A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 

 
 


 
  C © updated 18092007  
   
  ►e-ti/ht  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

BIOGRAFI:   01   02   03   04   05 =

 

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (05)

Tokoh Pembawa Damai dan Toleransi

 

BERINDO 46: Pada bagian ketujuh kilas balik Al-Zaytun (29 Agustus 1999-29 Agustus 2007), kami menyajikan sosok dan visi Syaykh Dr Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang selaku tokoh pendiri sekaligus personifikasi Ma’had Al-Zaytun. Dia adalah seorang tokoh pendidikan (pembawa) budaya toleransi dan perdamaian. Ketua Alumni Institut Agama Islam Negeri (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Ciputat, ini memiliki wawasan kebangsaan dalam keberagaman yang menembus sekat agama, suku dan golongan, bahkan sekat bangsa dan negara.

 

Dia seorang inovator pendidikan visioner yang menatap dan mejembut jauh ke depan menembus abad dan milenium. Berpengetahuan luas, berwibawa, tegas, kebapakan, cerdas, serta memiliki sifat dan sikap lainnya yang layak dimiliki oleh seorang pemimpin dan pendidik pembawa damai dan toleransi.

Alumni Ponpes Gontor ini sungguh seorang pelopor pendidikan terpadu (sebuah paradigma baru pendidikan). Sehingga atas jasanya melakukan perubahan besar dalam transformasi kependidikan di Indonesia, putera bangsa kelahiran Gresik, 30 Juli 1946, itu telah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa bidang Management, Education and Human Resources oleh IMCA (International Management Centres Association)-Revans University, sebuah universitas action learning yang berbasis di Buckingham, Inggris dan Amerika Serikat. Dia dinilai telah sukses mewujudkan ide baru dalam sebuah paradigma baru pendidikan Islam melalui Ma’had Al-Zaytun.


Menurut Regional Director and Associate Professor IMCA, Antony Hii, Syaykh Panji Gumilang adalah seorang inovator pendidikan yang senantiasa sungguh-sungguh belajar sambil mengambil aksi agung dalam rancangannya. “Tak ada kata tak bisa. He is a man with great of action learning,” puji Dr. Antony Hii, lalu menyebut serangkaian partisipasi Syaykh Al-Zaytun di bidang pendidikan dan manajemen sumber daya manusia, seperti sebagai anggota Komisaris Akademi Arab di Kairo, sebagai anggota Organisasi Asosiasi Perdamaian Taiwan, Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Ketua Masyarakat Ekonomi Pesantren Indonesia.

Pembawa Damai dan Toleransi

Syaykh Al-Zaytun ini adalah seorang beriman pembawa damai dan toleransi. Di pondok pesantren modern ini, dia telah mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian. Bukan hanya dalam teori, wacana atau slogan, tetapi dalam aplikasi dan keteladanan. Sebagai pemangku pendidikan pesantren, dia selalu menunjukkan keteladanan dalam membimbing santrinya untuk membina persaudaraan dengan siapa pun tanpa membedakan asal-usul dan agamanya.


Tidak banyak, bahkan mungkin belum ada, pemimpin pondok pesantren yang secara khusus mencetak kartu ucapan Selamat Natal untuk dikirimkan kepada para pendeta dan pimpinan gereja, baik yang sudah dikenal maupun belum dikenalnya. Bahkan sebaliknya, justru ada ulama yang mengharamkannya.


Sejak ia masih belajar di Pondok Pesantren Modern Gontor, sudah mengimpikan berprofesi sebagai guru yang tanpa kekerasan. Dia tidak suka kekerasan. Dia ingin Indonesia memasuki zona damai dan demokrasi. Dalam perjuangan yang panjang tak kenal lelah, pada usia memasuki lima puluhan tahun, lulusan Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini berhasil mewujudkan impiannya membangun sebuah lembaga pendidikan pesantren spirit but modern system.


Yakni, Ma’had Al-Zaytun yang bermotto: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian. Sebuah motto yang merupakan padanan dari visi dan obsesi dirinya sendiri bersama sahabat-sahabatnya. Dia punya visi untuk memancarkan persaudaraan, toleransi dan perdamaian dari Al-Zaytun ke seantero Indonesia Raya bahkan ke seluruh penjuru dunia.


Patutlah para sahabatnya,termasuk sahabat yang nonmuslim, menyebutnya seorang tokoh pembawa damai dan toleransi. Pendeta Rudolf Andreas Tendean, yang memimpin rombongan Keluarga Besar Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jakarta, berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun (31/07/2004), adalah satu dari sekian banyak orang yang merasakan bagaimana sosok Syaykh Abdussalam Panji Gumilang membawa damai dan toleransi dalam komunikasi, pergaulan dan persahabatan mereka.


Adalah Syaykh Panji Gumilang yang memulai (berinisiatif) menyebar damai dan persaudaraan dalam persahabatan mereka. Manakala, dia mengirim kartu ucapan Selamat Natal kepada sejumlah pendeta dan pimpinan gereja. Kartu Natal yang menjadi awal berkembangnya damai dan toleransi sehingga kedua umat beriman itu saling mengunjungi dan saling memahami.


Bukan hanya kali ini Syaykh Panji Gumilang mengambil inisiatif damai, toleransi, persaudaraan dan persahabatan. Persahabatan yang kental juga telah lebih awal dijalin oleh Syaykh dengan komunitas Taiwan di Indonesia. Ditandai kunjungan Kepala Kantor Perwakilan Dagang dan Ekonomi Taiwan di Indonesia sejak dipimpin oleh Mr. Sui Chi Lin hingga pejabat yang baru Mr. David Y.L. Lin.


Persahabatan dengan komunitas Taiwan ini, bermula pada tahun 1997 dari pertemuan Syaykh AS Panji Gumilang dengan dua orang pengusaha Tionghoa, yakni Mr. Liang dari Taiwan, yang kemudian di Al-Zaytun dianugerahi nama Luqman, dan Mr. Hendra. Waktu itu, terjadi kerusuhan yang membuat banyak warga etnis Tionghoa menjadi korban dan ketakutan. Syaykh membuka tangan untuk memberikan perlindungan kepada keduanya.


Begitu pula persahabatan dengan John Rath, Second Secretary Kedutaan Besar AS yang juga sebagai Atase Politik AS, bersama rombongan berkunjung dan berdoa di Al-Zaytun. John Rath, Atase Politik negara adi daya, itu ketika berkunjung ke Al-Zaytun bertutur, masyarakat Amerika tetap ingin bersahabat dengan Indonesia. Bahkan John Rath berdoa di dalam bangunan Masjid Rahmatan lil Alamin agar persahabatan Indonesia dan Amerika selalu abadi. “Kami berdoa untuk kejayaan sekolah ini serta orang-orang yang bersama sekolah ini, hari ini dan di masa yang akan datang,” kata John Rath.


Dalam pandangan Syaykh Panji Gumilang, persahabatan sejati akan selalu menghasilkan manfaat bagi siapa saja, terutama bagi para pelakunya. Apalagi jika persahabatan dikelola dengan cerdas, tulus dan bersahaja. Menurutnya, persahabatan adalah pintu masuk terbaik menuju perdamaian di muka bumi. Dengan persahabatan, katanya, tak hanya perdamaian yang diperoleh, melainkan pintu kesejahteraan pun menjadi terbuka lebar.


Bagi dia dan segenap eksponen dan santri Al-Zaytun, persahabatan bukan hanya sekadar kata manis yang enak didengar. Tetapi, segenap civitas akademika Al-Zaytun telah membuktikan dalam pergaulan kesehariannya. Al-Zaytun senantiasa menjalin persahabatan dengan siapa pun yang mau tanpa memandang perbedaan agama, kultur atau afiliasi politik.


Menurutnya, toleransi adalah akidah dalam beragama. “Pengakuan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan Allah, God, Yahweh, Elohim, yang disertai ketundukan itu, merupakan fitrah (naluri) yang dimiliki oleh setiap manusia. Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya pemberi peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya, mereka adalah para nabi dan rasul,” ujar Syaykh Panji Gumilang.


Dia menjelaskan, perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut iman, atau itikad, yang kemudian berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ru’bah), hormat (ta’dzim) dan lain-lain, itulah unsur dasar al-din (agama). Al-din (agama) adalah aturan-aturan atau tatacara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


Menurutnya, berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci, baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Berbagai fungsi tersebut adalah: (i) menunjukkan manusia kepada kebenaran sejati; (ii) menunjuki manusia kepada kebahagiaan hakiki; dan (iii) mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.


Dari hakikat dan fungsi agama seperti yang disebutkan itu, kata Syaykh yang tetap setia kepada isteri satu-satunya Khotimah Rahayu, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, telah memiliki strategi, metode dan teknik pelaksanaannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya. Karenanya, dia mengingatkan, sebagaimana dipesankan dengan sangat oleh Sang Pencipta agama, kiranya umat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu justru bermotivasikan keagamaan.


Berkaitan dengan hal ini, pada kesempatan lain kepada Wartawan Tokoh Indonesia, Syaykh Panji Gumilang mengatakan berinteraksi dengan jiwa toleran dalam setiap bentuk aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup (beragama) yang kita yakini. Menurutnya, kehidupan yang toleran justru akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang kita yakini. “Segalanya menjadi jelas dan tegas tatkala kita meletakkan sikap mengerti dan memahami terhadap apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan pihak yang berbeda (yang memusuhi sekalipun) kita bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya,” ujarnya.


Dia pun mengutip dialog disertai deklarasi tegas dan sikap toleran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Q.S. 109: “Wahai orang yang berbeda prinsip (yang menentang). Aku tidak akan mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianmu. Dan kamu juga tidak harus mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianku. Dan sekali-kali aku tidak akan menjadi pengabdi pengabdianmu. Juga kamu tidak mungkin mengabdi di pengabdianku. Agamamu untukmu. Dan agamaku untukku.”


Syaykh menjelaskan, sikap toleran membuahkan kemampuan yang sangat signifikan dalam menetapkan pilihan yang terbaik. Mampu mendengar berbagai ungkapan dan menyaring yang terbaik dari semua itu.


Sikap toleran, jelasnya, juga melahirkan kemampuan mengubah perilaku individu (self correction) terhadap pola yang selama itu dilakukan, yang tak berdaya mengubah masyarakat tradisional, tertutup dan represif, sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat dicapai. “Toleran, tidak menciptakan individu yang wangkeng, yang tidak mau mengubah perilakunya, walau tujuannya tidak tercapai. Secara apologi bersikap dan mengatakan bahwa tujuan itu tidak tercapai karena belum waktunya, atau nasibnya memang demikian dan tidak mau mengubah diri,” kata Syaykh dengan mantap. Sikap toleran, katanya, mampu menemukan jalan keluar dan problem solving yang pantas dan mengangkat martabat dan harga diri dalam berbagai bidang kehidupan.

Guru, Cita-cita Mulia
Pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 ini, telah berhasil mewujudkan ide agung sebuah paradigma baru pendidikan (pendidikan terpadu) di Al-Zaytun. Di pondok pesantren modern komprehensif ini, ia mewujudkan pendidikan terpadu yang disimpulkannya pada pendidikan-ekonomi dan ekonomi-pendidikan, di mana pendidikan harus diciptakan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya.


Jangan malah ekonomi yang diciptakan sebagai gula dan pendidikan (rakyat) jadi semutnya. Bila pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semut, maka semut (ekonomi) akan mendatangi orang yang terdidik. Karena semut adalah makhluk yang mengerti kualitas dirinya terhadap gula, sehingga semut tidak akan terkena sakit gula.


Itulah prinsip dasar dalam pendidikan terpadu yang diwujudkannya di Al-Zaytun, sebuah kampus peradaban milenium ketiga sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya tolerasi dan perdamaian. Lembaga pendidikan sekaligus lembaga ekonomi mandiri yang diimpikannya sejak belia.


Sejak kecil, dia telah bercita-cita menjadi guru dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Dengan maksud agar peradaban umat manusia tidak putus, maka dengan berbagai kemampuan yang ada padanya, dia berusaha menyambungnya. Itulah cita-cita mulianya mendirikan pesantren (kampus) ini, di samping untuk merangkum kehendak bangsa Indonesia sendiri, menjadi bangsa yang diperhitungkan di antara bangsa-bangsa lain.


Pria yang sejak kecil bercita-cita jadi guru, dan yang hingga akhir hayat akan tetap menjadi pembelajar dan pendidik, ini berpendapat bahwa peradaban tersebut harus disambung dengan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’ dalam visi demokrasi, toleransi dan perdamaian. Visi inilah yang dipakainya dalam membangun dan mengelola Al-Zaytun.
Sekilas berkisah mengenai awal mula adanya ide atau cita-cita pendirian lembaga pendidikan ini. Dia mengatakan bahwa sebagaimana orang pada umumnya selalu punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan, demikian juga halnya dengan dirinya.


Dimotivasi sosok ayahnya, yang sangat memengaruhi dan menguatkan cita-citanya menjadi guru dan mendirikan lembaga pendidikan terpadu. Ayahnya, seorang pemimpin, seorang Kepala Desa. Walaupun hanya sebagai kepala desa, namun ayahnya ditakdirkan oleh Ilahi menjadi orang yang suka mendidik di lingkungannya, sampai mendirikan sebuah sekolah yang dinamai orang ketika itu ‘Sekolah Arab’ karena setiap hari mengajarkan baca Alquran dan menulis Arab.


Di samping itu, Sang Ayah juga seorang pejuang. Sebagai seorang pejuang, Sang Ayah sengaja mempunyai banyak nama, sekali waktu dipanggil Panji Gumilang, Syamsul Alam, Mukarib, atau Imam Rasyidi. Melihat Sang Ayah yang berdimensi majemuk itu, tumbuh perasaan bangga dan senang pada diri Panji Gumilang kecil. Bangga melihat orang tuanya yang kepala desa, yang konon setiap hari harus lapor kepada Belanda, tapi sekaligus juga pejuang dan mendirikan sekolah.


Sehingga dalam kebanggaan Panji Gumilang kecil itu, timbul juga rasa penasaran melihat sikap ayahnya. “Pihak mana dipilih oleh orang tua ini?” begitu pertanyaan dalam hatinya saat itu. Maka ia akhirnya bertanya, “Ayah! Kenapa harus laporan ke Ndoro Asisten Wedana?”.
“Karena dia yang menjadi pimpinan di kecamatan ini,” jawab Sang Ayah.
Namun jawaban Sang Ayah belum menjawab keingintahuan dan teka-teki di hatinya. “Lalu, mengapa ayah ini kok ikut berjuang?”
“Karena kita akan merdeka,” jawab Sang Ayah.
Panji kecil masih penasaran dan bertanya lagi: “Mengapa Ayah membuat sekolah?”
“Karena kamu dan kawan-kawanmu harus pintar, agar bangsa kita tidak dijajah bangsa lain nanti,” begitu jawaban Sang Ayah saat itu.


Jawaban itu direnungkan sampai akhirnya dia paham dan semakin bangga terhadap ayahnya. Perenungan itu semakin mendalam dalam hati, jiwa dan pikirannya, hingga ia masuk sekolah. Pagi hari, Panji Gumilang kecil masuk Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Dasar sekarang. Lalu petang, masuk dalam sekolah yang didirikan orang tuanya, ‘Sekolah Arab’. Sejak kelas satu SR itulah tumbuh cita-citanya menjadi guru. Bahkan walaupun orang tuanya menginginkannya jadi kepala desa, dia tetap bersikeras menjadi guru.


Awal keinginannya menjadi guru, terpantik ketika dirinya masih kelas satu SR antara tahun 1952 atau 1953. Saat itu ada program pemberantasan buta huruf (PBB) untuk orang dewasa. Lalu, suatu hari, saat baru pulang sekolah, ia ditanya orang tuanya: “Kamu diajar apa tadi di sekolah?”
Kemudian ia jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Masa itu yang diajarkan bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya.
Orang tuanya pun bertanya lagi, “Kamu sudah bisa baca dan nulis?”
“Bisa, Pak,” jawabnya.
Sejenak Sang Ayah menatap. Lalu ayahnya menganjurkan: “Nanti malam, kamu mengajar ya…!”
“Mengajar siapa, Pak?”
“Itu, orang-orang tua yang buta huruf.”


Tanpa pikir panjang, Panji kecil pun mengiyakan, menurut. DiIa pun lantas mengajar sebagai upaya pemberantasan buta huruf orang-orang yang sudah sepuh. Ia merasa bangga dan senang. Apa yang dipelajarinya di sekolah pada pagi hari, itu yang diajarkannya pada malam hari. Pagi hari ditanya Pak Guru, disuruh menulis, dia bisa. Malam harinya, dia mengajar beberapa orang buta huruf, sekaligus mengulang pelajaran yang diterima di sekolah pada pagi harinya.


Orang-orang sepuh itu pun menjadi melek huruf. Hal ini menanamkan rasa bangga tersendiri baginya. Mengajar orang-orang tua sepuh itu, membangkitkan perasaan sangat bangga dan senang. Sejak itu, rasa senangnya jadi guru pun makin tumbuh.


Saat itu, suasana belajar membuat sesama murid senang berkompetisi. Siapa di antara mereka yang paling pintar, tercermin dari ponten (nilai) yang diberikan gurunya. Nilai itu menjadikan kebanggaan dan ditunjukkan pada orang tua mereka. Alat-alat belajar yang terdiri dari sabak (batu tulis) dan grip (pensil batu), merupakan warna lain dari suasana sekolah ketika itu. Buku tulis masih dianggap langka dan mahal.


Semua hasil pelajaran mendapat nilai dari sang guru, dengan menuliskan angka atau ponten di sabak tersebut dengan kapur tulis. Manakala Gumilang kecil mendapat angka 9 atau 10, maka asbak bertuliskan ponten kapur tulis itu pun dia tempelkan di pipinya. Angka itu tercetak di pipinya, meski dengan terbalik. Nilai yang kemudian dia tunjukkan kepada orang tuanya. “Lihat, pak. Aku dapat nilai 9,” katanya dengan bangga.


Sesaat setelah dia tamat SR, sekolah (madrasah) yang tadinya dibina oleh orang tuanya, entah kenapa diambil-alih sebuah yayasan. Bukan orang tuanya lagi yang mengurus. Pengambil-alihan madrasah itu berkesan bagi diri dan keluarganya. Bersamaan dengan itu, ia pun kemudian meninggalkan Gresik, kampung kelahirannya itu. Tidak mau tinggal di sana lagi. Tekadnya, ia harus belajar jauh entah ke mana. “Biar bagaimanapun saya harus belajar jauh. Jauh dari kampung,” itulah yang selalu ada di benaknya.


Tepatnya pada tahun 1961, Panji kecil membuka lembar baru dalam buku kehidupannya. Dia melanjutkan sekolahnya di Pondok Pesantren Gontor, sebuah pesantren terkemuka dan dikenal dengan pondok pesantren modern yang menghasilkan santri berkualitas. Gresik dan Gontor yang berjarak 210 km itu terasa tambah jauh karena bus waktu itu masih bus kayu yang setiap 10 km harus diengkol lagi.

 

Sehingga jika naik bus, subuh berangkat, magrib baru tiba.
Dia amat mengagumi Gontor, sebagai sekolah yang dibanggakannya. Kurun waktu enam tahun, tentu tak sedikit untuk mencangkul ilmu, mengeruk pengetahuan. Dia banyak memetik hikmah, pelajaran dan ilmu yang kemudian sebagian ditularkannya dalam mendidik santri di Al-Zaytun yang dikembangkannya kemudian. Karena kebanggaannya dengan Pesantren Gontor tersebut, anaknya yang pertama sampai yang keempat pun disekolahkannya di sana.


Hikmah paling berharga dari menuntut ilmu di Gontor, acapkali menemukan pengalaman dalam proses pembelajarannya. Motivasi dan keinginan selalu menjadi guru, membuatnya sangat tertarik mengamati cara mendidik dari berbagai guru yang mengajar. Metode dalam membimbing atau pun cara memberi pelajaran, amat menjadi perhatiannya.


Suatu saat, dia pun mendapat didikan yang cukup keras dari seorang guru. Dia pernah dihukum, ditempeleng dan rambutnya dicukur. Lalu terbersit dalam hatinya, apakah dapat dibenarkan cara mendidik semacam ini? Kenangan itu terasa susah dibuang dan malah terus diingat sampai sekarang. Bukan karena dendam, tapi karena dia tidak setuju dengan cara mendidik seperti itu.


Pengalaman itu akhirnya begitu cepat dan kuat menanamkan hal positif dalam hatinya. “Kalau saya punya tempat pendidikan, saya akan memberi kebebasan, tidak akan aku cukur rambutnya, tidak akan aku hukum dalam bentuk kekerasan fisik, aku hanya akan beri isyarat agar dimengerti,” begitulah kata hatinya ketika itu yang akhirnya dibuktikannya kemudian sepanjang karirnya sebagai guru, terutama di Al-Zaytun.


Selesai dari Gontor, pada 1966, ia berangkat ke Jakarta. Ketika itu suasananya masih belum tenang, setelah peristiwa Gerakan 30 September/PKI. Karena itu, orang tuanya, awalnya tidak mengijinkan, karena konon kata orangtuanya, Jakarta adalah tempat kekerasan.


Tanggal 30 Setember 1965 memang telah mengubah wajah negeri ini. Situasi politik saat itu memanas. Pasca peristiwa itu, tahun 1966 mahasiswa berhamburan ke jalan. Jakarta menjadi seperti bara api. Saat itu, Panji menyatakan niatnya untuk pergi ke Jakarta, maka kepergiannya tidak direstui orang tuanya.


“Semua bisa terjadi di Jakarta, sementara kamu belum punya kawan dan kami juga tidak punya kawan di sana,” kata orang tuanya.


Bukanlah Panji, jika dia langsung surut. Semangatnya terus menggebu. Dia meyakinkan orang tuanya, untuk tidak merasa khawatir, “Saya ingin membuat kawan bertambah di sana, doakan saja.” Akhirnya, orang tuanya merestui, walau dengan berat hati.


Dia pun menjejakkan kaki di ibukota negeri ini. Di Jakarta, dia kemudian masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat, sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Saat itu jalan menuju Pasar Jumat hingga ke Ciputat, tempat institut itu berada, belum semulus seperti saat ini, jalan belum aspal, masih tanah merah. Kendaraan dari Kebayoran Lama ke Ciputat juga hanya ada sampai pukul empat sore.


Panji datang ke Jakarta bukan untuk bersenang-senang. Apa pun rintangannya untuk menuntut ilmu tak pernah menjadi hal yang membuat hatinya kecut. Ada tekad dan cita-cita yang membentang dalam dirinya dan diyakini, kelak bisa menjelmakannya dalam sebuah kenyataan. Sesuai dengan janjinya, di Jakarta dia terus membina persahabatan dan senantiasa akrab dengan masyarakat lingkungannya.
Di sinilah dia mengasah diri, mengasah kecerdasan intelektualnya, mengasah kecerdasan relijiusnya, dan mengasah kecerdasan emosionalnya. Bahkan secara khusus, di institut inilah dia mengasah cita-citanya sebagai pendidik.


Di sini dia mematangkan diri sebagai pendidik. Mendidik telah menjadi bagian dari hidupnya. Dalam membangun kehidupan manusia, baginya pendidikanlah yang terutama dan harus diutamakan. Maka hampir tidak ada waktunya yang terlewat selain dari belajar, mendidik dan mendidik. “Hingga hari ini saya adalah seorang guru,” katanya bangga. Sampai akhir hayat dia akan terus mendidik.


Bayangkan, ketika kuliah di IAIN itu, dia membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu dinamakan Darussalam. Bukan hanya itu, dia pun mengajar di madrasah dan sekolah lain yang berdekatan dengan madrasah yang didirikannya itu. Malamnya mengajar, paginya sekolah.


Selama di IAIN, dia pun mulai sering berkumpul dengan kawan-kawan dan mulai merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili kemajuan Indonesia. Keinginan itu semakin kuat tapi tak pernah kunjung terwujud. Namun walaupun begitu, dia terus berpikir, bergerak dan berkarya.


Dalam upayanya itu, dia pernah membuat gambar dan lain sebagainya, perihal gagasan dan rencana mendirikan lembaga pendidikan terpadu itu. Gambar itu kemudian ditawarkan pada kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya tidak begitu percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu ide yang tidak masuk akal. “Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini,” begitulah kadang sambutan kawannya ketika itu.


Namun ia tetap yakin, “Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat, memang nggak bisa,” katanya menjawab temannya. “Kapan?” tanya kawannya lagi. “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi pada kawannya.


Akhirnya, kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan-kawan itu berhasil juga. Mereka pun banyak yang menerima ide, visi dan misi mendirikan lembaga pendidikan yang ‘pesantren spirit but modern system’ itu bermotto pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian.


Kemudian dia bersama sahabat-sahabatnya mulai mencari lokasi ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung dan Kalimantan. Walaupun menemukan tempat yang luas namun susah untuk dibangun. Maka ketika dia menemukan lokasi di Mekarjaya, Indramayu, menurutnya sama seperti menerka kelahiran sendiri, tidak tahu akan lahir kapan dan di mana.

Al-Zaytun, International Setting

Ma’had Al-Zaytun yang dimulai pada tanggal 13 Agustus 1996 merupakan usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Lembaga pendidikan yang diresmikan oleh Presiden BJ Habibie 27 Agustus 1999 ini mempunyai landasan semangat pesantren yaitu kemandirian atau enterpreneurship namun dipadukan sistem modern. Pesantren spirit but modern system.


Prinsip dan spiritnya adalah mendidik dan membangun secara mandiri semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sementara, nilai-nilai modern dimaksud adalah yang berazas kepada ciri-ciri modern itu yakni: pertama, bergerak berdasar ilmu; kedua, program oriented; ketiga, kenal prosedur; keempat, mempunyai organisasi yang tegas dan kuat; kelima, mempunyai etos kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas.


Tujuannya membuat lembaga pendidikan ini, tidak lain ingin mencerdaskan bangsa, supaya bangsa ini dan semua warganya menjadi cerdas, menjadi bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan kemanusiaan.


Al-Zaytun juga diharapkan bisa menghasilkan putra-putri bangsa yang sanggup menguasai science & technology dengan segala perkembangannya. Dan yang paling inti yakni sebagai warga bangsa, putra-putri bangsa itu mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Juga sanggup hidup dalam tatanan antarbangsa yang hidup dalam peradaban yang sempurna. “Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Alquran-nya disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” katanya.


Dengan demikian, Al-Zaytun diharapkan akan mempersiapkan manusia yang menjadi dirinya sendiri di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir menyangkut pada intelektual, emosional dan spiritual. Generasi yang punya bajik dan bijak yaitu bisa memosisikan dirinya pada kondisi apapun, menguasai sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup setara dengan bangsa-bangsa lain dalam zona demokrasi, toleransi dan damai.
Itulah yang hendak dibekalkan pada setiap santri sehingga santri itu nanti akan berinovasi pada zamannya. “Jadi tidak perlu terlalu diurai, karena itu terlalu retorik. Jadi intinya punya self-esteem yang tinggi,” katanya menambahkan. Hal itu menurutnya, juga merupakan cita-cita seluruh bangsa di dunia.


Dengan demikian nantinya semua bangsa akan bertemu. Itulah yang dinamakan International Setting. Itu terjadi karena cita-cita seperti itu merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir menjadi, International Thinking, dan cara solidaritas menjadi, International Solidarity. Tatanan hidup, setting-nya menjadi International Setting. Itulah menurutnya yang dinamakan dengan hidup global atau globalisasi, yakni kekuatan nasional namun mampu mengakses kehidupan antarbangsa.


Menurutnya, cita-cita seperti itu bukan dia rangkum sendiri, tetapi bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya. Sebelum mereka mendirikan pesantren modern ini, dia lebih dulu masuk ke dalam berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia maupun di luar, berkelana untuk melihat, studi banding dan sebagainya.


Dalam proses pendidikannya, Al-Zaytun sengaja mengekspos sebuah laboratorium alam untuk ditanamkan ke benak anak-anak didiknya. Ini dilakukan agar nanti para santri berinovasi. Misalnya, bila diekspos perahu, maka akan timbul dalam pikiran mereka, dulu kami buat sendiri itu yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Akhirnya mereka akan buat sendiri sebab ilmu ada, pengalamannya juga ada. Hal tersebut terbersit dalam pikiran Syaykh karena mengenang masa kecilnya yang pernah diekspos oleh orang tuanya menjadi guru pemberantasan buta huruf sehingga membuatnya berinovasi sepanjang hidup.


Sedangkan globalisasi 2020 yang menjadi sangat hangat diperbincangkan belakangan ini, bagi Al-Zaytun hanyalah suatu fase langkah, artinya, tahun 2020 itu dipersiapkan sedemikian rupa menuju tahun-tahun berikutnya, karena tahun, bukan hanya 2020 saja. Jadi 2020, menurutnya, hanyalah satu langkah menuju langkah berikutnya, step by step.


Begitu banyak orang yang kagum akan keberhasilan yang dicapai Al-Zaytun, namun Syaykh yang merupakan perencana awal pendirian kampus ini rupanya memegang filosofi ilmu padi, ‘semakin berisi semakin menunduk’. Dengan merendah diakuinya, bahwa sampai sekarang, dia belum merasa sukses.


Sebab sukses itu, menurutnya, masih ada di depan sedangkan yang diperoleh kini hanyalah untuk yang kemarin dan hari ini. Apa yang dilakukan sekarang masih merupakan langkah awal dalam meraih sukses itu. Jadi pendidikan, menurutnya, haruslah punya jiwa inovatif. Tidak boleh mengatakan cukup, tidak boleh mengatakan sudah sukses.


Menanggapi pernyataan betapa spektakulernya pembangunan yang dilakukan Al-Zaytun, dia hanya mengatakan, “Kalau sudah ditarik rodanya, kereta itu akan berjalan dengan sendirinya.” Diibaratkannya, kalau ban mobil itu sudah berjalan, justru harus pandai menyetirnya. Jadi sudah tidak ada yang berat lagi. Maka dalam menyetir Al-Zaytun ini, dia mengaku bahwa itu dilakukan bersama dengan sahabat-sahabatnya. “Sekali waktu kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di padang yang terang,” ucapnya.


Sedangkan mengenai tantangan yang dihadapi selama ini, dia hanya mengatakan bahwa hidup tanpa tantangan, tidak akan menemukan manisnya hidup. Menurutnya, tantangan hidup adalah ciri bahwa kita diberi kesempatan untuk mengatasinya.
Memang, sesuatu yang tidak dimengerti jika masih ada yang merasa curiga dengan kehadiran Al-Zaytun, sebab menurut apa yang dilihat dan dialami dan diterima oleh penulis sendiri apa yang dicurigai oleh sebagian orang itu sangat jauh dari kenyataan yang ada.


Bahkan dalam suatu pembicaraan, ketika kami mengatakan bahwa kami berbeda aliran dengan Syaykh sendiri, dia malah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan, “Selaku ciptaan Tuhan kita ini semua sama, paling tidak sama-sama satu bangsa Indonesia.” Menurutnya, sebagai satu bangsa Indonesia, berarti sudah punya keyakinan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri.


Satu kiat dari Syaykh dalam mengatasi berbagai tantangan itu adalah dengan terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik. Tantangan itu menurutnya harus diatasi dengan cara demikian. Dan harus ditampilkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu tantangan itu justru akan memberikan satu nilai.


Termasuk berbagai pemberitaan dan buku yang menyudutkannya. “Bukan tidak dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan, oh…ini di sini nih yang harus kita lalui, oh… ini di sini yang harus kita singkirkan, oh…di sini yang harus kita laju ke depan. Itu kita jadikan tantangan, dan kita siap mengatasinya,” katanya terbuka.


“Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna apa-apa, dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati karya bangsanya yang nyata itu. Kemudian mengenai masalah adanya orang mengatakan di sini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam tadi, sejarah nanti yang akan membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah, kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya sendiri, kehancuranlah yang terjadi,” katanya menjelaskan.


Jadi menurutnya, jika sejarah itu ditulis sendiri dengan karya nyata, maka sudah pasti akan menulisnya dengan sebaik-baiknya. “Ini namanya karya sastra. Sebab sastra itu macam-macam, bukan cuma tulis saja. Sastra itu termasuk seni dalam mengelola apa pun. Kebetulan saya mendalami sastra karena sekolah di sastra dulu,” ujarnya.


Yang lebih jauh lagi, ada orang yang sempat menduga bahwa Al-Zaytun didirikan dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia. Menanggapi dugaan-dugaan seperti itu Syaykh hanya mengatakan bahwa orang menduga boleh saja. Bahkan dia mengatakan bahwa diduga sesat pun dia takkan pernah membantahnya. Menduga mau mendirikan Negara Islam Indonesia pun dia tidak pernah menghiraukannya.
Tapi menurutnya, di dunia ini tidak boleh duga-duga, tapi harus berpikir modern. Setiap bergerak harus berdasar ilmu. “Sekarang, antara ilmu dan duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan ‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, duga itu tidak akan bisa mengalahkan ilmu,” ucapnya.


Ketenangan Syaykh dalam menghadapi segala tantangan tersebut sungguh menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Namun, walaupun begitu, dia tetap merasa tidak berbeda dengan yang lainnya. Dia tidak merasa lebih unggul. Dia merasakan dan menjalani hidup ini dengan bijaksana. Apa yang diperintahkan konsep kehidupan, dilakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan, dijauhi. Selamat. Itu saja caranya menjalani hidup. Dan keyakinannya, Tuhan pun akan suka.


Jika ada pertanyaan mengenai dari mana dana pembangunan Al-Zaytun, dia menganggap pertanyaan itu wajar saja. Tapi hendaknya jangan mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Sebab jika seseorang mengukur ukuran orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Jadi kalau mengukur dengan parameter umum, maka hasil yang telah dicapai Al-Zaytun, menurutnya, masih wajar-wajar saja.


Mengenai dana, menurut Syaykh, merupakan hal yang gampang sebab setiap melompat (penemuan/pengembangan satu ilmu) selalu ada harganya. Jadi jika ada suatu lompatan, orang akan memberi apresiasi, hasilnya dibagi. “Jadi dana itu nggak susah, yang susah itu kalau kita tidak pernah berpikir mendanai ini,” katanya.


Dan yang lebih membanggakan, Departemen Agama dalam waktu singkat telah mengakui bahwa Al-zaytun merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik. Sertifikat penghargaan itu diberikan Januari 2004 lalu. Demikian juga dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun juga merupakan yang terbaik di Jawa Barat. Hal itu jelas merupakan suatu sejarah juga, yang bisa terjadi karena ditulis dan diukir.

Keluarga Bersahaja

Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik, diakuinya bahwa keluarganya sungguh sangat membantu. Sebagaimana lazimnya, seseorang yang memangku pemimpin pesantren biasanya memiliki istri lebih dari satu, namun pria setia ini tidak terpikirkan untuk menambah atau malah mengganti istri yang sangat disayangi itu. “Istri saya dari sejak pertama sampai hari ini, itu-itu juga,” begitu katanya agak bercanda.


Khotimah Rahayu, juga sering dipanggil dengan Faridah Al Widad, istri yang memberinya tujuh orang anak itu, juga seorang guru. Istrinya pada awalnya adalah seorang guru PNS. Lain dengan dirinya, ia tidak mau menjadi pegawai negeri.


Dengan sangat senang dia pada pagi harinya mengajar, sore dagang, bertani, memborong tanaman entah padi dan sebagainya atau memborong kayu-kayuan yang ditanam orang, diambil terus dibelah. Atau dagang hewan seperti kerbau dan lembu. Itulah dulu pekerjaannya sehari-hari.
Khotimah yang berasal dari Banten, Kampung Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, keresidenan Banten (sekarang menjadi provinsi Banten), menjadi guru bukanlah secara kebetulan atau takdirnya yang sudah begitu, namun sebagai anak dari seorang guru (orang tua dari Ibu Khotimah Rahayu), dalam dirinya sudah tumbuh satu kecintaan pada profesi pendidik.


Kehidupan bersahaja selalu ditunjukkan keluarga guru ini. Meski sudah begitu banyak dan begitu besar gedung yang telah dibangun di lokasi Al-Zaytun, hingga saat ini, keluarga ini selama 24 jam masih tinggal di salah satu ruangan (kamar) asrama bergabung dengan para santri.


Mencari ilmu, bagi keluarga ini tidak memandang bangsa dan negara. Hal tersebut terlihat dari usahanya memberangkatkan anak-anaknya ke berbagai negara. Dua anaknya sedang belajar di New Zealand, satu di London, satu S2 di UNJ, satu di Australia. Sedangkan yang terakhir masih sekolah di Al-Zaytun.


Dalam hal mendidik, ayah dari Imam Prawoto, Ahmad Prawiro Utomo (sering dipanggil dengan Ahmad Zaim), Ikhwan Triatmo (sering dipanggil dengan Abdul Hamid), Khoirun Nisa (perempuan), Muhammad Hakim Prasojo, Sofiah al Widad (perempuan), Karim Abdul Jabbar (alm), ini selalu berusaha menunjukkan kasih sayang seorang ayah. Dia tidak mau berlaku otoriter apalagi menghukum dengan cara mendera fisik. Maka di Al-Zaytun pun dia memberlakukan santrinya dengan bebas, sebebas-bebasnya, namun berdisiplin setinggi-tingginya.


Disiplin yang dimaksud Syaykh, yang sangat memperhatikan kesihatan antara lain seperti aturan tidak bisa merokok dan anti narkoba. Sejak awal di sini telah diambil langkah-langkah pencegahan masuknya narkoba dengan melakukan tes, baik ketika masuk maupun saat keluar pesantren.


Demikian juga halnya dengan para karyawan. Syarat menjadi karyawan adalah apabila sanggup tidak merokok. “Dulu, kami di sekolah itu bebas merokok dan akibatnya kita rasakan sekarang. Jika dulu dari sekolah tidak merokok, mungkin sihat badan ini. Untung cepat kita sadari bahwa merokok itu cuma menyusahkan jantung dan paru-paru. Pengalaman itu kita tularkan ke anak-anak kita. Ternyata dunia tanpa rokok itu nikmat. Paling tidak bebas bernafas,” katanya.


Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Al-Zaytun, Syaykh sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya. Ia makan dengan menu yang teratur dan sihat serta rutin melakukan olahraga murah, naik sepeda sekeliling kampus Al-Zaytun. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg. ►berindo/ch robin simanullang


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)