| |
C © updated 13102007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Jabatan:
Syaykh al-Ma'had Al-Zaytun
|
|
| |
|
|
|
|
| PERSPEKTIF |
|
|
 |
Syaykh Dr Abdussalam Panji Gumilang
Jangan Berhenti Membangun Diri
IDUL FITRI 1428 H:
Di antara sekian banyak rahmat Allah salah satunya berkenaan dengan
masalah persaudaraan dan persahabatan. Ditegaskan bahwa seluruh kaum
beriman itu bersaudara. Dalam beragama intinya jangan saling
bercerai-berai atas namanya dan pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok
yang merespon rahmat Ilahi sajalah yang dapat menghindari pertikaian dan
pertengkaran.
Hal itu dikemukakan Syaykh al-Zaytun AS Panji
Gumilang dalam Khutbah ‘Ied Al-Fithri 1428 H/2007 M di Kampus Al-Zaytun,
01 Syawwal 1428 H / 13 Oktober 2007 M.
Pada bagian awal khutbahnya, Syaykh al-Zaytun A. S. Panji Gumilang
mengatakan Alhamdulillaah, pada hari ini Sabtu 13 Oktober 2007, kita
dikaruniai kesempatan besar oleh Tuhan untuk dapat melaksanakan shalat
‘Idul Fithri 1 Syawal 1428 H setelah berkesempatan melaksanakan shaum
Ramadlan selama sebulan.
Pelaksanaan hari raya/’Idul Fithri kali ini, lagi-lagi ummat Islam
Indonesia tidak dapat sepakat melaksanakannya dalam hari yang sama.
Sehingga dalam realitanya terjadi dua hari raya/’Idul Fithri yang
berbeda, satu golongan berhari raya pada hari Jum’at, dan satu golongan
lainnya pada hari Sabtu. Tentang perbedaan ini banyak orang berpesan
agar masing-masing yang berbeda dapat saling memahami dan memaklumi.
Sekalipun sebelum perbedaan ini terjadi banyak orang pula berharap,
kiranya ‘Idul Fithri itu dapat terjadi dalam satu hari yang sama.
Agama-agama di dunia ini mempunyai hari raya masing-masing. Hari dan
pelaksanaannya telah baku, semua bersumber dari ajaran maupun tradisi
masing-masing, mestinya termasuk juga hari raya Islam (‘Idul Fithri/’Idul
Adlha).
Mungkinkah sumber syariatnya menghendaki untuk berselisih dalam
menetapkan ‘Idul Fithri? Kalau ‘Idul Fithri itu merupakan syariat/ajaran
Ilahi, tentunya tidak mungkin terjadi perselisihan dalam menetapkannya,
karena inti syariat Ilahi sesungguhnya tidak menghendaki perselisihan
atas nama agama, Q.S. 42/13 (Asy-Syura).
Tuhan telah mensyariatkan untuk kamu tentang agama, sesuatu yang sama
telah diwasiatkannya kepada Nabi Nuh, dan yang telah kami wahyukan
kepadamu, dan sesuatu yang telah kami wasiatkan kepada Nabi Ibrahim,
Nabi Musa, dan Nabi ‘Isa, agar kamu semua menegakkan agama itu dan
janganlah kiranya kamu semua berselisih/berpecah-belah dalam beragama.
Sangat berat bagi orang-orang musyrik tentang beragama (tanpa perpecahan)
yang kamu serukan kepada mereka.
Allah menetapkan dengan pilihan-Nya kepada ajaran agama (tanpa
perpecahan) kepada orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada agama (tanpa perpecahan) untuk orang yang mau kembali (kepada
agama tanpa perpecahan).
Atau sangat boleh jadi untuk menetapkan hari raya agung yang sama,
merupakan sesuatu yang amat sulit, karena tuntunan Ilahinya sangat sulit
untuk didekati, dan menyulitkan? Sesungguhnya jika kita dekati lebih
serius ajaran shaum (memulainya) dan menutupnya (menyu¬dahinya),
sung¬guh sesuatu yang tidak menyulitkan, ajarannya jelas, ungkapannya
pun jelas, ayat Al-Qur’an yang jelas ini, mestinya tidak menyulitkan
bagi orang yang ikhlash mengikutinya, Q.S. 2/185 (Al-Baqarah).
Bulan Ramadlan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara
yang benar dari yang salah). Maka barangsiapa di antara kamu telah
menyaksikan bulan Ramadlan itu, maka hendaknya melaksanakan puasa di
dalamnya. Dan barangsiapa berada dalam keadaan sakit atau dalam suatu
perjalanan (bepergian), maka hendaknya melaksakannya di hari-hari lain (bulan
selain Ramadlan). Allah menghendaki sesuatu kemudahan bagi kamu sekalian,
dan tidak menghendaki suatu kesukaran bagi kamu sekalian dan hendaklah
kamu semua menyempurnakan/mencukupkan bilangan (bulan Ramadlan) dan
hendaklah kamu semua mentakbirkan Allah atas petunjuk-Nya yang jelas itu
untuk kamu semua, dan hendaknya kamu bersyukur (tidak berselisih).
Jangan-jangan, perselisihan yang terjadi itu hanyalah berdasar
ketidakmampuan mengendali ego golongan atau kebanggaan golongan, justru
hal tersebutlah yang harus dijauhkan dalam beragama karena jika kita
terjebak dalam sikap egois dan saling membanggakan golongan, justru
suatu ciri bahwa itu merupakan sikap musyrik, Q.S. 30/31-32 (Ar-Rum).
Dan janganlah kamu semua menjadi orang-orang musyrik, yaitu orang-orang
yang suka memecah agama mereka (termasuk menjalankan ‘Id yang
berbeda-beda hari kalau itu diyakini sebagai ajaran agama) dan mereka
menjadi bergolong-golongan, tiap-tiap golongan dengan apa yang ada pada
mereka, mereka berbangga-bangga.
Betulkah Tuhan akan menganugerahkan rahmat dan kemudian tidak murka
kalau ummat Islam berselisih dalam perkara prinsip beragama (termasuk
menetapkan awal dan akhir Ramadlan maupun ‘Id)? Atau jangan-jangan ‘Idul
Fithri dan shaum Ramadlan itu sendiri tidak prinsip lagi sehingga ummat
Islam Indonesia merasa bangga jika berselisih dan menganggap biasa-biasa
saja tanpa beban di hadapan Tuhan?
Sesungguhnya betapa gampang dan tidak susahnya menetapkan awal puasa dan
‘Idul Fithri jika ummat Islam Indonesia mengimani Al-Qur’an dengan
sedalam-dalamnya. Di negara Indonesia memiliki suatu lembaga negara yang
sah, yakni Depag di sana terdapat Dirjen Bimas Islam, bid’ah-kah jika
ummat Islam Indonesia mengamanatkan ketetapan permulaan Ramadlan dan
‘Idul Fithri kepada Depag, kemudian ummat Islam Indonesia menaati
ketetapan itu? Atau mungkin karena tidak termasuk ulil amri, lantas
ketetapannya boleh ditentang, dan lebih baik ulil amri-nya adalah
golongan ma¬sing-masing?
Apakah ummat Islam Indonesia lebih memilih, perselisihan ummat itu
sebagai rahmat (termasuk berselisih dalam ber-‘Idul Fithri), dan
menganggap keseragaman pelaksanaannya adalah tidak dirahmati, bahkan
mungkin dilaknat? Seyogyanya kita semua ummat Islam Indonesia kembali
kepada ajaran Ilahi dengan sukarela yang direlakan, dan kembali menjadi
ummat yang satu (minimal dalam ber-‘Idul Fithri).
Alangkah indahnya di dalam negara yang majemuk ini pimpinan negara dapat
memberikan ucapan/pidato sambutan bagi setiap hari raya agama-agama di
Indonesia ini. Hari raya ummat Islam ‘Idul Fithri (karena
pelak¬sanaannya tidak berbeda hari) presiden memberi ucapan (mungkin
minal ‘aidin wal faizin, maaf lahir dan batin).
Tatkala hari raya Natal, menyampaikan selamat hari kelahiran Nabi ‘Isa
al-Masih, dan tatkala hari raya agama-agama lainnya menyampaikan ucapan
selamat dan pesan-pesan khusus seorang pemimpin negara kepada ummat
beragama.
Sehingga hari raya menjadi hari besar dalam arti yang seluas-luasnya
bagi ummat beragama di Indonesia ini dan juga bagi para pemimpinnya.
Semoga tahun-tahun mendatang, tidak lagi terjadi perselisihan yang tidak
dapat disatukan dalam menentukan hari shaum dan hari raya ‘Idul Fithri
minimal untuk Indonesia.
Potret Ummat Islam Bangsa Indonesia
Potret ummat Islam bangsa Indonesia hari ini sangat ditentukan dan
diwarnai oleh masa lalu perjalanan sejarah bangsa itu sendiri, karenanya
kita mestinya mampu membaca proses perjalanan sejarah itu, sehingga kita
mampu mengevaluasi diri kemudian kita tulis sejarah masa depan dengan
amal soleh yakni sikap dan tindakan yang selalu konsern kepada /
terhadap kebaikan dalam arti luas.
Mengapa hal ini menjadi suatu keharusan, sebab ummat Islam bangsa
Indonesia sekarang ini banyak sekali yang bangga terhadap
warisan-warisan masa lalu. Tapi disayangkan, kebanggaan itu tidak
diikuti oleh etos membaca warisan-warisan tersebut. Pengetahuan terhadap
warisan-warisan tersebut terbatas pada nama-nama kalau itu seorang tokoh,
hanya dibaca buku-buku atau ajaran-ajarannya tetapi tidak dibaca hal-hal
yang berkenaan dengan sejarahnya.
Di dalam pembahasan sejarah dunia Islam di kurun abad ke-14, nama
Indonesia belum, bahkan tidak disebut, walaupun di abad itu Aceh sudah
mengenal Islam menandakan di tataran dunia Islam ketika abad itu memang
sangat terbatas keberadaan Islam di Indonesia. Perjalanan sejarah menuju
abad ke-14 itu diwarnai oleh banyak kejadian.
Abad ke-8 Thariq bin Ziad berhasil menguasai Spanyol, dan Muhammad bin
Al-Qasim berhasil menaklukkan India (Khilafah Al-Walid ibn Abd Malik).
Dapat dibayangkan, ketika Spanyol dan India jatuh ke tangan muslim,
Indonesia terutama orang-orang Jawa sedang sibuk mempersiapkan
berdirinya candi Borobudur sebagai monumen Budha, satu abad kemudian
orang-orang Hindu mendirikan candi Loro Jonggrang.
Sekitar empat abad kemudian (tahun 1111 M) ketika Al-Ghazali wafat, di
Indonesia sedang berdiri kerajaan Kediri dengan seorang raja bernama
Jayabaya. Setelah dua ratus tahun Al-Ghazali wafat, 1297 M, kerajaan
Majapahit berdiri, dan baru habis pada tahun 1478 M. Dapat dibayangkan
ketika India sudah enam ratus tahun dalam kekuasaan muslim, nusantara (Jawa)
masih menghasilkan sebuah kerajaan Hindu yang jaya. Baru pada sekitar
abad ke-15 Gresik, Sedayu (Jawa) masuk Islam yang kemudian
menyebarkannya ke daerah timur.
Dari itu, dapat dipahami mengapa sosiolog muslim Ibnu Khuldun dalam
karyanya yang masyhur Muqaddimah Ibnu Khuldun tidak berbicara tentang
Indonesia. Jangankan Ibnu Khuldun, orang-orang Arab sebelum perang dunia
II saja masih banyak yang tidak paham bahwa di Indonesia banyak orang
Islam. Biasanya sejarawan (ahli sejarah) Indonesia menetapkan jatuhnya
Majapahit (1478 M) merupakan titik awal kebangkitan kekuasaan kesultanan
muslim di tanah Jawa.
Belum lagi menata kekuatan ummat di bidang pendidikan maupun ekonomi
secara “sempurna”, di awal abad ke-16 bangsa-bangsa Eropa mulai
mengembangkan sayap kolonial¬nya ke wilayah-wilayah Asia Tenggara,
termasuk kepulauan Indonesia.
Portugis menduduki bumi Maluku dan Ambon (1511 M) disusul Spanyol pada
1521 M, selanjutnya bangsa Inggris memasuki Ternate, dan pada 1596 M
Belanda menginjakkan kaki kolonialnya di tanah Jawa, yang kemudian
dengan gerakan kolonialnya, Belanda mampu menguasai bangsa-bangsa Eropa
lainya dan secara paripurna menguasai kepulauan Indonesia menjadi negara
jajahannya. Dan baru pada 1949 Belanda menyerahkan negara Indonesia yang
diproklamasikan kemerdekaannya pada 1945.
Bermakna lebih dari 350 tahun Indonesia terjajah, itu artinya selama itu
pulalah ummat Islam bangsa Indonesia hidup dalam penjajahan. Selama itu
pulalah (lebih dari 350 tahun) ummat Islam bangsa Indonesia menjadi
ummat yang selalu bertahan, melindungi anak turunnya (generasinya) agar
selamat dari segala usaha kepunahan, akibat penjajahan. Pertahanan yang
tidak seimbang dengan kemampuan yang dimiliki oleh kekuatan penjajah.
Sesungguhnya kondisi ummat Islam bangsa Indonesia dalam masa penjajahan
ini dapat dikatakan porak poranda, dipandang dari sisi pendidikan maupun
ekonomi, yang tersisa hanyalah keimanan dan keyakinan bahwa aku dan
generasiku harus tetap menjadi muslim seperti apapun keadaannya, itulah
buah bertahan yang tersisa dan dari situ pula start membangun diri
kembali.
Biasanya masa penjajahan yang terlalu lama akan menyisakan efek negatif
di kemudian hari, diperlukan usaha kuat untuk mengeliminir efek negatif
tersebut. Pada hakikatnya penjajahan adalah perbudakan, karenanya bangsa
jajahan adalah bangsa yang diperbudak. Usaha memerdekakan diri dari
penjajahan adalah usaha terhormat di sisi Allah dan ummat manusia,
karenanya kita syukuri kemerdekaan yang kita miliki ini tentunya dengan
usaha follow up dari kemerdekaan. Indonesia dan ummat Islam di dalamnya
suatu yang tak terpisahkan.
Dahulu orang Yahudi pernah menjadi jajahan/budak bangsa Mesir ratusan
tahun lamanya, karena itu pada waktu itu sulit sekali mereka berdisiplin,
dan dalam menetapkan hukum cenderung keras, walhasil penjajahan /
perbudakan yang terlalu lama dapat mengubah sikap mental yakni bermental
budak, tidak suka mengikuti aturan, tidak disiplin, semrawut, ingin
menang sendiri, dan sulit bertoleransi.
Mungkin efek negatif semacam itu juga masih tersisa dalam kehidupan
ummat Islam bangsa Indonesia yang juga pernah terjajah / diperbudak
ratusan tahun lamanya oleh bangsa Belanda dan lain-lain. Ciri-ciri yang
diungkapkan tadi masih sering kita lihat dan rasakan. Mungkin termasuk
ketidakmampuan menetapkan ‘Idul Fithri dalam satu hari yang sama karena
terlalu vested interest dan ingin menang sendiri, sehingga kalimatun
sawa’ / common platform yang semestinya wujud kenyataannya pecah.
Jangan Berhenti Membangun Diri
Di antara sekian banyak rahmat Allah salah satunya berkenaan dengan
masalah persaudaraan dan persa¬habatan. Ditegaskan bahwa seluruh kaum
beriman itu bersaudara. Dalam beragama intinya jangan saling
bercerai-berai atas namanya dan pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok
yang merespon rahmat Ilahi sajalah yang dapat menghindari pertikaian dan
pertengkaran, Q.S. 11/118-119 (Hud).
… Mereka tidak akan berhenti bertengkar, kecuali mereka yang telah
mendapat rahmat dari Allah.
Dalam kaitan membangun diri, marilah kita semua berharap untuk
mendapatkan yang terbaik berdasarkan sikap saling mengerti dan karena
kerinduan yang tulus kepada kebenaran, kebersamaan, dan persatuan.
Dan untuk mencapai keadaan yang lebih baik dari keadaan sekarang ini
tentu saja memerlukan persiapan-persiapan. Persiapan-persiapan berbentuk
daya upaya, kekuatan jasmani, rohani, pengorbanan harta benda, maupun
kemampuan lain yang kita miliki.
Semua persiapan-persiapan itu harus kita wujudkan dalam program
membangun masa depan, memfokuskan segala dana yang kita punyai kepada
usaha mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan, sesuatu yang
diistilahkan oleh ajaran Ilahi sebagai al-‘aqabah, yaitu jalan yang
mendaki lagi sukar. Memang mengangkat harkat dan martabat manusia dan
kemanusiaan itu merupakan sesuatu yang sangat prinsipil. Bila saja kita
memiliki keberanian dan kreativitas untuk menuju program tersebut (dan
sememang¬nya harus ditempuh). Sangat boleh jadi sesuatu perubahan yang
terprogram akan dapat diwujudkan.
Dalam ajaran Ilahi tentang al-‘aqabah itu menyangkut berbagai hal
tentang:
Pertama, membebaskan perbudakan
Pada dasarnya ummat manusia di sisi Tuhan itu adalah sama kedudukannya,
yang kemudian manusia itu bisa tampil menjadi budak atau diperbudak
adalah terciptanya suatu kesenjangan di antara ummat manusia itu sendiri.
Sebagian telah berkemampuan untuk mencapai kecerdasan hidup ditopang
oleh penguasaan ilmu dan kemahiran/ketrampilan sedangkan di lain pihak
tidak memiliki kesempatan untuk itu. Dari kesenjangan inilah sesuatu
yang terjadi menjadi sangat antagonistis.
Dalam kehidupan kita sebagai bangsa sering kita menyaksikan kelemahan
yang ada pada sebagian warga bangsa ini nyaris menjadi suatu keabsahan
untuk diposisikan seperti “budak” dan pihak yang kuat tampil sebagai
tuan yang punya “hak” untuk memperbudak. Kehidupan yang menampilkan
potret budak maupun perbudakan ini sesungguhnya bersumber dari
kesenjangan pendidikan maupun moralitas.
Sejarah bangsa Indonesia, mengalami keterjajahan selama berabad-abad,
diperbudak oleh penjajah masa yang panjang diperlakukan sebagai budak
oleh penjajah nampaknya ikut mempengaruhi jiwa bangsa, sehingga sikap
perbudakan itu selalu tampak dalam kehidupan keseharian.
Dalam pergaulan antar bangsa sampai saat ini bangsa Indonesia masih
menampilkan aktivitas potret perbudakan. Contoh, berduyun-duyunnya
tenaga kerja Indonesia yang mencari kerja ke luar negeri, posisi
pekerjaan mereka mayoritas menempati posisi yang memberi kesempatan
kepada pengguna jasa sebagai “tuan” yang berkesempatan memperbudak
tenaga kerja Indonesia tersebut. Suatu contoh pekerja-pekerja Indonesia
yang datang ke negeri jiran yang sering diucap sebagai negara serumpun,
belakangan ini sering kita dengar mendapat perlakuan sebagai budak dan
bukan sebagai pekerja yang terhormat.
Kalau ditelusuri, negeri jiran kita itu sesungguhnya juga merupakan
negara bekas jajahan juga, cukup lama mereka dijajah sama halnya mereka
pernah diperbudak oleh penjajah, karenanya juga memiliki jiwa budak yang
belum sepenuhnya pulih.
Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan menurut pandangan bangsa
Indonesia itu kalau kita telusuri penyebabnya adalah:
Pekerja-pekerja yang datang ke negeri jiran itu memposisikan pada strata
budak. Andainya yang datang ke negeri jiran itu pribadi-pribadi terdidik
berketrampilan tinggi, seperti yang pernah terjadi pada tahun 70-an /
80-an, maka mereka akan diposisikan sebagai tuan. Memang sifat / jiwa
budak yang tertanam belum hilang sepenuhnya, lantas punya kesempatan
menjadi tuan, maka perlakuan/ kelakuan mereka menjadi seperti tuan yang
berhak memperbudak orang lain.
Karenanya mari kita sikap bersama dengan meletakkan program fakku
raqabah, membebaskan perbudakan dengan menciptakan lapangan kerja
seluas-luasnya di dalam negeri dan memperluas kesempatan pendidikan
sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang trampil dalam hidup dan cerdas
dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Kedua, memberi makan pada hari kelaparan
Hari-hari / bulan-bulan lapar di Indonesia sangat jelas dapat dibaca dan
disimak bila saja perhatian diarahkan secara serius. Bulan-bulan lapar
biasanya disebabkan oleh musim kering, tidak tersedia air untuk
kepentingan pertanian. Atau sebaliknya, karena kebanyakan air, karena
banjir. Bulan-bulan itu biasanya bermula dari bulan Agustus – Januari.
Agustus musim kering, tak dapat bertanam pangan dan bulan Januari
kebanyakan air, tanaman pangan terendam air. Kejadian-kejadian itu pasti
datang, namun semuanya hanya dikeluhkan, bukan dibuat solusi
penyelamatan.
Lagi-lagi, penanggulangannya selalu jangka pendek, berupa bantuan pangan,
maupun uang tunai, sesuatu yang tidak dapat menyelesaikan dan
meminimalisasi penyebab kelaparan yang berjangka panjang.
Semestinya segala dana yang ada diperuntukkan bagi pembangunan pengairan/
irigasi yang dapat mendatangkan air, dan menciptakan penampungan air
yang dapat me¬nang¬gulangi banjir yang mematikan. Orang yang lapar bila
diberi bantuan uang maupun beras, mereka memang senang tapi kelaparan
akan terulang lagi, sebab beras terbatas dan uang habis, sedangkan
penyebab kelaparan masih tetap tidak ditanggulangi, sehingga kelaparan
berulang setiap tahun.
Ketiga, memberi makan anak yatim yang mempunyai kerabat
Anak yatim yang berkerabat, secara harfiyah yatim adalah anak yang telah
ditinggal wafat oleh orang tuanya. Secara harfiyah pula mereka itulah
yang harus mendapatkan pertolongan.
Namun dalam arti luas, yatim itu dapat diartikan orang yang tidak
berilmu dan tidak beradab, maka ditinjau dari pengertian ini, bangsa
Indonesia masih yatim piatu (tidak berpendidikan yang mumpuni dan masih
memerlukan pendidikan moral dan peradaban) sungguh masih banyak. Maka,
insya Allah tidak salah jika ajaran Ilahi ini kita maknai dengan membuka
seluas-luasnya kesempatan pendidikan untuk mereka, lagi-lagi pendidikan
sangat memegang peranan untuk semua itu.
Keempat, atau orang miskin yang sangat fakir
Pengentasan kemiskinan, suatu usaha mulia, dimulai dari pembangunan
pendidikan dan ekonomi. Intinya kelompok miskin (yang fakir) itu banyak
tersebar di pedesaan, maka mengentaskan kemiskinan itu sangat identik
dengan pembangunan pedesaan. Sangat dirasakan, betapa terbatasnya
fasilitas untuk menjadi tidak miskin yang ada di pedesaan secara
kebanyakan.
Petani mungkin dapat memproduksi komoditas perta¬nian dengan baik, namun
tatkala itu dapat ditempuh, kemudian mereka terhambat oleh infrastruktur
yang tidak menjamin, kemampuan jual yang tidak menguntungkan dan
lain-lain sebab yang tetap mengakibatkan mereka tidak terhindar dari
kemiskinan. Karenanya membangun pede¬saan merupakan program besar yang
dapat menjembatani usaha pengentasan kemiskinan.
Program-program seperti ini menurut ajaran Ilahi merupakan program
mendaki yang memang berat namun harus ditempuh, dan aktivitas tersebut
merupakan aktivitas yang berjangka panjang, tidak serta merta dapat
dirasakan, namun pasti berakibat mengangkat martabat harkat manusia dan
kemanusiaan. Intinya semua itu adalah pembangunan pendidikan dan ekonomi
atau sebaliknya. Dan berakibat kecerdasan masyarakat dan bangsa tumbuh
dengan teratur, tumbuh kemandirian disebabkan kese¬jahteraan dan
kemakmuran semakin dirasakan. Kesadaran pribadi dan masyarakat akan
semakin menguat. Bahwa semua itu memerlukan pendanaan yang besar dan
sesungguhnya kita (bangsa Indonesia/secara kolektif) mampu mewujudkannya. ►e-ti ►
Versi
Lengkap,pdf
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|