Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (1)
Bangun Kembali Aceh Secara Mandiri
Syaykh A.S. Panji Gumilang dalam Khutbah ‘Ied Al-Adlha mengatakan pembangunan kembali daerah-daerah
terkena bencana menjadi tugas wajib bangsa dan pemerintah Indonesia, yang
pembiayaanya pun tidak mesti mengandalkan hanya dari bantuan luar negeri. Khutbah ‘Ied Al-Adlha 1425 H/2005 M di Masjid
Rahmatan Lil ‘Alamin Ma’had Al-Zaytun, pada tarikh 10 Dzu al-Hijjah 1425 H / 21 Januari 2005 M
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،
الله أكبر
لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.
- الحمد لله رب
العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين.
- والحمد لله الذى خلق
السموات والأرض وجعل الظلمات والنور.
- والحمد لله الذى
أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا.
- والحمد لله الذى له
ما فى السموات والأرض وله الحمد فى الأولى وفى الأخرة وهو الحكيم الخبير.
- والحمد لله الذى
هدانا لهذا وما كنا لنهتدى لو لا أن هدانا الله
- أشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
- وصلى الله وسلم
وبارك على نبينا ومولانا محمد رسول الله وخيارته من خلقه خاتم النبيين
وأشرف المرسلين وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
- وصلى الله على نبينا
كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون.
- وصلى الله عليه فى
الأولين والأخرين أفضل وأكثر وأزكى ما صلى على أحد من خلقه, وزكانا وإياكم
بالصلاة عليه و أفضل ما زكى أحدا من أمته بصلاته عليه.
- أما بعد, فيا عباد
الله أوصيني وإياكم بتقوى الله فقد فاز من اتقى, وأحثكم على طاعته لعلكم
تفلحون.
- الله أكبر، الله
أكبر, الله أكبر, الله أكبر، الله أكبر
- لا إله إلا الله
والله أكبر، ولله الحمد
BERKORBAN SEBAGAI PENANGGULANGAN AKIBAT MUSIBAH NASIONAL
Pendahuluan
Hari ini kita merayakan Hari Id al-Qurban, dengan suasana musibah dan
berkabung nasional, atas bencana alam gempa bumi yang diikuti dengan
hempasan gelombang tsunami yang sangat dahsyat, terjadi pada penghujung
tahun 2004 (26 Desember hari Ahad pagi). Menelan korban ummat manusia
penghuni Provinsi Aceh dan Pulau Nias Sumatera Utara, hampir seluruh
pesisir barat utara dan timur, yang sampai hari ini 21 Januari 2005,
korban manusia belum dapat dipastikan jumlahnya.
Namun dari dahsyatnya
gelombang yang menerjang di kota-kota pesisir padat hunian tersebut,
dapat diperkirakan, jumlah korban manusia yang meninggal dan hilang (hanyut)
tidak kurang dari 10% jumlah penduduk Provinsi Aceh (l.k. 4.100.000)
yakni 400.000 jiwa. Belum lagi yang luka-luka, musnahnya harta benda dan
infrastruktur yang ada di kota-kota tersebut. Yang jelas merupakan
musibah yang sulit dilukiskan.
Bencana tsunami juga melanda berbagai
pantai negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, India,
Srilanka, dan negara-negara timur Afrika, yang memakan korban manusia
dan harta benda yang cukup besar. Dilukiskan korban tsunami 26 Desember
2004 ini merupakan bencana alam terbesar dalam sejarah moderen ummat
manusia.
Gempa selalu terjadi di bumi ini akibat dari keadaan geologisnya.
Dalam kitab suci agama-agama, beberapa milenium yang lalu telah mencatat
gempa atau gejala-gejala yang menyertainya dalam berbagai masa. Gempa
terjadi di Gunung Sinai tatkala diturunkan Taurat pada zaman Saul Elia,
Uzia, pada zaman Paulus dan Silas.
Gempa yang disertai retaknya kulit
tanah menelan Korah dan teman-temannya, kejadian serupa menyertai
pemusnahan Sodom dan Gomora, dan dalam Injil Matius, melukiskan adanya
gempa pada waktu penyaliban Yesus. Gambar fikiran para penyair dan para
nabi menggunakan bentuk mengerikan dari malapetaka alam ini.
Dalam catatan sejarah moderen, ummat manusia yang meninggal, hilang,
cedera/cacat akibat malapetaka alam berupa gempa, air bah, tsunami,
topan/puting beliung tersusun deretan angka yang sangat banyak mencapai
jutaan jiwa dan harta benda. Khusus Indonesia, kita pernah mencatat
kejadian malapetaka alam ini sejak abad XIX dengan skala korban cukup
tinggi: 1883 tanggal 27 Agustus gunung berapi (vulkano) Krakatau yang
meletus, ledakan yang disertai semburan lahar yang paling dahsyat dalam
sejarah. Letupannya terdengar sampai 3.000 mil, lebih dari 36.000
penduduk Sumatera dan Jawa mati tenggelam oleh terjangan gelombang
tsunami yang mencapai ketinggian 35 m, dan debu menyembur hingga 80 km
ke udara, menggumpal terbawa angin ke seluruh dunia, menyebabkan
matahari terbenam/terselimuti debu selama lebih satu tahun secara
spektakuler.
Disusul meletusnya Gunung Agung, gunung berapi yang masih aktif di
pulau Bali terjadi pada tahun 1963, letusan dahsyatnya menelan korban
lebih dari 1.500 jiwa. Dan pada 27 Januari 1974 gunung ini kembali
meletus dengan korban lebih dari 1.150 jiwa, setiap letusannya selalu
mengakibatkan korban jiwa dan mengakibatkan kerugian materi yang sangat
besar.
Di berbagai tempat, di Bengkulu, Sumbar, Flores, dan Nabire Irian
Jaya, gempa dan tanah longsor terjadi dengan mengakibatkan korban jiwa
dan harta benda yang sangat banyak. Dan yang terkini adalah malapetaka
alam yang menimpa Aceh dan Pulau Nias Sumatera Utara. Di berbagai daerah
Indonesia keadaan geologisnya dapat mengakibatkan gempa, baik yang
berskala besar maupun kecil, yang berkemungkinan mengakibatkan
malapetaka yang dapat mengakibatkan korban jiwa dan harta.
Tanggapan Masyarakat Dunia
Khusus malapetaka besar berupa gempa bumi dan tsunami yang menimpa
banyak negara di kawasan Samudera Hindia, mendapat liputan yang tiada
henti oleh masyarakat dunia, hampir setiap hari sampai dengan hari ini.
Negara-negara yang tidak terkena musibah, baik Asia maupun negara-negara
Barat, terus mengalir mengulurkan bantuan, sama ada bagi pihak
pemerintah maupun masyarakatnya.
Indonesia (Aceh) yang mengalami
malapetaka paling dahsyat di antara negara-negara lainnya, telah
mendapat perhatian yang sangat besar dari berbagai negara, baik Asia
maupun negara-negara Barat. Bantuan yang melimpah dari berbagai negara
dan dalam negeri, justru melebihi kapasitas dan kemampuan pemerintah
untuk mendistribusikannya ke tempat bencana, karena berbagai kekurangan
dan keterbatasan.
Para relawan dari negara-negara sahabat pada umunnya adalah pasukan
tentara yang terlatih, mereka datang dengan kapal dan pesawat terbang,
lengkap dengan segala kelengkapan logistiknya. Kekuatan dan kelengkapan
logistik yang dimiliki oleh relawan (pasukan tentara luar) yang datang
ke Aceh jauh lebih lengkap dan canggih daripada yang dimiliki oleh
Tentara Nasional Indonesia, jumlahnyapun mungkin lebih banyak mereka
yang datang dari luar negeri daripada jumlah TNI yang berada di Aceh.
Dalam keadaan bencana seperti ini Aceh menjadi terbuka bagi ummat
manusia sedunia.
Solidaritas global tidak dapat dibendung, negara dan
masyarakat luar Indonesia merasa berkewajiban ikut meringankan beban (sekalipun
mereka membawa motif masing-masing). Dalam kaitan solidaritas global
yang diberikan masyarakat internasional berupa bantuan itu, kita sebagai
bangsa berkewajiban menyampaikan rasa terima kasih kita kepada mereka
semua atas bantuan tersebut. Kita yakin dalam kondisi darurat seperti
ini, bantuan internasional itu akan membawa manfaat besar.
Presiden dan wakil presiden, tentunya atas nama bangsa Indonesia
dalam perkara ini telah memberikan kesempatan kepada relawan asing untuk
masuk ke Aceh dengan segala kelengkapan logistiknya guna menyalurkan
bantuan. Jakarta telah dijadikan tuan rumah Special ASEAN Leaders
Meeting on Aftermath of Earthquake and Tsunami (KTT Tsunami), 6
Januari 2005. Di Jakarta Sekjen PBB telah mengajak semua negara di dunia
untuk ikut ambil bagian membantu korban tsunami, dan mendapat respon
dari berbagai negara dalam bentuk kesanggupan untuk ikut ambil bagian
dalam membantu negara-negara korban malapetaka tersebut.
Kerugian materi akibat gempa dan tsunami menurut perhitungan
sementara Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas,
mencapai 5 miliar US dollar. Selama empat pekan pasca tsunami,
penanganan akibatnya yang dilakukan oleh pemerintah masih terasa simpang
siur. Timbul desakan agar kehadiran relawan/pasukan asing dibatasi.
Batas waktu tiga bulan menjadi sikap resmi presiden, yang sebelumnya
presiden dan wapres membuka tangan terhadap bantuan luar negeri semacam
ini. Memang sulit dibayangkan apa yang dapat dilakukan pemerintah tanpa
mendapat bantuan dari negara lain. Kesimpangsiuran juga terjadi dalam
kalangan masyarakat, dengan timbulnya isu pemurtadan terhadap anak-anak
Aceh oleh “organisasi” tertentu.
Membangun Kesadaran
Kini bangsa Indonesia dalam menanggulangi dampak bencana tersebut
harus selalu mencari dan mengedepankan solusi-solusi daripada membuat
kecaman dan terus meningkatkan cara-cara membuat alam bawah sadar
menjadi alam sadar. Setelah bencana di Aceh dan Nias memasuki pekan
keempat, pemerintah Indonesia dalam hal ini presiden/wapres dan Dewan
Perwakilan Rakyat telah sepakat membentuk Badan Otarita Khusus (BOK)
untuk penanganan bencana, termasuk dalam mengkoordinasikan
langkah-langkah rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias Sumatera
Utara.
Pembangunan kembali daerah-daerah terkena bencana menjadi tugas wajib
bangsa dan pemerintah Indonesia, yang pembiayaanyapun tidak mesti
mengandalkan hanya dari bantuan luar negeri (yang hampir sebagian besar
berupa utang). Alam bawah sadar memang selalu menggiring kepada cara
mengutang untuk membangun, dengan sedikit pemikiran terhadap kemampuan
membayar kembali utang luar negeri yang dipakai membangun itu. Mestinya
penduduk Indonesia di luar daerah terkena bencana yang ditakdirkan kuat
ekonominya, berkewajiban membantu memikul biaya rekonstruksi daerah dan
masyarakat yang sedang terkena malapetaka.
Kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu, tatkala Indonesia baru
saja memproklamirkan kemerdekaan, yang serba terbatas kemampuan
memperlengkapi diri. Pada bulan Agustus 1948 Presiden pertama Indonesia
Ir. Ahmad Soekarno berkunjung ke Aceh, bertemu dengan berbagai lapisan
rakyat Aceh. Presiden Soekarno dalam jamuan makan siang bersama
tokoh-tokoh terkemuka Aceh yang diselenggarakan oleh GASIDA (Gabungan
Saudagar Indonesia Daerah Aceh) menyampaikan ajakan kepada kaum saudagar,
dalam sambutan, beliau menegaskan bahwa: Saudagar adalah tonggak ekonomi
negara Indonesia, sebab itu bantulah usaha dan rancangan pemerintah
pusat untuk kebaikan perekonomian negara. Beliau juga menganjurkan
kepada kaum saudagar Aceh untuk membeli pesawat terbang.
Setelah pertemuan bersejarah di hotel Kutaraja Aceh pada tahun 1948
pemuka-pemuka masyarakat Aceh menjanjikan kesanggupan akan menyumbang
pesawat-pesawat terbang untuk perjuangan, dan diadakan perumusan tentang
cara dan langkah-langkah untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya.
Terbentuklah Panitia Pembelian Kapal Udara Daerah Aceh, dan dalam tempo
yang singkat dana tekumpul kemudian mereka menyerahkan bantuan untuk
membeli Dakota RI 001 kepada Presiden Soekarno.
Pesawat terbang itu
diberi nama RI 001 Seulawah (Gunung Emas). Dalam ucapan terima kasih
yang disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara Komando Sumatera dari
Bukittinggi kepada Residen Aceh pada 23 Agustus 1948 jumlah uang yang
diterima dalam dua bentuk penerimaan adalah sebesar 120.000 dan 140.000
Sraits Dolar, suatu jumlah yang cukup besar.
Rakyat Aceh telah membuktikan kesetiaannya terhadap Indonesia negara
yang telah mereka merdekakan bersama rakyat-rakyat bangsa Indonesia
lainnya, dari sejak awal kemerdekaan hingga kapanpun. Dari pundi-pundi
saudagar dan perut bumi Aceh telah disumbangkan untuk kejayaan
Indonesia. Kini Aceh dan Nias dalan penderitaan akibat bencana Alam,
lndonesia berkabung, seluruh rakyat dan bangsa Indonesia berduka cita.
Kita bangsa Indonesia yang berada di luar Aceh dan Nias harus tampil
membangun kembali segala kerusakan akibat bencana itu. Kita yakin, bahwa
jumlah rakyat yang tinggal di luar Aceh dan Nias yang cukup kuat, mampu,
dan kaya masih cukup banyak. Taksiran sementara kerugian sebesar 5
miliar dolar AS yang diderita akibat bencana itu, secara sadar, masih
dapat ditanggung oleh kekuatan likuiditas dalam negeri, yakni dari
pihak-pihak yang tergolong kuat, mampu, dan kaya. Jumlah kelompok ini
diyakini mencapai 5% dari 220.000.000 bangsa Indonesia.
Dengan terciptanya kesepahaman antara Pemerintah Negara untuk
membentuk BOK untuk penanganan bencana, diharapkan kesimpangsiuran yang
selama ini terjadi dapat diatasi bersama, selanjutnya menyatukan segala
kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk membangun kembali
daerah-daerah yang terkena bencana dan musibah.
Dalam melaksanakan semua
itu mesti dipayungi oleh kekuatan undang-undang, agar seluruh kekuatan
yang dimiliki rakyat yang akan disumbangkan untuk tujuan mulia itu dapat
aman dan dipertanggungjawabkan. Bantuan-bantuan rakyat yang berkemampuan
dapat berupa hibah, sumbangan-sumbangan tidak mengikat dan bahkan dapat
berupa pembelian surat-surat berharga yang diterbitkan oleh negara (tanpa
bunga), yang semuanya itu diperuntukkan khusus bagi recovery Aceh
dan Nias serta daerah-daerah terkena bencana lainnya.
Agar kekuatan dana
yang didapat dari dalam negeri ini menjadi suatu kekuatan yang utuh,
efektif, dan berdaya guna tinggi, kiranya dapat dipusatkan ke dalam
Badan Khusus sebagai Anggaran Pendapatan Negara. Dan dalam penggunaannya
dapat dikontrol bersama oleh rakyat. Segala bentuk penyelewengan
penggunaan dana tersebut dapat diberikan sanksi seberat-beratnya (ditetapkan
dalam undang-undang).
Momentum seperti ini mari kita gunakan dengan setinggi-tingginya
keyakinan dan sesempurna-sempurna pelaksanaan. 11 juta rakyat Indonesia
yang berkeupayaan akan mengedepankan kesadaran untuk memperkokoh
kejayaan Indonesia, tanpa bergantung kepada utang luar negeri. Jika hal
ini kita lakukan maka hal itu akan memberi jawaban nyata kepada dunia
yang kini telah ikut aktif memberikan bantuan kepada Indonesia dalam
menanggulangi bencana di Aceh dan Nias.
Mereka akan menyadari bahwa
Indonesia telah bangkit dari ketidakpercayaan diri, sehingga mereka
tanpa kita batasi waktu akan secepatnya menarik diri dari arena bencana,
sebab negara-negara yang sekarang berkiprah itu juga mempunyai kegiatan
lain setelah kegiatan kemanusiaan yang mereka berikan kepada Indonesia
mereka anggap telah memadai.
Diplomasi moderen tidak dapat seenaknya membatasi aktivitas bantuan
atas nama kemanusiaan. Kegiatan ummat manusia sejagat menjadi kegiatan
bersama, kesengsaraan dan bencana ummat manusia di satu negara menjadi
bencana ummat manusia sejagat, siapapun, dengan alasan apapun, tidak
dapat membendung kegiatan kemanusiaan dalam rangka ikut meringankan
penderitaan yang dialami oleh ummat manusia itu, tidak negara tidak
organisasi, apapun namanya. Kesadaran ummat manusia menjadi ummat yang
satu semakin hari semakin tinggi, kebencian, kehasudan, dan keirihatian,
hanya akan memperendah nilai suatu rakyat maupun negara.
Membangun Berbasis Kemandirian
Dengan kesadaran kita membangun kembali daerah terkena bencana
bermodalkan kekuatan sendiri, bersumber dari kekuatan orang-orang mampu
dan berkeupayaan harta, akan mempercepat wujud keberadaan Indonesia
memasuki era baru dunia, diplomasi baru, yaitu diplomasi “geoeconomic".
Dulu rakyat Aceh telah ikut membangun citra Indonesia dengan
menerbangkan pesawat terbang RI 001 mengibarkan panji-panji Indonesia,
bersumber dari orang-orang Aceh yang berkemampuan.
Kini seluruh rakyat
di seluruh daerah Indonesia akan mengawali pembangunan kembali Aceh,
dengan menyatukan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki, dan meninggalkan
budaya utang dari luar negeri, dari awal inilah diharapkan Indonesia
dapat masuk dalam jajaran a new diplomacy of "geoeconomics” yang
dibangun untuk menciptakan kebersamaan antar kekuatan-kekuatan negara
bersama-sama menciptakan zona damai dan demokrasi yang progresif.
Otonomi (kemandirian) adalah tujuan pembangunan, menurut definisi
siapapun.
Membangun pada dasarnya adalah membangun diri. Orang/pihak
lain tidak dapat menjadi sebab dalam membangun diri. Membangun/pembangunan
tidak boleh merugikan otonomi diri. Bantuan pembangunan (utang luar
negeri) menjadi suatu perjanjian yang dengannya penerima (negara yang
berutang) memperoleh uang untuk jasa-jasa pokok, dan pengirim (negara
pemberi utang) memperoleh pertumbuhan dalam negerinya yang bersumber
dari semua tantangan (keberanian memberi utang).
Dalam hal ini pembangunan berarti menerima tantangan kita sendiri. Dan kalau kita
terus menerima bantuan (utang) pembangunan, maknanya kita telah membuang
tantangan-tantangan itu dan kita berikan kepada pihak (negara) lain. Dan
ketika luar negeri memberikan bantuan pembangunan kepada kita, itu
maknanya pihak luar negeri telah merebut tantangan itu dari tangan kita,
yang akibatnya: Sesungguhnya merekalah yang telah membangun diri mereka
sendiri, karena dapat merebut kesempatan dan tantangan-tantangan yang
kita miliki, menjadi milik mereka. Karenanya bantuan pembangunan (utang
luar negeri) adalah sebuah contradictio in adjecto.
Alam bawah sadar pemerintahan negara Indonesia selama menjalankan
program pembangunan, selalu mengedepankan bantuan pembangunan (utang
luar negeri). Kegagalan demi kegagalan pembangunan berbasis bantuan
pembangunan (utang luar negeri) tidak menjadi penggugah alam bawah sadar
menjadi alam sadar.
Padahal pada dasarnya, bantuan pembangunan adalah
cara untuk memastikan reproduksi di seluruh dunia, bahkan kelangsungan
hidup, budaya, dan struktur negara maju (Barat), dengan menanam benih
sosio budaya di mana-mana, dengan memanfaatkan kemiskinan lokal untuk
legitimasi. Ketika bantuan pembangunan gagal mengurangi kemiskinan,
sebaliknya mengarah kepada reproduksi kemiskinan, ini dilihat sebagai
satu lagi alasan untuk melanjutkan bantuan pembangunan.
Negara pemberi
bantuan pembangunan bertindak laksana “Ayah”, memanfaatkan kesempatan
untuk berekspansi, kali ini secara ekonomis dan budaya, dan bukan semata
politik dan militer. Dan sekali waktu bertindak sebagai “ibu” merasa
ringan untuk membagi-bagi begitu banyak amal sebagai misi ke dalam semua
arah.
Bantuan pembangunan merupakan pasar internasional yang sangat
kompetitif, dimana negara donor dan negara penerima melakukan tawar
menawar dengan memberikan dan menerima projek di bawah berbagai slogan,
guna meningkatkan bagian mereka dari apa yang ditawarkan dan diterima.
Tingkat partisipasi dalam praktek itu mungkin lebih penting daripada
apakah tujuan yang digembar-gemborkan tercapai atau tidak.
Praktek-praktek seperti itu, membuka kerjasama tingkat tinggi antara
elite-elite yang bernegosiasi dari negara donor dan negara penerima,
donor dapat meningkatkan bagiannya jika penerima mau menerima, dan
sebaliknya.
Recovery Sebagai Tantangan dan Peluang
Tantangan ini harus diambil oleh (kelompok mampu) bangsa dan rakyat
Indonesia, agar dapat mereduksi ketidakpastian, sehingga dapat menjadi
jawaban atau solusi dalam menangani masalah nasional yang cukup besar
itu. Jangan sampai tantangan ini lepas dan diambil oleh pihak luar, yang
efeknya pasti akan menjadi beban rakyat.
Dengan pendekatan kolektif dan
kebersamaan kita yakin dapat menanggulangi segala tantangan besar
tersebut. Sebagai masyarakat yang tertimpa bencana, kita harus mampu
merekonstruksi diri kita (masyarakat kita) sendiri. Dan bila itu kita
lakukan, maka kita tidak tergolong kepada masyarakat yang kehilangan
kemampuannya untuk melakukan reproduksi secara mandiri dan otonom, dan
kita akan terus eksis menjadi bangsa besar, yang memiliki wilayah besar
dan luas yang tidak akan terpecah belah dan tercabik-cabik.
Kita menjadi sangat khawatir dan terus khawatir, jika tantangan dan
peluang ini justru akan kita sia-siakan. Sebab dari sekian banyak elite
pemerintah negara masih tetap berwacana, bahwa solusi pemenuhan anggaran
rekonstruksi yang bertujuan membangun seluruh sistem di wilayah bencana
ini, andalannya adalah Bantuan Luar Negeri. Belum ada elite politik di
Jakarta/Indonesia yang berwacana untuk mengadakan penggalangan dana dari
kekuatan rakyat, sebagaimana yang pernah dilakukan presiden pertama
Indonesia yang beliau lakukan kepada rakyat Aceh di awal kemerdekaan
dulu itu. Sekali lagi jika Bantuan Luar Negri (utang) menjadi andalan,
kita khawatir Indonesia yang tergolong negara miskin ini, akan meningkat
menjadi negara fakir miskin.
Rekonstruksi wilayah bencana merupakan usaha besar dan luhur, tidak
ada alasan takut bagi rakyat Indonesia untuk menanggulanginya secara
holistik. Pendekatan total, namun tidak perlu bertindak totaliter.
Membangun wilayah bencana dan wilayah-wilayah Indonesia lainnya,
mestinya kita melangkah dengan pasti di semua ruang menuju pembangunan,
tidak harus membuat lompatan-lompatan raksasa tapi hanya dalam satu
arah, kita melangkah bersama bergerak bersama secara kolektif insyaallah
akan kita temukan banyak hikmah.
Putra-Putri Aceh Pelajar Ma’had Al-Zaytun Tanggung Jawab Kita
Selanjutnya, dalam kesempatan ini, setelah kita menyampaikan beberapa
pesan dan pendapat yang bersifat umum dan berskala nasional, kini kita
masuk ke dalam skala lokal dan lingkup kecil di mana kita berada, yakni
di Ma’had Al-Zaytun. Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa putra-putri
pelajar dan mahasiswa yang berasal dari daerah Aceh di Ma’had Al-Zaytun
seluruhnya berjumlah tidak kurang dari 119 putra/putri. Hampir semua
mereka ini berasal dari kawasan yang terkena akibat gempa dan tsunami.
Sekalipun tidak semua mereka kehilangan orang-orang yang mereka kasihi
dan cintai, namun semua keluarga mereka terkena akibat gempa dan tsunami
tersebut.
Dari jumlah putra/putri tersebut, dapat kita rekam beberapa nama
pelajar yang akibat gempa dan tsunami itu, ada yang menjadi yatim,
karena kehilangan ayah, piatu karena kehilangan ibu, yatim piatu karena
kehilangan dua-dua ayah dan ibu, bahkan sebatangkara karena kehilangan
semua keluarga yang mereka cintai sebagai berikut.
1. Ridha Wahyudi bin Ali Uddin, kelas III-DA-02, ayah, ibu,
adik-kakak, bibi, kakek dan nenek wafat
2. Budiansyah bin H. Ridwan Moch Abbas, kelas IV-CA-03, ayah wafat, ibu
selamat, adik belum ada kabar, kakak wafat, nenek wafat dan paman belum
ada kabar.
3. Taubatun Diansyah bin Ir. H. Ridwan Moch. Abbas, kelas I-BA-01, ayah
wafat, ibu selamat, adik belum ada kabar, kakak wafat, nenek wafat dan
paman belum ada kabar.
4. Teuku Muttaqin Luthfan bin Azrizal, kelas IV-CA-04, ayah wafat, ibu
selamat, adik kakak selamat dan nenek belum ada kabar.
5. Agam Sugara Geubriena bin Burhanuddin, kelas III-BA-01, ayah selamat,
ibu belum ada kabar, adik-kakak satu orang selamat dan tiga orang belum
ada kabar, nenek belum ada kabar.
6. Syarifah Natasya Faradila binti Said Machzar, kelas V-IPA-DB 02,
ayah-ibu belum ada kabar, adik-kakak selamat, sepupu dari ayah meninggal
(1 keluarga 10 orang), seluruh keluarga dari pihak ayah belum ada kabar.
7. Azis Yaumil bin Jusmaini, kelas III-BA-02, ayah, ibu, adik-kakak dan
nenek belum ada kabar.
Semua mereka menjadi tanggung jawab kita, tanggung jawab Ma’had
Al-Zaytun, tanggung jawab Yayasan Pesantren Indonesia. Mereka tidak
boleh berhenti belajar hanya karena kekurangan biaya. Mereka harus terus
menuntut ilmu sampai batas formal tertinggi. Dalam menghadapi musibah
ini kalian boleh bersedih, namun tidak boleh terbelenggu oleh kesedihan
terus-menerus.
Ma’had Al-Zaytun adalah tempat yang ramah untuk kalian,
seluruh penghuninya terus bersimpati kepada kalian. Keluarga besar
santri pelajar Ma’had Al-Zaytun ikut memperhatikan kalian sebagaimana
perhatian mereka kepada putra-putri kandungnya. Sekali lagi jangan ada
di antara kalian yang putus asa dan canggung menghadapi segala kejadian
yang telah menimpa. Hari depan Aceh di tangan kalian. Kalian harus
bertekad sekuat-kuatnya untuk membangun Aceh, Aceh harus kalian bangun
menjadi Aceh yang lebih baik daripada sebelumnya, kini kesempatan
seluas-luasnya ada di tangan kalian, pandanglah masa depan dengan penuh
harapan yang tinggi, kalian pasti jaya.
Kepada saudara-saudara para jamaah Id al-Qurban, mari kita siapkan
dengan seksama apa yang menjadi syarat-masyrut putra-putri kita pelajar
dari Aceh ini dengan penuh dedikasi yang tinggi. Untuk perkara seperti
ini, jangan ada di antara kita yang merasa berat walau sekecil apapun.
Saat seperti begini inilah segala kebersamaan, keikhlasan, kejujuran
kita semua diuji kemurniannya.
Akhirnya semoga Tuhan menguatkan hati sahabat-sahabat kita yang
tertimpa musibah dengan kekuatan iman yang mendalam. Dan semoga para
pemimpin bangsa Indonesia diberikan keteguhan memilih jalan yang baik
untuk membangun kembali Aceh, sehingga tidak menjadi beban abadi di masa
depan. Dan kita akhiri khutbah Id ini dengan berdoa kepada Allah :
- اللهم صل على محمد
وسلم ورضى الله تعالى عن كل صحابة رسول الله أجمعين والحمد لله رب
العالمين.
- اللهم أنت السلام،
ومنك السلام، وإليك يعود السلام، فحينا ربنا بالسلام، وأدخلنا الجنة دار
السلام، تباركت ربنا وتعاليت يا ذا الجلال والإكرام.
- اللهم رحمتك نرجو
فلا تقلنا إلى أنفسنا طرفة عين وأصلح لنا شؤوننا كلها لا إله إلا أنت.
- اللهم اجعلنا من
المتقين الأبرار وأسكنّا معهم فى دار القرار, دار السلام ودار الإسلام
للأبرار.
- اللهم وفقنا بحسن
الإقبال عليك والإصغا إليك ووفقنا للتعاون فى طاعتك والمبادرة إلى خدمتك
وحسن الأداب فى معاملتك والتسليم لأمرك والرضا بقضائك والصبر على بلائك
والشكر لنعمائك واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات الأحياء
منهم والأموات برحمتك يا أرحم الراحمين وصلى الله على محمد وأله أجمعين.
- اللهم إنا نعوذ بك
من الهم والحزن ونعوذ بك من العجز والكسل ونعوذ بك من البخل والجبن ونعوذ
بك من غلبة الدين وقهر الرجال.
- اللهم نسألك الهدى
والتقى والعفاف والغنى
- اللهم اغفر لنا
وارحمنا واهدنا وعافنا وارزقنا رزقا حلالا طيبا
- اللهم إنا نعوذ بك
من زوال نعمتك وتحول عافيتك وفجأة نقمتك وجميع سختك.
- اللهم إنا نعوذ بك
من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا يسبع ومن دعوة لا يستجاب لها يا
مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك.
- اللهم إنا نسألك
الجنة وما قرب إليها من قول وعمل ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول
وعمل ونسألك من الخير كله عاجله وأجله وما علمنا منه وما لم نعلم ونعوذ بك
من جهد البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء.
- اللهم أت أنفسنا
تقواها وزكها, أنت خير من زكاها, أنت وليها ومولاها.
- اللهم لك أسلمنا وبك
آمنا وعليك توكلنا وإليك أنبنا وبك خاصمنا.
- اللهم إنا نعوذ بعزة
لا إله إلا أنت. أنت الحى الذى لا يموت والمخلوق كله يموت.
- اللهم اغفر للمؤمنين
والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب
الدعوات.
- ربنا تقبل منا إنك
أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.
- ربنا أتنا فى الدنيا
حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.
- سبحان ربك رب العزة
عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
هذا والله يرعانا ويحفظنا والحمد لله رب العالمين
Ma’had Al-Zaytun, 10 Dzu al-Hijjah 1425 H
21 Januari 2005 M
Syaykh al-Ma’had,
A. S. Panji Gumilang
►Versi Word
Document
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |