| |
C © updated 04042007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Komisaris Jenderal (Purn) Drs H Adang Daradjatun
Lahir:
Bogor, Jawa Barat, 13 Mei 1949
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Wakil Kepala Polri (16 Juli 2004-Desember 2006)
Istri:
Nunun Nurbaeti
Anak:
1. Adri Achmad Daradjatun (lahir, 26 Oktober 1972)
2. Tuza Junius Daradjatun (lahir, 21 Juni 1975)
3. Ratna Farida Daradjatun (lahir, 11 April 1980)
4. Muhammad Azara Daradjatun (lahir, 30 September 1995)
Pendidikan:
- SD, Jakarta
- SMP, Jakarta
- SMA 1 Budi Utomo, Jakarta (tidak selesai, pindah ke Bandung)
- SMA 3, Bandung (1968)
- Akademi Kepolisian (1971)
- Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1980)
Khusus:
- Susjur Pa Intel (1973)
- Suspa Rengar Hankam (1983)
- Suspa Senior Intel (1986)
- Sespimpol (1986)
- Sus Manajemen Hankam II (1987)
- Tar Sospol ABRI (1989)
- Sesko ABRI (1994)
Karier:
- Inspektur Dinas Komando Sektor Kota 711, Jakarta Pusat (1971)
- Kasi Pengawasan Keselamatan Negara (PKN) Komando Sektor Kota 711,
Jakarta Pusat (1972)
- Kasi Sabhara Komando Sektor Kota 722, Jakarta Utara (1975)
- Ajudan Menhankam/Pangab (1976)
- Kepala Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (1980)
- Kasubbag Anev Srena Polda Metro Jaya (1983)
- Karoops Polres Jaksel Polda Metro Jaya (1983)
- Wakil Kepala Polres Jaksel Polda Metro Jaya (1984)
- Kabag Sosbud Dit Intelijen dan Pengamanan Polda Metro Jaya (1986)
- Kabag Sospol Dit Intelijen dan Pengamanan Polri (1987)
- Kabag Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Dit Intelpam Polri
(1989)
- Kadit Intelijen dan Pengamanan Polda Maluku (1990)
- Wakil Kepala subdit Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Dit
Intelpam Polri (1992)
- Instruktur Utama/Gadik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (1993)
- Perwira Pembantu III/Perencanaan Program dan Anggaran Srena Polri
(1994)
- Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Polri (1997)
- Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Polri (1997)
- Kepala Polda Jawa Barat (2000)
- Koordinator Staf Ahli Kepala Polri (Koorsahli) (2001)
- Kepala Badan Pembinaan Keamanan Polri (Kababinkam) (2002)
- Wakapolri (2004-2006)
|
|
| |
|
|
|
|
| ADANG HOME |
|
|
 |
Adang Daradjatun
Cagub DKI dari PKS
PKS secara resmi mendeklarasikan Adang Daradjatun
dan Dani Anwar sebagai pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta,
Senin 26/3/2007 di ruang rapat DPP PKS. Deklarasi ini mengawali perjuangan dakwah
pada Pilkada DKI Jakarta. Kemudian, Rabu (28/3/2007) malam di hadapan sejumlah anggota Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera,
Drs H Adang Daradjatun dan H Dani Anwar diambil ikrarnya untuk menjadi
Cagub dan Cawagub DKI Jakarta.
Hal ini menjadi hari yang
bersejarah bagi kedua calon itu, karena mereka berikrar gigih dalam mewujudkan
kemashlahatan masyarakat serta semangat dalam berjuang dan berdakwah
melalui Pilkada.
Hadir dalam kesempatan deklarasi antara lain Ust Hilmy
Aminuddin (Ketua Majelis Syariah), Tifatul Sembiring (Presiden PKS), Surahman Hidayat
(Ketua DSP), Tri Wisaksana (Ketua DPW PKS DKI), Saaduddin (kader PKS,
Bupati Bekasi terpilih), Nur Mahmudi Ismail (kader PKS, Walikota Depok),
Anis Matta (Sekjen PKS) jajaran struktur DPP dan DPW DKI Jakarta,
serta para undangan lainnya. ►e-ti
Adang Tawarkan Reformasi Birokrasi
Jakarta, Kompas 5 Juni 2007: Calon Gubernur DKI Jakarta, Adang
Daradjatun, menawarkan reformasi birokrasi di tiga sektor untuk
mengatasi masalah pengangguran, banjir, dan memperbaiki kualitas
pendidikan. Sasaran reformasi, selain mengubah cara pandang dan pola
berpikir kalangan birokrasi, juga mengubah sistem, mekanisme, dan
tanggung jawab tiga kepala dinas yang terkait dengan bidang itu.
Adang juga berniat mengubah pola hubungan birokrasi dengan DPRD, yang
sampai sekarang masih diwarnai persekongkolan kepentingan.
Persekongkolan itu sering kali tak memihak kepentingan publik.
Adang menyampaikan hal itu saat bertandang ke harian Kompas, Senin
(4/6). "Sebenarnya ada lima sektor. Dua sektor lain adalah transportasi
dan kesehatan," papar calon yang disandingkan dengan calon Wakil
Gubernur Dani Anwar. Pasangan ini diusung Partai Keadilan Sejahtera.
Adang mengatakan, jika ia terpilih, secara umum akan mengadakan
perampingan birokrasi dan penempatan kepala dinas yang tepat di
bidangnya, terutama di lima bidang yang akan jadi sasaran reformasi
birokrasi.
"Untuk lima kepala dinas yang menjadi prioritas, saya cukup panggil dia.
Beri batas waktu penyelesaian kasus secukupnya. Kalau gagal, minggir,"
ucapnya.
Tentang mengurangi jumlah penganggur di Jakarta, Adang mengusulkan untuk
memusatkan perhatian program balai latihan kerja (BLK) pada dua hal,
yaitu pengembangan pariwisata dan ekonomi mikro. Materi pendidikan dan
latihan di BLK pun harus diubah. Kalau sekarang perbandingan antara mata
pelajaran yang nonketerampilan dan yang keterampilan 70 : 30, nanti
harus diubah menjadi sebaliknya, 30 : 70.
Adang menawarkan, untuk pengembangan pariwisata, BLK sebaiknya memberi
pelatihan yang lebih realistis dan sederhana, seperti belajar bahasa
Inggris, bagaimana merapikan seprai, serta membuat kloset menjadi bersih
dan wangi.
"Saya juga tak antitempat hiburan malam. Tempat hiburan itu bagian dari
pariwisata. Jadi, tak masuk akal jika muncul kekhawatiran, jika saya
terpilih, semua tempat hiburan malam bakal ditutup," katanya.
Soal pengembangan ekonomi mikro, ia akan menerapkan kerja sama dengan
bank syariah dalam konteks bagi hasil. (win)
================
Kompas Rabu, 01 Agustus 2007
IDEALISME SEORANG ADANG
R Adhi Kusumaputra dan Iwan Santosa
Adang Daradjatun, jenderal polisi yang murah senyum dan santun. Sikap
itu sudah ditunjukkannya sejak menjadi Ajudan Menteri Hankam/Panglima
ABRI tahun 1977 dengan pangkat kapten. Ia berpenampilan correct, ramah,
santun, dan profesional.
"Pada saat itu saya berpikir suatu hari kelak Kapten Adang akan mencapai
posisi tinggi di jajaran Polri,” ungkap Letjen TNI (Purn) Himawan
Soetanto, seperti tertulis dalam buku Pengabdian Tanpa Henti, Siap
Mengabdi untuk Bangsa, Adang Daradjatun yang ditulis Threes Emir dan
Julius Pour.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, tahun 2004, Adang Daradjatun menjabat
Wakil Kepala Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal.
Koleganya, Jenderal (Pol) Sutanto, menilai Adang sebagai sosok perwira
Polri yang memiliki komitmen jelas, punya dedikasi dan loyalitas tinggi
terhadap kepentingan institusi Polri sepanjang pengabdiannya. ”Inilah
yang menjadikan Adang tetap eksis di lingkungan Polri ataupun di luar
Polri. Adang teguh memegang prinsip dan disiplin tinggi, yang patut jadi
teladan bagi generasi muda Polri,” ungkap Sutanto.
Kini Adang menjadi salah satu calon Gubernur DKI Jakarta periode
2007-2012. Diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Adang berpasangan
dengan Dani Anwar, bertarung dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.
Mengapa Adang bersedia dicalonkan menjadi orang nomor satu di
pemerintahan Provinsi DKI Jakarta?
Dalam percakapan dengan Kompas hari Minggu (1/7) di rumahnya di kawasan
Cipete, Jakarta Selatan, Adang mengungkapkan alasannya. ”Sebetulnya ini
alasan sentimental. Saya sudah 58 tahun hidup di Jakarta. Saya ingin
berbuat lebih banyak lagi untuk bangsa ini,” kata Adang.
Awalnya, tahun 2006, Adang berjumpa dengan Dani Anwar (39), generasi
muda yang penuh idealisme dari PKS. Selama satu tahun terakhir ini, Dani
Anwar dan Triwisaksana (Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI
Jakarta) ”bergaul” dengan Adang. ”Kami sering bertemu dan ternyata
memiliki kimiawi yang sama,” katanya.
Sepanjang hidupnya, Adang mengaku dia tak pernah lepas dari idealisme
dan pembaruan. ”Kalau ada orang yang tak punya idealisme dan tak mau
berubah, orang itu sudah lama mati. Hidup ini harus punya nilai tambah,”
ungkap ayah dari tiga anak ini.
Selama 36 tahun pengabdiannya bertugas di Polri, Adang berproses sebagai
pemimpin, mulai dari kepala kepolisian sektor, kepala kepolisian resor,
kepala kepolisian daerah, sampai wakil kepala Polri. ”Kalau saya
diizinkan dan dipilih masyarakat sebagai Gubernur DKI, lihat saya
sebagai pemimpin, manajer yang mengelola Kota Jakarta,” ujar Adang.
Dia merencanakan memberi kewenangan penuh kepada wali kota di wilayah
DKI Jakarta untuk mengatur daerah masing-masing. ”Kelak persaingan
antar-wali kota sangat ketat untuk memajukan wilayah masing-masing,”
kata Adang yang banyak meneriakkan slogan kampanye, ”Ayo Benahi
Jakarta.”
Tidak akan ke arah ekstrem
Tampilnya Adang-Dani sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang diusung PKS,
partai pemenang pemilu di Jakarta, tak luput menimbulkan kekhawatiran
dari sebagian masyarakat Jakarta mengenai ke mana Jakarta akan dibawa.
”Ada kampanye hitam yang menyebutkan, jangan pilih Adang sebab nanti
tempat hiburan dan mal akan ditutup dan semua perempuan di Jakarta
diwajibkan memakai jilbab. Saya tak akan membawa Jakarta ke arah ekstrem.
NKRI dan Pancasila adalah harga mati,” katanya.
Adang menceritakan pernah bertemu dengan sejumlah pengusaha muda di
Hotel Ritz-Carlton. Mereka meminta Adang tidak menjadikan Jakarta
seperti Kota Tangerang. ”Saya balik bertanya, Wali Kota Tangerang
berasal dari mana? Bukan dari PKS, kan? Saya lihat PKS ini anak-anak
muda yang berpendidikan tinggi,” tuturnya.
Adang juga melihat saat ini pertarungan politik dalam pilkada sudah
masuk dalam situasi kampanye hitam, menyudutkan dirinya dan PKS.
Misalnya, anaknya dikabarkan pernah terlibat narkoba atau PKS akan
meniadakan maulid dan tahlil. ”Saya melihat, dalam pertandingan, selalu
ada yang menang dan yang kalah. Demikian juga dalam pilkada ini. Saya
berharap masyarakat didewasakan untuk berpolitik,” ujarnya.
Menurut Adang, PKS memaklumi sikap Adang soal NKRI. ”Sejak bertugas
sebagai perwira Polri, saya selalu mengingatkan banyak pihak bahwa NKRI
dan Pancasila adalah harga mati. Jakarta adalah kota internasional, kota
dengan keberagaman, kota tempat perwakilan luar negeri bermukim. Semua
warga Jakarta harus maju, termasuk non-Muslim dan orang Tionghoa punya
hak yang sama,” janji Adang. ”Kita tidak bisa melawan kebhinekaan itu,”
kata Adang yang menegaskan koalisinya, koalisi dengan rakyat.
Kekayaan Adang senilai Rp 17,34 miliar tak luput mengundang pergunjingan
dan pertanyaan. Namun, ia menegaskan, ”Itu rezeki keluarga. Kalau saya
sih enggak punya apa-apa,” katanya. Istrinya, Nunun Nurbaiti, adalah
seorang pengusaha. Dia juga mengaku tak punya mahar politik ke PKS.
”Kalau PKS mau buka rekening, silakan saja,” katanya lagi.
Tokoh reformasi Polri
Salah satu prestasi Adang saat mengabdi di jajaran Polri saat menjadi
Ketua Tim Reformasi Polri adalah memisahkan Polri dari ABRI. Bersama
Letjen TNI Agus Widjojo, Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (alm), Prof
Satjipto Rahardjo, Prof Awaloedin Djamin, dan Prof JE Sahetapy,
diterbitkanlah kajian bertajuk Reaktualisasi Kedudukan, Fungsi dan Peran
Polri.
Adang lalu dibantu sejumlah perwira Polri membuat ”Buku Biru Polri”
berjudul Reformasi Menuju Polri yang Profesional meski menghadapi banyak
tantangan. Buku itu dibuat menjelang 1 Juli 1999 di Sespim Polri Lembang,
Bandung. Yang paling mendasar dari buku itu adalah Polri harus segera
mengubah paradigma di bidang instrumen, struktur, dan kultur.
Di mata ketiga anaknya, Adang sangat teguh dan disiplin. ”He is a
wonderful father. Setiap saya butuh pendapat dan nasihatnya, papa selalu
ada dan bisa menyelesaikan masalah,” kata Ratna Farida (27), anak ketiga
Adang.
Adang dan istrinya berhasil mengantar anak-anak mereka menjadi anak-
anak yang sukses. Adang juga ikut merancang pemisahan Polri dari ABRI
dan tumbuh mandiri seperti saat ini. Akankah Adang Daradjatun, jika
terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, juga berhasil mengelola Kota
Jakarta? Waktulah yang akan menjawabnya!
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|