|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERINDO-36:
01
02
03
04
05 ==
Syaykh AS Panji Gumilang
TSJ, Mimpi untuk Jakarta 2015
BERINDO 36-1: Syaykh AS Panji Gumilang, bermimpi
untuk menyelesaikan masalah Ibukota Negara secara holistik. Yakni
membangun Tirta Sangga Jaya (TSJ) - kanal air penyangga Jakarta Raya,
yang multi fungsi. Selain untuk mengatasi banjir, juga berguna sebagai
infrastruktur transportasi, pariwisata dan lain-lain.
Segunung masalah Ibukota Negara tak akan pernah selesai bilamana hanya
berkutat di Jakarta. Soalnya, Jakarta dibangun tanpa rencana induk yang
terintegrasi dengan kawasan belakang dan samping. Tata ruang Ibukota
Negara semrawut lantaran izin berbagai bangunan yang tumpang tindih.
Jakarta lebih berwujud kota yang kumuh, kotor, penuh polusi, semrawut,
miskin dan penyakitan, ketimbang metropolitan modern. Karenanya,
Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Pusat Pendidikan Al-Zaytun, bermimpi
untuk menyelesaikan masalah Ibukota Negara secara holistik.
Al-Zaytun saat ini sedang membangun Waduk Windu Kencana yang
terintegrasi dengan sistem pengelolaan air di ling-
kungan pusat pendidikan tersebut. Al-Zaytun yang kini berdiri megah di
tengah kawasan pedusunan di Gantar, Indramayu, berawal dari sebuah mimpi
juga.
Lewat tengah malam yang hening, pikiran (kreasi) Syaykh melahirkan mimpi
indah, yaitu berlayar dari pelabuhan petikemas Mauk, Banten, menuju
water interchange Cibinong, Jawa Barat. Para pelancong memulai
perjalanan pesiarnya di bawah pancaran sinar bulan purnama, ditingkahi
semilir angin buritan. Sepanjang pelayaran, mereka tak henti-hentinya
menengok ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Pohon-pohon dan
jalur hijau mengapit jalan dua arah yang dipisah oleh Tirta Sangga Jaya
(TSJ) - kanal air penyangga Jakarta Raya - bergoyang diterpa angin
semilir yang sejuk di celah keindahan panorama alam dan sinar bulan.
Lampu-lampu mobil besar dan kecil terpendar-pendar ketika melewati jalan
bebas hambatan (tol) yang membentang lebar di kiri-kanan sungai (kanal
TSJ) yang baru saja dibuka untuk pelayaran pesiar. Sinar rembulan
terpendar di permukaan sungai yang tenang dan jernih. Para pelancong
malam itu menempuh pelayaran berjam-jam, namun tidak merasa letih
sedikitpun.
Sesampai di Cibinong interchange, rombongan mendarat, menunggu malam
berikutnya untuk melanjutkan pesiar. Di Cibinong, mereka menginap di
sebuah hotel transit yang menghadap ke waduk yang berair keperakan. Dari
kejauhan, di pinggir danau buatan itu, mereka menyaksikan stadion
olahraga, lapangan golf, hotel, motel dan vila yang berderet harmonis
dengan pemukiman penduduk dan hamparan kawasan pertanian. Rombongan
pesiar benar-benar menikmati waktu jeda mereka sembari berekreasi di
danau Cibinong, sebelum melanjutkan pesiar yang sama menuju pelabuhan
Muara Jaya di pantai Karawang. Namun menjelang subuh, mereka terjaga
dari mimpi indah lantaran mendengar alunan azan subuh tidak jauh dari
hotel.
Inilah kira-kira, Mimpi untuk Jakarta 2015, yang terbayangkan dalam
dialog antara Syaykh dan tim wartawan Berita Indonesia—Ch Robin
Simanullang, Haposan Tampubolon dan Wilson Edward, dua pekan lalu. Mimpi
ini dijabarkan dalam peta dan desain oleh Dendy Hendrias dan Arif
Maulana, dituangkan dalam tulisan oleh Syahbuddin Hamzah dan Henry
Maruasas.
Di dalam peta tersebut tergambar jelas sebuah kawasan megapolitan
ratusan kilometer per segi yang membentang dari Cibinong ke Mauk dan
dari Cibinong ke Muara Jaya. Kawasan ini dihubungkan oleh kanal TSJ yang
berbentuk huruf U, menyangga Jakarta dari ancaman banjir tahunan,
kerumitan transportasi darat, pemukiman yang semrawut serta
sungai-sungai yang kotor dan berbau anyir.
Pada musim kemarau, TSJ berfungsi sebagai sarana irigasi bagi persawahan
di Banten dan Pantura. Fungsi lainnya, sebagai sarana transportasi air,
dan menggelontorkan sungai-sungai kecil yang kotor di Jakarta. Sungai
TSJ merupakan sabuk pengaman Jakarta, diperkirakan sepanjang 240
kilometer, dan selebar 100 meter. Di kiri-kanan sungai dibangun jalan
tol dari arah timur menuju ke barat dan sebaliknya untuk mencegah
kendaraan-kendaraan besar yang menuju Sumatera dan Jawa-Bali-NTB-NTT,
melintas jalan dalam kota Jakarta. Jalan tol ini di kiri-kanan diapit
oleh jalur hijau.
Jalan tol dan sungai TSJ melewati enam daerah kabupaten dan kota dari
dua provinsi—Banten dan Jawa Barat. Berdasarkan peta yang disusun BI,
aliran sungai TSJ, memotong empat sungai besar—Cisadane, Ciliwung,
Bekasi dan Citarum—serta 13 sungai kecil yang menyerbu Jakarta, terutama
di musim hujan.
Sungai-sungai tersebut dikendalikan oleh TSJ melalui waduk dan
pintu-pintu air pembagi yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.
Sedangkan aliran Kali Ciliwung yang merupakan ancaman terbesar pusat
Jakarta pada musim hujan, dikendalikan di waduk Cibinong. Selain
pengendali banjir, TSJ juga berfungsi sebagai sarana transportasi—termasuk
angkutan peti kemas dengan kapal ukuran sedang—pembangkit listrik tenaga
air, pengairan, perikanan air sungai dan pemasok air baku untuk
keperluan air bersih Jakarta dan daerah-daerah di sekelilingnya.
Untuk pembangunan proyek raksasa dan monumental itu perlu dibentuk Badan
Otorita TSJ yang bertanggung jawab langsung pada Presiden. Karena, di
samping butuh biaya yang sangat besar, kawasan baru ini diharapkan mampu
membangkitkan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional lantaran
menggeliatnya kegiatan-kegiatan transportasi peti kemas dan jalan tol,
rekreasi, perhotelan dan pertanian. Sumber pembiayaan bisa ditarik lewat
ORI (Obligasi RI) dan SUN (Surat Utang Negara) yang ditawarkan kepada
anggota masyarakat yang berkemampuan.
Boleh jadi selama pembangunan, proyek raksasa (dalam mimpi ini)
melibatkan ratusan ribu pekerja. Bandingkan dengan Terusan Suez di Mesir,
sepanjang 164 kilometer dan lebar 60 meter, melibatkan pekerja paksa
80.000 orang. Semoga mimpi ini terwujud di tahun 2015. ► e-ti/Berita Indonesia
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|