| |
C © updated 01042007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata:
Nama:
Agustin Teras Narang, SH
Lahir:
Banjarmasin, 12 Oktober 1955
Agama:
Kristen Protestan
Jabatan:
Gubernur Kalimantan Tengah 2005-2010
Istri:
Moenartining T. Narang, SH
Anak:
- Agnesya Munita Narang (Lahir 22 Juni 1984)
- Bernika Yustiasiana Narang (Lahir 22 Januari 1986)
- Alfina Kathlinia Narang (Lahir 5 Mei 1990)
Ayah:
Waldemar August Narang
Ibu:
Adile Mangkin
Pendidikan:
- SD Kristen Banjarmasin (1967)
- SMP Bruder Banjarmasin (1967-1970)
- SMAN I Banjarmasin (1970-1973)
- S1 Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)
Pengalaman Kerja:
- Ketua LBH, Fakultas Hukum UKI, Jakarta (1977-1979)
- Pengacara Kantor Pengacara Kusnandar and Associates, Jakarta
(1981-1982)
- Pengacara Kantor Pengacara RO Tambunan, SH, Jakarta (1981-1984)
- Pengacara Kantor Pengacara Albert Hasibuan, SH, Jakarta (1983-1989)
- Pimpinan Kantor Advokat dan Pengacara A. Teras Narang, SH and
Associates (1989-1999)
- Anggota/Ketua Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 1999-2004
- Anggota/Ketua Komisi III (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI 2004-2009
- Anggota Panitia Anggaran DPR RI
- Anggota Panja Bank Bali DPR RI
- Anggota Panja RUU Pemilu DPR RI
- Anggota Panja RUU Perpajakan DPR RI
- Anggota Panja RUU HAM DPR RI
- Anggota Panja RUU Kepulauan Riau DPR RI
- Anggota Panja Pemilihan Calon Hakim Agung DPR RI
- Anggota Pansus RUU Provinsi Gorontalo DPR RI
- Anggota Panja BI DPR RI
- Anggota Sub Komisi Otonomi Daerah DPR RI
- Koordinator Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan
Pengalaman Organisasi:
- Ketua BPM Fakultas Hukum UKI Jakarta (1974-1975)
- Ketua Sema Fakultas Hukum UKI Jakarta (1977-1979)
- Sekretaris Jenderal DPD Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, Jakarta
(1986)
- Anggota Fraksi PDIP DPR RI
- Anggota Fraksi PDIP MPR RI
- Anggota DPD PDIP Kalimantan Tengah (1991)
- Ketua Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah, Jakarta (1992)
- Ketua Ikadin, Jakarta Timur (1993-1998)
- Wakil Sekretaris Jenderal PIKI (1993-1998)
- Sekretaris Dewan Pengurus Pusat Bantuan dan Pengabdian Hukum Indonesia
(1982-1992)
- Sekretaris I Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia
(1986-2004)
- Ketua Majelis Adat Nasional Dayak
Alamat kantor:
Jalan RTA Minolo No. 1, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Telp. (0536) 322.1353, 322.2000, 322.2845
Alamat Rumah:
Rumah Pribadi: Jl Kayu Putih VIII D No 30, Pulogadung, Jakarta
Timur
Telp. (021) 45884.5937
|
|
| |
|
|
|
|
| MAJALAH TI-36 |
|
|
 |
MTI-36: TOKOH UTAMA: 01
02
03
04
05
WAWANCARA: 06
TOKOH PILIHAN:
07 PERSPEKTIF:
08
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24 == Agustin Teras Narang
Peraih Penghargaan PPMI 2006
MTI-36-02:
Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menggambarkan figur
kepemimpinannya seperti layaknya seorang dirigen dalam orkestra. Semua
alat musik dalam orkestra bisa hidup bunyi sendiri tetapi tanpa
dibarengi keteraturan dan kebersamaan di bawah konduk sang dirijen suara
orkestra itu tak memiliki makna apa-apa.
Kalimantan Tengah saat ini
adalah provinsi yang paling sibuk membenahi dirinya sendiri,
dikendalikan langsung oleh sang dirijen.
Tak lama setelah dilantik
pada 5 Agustus 2005,
bersama Wakil Gubernur
Achmad Diran, irama yang dimainkan oleh Teras Narang dalam membangun
daerah Kalimantan Tengah segera memperoleh apresiasi dari pemerintah
pusat.
Pada tanggal 10 November 2006 ia memperoleh piala dan piagam
Penghargaan Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia (PPMI) 2006, yang
diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi
pemimpin yang rendah hati ini menyebut, “Penghargaan itu untuk rakyat
Kalteng”.
“Kami berdua tidak akan berdaya, tidak bermakna apapun dan
tidak akan bisa melaksanakan program dengan baik kalau tidak dibantu
oleh Sekda, para Asisten, Kepala Dinas/Badan/Unit Satuan Kerja sampai di
jajaran paling bawah,” kata mantan advokat terkemuka ini.
Badan dunia PBB untuk pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya
UNESCO menetapkan tiga komponen untuk mengukur tingkat keberhasilan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).
Ketiga komponen itu Indeks Kesehatan yang diukur dari rata-rata usia
harapan hidup, Indeks Pendidikan diukur dari dua aspek yaitu angka/tingkat
melek aksara orang dewasa dan rata-rata lama pendidikan, serta Indeks
Perekonomian diukur dari pengeluaran perkapita (purchasing power
parity).
Berdasarkan komponen itu Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 10
November 2006 memberikan penghargaan kepada Gubernur Kalimantan Tengah
Agustin Teras Narang sebagai peraih Piala dan Piagam Prakarsa
Pembangunan Manusia Indonesia (PPMI) 2006, berlangsung di Jakarta dan
diserahkan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Teras
Narang adalah satu-satunya gubernur yang menerimanya, bersama-sama
dengan satu walikota (Blitar), dan dua bupati yaitu Bupati Nabire dan
Bupati Toba Samosir Monang Sitorus.
Provinsi Kalimantan Tengah yang masih memiliki banyak ketertinggalan di
berbagai bidang, begitu diberi stimulus oleh pemimpinnya akan segera
melaju dengan cepat. Buktinya, Gubernur Agustin Teras Narang bersama
Wakil Gubernur Achmad Diran baru dilantik pada 5 Agustus 2005, namun
dengan mencanangkan empat prioritas pembangunan yaitu infrastruktur,
pendidikan, kesehatan, dan perekonomian rakyat, cepat terasa dampak
positifnya bagi masyarakat.
Keberhasilan pembangunan keempat sektor dalam waktu singkat, serta
kuatnya komitmen pemimpinnya untuk membangun manusia, itulah yang
dinilai oleh pemerintah pusat untuk memilih Gubernur Kalimantan Tengah
Teras Narang sebagai peraih penghargaan PPMI 2006.
Sekadar catatan pembanding, kondisi kesejahteraan masyarakat Kalteng
pada tahun 2005 menunjukkan, jumlah penduduk 1.912.747 jiwa, jumlah
keluarga miskin 158.742 KK (35%), usia harapan hidup 71,98 tahun (2003),
tingkat pengangguran 70.359 orang (88%), angka kematian bayi 32 per
10.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu 307 per 100.000 kelahiran
hidup, jumlah balita gizi buruk tahun 2004, 252 orang (0,8%), serta
balita busung lapar 16 orang.
Berikut tanya jawab dan penjelasan Gubernur Teras Narang perihal
keberhasilannya meraih Penghargaan PPMI 2006, kepada wartawan Tokoh
Indonesia dan dua wartawan dari Kantor Menko Kesra, Jakarta, berlangsung
di Kantor Gubernur Kalteng Jalan RTA Milono No. 01, Palangkaraya.
Gubernur didampingi oleh Kepala Biro Humas Pemprov Kalteng Dendul Toepak,
dan staf Johny Toendan.
Apa yang menjadi prioritas Bapak selama menempati kursi Gubernur ini?
Masalah kebersihan masih selalu menjadi beban. Karena, ada sebuah
kebiasaan jelek kita yang kurang memperhatikan kebersihan. Saya bilang,
tanaman itu seperti kita: dia pengen disayang, dia pengen dibelai, dia
pengen bersih. Kita bangun tiap pagi kan pengennya segar. Saya bilang,
tanaman juga begitu.
Kita terbiasa untuk, saya akan keras ngomongnya, suka menganiaya
lingkungan, suka menganiayai tanaman, suka menganiayai binatang. Padahal
mereka kan perlu kasih, perlu belaian. Nah, ini yang selalu saya… saya
bikin SABTU BERIMAN: Sabtu Bersih, Sabtu Indah, Sabtu Nyaman.
Orang tanya ke saya, “lo, Pak, apa hanya Sabtu yang beriman?” Saya
bilang, “maunya saya sih setiap hari, tapi untuk awal ini saya mulai
dari hari Sabtu.” Karena saya ikutin bahwa untuk kota, ada, “Jumat
Bersih”. Kemudian ada beberapa kabupaten juga begitu. Ya, kita mulai
dari yang kecil dululah. Biar tetap bersih, enak dilihat, enak dihuni
dan jadi nyaman.
Berawal dari kebersihan?
Betul. Saya selalu, seperti yang saya bilang, mulai dari diri kita
sendiri. Kita bawa dari lingkungan rumah kita dulu, lingkungan kantor,
lingkungan kerja, baru kita lebih luas dan lebih luas.
Kalau kita berangkatnya dengan hati bersih, mau kerja juga enak. Melihat
orang juga senyum terus. Turun mobil, Satpam (bilang) selamat pagi,
selamat pagi. Tapi kalau kita dari rumah bawaannya sudah grasa grusu,
Satpam ngomong, “selamat pagi,” kita udah repot.
Nah, spirit itu yang coba saya dengungkan terus, dan tidak pernah
berhenti. Mungkin Humas sudah bosan dengar omongan saya. Karena saya
nggak pernah berhenti. Dan saya menganggap itu nggak boleh berhenti.
Karena, kembali saya bilang, kita ini gampang lupa.
Bagaimana soal kabut asap?
Minimal tahun depan, saya maunya tidak terjadi lagi yang sebesar itu.
Karena prosesnya tidak seperti membalik tangan. Tetapi kesadaran. Nah,
ini dari Sabtu Beriman dulu. Kalau lingkungan kita tertata rapih, gambut
yang ada, lahan pekarangan kita manfaatkan secara baik, secara maksimal,
itu bahagian dari upaya. Nah, hal-hal seperti ini yang menjadi obsesi
saya, ke depan harus jauh lebih baik.
Kebakaran hutan bukan hanya mengganggu Kalteng. Di Kalteng saja
mengganggu semua segi. Masalah sosial, ekonomi masyarakat, pendidikan
dan kesehatan jadi terganggu. Bisa dibayangin, untuk ukuran sehat atau
tidaknya udara, itu sudah di atas 140. Kalau sudah di atas 140, sudah
mahagawat. Kita itu terjadi sampai 300 lebih. Dan itu sudah dalam
keadaan luar biasa, KLB.
Nah, Anda bisa bayangin, anak kecil menghirup udara yang begitu kotor.
Kalau lagi kabut asap, saya tidak bisa melihat lampu itu. Bisa
dibayangin betapa menyedihkan keadaannya. Masker hanya salah satu
penolong. Tapi saya pikir yang lebih bagus kita masuk ke dalam kedap
ruangan, yang sama sekali nggak ada asapnya. Di sini saja saya harus
pakai air cleaner (pembersih udara). Kita nggak mampu untuk
mengatasinya. Itulah kondisi-kondisi yang kita harapkan bisa diperbaiki
ke depan.
Melibatkan masyarakat peduli lingkungan, itu penting sekali?
Ya. Rakyat kita ini melihat kepada pimpinannya, akan mencontoh kepada
pimpinannya. Kalau kita punya niat, kalau kita punya tekad untuk itu,
kita mulai dari diri kita. Kembali ke masalah kebersihan, satu contoh
saja, saya, kalau berangkat atau pulang dari Jakarta atau dari manapun,
nggak pernah ke VIP. Saya selalu lewat terminal umum yang ibu dan
bapak-bapak lewatin.
Kenapa? Karena saya merasa, kalau saya di sana (VIP): pertama, saya
makin jauh dari rakyat. Kedua, saya tidak bisa melihat keadaan yang
dirasakan oleh rakyat. Dan yang paling penting, yang saya nggak pernah
berhenti, masalah kebersihannya. Jadi kalau tadi lewat situ, kalau ada
yang kotor, kasih tahu saya, SMS saya deh. Biar bergulir terus.
Memang masalahnya kecil saja (tidak lewat VIP), tetapi itu punya makna
besar sekali. Itu kan pintu gerbang kita. Ibu dan bapak-bapak sebelum
melihat Kalteng, kan melihat airportnya dulu. Kalau tertata bersih,
orang Medan bilang, “alamak bersih kali.”
Anda memperoleh penghargaan PPMI (Prakarsa Pembangunan Manusia
Indonesia), agar masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha
berprakarsa membenahi pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM. Sekarang,
kebersihan dan kesehatan lingkungan sudah menjadi barang mahal. Seperti
masalah DBD di Jakarta awalnya masalah kebersihan, juga flu burung?
Betul, persis, betul sekali. Kita, sakit, karena lingkungan. Apa pun
semuanya karena lingkungan. Tetapi kalau kita berada di lingkungan yang
bersih, di lingkungan yang nyaman, penyakit hilang, hati sejuk, emosi
pun tereda. Jadi kalau teman-teman wartawan wawancara, masih bisa senyum
terus.
Pemimpin kita sekarang perlu itu. Saya lihat teman-teman saya, yang di
DPR, yang jadi menteri, kok cepat benar emosional. Baru ditanya wartawan
sedikit sudah merah mukanya. Pernyataannya yang keras-keras saja. Saya
kadang-kadang bingung, udah deh, jalan-jalan ke Kalteng, biar sejuk
sedikit, saya bilang begitu.
Jadi, kembali kepada masalah prakarsa, ada satu hal yang menarik di
situ. Kita harus berbicara masalah kualitas. Seseorang itu, berada di
situ, apa sih yang harus dia lakukan untuk mengangkat harkat dan
martabatnya.
Kalau masalah pendidikan, UUD 1945 sudah mensyaratkan itu urusan
pemerintah. Masalah kemiskinan, fakir miskin, itu urusan pemerintah.
Masalah kesehatan, itu urusan pemerintah. Karenanya, kita sebagai
pemimpin harus tahu apa yang harus kita lakukan.
Kalau kita tidak berempati kepada masyarakat, kalau Teras Narang hanya
duduk saja di belakang meja, tidak mengajak Pak Dendul (Toepak, Kepala
Biro Humas Pemprov Kalimantan Tengah) turun ke bawah, tidak berdialog
dengan masyarakat, komunikasi kita tertutup hanya karena soal
protokoler, saya ini sedih. Saya dikasih waktu, tetapi saya juga harus
mengikuti protokoler, karena semuanya kepengen ketemu, jam segini, jam
segini, jam segini. Nah, apa yang harus saya lakukan dalam berdialog
dengan masyarakat? Salah satunya dengan SMS. Dari situ saya bisa tahu
kejadian di Lamandau, saya mau tahu kejadian, misalnya di Murung Raya,
bukan dari pemerintah. Bukan dari bupatinya, kalau dari bupatinya
laporannya bagus terus.
Tetapi yang paling penting yang ada di balik layar (behind the screen).
Nah, Kalimantan Tengah, saya rasa kita harus memerlukan orang yang mampu
untuk menciptakan prakarsa pembangunan manusia. Karena infrastrukturnya
amat sangat lemah, pendidikannya sangat memprihatinkan, demikian juga
kesehatan dan perekonomian yang berbasis kerakyatan tidak jalan.
Bapak bisa bayangkan, dari DIPA tahun 2006 sekitar Rp 7,6 triliun, yang
dirasakan oleh rakyat golongan yang bawah, tidak sampai 10 persen, hanya
sekitar 9,8 persen. Berarti, 90 persen lebih dinikmati oleh menengah ke
atas.
Nah, apa yang akan kita lakukan? Tadi HIPMI juga datang, saya bilang
ayo, ciptakanlah ide-ide yang membangun manusia, yang mengangkat harkat
dan martabat mereka, misalnya transmigrasi. Saya bilang, kita jangan
tempatkan para transmigran di lokasi yang jauh. Saya paling nggak suka
konsep ini. Misalnya, Palangkaraya, kemudian transmigran kita letakkan
jauh. Saya bilang, kita itu kaya apa ya. Jadi kita mulai dari satu
titik, kita bikin bundaran satu, bundaran dua, bundaran tiga, empat,
lima dan seterusnya.
Jangan kita bikin titik kemudian bundaran jauh. Jadi hanya mengejar
(sarang laba-laba), betul. Jadi kita mulai dari itu. Dari satu titik,
lantas kita kembangkan. Termasuk transmigrasi. Jangan kita mengarahkan
mereka ke daerah yang membuat mereka makin sulit. Mereka itu datang, mau
senang, mau mengangkat harkat dan martabat mereka, mau meningkatkan
kehidupan mereka dan mau hidup layak.
Tapi kalau mereka ditempatkan di tempat yang jauh, aksesnya sulit,
berarti kita menciptakan kemiskinan baru. Berarti kita hanya memindahkan
kemiskinan dan memindahkan kesengsaraan orang. Kalau bapak-bapak ibu
yang sudah sejahtera, dalam tanda kutip, ya pengennya tetap saja di
Jakarta.
Makanya aku bilang, memimpin Jakarta jangan hanya dari Jakarta. Kita
mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, membuat rakyat kita
makmur, sejahtera, bisa dari daerah.
Maksudnya, dari Palangkaraya juga bisa?
Itu obsesiku. Obsesiku kaya begitu. Kalau orang mau contoh good
governance (pemerintahan yang baik), saya bilang, datanglah ke
Kalimantan Tengah.
Nah, ini alasannya kenapa saya harus melakukan itu, untuk menyakinkan
para kepala dinas, kepala badan dan kepala biro: Anda bisa; Anda mampu
kalau kita punya spirit yang sama. Ayo, saya bilang, kita bangun ini
bangsa. Saya nggak bilang bangun Kalteng saja. Bangun bangsa mulai dari
Kalteng.
Teman-teman pada tanya, kenapa sih Ras, lo, udah enak-enak jadi ketua
komisi, dulunya komisi dua, sekarang komisi tiga, mau jadi gubernur?
Tempatnya susah lagi. Saya bilang, itu yang menarik. Karena tekad saya,
saya bilang, bersama-sama dengan rakyat. Kalau bukan Pilkada saya tidak
mau jadi gubernur, saya tidak mau jadi kepala daerah. Karena Pilkada,
karena rakyat yang langsung memilih, saya bilang baru saya mau.
Kalau, misalnya, yang memilih masih DPRD, aku lebih baik di Jakarta.
Karena ini yang memilih rakyat, oke, aku maju.
Apa tantangan yang terberat dalam meningkatkan kualitas SDM?
Geografis. Karena konsep penyebaran belum berjalan. Transmigrasi,
kembali saya katakan tadi, cenderung di tempat-tempat yang jauh.
Tantangan pertama geografis. Kemudian kedua, infrastruktur. Bisa
dibayangkan, mereka bisa menanam apa pun, mereka bisa bertani apa pun,
tetapi mereka tidak mampu untuk mendistribusi, membawa hasil
perkebunannya, hasil pertanian ke pasar dengan baik. Mereka terkendala
oleh infrastruktur, mereka terkendala oleh keadaan alam, sungai kita
yang makin lama makin mendangkal, akibatnya hanya busuk di halaman
rumah.
Nah, inilah yang saya anggap sebagai tantangan buat saya. Makanya, dari
12 visi misi yang ada dalam buku itu, saya prioritaskan keempat dulu:
infrastruktur, apakah itu jalan, jembatan, pelabuhan udara, pelabuhan
laut, dermaga sungai, terminal bis, itu yang saya genjot dulu. Yang
utama jalan dan jembatan.
Ketika saya menjadi gubernur, 85 persen jalan negara yang menghubungkan
antarprovinsi, panjangnya 1.714 kilometer, 85 persen dalam keadaan rusak
berat. Jadi yang bisa dinikmati hanya 15 persen. Tahun 2006 saya
bersyukur, karena doa orang banyak, saya bisa memperkecil dari yang 85%,
itu hilang 26%.
Yang tersisa sekitar 63%. Kemudian untuk tahun 2007, saya juga
menargetkan sekitar 20%-25%. Jadi sisa sekitar 40%. Tahun 2008 sampai
2009, saya mengharapkan, untuk jalan nasional semuanya dalam keadaan
memadai. Sehingga empat provinsi: Kalimantan Tengah, Selatan, Timur dan
Barat bisa terintegrasi.
Dan kebetulan juga, saya dipilih sebagai koordinator untuk regional
Kalimantan. Namanya Forum Kerjasama Pembangunan Regional Kalimantan.
Saya ubah namanya menjadi Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan
Pembangunan di Kalimantan.
Saya bilang, kalau judulnya nggak diubah, kerjasama, ya sekadar
kongkow-kongkow. Saya nggak mau, kalau saya koordinatornya, saya tidak
mau sekadar kongkow-kongkow. Saya bilang kita harus ada target. Nah,
itulah yang saya canangkan, tahun 2009, Trans Kalimantan mesti selesai.
Ada teman saya gubernur bilang, kalau daerah saya begini-begini,
mudah-mudahan kita dapat mukjizat. Loh, saya bilang, kok, itu bukan
mukjizat, tapi haknya kita. Itu hak dari regional Kalimantan untuk
memperoleh Trans Kalimantan.
Hasil bumi, hasil hutan Kalimantan bisa bikin kita untung banyak dan
bisa buat bayar utang. Jadi saya bilang itu bukan mukjizat, itu sesuatu
yang harus kita peroleh. Saya bilang, tahun 2009, Trans Kalimantan mesti
selesai.
Kalau itu sudah selesai dampaknya besar sekali?
Amat sangat. Kembali kepada masyarakat, infrastruktur nadi utama dalam
percepatan pembangunan, dalam peningkatan kehidupan masyarakat. Tidak
ada urusan, kalau infrastrukturnya jelek. Siapa pun yang jadi pimpinan
takkan mampu untuk mengentaskan kemiskinan. Itu yang kita kerja all out,
yang jadi obsesi saya. Dan itu yang tidak pernah berhenti saya
dengung-dengungkan untuk tercapai.
Revitalisasi itu penajaman proyek yang sudah ada. Banyak proyek kita
yang sudah ada, tetapi kita tidak mampu untuk memaknainya,
memvitalisasikannya, membuat dia menjadi vital, membuat dia menjadi
bermakna. Karena apa, karena dulu konsep itu hanya sekadar membangun.
Dulu konsep itu basisnya program. Jadi kalau pimpinan sudah mampu
membangun, itu sudah prestasi. Tetapi saya bilang tidak bisa. Yang
dibangun harus bermanfaat untuk kepentingan rakyat banyak.
Contoh. Kalimantan Tengah dapat anggaran Rp 14 triliun untuk perkebunan
besar rakyat. Kita, targetnya, sampai tahun 2010 akan membangun lebih
kurang 152.000 hektar untuk perkebunan karet rakyat, dan 450.000 hektar
untuk perkebunan sawit rakyat. Dan itu target kita sampai dengan 2010,
sepenuhnya milik rakyat. Bukan lagi milik si A atau si B.
Sedang pengusaha sebagai developer. Karena apa, karena anggaran
diperoleh dari bank, dengan kredit. Tetapi kreditnya dengan bunga yang
sangat rendah. Sekarang kredit komersial sekitar 16 persen per tahun,
mereka diberi 10 persen, sisanya enam persen disubsidi oleh negara. Dan,
masyarakat anvalisnya perkebunan besar. Jadi perkebunan-perkebunan yang
ada ini menjadi anvalis, dan mereka developer-nya, mereka yang membangun
plasma-inti. Tetapi plasma-inti di sini, bukan intinya yang ke depan,
tetapi plasmanya, rakyatnya.
Karena itu, pemiliknya adalah rakyat, pendukungnya perkebunan besar.
Kita balik. Itu, 2010. Nah itu bahagian dari itu, dalam rangka
pemberdayaan masyarakat, dan membuat mereka lebih bermakna.
Kepemimpinan buat suatu daerah sangat penting. Kalau pemimpinnya tidak
kuat pembangunannya biasa-biasa saja. Contoh, di Blitar guru-guru
privatnya dapat insentif Rp 150 ribu perbulan?
Kalau kita, damang di sini. Damang itu pemangku adat. Karena saya
berpandangan bahwa dia ini adalah sebagai ujung tombak terhadap
masyarakat. Jadi kita ada 67 damang, kita kasih insentif Rp 300.000 per
bulan.
Di beberapa daerah guru tidak diperhatikan. Padahal mereka penggerak di
masyarakat. Makanya kepemimpinan sangat penting?
Dengan kebersamaan, ya. Jadi harus mampu memberikan semacam landasan
bersama. Jadi sesuatu dasar kebersamaan.
Jadi, istilahnya, kita bertujuh. Kalau kita punya satu visi, punya satu
misi, punya tujuan yang sama, gampang. Kita bertujuh ini berbeda antara
satu dengan yang lain. Saya lagi ngomong begini, bapak berpikirnya ke
mana, ibu berpikirnya ke mana, pasti. Tetapi kalau kita punya tujuan
yang sama, oke, lupain pikiran masing-masing, ya, Anda boleh berpikir
lain, tapi tujuan kita sama.
Nah, itulah yang saya istilahkan sebagai orkestra. Menarik. Ini, kalau
aku cerita Pak Dendul mesti sabar, ya. Orkestra, itu pemimpinnya
dirijen. Dia yang mengatur. Ada yang main gitar, ada yang ngebas, ada
yang main drum, ada yang peniup flute dan terompet. Oke, Anda pegang
alat yang berbeda-beda. Kalau dibunyiin sendiri-sendiri jalan dia, tapi
tidak tahu iramanya ke mana.
Nah, karena masing-masing punya kemampuan dan talenta masing-masing,
jalan. Tapi karena kalian berenam ini mempercayakan aku menjadi dirijen,
sekarang aku cari lagu yang bagus, ya. Lagunya, Song of Joy, atau Mabuk
Lagi. Ini lagunya, setuju, setuju, oke, kau mainkan ini, kau mainkan
ini, iramanya begini. Coba ambil dulu suara, cocok. Sekarang kita
sama-sama, Mabuk Lagi, ya, mulai.
Nah, ini, orkestra, sehingga terciptalah suatu irama, suatu alunan yang
nikmat didengar dengan judul, Mabuk Lagi. Pemimpin, tidak perlu
kuat-kuat bangat. Pemimpin harus kuat dalam pengelolaan. Oke, kita juga
memerlukan dirijen yang mampu mengakomodir, bukan dengan kekerasan,
bukan dengan kekuatan. Tetapi dengan visi, misi, dan alunan yang sama.
Kita ini, dari era otoriter, tiba-tiba berubah sangat luar biasa
dipegang oleh Pak Habibie, yang membuka semua akses, sampai dulu ada UU
No. 22/1999, otonomi itu diberikan kepada kabupaten-kabupetan/kota, yang
akibatnya gubernurnya pada saat itu diinjak-injak. Realitas, kok, karena
kondisi politik kita memungkinkan untuk seperti itu.
Nah, sekarang sudah mulai di era demokrasi. Demokratisasi, yang semua
orang bisa ngomong, yang semua orang bisa marah, yang semua orang bisa
SMS. Dan ini tidak bisa hanya dinakhodai oleh orang yang strong leader
(kuat condong otoriter). Boleh dia kuat, strong for himself, not for the
people (kuat untuk dirinya, tapi bukan untuk rakyat). Karena pada saat
dia kuat untuk rakyat, waduh, Pak, itu gulungannya tsunami, betul Pak.
Tetapi kalau dia kuat untuk dirinya, dia punya kepercayaan diri yang
kuat, bahwa dia bisa melakukan sesuatu, dengan tidak ada keragu-raguan:
I’am on the right track, so I have to do something. (Saya berada di
jalur yang benar dan saya harus melakukan sesuatu).
Nah, ini namanya kuat dari diri sendiri. Kuat dari diri sendiri, bukan
kuat untuk rakyat. Saya tidak berani melotot, kan, kalau tidak aku tidak
akan masuk majalah Tokoh (Indonesia), kan, artinya begitu. Nah, kuat di
sini artinya adalah dari pribadi.
Kuat di dalam menentukan kebijakan. Makanya saya bersyukur juga, ini
mungkin pemberian dari Tuhan. Kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang
menguasai hukum dengan baik. Maaf, Pak, walaupun dulu saya dari
pengacara, ya, kita memerlukan itu. Dan dia harus menguasai hukum dengan
baik, dan dia harus orang yang pernah merasakan menjadi anggota DPR.
Aku kalau udah ngobrol begini, ini sekaligus juga aku curhat. Kalau
ngomong di forum, yang seperti ini, kayanya tidak pas, aku tidak bisa
senyum-senyum begini. Nanti orang bilang, ini gubernurnya marah-marah
terus. Jadi aku lampiaskan ke ibu dan bapak-bapak.
Tapi, sori lo, kadang-kadang ngegemasin (sedih) kalau melihat situasi
rakyat kita sekarang. Ada nggak, ibu dan bapak-bapak, punya ide yang
sama nggak, ada sesuatu, aduh, ini bisa, bisa, gitu. Coba deh, yang di
bagian Kesejahteraan Rakyat ini. Gemas, kenapa sih orang mesti antri
beli minyak tanah. Kenapa sekolah pergi berjalan jauh, penyakit demam
berdarah naik. Gemas, itu yang terjadi sama saya.
Kenapa orang mesti jauh-jauh untuk memeriksa anaknya sakit, kenapa tidak
dibangun Pusduk, padahal duit kita ada. Rasanya, wah, tapi itu yang
memacu adrenalin, ya.
Ingat dulu itu di Hongkong ada sars, waktu kita roadshow ke China. Itu
sejak sars, dulu di Guangzhou. Di Guangzhou, apa pun binatang dimakan,
dan apapun binatang jadi makanan enak. Kelelawar jadi, ular jadi, buaya
jadi. Sejak sars, kehidupan masyarakat itu berubah. Mereka cenderung
selektif. Mereka, bisa, tapi mereka tidak lagi. Jadi itu berakibat lain.
Akibat penyakit, mereka mengubah pola hidup. Yang dulu pola hidup mereka
mentolerir makanan apa pun, sekarang mereka selektif.
Nah, kalau kita ini saya lihat, kembali, gampang lupa. Ini, dulu akibat
flu burung bla-bla-bla, dua bulan tiga bulan tidak ada kejadian lagi.
Flu burung beberapa waktu tidak ada. Kira-kira empat lima bulanlah,
timbul lagi di Sumatera Utara. Kemarin, Kota Waringin Barat, dari empat
sampel, ini masih di unggas, dua sudah positif. Tapi untung bupatinya
tegas. Satu kilometer di daerah itu unggas dimusnahkan, dan tidak boleh
masuk dan tidak boleh keluar. Jadi benar-benar diisolasi.
Atau demam berdarah, ngeri. Ini, kita sudah berapa yang kena di sini, di
daerah Panarung hampir sembilan. Mudah-mudahan badai cepat berlalu. ►ti-crs-ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|