A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 

 
 


 
  C © updated 03032004  
   
  ►e-ti/  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

Kerjasama Erat

Ma’had Al-Zaytun dan Bank Century


Sejak proses awal (embrio) berdirinya Ma’had Al-Zaytun telah bekerjasama erat dengan Bank Century (dulu bernama Bank CIC International, sebelum merger), dalam pengelolaan keuangan. Sejak tahun 1991, manajemen Bank Century telah menjadi mitra profesional bagi Syaykh Abdussalam Panji Gumilang.

Sriyono, Direktur Pemasaran Bank Century Tbk, menuturkan, sudah sejak tahun 1991 berkenalan secara pribadi dengan Syaykh al-Mahad. Syaykh Abdussalam Panji Gumilang ketika itu masih merupakan nasabah individu, sebelum resmi mendirikan lembaga pendidikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang mengelola pondok pesantren Ma’had Al-Zaytun, yang berlokasi di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Sejak awal perkenalan, Syaykh Al-Ma’had dan Bank Century sudah sepakat untuk masing-masing berlaku profesional di bidangnya. Bank Century profesional di bidang perbankan dan Ma’had Al-Zaytun profesional di bidang pendidikan. Berdasarkan sikap profesionalisme yang demikian disepakati, bahwa Bank Century dipercayakan sepenuhnya mengelola keuangan Ma’had Al-Zaytun.

Presiden Komisaris Bank Century, Sulaeman AB menyebutkan, hubungan antara Mahad Al-Zaytun dengan Bank Century adalah murni hubungan bisnis dan profesional untuk memenuhi kebutuhan bersama. Al-Zaytun percaya terhadap Bank Century sebagai pengelola keuangan yang terpercaya, sedangkan Bank Century melihat Al-Zaytun adalah nasabah berprospek bagus yang bakal maju terus.

Bank Century sebagai mitra bisnis perbankan terpercaya membutuhkan nasabah yang punya prospek yang baik dan sehat. Kemudian Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pondok pesantren yang modern dengan menyelenggarakan menejemen yang modern pula, dalam prakteknya pasti membutuhkan penyelenggaraan kegiatan dengan cara-cara yang profesional. Di bidang finansial, contohnya, kata Sulaeman, Mahad Al-Zaytun pasti akan bisa mengelolanya lebih baik dengan menggunakan orang-orang yang berpengalaman di bidangnya seperti Bank Century.

“Kami bekerja pada proporsi kami, dan kami bekerja secara profesional. Itu saja hubungan kita, maka timbulah kepercayaan,” kata Sulaeman AB seorang purnawirawan mayor jenderal TNI yang mantan Komandan Pusat Polisi Militer.

Bukan Nasabah Biasa
Sriyono ketika baru berkenalan dengan Syakh Panji Gumilang, masih menjabat Kepala Divisi Operasional Bank CIC International, berkantor pusat di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Dalam perjalanan waktu, Bank CIC lalu melakukan penggabungan usaha dengan dua bank lain yakni Bank Pikko Tbk dan Bank Danpac Tbk, menjadi Bank Century Tbk yang resmi beroperasi sejak 14 Desember 2004, setelah memperoleh persetujuan hukum dari Menteri Hukum dan Perundang-Undangan.

Sebelumnya, pada 6 Desember Gubernur Bank Indonesia lewat Surat Keputusan Gubernur BI nomor 6/87/Kep.GBI/2004 pada tanggal 6 Desember telah pula memberikan persetujuan penggabungan usaha ketiga bank dimaksud. Dan jauh sebelumnya lagi, tepatnya pada 22 Oktober 2004, manajemen ketiga bank dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah memperoleh persetujuan untuk melakukan merger. Proses penggabungan berlangsung mulus sebab di ketiga bank itu terdapat sebuah institusi pemegang saham terbesar yakni Chinkara Capital Ltd.

Syaykh sebagai nasabah aktif awalnya menyimpan uang ke dalam tabungan, remitten, atau menukar mata uang ringgit Malaysia ke rupiah atau sebaliknya. Syaykh mempunyai pandangan dan strategi pemikiran berjangka panjang. Ia bukanlah nasabah biasa-biasa saja melainkan istimewa bahkan terlalu sangat istimewa. Ia bukan hanya ingin berbicara mengenai perbankan tetapi ingin jauh lebih dalam dari itu.

Paham akan kondisi itu, menurut Sriyono, manajemen Bank CIC semakin mendekatkan diri secara pribadi maupun secara kelembagaan dengan Syaykh. Syaykh pun demikian. Ia ingin tahu bagaimana cara terbaik mengelola uang dilihat dari perspektif bank. Kepada Sriyono dan manajemen CIC lainnya, Syaykh berterus terang memiliki sejumlah uang yang hendak dikembangkan untuk usaha pendidikan. Syaykh ingin tahu bagaimana caranya pemanfaatan uang itu untuk mengembangkan pendidikan.

Bank CIC pun menyambut dengan senang hati. Mereka banyak memberi masukan bagaimana caranya mengelola uang untuk suatu usaha atau lembaga pendidikan. Disarankan, kalau untuk usaha, itu harus menggunakan uang yang ada cost atau biayanya. Artinya, uang itu harus didapat dari bank sehingga akan ada costnya. Sebab mengelola usaha dengan memanfaatkan uang yang ada costnya, itu biasanya akan hati-hati karena kalau sampai meleset resikonya akan sangat tinggi.

Berdasarkan falsafah kehati-hatian bisnis perbankan demikian, kepada Syaykh diberikan solusi bisnis. Disarankan agar simpanan tetap saja berjalan sebagaimana biasa, sementara biaya untuk penggunaan investasi dan lain-lain seperti pembelian tanah, akan diberikan kredit oleh Bank CIC (Bank Century). “Jadi, istilahnya back to back. Simpanan tetap tapi kita kasih kredit,” kata Sriyono.

Solusi itu sangat jitu. Sebab solusi itu terbukti ampuh dalam perjalanan waktu. Walau secara bisnis bunga kredit lebih besar dari bunga tabungan di bank, tetapi karena penggunaannya lebih sedikit berarti bunga tabungannya terus kontinyu. Misalnya depositonya Rp 1 miliar lalu kreditnya kurang lebih Rp 900. Nah, karena pada waktu-waktu awal Ma’had Al-Zaytun didirikan pekerjaan baru sebatas membeli tanah, mengurug tanah, dan lain-lain yang belum memerlukan sejumlah pekerjaan besar, maka biaya yang dipakai paling Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Sementara karena tabungannya masih Rp 1 miliar maka antara income dengan cost itu masih lebih besar income. Padahal tanah sudah terbeli, semua biaya-biaya sudah terpenuhi, tetapi pendapatan masihlah bersumber dari bunga simpanan itu.

Berlanjut Semakin Erat
Bank Century selalu mengingatkan prinsip usaha untuk jangan menggunakan fresh money. Sebab kalau menggunakan fresh money biasanya kurang hati-hati, biasanya boros, kemudian mudah tergiur melakukan investasi pada hal-hal yang tidak perlu. Maka, akhirnya segala program dan pekerjaan Ma’had Al-Zaytun dapat terus berjalan malah terus meningkat dan meningkat lagi sampai akhirnya antara pendapatan dan cost masih lebih besar pendapatan. Kemudian, beberapa produk perbankan yang ditawarkan Bank Century seperti tabungan asuransi, kemudian Gita Mas dan lain-lain, itu semua diambil Syaykh.

“Setiap produk yang kita luncurkan, hampir semua diambil Al-Zaytun,” kata Sriyono, menjelaskan betapa sudah semakin eratnya kerjasama Bank Century mengelola keuangan Mahad Al-Zaytun. Hubungan itu terus saja berlanjut. Pada setiap proyek-proyek Al-Zaytun, Bank Century selalu berpartisipasi. Pada awalnya masih bersifat masih back to back, atau bisnis bersifat murni sebab betul-betul fasilitas tanpa jaminan aset. Ketika sudah memasuki masa pembangunan fisik gedung besar-besaran pun, seperti sejak pembangunan dua tiga gedung pendidikan, Bank Century tetap bekerjasama dalam hal pembiayaan dengan sistem jaminan.

Tingkat kepercayaan antara Syaykh dengan Bank Century terus saja meningkat. Kredit baru diberikan sudah dengan jaminan aset, seperti aset tanah atau istilahnya non back to back. Ketika Al-Zaytun mulai berurusan dengan para suplaier seperti untuk pengadaan semen, kayu, batu, besi, pasir dan sebagainya, semua suplaier itu ikut pula dikenalkan dengan Bank Century. Dengan begitu hubungan bank tidak lagi terbatas dengan Ma’had Al-Zaytun melainkan berkembang jauh dengan semua rekanan Al-Zaytun.

Setiap ada rencana, ide atau apa pun yang sifatnya memerlukan kerjasama dengan perbankan, Bank Century selalu dilibatkan. Misalnya membangun satu proyek baru di luar yang sudah ada, Ma’had Al-Zaytun tetap membutuhkan berbicara dengan Bank Century bagaimana kira-kira cara yang terbaik. Misalnya, apakah akan di back up oleh Bank Century ataukah mungkin dibantu untuk mencarikan investor, atau apa pun cara lain.
Tetapi biasanya, kalau Bank Century sendiri masih relevan dan mampu mem-back up proyek, maka itu biasanya aka ditangani sendiri oleh Bank Century. Berbeda misalnya jika sudah memasuki proyek berskala besar, Bank Century biasanya akan mencari investor luar untuk ikut diajak membicarakan proyek yang akan digarap itu.

Ahli di Bidangnya
Kedekatan hubungan bisnis Bank Century dengan Mahad Al-Zaytun sangat terasakan ketika Syaykh Al-Mahad Abdussalam Panji Gumilang memberikan tausyiah pada perayaan tahun baru hijriyah 1 Muharam 1426H, di mesjid Rahmatan Lil Alamin, 10 Februari 2005. Di hadapan puluhan ribu jamaah, Syaykh ketika itu memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Presiden Komisaris Bank Century Mayor Jenderal CPM (Purn) Sulaeman AB, yang hadir ke Mahad Al-Zaytun mewakili Bank Century.

Syaykh menyebut Sulaeman AB sebagai sahabat Al-Zaytun dalam mengatur keuangan di setiap perjalanan pembangunan Mahad. Karena umbul-umbul yang terpajang di kawasan Mahad masih menggunakan nama lama Bank CIC, dan kehadiran Sulaeman AB sebagai Preskom Bank Century belum tersosialisasi, Syaykh kemudian mengajak puluhan ribu jamaah untuk kembali memberikan tepukan meriah kepada Sang Mayor Jenderal Purnawirawan.

“Memang, abad-21 ini mesti ada perubahan-perubahan termasuk dari bank kita,” kata Syaykh mengapresiasi perubahan nama Bank CIC menjadi Bank Century. Syaykh juga mengungkapkan: “Kita ini kalau mau mengurus uang serahkan saja kepada yang ahli sehingga detik demi detik dapat kita kontrol. Kalau tidak betul kita lapor kepada Presiden Komisaris, coba tolong betulkan itu laporan bulanan keuangan MAZ. Dan kalau kurang, tolong ditambahin.”

Kedekatan kerjasama antara Bank Century dengan Ma’had Al-Zaytun akan terus berlanjut. Sejak Syaykh masih sebagai nasabah pribadi, lalu Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) terbentuk, kemudian Yayasan mulai beroperasi, hingga proses pendidikan mulai berjalan, Bank Century selalu aktif mendampingi. Bahkan pada penerimaan murid baru di setiap tahun ajaran baru pun, Bank Century selalu mengirim satu tim ke Ma’had terdiri minimal 10 orang teler berikut mesin-mesin penghitung uang. Karena pembayaran uang sekolah menggunakan satuan dolar, maka orangtua calon santri lebih dahulu bertransaksi dolar dengan Bank Century. Jadi ada exchange uang dulu.

Kemitraan kedua institusi dapat berlangsung langgeng karena ada potensi saling menguntungkan di dalamnya. Bank Century misalnya, dapat melihat terdapat potensi bisnis keuangan yang besar di Mahad Al-Zaytun. Demikian pula aktivitas pesantren yang melibatkan banyak suplier, itu bagi bank cukup bermanfaat. Karena semua suplier termasuk yang besar-besar yang berhubungan dengan Al-Zaytun akan menerima pembayaran dengan cek atau giro keluaran Bank Century. Itu, secara tidak langsung telah ikut mempromosikan nama Bank Century.

Di lain pihak, sebagai yayasan yang besar tidak mungkin Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) mengatur sendiri keuangannya. YPI tentunya akan menempatkan dananya pada rekening yang sifatnya simpanan. Hanya saja pada saat-saat tertentu, misalnya ada proyek pembangunan seperti menambah gedung baru atau pengadaan barang yang lain yang memerlukan dana, itu tiinggal dipindahkan saja ke rekening outstanding credit-nya. Di sinilah Bank Century berperan membantu mengatur kapan YPI harus menyisihkan dananya sebagai simpanan, dan kapan dana itu dipakai untuk membiayai kebutuhannya. Atau, kapan rekening-rekening simpanan itu ditempatkan sebagai simpanan yang dilindungi asuransi seperti dalam Century Mas.

Century Mas dengan asuransi gratis itu adalah tabungan dengan bunga normal di tambah lagi dengan hadiah-hadiah langsung seperti payung eksekutif, atau hadiah undian berupa mobil Nissan Serena. Tabungan Century Mas pasti akan menarik minat para santri untuk mempunyai tabungan sekaligus mempunyai jaminan perlindungan asuransi insiden kecelakaan.

Selain murni kepentingan bisnis, Preskom Bank Century Sulaeman AB sangat percaya pula Mahad Al-Zaytun akan mampu memenuhi kepentingan bangsa dalam hal menyiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas. Katanya, Mahad Al-Zaytun memiliki prospek bagus. Artinya, di Mahad bisa dilihat pendidikan dimulai dari kelas satu SMP, kemudian SMA, dan seterusnya akan dibuka lagi perguruan tinggi. “Jadi, saya melihat di sini ada prospek untuk kepentingan bangsa dan negara ke depan. Ini sungguh menjanjikan apabila dikelola dengan bagus,” kata Sulaeman. ►ht-ms

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)