| |
C © updated 23012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Agus D.W. Martowardojo
Lahir:
Amsterdam, 24 Januari 1956
Pendidikan:
= Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1984)
= Banking & Management Courses di State University of New York, Buffalo,
USA, Stanford University, Palo Alto, USA dan Institute of Banking &
Finance, Singapore.
Karir:
= Bank of America NT & SA (1984) sebagai Officer Development
Program dan International Loan Officer
= PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President, Corporate Banking Group di
Jakarta dan Surabaya (1986 – 1994).
= Deputy Chief Executive Officer di Maharani Holding (1994)
Direktur Utama di Bank Bumiputera (1995 – 1998)
= Direktur Utama di Bank Ekspor Impor Indonesia (1998)
= Managing Director Risk Management and Credit Restructuring di Bank
Mandiri (1999)
= Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator (2000)
= Managing Director Human Resources and Support Services (2001)
= Advisor bagi Ketua dan Wakil Ketua BPPN untuk bidang Perbankan (2002).
= Direktur Utama PermataBank terhitung sejak 31 Oktober 2002-2005
= Direktur Bank Mandiri, 16 Mei 2005 |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Agus DW Martowardojo
Sosok Bankir Pemberani
Agus D.W. Martowardojo, Dirut PT Bank Mandiri Tbk dinobatkan sebagai salah
seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Dia
disebut sebagai Bankir Segar di Biduk Besar. Agus dinilai sungguh berani
menerima jabatan dirut Bank Mandiri. Padahal, beberapa seniornya menebus
jabatan itu dengan menginap di bui.
Warta Ekonomi 28 Desember 2005: Agus D.W. Martowardojo adalah sosok
bankir pemberani. Buktinya, ia mau menduduki “kursi panas” dirut PT Bank
Mandiri Tbk., bank terbesar di Indonesia. Padahal, kursi itulah yang
membawa dirut sebelumnya masuk bui.
Naiknya Agus ke posisi dirut Bank Mandiri memang mengejutkan. Sebab,
dari sisi usia, ia masih tergolong muda untuk menjabat dirut sebuah bank
pelat merah. Apalagi sebagai dirut bank terbesar yang tengah dirundung
masalah.
Bank ini memiliki kredit bermasalah (non-performing
loan, NPL) di atas 20%—jauh melewati ambang batas bank sehat yang
sebesar 5%. Sejumlah kredit bermasalah yang menjadi prioritasnya adalah
utang Grup Kiani dan Garuda Indonesia.
Bankir kelahiran Amsterdam, 24 Agustus 1956, ini memang bukan wajah
asing di Bank Mandiri. Sebelum ke BPPN, misalnya, ketua umum Perbanas
ini sempat menjadi managing director risk management & credit
restructuring dan direktur human resources & support service Bank
Mandiri. Agus juga pernah menjadi dirut Bank Exim, yang akhirnya
dimerger dengan empat bank lain menjadi Bank Mandiri. Terakhir, Agus
menjabat presdir PermataBank selama hampir tiga tahun, sebelum akhirnya
ke Bank Mandiri.
Di Bank Mandiri, Agus menghadapi tantangan berat. Persoalannya bukan
hanya kinerja, tetapi juga budaya kerja. Lalu, soal kredit bermasalah
yang harus cepat dirampungkan. Target dividen 50% dari laba bersih juga
mesti ia penuhi. Fungsi intermediasi Bank Mandiri yang kurang lancar
menuntut dibenahi. Sampai semester I 2005, rasio kredit yang disalurkan
baru 56%.
Sebagai bankir, karier Agus cukup menawan. Lulus Fakultas Ekonomi UI
tahun 1984, ia sempat menekuni sejumlah jabatan eksekutif puncak di
sejumlah bank. Ia pernah menjadi dirut Bank Bumiputera, Bank Exim, dan
PermataBank.
Kini, di pundaknya, semua persoalan yang mendera Bank Mandiri
dipertaruhkan. Pekerjaan mahaberat, termasuk mengembalikan citra Bank
Mandiri yang terpuruk sangat dalam serta mempersiapkan diri sebagai bank
jangkar pada 2007. (prananda herdiawan) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|