| |
C © updated
08112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama :
Aburizal Bakrie
Lahir :
Jakarta 15 November 1946
Agama :
Islam
Jabatan:
Ketua Umum Kadin Indonesia
Pendidikan:
S1 Jurusan Elektro ITB tahun 1973.
Ayah:
H Achmad Bakrie
Perusahaan:
Bakrie Group
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
==
Aburizal Bakrie (3)
Akan Memberantas Penyelundup
Sebelum menjabat menteri, tokoh yang satu ini adalah trade mark-nya Kadin
(Kamar Dagang dan Industri). Sebutan itu bukan tidak beralasan. Selama
sepuluh tahun (periode 1994-1999 dan 1999-2004) menukangi Kadin, Aburizal
Bakrie berhasil membawa organisasi pengusaha itu sangat berpengaruh dalam
pengambilan kebijakan pemerintah.
Kini Ical -sapaan Aburizal- pindah "kamar". Bila sebelumnya hanya sebatas
mempengaruhi kebijakan pemerintah, kini dia menjadi penentu kebijakan.
Ical dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menko
Perekonomian. Sebagai mantan pejabat Kadin, apakah Ical akan membekingi
kepentingan pengusaha? Meneruskan kepentingan Kadin? Bagaimana pula
prospek bisnis Grup Bakrie? Berikut petikan wawancaranya dalam sebuah
kesempatan.
Pada saat ditawari SBY jadi menteri, apa poin penting yang dibicarakan?
Pembicaraan itu berlangsung rileks dan terbuka. Sebagai orang yang
terjun di dunia bisnis, saya berbicara dan berdiskusi mengenai berbagai
langkah ekonomi yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat. Ini agar
dunia usaha sebagai penopang ekonomi bisa tumbuh dengan baik.
Saya juga jelaskan mana yang harus menjadi prioritas pertama dan mana
yang akan menjadi prioritas kedua dan seterusnya. Saya juga mengatakan
kepada Pak Yudhoyono, semua konsep itu sudah saya siapkan dengan matang.
Jika kemudian saya terpilih, saya sudah siap dan tinggal koordinasi saja
antardepartemen. Oh ya, saya ketika dipanggil hari Sabtu 17 Oktober 2004,
sore hari.
Awalnya, penunjukan Anda sempat menjadi pro-kontra publik. Bagaimana
Anda menjawab keraguan itu saat ini?
Begini. Bagi saya, pro-kontra itu wajar. Itu demokratis. Tapi, yang perlu
saya jelaskan adalah saya ini akan berjalan dan bertindak dalam kapasitas
sebagai seorang menteri koordinator. Saya membuat prioritas-prioritas
kebijakan ekonomi untuk mendorong kerja lima tahun ke depan. Itu sudah
mencakup semua aspek perekonomian.
Ada lima prioritas yang saya susun untuk memperbaiki kondisi perekonomian.
Pertama, saya tegaskan, pemerintah akan menggunakan seluruh sumber
pendanaan yang ada di dalam negeri untuk membiayai kebutuhan pembangunan
sarana penunjang yang saat ini masih kurang.
Misalkan industri makanan dengan pertanian. Jika industri pertanian
diproteksi, maka pada saat yang sama, industri makanan akan terpukul
karena akan sulit untuk diekspor. Contoh lainnya adalah industri baja
dengan makanan. Jika industri baja diproteksi, maka harga kaleng akan
menjadi mahal sehingga makanan dalam kemasan kaleng tidak bisa ekspor
akibat harga kemasan yang terlalu tinggi.
Kedua, pemerintah akan segera menetapkan jenis strategi industri yang akan
diambil oleh Indonesia, yang diharapkan akan berjalan dalam tiga hingga
lima tahun kemudian. Keputusan mengenai strategi industri ini harus
dilakukan lebih awal.
Prioritas ketiga dalah pembangunan ekonomi domestik. Ini menyangkut
pembangunan pasar, pelaku usaha, produksi, hingga pembiayaannya.
Khusus untuk masalah pembiayaan, pemerintah mendatang harus melihat loan
to deposit ratio (LDR/rasio kredit) yang saat ini 53 persen. Dari Rp 450
triliun tabungan masyarakat di perbankan nasional, hanya Rp 190 triliun
yang dikembalikan kepada masyarakat. Artinya, pemerintah akan secara
hati-hati dan transparan menggunakan sumber-sumber dana yang ada di dalam
negeri tadi untuk membiayai pembangunan ekonomi domestik.
Prioritas keempat, pemerintahan akan fokus membangun infrastruktur yang
saat ini sudah sangat hancur. Berdasar studi yang dilakukan di Kadin,
paling tidak perlu USD 150 miliar untuk membangun infrastruktur selama 10
tahun.
Dari USD 150 miliar tadi, USD 98 miliar atau sekitar Rp 900 triliun per
tahun di antaranya dapat dibiayai oleh pihak swasta. Pemerintah harus
menyediakan dana paling sedikit USD 52 miliar selama sepuluh tahun atau Rp
450 triliun per tahun.
Prioritas terakhir adalah kebijakan di bidang energi. Dalam jangka waktu
enam bulan hingga satu tahun, kebijakan energi tersebut akan disusun lebih
serius oleh pemerintah. Menurut saya, seluruh energi yang ada dapat
disalurkan ke pusat-pusat konsentrasi penduduk, terutama ke Pulau Jawa.
Ini bisa menggunakan sistem pipanisasi dari daerah kaya energi, seperti
Kalimantan. Jumlah dana yang diperlukan untuk melakukan pipanisasi itu
hanya USD 2,5 miliar sampai USD 3 miliar atau sekitar Rp 30 triliun.
Program prioritas 100 hari?
Yang menjadi fokus utama kita, yakni menggerakkan sektor riil,
pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal.
Pemerintah harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya
yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang.
Dulu, Anda pernah bersuara keras soal penyelundupan. Bagaimana setelah
Anda jadi pejabat?
Itu cita-cita saya yang belum kesampaian. Penyelundupan kini masih marak.
Mulai gula, kayu, hingga beras. Saat saya masih aktif di Kadin, saya sudah
mencoba mengatasi penyelundupan ini dengan pemerintah, tetapi masih belum
berhasil. Kali ini saya tegaskan, pemerintah akan fokus untuk memerangi
penyelundupan. Saya sudah duduk di pemerintahan.
Karena penyelundupan sudah merusak produsen pertanian dan manufacturing,
jadi harus ada gerakan untuk mengatasi hal itu. Saya sebenarnya mendapat
pengarahan dari Bapak Presiden yang mengatakan bahwa beliau akan
mengadakan inspeksi mendadak pada poin yang krusial dan berbahaya. Jadi,
cita-cita saya untuk memberantas penyelelundupan akan saya realisasikan
sekarang.
Sekarang bagaimana kelangsungan bisnis Grup Bakrie?
Sejak saya memutuskan untuk mengikuti konvensi Partai Golkar, saya sudah
melepaskan kegiatan bisnis saya. Itu semua sudah ada yang ngurus. Jadi,
saya tetap akan berkonsentrasi untuk melaksanakan tugas yang diamanahkan
kepada saya sebagai menteri koordinator bidang perekonomian. Artinya, saya
akan bersikap profesional. Kepentingan negara tetap saya utamakan.
Setelah Anda menteri, ide dan usul Kadin akan terpakai terus?
Saya tegaskan, saya akan profesional. Saya ini menteri dari pos
profesional. Jadi, setelah jadi menteri, saya tetap akan profesional. Tapi,
ide-ide teman Kadin yang saya nilai baik dan bagus sebagai sebuah
kontribusi ekonomi kepada negara tetap diakomodasi.
Sebagai menteri koordinator, bagaimana Anda mengendalikan para menteri
teknis?
Insya Allah, dengan komitmen untuk memajukan bangsa dan negara ini, saya
dan anggota kabinet lainnya akan bekerja sama seoptimal mungkin dan sebaik
mungkin. ► e-ti/Indo Pos 8 November 2004
== 1
2 3
==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|