| |
C © updated 1507002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Drs. Achmad Djunaidi, AK
Lahir:
Lubuk Linggau, 12 Juni 1943
Agama :
Islam
Pendidikan Formal:
1. SD Negeri II Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1956
2. SMP Negeri I di Sekayu, Sumatera Selatan, 1959
3. SMA Negeri di Lahat, tamat 1962
4. Fakultas Hukum Universitas Sriwidjaya Palembang, sampai tingkat II
tahun 1964
5. Akademi Ajun Akuntan Negara di Bandung, 1966
6. Institut Ilmu Keuangan Jurusan Akuntansi di Jakarta, 1972
Pendidikan Non-Formal:
1. Kursus Jabatan pembantu Akuntan Indonesia di Bandung, 1963
2. Penataran P4 Type A tahun 1982
3. Sespa Nasional Direksi BUMN
4. Kursus Reguler Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) angkatan XVlI,
tahun 1984
5. Kursus-kursus lain seperti, Kursus Analisa Efek, Kursus Appraisal,
Kursus Analisa Proyek, dll
6. Kursus dan Study Perbandingan Pasar Modal di Tokyo pada Nomura
Securities (1983), Nikko Sec, (1985 dan Yamaichi Sec, 1991)
7. Kursus ”Privatization on State Owned Enterprises” oleh UNDP di
Washington DC, 1990
8. Kursus-kursus singkat di luar negeri seperti, Housing Finance Systems,
FELT Centre, Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia,
tahun 1992
Pekerjaan:
1. Direktorat Akuntan Negara, Departemen Keuangan RI 1963
2. Ditjen Pengawasan Keuangan Negara, Departemen Keuangan, 1 April 1963
s/d 1 April1973.
3. Kepala Unit Pemeriksaan H4 di Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK)
1974-1978
4. Kepala Divisi Investasi Perum Astek, 1979-1982
5. Direktur Keuangan dan Investasi di PT Astek, 1983-199...
6. Direktur Utama PT Jamsotek, sejak 2000
7. Dosen Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Departemen Keuangan RI
8. Dosen STIE "Perbanas" Jurusan Akuntansi
Kegiatan Organisasi:
1. Ketua Korpri pada Unit PT Astek (persero)
2. Pengurus/Bendahara Ikal (lkatan Alumni Lemhannas), 1986-1993
3. Pokja Ekonomi DPP Golkar Sekretaris Sub Pokja II (Ekonomi Umum)
4. Pokja Kependudukan pada Lemhannas
5. Ketua Badan Pembina Olahraga Korpri Pusat, 1991-1995
Alamat Rumah:
JI. Taman Aries Blok F-12 No.7
Meruya Ilir
Jakarta Barat
|
|
| |
|
|
|
|
Drs. Achmad Djunaidi, Ak
Memimpin Jamsostek Lebih Fokus
Bercita-cita jadi ahli sejarah, malah jadi akuntan. Kini ia menjadi
Direktur Utama PT Jamsostek. Di bawah kepemimpinannya, PT Jamsostek lebih
progresif dan lebih fokus sebagai perusahaan jasa jaminan sosial tenaga
kerja.
Achmad Djunaidi lahir pada tanggal 12 Juni 1943 di Lubuk Linggau, Sumatera
Selatan. Ia adalah anak satu-satunya dari pasangan A. Lamsyari (ayah) dan
Halimah Kartodimedjo (ibu). Meskipun kini ia menjadi orang nomor satu di
PT Jamsostek, sebelumnya ia tidak pernah bercita-cita berkarir di bidang
keuangan. Ketika masih kecil, Djunaidi bercita-cita menjadi ahli sejarah.
Ia dengan tekun mengumpulkan tu1isan-tu1isan kuno yang ada di daerahnya.
"Tu1isan Ulu namanya", kata Djunaidi untuk menyebutkan tu1isan itu
terdapat di daun. Selain mengumpulkan tu1isan kuno, ia juga gemar
mengunjungi perkampungan bawah tanah yang terdapat di Pasemah, Sumatera
Selatan, bekas daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
Cerita masa silam dan bukti-bukti sejarah yang begitu sering dijumpai
Djunaidi sejak kecil, membuatnya amat menyukai bidang sejarah. Namun,
karena kondisi yang tidak mendukung, impiannya itu harus dikubur
dalam-dalam.
Ketika ia lulus SMA pada tahun 1962, ia tidak dapat meneruskan pendidikan
ke jurusan sejarah. Sebab, jurusan sejarah hanya ada di perguruan tinggi
di Pulau Jawa. Sementara itu, sebagai anak tunggal, orangtuanya merasa
berat untuk mengirimkannya ke Pulau Jawa. Keterbatasan dana pun menjadi
pertimbangan lain dari orangtuanya yang bekerja sebagai panitera
pengadilan. Akhirnya, ia memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya, Palembang.
Belum genap setahun kuliah di sana, Djunaidi membaca berita di koran
mengenai tawaran mengikuti Kursus Djabatan Pembantu Akuntan (KDPA) di
Bandung. Program studi ini menawarkan ikatan dinas bagi peserta yang lulus
testing. Melihat peluang itu, Djunaidi lalu berdiskusi dengan orangtuanya.
Ayahnya mengatakan bahwa, profesi akuntan masih langka di Indonesia.
Karena itu, prospek masa depannya sangat cemerlang. Akhirnya, Djunaidi
mendapat restu untuk berangkat ke Bandung.
Syarat penting yang harus dipenuhi oleh calon peserta kursus adalah nilai
selama di SMA harus minimum rata-rata tujuh. Bagi Djunaidi, syarat ini
tidak menjadi masalah karena ia adalah siswa lulusan terbaik, nomor satu
di sekolahnya, dengan nilai rata-rata di atas tujuh.
Ia berhasil diterima di KDPA. Setelah lulus pendidikan selama setahun,
Djunaidi kembali ke Palembang. Ia menjadi pegawai Akuntan Negara
Departemen Keuangan RI, sesuai dengan program ikatan dinas. Sambil bekerja,
ia pun kembali meneruskan kuliah di FH Universitas Sriwijaya, Palembang
yang sempat ditinggalkannya.
Teringat nasehat ayahnya yang pemah mengatakan bahwa profesi akuntan masih
langka di Indonesia, Djunaidi memutuskan berkonsentrasi pada pekerjaannya
sebagai pembantu akuntan di Palembang. Kuliah di FH Universitas Sriwijaya
akhirnya kembali ia tinggalkan.
Setelah bekerja selama dua tahun, Djunaidi berangkat kembali ke Bandung
untuk memperdalam ilmu akuntansi di Akademi Ajun Akuntan Negara. Dua tahun
kemudian ia berhasil lulus dan balik lagi bekerja di posnya semula.
Keinginannya untuk terus memperdalam ilmu akuntansi mendorongnya untuk
meneruskannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 1972
Djunaidi lulus menjadi Sarjana Ilmu Keuangan Akuntansi di Institut
Keuangan Jurusan Akuntasi di Jakarta. Setelah lulus, kali ini ia tidak
kembali ke Palembang melainkan, langsung bertugas di Kanwil Ditjen
Pengawasan Keuangan Negara Jakarta. Jabatannya adalah sebagai Akuntan
Pemeriksa Golongan III A.
Di tempat kerja yang baru, Djunaidi lagi-lagi menunjukkan prestasi yang
membanggakan. Setahun di Departemen Keuangan, Djunaidi langsung mencuri
perhatian Soemardjo yang menjabat Ketua BPK (Badan Pengawas Keuangan).
Prof. Soemardjo kemudian menarik Djunaidi ke BPK dan menempatkannya
sebagai Kepala Unit Keuangan H4 (bidang keuangan daerah wilayah Indonesia
Timur).
Ketika Umar Wirahadikusumah (Mantan Wakil Presiden RI Kabinet Pembangunan
IV) menjabat sebagai Ketua BPK, Djunaidi malah menjadi rebutan. Pasalnya,
meskipun Djunaidi bertugas di BPK tetapi ia sering ikut menyusun
organisasi dan anggaran dasar Yayasan Jaminan Sosial, yang kemudian
dilebur menjadi Perum Astek yang kemudian berubah menjadi PT Astek (persero)
dan kini menjadi PT Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Karena itu,
Moes Joenoes, Dirut Perum Astek saat itu, menginginkan Djunaidi pindah
kerja ke tempat yang dipimpinnya. Jelas, Umar yang juga mantan Pangdam
Jakarta dan Kepala Staf Angkatan Darat, tidak setuju.
Djunaidi tak dapat berbuat apa-apa. Sebab, kedua orang yang "memperebutkannya"
itu adalah atasannya. Dalam satu kesempatan main golf antara Umar dan
Joenoes, mereka sepakat mempertaruhkan Djunaidi. Siapa yang memenangkan
pertandingan go1f, berhak menentukan di mana Djunaidi harus berkantor.
Pertandingan dimenangkan Joenoes.
Maka sejak tahun 1978, Djunaidi pun pindah ke Astek. Ia dipercaya
menempati posisi Direktur Keuangan dan Investasi. Tugasnya adalah
melakukan berbagai pembenahan mulai dari dasar, yaitu penyusunan struktur
organisasi, job discription, manual akuntansi, anggaran, dan manual
investasi, komputerisasi akuntansi, perluasan jaringan dan sarana kantor,
dan lain-lain. Semua ini dilakukan Djunaidi agar dapat mengimplementasikan
ilmu akuntansi dan manajemen secara baik dan benar, berdaya guna dan
berhasil guna.
Ketika itu, sebagai Direktur Keuangan dan Investasi, ia tidak saja harus
memutar otaknya menyediakan uang untuk membayar seluruh kewajiban Astek,
tetapi ia juga senantiasa dituntut menemukan celah dan menemukan peluang
guna mengembangkan dana publik yang terkumpul, antara lain dengan
menginvestasikan uang Astek di beberapa tempat yang memungkinkan uang
nasabahnya bisa berkembang. Kejelian dan kepiawaian Djunaidi dalam hal ini,
akan berdampak positif, bukan saja terhadap perusahaannya, tetapi juga
terhadap nasabahnya. Dengan berkembangnya keuangan, maka Astek dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan pendiriannya,
yaitu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan pekerja beserta
keluarganya.
Djunaidi mengambil kebijakan untuk menanamkan uang di pasar modal untuk
mengembangkan Astek. Dan kepiawaian Djunaidi kemudian teruji, karena ia
berhasil meraih keuntungan dari uang yang ditanamkannya. Tahun 1989
misalnya, Djunaidi berhasil meraih keuntungan bersih sebesar Rp58 miliar.
Keuntungan ini meningkat seratus persen dari tahun sebelumnya dengan
keuntungan bersih sebesar Rp24,5 miliar. Sebagian besar untung yang diraih
itu, diperoleh dari Bursa Efek Jakarta.
Keberhasilan Djunaidi mengelola dan mengembangkan uang Astek, membuat
Astek menjadi salah satu lembaga keuangan bukan bank yang mendapatkan
kepercayaan dari pemerintah. Bukti dari kepercayaan itu terlihat dari
diberikannya izin pada Astek untuk memutar uangnya di lantai bursa dalam
jumlah besar, sampai Rp 250 miliar. Tanpa prestasi tersebut tidak mungkin
pemerintah memberikan izin tersebut. Jasanya itu membuat dirinya bertahan
cukup lama di posisi Direktur Keuangan dan Investasi PT Astek.
Kini, setelah PT Astek berubah menjadi PT Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga
Kerja), nama A. Djunaidi, Ak semakin berkibar dengan menduduki posisi
Direktur Utama.
Pengamat Bursa
Djunaidi tidak hanya piawai berdansa di lantai bursa, tetapi ia juga
memiliki pengetahuan yang luas serta pengamatan yang tajam terhadap
gerak-gerik yang terjadi di pasar modal. Tidak mengherankan, kalau
Djunaidi kemudian sering dimintai pikirannya mengenai upaya mengembangkan
pasar modal Indonesia. Para wartawan sering meminta pandangannya mengenai
situasi yang terjadi di pasar modal atau hal-hal yang perlu diupayakan
dalam mengembangkan pasar modal Indonesia. Djunaidi menguasai persoalan
pasar modal secara utuh. Karena itu pula, pikiran-pikiran yang
dilontarkannya dalam wawancara pers, seminar atau kolom-kolom surat kabar,
menarik untuk dijadikan sebagai bahan rujukan, baik untuk kepentingan
praktis, maupun kepentingan teoritis.
"Sistem kalender" dalam pemberian ijin penerbitan saham, adalah salah satu
pikiran yang pemah dikemukakan Djunaidi dalam rangka mendinamisasi pasar
bursa. Tujuan usulan yang ditujukan Djunaidi kepada Bapepam (Badan
Penanaman Modal) itu agar mengadakan pengaturan jarak waktu tertentu
terhadap perusahaan yang "go publik".
Sistem kalender dikemukakan ketika berduyun-duyunnya perusahaan yang go
publik. Hal ini membuat sahamnya tidak bisa diserap pasar. Sebagai contoh
kasus, Djunaidi mengemukakan realitas yang dihadapi oleh Semen Gresik yang
ketika itu baru memasuki masa penawaran dan mendapat respon cukup baik.
Tiba-tiba terdengar kabar Semen Padang dan Semen Tonasse juga akan
memasuki pasar modal. Berita ini menyebabkan investor asing yang semula
berniat memborong saham Semen Gresik, akhirnya berpaling ke Semen Padang
dan Tonasse. Dengan menerapkan sistem kalender ini, maka jarak waktu
antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang mau go publik bisa
diatur, dan kejatuhan pun bisa dihindari sejak dini!
Kader Pemimpin
Tahun 1984, Djunaidi dipanggil mengikuti pendidikan Lemhannas. Ia dinilai
sebagai seorang yang layak mengikuti pendidikan. Sebagaimana diketahui,
Lemhannas adalah lembaga penggodokan kader pemimpin bangsa. Semua menteri
mesti lulus dari lembaga itu lebih dulu. Djunaidi mujur bisa satu kelompok
dengan sejumlah tokoh nasional yang kini menduduki posisi penting seperti
Mayjen Syaukat Bandjaransari (Sekmil Presiden RI), Letjen Sahala
Rajagukguk (Wa KSAD), Letjen Soekarto (Gubernur Lemhannas), Ir. J. Parapak
(Deparpostel RI), Ir. Soeyitno, dan Barnabas Suebu, SH (Mantan Gubemur
Irian Jaya).
Dari mereka, Djunaidi banyak mendapat masukan yang penting. Ia mengagumi
pendekatan ke bawah yang dilakukan oleh Barnabas Suebu, terutama dalam hal
memotivasi rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Dari Rajagukguk,
Djunaidi mendapat konsep keterpaduan dalam penyusunan program dan
koordinasi dalam tahap-tahap pelaksanaannya. Sementara dari Syaukat,
Djunaidi belajar tentang konsep kewaspadaan nasional Ketahanan Nasional
dan Wawasan Nusantara serta ketepatan perkiraan situasi yang dihadapi.
Motto: Belajar Sambil Bekerja
Kepiawaian Djunaidi bermain di bursa dan ketajaman analisisnya mengenai
pasar modal bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena keahlian Djunaidi
adalah di bidang keuangan. Dalam keseluruhan kariernya, bisa dikatakan
berlangsung dalam prinsip: belajar sambil bekerja. Betapa tidak, ia banyak
mengikuti kursus yang berkaitan dengan uang. Kursus Manajemen Direksi BUMN.
Privatization on State Owned Enterprise selama sebulan di Washington.
Housing Finance Systems, Warton School of Economics, Philadelphia.
Keberhasilan dan kecemerlangan karirnya membuat Golkar sempat tertarik.
Djunaidi sempat mengisi salah satu pos di Pokja Ekonomi DPP Golkar. Di
Lemhannas, Djunaidi menjadi salah seorang yang mengisi barisan Pokja
Kependudukan. Sedang di organisasi profesi IAI dan ISEI, Djunaidi juga
berpartisipasi secara aktif.
Dari home-basenya Direktorat Akuntan Negara, ia telah memperluas kiprahnya
ke Badan Pemeriksa Keuangan, tenaga kerja, dan Lembaga Pertahanan Nasional
(dengan penguasaan security and prosperity approach) Pemerintahan. Pada
bulan Mei 1993, ia telah terpilih sebagai salah satu dari lima calon
Gubernur KDH Tingkat I Propinsi Sumatera Selatan. Sayang, ia gagal menjadi
gubernur. Selanjutnya, ia juga sempat menjadi calon Komisaris PT Bursa
Efek Jakarta pada bulan September 1993.
Perluasan wawasan di tingkat intemasional pun dilakukannya dengan ikut
serta sebagai anggota delegasi Indonesia pada International Labor
Conference di Geneva (Swiss) tahun 1981, Asian Labor Minister Conference
di Beijing tahun 1990, dan sebagai peserta pada Asian Securities Analyst
Conference di Taipei, Taiwan tahun 1987. Menurutnya, pengembangan wawasan
bagi seorang akuntan adalah penting dan perlu.
Kini, meski sibuk sebagai Dirut Jamsostek, Djunaidi menyempatkan diri
menjadi dosen di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan di perguruan
tinggi swasta. "Semua itu merupakan tanggung jawab", katanya. ►tsl,
dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|