| |
C © updated 26022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Agus D.W. Martowardojo
Lahir:
Amsterdam, 24 Januari 1956
Pendidikan:
= Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1984)
= Banking & Management Courses di State University of New York, Buffalo,
USA, Stanford University, Palo Alto, USA dan Institute of Banking &
Finance, Singapore.
Karir:
= Bank of America NT & SA (1984) sebagai Officer Development
Program dan International Loan Officer
= PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President, Corporate Banking Group di
Jakarta dan Surabaya (1986 – 1994).
= Deputy Chief Executive Officer di Maharani Holding (1994)
Direktur Utama di Bank Bumiputera (1995 – 1998)
= Direktur Utama di Bank Ekspor Impor Indonesia (1998)
= Managing Director Risk Management and Credit Restructuring di Bank
Mandiri (1999)
= Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator (2000)
= Managing Director Human Resources and Support Services (2001)
= Advisor bagi Ketua dan Wakil Ketua BPPN untuk bidang Perbankan (2002).
= Direktur Utama PermataBank terhitung sejak 31 Oktober 2002-2005
= Direktur Bank Mandiri, 16 Mei 2005
Organisasi:
= Aktif di Himbara (Himpunan Bank-bank Miliki Negara)
= Ketua Umum Perbanas (Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional Swasta) periode
2003 - 2006.
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI
Agus DW Martowardojo
Jadikan Hidup Lebih Bernilai
Sebagai direktur utama, dia berobsesi mewujudkan Bank Permata menjadi
lembaga keuangan terkemuka di Indonesia maupun regional. Bankir yang
sebelumnya berkiprah di Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan Bank
Mandiri ini bertekad menjadikan bank yang merupakan penggabungan dari lima
bank (Bank Bali, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Artha Media dan Bank
Prima Express) ini menjadi bank profesional yang memiliki hubungan kuat
dengan nasabah.
Dia menggariskan lima nilai korporasi PermataBank, yakni trust, integrity,
service, excellence dan professionalism. Dengan memegang teguh kelima
nilai korporasi itu, dia yakin dapat membangun budaya korporasi yang
merupakan ciri khas PermataBank, menjadi bank yang memiliki hubungan kuat
dengan nasabah. Berlandaskan komitmen bekerja untuk “Menjadikan hidup
lebih bernilai”, dia yakin PermataBank akan dapat memberikan layanan yang
lebih baik lagi di masa mendatang.
Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1984) ini telah
mengikuti berbagai Banking & Management Courses termasuk di State
University of New York, Buffalo, USA, Stanford University, Palo Alto, USA
dan Institute of Banking & Finance, Singapore. Dia memulai karir di Bank
of America NT & SA (1984) melalui Officer Development Program dan sebagai
International Loan Officer, PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President,
Corporate Banking Group di Jakarta dan Surabaya (1986 – 1994).
Kemudian, dia menjabat Deputy Chief Executive Officer di Maharani Holding
(1994), Direktur Utama di Bank Bumiputera (1995 – 1998) dan Direktur Utama
di Bank Ekspor Impor Indonesia (1998). Lalu dipercaya menjabat Managing
Director Risk Management and Credit Restructuring di Bank Mandiri (1999),
Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator (2000), dan
Managing Director Human Resources and Support Services (2001). Sebelum
diangkat menjadi Direktur Utama PermataBank terhitung sejak 31 Oktober
2002, dia dipercaya sebagai Advisor bagi Ketua dan Wakil Ketua BPPN untuk
bidang Perbankan (2002).
Belum setahun menjadi dirut PT Bank Pertama, Agus sudah dipercaya kalangan
perbankan untuk menduduki jabatan Ketua Umum Perbanas (Perhimpunan
Bank-bank Umum Nasional Swasta) periode 2003 - 2006. Kepercayaan ini bukan
hal yang mengejutkan. Sebab sebelumnya, selama lima tahun, dia pernah
aktif di lingkungan Himbara (Himpunan Bank-bank Miliki Negara).
Menurutnya, PermataBank sebagai hasil merger lima bank di bawah BPPN telah
menciptakan suatu bank dengan skala ekonomis yang lebih besar, jaringan
yang lebih luas serta alokasi sumber daya yang lebih efisien. PermataBank
diharapkan dapat menjadi institusi perbankan yang mampu berkinerja secara
berkesinambungan (sustainable) dan memberikan nilai tambah bagi para
stakeholder.
Dalam sambutannya Mei 2003, Agus mengatakan patut disyukuri bahwa proses
merger PermataBank, baik dari sisi hukum maupun operasional, telah dapat
diselesaikan dengan baik pada akhir Desember 2002 dalam waktu yang relatif
singkat. Meskipun sebagian besar aktivitas sudah dapat dituntaskan, namun
masih ada beberapa hal yang masih harus diselesaikan, seperti sosialisasi
logo PermataBank, rasionalisasi jumlah kantor cabang dan sumber daya
manusia, harmonisasi produk dan standarisasi cabang. Untuk menghindari
ketidaknyamanan yang akan dirasakan oleh para nasabah terutama akibat
perubahan kebijakan, sistem dan prosedur, PermataBank telah membentuk task
force khusus untuk menangani tahap stabilisasi dan optimalisasi pasca
merger secara efektif.
Dikemukakan, PermataBank pada tahun 2002 membukukan kerugian sebesar Rp
808,22 miliar. Kerugian ini merupakan penjumlahan kinerja laba rugi eks
legacy PT Bank Bali Tbk sebagai Bank Rangka untuk periode Januari 2002
sampai dengan September 2002 dan kinerja laba rugi PermataBank sebagai
Bank Hasil Penggabungan untuk periode Oktober 2002 sampai dengan Desember
2002.
Kerugian ini terutama disebabkan oleh adanya pembebanan biaya merger
sebesar Rp 482,25 miliar dan tambahan beban pembentukan PPAP sehubungan
dengan merger sebesar Rp 342,34 miliar. Biaya merger sebesar Rp 482,25
miliar tersebut adalah porsi biaya merger yang dibebankan kepada eks
legacy PT Bank Bali Tbk dari total biaya merger sebesar Rp 1,6 triliun,
sedangkan sisanya yang merupakan porsi biaya merger yang dibebankan kepada
keempat bank peserta merger lainnya telah diperhitungkan di dalam pos
Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali yang terdapat
pada neraca konsolidasi bagian ekuitas.
Pada posisi 31 Desember 2002, jumlah kredit yang diberikan (gross)
berjumlah Rp 8,93 triliun, jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun
adalah berjumlah Rp 21,89 triliun, dan total ekuitas konsolidasi per 31
Desember 2002 mencapai Rp 1,16 triliun, yaitu setelah BPPN mewakili
Pemerintah melakukan Penempatan Modal Sementara sebesar Rp 4,6 triliun
dalam rangka merger, sehingga Rasio Kecukupan Modal (CAR) PermataBank pada
akhir tahun 2002 mencapai 10,4%.
Berkat upaya-upaya yang telah dilakukan di tahun 2002, khususnya kegiatan
merger, pengelolaan aktiva produktif dan pengendalian operasional secara
efisien dan efektif, maka pada kuartal I tahun 2003 PermataBank telah
berhasil membukukan laba sebelum pajak perusahaan induk sebesar Rp 102,29
miliar (sebelum diaudit). Di samping itu, budaya kerja sudah mulai tumbuh
serta berjalan seirama, dan nama PermataBank sudah mulai dikenal oleh
masyarakat. Oleh karena itu, kami optimis bahwa PermataBank mampu
menunjukkan kinerja yang lebih baik di tahun 2003 dan berpotensi untuk
tumbuh dan berkembang secara sehat seperti yang diharapkan.
Ditegaskannya, semua rencana strategis PermataBank tidak akan pernah dapat
direalisasikan tanpa ada dukungan sumber daya manusia yang memiliki
kompetensi dan integritas yang baik. Karena itu kami menyerukan kepada
PermataBanker agar dalam bekerja dan berinteraksi baik secara internal
maupun eksternal selalu memegang teguh lima nilai korporasi PermataBank,
yaitu trust, integrity, service, excellence dan professionalism. Dengan
menerapkan nilai-nilai tersebut, kita akan dapat membangun budaya
korporasi yang merupakan ciri khas PermataBank. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|