| |
C © updated 28012003-19042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Agustin Teras Narang, SH
Lahir:
Banjarmasin, 12 Oktober 1955
Agama:
Kristen
Pekerjaan:
Ketua Komisi III DPR RI Periode 2004-2009
Istri:
Moenartining T. Narang, SH
Anak:
1. Agnesya Munita Narang (Lahir 22 Juni 1984)
2. Bernika Yustiasiana Narang (Lahir 22 Januari 1986)
3. Alfina Kathlinia Narang (Lahir 5 Mei 1990)
Orangtua:
Ayah Waldemar August Narang (Meninggal 1981)
Ibu Adile Mangkin
Pendidikan:
-SD Kristen Banjarmasin (1967)
-SMP Bruder Banjarmasin (1967-1970)
-SMAN I Banjarmasin (1970-1973)
-S1 Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)
Alamat Rumah:
Rumah Pribadi: Jl Kayu Putih VIII D No 30, Pulogadung, Jakarta
Timur
Telp. (021) 45884.5937
Rumah Dinas: Wisma DPR RI Blok B-1/131, Kalibata, Jakarta Selatan
Telp. (021) 798.9650 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
== Agustin Teras Narang (02)
Siap Mengabdi untuk Kalteng KPU
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) setelah melakukan rapat pleno
penghitungan rekapitulasi hasil penghitungan Pilkada Provinsi Kalteng
2005, Jumat 1 Juli 2005, memastikan pasangan Agustin Teras Narang-Achmad
Diran memimpin Kalteng sebagai gubenur dan wakil gubernur periode
2005-2010.
Pasangan yang diusulkan PDI Perjuangan ini mendapat
349.329 suara jauh mengungguli pesaing kuatnya, pasangan dari Partai
Golkar, Asmawi Agani-Kahayani Andelen yang meraih 163.322 suara.
Sementara pasangan HA DJ Nihin-Nusa J Toendin
mendapat 160.872 suara. Sementara Habib Said Akhmad Fawzy Zain
Bachsin-Heriyanto M Garang mendapat 85.190 suara, dan pasangan H KMA M
Usop-Rinco Norkim mendapat 35.659 suara. Dengan hasil rapat pleno ini,
maka KPU Kalteng akan menetapkan hasilnya pada 3 Juli, katanya.
Agustin Teras Narang oleh partainya, PDI Perjuangan sudah diplot menjadi
kandidat Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005-2010. Ia adalah seorang
aktivis, manajer dan organisatoris yang baik. Ia aktif di organisasi
profesi hukum, organisasi massa seperti Pemuda Panca Marga (PPM),
termasuk sebagai Ketua Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah (sejak
1992) di DKI Jakarta. Sebelumnya, ketika masih kuliah pun ia sudah
terlibat di sejumlah organisasi intrakampus. Ia berprinsip,
berorganisasi berarti melatih pola berpikir, cara bertindak, dan
kemampuan memimpin.
Kendati sehari-hari disibukkan masalah-masalah hukum dan politik saat
bergelut entah saat ini sebagai politisi maupun dahulu advokat yang
terkemuka, sebagai putra daerah Kalimantan Tengah Teras Narang selalu
menyediakan waktu, tenaga dan pikiran termasuk dukungan moril dan
materil untuk bumi Kalimantan Tengah. Ia turut aktif membagi pokok-pokok
pikirannya demi kemajuan daerah leluhur.
Seperti tentang keterlibatannya sejak lama di Forum Komunikasi Warga
Kalimantan Tengah di Jakarta, itu adalah salah satu wujud tanggung jawab
moral Teras Narang kepada daerah nenek moyangnya yang hingga kini tetap
masih agak tertinggal. Kalau orang seperti dirinya tidak ikut serta maka
siapa lagi yang mau bertanggung jawab dan memikirkan ketertinggalan
daerah Kalimantan Tengah. Ia pun amat begitu prihatin dengan pengelolaan
hutan berbentuk Hak Pengelolaan Hutan (HPH) di Kalteng, yang selama
puluhan tahun berjalan namun terbukti tidak pernah mampu mensejahterakan
rakyat Kalimantan.
Ia juga prihatin melihat rakyat Kalteng yang tidak bisa memanfaatkan
HPH, padahal di sana tidak ada industri lain yang bisa diandalkan
sebagai sumber mata pencaharian hidup sehari-hari. Satu-satunya andalan
rakyat Kalteng adalah kekayaan hutannya. Kalteng adalah penyuplai kayu
terbesar, setelah Irian dan Kalimantan Timur. Karena itu Teras Narang
selalu berpegang teguh kepada sikap lamanya, bahwa untuk memaksimalkan
pendapatan daerah supaya kehidupan rakyat meningkat hanya aparat
Pemdalah yang dapat diharapkan menarik investor besar menanamkan uangnya
di bumi Kalimantan Tengah.
Teras Narang tidak habis pikir mengapa masyarakat Kalteng masih saja
tetap miskin kendati daerah ini termasuk kaya akan sumberdaya alam. Ia
pun sesungguhnya dapat melihat ada jalan keluar lain. Bahwa,
permasalahan ini hanya bisa diatasi bila Pemda dan DPRD mengambil
inisiatif bersama-sama untuk maju. Karena itu Teras Narang tidak ingin
bila kejadian seperti sekarang masih saja berlangsung, dimana
pengusaha-pengusaha pemegang HPH nyatanya tidak berkantor di Kalteng.
Para pengusaha HPH dipandang Teras hanya bisa menyedot kekayaan alam
Kalteng tanpa pernah mengembalikan sedikitpun kekayaannya untuk
kesejahteraan masyarakat.
Realitas-realitas demikian pernah memunculkan tuntutan baru, yang sudah
mulai naik ke permukaan sejak tahun 1994, yakni agar masyarakat Kalteng
diberikan kesempatan mengatur dirinya sendiri melalui pimpinan atau
Gubernur yang berasal dari daerah Kalteng. Tuntutan itu muncul
diperjuangkan oleh sejumlah tokoh masyarakat Kalimantan Tengah, termasuk
oleh kepala-kepala suku Dayak.
Sebab masyarakat menyadari kekayaan alam Kalteng bukan hanya kayu,
tersedia pula tambang emas dan tambang-tambang lainnya. Bila putra
daerah yang terpilih menjadi Gubernur maka potensi kekayaan alam akan
mudah terealisir untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kalteng.
Keinginan lama itu dahulu memang susah terpenuhi, sebab siapa yang akan
menjadi Gubernur Kalteng saat itu sangat ditentukan oleh keinginan
pemerintah pusat. Padahal pemerintah pusat masih saja tetap kurang yakin
akan potensi dan kemampuan sumberdaya manusia lokal, selain karena pusat
memang masih punya kepentingan khusus lain di Kalimantan Tengah.
Memperoleh Dukungan Kuat
Beruntunglah saat ini muncul era reformasi dengan sistem pemilihan
kepala daerah (Pilkada) secara langsung. Sehingga setiap putra daerah,
seperti halnya Agustin Teras Narang yang berasal dari suku Dayak Ngaju
dari Mandomai, persis dari pingiran aliran sungai Kapuas, Kalimantan
Tengah, diharapkan bisa terpilih dan mempunyai kesempatan untuk
mensejahterakan masyarakat Kalteng.
Sebagai putra daerah yang sudah siap bertarung memperebutkan posisi
Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005-2010, Agustin Teras Narang
bersama pasangannya Ir. H. Ahmad Diran, sehari-hari sebagai Pejabat
Bupati Kotawaringin Barat, telah ‘menjalani’ latihan-latihan yang lebih
beragam secara politis dan organisatoris.
Jika kelak dirinya terpilih menjadi Gubernur, Teras Narang berprinsip
akan lebih memikirkan dan mengutamakan kepentingan masyarakat Kalimantan
Tengah. Prinsip-prinsip itu muncul berdasarkan inspirasi dari sejumlah
mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang diidolakan Teras Narang, seperti
Tjilik Riwut (1957-1966), Rynout Silvanus (1967-1978), dan Willy A. Gara
(1978-1983).
Ketiganya adalah asli putra daerah Kalimantan Tengah, berasal dari suku
Dayak pula, yang selama kepemimpinannya terbukti sangat peduli pada
kemajuan daerah Kalteng. Seperti, mereka pernah membangun asrama
mahasiswa asal Kalimantan Tengah di Jakarta, agar banyak mahasiswa yang
mampu sekolah dengan biaya Pemda dan kelak mereka dapat kembali lagi ke
daerah untuk menjadi kader pembangunan di Kalimantan Tengah. Setiap
calon mahasiswa menjadi tak perlu berpikir dimana menginap kalau sekolah
di Jakarta.
Namun persoalan menjadi berbalik tatkala Gubernur Kalimantan Tengah
dijabat bukan oleh putra daerah, seperti Gatot A. Sapari Amrih dan
Soeparwanto, dimana asrama mahasiswa bukannya diperluas malah
dihilangkan. Padahal, masyarakat Kalteng yang relatif homogen sebagai
keturunan Suku Dayak, kata Teras Narang kalau tidak dibantu melalui
pendidikan besar kemungkinan akan sulit maju. Kunci kemajuan masyarakat
Kalteng adalah pada pendidikan dan pemberian kesempatan. Hal ini berlaku
baik bagi masyarakat Kalteng Suku Dayak yang sudah tinggal di kota
ataupun desa yang sudah tahu baca tulis, apalagi bagi Orang Dayak yang
masih bermukim di tengah hutan.
Agustin Teras Narang maju memperebutkan kursi Gubernur Kalimantan Tengah
periode 2005-2010, itu berpasangan dengan Ir. H. Ahmad Diran diusung
oleh PDI Perjuangan. Pasangan ini mempunyai peluang terbesar untuk
menang, sebab keduanya telah memiliki segudang pengalaman yang lengkap
di birokrasi dan politik, baik itu di lembaga eksekutif maupun
legislatif. Pasangan Agustin Teras Narang yang beragama Kristen
Protestan, dan Ahmad Diran yang Muslim, melengkapi pula realitas
gamparan geopolitik yang ada di Kalteng.
Bahkan, Teras Narang memperoleh dukungan kuat pula dari kelompok suku
Dayak beragama Hindu. Ia memang memegang teguh nasehat Ayahnya, bahwa
pemimpin hanya bisa besar apabila mendapat dukungan luas dari berbagai
kalangan. Sejak Maret 2003 Teras Narang sudah resmi dinobatkan sebagai
“Sang Pangeran Dayak”, sebuah gelar kehormatan suku Dayak yang untuk
pertamakali kembali diberikan sejak Indonesia merdeka 1945, oleh
Pengurus Besar Lembaga Majelis Agama Hindu Kaharingan. Dengan berpakaian
lengkap adat Dayak berupa setelan merah darah serta “lawung”, Teras
Narang yang tampak gagah dianggap sebagai putra daerah yang berhasil
mengangkat harkat Kalteng hingga bergaung di “telinga” warga bangsa di
seluruh negeri, dan mampu tampil di pentas nasional. Teras juga dinilai
turut ambil bagian memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat
di daerahnya, terlebih atas pembentukan delapan daerah kabupaten yang
otonom di Kalteng.
Gelar “Sang Pangeran Dayak” memiliki komitmen tinggi bagi penyandangnya.
Gelar ini mempunyai makna spiritual lain, Teras Narang dipandang
memiliki banyak kesamaan ciri dengan Pangeran Ariari Buncari, tokoh
Dayak yang sangat populer dalam ceritera “Sansana Bandar”, sebuah
legenda yang cukup dikenal luas warga Dayak. Menerima gelar sebagai
pangeran membuat Teras Narang semakin tetap berusaha mewujudkan harapan
masyarakat Kalteng, demikian pula harapan masyarakat lainnya, supaya
bangsa dan negara ini bisa semakin maju.
Teras Narang memang sangat mengenal warga Kalteng, sama persis dengan
bagaimana masyarakat Kalteng mengenalnya. Sebab, sejak memutuskan
berkarir di dunia politik praktis pada 1999 silam, meninggalkan dunia
kepengacaraan yang penuh glamour, hampir setiap akhir pekan Teras Narang
menghabiskan waktu untuk mengunjungi pelosok-pelosok desa di kawasan
Kalteng. Kunjungan-kunjungan ke daerah itu semakin mempertajam
kepekaannya terhadap berbagai masalah yang dihadapi rakyat. Biasanya,
agenda utama Teras ketika turun ke desa adalah mendengarkan keluhan
masyarakat. “Karena saya ingin menjadi hidung, mata, dan juga hati
mereka,” cetus Teras Narang. “Saya benar-benar ingin total mengabdi
kepada rakyat,” tambahnya. ►ti/ht-hp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|