|
Pameran Pendidikan Indonesia di Kuala Lumpur:
Mengangkat Martabat Bangsa
Oleh Sofwan DA dan Nawawi*)
Perjalanan Taaruf Pendidikan Ma’had Al-Zaytun mengikuti Pameran
Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada 30
Maret 2005, suasana Hall Exhibition Centre yang terletak di lantai III
Mid Valley Mall, Kuala Lumpur tak seperti biasanya. Ratusan orang tampak
antri menanti giliran untuk bisa sampai di sebuah stan yang berukuran
hanya 2x2 meter.
Hari itu, di hall yang sering dijadikan arena pameran itu
memang sedang berlangsung sebuah even pameran pendidikan dan kebudayaan.
Tajuknya “Indonesian Show Case: Pameran Internasional Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia 2005”. Pameran itu sendiri merupakan hasil
kerjasama antara Kedubes RI di Malaysia dan Yayasan Widya Humaniora dan
dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Jenderal (Pol) KPH
Rusdiharjo.
Stan yang tampak paling ramai itu, hanyalah satu dari belasan stan
peserta lainnya. Stan sebuah lembaga pendidikan swasta yang oleh panitia
dikelompokkan sebagai pesantren: Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Satu-satunya
yang hadir dari tiga pesantren dari Indonesia yang diundang untuk
mengikuti even yang berlangsung hingga 4 April 2005 itu.
Selama lima hari pameran berlangsung tercatat, stan Ma’had
Al-Zaytun menjadi stan yang paling banyak dikunjungi pengunjung: 4.797
pimpinan rombongan. Itu baru yang tercatat di buku tamu, belum termasuk
mereka yang hanya diwakili oleh satu nama pimpinan rombongan di isian
buku tamu. Satu ilustrasi nyata Dubes RI untuk Malaysia, Jenderal KPH
Rusdiharjo yang mendatangi stan Al-Zaytun ketika mengisi buku tamu di
Al-Zaytun ‘terpaksa’ mesti ikhlas berada di urutan ke-80 pengunjung.
Padahal, pameran belum lagi dibuka satu jam.
Sementara stan-stan lain merupakan stan lembaga-lembaga pendidikan
tinggi yang di Indonesia dikatagorikan terkemuka seperti IPB, ITB,
Universitas Padjajaran, UIN Jakarta, UII Yogyakarta, UNJ, UIN Makassar,
Universitas Negeri Malang, dan USU Medan.
Tim Al-Zaytun datang dengan persiapan matang. Selain datang dengan
kekuatan terbanyak: 20 orang, tim ini juga membawa kelengkapan pameran
terlengkap yang terbukti cukup efektif untuk menarik pengunjung. Tim
besar mereka memboyong 52 foto besar ukuran 50x40 cm yang dipajang
secara bergantian. Menariknya, dari sekian banyak foto itu terdapat
beberapa foto yang sangat relevan dengan pameran.
Foto-foto itu sangat bernuansa Malaysia, seperti foto
pertemuan pemimpin MAZ Syaykh Abdussalam Panji Gumilang dengan Dr.
Mahathir Muhammad, lalu dengan Menteri Hal Ehwal Dalam Negeri Malaysia,
Dato’ Azmi Khalid, juga dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’
Rastam bin M. Isa yang berkunjung ke MAZ tahun 2000 lalu. Ditambah lagi
foto-foto berbagai aktivitas pelajar Malaysia di Ma’had Al-Zaytun dengan
background bendera Malaysia. Dari kejauhan foto-foto itu sangat efektif
menarik hati pengunjung untuk mendekatinya.
Pengunjung yang membludak itu tentu saja meminta para anggota delegasi
MAZ bekerja secara efektif agar waktu para pengunjung tak habis hanya
untuk antri. Bagusnya, mereka datang berdua puluh orang. Ditambah lagi,
perbantuan dari beberapa staf Paguyuban Walisantri MAZ di Malaysia, yang
selama ini menjadi partner dan agen tunggal MAZ di Malaysia.
Strategi pun diatur. Dua petugas berjaga di stan: satu untuk memberi
penjelasan, satu lagi melayani permintaan para tamu yang ingin memiliki
profil MAZ baik yang berbentuk buku profil maupun VCD. Sementara 5-6
petugas lainnya tersebar di beberapa titik untuk memberikan penjelasan
dari perangkat-perangkat pameran yang memang sudah dipersiapkan tim MAZ
seperti: album-album foto yang jumlahnya belasan album, foto-foto ukuran
50x40 cm yang terpampang di dinding stan, aneka penerbitan dan referensi
tentang Ma’had Al-Zaytun hingga bendera Universitas Al-Zaytun yang
ternyata begitu menarik para pengunjung untuk mengetahui filosofinya.
Sementara seorang petugas lain, melayani antrean calon walisantri
(walipelajar) yang langsung memanfaatkan even pameran itu untuk
mendaftarkan putra putri mereka. Dari catatan tim MAZ, hingga pameran
usai tercatat 57 calon pelajar yang mendaftarkan diri dan melunasi
administrasi pendaftaran untuk tahun pembelajaran 2005 ini.
***
Suasana di stan Al-Zaytun yang sudah ramai bertambah lagi dengan
kedatangan pemimpin Ma’had Al-Zaytun, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
yang datang untuk meninjau para stafnya yang sedang bertugas di arena
pameran. Kedatangan pria tinggi besar yang hari itu mengenakan jas warna
merah maron, yang merupakan jas seragam yang dikenakan oleh 20 anggota
delegasi Ma’had Al-Zaytun, sontak mengalihkan perhatian para pengunjung
pameran yang berkerumun di stan Al-Zaytun.
Secara otomatis, pandangan mata mereka tertuju ke sosok yang
malam itu didampingi sang isteri dan beberapa staf eksekutif yayasan
yang menaungi Ma’had Al-Zaytun (MAZ).
Bak lebah kedatangan ratunya, kerumunan besar pun terjadi. Sebagian
besar dari mereka, pemuda laki laki dan perempuan maupun yang sudah
beranak istri, tampak begitu berusaha hanya untuk bisa berjabat tangan
dengannya. Tak sedikit pula yang sempat disapa dan diajak berbincang
oleh syaykh-nya Al-Zaytun itu. Seperti tak ada jarak lagi antara dia
yang dijadikan sebagai tokoh dan mereka yang menokohkan.
Suasana akrab juga tercermin dari dialog Syaykh Panji Gumilang dengan
beberapa anak yang ternyata calon pelajar MAZ. Syaykh Panji Gumilang
yang terus menebar senyum dan senantiasa menyambut uluran tangan
pengunjung yang ingin bersalaman dan berbincang-bincang singkat.
Sementara, para juru foto mengabadikan peristiwa yang gaungnya sampai
hingga ke Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur.
Tak sebatas meninjau stan MAZ dan stafnya, Syaykh Panji Gumilang pun
mengunjungi, menyapa dan menyalami semua staf universitas peserta
pameran lainnya. Sambutan dari para petugas yang sebagian besar dosen
dan pejabat rektorat sungguh luar biasa. Betapa tidak, kehadiran Syaykh
Panji Gumilang telah membuat suasana pameran pendidikan yang biasanya
sepi menjadi semarak.
Berlanjut, Syaykh Panji Gumilang pun lalu mengunjungi stan-stan pameran
perdagangan yang lokasinya berdampingan dengan arena pameran pendidikan
tadi. Semua fenomena yang membuat atmosfer hall pameran malam itu
menjadi atmosfer yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membuat Chief
Security Mid Valley sampai harus mendatangi stan Al-Zaytun untuk mencari
tahu, siapa tokoh yang tadi dikerumuni banyak orang tadi?
Uniknya lagi, fakta ramainya pengunjung di stan Al-Zaytun tak hanya
terjadi di hari pertama, tapi juga selama pameran berlangsung. Begitu
juga fenomena dikerumuninya kehadiran Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
di hari pertama juga terjadi di hari terakhir pameran.
Membludaknya pengunjung ke stan Al-Zaytun itu tak terlepas dari kiprah
para walisantri MAZ di Malaysia. Saat ini tercatat 189 pelajar MAZ asal
Malaysia yang datang dari berbagai negeri mulai dari Kelantan dan
Terangganu di semenanjung bagian utara sampai Johor di bagian selatan,
dan juga Sabah di Malaysia Timur. Walisantri dari Singapura pun
sementara ini bergabung dalam paguyuban itu.
Selama ini, merekalah yang menjadi juru bicara MAZ di Malaysia. Juga
menjadi penghubung bagi segenap lapisan warga Malaysia yang berminat
berkunjung ke MAZ. Tercatat sudah ribuan pengunjung MAZ yang datang dari
Malaysia dan Singapura mulai dari kalangan cerdik cendekia, diplomat,
birokrat, akademisi sampai kalangan usahawan. Mereka yang pernah datang
pun kemudian menyebarluaskan berita Al-Zaytun di Malaysia sehingga MAZ
bukanlah suatu barang baru di Malaysia. Jadi, bukan sesuatu yang aneh
sebenarnya jika kemudian stan Al-Zaytun di pameran itu ramai dikunjungi
tamu.
Selain faktor itu, ada satu faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap
membludaknya pengunjung di stan Al-Zaytun. Itu tersimpul dari ungkapan
salah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Malaysia
yang berkunjung ke stan bernomor F-9 itu. Namanya Prof. Dr. Amien
Thoriq.
”Lembaga pendidikan yang bersifat akademik di
Malaysia ini sudah cukup ramai dan tergolong maju pula, tapi yang
semisal pesantren terlebih bersistem modern macam Al-Zaytun ni susah nak
dicari. Mereka surprise dengan Al-Zaytun yang modern tapi berada di
tanah Melayu,” katanya sambil mengeluarkan beberapa lembar ringgit untuk
bershadaqah bagi mendapatkan buku profil dan VCD Al-Zaytun yang
dibawanya pulang. Ini menjadi pertanda bahwa bangsa Malaysia memiliki
minat yang besar terhadap lembaga pendidikan pesantren. Sayangnya, dua
pesantren lain yang diundang tak memenuhi undangan panitia.
Diplomasi Perdamaian
Satu catatan khusus yang bisa dipetik dari even pameran ini adalah waktu
penyelanggaraannya: di tengah suasana tegang yang tercipta dari
pemberitaan tentang silang pendapat status kepemilikan Blok Ambalat di
Laut Sulawesi, Kalimantan Timur. Sejatinya, pameran ini bisa menjadi
contoh bahwa sesungguhnya antara bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia
memiliki hubungan yang sangat harmonis: akrab dan penuh kedamaian.
Buktinya, pameran itu dikunjungi ribuan orang. Juga pameran perdagangan
yang menurut informasi sangat diminati konsumen Malaysia.
Sayangnya, momentum ini tak dipahami betul oleh sebagian besar pimpinan
lembaga pendidikan di Indonesia yang diundang tapi memutuskan untuk
tidak ikut ambil bagian dalam pameran ini. Dari 60 universitas yang
diundang hanya belasan saja yang hadir. Ironisnya lagi, dari mereka yang
memutuskan tak hadir tercetus alasan sempit karena pertimbangan konflik
Ambalat. Setidaknya itu informasi yang diterima dari panitia pameran.
Padahal semestinya, persoalan Ambalat tidak perlu dijadikan alasan untuk
tak berpartisipasi dalam sebuah pameran pendidikan. Dan semestinya,
kesempatan pameran pendidikan itu digunakan untuk menyampaikan misi
perdamaian bangsa Indonesia kepada bangsa Malaysia di saat segelintir
bangsa Indonesia di tanah air melakukan berbagai tindakan tak terpuji di
mata diplomasi internasional: seperti menghujat dan membakar bendera
Malaysia. Semestinya, even itu dijadikan momentum perdamaian kedua
bangsa.
MAZ dan Ta’aruf Pendidikan
Ta’aruf Pendidikan, itulah nama program tim MAZ selama sepekan di
Malaysia yang seluruhnya berjumlah 20 orang mulai dari Syaykh Abdussalam
Panji Gumilang sebagai pimpinan delegasi, para eksponen yayasan, jajaran
dewan guru dan manajer pendidikan, tim pertanian terpadu dan jurnalis
MAZ.
Dari 20 anggota tim MAZ, memang tak seluruhnya bertugas menjaga stan.
Pasalnya, kedatangan mereka ke Malaysia tak sekadar mengikuti pameran,
tapi juga untuk melakukan kunjungan-kunjungan ke beberapa lembaga
pendidikan tinggi di Malaysia. Oleh karena itulah, MAZ menamai program
mereka selama sepekan ke Malaysia itu dengan nama “Ta’aruf Pendidikan”.
Ta’aruf bermakna perkenalan. Jadi misi utama MAZ ke Malaysia adalah
dalam rangka memperkenalkan pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan
MAZ. Bukan semata-mata untuk ikut pameran yang konotasinya “memamerkan”.
Atas dasar itulah, kemudian delegasi MAZ juga melakukan serangkaian
program pertemuan dan kunjungan selema berada di Malaysia.
Dimulakan dengan pertemuan khusus dengan Duta Besar RI untuk
Malaysia di Wisma Duta yang menjadi kediaman keluarga Duta Besar. Dengan
penuh sukacita, Duta Besar malam itu didampingi isteri dan Atase
Pendidikan, menerima 25 anggota tim MAZ baik dari Indonesia maupun dari
unsur paguyuban walisantri MAZ di Malaysia. Rupanya, informasi dari
pertemuan dengan tim MAZ malam itu menjadi bahan penting dalam pidato
Dubes kepada para delegasi pameran yang digelar beberapa jam kemudian.
Kata Dubes kepada mereka, keberhasilan MAZ dalam berpameran menjadi
salah satu tolok ukur keberhasilan pameran pendidikan di Malaysia.
Sebelumnya, tim MAZ diundang untuk mengunjungi malam silaturahim dengan
para budayawan Gabungan Penulis Nasional (GAPENA) di Rumah GAPENA juga
di Kuala Lumpur. Pertemuan itu sengaja diset untuk menjamu Syaykh Panji
Gumilang dan delegasi Al-Zaytun. Pertemuan itu dipandu langsung oleh
Ketua I GAPENA Prof. Tan Sri Dato Ismail Hussein yang namanya menjadi
salah satu nama gedung perkuliahan di MAZ.
Tim MAZ juga melakukan serangkaian kunjungan ke beberapa perguruan
tinggi di Malaysia: Multi Media University di Ciberjaya, Universiti
Islam Antara Bangsa di Kuala Lumpur, dan Universiti Teknologi Malaysia
di Johor Baru. Juga beberapa lembaga akademik dan penelitian di Malaysia
dan Singapura seperti Institut Haywan Kluang di Johor, Sarana Seni dan
Budaya Malaysia, Museum Kesenian Islam, Planetarium Negara, Balai Seni
Lukis Negara, Istana Budaya, Hospital Universiti Kebangsaan Malaysia,
dan Hospital Putrajaya. Sedangkan di Singapura team mengunjungi
Peternakan Hay Diaries, Cagar Alam Sungai Buloh dan New Water yang
merupakan instalasi pengolahan air terbesar di Singapura.
Tim MAZ juga memenuhi berbagai undangan dari kalangan usahawan Malaysia.
Ialah Dato’ Rusli Syarif selaku Managing Director CIMA (Cement
Industries of Malaysia) SDN Bhd dan seluruh jajarannya mengatur berbagai
pertemuan itu untuk MAZ dalam sebuah jamuan makan di Sheraton Hotel yang
dihadiri para eksekutif CIMA dan jaringannya. Juga penandatanganan
Collaboration Agreement MAZ dengan Tenaga Tenaga Hi-Tech (M) SDN Bhd
yang dihadiri oleh Deputy Minister of Human Resources Malaysia, Datuk
Abdul Rahman bin Bakar.
Malamnya, digelar jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Datuk
Abdul Rahman bin Bakar dan istri yang dihadiri oleh 125 orang dari
rombongan MAZ dan Kementerian Sumber Daya Manusia (Human Resources
Ministery) Malaysia di sebuah restoran Melayu terbesar di pusat kota
Kuala Lumpur: Restoran Seri Melayu. Dalam jamuan makan malam itu, Datuk
dan Datin menawarkan kepada Syaykh Panji Gumilang untuk dihantar shoping
di Kuala Lumpur.
Sebuah tawaran yang menarik. Namun oleh Syaykh Panji
Gumilang, tawaran itu dijawab dengan santun. “Sepekan kami telah
melaksanakan shoping dari awal pagi hingga larut malam. Shoping yang
kami lakukan adalah shoping gaya Al-Zaytun: yakni shoping perdamaian,
pendidikan, kebudayaan dan jalinan erat dua bangsa serumpun ini,” jawab
Syaykh Panji Gumilang. Mendengar jawaban itu, Datuk Abdul Rahman bin
Bakar pun merasa tertegun. Kemudian ia memeluk Syaykh Panji Gumilang
seraya berkata: “jayalah dua bangsa besar itu.”
Dalam perjalanan program ta’aruf selama sepekan di Malaysia, beribu
makna tercerahkan: selain sambutan untuk lebih memperat tali hubungan
juga peluang kerja sama antar lembaga. Ibarat pepatah, “sekali mendayung
seribu dua ribu pulau terlampaui”.
Sejatinya, tak hanya ta’aruf pendidikan yang dilakukan oleh MAZ, tapi
juga ta’aruf perdagangan, ta’aruf ketenagakerjaan dan ta’aruf perdamaian
antara dua bangsa besar: Indonesia dan Malaysia. Bukankah di saat-saat
seperti sekarang, mesti diperbanyak ta’aruf dan silaturrahim, apapun
bentuknya? Cukup sudah sekali saja berkonfrontasi. Betapa getirnya
konfrontasi itu. ► ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|