90 persen lebih dinikmati oleh menengah ke atas.


Nah, apa yang akan kita lakukan? Tadi HIPMI juga datang, saya bilang ayo, ciptakanlah ide-ide yang membangun manusia, yang mengangkat harkat dan martabat mereka, misalnya transmigrasi. Saya bilang, kita jangan tempatkan para transmigran di lokasi yang jauh. Saya paling nggak suka konsep ini. Misalnya, Palangkaraya, kemudian transmigran kita letakkan jauh. Saya bilang, kita itu kaya apa ya. Jadi kita mulai dari satu titik, kita bikin bundaran satu, bundaran dua, bundaran tiga, empat, lima dan seterusnya.


Jangan kita bikin titik kemudian bundaran jauh. Jadi hanya mengejar (sarang laba-laba), betul. Jadi kita mulai dari itu. Dari satu titik, lantas kita kembangkan. Termasuk transmigrasi. Jangan kita mengarahkan mereka ke daerah yang membuat mereka makin sulit. Mereka itu datang, mau senang, mau mengangkat harkat dan martabat mereka, mau meningkatkan kehidupan mereka dan mau hidup layak.


Tapi kalau mereka ditempatkan di tempat yang jauh, aksesnya sulit, berarti kita menciptakan kemiskinan baru. Berarti kita hanya memindahkan kemiskinan dan memindahkan kesengsaraan orang. Kalau bapak-bapak ibu yang sudah sejahtera, dalam tanda kutip, ya pengennya tetap saja di Jakarta.


Makanya aku bilang, memimpin Jakarta jangan hanya dari Jakarta. Kita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, membuat rakyat kita makmur, sejahtera, bisa dari daerah.

Maksudnya, dari Palangkaraya juga bisa?


Itu obsesiku. Obsesiku kaya begitu. Kalau orang mau contoh good governance (pemerintahan yang baik), saya bilang, datanglah ke Kalimantan Tengah.


Nah, ini alasannya kenapa saya harus melakukan itu, untuk menyakinkan para kepala dinas, kepala badan dan kepala biro: Anda bisa; Anda mampu kalau kita punya spirit yang sama. Ayo, saya bilang, kita bangun ini bangsa. Saya nggak bilang bangun Kalteng saja. Bangun bangsa mulai dari Kalteng.


Teman-teman pada tanya, kenapa sih Ras, lo, udah enak-enak jadi ketua komisi, dulunya komisi dua, sekarang komisi tiga, mau jadi gubernur? Tempatnya susah lagi. Saya bilang, itu yang menarik. Karena tekad saya, saya bilang, bersama-sama dengan rakyat. Kalau bukan Pilkada saya tidak mau jadi gubernur, saya tidak mau jadi kepala daerah. Karena Pilkada, karena rakyat yang langsung memilih, saya bilang baru saya mau.


Kalau, misalnya, yang memilih masih DPRD, aku lebih baik di Jakarta. Karena ini yang memilih rakyat, oke, aku maju.

Apa tantangan yang terberat dalam meningkatkan kualitas SDM?


Geografis. Karena konsep penyebaran belum berjalan. Transmigrasi, kembali saya katakan tadi, cenderung di tempat-tempat yang jauh.


Tantangan pertama geografis. Kemudian kedua, infrastruktur. Bisa dibayangkan, mereka bisa menanam apa pun, mereka bisa bertani apa pun, tetapi mereka tidak mampu untuk mendistribusi, membawa hasil perkebunannya, hasil pertanian ke pasar dengan baik. Mereka terkendala oleh infrastruktur, mereka terkendala oleh keadaan alam, sungai kita yang makin lama makin mendangkal, akibatnya hanya busuk di halaman rumah.


Nah, inilah yang saya anggap sebagai tantangan buat saya. Makanya, dari 12 visi misi yang ada dalam buku itu, saya prioritaskan keempat dulu: infrastruktur, apakah itu jalan, jembatan, pelabuhan udara, pelabuhan laut, dermaga sungai, terminal bis, itu yang saya genjot dulu. Yang utama jalan dan jembatan.


Ketika saya menjadi gubernur, 85 persen jalan negara yang menghubungkan antarprovinsi, panjangnya 1.714 kilometer, 85 persen dalam keadaan rusak berat. Jadi yang bisa dinikmati hanya 15 persen. Tahun 2006 saya bersyukur, karena doa orang banyak, saya bisa memperkecil dari yang 85%, itu hilang 26%.


Yang tersisa sekitar 63%. Kemudian untuk tahun 2007, saya juga menargetkan sekitar 20%-25%. Jadi sisa sekitar 40%. Tahun 2008 sampai 2009, saya mengharapkan, untuk jalan nasional semuanya dalam keadaan memadai. Sehingga empat provinsi: Kalimantan Tengah, Selatan, Timur dan Barat bisa terintegrasi.


Dan kebetulan juga, saya dipilih sebagai koordinator untuk regional Kalimantan. Namanya Forum Kerjasama Pembangunan Regional Kalimantan. Saya ubah namanya menjadi Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan di Kalimantan.


Saya bilang, kalau judulnya nggak diubah, kerjasama, ya sekadar kongkow-kongkow. Saya nggak mau, kalau saya koordinatornya, saya tidak mau sekadar kongkow-kongkow. Saya bilang kita harus ada target. Nah, itulah yang saya canangkan, tahun 2009, Trans Kalimantan mesti selesai. Ada teman saya gubernur bilang, kalau daerah saya begini-begini, mudah-mudahan kita dapat mukjizat. Loh, saya bilang, kok, itu bukan mukjizat, tapi haknya kita. Itu hak dari regional Kalimantan untuk memperoleh Trans Kalimantan.


Hasil bumi, hasil hutan Kalimantan bisa bikin kita untung banyak dan bisa buat bayar utang. Jadi saya bilang itu bukan mukjizat, itu sesuatu yang harus kita peroleh. Saya bilang, tahun 2009, Trans Kalimantan mesti selesai.

Kalau itu sudah selesai dampaknya besar sekali?


Amat sangat. Kembali kepada masyarakat, infrastruktur nadi utama dalam percepatan pembangunan, dalam peningkatan kehidupan masyarakat. Tidak ada urusan, kalau infrastrukturnya jelek. Siapa pun yang jadi pimpinan takkan mampu untuk mengentaskan kemiskinan. Itu yang kita kerja all out, yang jadi obsesi saya. Dan itu yang tidak pernah berhenti saya dengung-dengungkan untuk tercapai.


Revitalisasi itu penajaman proyek yang sudah ada. Banyak proyek kita yang sudah ada, tetapi kita tidak mampu untuk memaknainya, memvitalisasikannya, membuat dia menjadi vital, membuat dia menjadi bermakna. Karena apa, karena dulu konsep itu hanya sekadar membangun. Dulu konsep itu basisnya program. Jadi kalau pimpinan sudah mampu membangun, itu sudah prestasi. Tetapi saya bilang tidak bisa. Yang dibangun harus bermanfaat untuk kepentingan rakyat banyak.


Contoh. Kalimantan Tengah dapat anggaran Rp 14 triliun untuk perkebunan besar rakyat. Kita, targetnya, sampai tahun 2010 akan membangun lebih kurang 152.000 hektar untuk perkebunan karet rakyat, dan 450.000 hektar untuk perkebunan sawit rakyat. Dan itu target kita sampai dengan 2010, sepenuhnya milik rakyat. Bukan lagi milik si A atau si B.


Sedang pengusaha sebagai developer. Karena apa, karena anggaran diperoleh dari bank, dengan kredit. Tetapi kreditnya dengan bunga yang sangat rendah. Sekarang kredit komersial sekitar 16 persen per tahun, mereka diberi 10 persen, sisanya enam persen disubsidi oleh negara. Dan, masyarakat anvalisnya perkebunan besar. Jadi perkebunan-perkebunan yang ada ini menjadi anvalis, dan mereka developer-nya, mereka yang membangun plasma-inti. Tetapi plasma-inti di sini, bukan intinya yang ke depan, tetapi plasmanya, rakyatnya.
Karena itu, pemiliknya adalah rakyat, pendukungnya perkebunan besar. Kita balik. Itu, 2010. Nah itu bahagian dari itu, dalam rangka pemberdayaan masyarakat, dan membuat mereka lebih bermakna.

Kepemimpinan buat suatu daerah sangat penting. Kalau pemimpinnya tidak kuat pembangunannya biasa-biasa saja. Contoh, di Blitar guru-guru privatnya dapat insentif Rp 150 ribu perbulan?


Kalau kita, damang di sini. Damang itu pemangku adat. Karena saya berpandangan bahwa dia ini adalah sebagai ujung tombak terhadap masyarakat. Jadi kita ada 67 damang, kita kasih insentif Rp 300.000 per bulan.

Di beberapa daerah guru tidak diperhatikan. Padahal mereka penggerak di masyarakat. Makanya kepemimpinan sangat penting?


Dengan kebersamaan, ya. Jadi harus mampu memberikan semacam landasan bersama. Jadi sesuatu dasar kebersamaan.


Jadi, istilahnya, kita bertujuh. Kalau kita punya satu visi, punya satu misi, punya tujuan yang sama, gampang. Kita bertujuh ini berbeda antara satu dengan yang lain. Saya lagi ngomong begini, bapak berpikirnya ke mana, ibu berpikirnya ke mana, pasti. Tetapi kalau kita punya tujuan yang sama, oke, lupain pikiran masing-masing, ya, Anda boleh berpikir lain, tapi tujuan kita sama.


Nah, itulah yang saya istilahkan sebagai orkestra. Menarik. Ini, kalau aku cerita Pak Dendul mesti sabar, ya. Orkestra, itu pemimpinnya dirijen. Dia yang mengatur. Ada yang main gitar, ada yang ngebas, ada yang main drum, ada yang peniup flute dan terompet. Oke, Anda pegang alat yang berbeda-beda. Kalau dibunyiin sendiri-sendiri jalan dia, tapi tidak tahu iramanya ke mana.


Nah, karena masing-masing punya kemampuan dan talenta masing-masing, jalan. Tapi karena kalian berenam ini mempercayakan aku menjadi dirijen, sekarang aku cari lagu yang bagus, ya. Lagunya, Song of Joy, atau Mabuk Lagi. Ini lagunya, setuju, setuju, oke, kau mainkan ini, kau mainkan ini, iramanya begini. Coba ambil dulu suara, cocok. Sekarang kita sama-sama, Mabuk Lagi, ya, mulai.


Nah, ini, orkestra, sehingga terciptalah suatu irama, suatu alunan yang nikmat didengar dengan judul, Mabuk Lagi. Pemimpin, tidak perlu kuat-kuat bangat. Pemimpin harus kuat dalam pengelolaan. Oke, kita juga memerlukan dirijen yang mampu mengakomodir, bukan dengan kekerasan, bukan dengan kekuatan. Tetapi dengan visi, misi, dan alunan yang sama. Kita ini, dari era otoriter, tiba-tiba berubah sangat luar biasa dipegang oleh Pak Habibie, yang membuka semua akses, sampai dulu ada UU No. 22/1999, otonomi itu diberikan kepada kabupaten-kabupetan/kota, yang akibatnya gubernurnya pada saat itu diinjak-injak. Realitas, kok, karena kondisi politik kita memungkinkan untuk seperti itu.


Nah, sekarang sudah mulai di era demokrasi. Demokratisasi, yang semua orang bisa ngomong, yang semua orang bisa marah, yang semua orang bisa SMS. Dan ini tidak bisa hanya dinakhodai oleh orang yang strong leader (kuat condong otoriter). Boleh dia kuat, strong for himself, not for the people (kuat untuk dirinya, tapi bukan untuk rakyat). Karena pada saat dia kuat untuk rakyat, waduh, Pak, itu gulungannya tsunami, betul Pak.


Tetapi kalau dia kuat untuk dirinya, dia punya kepercayaan diri yang kuat, bahwa dia bisa melakukan sesuatu, dengan tidak ada keragu-raguan: I’am on the right track, so I have to do something. (Saya berada di jalur yang benar dan saya harus melakukan sesuatu).


Nah, ini namanya kuat dari diri sendiri. Kuat dari diri sendiri, bukan kuat untuk rakyat. Saya tidak berani melotot, kan, kalau tidak aku tidak akan masuk majalah Tokoh (Indonesia), kan, artinya begitu. Nah, kuat di sini artinya adalah dari pribadi.
Kuat di dalam menentukan kebijakan. Makanya saya bersyukur juga, ini mungkin pemberian dari Tuhan. Kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang menguasai hukum dengan baik. Maaf, Pak, walaupun dulu saya dari pengacara, ya, kita memerlukan itu. Dan dia harus menguasai hukum dengan baik, dan dia harus orang yang pernah merasakan menjadi anggota DPR.


Aku kalau udah ngobrol begini, ini sekaligus juga aku curhat. Kalau ngomong di forum, yang seperti ini, kayanya tidak pas, aku tidak bisa senyum-senyum begini. Nanti orang bilang, ini gubernurnya marah-marah terus. Jadi aku lampiaskan ke ibu dan bapak-bapak.


Tapi, sori lo, kadang-kadang ngegemasin (sedih) kalau melihat situasi rakyat kita sekarang. Ada nggak, ibu dan bapak-bapak, punya ide yang sama nggak, ada sesuatu, aduh, ini bisa, bisa, gitu. Coba deh, yang di bagian Kesejahteraan Rakyat ini. Gemas, kenapa sih orang mesti antri beli minyak tanah. Kenapa sekolah pergi berjalan jauh, penyakit demam berdarah naik. Gemas, itu yang terjadi sama saya.


Kenapa orang mesti jauh-jauh untuk memeriksa anaknya sakit, kenapa tidak dibangun Pusduk, padahal duit kita ada. Rasanya, wah, tapi itu yang memacu adrenalin, ya.
Ingat dulu itu di Hongkong ada sars, waktu kita roadshow ke China. Itu sejak sars, dulu di Guangzhou. Di Guangzhou, apa pun binatang dimakan, dan apapun binatang jadi makanan enak. Kelelawar jadi, ular jadi, buaya jadi. Sejak sars, kehidupan masyarakat itu berubah. Mereka cenderung selektif. Mereka, bisa, tapi mereka tidak lagi. Jadi itu berakibat lain. Akibat penyakit, mereka mengubah pola hidup. Yang dulu pola hidup mereka mentolerir makanan apa pun, sekarang mereka selektif.


Nah, kalau kita ini saya lihat, kembali, gampang lupa. Ini, dulu akibat flu burung bla-bla-bla, dua bulan tiga bulan tidak ada kejadian lagi. Flu burung beberapa waktu tidak ada. Kira-kira empat lima bulanlah, timbul lagi di Sumatera Utara. Kemarin, Kota Waringin Barat, dari empat sampel, ini masih di unggas, dua sudah positif. Tapi untung bupatinya tegas. Satu kilometer di daerah itu unggas dimusnahkan, dan tidak boleh masuk dan tidak boleh keluar. Jadi benar-benar diisolasi.
Atau demam berdarah, ngeri. Ini, kita sudah berapa yang kena di sini, di daerah Panarung hampir sembilan. Mudah-mudahan badai cepat berlalu. ►ti-crs-ht

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)