|
|
 |

Nama :
R. Adang Ruchiatna Puradiredja
Lahir :
Jakarta, 24 November 1942
Suku Bangsa :
Sunda
Agama :
Islam
Postur :
Tinggi 168cm - Berat 74 Kg
Warna Kulit :
Sawo Matang
Rambut :
Hitam Lurus
Gol. Darah : B
Isteri :
Fofo Fauzia, Cirebon/06-8-1945 (Menikah pada tanggal 23-06-1974
Bandung)
Anak :
Yuke Yurike, Bandung/22-02-1975
Rhino Prayudhi, Bangkinang/08-07-1978
Ayah:
Raden Sanusi Puradireja(Alm)
Ibu:
Ny. Hj. R. Soekaya (Alm)
Pendidikan Umum
SD : 1950- 1956 : Lulus
SMP/B : 1956- 1960 : Lulus
SMA /B : 1960- 1964 : Lulus
Sus P-4 : 1972 : Lulus
Sus BKKBN : 1978 : Lulus
Tarpadnas : 1982 : Lulus
S.IP ( PT. UT) : 1995 : Lulus
SH ( PT. H M ) : 1996 : Lulus
M.Si (Universitas Satyagama) : 2000 : Lulus
Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Hukum di UGM : 2001
Pendidikan Militer
AMN : 1964 -1967 : Lulus
Sussarcabif : 1968 -( 6 Bulan) : Lulus
Suspa Sutman : 1970- (3 Bulan) : Lulus
Sus Intel/ Australia: 1971 -1972 : Sertifikat
Suspa Intel Ter : 1973 -1974 : Lulus
Sus Intel Bahasa Cina/Malaysia: 1975 -1976 : Sertifikat
Sus Lapaif : 1983 -1984 : Lulus
Seskoad : 1983 -1984 : Lulus
Sesko ABRI : 1990 : Lulus
Manggala Sektoral Eselon I Gubernur Angkatan X TH : 1995 : Lulus
Kegemaran :
Olah Raga: Renang,Yudo, Tenis, Karate, Sepak Bola, Golf
Kesenian : Band
Lain-lain : Membaca, Puisi
Korps :
Infanteri
NRP/NBI :
21331
Riwayat Kepangkatan :
Letnan dua 1967
Letnan satu 1970
Kapten 1972
Mayor 1977
Letnan Kolonel 1981
Kolonel 1988
Brigjen 1993
Mayjen 1994
Mayjen Tni (Purn) 1997
Riwayat Jabatan
Danton-I KI C 1968-1969 Bk. Tinggi Yon 132/BS
Danki-C 1969-1970 Bk. Tinggi Yon 132/BS
Pasi-I 1970-1972 Bk. Tinggi Yon 132/BS
Kasi-I 1972-1974 Tj. Pinang Kodim 0315
Kasi-I 1974-1976 Pekan Baru Korem 031 /WR
Karogal 1978 Padang Sudam-I
Wadan Yonif 1978-1980 Bangkinang Yonif 132/BS
Danyonif 1980-1982 Pd.Panjang Yonif 133/YS
Dandim 1982-1983 Padang Kodim 0312
Karopan Bata / 1984-1985 Jakarta Spam Suad
Papandya II/ Pam 1985-1986 Jakarta Spamad
Waas Intel 1986-1987 Jakarta Kodam Jaya
Asisten Kasdivif-I 1987-1988 Tim-Tim Divisi I Kostrad
As Intel Kasdam IV Diponegoro 1988-1990 Semarang Kodam IV
Danrem 1990-1992 Samarinda Kodam VI/TPR
Ketua Legiun Veteran Ri Daerah TK I Kaltim 1991 Samarinda LVRI
Pelindung Pengurus KONI Daerah Tk I Kaltim 1991 Samarinda KONI
Pelindung Pangda Pasi Kaltim 1991 Samarinda KONI
Ketua Pangda Pertina Kaltim 1992 Samarinda KONI
Anggota MPR Utusan Daerah 1992 Jakarta Sek DPR/MPR
Kasdivif I Kostrad 1992 Jakarta Kostrad
Pangdivf I Kostrad 1993 Jakarta Kostrad
Pangdam IX 1994 Denpasar Kodam IX Udayana
Ketua LVRI Tk. I Bali Denpasar LVRI
Anggota MPR Utusan Daerah Bali Denpasar Sek DPR/MPR
Danpusterad 1995 Jakarta Pusterad
Ketua Tim Asisten Dan Evaluasi Pssi 1997 Jakarta Kasad
Pati AD 1997 Jakarta Kasad
Waka II TKN PKLH 1997 Jakarta
Irjen Depsos 1998 Jakarta
Ketua Penasehat Yayasan Sad Satria Bhakti 1999 Jakarta
Pensiun PNS 2000 Jakarta
Pengawas Jakarta Yayasan Citra Handadari Utama 2000
Komisaris Utama PT. Jaya Perkasa Engineering 2002 Jakarta
Komisaris Utama PT. Bina Prima Perdana 2002 Jakarta
Wakil Komisaris PT. Dipasena Citra Darmaja 2002 Jakarta
Bintang Tanda Jasa
SL Penegak Penugasan G. 30 S/PKI 1967
SL Kesetiaan VIII Th 1975
SL Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1978-1979
SL Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1981
SL Kesetiaan XVI 1983
SL Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1987-1988
SL Kesetiaan 1991
BT Leglun Veteran RI 1994
BT Kep Nararya 1994
BT Kep Pratama 1995
BT Yudha Dharma Nararya 1996
BT Kep. Yudha Dharma Pratama 1997
Riwayat Penugasan Operasi :
1995 Penumpasan G.30 S/PKI Jakarta-Magelang
1978-1979 Operasi Seroja / Tim-Tim Yonif 132/BS
1981 Operasi Seroja / Tim-Tim Yonif 133/YS
1987 Operasi Seroja / Tim-Tim Divif I / Kostrad
1994-1995 Pangdam IX Udayana Denpasar-Bali
Penugasan ke luar negeri
Australia Sekolah Intel 1971-1972
Malaysia Sekolah Intel China 1974-1975
Thailand KKLN Sesko ABRI 1990
Singapura KKLN Sesko ABRI 1990
Saudi Arabia Umroh Haji 1993, 1996, 2000
Amerika Serikat Dinas 1996
Inggris Dinas 1997
Brunai Darussalam Urusan Pssi 1998
Hongkong / Taiwan Taekwondo 2000
Bangkok PSSI 2002
|
|
WAWANCARA: R. Adang Ruchiatna Puradiredja Siap, Pikeun Ngawangun Jawa Barat
Raden Adang Ruchiatna Puradiredja, S.IP, SH, M.Si, didaulat berbagai pihak
untuk ikut mencalonkan diri menjabat Gubernur Jawa Barat periode
2003-2008. Sehubungan dengan itu Wartawan Tokoh Indonesia, Yusak Sahat,
mewawancarai mantan Inspektur Jenderal Departemen Sosial ini. Ia bilang
silih asih, asah dan asuh, perlu digalakkan pikeun ngawangun Jawa
Barat. Obsesinya adalah ingin mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang
cageur jasmani-rohani, bageur, berakhlak baik, pinter,
cerdas dan rasional, bener, sesuai kaidah agama.
Apabila hal ini terwujud, maka karaharjaan lahir batin masyarakat Jawa
Barat akan menyinari langit dan menyuburkan bumi tatar Sunda khususnya dan
NKRI umumnya. Dari dalam karaharjaan lahir-batin, akan bermunculan karya
dan kreativitas yang mewujudkan kebaikan dan kebajikan semata. Jawa Barat
raharja, rea ketan rea keton, anu tani pada marukti, sodagar pada
baleunghar, nu jareneng teu matak ningnang, semah betah tumaninah di lemah
anu genah tur merenah. Seni, budaya, jeung olah-raga oge tangtu nanjung,
baranang mencrang tembong ka mana-mana. Berikut petikan wawancara dengan
master lulusan Universitas Satyagama dan mahasiswa Pasca Sarjana Magister
Hukum UGM ini:
Beberapa kalangan menginginkan Anda ikut mencalonkan diri untuk menjadi
Gubernur Jawa Barat. Apa yang mendorong Anda memenuhi kehendak ini?
Saya seorang prajurit, anak bangsa, yang selalu siap mengemban tugas yang
diamanahkan rakyat. Dari pengalaman saya bertugas selama ini, satu hal
yang paling berkesan dan terpenting adalah pada saat berinteraksi secara
langsung dengan rakyat, bergaul dengan mereka, dan mendengarkan apa
pendapat dan kehendak mereka, serta merasakan apa yang mereka rasakan.
Para tokoh masyarakat berpendapat bahwa rakyat Jawa Barat (Jabar)
sangat merindukan pemimpin yang memiliki karakter 5 N, yaitu: Nyunda,
Nyantri, Nyakola, Nyeni, dan Nyaah ka balarea, serta yang
sholat dan bisa silat. Dan, disebut, Anda memenuhi kriteria itu?
Mudah-mudahan saya memiliki karakter tersebut. Mudah-mudahan saya memenuhi
harapan masyarakat yang menyangkut figur ideal Gubernur Jabar yang sesuai
dengan kehendak rakyat.
Oleh karena itu, apabila saya terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat, maka
hal pertama yang akan saya lakukan adalah segera membuat suatu kebijakan
yang berpihak dan lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Selain itu juga saya akan selalu menjalin komunikasi yang bisa
menjembatani antara pihak pemerintah dan masyarakat menyangkut kebijakan
kepentingan publik, sehingga pemerintah tidak menjadi terasing dari
masyarakat, dan sebaliknya.
Anda kan putera Sunda, yang tentu memiliki komitmen kesundaan?
Iya! Saya hanya numpang lahir di Jakarta, dan pada umur dua tahun sudah
diboyong ke Garut. Kemudian saya dibawa ke Bandung untuk bersekolah di SD
Negeri Balong Gede dan SD Negeri Pagarsih, SMP Putera III, dan SMA Negeri
II Jl. Belitung Bandung. Setelah itu, saya melanjutkan ke AMN di Magelang.
Sejak kecil, kedua orang tua saya telah membekali saya dengan pepatah yang
sederhana dan selalu saya ingat setiap saat: “Ulah kumaha engke, tapi
engke kumaha” yang mengandung makna bahwa kita harus selalu berpikir
panjang, jangan bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana. Pepatah lain yang
selalu saya ingat adalah: “Ulah eleh rigig, sing bisa ngigelannana” yang
mengandung makna bahwa kita harus bisa menyesuaikan diri. Kedua pepatah
yang sederhana itulah yang selalu saya pakai sebagai pakarang dan ageman
dalam mengarungi kehidupan ini, dalam rangka ikhtiar neangan karaharjaan
lahir jeung batin.
Masyarakat Jawa Barat dikenal sebagai masyarakat yang religius, dengan
kekayaan warisan budaya dan nilai-nilai luhur tradisional, serta memiliki
perilaku sosial yang berfalsafah pada silih asih, silih asah, silih asuh.
Silih asih, maksudnya saling kasihsayangi karena Allah. Di atas landasan
itu tegak dengan kokohnya silih asuh dan silih asah. Silih asuh bermakna
saling senangkan dan saling jaga dari berbagai bencana. Adapun silih asah
menuju kepada saling tajamkan akal dan perasaan, atau dengan kalimat lain
dalam basa Sunda, silih simbeuhan ku pangarti.
Tatanan kehidupan yang senantiasa mengedepankan harmoni, seperti tergambar
pada pepatah; herang caina beunang laukna yang berarti berusaha untuk bisa
meraih tujuan utama tanpa menimbulkan kekeruhan atau kerusakan yang bisa
merugikan banyak pihak.
Masyarakat Jawa Barat juga merupakan masyarakat yang menyadari arti
pentingnya prinsip dan komitmen terhadap nilai-nilai kebajikan,
sebagaimana terekspresikan pada pepatah: ulah unggut kalinduan, ulah gedag
kaanginan; yang berarti konsisten dan konsekuen terhadap kebenaran, serta
penyerasian antara hati nurani dan rasionalitas seperti terkandung dalam
pepatah: sing katepi ku ati sing kahontal ku akal, yang berarti sebelum
bertindak tetapkan dulu dalam hati dan pikiran secara seksama.
Betapa luhurnya budaya masyarakat Jawa Barat (Sunda). Menurut Anda
bagaimana cara untuk mempertahankan nilai-nilai luhur budaya itu?
Memang dalam era keterbukaan global saat ini, hal ini menjadi tantangan.
Yakni bagaimana kita harus mempertahankan nilai-nilai luhur budaya bangsa
serta mengantisipasi masuknya budaya dari luar yang dapat mempengaruhi
budaya kita. Menurut saya, setidaknya ada dua hal yang perlu segera
dilaksanakan, yaitu pertama, peningkatan kualitas apresiasi masyarakat
terhadap budaya dan nilai-nilai tradisional, dan yang kedua, peningkatan
kesadaran kerukunan antarumat beragama.
Anda yakin bahwa figur Anda akan menjadi pemimpin yang nyaah kepada
rakyat Jabar?
Tentu! Sebab menurut hemat saya, kebutuhan masyarakat Jabar dapat
dikelompokkan ke dalam dua hal yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan
pengembangan usaha masyarakat. Kebutuhan dasar, antara lain seperti air,
kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan keamanan. Sedangkan kebutuhan
pengembangan usaha masyarakat, antara lain seperti pertanian, perkebunan,
perdagangan, dan industri.
Untuk melaksanakan amanat rakyat Jabar tersebut, yang pertama harus
diperhatikan adalah mencari kejelasan di mana wewenang pusat, di mana
provinsi, dan di mana kabupaten/kota. Apabila sudah jelas, maka Insya
Allah akan lebih mudah melaksanakan tugas pemerintahan.
Dalam kaitan ini, untuk pelayanan-pelayanan yang bersifat dasar maupun
untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat - atas pertimbangan
akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas - yang bersifat lokal
seyogyanya menjadi urusan Kabupaten/Kota, yang bersifat lintas
Kabupaten/Kota menjadi urusan Provinsi, dan yang lintas Provinsi menjadi
kewenangan Pusat.
Berarti Anda akan membenahi lebih dulu kebijakan otonomi daerah yang
sampai saat ini masih sering terjadi tarik-menarik, terutama mengenai
kewenangan?
Iya! Jika rakyat mempercayakan saya menjadi Gubernur Jabar, saya akan
membenahi lebih dulu mengenai kebijaksanaan otonomi daerah. Sebab melihat
kondisi saat ini, terutama mengenai kebijaksanaan otonomi daerah,
tiap-tiap pihak masih memperebutkan otoritasnya masing-masing dan merasa
tidak membutuhkan satu dengan yang lain. Pemerintah Kabupaten/Kota merasa
tidak membutuhkan Gubernur dan pemerintah Pusat.
Menurut saya, dalam melaksanakan otonomi untuk peningkatan pelayanan
kebutuhan dasar dan pelayanan pengembangan usaha masyarakat setidaknya ada
tiga hal yang perlu dipertimbangkan.
Pertama, akuntabilitas, yakni menyangkut penyerahan urusan akan
menciptakan akuntabilitas Pemda kepada masyarakat. Ini berarti bagaimana
mendekatkan pelayanan tersebut sedekat mungkin kepada masyarakat. Makin
dekat unit pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat akan
makin mendukung akuntabilitas.
Kedua, efisiensi, menyangkut penyerahan urusan akan menciptakan efisiensi,
efektivitas dan ekonomis dalam penyelenggaraannya. Ini berkaitan dengan
economies of scale (skala ekonomis) dalam pemberian pelayanan tersebut.
Untuk itu harus terdapat kesesuaian antara skala ekonomis dengan catchment
area (daerah pelayanan). Persoalannya adalah sejauh mana skala ekonomis
tersebut sesuai dengan batas-batas wilayah administrasi Pemda yang sudah
ada. Makin luas wilayah pelayanan yang diperlukan untuk mencapai skala
ekonomis akan makin tinggi otoritas yang diperlukan. Sebagai contoh,
bandara dan pelabuhan yang menangani antar Provinsi adalah menjadi
tanggung jawab nasional.
Ketiga, externalitas, yakni dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan yang
memerlukan pelayanan tersebut. Externalitas ini sangat terkait dengan
akuntabilitas. Makin luas externalitas yang ditimbulkan akan makin tinggi
otoritas yang diperlukan untuk menangani urusan tersebut. Contoh, sungai
atau hutan yang mempunyai externalitas regional seyogyanya menjadi
tanggung jawab Provinsi untuk mengurusnya.
Untuk itu sambil bekerja bahu membahu bersama seluruh pihak terkait di
Jawa Barat, saya juga akan meminta kepada pemerintah pusat untuk segera
menuntaskan berbagai peraturan perundang-undangan yang mendukung
pelaksanaan UU22/99 dan UU25/99.
Di antaranya peraturan tentang: (1) Hubungan Koordinasi, Kerjasama dan
atau Kemitraan antara Provinsi, Kabupaten dan Kota; (2) Pelimpahan
wewenang Dekonsentrasi dari masing-masing sektor; (3) Kewenangan yang
dilimpahkan dari masing-masing Departemen/LPND kepada Gubernur selaku
wakil pemerintah pusat; (4) Kewenangan daerah dalam mengelola sumberdaya
nasional dan kelestarian lingkungan di wilayahnya; (5) Kewenangan
Provinsi, Kabupaten/Kota di wilayah laut; (6) Standar Pelayanan Minimal
(SPM) sebagai tolok ukur untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan
wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat; (7)
Hubungan Legislatif dan Eksekutif Daerah; (8) Mekanisme Pelaksanaan Tugas
Dekonsentrasi oleh Dinas Provinsi; dan (9) Pengawasan Administrasi dan
Karier Pegawai di Wilayah Provinsi.
Apa visi dan misi atau strategi Anda dalam membangun Jawa Barat?
Visi dan Misi Jawa Barat 2010 telah dijabarkan dalam Rencana Strategis
Pembangunan Jawa Barat dan telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah. Hal
ini berarti siapapun pejabat gubernur sampai tahun 2010 nanti berkewajiban
untuk melaksanakan Visi dan Misi tersebut.
Visi Jawa Barat yaitu “Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai provinsi
termaju di Indonesia dan mitra terdepan ibukota negara tahun 2010” bisa
dicapai bila kita bersama dapat menciptakan kepastian hukum, keamanan dan
stabilitas politik yang selanjutnya akan menjadi dasar bagi pertumbuhan
ekonomi Jawa Barat dan sumbangannya yang nyata terhadap ekonomi nasional.
Selain itu, pemerataan pembangunan juga masih perlu ditingkatkan sebagai
pijakan yang kuat untuk pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan.
Berdasarkan visi tersebut, telah dijabarkan menjadi 7 Misi yakni: (1)
Menciptakan situasi kondusif melalui terselenggaranya reformasi politik
yang sehat; (2) Mendorong berkembangnya masyarakat madani yang dilandasi
nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya daerah (silih asih, silih
asah, silih asuh pikeun ngawangun masyarakat anu cageur, bageur, bener,
pinter, tur singer); (3) Memberikan pelayanan prima kepada masyarakat
melalui terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan terbuka; (4)
Memanfaatkan potensi sumber daya alam yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan; (5) Menjadikan Jawa Barat sebagai kawasan yang menarik untuk
penanaman modal; (6) Memberdayakan potensi lembaga keuangan untuk
mendorong usaha ekonomi masyarakat; dan (7) Memberdayakan masyarakat
melalui pemanfaatan IPTEK.
Visi dan misi itu tentu perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas?
Saya akan membuka akses bagi seluruh masyarakat terhadap semua informasi
yang terkait dengan program-program pembangunan daerah yang mencakup
keseluruhan prosesnya melalui suatu manajemen sistem informasi publik.
Saya yakin, usaha ini akan menciptakan kepercayaan timbal balik antara
pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi yang akurat dan
memadai serta kemudahan dalam mendapatkannya.
Oleh karena informasi adalah suatu kebutuhan penting bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pembangunan Jawa Barat, maka saya akan mendorong
Pemda Jabar supaya lebih proaktif memberikan informasi lengkap tentang
kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada masyarakat. Pemda juga
akan lebih mendayagunakan berbagai jalur komunikasi dan menyiapkan
kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. Kebijakan ini
akan memperjelas bentuk informasi yang dapat diakses masyarakat, bagaimana
cara mendapatkannya serta prosedur pengaduan apabila informasi tidak
sampai kepada masyarakat.
Lebih spesifik, dengan cara apa Anda membuka akses informasi tersebut?
Saya akan membuka keran informasi sebanyak-banyaknya kepada seluruh
lapisan masyarakat Jabar yang berbeda latar belakangnya, di antaranya
berupa: (1) Coffee Morning yang dilakukan setiap bulan; (2) Konferensi
Pers setiap bulan; (3) Konsultasi publik dan penjaringan aspirasi
masyarakat; dan (4) Menerima tamu masyarakat setiap saat.
Partisipasi aktif masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan
pembangunan. Tentang hal ini, apa pendapat dan langkah Anda?
Satu hal yang saya dianggap penting dalam usaha menggerakkan potensi
masyarakat adalah dengan memperkuat jaringan kerja (networking) antarwarga
Jawa Barat untuk meningkatkan daya saing dan mengembangkan kerja sama
dengan pihak luar. Untuk itu perlu ditingkatkan kepedulian antarsesama
masyarakat Jawa Barat melalui program pengembangan budaya gotong-royong.
Di samping itu perlu pula dikembangkan pola kemitraan pemerintah, swasta
dan masyarakat.
Bagaimana soal SDM pemerintahan dan peningkatan kemampuan birokrasi?
Untuk menggerakkan potensi SDM pemerintahan dapat dilakukan dengan
mengoptimalkan pemanfaatan SDM berkualitas dalam rangka meningkatkan
kinerja birokrasi. Caranya adalah dengan meningkatkan profesionalisme
aparat pemerintah daerah melalui program pengalokasian aparat birokrasi
sesuai dengan keahliannya, pengembangan berbagai jabatan fungsional, dan
penciptaan aparatur yang bersih dari KKN.
Kemampuan birokrasi perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi dan mengatasi
berbagai aturan yang tidak konsisten dari Pemerintah Pusat dan belum
tertatanya aturan hubungan antarlembaga vertikal maupun horizontal serta
antara eksekutif dan legislatif. Untuk itu perlu segera dilakukan program
peningkatan koordinasi penyusunan peraturan perundangan antara pemerintah
dan daerah, program pengembangan pola dan mekanisme kemitraan antara
lembaga eksekutif dan legislatif, serta penyempurnaan struktur organisasi
dan tata kerja (SOTK) Pemda Jabar.
Seorang cendekiawan Sunda, Mang Avip Saefullah, pernah menulis di surat
kabar bahwa fenomena kebudayaan bisu yang pernah diidap oleh masyarakat
Jawa Barat selama masa pemerintahan Orde Baru telah mengakibatkan provinsi
ini mengalami kerusakan yang cukup parah dalam hal budaya dan geografis
seperti maraknya kasus KKN, rusaknya geografis tatar Sunda, kehilangan
hutan, yang tersisa hanya 9%, banyak terjadi bencana alam dan banjir pada
tahun ini, dan banyaknya masalah sosial dan kriminal. Apa komentar Anda?
Kebudayaan bisu adalah kondisi kultural sekelompok masyarakat yang ciri
utamanya adalah ketidakberdayaan dan ketakutan umum untuk mengungkapkan
pikiran dan perasaan sendiri sehingga diam nyaris dianggap sebagai suatu
yang sakral, sikap yang sopan, dan taat.
Saya percaya bahwa kebudayaan bisu tersebut saat ini sudah sangat jauh
berkurang. Namun demikian, peringatan dari Mang Avip tersebut mesti
ditanggapi dengan seksama. Untuk itu diperlukan perubahan positif dalam
menghadapi fenomena kebudayaan bisu dan fenomena yang merugikan lainnya.
Menurut hemat saya, perubahan positif hanya dapat dicapai dengan
meningkatkan kualitas demokrasi dan memantapkan kewaspadaan terhadap
nilai-nilai yang merusak demokrasi itu sendiri.
Peningkatan kualitas demokrasi diperlukan untuk mempercepat proses
reformasi di segala bidang. Untuk itu efektivitas kinerja lembaga-lembaga
perlu ditingkatkan melalui pengembangan akuntabilitas penyelenggaraan
pemerintahan; peningkatan kemampuan kelembagaan legislatif, organisasi
politik, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya; penguatan pers dan
media massa yang bebas, serta penegakan hak asasi manusia.
Sedangkan untuk memantapkan kewaspadaan terhadap nilai-nilai yang merusak
demokrasi, dapat dilaksanakan melalui program pemeliharaan ketenteraman
dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat; dan program penguatan
kesadaran politik masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
Apa pun yang dibicarakan, sharusnya bermuara pada peningkatan indeks
pembangunan manusia (IPM) Jabar. Menurut Anda bagaimana?
Perkembangan IPM ditentukan oleh tiga komponen kinerja pembangunan manusia
yaitu komponen pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. IPM Jawa
Barat (tanpa Banten) pada Tahun 1996 mencapai angka sebesar 70,31, dan
pada Tahun 1999 turun menjadi 62,25 sebagai akibat krisis ekonomi.
Untuk meningkatkan IPM Jabar adalah dengan cara mengoptimalkan dan
meningkatkan kualitas SDM melalui kebijakan peningkatan mutu pendidikan
dan kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan misalnya melalui
program-program: (1)Peningkatan mutu dan orientasi pendidikan; (2)
Peningkatan mutu pendidikan luar biasa dan luar sekolah; (3) Pengembangan
sistem kesehatan; (4) Pengembangan pelayanan medik; (5) Pencegahan dan
pemberantasan penyakit; dan (6) Pengawasan obat, makanan dan bahan
berbahaya.
Sedangkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat, perlu peningkatan dan
penguatan kemampuan tenaga kerja produktif melalui program-program: (1)
Pemasyarakatan dan peningkatan kegiatan pelatihan kerja dan aspek-aspek
yang mempengaruhi peningkatan produktivitas tenaga kerja; (2) Penyusunan
pedoman dan rencana kebijakan penanganan purna kerja; (3) Penetapan upah
minimum; (4) Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan upah minimum.
Bagaimana komitmen Anda memajukan dunia usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat?
Untuk memajukan dunia usaha, kita dapat memanfaatkan ketersediaan
infrastruktur perekonomian yang telah ada, baik yang dimiliki Jawa Barat
maupun DKI untuk menarik investasi dari luar. Kerja sama dengan DKI dapat
dilakukan dalam berbagai bidang. Antara lain, bidang pengembangan
agrobisnis, industri jasa dan perdagangan, infrastruktur kelautan,
penyediaan air baku, pengelolaan jaringan irigasi, peningkatan dan
pemeliharaan jalan dan jembatan, pengembangan pelabuhan laut dan pelabuhan
udara, pengembangan jaringan pemasaran dan promosi produk industri
manufaktur, serta pengembangan informasi pasar.
Dunia usaha yang mengalami guncangan sejak terjadinya krisis moneter pada
pertengahan 1997 belum pulih benar. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan
keterkaitan usaha untuk menata struktur perekonomian, dan mendayagunakan
sumber daya lokal untuk menata struktur industri.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara: (1) Penguatan keterkaitan usaha
perekonomian antar sektor, komoditi, dan pelaku; (2) Penguatan keterkaitan
usaha perekonomian antar lembaga pelaku ekonomi; (3) Pemanfaatan dan
pengembangan bahan baku lokal; (4) Peningkatan kualitas SDM; (5)
Pengembangan manajemen produksi; (6) Pengembangan dan peningkatan
teknologi manufaktur; (7) Regulasi dan deregulasi pelayanan usaha industri
manufaktur; dan (8) Penguatan permodalan dan penciptaan iklim usaha yang
kompetitif.
Tentang perdagangan bebas, apa langkah yang perlu dilakukan?
Untuk mengantisipasi dan mengantisipasi menghadapi perdagangan bebas,
masyarakat, pemerintah dan dunia usaha perlu pula disiapkan dengan
berbagai upaya. Pertama, perlu segera dilakukan pengembangan pola kerja
sama dan kemitraan pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pembangunan.
Kedua, penciptaan pasar tenaga kerja yang kondusif, penguatan permodalan
dan penciptaan iklim usaha yang kompetitif. Ketiga, peningkatan jaminan
bagi pelaku investasi. Keempat, pengembangan informasi pasar. Kelima,
pengembangan perdagangan internasional dan nasional. Keenam, pengembangan
jaringan pemasaran dan promosi produk industri.
Dalam hal ini, daya tarik Jawa Barat guna penanaman modal, perlu pula
untuk selalu ditingkatkan. Untuk itu harus segera dilaksanakan peningkatan
usaha pengembangan sumber daya daerah; peningkatan jaminan keamanan bagi
pelaku investasi; peningkatan promosi investasi; pengembangan jaringan
pemasaran; serta peningkatan dukungan sektor perbankan dan lembaga non
perbankan.
Dengan berbagai hal yang Anda kemukakan, masyarakat Jawa Barat yang
seperti apa yang ingin Anda wujudkan?
Saya berharap dapat terwujud masyarakat Jawa Barat yang cageur
jasmani-rohani, bageur, berakhlak baik, pinter, cerdas dan rasional,
bener, sesuai kaidah agama. Apabila hal ini terwujud, maka karaharjaan
lahir batin masyarakat Jawa Barat akan menyinari langit dan menyuburkan
bumi tatar Sunda khususnya dan NKRI umumnya.
Dari dalam karaharjaan lahir-batin, akan bermunculan karya dan
kreativitas yang mewujudkan kebaikan dan kebajikan semata. Jawa Barat raharja,
rea ketan rea keton, anu tani pada marukti, sodagar pada baleunghar, nu
jareneng teu matak ningnang, semah betah tumaninah di lemah anu genah tur
merenah. Seni, budaya, jeung olah-raga oge tangtu nanjung, baranang
mencrang tembong ka mana-mana.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Artikel lain:
== Profil Adang Ruchiatna
|
|