A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 

 
 


 
  C © updated 22042005  
   
  ►e-ti/maz  
  Penulis:
1. Sofwan D.A adalah Jurnalis Ma’had Al-Zaytun
2. Nawawi adalah Dewan Guru MAZ.
Keduanya turut serta dalam delegasi MAZ dalam Program Ta’aruf Pendidikan ke Malaysia.
 
     

Pameran Pendidikan Indonesia di Kuala Lumpur:

Mengangkat Martabat Bangsa


Oleh Sofwan DA dan Nawawi*)


Perjalanan Taaruf Pendidikan Ma’had Al-Zaytun mengikuti Pameran Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada 30 Maret 2005, suasana Hall Exhibition Centre yang terletak di lantai III Mid Valley Mall, Kuala Lumpur tak seperti biasanya. Ratusan orang tampak antri menanti giliran untuk bisa sampai di sebuah stan yang berukuran hanya 2x2 meter.

 

Hari itu, di hall yang sering dijadikan arena pameran itu memang sedang berlangsung sebuah even pameran pendidikan dan kebudayaan. Tajuknya “Indonesian Show Case: Pameran Internasional Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2005”. Pameran itu sendiri merupakan hasil kerjasama antara Kedubes RI di Malaysia dan Yayasan Widya Humaniora dan dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Jenderal (Pol) KPH Rusdiharjo.


Stan yang tampak paling ramai itu, hanyalah satu dari belasan stan peserta lainnya. Stan sebuah lembaga pendidikan swasta yang oleh panitia dikelompokkan sebagai pesantren: Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Satu-satunya yang hadir dari tiga pesantren dari Indonesia yang diundang untuk mengikuti even yang berlangsung hingga 4 April 2005 itu.

 

Selama lima hari pameran berlangsung tercatat, stan Ma’had Al-Zaytun menjadi stan yang paling banyak dikunjungi pengunjung: 4.797 pimpinan rombongan. Itu baru yang tercatat di buku tamu, belum termasuk mereka yang hanya diwakili oleh satu nama pimpinan rombongan di isian buku tamu. Satu ilustrasi nyata Dubes RI untuk Malaysia, Jenderal KPH Rusdiharjo yang mendatangi stan Al-Zaytun ketika mengisi buku tamu di Al-Zaytun ‘terpaksa’ mesti ikhlas berada di urutan ke-80 pengunjung. Padahal, pameran belum lagi dibuka satu jam.


Sementara stan-stan lain merupakan stan lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang di Indonesia dikatagorikan terkemuka seperti IPB, ITB, Universitas Padjajaran, UIN Jakarta, UII Yogyakarta, UNJ, UIN Makassar, Universitas Negeri Malang, dan USU Medan.


Tim Al-Zaytun datang dengan persiapan matang. Selain datang dengan kekuatan terbanyak: 20 orang, tim ini juga membawa kelengkapan pameran terlengkap yang terbukti cukup efektif untuk menarik pengunjung. Tim besar mereka memboyong 52 foto besar ukuran 50x40 cm yang dipajang secara bergantian. Menariknya, dari sekian banyak foto itu terdapat beberapa foto yang sangat relevan dengan pameran.

 

Foto-foto itu sangat bernuansa Malaysia, seperti foto pertemuan pemimpin MAZ Syaykh Abdussalam Panji Gumilang dengan Dr. Mahathir Muhammad, lalu dengan Menteri Hal Ehwal Dalam Negeri Malaysia, Dato’ Azmi Khalid, juga dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Rastam bin M. Isa yang berkunjung ke MAZ tahun 2000 lalu. Ditambah lagi foto-foto berbagai aktivitas pelajar Malaysia di Ma’had Al-Zaytun dengan background bendera Malaysia. Dari kejauhan foto-foto itu sangat efektif menarik hati pengunjung untuk mendekatinya.


Pengunjung yang membludak itu tentu saja meminta para anggota delegasi MAZ bekerja secara efektif agar waktu para pengunjung tak habis hanya untuk antri. Bagusnya, mereka datang berdua puluh orang. Ditambah lagi, perbantuan dari beberapa staf Paguyuban Walisantri MAZ di Malaysia, yang selama ini menjadi partner dan agen tunggal MAZ di Malaysia.
 

Strategi pun diatur. Dua petugas berjaga di stan: satu untuk memberi penjelasan, satu lagi melayani permintaan para tamu yang ingin memiliki profil MAZ baik yang berbentuk buku profil maupun VCD. Sementara 5-6 petugas lainnya tersebar di beberapa titik untuk memberikan penjelasan dari perangkat-perangkat pameran yang memang sudah dipersiapkan tim MAZ seperti: album-album foto yang jumlahnya belasan album, foto-foto ukuran 50x40 cm yang terpampang di dinding stan, aneka penerbitan dan referensi tentang Ma’had Al-Zaytun hingga bendera Universitas Al-Zaytun yang ternyata begitu menarik para pengunjung untuk mengetahui filosofinya.


Sementara seorang petugas lain, melayani antrean calon walisantri (walipelajar) yang langsung memanfaatkan even pameran itu untuk mendaftarkan putra putri mereka. Dari catatan tim MAZ, hingga pameran usai tercatat 57 calon pelajar yang mendaftarkan diri dan melunasi administrasi pendaftaran untuk tahun pembelajaran 2005 ini.


***

Suasana di stan Al-Zaytun yang sudah ramai bertambah lagi dengan kedatangan pemimpin Ma’had Al-Zaytun, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang yang datang untuk meninjau para stafnya yang sedang bertugas di arena pameran. Kedatangan pria tinggi besar yang hari itu mengenakan jas warna merah maron, yang merupakan jas seragam yang dikenakan oleh 20 anggota delegasi Ma’had Al-Zaytun, sontak mengalihkan perhatian para pengunjung pameran yang berkerumun di stan Al-Zaytun.

 

Secara otomatis, pandangan mata mereka tertuju ke sosok yang malam itu didampingi sang isteri dan beberapa staf eksekutif yayasan yang menaungi Ma’had Al-Zaytun (MAZ).
Bak lebah kedatangan ratunya, kerumunan besar pun terjadi. Sebagian besar dari mereka, pemuda laki laki dan perempuan maupun yang sudah beranak istri, tampak begitu berusaha hanya untuk bisa berjabat tangan dengannya. Tak sedikit pula yang sempat disapa dan diajak berbincang oleh syaykh-nya Al-Zaytun itu. Seperti tak ada jarak lagi antara dia yang dijadikan sebagai tokoh dan mereka yang menokohkan.


Suasana akrab juga tercermin dari dialog Syaykh Panji Gumilang dengan beberapa anak yang ternyata calon pelajar MAZ. Syaykh Panji Gumilang yang terus menebar senyum dan senantiasa menyambut uluran tangan pengunjung yang ingin bersalaman dan berbincang-bincang singkat. Sementara, para juru foto mengabadikan peristiwa yang gaungnya sampai hingga ke Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur.


Tak sebatas meninjau stan MAZ dan stafnya, Syaykh Panji Gumilang pun mengunjungi, menyapa dan menyalami semua staf universitas peserta pameran lainnya. Sambutan dari para petugas yang sebagian besar dosen dan pejabat rektorat sungguh luar biasa. Betapa tidak, kehadiran Syaykh Panji Gumilang telah membuat suasana pameran pendidikan yang biasanya sepi menjadi semarak.


Berlanjut, Syaykh Panji Gumilang pun lalu mengunjungi stan-stan pameran perdagangan yang lokasinya berdampingan dengan arena pameran pendidikan tadi. Semua fenomena yang membuat atmosfer hall pameran malam itu menjadi atmosfer yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membuat Chief Security Mid Valley sampai harus mendatangi stan Al-Zaytun untuk mencari tahu, siapa tokoh yang tadi dikerumuni banyak orang tadi?


Uniknya lagi, fakta ramainya pengunjung di stan Al-Zaytun tak hanya terjadi di hari pertama, tapi juga selama pameran berlangsung. Begitu juga fenomena dikerumuninya kehadiran Syaykh Abdussalam Panji Gumilang di hari pertama juga terjadi di hari terakhir pameran.


Membludaknya pengunjung ke stan Al-Zaytun itu tak terlepas dari kiprah para walisantri MAZ di Malaysia. Saat ini tercatat 189 pelajar MAZ asal Malaysia yang datang dari berbagai negeri mulai dari Kelantan dan Terangganu di semenanjung bagian utara sampai Johor di bagian selatan, dan juga Sabah di Malaysia Timur. Walisantri dari Singapura pun sementara ini bergabung dalam paguyuban itu.


Selama ini, merekalah yang menjadi juru bicara MAZ di Malaysia. Juga menjadi penghubung bagi segenap lapisan warga Malaysia yang berminat berkunjung ke MAZ. Tercatat sudah ribuan pengunjung MAZ yang datang dari Malaysia dan Singapura mulai dari kalangan cerdik cendekia, diplomat, birokrat, akademisi sampai kalangan usahawan. Mereka yang pernah datang pun kemudian menyebarluaskan berita Al-Zaytun di Malaysia sehingga MAZ bukanlah suatu barang baru di Malaysia. Jadi, bukan sesuatu yang aneh sebenarnya jika kemudian stan Al-Zaytun di pameran itu ramai dikunjungi tamu.


Selain faktor itu, ada satu faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap membludaknya pengunjung di stan Al-Zaytun. Itu tersimpul dari ungkapan salah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Malaysia yang berkunjung ke stan bernomor F-9 itu. Namanya Prof. Dr. Amien Thoriq.

 

”Lembaga pendidikan yang bersifat akademik di Malaysia ini sudah cukup ramai dan tergolong maju pula, tapi yang semisal pesantren terlebih bersistem modern macam Al-Zaytun ni susah nak dicari. Mereka surprise dengan Al-Zaytun yang modern tapi berada di tanah Melayu,” katanya sambil mengeluarkan beberapa lembar ringgit untuk bershadaqah bagi mendapatkan buku profil dan VCD Al-Zaytun yang dibawanya pulang. Ini menjadi pertanda bahwa bangsa Malaysia memiliki minat yang besar terhadap lembaga pendidikan pesantren. Sayangnya, dua pesantren lain yang diundang tak memenuhi undangan panitia.

Diplomasi Perdamaian
Satu catatan khusus yang bisa dipetik dari even pameran ini adalah waktu penyelanggaraannya: di tengah suasana tegang yang tercipta dari pemberitaan tentang silang pendapat status kepemilikan Blok Ambalat di Laut Sulawesi, Kalimantan Timur. Sejatinya, pameran ini bisa menjadi contoh bahwa sesungguhnya antara bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia memiliki hubungan yang sangat harmonis: akrab dan penuh kedamaian. Buktinya, pameran itu dikunjungi ribuan orang. Juga pameran perdagangan yang menurut informasi sangat diminati konsumen Malaysia.


Sayangnya, momentum ini tak dipahami betul oleh sebagian besar pimpinan lembaga pendidikan di Indonesia yang diundang tapi memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian dalam pameran ini. Dari 60 universitas yang diundang hanya belasan saja yang hadir. Ironisnya lagi, dari mereka yang memutuskan tak hadir tercetus alasan sempit karena pertimbangan konflik Ambalat. Setidaknya itu informasi yang diterima dari panitia pameran.


Padahal semestinya, persoalan Ambalat tidak perlu dijadikan alasan untuk tak berpartisipasi dalam sebuah pameran pendidikan. Dan semestinya, kesempatan pameran pendidikan itu digunakan untuk menyampaikan misi perdamaian bangsa Indonesia kepada bangsa Malaysia di saat segelintir bangsa Indonesia di tanah air melakukan berbagai tindakan tak terpuji di mata diplomasi internasional: seperti menghujat dan membakar bendera Malaysia. Semestinya, even itu dijadikan momentum perdamaian kedua bangsa.

MAZ dan Ta’aruf Pendidikan
Ta’aruf Pendidikan, itulah nama program tim MAZ selama sepekan di Malaysia yang seluruhnya berjumlah 20 orang mulai dari Syaykh Abdussalam Panji Gumilang sebagai pimpinan delegasi, para eksponen yayasan, jajaran dewan guru dan manajer pendidikan, tim pertanian terpadu dan jurnalis MAZ.


Dari 20 anggota tim MAZ, memang tak seluruhnya bertugas menjaga stan. Pasalnya, kedatangan mereka ke Malaysia tak sekadar mengikuti pameran, tapi juga untuk melakukan kunjungan-kunjungan ke beberapa lembaga pendidikan tinggi di Malaysia. Oleh karena itulah, MAZ menamai program mereka selama sepekan ke Malaysia itu dengan nama “Ta’aruf Pendidikan”.

Ta’aruf bermakna perkenalan. Jadi misi utama MAZ ke Malaysia adalah dalam rangka memperkenalkan pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan MAZ. Bukan semata-mata untuk ikut pameran yang konotasinya “memamerkan”. Atas dasar itulah, kemudian delegasi MAZ juga melakukan serangkaian program pertemuan dan kunjungan selema berada di Malaysia.

 

Dimulakan dengan pertemuan khusus dengan Duta Besar RI untuk Malaysia di Wisma Duta yang menjadi kediaman keluarga Duta Besar. Dengan penuh sukacita, Duta Besar malam itu didampingi isteri dan Atase Pendidikan, menerima 25 anggota tim MAZ baik dari Indonesia maupun dari unsur paguyuban walisantri MAZ di Malaysia. Rupanya, informasi dari pertemuan dengan tim MAZ malam itu menjadi bahan penting dalam pidato Dubes kepada para delegasi pameran yang digelar beberapa jam kemudian. Kata Dubes kepada mereka, keberhasilan MAZ dalam berpameran menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pameran pendidikan di Malaysia.

 

Sebelumnya, tim MAZ diundang untuk mengunjungi malam silaturahim dengan para budayawan Gabungan Penulis Nasional (GAPENA) di Rumah GAPENA juga di Kuala Lumpur. Pertemuan itu sengaja diset untuk menjamu Syaykh Panji Gumilang dan delegasi Al-Zaytun. Pertemuan itu dipandu langsung oleh Ketua I GAPENA Prof. Tan Sri Dato Ismail Hussein yang namanya menjadi salah satu nama gedung perkuliahan di MAZ.


Tim MAZ juga melakukan serangkaian kunjungan ke beberapa perguruan tinggi di Malaysia: Multi Media University di Ciberjaya, Universiti Islam Antara Bangsa di Kuala Lumpur, dan Universiti Teknologi Malaysia di Johor Baru. Juga beberapa lembaga akademik dan penelitian di Malaysia dan Singapura seperti Institut Haywan Kluang di Johor, Sarana Seni dan Budaya Malaysia, Museum Kesenian Islam, Planetarium Negara, Balai Seni Lukis Negara, Istana Budaya, Hospital Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Hospital Putrajaya. Sedangkan di Singapura team mengunjungi Peternakan Hay Diaries, Cagar Alam Sungai Buloh dan New Water yang merupakan instalasi pengolahan air terbesar di Singapura.


Tim MAZ juga memenuhi berbagai undangan dari kalangan usahawan Malaysia. Ialah Dato’ Rusli Syarif selaku Managing Director CIMA (Cement Industries of Malaysia) SDN Bhd dan seluruh jajarannya mengatur berbagai pertemuan itu untuk MAZ dalam sebuah jamuan makan di Sheraton Hotel yang dihadiri para eksekutif CIMA dan jaringannya. Juga penandatanganan Collaboration Agreement MAZ dengan Tenaga Tenaga Hi-Tech (M) SDN Bhd yang dihadiri oleh Deputy Minister of Human Resources Malaysia, Datuk Abdul Rahman bin Bakar.


Malamnya, digelar jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Datuk Abdul Rahman bin Bakar dan istri yang dihadiri oleh 125 orang dari rombongan MAZ dan Kementerian Sumber Daya Manusia (Human Resources Ministery) Malaysia di sebuah restoran Melayu terbesar di pusat kota Kuala Lumpur: Restoran Seri Melayu. Dalam jamuan makan malam itu, Datuk dan Datin menawarkan kepada Syaykh Panji Gumilang untuk dihantar shoping di Kuala Lumpur.

 

Sebuah tawaran yang menarik. Namun oleh Syaykh Panji Gumilang, tawaran itu dijawab dengan santun. “Sepekan kami telah melaksanakan shoping dari awal pagi hingga larut malam. Shoping yang kami lakukan adalah shoping gaya Al-Zaytun: yakni shoping perdamaian, pendidikan, kebudayaan dan jalinan erat dua bangsa serumpun ini,” jawab Syaykh Panji Gumilang. Mendengar jawaban itu, Datuk Abdul Rahman bin Bakar pun merasa tertegun. Kemudian ia memeluk Syaykh Panji Gumilang seraya berkata: “jayalah dua bangsa besar itu.”


Dalam perjalanan program ta’aruf selama sepekan di Malaysia, beribu makna tercerahkan: selain sambutan untuk lebih memperat tali hubungan juga peluang kerja sama antar lembaga. Ibarat pepatah, “sekali mendayung seribu dua ribu pulau terlampaui”.


Sejatinya, tak hanya ta’aruf pendidikan yang dilakukan oleh MAZ, tapi juga ta’aruf perdagangan, ta’aruf ketenagakerjaan dan ta’aruf perdamaian antara dua bangsa besar: Indonesia dan Malaysia. Bukankah di saat-saat seperti sekarang, mesti diperbanyak ta’aruf dan silaturrahim, apapun bentuknya? Cukup sudah sekali saja berkonfrontasi. Betapa getirnya konfrontasi itu. ► ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)