| |
C © updated 31012007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dap |
|
| |
Nama:
Ace Suryadi, PhD
Lahir:
-
Agama:
Islam
Jabatan:
Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas
Isteri:
Anak:
Saudara:
Tiga orang
Pendidikan:
•
Karir:
•
Alamat Kantor:
Ditjen PLS, Depdiknas, Gedung E Lt 3, Jl Sudirman, Senayan,
Jakarta 10270, Telp 021-5725033, 5725712 Fax 021-5725487
Alamat Rumah:
|
|
| |
|
|
|
|
| ACE SURYADI HOME |
|
|
 |
Ace Suryadi
Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Pendidikan luar sekolah
bagi siswa putus sekolah difokuskan untuk memperoleh kemampuan
berwirausaha. Untuk itu, pembelajaran kecakapan hidup (live skill)
keterampilannya yang bermanfaat langsung bagi anak-anak muda putus
sekolah, dan pengangguran.
Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas Ace Suryadi mengatakan
focus pendidikan ini dalam kaitan memberikan keterampilan kepada mereka
untuk memperoleh penghasilan. Misalnya, pendidikan wirausaha dan
keterampilan mengelola industri rumah tangga.
“Pendidikan keterampilan ini terobosan dalam mengatasi masalah
penggangguran di kalangan anak-anak putus sekolah,” kata Ace Suryadi
disela-sela acara Rembug Nasional Pendidikan 2006 di Sawangan, Depok,
Jabar, Jumat (21/4).
Untuk pendidikan wirausaha, antara lain bekerja sama dengan Departemen
Kehutanan dengan menanam jarak di Aceh, Nilam di Subang, Jabar, ulat
sutra di Bogor. Termasuk juga, menanam murbai.
Pola yang dilakukan dengan inti plasma. Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) sebagai inti dan masyarakat sebagai plasmanya. PKBM
menyediakan bibit, sarana dan prasarana seperti mesin, sekaligus membeli
hasilnya dari petani.
“Sekarang sekitar 120 orang menanam nilam di Subang yang hasilnya tiga
kali lipat dibandingkan menanam padi. Harganya, di luar US$160.000/kg,”
katanya.
Untuk industri rumah tangga, kata Ace, sudah diterapkan di Sumedang,
Jawa Barat dengan membuat makanan Opak bertujuan ekspor, antara lain, ke
Jepang, Singapura, Brunai Darussalam. Industri kecil ini berlokasi di
kampung dengan menyerap tenaga kerja sekitar 300 orang. Tengah dicoba
industri rumah tangga yang membuat Ranggina dengan tujuan ekspor juga.
“Orang-orang di luar negeri menyukai makanan khas Indonesia, seperti
tempe, oncom, opak, dan sebagainya,” katanya.
Peluang-peluang seperti itu, kata Dirjen, tinggal ditangkap pengusaha
kecil dan dikelola dengan baik, sehingga bisa masuk pasar internasional.
Kemampuan untuk memperoleh keterampilan membuatnya juga tidak terlalu
sulit dan pendidikan orang-orangnya juga tidak perlu tinggi-tinggi,
seperti pendidikan yang banyak dimiliki masyarakat pedesaan.
Sedangkan, untuk di perkotaan pihaknya mengembangkan bengkel sepeda
motor keliling dengan wadah koperasi jasa oto (Kasato). Peluang ini
melihat begitu banyaknya jumlah kendaraan bermotor, khususnya sepeda
motor. Bahkan, sudah masuk ke pedesaan.
Contoh lainnya, kursus menjahit. Misalnya, kursus Gilang Tiara Bekasi,
Jabar. Kursus ini di samping mendidik peserta berwirausaha, juga
sekaligus mengentaskan mereka yang buta huruf. Bahkan, setiap tahunnya
sekitar 1.200 orang buta huruf bisa melek dengan kursus ini.
Pasalnya, bagi peserta yang ingin mengikuti kursus diwajibkan membaca
terlebih dulu. Jadi, sebelum kursus menjahit mereka terpaksa harus
belajar membaca dulu di sana.
Pada awalnya kegiatan kursus ini merupakan swadaya. Namun, melihat
potensinya Ditjen PLS mengajak bekerja sama dengan memberikan bantuan
dana block grant untuk mengembangkan kursus sekaligus memelekkan orang
buta huruf.
“Tadinya, mereka tidak mau, karena merasa sudah mandiri. Namun, demi
kepentingan lebih banyak masyarakat yang bisa diserapnya akhirnya
bersedia juga. Toh, tujuannya sama, sama-sama ingin mencerdaskan dan
memandirikan masyarakat,” ujarnya.
Dana bantuan yang diberikan Ditjen PLS bervariasi mulai dari Rp25
juta-75 juta per lembaga. Dana PLS tidak terlalu banyak, pemberian itu
hanya semacam stimulus, agar warga yang memiliki dana membuat semacam
kursus atau industri rumah tangga yang mampu menyerap anak-anak muda
putus sekolah memperoleh pekerjaan.
Terkait dengan buta aksara Ace mengatakan saat ini ada 14,6 juta orang
yang mengidap buta aksara. Tahun ini diharapkan bisa mengentaskan 2,4
juta orang. Namun, kemampuan pemerintah pusat dan daerah hanya bisa
800.000 orang.
Sementara itu, Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan untuk memberantas
buta aksara sedikitnya membutuhkan Rp1,1 triliun per tahun. Pemerintah
menargetkan pada 2009 buta aksara turun sampai 5. Dari dana tersebut
yang ditanggung pemerintah pusat hanya sebesar 2/3 atau Rp700 miliar.
Sisanya diserahkan kepada pemerintah daerah. Dukungan dana ini harus
berkesinambungan hingga 2009.
Untuk mencapai target turun 5 pada 2009 perlu komitmen tinggi setiap
daerah, juga dana yang besar. Pemberantasan buta aksara ini, kata
Bambang Sudibyo, perlu strategi atau model pembelajaran baru. Model
pembelajaran paket A setara SD dan paket B setara SLTP yang semula
menggunakan bahasa Indonesia, harus dibalik menjadi 2-3 bulan pertama
menggunakan bahasa Ibu (daerah). Kemudian, bulan keempat menggunakan
bahasa Indonesia. (media indonesia )
Pelbagai konflik yang terjadi di masyarakat, baik yang
mengatasnamakan agama atau etnis, membuat beberapa pihak menuding pola
pendidikan kita sebagai kambing hitam. "Pendidikan kita tidak
berorientasi pada semangat menghargai perbedaan," kata Ace Suryadi.
Akibatnya, banyak di antara kita yang tidak mampu menikmati perbedaan,
bahkan tersiksa dengan perbedaan," tambah alumnus State University of
New York Amerika ini.
. ►ti/mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
|
|