A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 

 
 


 
  C © updated 03032004  
   
  ►e-ti/maz  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

WAWANCARA:  1   2   3   4    =

 

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (1)

Zone of Peace and Democracy


Indonesia ini harus masuk dalam ‘zone of peace and democracy’ kalau ingin menjadi negara yang beradab dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama dengan negara-negara lain. Di situlah baru ketahuan bahwa Indonesia akan strong. Pernyataan ini dikemukakan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, pemimpin Ma’had Al-Zaytun dalam percakapan dengan Tim Wartawan TokohIndonesia DotCom, di Wisma Tamu Al-Ishlah Ma’had Al-Zaytun.

Dia didampingi dua orang staf (sahabat) yakni Abdul Halim dan Nurdin Tsabit serta seorang wartawan Majalah Al-Zaytun. Wawancara (percakapan) berlangsung Kamis malam 19 Februari 2004 setelah Wartawan Tokoh Indonesia, sejak pagi hingga menjelang magrib, meninjau hampir seluruh gedung dan lahan pertanian dengan segala aktivitas di Ma’had Al-Zaytun.

Menurutnya, manusia itu dipersiapkan untuk menjadi dirinya di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir, punya bajik dan bijak, sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan bangsa-bangsa lain. Itu saja yang dibekalkan pada peserta didik dan mereka nanti akan berinovasi pada zamannya.


Sehingga nanti kita bertemu yang namanya ‘International Setting’ karena cita-cita seperti itu merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir kita, “international thinking’. Cara solidaritas kita, international solidarity. Tatanan hidup kita, setingnya, “international setting’. Barangkali itulah yang dinamakan hidup global dan itulah yang dinamakan globalisasi. Kekuatan nasional, namun kita mampu mengakses kehidupan antar bangsa.

Beberapa bagian dari percakapan ini telah tertuang dalam tiga judul tulisan lainnya: Pelopor Pendidikan Terpadu, Ponpes Peradaban Berskala Dunia, dan Laboratorium Alam dan Kegiatan Ekonomi Terpadu. Dalam petikan wawancara ini, beberapa bagian itu juga kami tuangkan, dengan harapan, kiranya kejernihan dan keutuhan informasinya tersajikan kepada pembaca. Berikut petikannya:

M-TI: Kami sudah banyak mendengar dan membaca berita mengenai Ma’had Al-Zaytun ini termasuk adanya perbedaan pendapat mengenai kehadirannya. Kami sengaja datang dengan latarbelakang berbeda demi kemurnian penulisan. Salah satu yang ingin kami perjelas adalah mengenai ide dan tujuan awal berdirinya Ma’had Al-Zaytun ini, termasuk visi, filosofinya. Di samping itu kami ingin mendengar kisah keberhasilan Syaykh sendiri hingga bisa seperti sekarang ini.

SYAYKH: Yang pertama kita sampaikan terimakasih, Anda datang dengan niat memperdekatkan antara satu bangsa, warga bangsa Indonesia yang satu dengan warga lainnya. Sebagai satu bangsa Indonesia, kita sudah punya keyakinan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri, jadi kami tidak merasa berbeda.

Selanjutnya kalau Anda menginginkan cerita dari kami, kami ini tidak terlalu biasa untuk mengungkapkan suatu, yang kata orang, itu sebagai sukses, sebab kami merasa belum sukses. Sukses masih ada di depan kami, yang akan kami raih. Sukses masih ada di depan dan belum pernah kami raih, dan terus kami ingin meraihnya. Bila ada sesuatu yang kami capai hari ini, itu adalah untuk hari ini dan kemarin. Ke depan belum ada sukses.

Adapun tentang Ma’had Al-Zaytun yang Anda tanyakan tadi, seperti apa cerita mula berdirinya, visi, filosofi dan sebagainya, ini sebenarnya merangkum kehendak bangsa Indonesia. Di samping kita sendiri mempunyai satu gagasan bahwa peradaban umat manusia tidak boleh diputus, kita harus bersambung dengan berbagai kemampuan yang ada pada kita semua. Dengan satu manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’ sebab kekitaan itu mempunyai satu kekuatan yang tidak pernah dapat diruntuhkan oleh siapapun kecuali oleh yang membuat kita itu sendiri.

Jadi kita (Al-Zaytun), manajemennya untuk menyambung peradaban umat manusia ini dengan system kekitaan dan bukan keakuan, sebab aku umurnya cepat, hanya terbatas. Tapi kalau kita sangat lama dan tidak pernah putus.

Jadi, Al-Zaytun adalah cita-cita bangsa Indonesia yang ingin menciptakan suatu lembaga pendidikan yang excellent. Excellent di dalam pendidikan merupakan dorongan untuk mencapai national survival. Itu yang kita rasakan. Namun memulainya, banyak yang bertanya dari mana harus dimulai.

Dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia tatkala sebelum masa penjajahan, telah mempunyai satu sistem pendidikan yang dinamakan pesantren. Kami dan kawan-kawan memulainya dari sana. Namun kita tidak ambil fisik pesantrennya tapi ‘roh’ pesantrennya. Kita ambil ‘roh’ pesantren yang mereka simpulkan sebagai kemandirian. Enterpreneurship yang kita ambil dari jiwa pesantren itu.

Maka perjalanan Al-Zaytun itu dijiwai dengan semangat ‘pesantren spirit but modern system’. Dari pesantren itu yang diambil spirit kemandirian dan enterpreneurship-nya. Lalu dalam perjalanannya, kita masukkan nilai-nilai modern yang berazas kepada ciri-ciri modern itu: pertama, bergerak berdasar ilmu; kedua, program oriented; ketiga, kenal prosedur; keempat, mempunyai organisasi yang tegas/kuat; kelima, mempunyai etos kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas. Modern inilah yang kami jadikan sistem di dalam membangun semangat pesantren ini.

Dan cita-cita ini sudah lama dalam benak kami, namun realisasinya baru bisa dilakukan di penghujung abad 20 yaitu pada tahun 1999 bulan Juli awal, dan diresmikan oleh Presiden Habibie 27 Agustus 1999. Jadi perjalanannya baru masuk tahun ke 5.


Tujuan kita membuat pendidikan seperti ini, tidak lain dan tidak bukan ingin mencapai kecerdasan bangsa. Supaya bangsa kita semua menjadi cerdas, menjadi bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan ‘kemanusiaan’.

Pendidikan yang kita lakukan ini, juga menginginkan agar putra-putri bangsa Indonesia ini sanggup menguasai ‘science & technology’ dengan segala perkembangannya. Kemudian yang paling inti, sebagai warga bangsa, mereka mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Dan yang terakhir, sanggup hidup dalam tataran antar bangsa dengan penuh peradaban yang sempurna. Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an-nya disebut dengan ‘basthotan fil ‘ilmi wal jismi’ dan Al Qowiyyu al Amin.

Cita-cita seperti ini bukan kita rangkum sendiri, tetapi bersama-sama. Sebelum kita mendirikan ini, kita masuk ke dalam berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia maupun di luar. Kami berkelana untuk melihat, studi banding dan sebagainya.


Kita memasang motto, memberikan penjelasannya, dan tujuan kita. Motto kita yang utama kita sampaikan, bahwa di sini pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pengembangan budaya perdamaian. Itu diterima.

Tampilnya Al-Zaytun ketika itu, di saat Indonesia sedang masuk di dalam situasi krisis total, baik politik, ekonomi dan lain-lain. Berbagai kekerasan terjadi ketika itu. Kita mulai di saat seperti itu.

Terus berjalan, tahun kedua semakin banyak, tahun ketiga, keempat, kelima dan hari ini (19 Februari 2004) santri sudah berjumlah 7000-an lebih, percisnya 7.329 orang dalam tempo 5 tahun. Dan saat ini, Departemen Agama mengakui bahwa Ma’had ini merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik. Kita mendapatkan sertifikat semacam itu, yang diberikan awal Januari 2004. Kemudian dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun terbaik di Jawa Barat. Itulah kalau cerita tentang Al-Zaytun, jadi enteng-enteng saja.

M-TI: Mengatakannya barangkali yang enteng, mewujudkannya tidak mudah?

SYAYKH: Kalau sudah ditarik rodanya, kereta itu akan berjalan dengan sendirinya.

M-TI: Al-Zaytun ini sebuah keajaiban, dalam lima tahun sudah bisa seperti ini?

SYAYKH: Mobil itu, kalau bannya sudah berjalan, justru kita harus pandai menyetirnya. Jadi sudah nggak ada yang berat lagi.

M-TI: Berarti yang menyetirnya yang hebat.

SYAYKH: Bersama-sama, sekali waktu kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di padang yang yang terang.

M-TI: Tapi tidak tanggung-tanggung tantangan yang dihadapi Syaykh dan sahabat-sahabat di sini dalam membangun dan mengelola Ma’had Al-Zaytun ini?

SYAYKH: Kalau mengenai tantangan, kita hidup tanpa tantangan maka kita tidak menemukan manisnya hidup. Tantangan hidup adalah ciri bahwa kita diberi kesempatan untuk men-solving.

M-TI: Dari sekian banyak tantangan itu, ada yang sampai menerbitkan buku tentang Syaykh dan Ma’had Al-Zaytun, yang mengatakan di sini sesat dan sebagainya. Mungkin ada sesuatu yang menjadi kiat Syaykh sendiri untuk menghadapi hal-hal seperti itu?

SYAYKH: Kita terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik. Tantangan itu kita solving dengan cara itu. Tampilkan dengan sesuatu yang lebih baik, sehingga tantangan itu justru akan memberikan satu nilai pada kita.
Bukan tidak dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan, “oh…ini di sini ‘nih yang harus kita lalui, oh… ini di sini yang harus kita singkirkan, oh…di sini yang harus kita laju ke depan”. Itu kita jadikan tantangan, dan kita siap men-solving.

M-TI: Kalau diamati, tidak ada reaksi yang demikian rupa dari Syaykh tentang pendapat yang mengatakan bahwa Al-Zaytun ini menyesatkan?

SYAYKH: Reaksi kita harus membangun dan mendidik tanpa henti. Seperti yang Anda katakan, bahwa 5 tahun sudah seperti begini, ini adalah hasil reaksi. Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna apa-apa dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati karya bangsanya yang nyata itu.

Kemudian mengenai masalah adanya orang mengatakan di sini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam tadi, itu sejarah nanti yang membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah, kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya sendiri, kehancuran yang terjadi.

Jadi ‘kan kita yang menulis sejarah itu, maka kita tulis sebaik-baiknya, dengan karya tentunya. Ini namanya karya sastra. Sastra itu macam-macam ‘kan? Bukan cuma tulis saja. Sastra itu termasuk seni dalam mengelola apa pun. Kebetulan saya mendalami sastra karena sekolah di sastra dulu.

M-TI: Kemarin Departemen Agama menentang Al-Zaytun, tapi sekarang sudah memberikan penghargaan. Bagaimana ceritanya?

SYAYKH: Bukan menentang, cuma berusaha untuk mencari tahu. Setelah tahu, ujungnya mereka juga salut. Ini juga sejarah, karena kita tulis. Andainya sejarah itu sendiri yang menulis, kita tidak bisa mengendalikannya.

M-TI: Bahkan ada salah satu yang menduga bahwa Al-Zaytun didirikan dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia?

SYAYKH: Orang menduga boleh saja. Diduga di sini sesat pun tidak pernah dibantah. Menduga seperti itu pun kita tidak pernah bantah. Tapi dunia ini tidak boleh duga-duga, kita harus berpikir modern seperti tadi itu toh! Setiap bergerak harus berdasar ilmu.


Sekarang, antara ilmu dan duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan ‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, ‘duga’ itu tidak akan bisa mengalahkan ‘ilmu’.

M-TI: Sebelum kita kunjungi, sebenarnya kita menilai Al-Zaytun dari segi yang lain, apalagi setelah kita kunjungi sekarang ini. Maka dengan melihat segala sesuatu di sini, jadi timbul pertanyaan, kenapa orang menuduh seperti itu?

SYAYKH: Itu mestinya harus ditanya kepada penulisnya. Karena dia menulis buku sedangkan kita menulis sejarah dalam karya nyata.

M-TI: Di situlah menurut kita salah satu keunggulan dari Syaykh?

SYAYKH: Kita tidak merasa unggul atau tidak unggul, hidup ini datar saja. Apa yang diperintahkan konsep kehidupan, kita lakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan, kita jauhi. Selamat. Tuhan pun akan suka.

M-TI: Dan ternyata di sini, dari gerbang saja sudah kelihatan motto Al-Zaytun ini yakni untuk pengembangan budaya toleransi dan budaya perdamaian?

SYAYKH: Maka Indonesia ini harus masuk dalam ‘zone of peace’ kalau ingin menjadi negara yang beradab dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama dengan negara-negara lain.

M-TI: Dan itu yang dibangun di Al-Zaytun ini?

SYAYKH: Ya itu yang dibangun. Dan kita akan masuk ‘zone of peace and democracy’. Di situlah baru ketahuan bahwa Indonesia akan strong.

M-TI: Kami jadi ingin tahu lebih jauh. Ini tentu sebuah mimpi, dalam arti positif, yang mungkin tidak seketika timbul. Jadi walaupun baru di penghujung 1999 diresmikan, cita-cita ini mungkin sudah lama dalam pikiran Syaykh?

SYAYKH: Semua orang punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan.

M-TI: Tapi ini sebuah cita-cita yang terwujudkan?

SYAYKH: Saya ini, putera dari seorang ayah yang mempunyai nama banyak sekali karena beliau itu seorang pejuang. Seorang pejuang itu memang sengaja mempunyai banyak nama, sekali waktu dipanggil Panji Gumilang, sekali waktu dipanggil Syamsul Alam, sekali waktu dipanggil Mukarib, sekali waktu dipanggil Imam Rasyidi, tapi orangnya itu-itu juga.

Beliau ini seorang pejuang. Kita senang juga melihat orang tua yang kepala desa, yang konon setiap hari harus lapor kepada Belanda, tapi sekaligus juga pejuang dan mendirikan sekolah (Madrasah).


Petang kami belajar di Madrasah, pagi masuk ke sekolah rakyat (SR). Sejak saat itu saya sudah punya cita-cita ingin jadi guru. Padahal orangtua mengatakan harus jadi kepala desa.

Lalu, kami sekolah di Gontor tahun 1961. Di sana belajar, kami juga mengamati berbagai cara mendidik. Kami pernah mendapat didikan yang keras. Sekali waktu pernah ditempeleng guru, sekali waktu pernah rambut dicukur oleh guru. Maka dalam hati berkata, “Kalau saya punya tempat pendidikan, akan memberi kebebasan, tidak akan aku cukur rambutnya, tidak akan aku hukum dalam bentuk kekerasan fisik, aku hanya akan isyaratkan agar dimengerti”. Itu sebuah cita-cita.

Selesai di sana kita berjalan ke Jakarta, persis setelah peristiwa G 30 September yaitu tahun 1966. Di Jakarta, kami masuk ke IAIN di Ciputat. Di situ kita berkumpul dengan kawan-kawan, dan sudah mulai menginginkan mendirikan lembaga pendidikan yang bisa mewakili kemajuan Indonesia.

Tapi keinginan-keinginan itu tak kunjung tiba, namun kita terus bergerak, sampai membuat gambar dan lain sebagainya, kita dagangkan ke kawan-kawan. “Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini” kata kawan. Kita bilang, ”Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat memang nggak bisa.” “Kapan?” tanya mereka. Kita jawab, “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” Ternyata banyak yang mau. “Dimana tempatnya?” Kita jawab “kita belum punya, tapi harus kita cari”.

Kita cari ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung, Kalimantan, kita menemukan tempat yang luas tapi susah untuk dibangun. Sampai akhirnya ditemukan tempat ini (lokasi Al-Zaytun).

Ketika itu kita datang dan bincang-bincang di ujung kampung ini. Orang itu tanya, “cari apa pak di sini?”. Kita jawab, “jalan-jalan saja”. “Bukan cari tanah pak?” katanya lagi. Kita jawab, “oh…nggak”. “Di sini ada tanah pak, tapi jelek tanahnya,” katanya. Nah…mendengar jelek itulah kita tertarik.

Terus kita tanya, “Yang mana tanah jelek itu?” Ditariklah ke sini, dari ujung desa itu sampai ke sini kami jalan kaki. Dulu tidak ada jalan, tidak ada aspal. Jalan kaki masuk sebetis kalau musim hujan. Kemudian ditunjukkanlah sudut sana: “Nah, ini pak,” katanya.
“Kamu jual berapa tanah jelek begini?”
Dijawabnya sekian-sekian. Kemudian kita tanya, “Ada berapa?”.
“Bapak perlu berapa?” katanya balik bertanya. Kita bilang, “Ada seratus hektar nggak?” Dia jawab, “seribu pun ada”. Akhirnya kita keluarkan uang kontan pada waktu itu untuk 65 ha. Kemudian kita ke kantor Agama untuk membuat wakaf. Dan sejak itu, kita mulai hingga sampai terkumpul 1.200 ha hari ini.

Jadi seperti itu saja. Keinginan, didagangkan pada kawan, kawan terima, kita nggak punya uang, dia juga. Sama, kalau gitu kita punya cita-cita, uang belum punya. Ujungnya untuk memulai segala sesuatu itu harus dari kita, apa yang ada pada kita, kita dagangkan, kita dirikan tempat ini bersama-sama.

Untuk 65 ha lahan pada tahun 1996 itu, kita membelinya bersama sekitar 30 orang kawan-kawan. Caranya, dijajakan, dijajakan, dijajakan. “Saya sumbang sekian, saya beli tanah sekian,” kata kawan-kawan. Akhirnya terkumpul, terus diatasnamakan yayasan, berupa wakaf. Jadi nggak susah prosesnya. Bangsa Indonesia nggak susah, kalau sudah percaya, tidak susah. Yang susah itu kalau tidak dipercaya.

M-TI: Untuk menyampaikan ide itu barangkali yang susah?

SYAYKH: Susah seperti begini saja, orang bikin percaya. Ya…tentunya kadang ada yang sehari, ada yang setahun, ada yang sebulan. Tapi yang jelas, kami tidak pernah berhenti mengajak untuk kebaikan. Kalau hari ini belum mau, nggak usah dikatakan susah.

M-TI: Dan itu juga yang menjadi pertanyaan banyak orang yaitu darimana dananya Al-Zaytun sehingga begitu cepat berkembang?

SYAYKH: Sebenarnya pertanyaan itu wajar saja karena mengukur diri masing-masing. Padahal seseorang mengukur ukuran orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Tapi kalau kita mengukur dengan parameter umum, itu (yang diperoleh Al-Zaytun) hal yang wajar-wajar saja. Sekarang parameter yang digunakan itu bukan umum. Kalau umum, gampang. Kami mengajak Anda, Anda suka, ‘kan jadi?

Kami mengajak Anda, jika Anda belum suka, besok didatangi lagi. Ya…begitu sampai dia suka dan ikut. Maksudnya ikut bersama-sama dalam pendidikan ini.

Dalam hal ini, termasuk Anda juga terpanggil dengan program ini sehingga Anda datang dengan bahasa yang indah seperti kita dengar tadi. Ini juga suatu kebersamaan. Ternyata Anda ingin menampilkan Al-Zaytun ini. Apalah artinya seorang Panji Gumilang, seorang Abdul Halim, seorang Nurdin Tsabit. Tapi Anda ingin menampilkan Al-Zaytun ini berarti menampilkan karya bangsa Indonesia.

M-TI: Apa yang Syaykh lihat dari sosok seorang guru sehingga begitu tertarik menjadi guru?

SYAYKH: Saya tidak bisa menjawab kalau ditanya itu. Tapi ketika masih kecil, ada pemberantasan buta huruf (PBB) antara tahun 1952 atau 1953, saya waktu itu masih SR. Ketika itu, begitu pulang sekolah, ditanya orang tua, “Kamu diajar apa tadi?”
Saya jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Jadi di Jawa dulu bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya.
Orang tua tanya lagi, “kamu sudah bisa nulis?”
Kita jawab, “Bisa Pak”.
“Nanti malam mengajar kamu ya…!” kata beliau. Disuruh mengajar pemberantasan buta huruf orang-orang yang sepuh-sepuh itu. Itu terasa enak, pagi-pagi ditanya pak guru, disuruh menulis, saya bisa. Orang yang kita ajak bicara tatkala kita belajar pun senang (tatkala mengajar PBB), karena belajar pada orang yang belum bisa memarahi kekurangan orang tua. Belajar dengan beliau-beliau sama saja mengulang pelajaran dari kelas. Dulu kalau dapat nilai 10 atau 9, tempel di pipi, lapor pada orang tua, “Pak! ini 9”.

Dari situ keluar rasa senang jadi guru. Bisa pintar ternyata jadi guru, karena kita masih sekolah, jadi merasa bisa belajar. Beliau-beliau kita tanya, “Pak! Bisa?”, dijawab, “Bisa karena kamu yang ngajar”. Jadi cerita awalnya seperti itu dan masih terngiang sampai hari ini. Guru yang mengajar kita itupun masih hidup. Kadang kalau Lebaran, kami datang, beliau masih teringat. “Dulu kamu yang mengajar PBB di saat kelas satu SR Ya?” kata beliau.

M-TI: Masihkah Syaykh terlibat aktif sebagai guru?

SYAYKH: Sampai hari ini saya mendidik. Ketika sekolah di IAIN, saya membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu kita namakan Darussalam. Saya mengajar di Madrasah yang kita buat juga di sekolah lain yang berdekatan dengan Madrasah itu. Jadi malamnya mengajar, pagi sekolah. Hingga hari ini saya adalah seorang guru.  ►atur-juka-crs LANJUT

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)