| |
C © updated
01052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/turkishdailynews.com |
|
| |
Nama:
Agus Wirahadikusumah
Lahir:
Bandung, 17 Oktober 1951
Meninggal:
Jakarta, 30 Agustus 2001
Sukubangsa:
Sunda
Agama:
Islam
Pangkat/Korp:
Letnan Jenderal TNI/Infanteri
NRP: 26419
Istri:
Tri Rachmaningsih
Anak:
Dyah Gustinar Savitri (14-07-1975) dan Yunan Mahastra Satria
(22-06-1977)
Ayah:
Maryun Wirahadikusumah
Ibu:
Siti Rokaat
Pendidikan Umum
1. Sekolah Dasar (1963)
2. SMP (1966)
3. SMA (1969)
4. S-2 Magister Manajemen Univ. Harvard AS (1992)
Pendidikan Militer
Lulusan: Akabri 1973
Pendidikan dan Pengembangan Umum
1. Sussarcab Infanteri (1974)
2. Suslapa Infanteri, AS (1984)
3. Seskoad, SUKO (1989)
4. Seskoad, Australia (1990)
Pendidikan dan Pengembangan Spesifik
1. Kursus Bahasa Inggris (1977)
2. Kursus Komandan Kompie (1979)
3. Ranger/Airbone/Pathfinder, AS (1981)
4. Air Assault (1984)
5. Kursus Bahasa Inggris, AS (1985)
6. Kursus Komandan Yonif (1988)
Tanda Jasa
1. Satya Lencana Seroja
2. Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun
3. Satya Lencana Dwija Sista
4. Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun
5. Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun
6. Satya Lencana Kebudayaan
Tugas Operasi
1. Operasi Seroja (1975)
2. Operasi Seroja (1978)
Tugas Luar Negeri
1. Amerika Serikat, Tugas Belajar (1981)
2. Amerika Serikat, Tugas Belajar (1981)
3. Amerika Serikat, Tugas Observasi (1985)
4. Vietnam Selatan, Penugasan (1987)
5. Amerika Serikat, Tugas Belajar (1992)
Jenjang Kepangkatan
1. Letnan Dua (01-12-1973)
2. Letnan Satu (01-04-1976)
3. Kapten (01-04-1979)
4. Mayor (01-10-1985)
5. Letkol (01-10-1989)
6. Kolonel (01-10-1993)
7. Brigjen (01-03-1996)
8. Mayjen (01-01-1998)
9. Letjen (01-04-2000)
Karier Militer
1. Danton Yonif 509 (01-08-1974)
2. Dantonban Ki Lt Brigif-2 (01-08-1975)
3. Danton-I/C/507 (01-12-1976)
4. Danki O/507 (01-07-1977)
5. Kasi Ops Yonif 507 (01-10-1980)
6. Pasi-2/Org Brigif-2 (00-00-1981)
7. Gumil Gol VI Pusif (01-03-1984)
8. Kasidik Bangpes Pussenif (01-08-1985)
9. Wadan Yonif-328 Brigif-17 Kostrad (01-05-1987)
10. Wadan Yonif L-305 Brigif-17 Kostrad (01-06-1987)
11. Komandan Yonif L-330 Brigade Kostrad (01-11-1987)
12. Komandan Yonif L-305 Brigif-17 Kostrad (01-02-1988)
13. Pamen Kostrad (01-07-1988)
14. Dosen Gol IV Seskoad (01-06-1989)
15. Pakor Sahli Dispenad (01-06-1993)
16. Asops Kasdam VII/Wirabuana (01-08-1994)
17. Komandan Korem 163 Wirasatya Dam IX/Udayana (01-04-1995)
18. Waasrenum Pangab (01-03-1996)
19. TA Tk III Sahli Pangab Bid. Polkam (01-01-1998)
20. Komandan Seskoad (15-09-1998)
21. Asrenum Pangab (01-01-1999)
22. Pangdam VII/Wirabuana (01-11-1999)
23. Panglima Kostrad (01-04-2000)
Alamat Rumah:
Jalan Bulak Rantai No. K-8, Kramat Jati, Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 ==
Agus Wirahadikusumah (1951-2001)
Perwira Penerobos Tabu Militer
Ketika menjabat Pangdam VII/Wirabuana, ia melontarkan pemikirannya
mengenai pembinaan teritorial (binter). Dalam rangka paradigma baru TNI ia
menggagas pemekaran Kodam dan komando teritorial. Bahkan, menurutnya, di
Pulau Jawa tak perlu lagi ada Kodam kecuali di luar Jawa yang jangkauan
Pemdanya terbatas. Gagasan kontroversial AWK, begitu ia sering dipanggil,
ini menjadi perdebatan dalam tubuh TNI bahkan dalam jagad politik nasional.
Pria kelahiran Bandung, 17 Oktober 1951, ini menerobos tembok tradisi (tabu)
TNI, melontarkan pemikiran tentang internal TNI ke area publik. Lagi pula,
ia dinilai melampaui hirarki dan kapasitasnya. Bebrapa perwira tinggi TNI
menyayangkan mengapa pemikiran seperti itu dilontarkan ke publik yang
justru kian memperlemah posisi tawar TNI.
Ia juga melontarkan pendapat bahwa loyalitas prajurit TNI bukan kepada
jenderalnya melainkan kepada institusi TNI, bangsa dan negara. Suatu
pernyataan yang dirasakan seakan ditujukan kepada Pangskotrad Letjen TNI
Djdja Suparman yang menyebut prajurit akan marah karena banyak jenderal
yang ‘diobok-obok’ KPP HAM Timor Timur.
Namun beberapa politisi sipil malah angkat jempol atas keberanian putra
Sunda ini menerobos tabu TNI itu. Gagasan ini disambut. Presiden KH
Abdurrahman Wahid pun segera meminta kepada Mabes TNI Cilangkap agar AWK
ditarik ke Jakarta. Ia pun diangkat sebagai Pangkostrad menggantikan Djaja
Suparman, terhitung sejak 1 April 2000.
Gus Dur menyebutnya sebagai sosok militer berkualitas Jakarta, dan terlalu
sayang untuk disia-siakan. Saat menjabat Pangkostrad itu pula, ia
melontarkan dugaan kuat adanya korupsi di sebuah yayasan yang didirikan
kesatuan yang dipimpinnya itu. Sekali lagi, lontarannya itu itu mengundang
reaksi negatif dari kalangan perwira tinggi militer lainnya.
Reaksi negatif dari sobat militer itu tak membuatnya berhenti bersuara.
Tampak ia semakin tegar menerobos tradisi TNI yang kaku sebagai tentara
tempur, yang dingin, apolitis dan selalu patuh kepada atasan. Tampaknya ia
lebih memilih menjadi tentara pemikir. Walau sebagian menyebutnya ingin
menempatkan diri sebagai tentara reformis untuk memenuhi ambisinya.
Suatu ketika, ia pun berkomentar soal kemungkinan pencopotan Wiranto
selaku Menko Polkam oleh Presiden. Suatu komentar yang membuat beberapa
perwira tinggi makin jengkel. Kedekatannya deng Gus Dur telah memunculkan
tudingan kepadanya bahwa ia bergelayut di pundak Gus Dur untuk meraih
posisi yang lebih tinggi. Ia pun dituding sering berkolaborasi dengan
Bondan Gunawan selaku Pjs Sekretaris Negara dalam mengatur mutasi dalam
tubuh TNI. Ia pun dituding sebagai motor pertemuan politis yang membuahkan
“Dokumen Bulak Rantai”.
'Dokumen' itu, yang sebenarnya lebih merupakan notulen diskusi, berisi
rencana mutasi di jajaran perwira tinggi TNI yang diduga dilahirkan lima
sekawan, yakni: Pjs. Sekretris Negara Bondan Gunawan, KSAD Jenderal Tyasno
Sudarto, Pangkostrad Jenderal TNI Agus Wirahadikusumah, Aster KSAD Mayjen
TNI Saudi Kadi dan Kasdam Jaya Brigjen Romulo Sihombing.
Bulakrantai adalah kompleks perumahan perwira tinggi TNI AD, yang terletak
di Kramatjati, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di tempat inilah Pangkostrad
Letjen Agus Wirahadikusumah dan Aster KSAD Mayjen TNI Saudi Kadi bertempat
tinggal.
Konon, sejak AWK diangkat menjadi Pangkosrad, kerap terjadi keramain di
kompleks itu, khususnya di sekiatr rumah AWK dan Suadi Kadi. Rupanya, di
kediaman AWK dan Saurip Kadi itu, secara bergantian sering digunakan untuk
diskusi. Pertemuan pertama tanggal 16 April 2000, antara pukul 19.30 -
23.30 WIB. Diskusi-diskusi di antara lain melahirkan 'dokumen' Bulakratai,
yang kemudian membuat geger elit AD. Selain itu, mereka juga pernah satu
kali melakukan kegiatan yang sama di Hotel Novotel Bogor, yang kemudian
melahirkan 'dokumen' Novotel.
Namun, AWK dan rekan-rekannya membantah adanya pertemuan dan adanya
dokumen Bulak Rantai itu. Dan, entah merasa sedang di atas angin, AWK pun
tak sungkan dengan lantang menghadapi lawan-lawannya politiknya. “Rakyat
akan tahu siapa yang berjiwa setan dan siapa berjiwa malaikat!” ujar AWK
suatu ketika menanggapi orang-orang yang tidak sepaham dengannya.
Sampai akhirnya ia diganti dari jabatan Pangkostrad dengan menariknya ke
Mabes TNI tanpa ‘meja’. Kemudian namanya pun sempat disebut-sebut akan
menjabat Kasad menggantikan Jenderal Tyasno. Namun dikabarkan 120 perwira
tinggi TNI AD menolaknya. Akhirnya, Gus Dur tak mau mengambil risiko
terlalu besar, dan mengangkat Letjen Endriartono Sutarto menjabat Kasad.
Dalam posisi sebagai perwira tinggi yang ditarik ke Mabes TNI, beberapa
waktu kemudian, jenderal reformis itu pun meninggal dunia, secara mendadak,
Kamis pagi 30 Agustus 2001. Pagi itu sekitar pukul 05.30, ia masih
membangunkan istrinya untuk salat dan melakukan olah raga. Setelah itu
istrinya masuk ke kamar mandi lalu tidak lama kemudian keluar dan
menemukan suaminya dalam keadaan tertidur, tapi setelah dicoba dibangunkan
Agus tidak memberikan reaksi apa-apa. Kemudian istrinya berinisiatif
membawa ke Rumah sakit Pusat Pertamina untuk diberi pertolongan, namun
dalam perjalanan sekitar pukul pukul 5:45 dan 6:19 WIB ia meninggal dunia.
Sebelumnya, tidak adanya tanda-tanda ia menderita sakit. Ia meninggalkan
seorang istri dan dua orang anak masing-masing bernama Fifi dan Yunan.
Sejak kecil, Mantan Danrem 163/Wirasatya, Denpasar Bali, ini diangkat-anak
oleh Umar Wirahadikusumah, mantan Wapres RI 1983-1988. Putra Maryun dan
Siti Rokaat ini dididik dalam suasana disiplin dan kemauan belajar yang
kuat.
Lulusan Akabri tahun 1973 ini meraih pendidikan S2 bidang Magister
Manajemen dari Universitas Harvard, AS. Ia tergolong seorang perwira
berpikiran maju, sederet Agus Widjojo (mantan Kaster TNI/1970) dan Susilo
Bambang Yudhoyono (mantan Kaster TNI) yang juga teman se-lifting-nya di
Akabri.
Ia telah menerima beberapa bintang tanda jasa, antara lain Satya Lencana
Seroja, Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun, Satya Lencana Dwija Sista,
Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun, Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun, dan
Satya Lencana Kebudayaan. ►tsl ==>LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|