| |
C © updated 22042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ms |
|
| |
Mars Universitas Al-Zaytun
Ajaran Illahi untuk Semua
Universitas Al-Zaytun Indonesia pusat pembelajaran hidup bersama.
Pusat pendidikan nilai universal dalam zona damai dan harmoni.
Menjadi budaya pribadi dan bangsa menuju pendidikan antar bangsa.
Capai perdamaian, hak asasi, demokrasi, pembangunan berkelanjutan, dunia
sejahtera.
Reff
Membangun budaya pribadi yang mandiri.
Siap trampil yang hakiki mengisi masa depan gemilang.
Membangun negara, hapus diskriminasi, lindungi lingkungan, padukan nilai
kemanusiaan.
Kontemporer, tradisional secara berimbang, adil dan manusiawi.
Membangun dunia, terus tebarkan rahmat, tanamkan ta’aruf kemanusiaan.
Ajaran illahi untuk semua. Ajaran Illahi untuk semua. |
|
| |
BERITA
LAINNYA
= Berkumandang di Gereja
= Mengangkat Martabat Bangsa
= Al-Zaytun, Kebangkitan Ke-4
= Al-Zaytun dan Bank Century
= Peneliti Islam Indonesia
|
|
|
|
| BERITA AL-ZAYTUN |
|
|
 |
Tatkala Mars Universitas Al-Zaytun
Berkumandang di Gereja
Oleh: Ch Robin Simanullang
Sekali lagi Ma’had Al-Zaytun dan GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian
Barat) mengimplementasikan dan memancarkan misi toleransi dan perdamaian
secara nyata. Kali ini, setelah Syaykh al-Ma’had Dr Abdussalam Panji
Gumilang didaulat berpidato (khotbah) di podium altar gereja, Mars
Universitas Al-Zaytun berjudul Ajaran Illahi untuk Semua pun
berkumandang di gereja itu, dinyanyikan bersama seluruh jemaat dan
eksponen Ma’had Al-Zaytun.
Hari itu, Sabtu malam 29 Oktober 2005, di gedung gereja GPIB Koinonia
Jl. Matraman Raya, Jakarta, Badan Pelaksana Musyawarah Pelayanan (BP
Mupel) GPIB Jakarta Timur periode 2000 – 2005 yang di ketuai Pdt Rudolf
A Tendean, menyelenggarakan acara kebaktian peringatan HUT GPIB ke-57.
Acara itu, dihadiri para eksponen Ma’had Al-Zaytun dipimpin Syaykh
al-Ma’had Abdussalam Panji Gumilang atas undangan penyelenggara.
Acara itu dimulai pukul 18.00. Diawali kebaktian yang dihadiri para
pendeta dan pelayan gereja GPIB se Jakarta Timur. Kemudian seusai acara
kebaktian, rombongan eksponen Ma’had Al-Zaytun setelah sholat dan
berbuka puasa, ikut bergabung masuk dalam gedung gereja. Ini kedua
kalinya eksponen Ma’had Al-Zaytun bergabung bersama jemaat di dalam
gedung gereja GPIB Koinonia itu.
Pertama kali Syaykh Panji Gumilang dan rombongan masuk dalam gereja itu
pada Rabu malam 7 Juli 2004. Saat itu, seusai kebaktian bulanan khusus
untuk memperlengkapi jemaat dengan tema aktual, Syaykh Panji Gumilang
didaulat berpidato. Syaykh menjelaskan visi dan misi Ma’had Al-Zaytun
sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan
perdamaian.
Setelah itu, Sabtu 31 Juli 2004, sekitar 200 orang jemaat GPIB Koinonia
dipimpin Pendeta Rudolf Andreas Tendean, yang akrab dipanggil Pendeta
Rudy, selaku Ketua Majelis Jemaat, mengunjungi Ma’had Al-Zaytun. Kala
itu, rombongan ini disambut dengan hangat penuh persaudaraan dalam suatu
upacara khusus yang dihadiri seluruh santri, guru dan eksponen Ma’had
Al-Zaytun. Kala itu, Pendeta Rudy didaulat memimpin doa pada penghujung
acara dan saat mengunjungi Masjid Rahmatan lil ‘Alamin yang tengah
dibangun di kampus Al-Zaytun itu.
Hubungan persaudaraan ini, bermula dari ketulusan Syaykh al-Ma’had Panji
Gumilang mengirimkan kartu ucapan Selamat Hari Natal ke berbagai
pimpinan dan jemaat gereja di bulan Desember 2003. Kartu ucapan selamat
Natal ini direspon Majelis Jemaat GPIB dengan membuka komunikasi
langsung serta mengutus beberapa anggota Majelis Jemaat mengunjungi
Ma’had Al-Zaytun.
Persahabatan pun kian akrab, untuk tujuan yang sama yakni toleransi dan
perdamaian. Tidak sekadar diucapkan atau diwacanakan dalam retorika,
tetapi diimplementasikan secara nyata dalam sikap dan perbuatan. Saling
menghormati, mengasihi dan saling memberi dan saling mendoakan sesuai
iman dan kepercayaan masing-masing.
Begitulah, pada bulan suci, Sabtu malam 29 Oktober 2005, rombongan
eksponen Ma’had Al-Zaytun pun disambut hangat penuh persaudaraan oleh
para pendeta dan pelayan gereja GPIB se Jakarta Timur yang berkumpul di
gereja GPIB Koinonia, Jakarta. Pendeta Rudy dan Pendeta Kokali (yang
mempim kebaktian) menyambut kedatangan rombongan dan menyampaikan
sambutan selamat datang.
Pendeta Rudy menjelaskan tema acara HUT GPIB ke-57 malam itu, yang
dihadiri para pendeta dan pelayan gereja GPIB se Jakarta Timur. Acara
itu dilanjutkan 31 Oktober 2005 dihadiri para pendeta dari Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kemudian tanggal 17- 19 Nopember
dilanjutkan sidang lima tahunan GPIB yang akan dihadiri utusan 271
jemaat dari 24 provinsi beserta undangan dari gereja-gereja di dunia.
Sidang itu akan menentukan perjalanan lima tahun GPIB ke depan. “Dan
dalam lima tahun ke depan itu, ada Pemilihan Umum tahun 2009, kita harap
ada tampil dari Ma’had Al-Zaytun,” kata Pendeta Rudy.
Tuhan yang Sama
Setelah itu Syaykh Panji Gumilang, didaulat memberi sambutan. Diawali
ucapan Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kemudian Syaykh pertama-tama mengucapkan
syukur kehadirat Allah SAW yang selama ini mempertemukan atau
menjalinkan persahabatan di antara mereka.
Syaykh mengatakan bahwa pihaknya selalu menyukuri dan merespon setiap
kali mendapatkan informasi apa pun bentuknya dari semua sahabat di GPIB.
“Ini tanda syukur kami, kebahagian yang kami dapatkan dari Tuhan Yang
Maha Esa,” katanya.
Kepada para pimpinan gereja-gereja GPIB di Jakarta Timur, Syaykh
menyampaikan salam hormat dari seluruh keluarga al-Zaytun nun jauh di
sebuah pedalaman Indramayu. Dia pun menjelaskan bagaimana komunikasi
terjalin di antara mereka. Diawali dari beberapa hari sebelumnya, Syaykh
saling kontak telepon dengan Pendeta Rudy. Pendeta menyampaikan ada
ulang tahun GPIB ke-57.
“Tatkala beliau mengatakan Pak Panji siap datang, kami jawab apabila
Bapak mengundang kami. Tapi andaikan tidak mengundang, kami akan berdiri
di halaman kemudian mendengar khotbah-khotbah yang disampaikan Pak
Pendeta Tendean,” kata Syaykh. Dan dilanjutkannya: “Terkadang undangan
itu menjadi penting atau juga tidak penting. Tapi yang mempererat kita
adalah kedekatan jiwa, itu yang penting kita tegakkan.”
Dalam khotbahnya, Syaykh menjelaskan bahwa pihaknya, setiap habis sholat
itu bercengkerama dengan Tuhan. “Kami menyampaikan pujian-pujian dan
doa. Yang intinya seperti ini, kalau kita bahasa Indonesiakan: Ya Tuhan,
Engkau adalah hakekat perdamaian dan sumber perdamaian itu, kemudian
damai itu akan kembali padaMu. Dan kami mohon berikan kami hidup penuh
perdamaian dan masukkan kami ke dalam sorga yang penuh damai. Itulah
cengkerama kami secara bersama dengan Tuhan.”
Dia pun mempertegas ungkapan Pendeta Kokali, yang terlebih dahulu
memberi sambutan, bahwa pertemuan ini laksana hidup damai di sorga. Bagi
kami, katanya, ini tidak laksana lagi. Melainkan hidup damai seperti
ini, itulah cerminan sorga yang hakiki. “Kami selalu minta agar di
kehidupan kami diberikan damai laksana di sorga, dan hari ini kita
rasakan,” ungkapnya.
Syaykh juga menyambut pernyataan Pendeta Kokali bahwa dengan pertemuan
damai seperti ini, ke depan bangsa Indonesia yang akan berubah. “Kami
juga bersama sahabat-sahabat di Indramayu mempunyai persepsi seperti itu
dan makanya seperti ini. Kami yakin, karena masyarakat Indonesia adalah
masyarakat yang ber-Tuhan, Tuhannya sama. Ada orang yang mengatakan
seperti agamanya itu berbeda, Tuhannya sama.”
Maka, kata Syaykh, tatkala terjadi pertikaian antaragama, ini menandakan
kita belum kenal Tuhan. Karena mana ada bertikai antar Tuhan. Di mana
ada Tuhan yang sama lantas bertikai? Satu mengatakan bertikai atas nama
Tuhan, yang satu mempertahankan kehidupan atas nama Tuhan. Jadi Tuhan
kontra Tuhan. Rasio kita tidak bisa menerima, irasional. Maka mari kita
ciptakan hidup bersama karena Tuhan kita sama. Sumber perdamaian dari
Tuhan yang sama.
Lantas bagaimana kita menyebut Sang Tuhan itu? Maka dalam ungkapan
bahasa Arab ‘Allahuma antassalam’ – ‘Ya Allah, Engkau damai itu,
perdamaian itu’. Maka tatkala kami yakin perdamaian itu dari Tuhan maka
kami sampaikan Assalamu’alaikum – Damai untukmu. Itu makna dari
assalamu’alaikum.
Syaykh Panji Gumilang menegaskan, tatkala kami mengucapkan
assalamu’alaikum – damai untukmu, rambutmu tak boleh diganggu apalagi
darahmu. Itulah yang kami yakini dan itulah yang kami sebarkan dalam
kehidupan kami. Dan kita musti hidup bersama, lepaskan batas-batas yang
tidak perlu membatasi kehidupan kita, karena Tuhan tidak pernah
membatasi.”
Tuhanmu memuliakan umatNya sedangkan ummat adalah ciptaanNya. Mengapa
kita yang bukan pencipta tidak menghormati ciptaanNya. Tuhan mengucapkan
dan memberikan pernyataan, “Aku muliakan anak Adam.” Apapun bentuknya,
apapun agamanya, Aku muliakan anak Adam, begitu tuntunan Illahi.
Maka, Syaykh menegaskan, ini berarti bahwa ajaran Illahi bukan untuk
satu golongan, bukan untuk satu ummat, tapi ajaran Illahi adalah untuk
semua. “Karena kita memegang ajaran Illahi, inti pertama kita ciptakan
perdamaian dengan penuh semangat juang untuk menyebarkan visi dan misi
perdamaian,” tegasnya.
Mars Universitas Al-Zaytun
Selanjutnya Syaykh Panji Gumilang menjelaskan perkembangan Ma’had
Al-Zaytun. Pada 27 Agustus 2005 telah diresmikan Universitas Al-Zaytun
Indonesia. Bersamaan dengan itu juga dibuka perguruan tingkat dasar,
karena ijinnya keluar dari Departemen Agama maka dinamakan Madrasah
Ibtidaiyah, artinya sekolah dasar.
Mengenai visi dan misi Universitas Al-Zaytun, Syaykh mengemukakan
tertuang dalam syair lagu Mars Universitas Al-Zaytun berjudul: Ajaran
Illahi Untuk Semua. Lagu itu kemudian dinyanyikan bersama. Teks dan
notasi lagu itu dibagikan ke semua hadirin. Pertama-tama Mars
Universitas Al-Zaytun itu dibawakan rombongan eksponen Ma’had Al-Zaytun.
Kemudian seorang pendeta tampil ke depan memimpin koor raksasa yakni
semua pendeta dan pelayan gereja GPIB se Jakarta Timur yang hadir dalam
gereja itu. Lebih dulu dinyanyikan dalam notasi. Setelah itu, diiringi
keyboard dan organ, koor raksasa itu dengan mahir mengumandangkan Mars
Universitas Al-Zaytun Indonesia di gedung gereja GPIB Koinonia itu.
Dialog Perdamaian
Sebelum Mars Universitas Al-Zaytun itu berkumandang, berlangsung dialog
antara para pendeta dan pelayan gereja GPIB dengan Syaykh Panji
Gumilang. Diawali pertanyaan dari Pdt Nyonya Ein Debel Pitoi, dari GPIB
Agape. Dia pendeta wanita yang pernah melayani di Situbondo saat
peristiwa menghebohkan di sana. Menurutnya, ternyata penyulut peristiwa
itu bukan merupakan bagian dari orang-orang Situbondo.
Pdt Ein Debel menanyakan dua hal. Pertama, bagaimana Al-Zaytun
mengakomodir perempuan. Apakah mereka juga memperoleh kesempatan yang
sama dalam menghadirkan diri di tengah-tengah jamaah. “Saya sampaikan
ini karena di gereja, kami perempuan bisa berkhotbah di mimbar dan kami
juga boleh memegang jemaat.
Kedua, mengenai misi perdamaian. Dia mengungkap peristiwa di Ambon,
Maluku, yang sebelumnya sangat bersaudara. Kami teriris dengan peristiwa
yang terjadi pada tahun 1999 itu. “Tapi di bulan suci ini kita berharap,
dengan perjumpaan ini perdamaian dan persaudaraan terwujud,” katanya.
Menjawab pertanyaan ini, Syaykh menjelaskan bahwa pihaknya di Al-Zaytun
memproses. Karena kehidupan ini adalah proses untuk menuju peradaban
yang dapat membawa manfaat kemudian mampu menjadi rujukan untuk
pemecahan masalah-masalah sosial.
Dijelaskan, di Al-Zaytun hari ini bukan lagi hanya mengakomodir para
wanita di tugas masing-masing namun diberi kebebasan sepanjang sang
wanita itu memiliki kemampuan untuk tugas itu. Jadi dasarnya adalah
kemampuannya. Satu contoh, proses yang sedang terjadi, organisasi
pelajar di Al-Zaytun ada disebut presiden, ada
kementerian-kementeriannya. Presiden yang terpilih itu wanita. Ini
sebagai jawab bahwa di sana diakomodir.
Syaykh menjelaskan bahwa berdiri di mimbar, berkata menyampaikan
pesan-pesan ada yang dinamakan khotbah, ada pesan-pesan yang dinamakan
pidato. “Arti dalam lingkungan kami, antara khotbah dan pidato itu
dibedakan. Jadi kalau khotbah itu biasanya di mimbar jum’at, berdiri di
depan menyampaikan pesan-pesan. Kemudian kalau pidato, pada hari apa
saja di hadapan siapa saja. Padahal khotbah dan pidato itu sama, khotbah
adalah bahasa Arab sedangkan pidato bahasa Indonesia. Begitulah
lingkungan kami yang masih seperti itu, maka kami ikuti saja. Tapi
proses budaya akan berubah. Khotbah dan pidato itu-itu juga. Namanya
setali itu kata orang Jawa ‘telong uang’ maka menjadi bahasa Melayu,
‘setali tiga uang’ – sama saja.”
“Kami sedang menuju proses ke sana dan proses ke sana itu melalui
pendidikan. Jadi kami sebarkan semua ide-ide bagus, ide-ide baik melalui
pendidikan. Jadi insyallah kita sama, kami juga seperti itu, seperti ibu
juga. Dan anak-anak didik kami, kami hantarkan ke sana. Bahkan kami
sering diskusi di Mesjid dengan para putri-putri, kita sampaikan, kapan
kamu akan menjadi khotib di mimbar Jum’at ini?”
Selanjutnya Pdt Engelina Marthatulaar, pelayan di GPIB Cililitan,
menyampaikan sebuah harapan. “Saya boleh mengatakan bahwa ini pertama
kali saya merasakan bahwa saya bukan minoritas di Indonesia ini karena
bapak-bapak dan ibu-ibu dari keluarga besar Al-Zaytun yang begitu rendah
hati menampakkan kedamaian,” kata Pdt Engelina mengawali.
Dia juga mengatakan kerinduan punya pemimpin seperti PM Malaysia,
Badawi, yang begitu berani memperjuangkan keadilan, perdamaian dan
keamanan. Pendeta ini berharap, Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan
formal yang berdasarkan agama melahirkan calon-calon pemimpin bangsa.
Syaykh menyampaikan terimakasih atas harapan ini. “Kami juga berdoa
semoga ibu mendapatkan pemimpin seperti yang ibu kehendaki,” ujar
Syaykh. Kemudian, Syaykh menegaskan, sebaiknya jangan ada di dunia ini
yang merasa mayoritas dan minoritas.
“Tatkala zaman perdamaian yang kita perjuangkan, kita menjadi minoritas
kalau tidak cinta perdamaian dan kita menjadi mayoritas umat Tuhan yang
suka perdamaian. Jadi ukurannya perdamaian. Tatkala kita tidak berdiri
di atas perdamaain, kita menjadi minoritas karena dunia hari ini
menghendaki perdamaian,” ujar Syaykh yang disambut tepuk tangan untuk
kesekian kalinya.
Kemudian seorang pemuda gereja tampil ke depan menyampaikan pendapat dan
pertanyaan. Dia mengatakan bahwa apa yang dicita-citakan oleh Syaykh
Panji Gumilang adalah suatu hal luhur. Tapi, katanya, kadangkala kita
juga tidak boleh memandang sebelah mata bahwa keadaaan kita di Republik
Indonesia yang kita cintai ini ternyata masih sering agama itu bukan
menjadi ajaran aturan hidup.
Dia pun menggambarkan bahwa sebagai umat Kristiani, memang selama ini
banyak mengalami hal-hal yang membelenggu dalam hal untuk mengeluarkan
citra kita sebagai rakyat berbangsa yang bermartabat. Menurutnya,
sekarang kita sudah tidak bisa mengklaim diri kita sendiri di negara
kita sendiri karena berbeda pendapat.
Dia cukup terharu dengan apa yang disampaikan Syaykh Panji Gumilang.
Bukan bermaksud untuk memuji-muji. “Tetapi ini merupakan satu hal yang
pertama dan kalau dikembangkan akan mempunyai nilai yang sangat
strategis untuk bangsa ini. Bapak-bapak dan Ibu mau masuk di gereja ini,
itu hal yang sungguh luar biasa karena masih banyak orang yang tidak
menyetujui hal demikian,” katnya bersemangat.
Dia pun menguraikan apa yang pernah didengar tentang kisah bahwa Nabi
Muhammad dan sahabat. Tatkala sahabatnya itu dalam perjalan membutuhkan
persinggahan, nabi Muhammad mempersilahkan istirahat di Mesjid dan
sahabatnya itu pun diperbolehkan beribadah. “Itu sangat luar biasa,”
ungkapnya.
Kisah-kisah seperti itu pernah didengar sewaktu masih kecil karena dia
bersekolah di sekolah Islam. Dia pun mengungkapkan pernah juara Qori
tahun 1984-1985 di Mesjid Istiqlal dalam satu acara yang diselenggarakan
oleh ibu-ibu Mesjid. “Ketika itu mereka sempat menanyakan saya karena
mereka pikir saya seorang muslim. Saya bilang saya seorang Kristen
tetapi bagi saya ini suatu hal yang bagaimana saya memuji Tuhan,”
ungkapnya.
“Saya melantunkan ayat-ayat itu bersahajad, saya merasakan sahajad.
Karena saya sependapat dengan bapak bahwa Tuhan kita itu sama. Kalau
Tuhan itu dua berarti satu-satu, nanti berantam di udara atau di sorga.
Kalau seperti itu berarti kita sudah tidak punya Tuhan sebagai
pimpinan,” katanya.
Dia pun menjelaskan bahwa di gereja, sebagai seorang anak diajarkan
tentang pendalaman Alkitab yakni tentang artinya. Setelah itu di sidi
atau ditekukkan yang melambangkan bahwa dia sudah menguasai dan sudah
bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya sesuai dengan imannya.
Mungkin, katanya, kalau di saudara-saudara kita Islam, belajar Qur’an
atau hafal Al-Qur’an. Jadi kalau di Kristen, itu diartikan bahwa kita
sudah bisa menjabarkannya dalam bentuk kasih.
Lalu Sang Pemuda itu pun mengajukan dua pertanyaan. Pertama, apakah
perdamaian itu sudah dimasukkan dalam pengajaran mungkin dalam bentuk
kurikulum ataupun seperti dalam pada bulan puasa menyambut Hari Raya
Idul Fitri, contohnya seperti santri kilat?
Kedua, kita masih mendengar adanya teriakan saudara-saudara kita baik
itu Kristen, Hindu maupun Budha yang memang masih teraniaya. Yang
gerejanya dibakar, yang orangnya juga didiskriminasikan sebagai kelompok
minoritas. Bagaimanakah peran Bapak di sini dari Ponpes Al-Zaytun.
Apakah sudah pernah ada dialog atau memberikan masukan-masukan buat
pemerintah?
Syaykh menjawab dengan memberi penjelasan bahwa sebagaimana misi
Al-Zaytun dalam melaksanakan pendidikan sudah barang pasti cita-cita
luhur dan mulia ini masuk dalam kurikulum. “Kurikulum yang kita berikan
kepada peserta didik sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, sudah
kita perkenalkan apa yang dinamakan hak-hak azasi manusia. Kemudian kita
praktekkan dalam kehidupan bersama, karena Al-Zaytun adalah merupakan
kampus yang di dalamnya ada asrama-asrama, yang tinggal di dalamnya
tidak kurang dari 13.000 penghuni setiap saat. Jadi untuk merealisir
cita-cita damai untuk tersebar di seluruh masyarakat bangsa Indonesia,
itu melalui penataan hidup yang ada di Al-Zaytun.”
Syaykh mengatakan, itu kita ciptakan, sehingga kekhawatiran-kekhawatiran
yang ada tadi seperti agama dimasukkan dalam politik dan sebagainya, ini
bisa kita berikan jalan keluar melalui penataan dalam kehidupan
penyebaran damai tadi. “Sebab kalau kita sebagai pencinta damai
menyebarkan kehidupan damai lantas kita merasa terserang oleh kehidupan
yang hari ini ada, agama dipolitisir, itu nanti damai akan mundur dan
susut.”
Syaykh Panji Gumilang, yang oleh Tokoh Indonesia digelari Pelopor
Pendidikan Terpadu dan Tokoh Pembawa Damai, itu, menegaskan kita tidak
boleh susut dengan cita-cita penyebaran damai. “Jadi apapun yang
terjadi, proses atau pun evolusi pasti terjadi karena bangsa terdidik
itu mengalami evolusi diri dan evolusi cita-cita menuju yang lebih
baik,” katanya.
“Kami yakin dan seyakin-yakinnya, Indonesia entah itu dalam tempo yang
singkat atau tempo yang tidak terlalu cepat, evolusi cinta damai ini
akan bergerak dan sekat-sekat yang kita khawatirkan tadi akan berubah.
Kita akan terus bergerak mereformasi bangsa ini sendiri sampai menuju
sesuatu yang lebih sempurna. Dan kehidupan ini tidak ada yang full stop,
selamanya semicolon, titik koma. Dan yang memproses titik koma itu
adalah kita pencinta damai ini, sehingga tatkala titik koma di satu
dekade A, di situ kita merasakan damai.”
Syaykh mengatakan kejadian seperti malam ini nampaknya bagi yang belum
pernah merasakan, ini merupakan baru kali pertama. Tapi kami-kami dan
kita-kita yang sudah merasakan maka ini bukan kali pertama. Dan kala
bangsa Indonesia merasakan, maka ini sesuatu yang lezat dalam kehidupan.
“Mari kita positif thinking dalam setiap bergerak menyampaikan damai dan
kasih. Dan mari kita selalu senyum dalam menegakkan damai dan kasih.”
seru Syaykh Panji Gumilang.
“Mudah-mudahan apa yang telah kita jalin ini akan semakin meluas dan
menjadi panutan bagi bangsa Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke,” Syaykh Panji Gumilang mengakhiri. Acara pun dilanjutkan dengan
makan bersama dan ramah tamah di aula gereja. Di depan aula gereja itu
pun telah terpampang spanduk ucapan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1426 H.
Mohon maaf lahir dan batin. ► ti/Berita Indonesia, Liputan
Marjuka Situmorang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|