| |
C © updated 31012008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Dr Achmad Baihaki
Lahir:
Serang, 31 Desember 1935
Isteri:
Asmah
Anak:
- Ahmad Nahara Sabaruddin
- Rizal Riyadi
- Andi Roza
- Alex Rusdi
- Vivi Fitriani
- Amer Rahmat
Pendidikan:
- SDN Cikande Banten
- SMPN Serang
- SMAN Bogor
- Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Indonesia
- S2 dan S3 University of Minnesota, AS
Pekerjaan:
- Ketua Plant Variety Protection, Pusat Perlindungan Varietas
Tanaman, Departemen Pertanian
- Dosen dFakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, pensiun 2006, namun
tetap gajar hingga kini
Penghargaan:
- Anugerah Sewaka Winaya Roha, Depdiknas, atas jasa pengembangan
perguruan tinggi, 2007
- Penghargaan Kepedulian dan Penegakan Hak Kekayaan Intelektual,
Pengembangan Iptek Bidang Perlindungan Varietas Tanaman, 2007
- Anugerah Zainuddin Harahap, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Tanaman
Indonesia (1997)
Alamat:
Bukit Dago Selatan, Bandung
Sumber:
Kompas, 31 Januari 2008
|
|
| |
|
|
|
|
| A BAIHAKI HOME |
|
|
 |
Prof Dr Achmad Baihaki
Kedelai dan Kontrak Hidup Miskin
Pada masa mudanya, Prof Dr Achmad Baihaki (73) pernah makan ”daging babi”.
Tetapi daging itu halal buat orang Muslim sebab tidak berasal dari hewan
babi, tetapi dari kedelai. Tak hanya ”daging babi”, dia juga pernah
makan ”daging sapi”, ”daging ayam”, dan ”es krim”. Semuanya berbahan
kedelai.
Baihaki mengonsumsi makanan tiruan dari kedelai tersebut pada tahun 1971
hingga 1978. Saat itu dia tengah kuliah tingkat magister dan doktor
bidang plant breeding atau pemuliaan tanaman di University of Minnesota,
Amerika Serikat.
Ketika itu AS sudah mampu membuat makanan tiruan seperti itu. Meski
sama-sama terbuat dari kedelai, tetapi rasa, aroma, tekstur, bentuk, dan
warna makanan tersebut bisa seperti makanan aslinya. AS juga sudah
memproduksi makanan dari kedelai seperti tempe, tahu, tauco, dan
berbagai kue, bahkan kosmetik.
Sejak tahun 1970-an AS sangat serius di bidang pertanian dan industri
kedelai. Saat itu mereka sudah menargetkan tahun 2002 akan menguasai
perkedelaian dunia. Target itu dipancang berdasarkan penelitian America
Soybean Association bahwa kedelai akan menjadi ”emasnya tanah” (the gold
of soil) dan sumber protein masa depan dunia (the future protein of the
world).
AS meningkatkan pertanian kedelai tidak hanya untuk kebutuhan pangan,
tetapi juga guna membuat biofuel atau bahan bakar dari minyak nabati
sebagai antisipasi makin terbatas cadangan dan mahalnya harga bahan
bakar minyak bumi. Saat itu AS menargetkan menaikkan produktivitas dari
2,2 ton kedelai per hektar menjadi 3,8 ton per hektar. Pada tahun 2007
negara itu sudah berhasil memproduksi 1,8 juta ton biofuel dari kedelai
dan jagung.
Kedelai dan lingkungan
Sejak mendalami bidang pertanian, Baihaki sudah menyadari pentingnya
sumber protein bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Dia masih ingat, pada
masa kecilnya kehidupan sehari-hari begitu sulit setelah Perang Dunia
II. Orangtuanya membagi sebutir telur untuk enam anaknya. Maka, hanya
sesendok telur itulah sumber protein termewahnya.
Baihaki mendapatkan kesempatan meneruskan sekolah di Fakultas Pertanian
Universitas Indonesia pada 1955. Semasa kuliah pada tahun 1959, dia juga
menjadi asisten dosen di Universitas Padjadjaran. Setelah lulus dari
Universitas Indonesia tahun 1962, Baihaki langsung mengabdikan diri di
Universitas Padjadjaran.
Tahun 1971 dia kuliah tingkat magister dan doktor di bidang pemuliaan
tanaman di AS. Pada tingkat magister, Baihaki memilih mendalami tanaman
jagung. Namun ternyata dia alergi terhadap tepung sari jagung. Saat
mengawinkan jagung, tangannya bengkak dan terus bersin. Karena alergi
itulah, pada tingkat doktor ia memilih mendalami sumber protein kedelai.
Sebelum kembali ke Indonesia, Wakil Presiden University of Hawaii
menawarinya pekerjaan sebagai plant breeder (ahli pemuliaan tanaman). Di
luar negeri, bidang pemuliaan tanaman sangat dibutuhkan. Orang yang
mendalaminya bakal kaya. Namun Baihaki menolak. Sejak berangkat dia
sudah membuat kontrak ”hidup miskin” sebagai ahli pemuliaan tanaman di
Indonesia. Keinginannya adalah mengembangkan keanekaragaman hayati
negeri ini.
Ia membuktikan keputusannya dengan meneliti kedelai. Beberapa varietas
kedelai baru sudah dihasilkan. Varietas itu disesuaikan dengan
lingkungan tempat kedelai ditanam. Ada kedelai untuk lahan pinggir
sungai, lahan tergenang air, dekat pantai, lahan kering, lahan subur,
dan lainnya. Dengan varietas yang disesuaikan dengan lingkungan,
Indonesia sesungguhnya bisa memproduksi kedelai secara optimum dan sulit
disaingi negara lain.
”Negara lain bisa membuat bibit tanaman, tetapi kalau tidak spesifik
dengan lingkungan, hasilnya tidak akan optimum,” katanya.
Hukum kedelai
Berkat penelitian, produktivitas kedelai Indonesia yang pada 1960-an
hanya 30 kilogram per hektar kini bisa mencapai 3 ton per hektar. Dua
varietas yang dihasilkan Baihaki, yaitu Manglayang dan Arjasari,
rata-rata menghasilkan lebih dari 3 ton per hektar, menyamai rata-rata
produktivitas kedelai AS.
Bahkan, dengan pemuliaan pernah dihasilkan 2 ton kedelai per hektar di
lahan pinggir Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Jika lahan pinggir waduk itu
luasnya 150.000 hektar, berarti saat panen bisa dihasilkan 300.000 ton
kedelai.
”Dari pinggir Waduk Jatiluhur saja bisa dihasilkan kedelai melebihi
kebutuhan Jawa Barat,” ucapnya.
Kebutuhan kedelai Indonesia sebesar 1,8 juta ton per tahun. Tahun 2002
Indonesia mampu menghasilkan 1,6 juta ton, tetapi pada 2007 merosot
menjadi 600.000 ton. Ini bukti minimnya perhatian pemerintah terhadap
dunia pertanian yang justru oleh negara besar dijadikan mesin
pembangunan.
”Indonesia seharusnya memiliki kebijakan perkedelaian juga bidang
pertanian lain dengan konsisten. Kalau ganti pejabat, kebijakan jangan
ikut ganti,” tuturnya saat ditemui di rumahnya di kawasan Bukit Dago
Selatan, Kota Bandung, pertengahan Januari lalu.
Ketidakperhatian pemerintah tampak dari sedikitnya varietas kedelai di
negeri ini. Indonesia hanya punya sekitar 100 varietas, sementara China
memiliki 3.000 varietas kedelai. Kedelai asal China itu menyebar ke
berbagai negara. Varietas dari China itu masuk ke Indonesia pada abad
XVIII dan tetap dikenal hingga kini.
Baihaki mengatakan, selain aturan hukum soal perkedelaian, kalau mau
maju sebaiknya Indonesia juga memiliki industri perbenihan swasta
nasional. Industriwan tidak bisa terus bergantung pada benih impor.
Alasannya, meskipun saat ini harganya dinilai lebih murah dibandingkan
dengan membuat benih sendiri, tetapi dalam hitungan tahun ketergantungan
itu harus dibayar mahal.
Kalau para ilmuwan Indonesia sudah berani membuat ”kontrak miskin” pada
dirinya sendiri, kapan pemerintah mau mengajak seluruh warga bangsanya
betul-betul berani berhemat untuk hidup mandiri dari pertanian? (Yenti
Aprianti, Kompas, 31 Januari 2008)
►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|