| |
C © updated 11122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kps |
|
| |
Nama :
Prof. Dr.
Afan Gaffar, MA
Lahir :
Tente,
Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1947
Meninggal:
Yogyakarta, 8 Januari 2003
Agama:
Islam
Isteri:
Sujiyatni Purwaningsih
Anak:
= Nina Ulfah Nulatutadjie Gaffar
= Adi Prasetyo
= Erlangga Dwiyanto Aditya Gaffar
= Ika Ujiwulansari
Ayah:
Ahmad Daeng Ta’asia
Ibu:
Hamimah binti Haji Yusuf
Pendidikan:
= Sekolah Rakyat, Tente II (1959)
= SMP Negeri Tente (1963)
= SMA Negeri Bima (1966)
= D3 (BA) Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, (1970)
= S1 Fisipol, Universitas Gadjah Mada (1973)
= S2 (MA) Political Science, Northern Illnois University (1978)
= S3 (PhD) Political Science, The Ohio State University (1988).
Karir:
= Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, (1974- 2003)
= Dosen Pascasarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (1988)
= Pendiri dan editor Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, UGM
= Pengelola Program Pascasarjana Ilmu Politik, UGM
= Ketua dan sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM
= Dosen Luar Biasa pada Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Negara
Universitas Tujuh Belas Agustus, Surabaya (2000)
= Pendirikan Program Pasca-Ketahanan Nasional, UGM, bersama Dr. Nasikun
dan Dr. Maria Sumardjono
= Sekretaris MWA (Majelis Wali Amanah ) UGM
Kegiatan Lain:
= Anggota MPR-RI, Fraksi Utusan Golongan, (1998)
= Anggota Tim Tujuh, Departemen Dalam Negeri RI , Perancang UU Politik
(1988)
= Anggota Tim Verifikasi Partai Politik, Pemilihan Umum (1999)
= Anggota Tim Komisi Pemilihan Umum (KPU; 1999-2000)
= Anggota Tim Ahli , Panitia Ad Hoc I, Badan Pekerja MPR; 2001)
= Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Kabinet Pembangunan (1999)
= Deputi Menteri Negara Otonomi Daerah (2002)
= Anggota Dewan Penasihat Badan Pertimbangan Otonomi Daerah , (2001)
Organisasi:
= Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI), Pusat
= Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI)
= Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI)
Karya:
= Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi , (Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1999)
= Javanese Voters: A Case Study of an Election Under A Hegemonic Party
System in Indonesia, Gadjah Mada, Yogyakarta, Vol.1, July 1, 1997)
Penghargaan:
= Bintang Jasa Utama RI (1999)
= Satya Lencana Kesetiaan 15 Tahun
= Satya Lencana Kesetiaan 20 Tahun
= Piagam Penghargaan Pengabdian 25 Tahun dari UGM
Alamat Rumah:
Perumahan Sidoarum II, Jalan Durian B11, Sidoarum, Godean, Yogyakarta
55564
|
|
| |
|
|
|
|
Prof Dr Afan Gaffar (1947-2003)
Orang Bima yang Sangat nJawani
Guru Besar Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) kelahiran Tente,
Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1947, ini, walaupun bukan orang Jawa, terkenal sebagai
orang yang sangat nJawani. Ia dikenal luas para tetangganya karena banyak
bergaul dan sering keliling dengan naik motor. Dia secara mendadak meninggal dunia ketika hendak memangkas rambut di belakang
rumahnya di Yogyakarta,
Rabu (8/1/2003), sekitar pukul 14.00.
Jenazah pengajar
dan pengamat politik, ini disemayamkan di Balairung UGM dan
selanjutnya dimakamkan di Sidoarum, Godean, Yogyakarta.
Afan Gaffar meninggalkan seorang istri,
Sujiyatni Purwaningsih yang memberinya empat anak, Nina Ulfah Nulatutadjie
Gaffar, Adi Prasetyo, Erlangga Dwiyanto Aditya Gaffar, dan Ika
Ujiwulansari, serta dua cucu Kian dan Bima.
Afan dikenal sebagai ilmuwan yang aktif menulis di berbagai media massa,
kerap memberikan pelatihan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
maupun DPRD dan pernah menjadi anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum). Ia
juga seorang pengamat politik yang dekat dengan Amien Rais. Jabatan
terakhir sebagai Ketua Program Studi Ilmu Politik Lokal dan Otonomi Daerah
serta Sekretaris MWA (Majelis Wali Amanah ) UGM.
Penggemari olah raga Kempo, golf dan renang, yang sempat menjadi ketua Perkemi
DIY (1991-1993), ini dalam tiga bulan terakhir, sebelum meninggal, dia sibuk untuk menyelesaikan kurikulum
program S3 ilmu politik. Hal itu dilakukan terutama setelah dia
menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Keistimewaan DIY.
Walaupun Afan Gaffar kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, namun ia
terpilih sebagai Ketua Penyusunan RUU itu.
Intelektualitas
Ayahnya, Ahmad Daeng Ta’asia, seorang pegawai di kantor
pendidikan di Bima. Ibunya, Hamimah binti Haji Yusuf, buta huruf (Latin).
Namun masa kecil Affan diwarnai suasana
intelektualitas. Sebab, keluarga ini juga memiliki toko buku
terlengkap di kota kelahirannya itu. Toko buku yang menjual buku-buku agama (Islam), ilmiah dan sastra.
Sehingga sejak kecil, dia sudah sering
membaca, termasuk membaca buku-buku sastra.
Sejak kecil, dia sudah terbiasa hidup bersahaja. Terutama sejak ayahnya meninggal
ketika Affan berumur 10 tahun. Semasa SMP 1960, ia harus berjalan kaki sejauh lima kilometer.
Karena di desanya,
Tente belum ada SMP, ia harus bersekolah di Bima-Raba.
Anak kesepuluh dari sebelas bersaudara, ini sejak SMA juga harus membiayai
sekolahnya sendiri. Hal Ini akibat tidak menuruti keinginan ibunya agar
Afan
masuk ke Sekolah Guru Atas (SGA) dan kelak menjadi guru seperti kakak-kakaknya.
Namun, Afan malah nekat masuk SMA, secara diam-diam. Dia lebih
bercita-cita jadi pejabat atau dokter daripada jadi guru.
Ayahnya pun ketika masih hidup mengharapkan dansering membangga-banggakan kepada teman-temannya,
bahwa kelak anaknya akan
menjadi seorang dokter.
Pada mulanya, ibunya tidak tahu dia masuk SMA. Namun, tak berapa lama kebohongannya terungkap. Ibunya marah sekali. Akhirnya,
Sang Ibu, yang berwatak keras, membiarkannya masuk SMA, tapi
dengan syarat, harus membiayai sendiri sekolahnya.
Hal itu tidak menjadi masalah bagi Affan remaja. Sebab sejak SMP pun,
boleh dibilang, dia sudah bekerja membantu ibu, sepeninggal ayahnya. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci,
hingga menyeterika.
Tapi cita-cita ayahnya agar Affan
menjadi seorang dokter, tak bisa dia penuhi. Lantaran nilai pelajaran aljabarnya
tidak bagus. Ia pun memilih jurusan budaya. Sebab dia menyukai pelajaran sejarah dan sastra.
Selepas SMA (1966), dia pun
masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah
Mada di Yogyakarta.
Semasa kuliah, ia pun bekerja sebagai penjaga malam di sebuah proyek bangunan,
yang dilakoni sejak 1969 hingga 1970. Setiap hari, ia
mendapat upah Rp 50, dan seminggu Rp 350. Dia pun berusaha menghemat
uangnya, antara lain, dengan selalu makan
bersama buruh bangunan di proyek.
Kemudian, setamat sarjana muda (BA) tahun 1970 dia dipercaya menjadi
asisten dosen. Lalu, setelah lulus S1dari
Fisipol UGM (1973), Affan diangkat menjadi dosen jurusan
Ilmu Pemerintahan di almamaternya.
Pada masa kuliah di UGM, ia berkenalan dengan Sudjiatmi Purwaningsih, yang menjadi istrinya.
Ia mengenalnya sejak 1972,
di Pagelaran Alun-alun Utara. Kebetulan Fakultas Hukum, tempat Sudjiatmi
kuliah, berdampingan dengn Fisipol. Mereka pun menikah dan dikaruniai
empat anak. Dia sangat membanggakan peran isteri dalam perjalanan karirnya.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1976, ia pun mendapatkan dua tawaran beasiswa S-2. Beasiswa pertama
berasal dari Konrad Adenauer Stichtung untuk studi ke Jerman. Namun
tawaran ini tidak dia gunakan karena berpikir akan mengalami kesulitan dalam
bahasa (Jerman). Tawaran beasiswa kedua dari The Rockefeller
Foundation, Amerika Serikat, dia manfaatkan dengan baik hingga meraih gelar
Master
of Art Political Science, Northern Illnois University (1978).
Ketika awal semester, Affan sempat merasa shock. karena harus belajar ekstrakeras.
Sebab dia tidak punya waktu beradaptasi. Sebaik tiba di AS dia langsung kuliah.
Selain harus
belajar ekstra bahasa Inggris tetapi juga pola belajar yang
menuntutnya banyak membaca buku. Apalagi pada semester pertama itu, ia juga
terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di Indonesia.
Barulah pada semester berikutnya, setelah mengenal
situasi dan mendapatkan rumah yang layak, ia memboyong keluarga ke Amerika.
Karena sudah terbiasa belajar sambil bekerja, meskipun nilai
beasiswa lebih dari cukup, Affan juga bekerja paruh waktu di perpustakaan.
Di sana, dia juga sempat menjabat Ketua
Permias, organisasi mahasiswa Indonesia di Amerika.
Hampir sepuluh tahun berikutnya, dia mengambil gelar doktor di Ohio State
University (1988). Saat dia mengikuti program doktor itu,
ibunya meninggal. Ia tidak sempat menungguinya, pengalaman yang amat
menyakitkan baginya. Namun, ia berharap ibunya merasa bangga kepadanya,
karena
telah memenuhi keinginan ibunya agar ia menjadi guru, bukan guru biasa,
tapi guru sekolah tinggi. Dan, walaupun dia tidak berhasil memenuhi harapan ayahnya untuk menjadi dokter,
tetapi dia berhasil menjadi doktor. ►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|