| |
C © updated
02092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani
Lahir:
Jenar, Purworejo, 19 Juni 1922
Meninggal:
Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama:
Islam
Ayah:
Sarjo bin Suharyo
Ibu:
Murtini
Pendidikan Formal:
- HIS (setingkat S D) Bogor, tamat tahun 1935
- MULO (setingkat S M P) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
- AMS (setingkat S M U) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
Pendidikan Militer:
- Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
- Pendidikan Heiho di Magelang
- Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor
- Command and General Staf College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA,
tahun 1955
- Spesial Warfare Course di Inggris, tahun 1956
Jabatan terakhir:
Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) sejak tahun 1962
Bintang Kehormatan:
- Bintang RI Kelas II
- Bintang Sakti
- Bintang Gerilya
- Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
- Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
- Satyalancana G:O.M. I dan VI
- Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
- Satyalancana Irian Barat (Trikora)
- Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain
Tanda Penghormatan:
Pahlawan Revolusi
|
|
| |
|
|
|
|
Jenderal Anumerta Achmad Yani (1922-1965)
Jenderal Anti Komunis
Jenderal Achmad Yani terkenal sebagai seorang tentara yang
selalu berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika
menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) atau yang sekarang
menjadi Kepala Staf Angkatan Darat sejak tahun 1962, ia menolak
keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh
dan tani.
Karenanya, dengan fitnah bahwa sejumlah TNI AD telah bekerja
sama dengan sebuah negara asing untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, PKI
lewat Gerakan Tiga Puluh September (G 30/S) menjadikan dirinya salah
satu target yang akan diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI
AD lainnya.
Peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari itu akhirnya
menewaskan enam dari tujuh Perwira Tinggi Angkatan Darat yang sebelumnya
direncanakan PKI. Lubang Buaya, lokasi dimana sumur tempat
menyembunyikan jenazah para Pahlwawan Revolusi itu berada menjadi saksi
bisu atas kekejaman komunis tersebut.
Jenderal yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno, ini merupakan salah
satu tangan kanan dan kepercayaan Sang Proklamator. Ia sangat cinta dan
setia terhadap Bung Karno. Karena kecintaan dan kesetiaannya, ia bahkan
pernah mengatakan, “Siapa yang berani menginjak bayang-bayang Bung Karno,
harus terlebih dahulu melangkahi mayat saya.” Bahkan ada isu terdengar,
bahwa Achmad Yani telah dipersiapkan oleh Bung Karno sebagai calon
penggantinya sebagai presiden. Namun dirinya begitu dekat dengan
Presiden Pertama RI itu, Achmad Yani tidak setuju dengan konsep Nasakom
dari Soekarno. Isu dan prinsipnya itu akhirnya membuat PKI semakin benci
terhadap dirinya.
Achmad Yani yang lahir di Jenar, Purworejo pada tanggal 19 Juni 1922,
ini adalah putra dari Sarjo bin Suharyo (ayah) dan Murtini (ibu).
Pendidikan formal diawalinya di HIS (setingkat Sekolah Dasar) Bogor,
yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya
ke MULO (setingkat Sekolah Menegah Pertama) kelas B Afd. Bogor. Dari
sana ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (setingkat
Sekolah Menengah Umum) bagian B Afd. Jakarta. Sekolah ini dijalaninya
hanya sampai kelas dua, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan
oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Ia kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di
Malang dan secara lebih intensif lagi di Bogor. Dari sana ia mengawali
karier militernya dengan pangkat Sersan. Kemudian setelah tahun 1942
yakni setelah pendudukan Jepang di Indonesia, ia juga mengikuti
pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah
Air (PETA) di Bogor.
Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan, antara
lain berhasil melucuti senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, dirinya diangkat menjadi Komandan TKR
Purwokerto. Selanjutnya karier militernya pun semakin cepat menanjak.
Prestasi lain diraihnya ketika Agresi Militer Pertama Belanda terjadi.
Pasukannya yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan
Belanda di daerah tersebut. Maka saat Agresi Militer Kedua Belanda
terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II
yang meliputi daerah pertahanan Kedu.
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk
menghancurkan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang mengacau
di daerah Jawa Tengah. Ketika itu dibentuklah pasukan Banteng Raiders
yang diberi latihan khusus. Alhasil, pasukan DI/TII pun berhasil
ditumpasnya.
Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia ditarik ke Staf Angkatan Darat.
Pada tahun 1955, ia disekolahkan pada Command and General Staff College
di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Dan pada tahun
1956, ia juga mengikuti pendidikan selama dua bulan pada Spesial Warfare
Course di Inggris.
Pada tahun 1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera Barat,
Achmad Yani yang masih berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan
Komando Operasi 17 Agustus, untuk memimpin penumpasan pemberontakan PRRI
tersebut. Ia juga berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Sejak itu
namanya pun semakin cemerlang. Hingga pada tahun 1962, ia yang waktu itu
berpangkat Letnan Jenderal diangkat menjadi Men/Pangad menggantikan
Jenderal A.H. Nasution yang naik jabatan menjadi Menteri Koordinator
Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab).
Saat menjabat Men/Pangad itulah kejadian naas terjadi. Jenderal yang
terkenal sangat anti pada ajaran komunis itu pada tanggal 1 Oktober 1965
pukul 4:35 WIB, di kala subuh, diculik dan ditembak oleh PKI di depan
kamar tidurnya hingga gugur. Dalam pencarian yang dipimpin oleh Soeharto
(mantan Presiden RI) yang ketika itu masih menjabat sebagai Pangkostrad,
jenazahnya ditemukan di Lubang Buaya terkubur di salah satu sumur tua
bersama enam jenazah lainnya. Jenazah Achmad Yani dimakamkan di Taman
Makam Pahlawan, ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya yang
sebelumnya Letnan Jenderal dinaikkan satu tingkat sebagai penghargaan
menjadi Jenderal.
Dia gugur karena mempertahankan kesucian Dasar dan Falsafah Negara,
Pancasila, yang coba hendak diselewengkan komunis. Untuk menghormati
jasa para pahlawan tersebut, maka di Lubang Buaya, dekat sumur tua
tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung
ketujuh pahlawan Revolusi yakni enam Perwira Tinggi: Jend. TNI Anumerta
Achmad Yani, Letjen. TNI Anumerta Suprapto, Letjen. TNI Anumerta
S.Parman, Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono, Mayjen. TNI Anumerta D.I.
Panjaitan, Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S, dan ditambah satu Perwira
Pertama Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean. Tugu tersebut dinamai
Tugu Kesaktian Pancasila.
Peristiwa 1 Oktober 1965 tersebut kemudian telah melahirkan suatu orde
dalam sejarah pasca kemerdekaan republik ini. Orde yang kemudian lebih
dikenal dengan Orde Baru itu menetapkan tanggal 1 Oktober setiap
tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur
nasional. Penetapan itu didasari oleh peristiwa yang terjadi pada hari
dan bulan itu, dimana telah terjadi suatu usaha perongrongan Pancasila,
namun berhasil digagalkan.
Belakangan setelah orde baru jatuh dan digantikan oleh orde yang disebut
Orde Reformasi, peringatan hari Kesaktian Pancasila ini sepertinya mulai
dilupakan. Terbukti tanggal 1 Oktober tersebut tidak lagi ditetapkan
sebagai hari libur nasional sebagaimana sebelumnya.
Dalam pidato Bung Karno yang dikenal dengan “Jasmerah”, Bapak Bangsa itu
menyebut agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Lebih tegas
disebutkan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan
menghargai sejarahnya. Hendaknya begitulah yang terdapat pada bangsa ini,
khususnya pada para pemimpinnya. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|