| BERITA |
|
|
 |
BERINDO-36:
01
02
03
04
05 ==
Syaykh AS Panji Gumilang
Tirta Sangga Jaya Nama Yang Bagus
BERINDO 36-5: Pemimpin Kampus Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang
memiliki mimpi besar tentang pengendalian air di Ibukota Negara, dengan
berpijak pada proyek Waduk Windu Kencana yang sedang dikerjakan Al-Zaytun
siang malam. Ia mengambil contoh pembangunan bendungan Azwan, di Mesir,
yang berhasil mengendalikan kota Kairo dari ancaman air bah Sungai Nil
dan serangan buaya-buayanya.
Berikut petikan wawancara mimpi Syaykh tentang Jakarta, disampaikan
kepada Robin Simanullang dan Haposan Tam-
pubolon, serta fotografer Wilson Edward.
Ibukota Negara selalu mengalami banjir berulang-ulang. Barangkali,
Syaykh bisa memberikan sumbangsaran cara terbaik mengatasinya?
Kalau sumbang saran itu terlalu besar. Tapi, ada mimpi untuk Jakarta.
Jakarta itu dikepung dan dialiri oleh berbelas-belas sungai yang besar
maupun kecil. Selama itu sungai pasti dilalui air. Kalau tidak ter-manage,
ya, menjadi melimpah dan bukan rizki.
Kalau kita ambil titik Jakarta dari Monas, sampai ke Cibinong, atau
lebih sedikit, kemudian kita tarik dari Cibinong, atau lebih ke selatan
sedikit kira-kira 60 kilometer dari titik Monas, di sana kita membuat
sungai baru atau kanal.
Kanalnya jangan terlalu kecil, katakan 100 meter lebar, kemudian di
kanan kiri ada 50 meter yang nantinya menjadi jalan raya di tebing atau
bantaran sungai. Kemudian kedalaman disesuaikan dengan kontur tanahnya.
Kanal membentang ke barat, sampai lebih barat dari kota Tangerang.
Katakanlah kalau diukur sampai ke Kresek, ditarik garis lurus mungkin
sampai Cikupa. Itu kita buat lagi (kanal) yang sama 100 (meter),
kanan-kiri ada jalan 50-50 meter.
Kemudian ke timur, kanal sampai ke Karawang yang lurusannya nanti
Rengasdengklok. Keluar dari sana ada yang namanya Tanjung Jaya. Kalau di
Tangerang sana ada Tanjung Kait.
Kalau itu dibuat maka terjadi, Ibukota Jakarta itu luasannya dari titik
Monas 60 kilometer ke selatan. Kemudian dari titik Monas ke utara 30
atau kurang lebih 20 kilometer. Berarti hampir 80 atau 100 kilometer.
Kemudian timur-barat (dari Monas) sampai ke lurusan Kresek sana 60
kilometer, dari Kresek itu mungkin juga sampai lurusan Batu Jaya 60.
Berarti nanti akan ada sungai “Letter U” 60-60-60-60, yang totalnya
menjadi 240 kilometer mengitari Ibukota.
Kitaran yang “Letter U” sudah barang pasti mencegat perjalanan aliran
air yang 13-15 sungai itu. Dan yang terkenal kalau di tengah Ciliwung,
di timur Citarum, dan di barat Cisadane sungai raksasa semua.
Itu sudah terbendung dulu. Bukan berarti tidak boleh mengalir (tapi) ada
paras kontrol. Dengan adanya yang 240 kilometer ada penanggulangan
lalulintas. Ada orang kurang senang jalan di darat, dia jalan di air.
Sebab ada jalan yang mendukung kanan-kiri tadi, 240 kilo kali dua.
Sudah, manfaatnya besar bisa untuk rekreasi, bisa menghasilkan uang,
secara estetikanya indah, arsitekturnya mendukung.
Mengapa sungai Nil bisa seperti itu, kita tidak bisa buat? Dulu sungai
Nil kalau banjir bukan banjir air tetapi banjir buaya. Manusia Kairo
banyak yang mati bukan tenggelam tapi dimakan buaya. Kalau Jakarta,
banyak yang sengsara karena air.
Kemudian (sungai-sungai) yang masuk dalam kota dinormalisir. Tidak usah
mengusir penduduk tetap saja di situ. Perumahannya tidak boleh
horizontal, mulailah vertikal.
Sehingga di sisi-sisi sungai ada lahan yang luas. Katakan, Ciliwung yang
dekat Tebet, nanti di pengkolannya, kampungnya masih Kampung Tebet,
kelurahannya masih Kelurahan Tebet, kecamatan masih Kecamatan Tebet.
Mereka tidak usah diusir karena sumber budaya ada di kampung-kampung itu.
Baru dibuat perumahan ke atas. Ada 1.000 kepala keluarga (KK) dalam satu
rumah vertikal yang tadinya mendiami 200 meter lahan. Maka lahan yang
ditinggalkan, 200 meter kali 1.000 KK sama dengan 200.000 meter persegi
itu dijadikan halaman, tempat sekolah, tempat olahraga, tempat rekreasi,
tempat penghijauan lingkungan. Rumah cukup naik ke atas untuk 1.000 KK.
Untuk pengontrolan kependudukan lebih aman dan lebih terkontrol.
Jadi andainya seperti itu maka di dalam kota ada pilihan jalan. Ah, saya
mau lewat Ciliwung saja, oh, saya mau lewat Ciliwung pinggiran kanan
atau kiri. Maka tidak ada kesulitan jalan raya. Jadi bukan karena
banyaknya kendaraan Jakarta macet, tapi manajemennya yang kurang tertata.
‘Oh, biayanya mahal’ (kata orang), oh memang mahal. Tapi lebih mahal
jiwa satu orang yang terendam air, daripada kita menata seperti itu.
Katakan, ‘diperlukan puluhan miliar dollar’, oh sekali hutang saja 40
miliar (dollar), nah mengapa bukan itu.
‘Oh, darimana dananya’, orang Indonesia kaya. Karena jumlah penduduknya
240 juta. Ambil 10 persen yang punya uang diam, masing-masing 100 ribu
dollar. Juallah obligasi kepada bangsa jangan ke luar negeri. Jangan
pula mencetak obligasi yang cincai-cincai satu dollar dua dollar. Paling
murah 1.000 dollar satu surat berharga, banyak orang yang bisa
membelinya.
Lha, sejumlah itu apakah mungkin mengumpulkan 100 miliar dollar AS.
Sangat mungkin. Bisakah kembali dengan tempo cepat? Sangat bisa, mengapa
tidak? Sebab air berjalan. Ada transportasi air, ada wisata air,
kemudian ada ketenangan jiwa. Terjadilah Ibukota menjadi tenang.
Kemudian tidak usah digembar-gemborkan istilah megapolitan dan
sebagainya. Setelah dibuat seperti itu maka diputuskanlah oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Ibukota Negara Indonesia adalah Jakarta yang
dibatasi oleh sungai baru “Letter U”. Selesai. Rakyat tidak berdebat.
Gubernur Jawa Barat tidak akan melawan, Gubernur Banten tidak akan
melawan. Gubernur Jakarta tidak akan bangga la wong keputusan,
menjadilah Ibukota Negara Republik Indonesia.
Jakarta perbatasannya sungai yang baru dibuat, katakanlah “Tirta Sangga
Jaya” atau “Air Yang Menyangga Jakarta Raya”.
Tirta Sangga Jaya bermanfaat untuk Jakarta?
Bermanfaat sebagai Ibukota Negara.
Hinterland-nya turut memperoleh manfaat, untuk wisata misalnya?
Untuk wisata, kemudian air untuk pertanian diambil oleh Jawa Barat dan
oleh Banten. Kan, asyik. Di sungai Nil ada wisata air tengah malam
sambil menari-nari, di sungai Tirta Sangga Jaya pun bisa nanti keliling.
Sungai Nil cuma berapa kilo, ini 240 kilometer. Sedangkan, satu malam
cuma 12 jam nggak cukup, ‘ah, besok lagi’, datang lagi, karcis lagi,
masuk retribusi.
Nanti orang tidak hanya datang ke Bali. Ke Bali suatu waktu tapi Tirta
Sangga Jaya tidak boleh dilupakan, kan begitu nanti. Kemana wisatanya,
‘Ke Tirta Sangga Jaya’.
Pendanaan, apakah lewat APBN?
Ya APBN dong. Kalau nanti nonbudgeter jadi rusak negara. Ditetapkan
bahwa akan membuat obligasi jumlahnya sekian, masukkan anggaran belanja
negara dan pendatapan, dikontrol, kalau tidak nanti ko and rup and si.
Dan untuk perbuatan itu jangan ditenderkan. Buatkan keputusan tertentu
ditunjuk ataupun dilaksanakan oleh negara, dikontrol oleh masyarakat,
negara luar pun menghormati, ‘Oh, putusan Majelis’.
Perlu dibentuk semacam Otorita?
Ya, otorita khusus supaya ter-manage apa saja bentuknya. Integrated
nanti dengan hinterland-nya. Dilindungi oleh payung yang sangat kuat
yaitu keputusan Majelis sebagai keputusan politik. Kalau tidak, saling
berkuasa nanti. Kata Jakarta, ‘Oh, ini milik saya’. Kata Jabar, ‘Milik
saya’, kata Banten ‘Milik saya’.
Berapa lama mewujudkannya sejak pelaksanaan?
Ah, kalau negara satu dua tahun selesai asal pendekatannya bagus.
Sekarang rakyat tidak mau karena mereka memang tingggal di situ. Nanti,
mereka tetap tinggal di situ.
Dikasih ganti untung?
Bukan dikasih ganti, disediakan. Rumahmu tetap ini, tapi dinaikkan,
lebih bagus, bisa tahu bulan lebih dekat. Kalau dari bumi kan jauh.
Mungkin tingkat 30, ‘Lebih dekat kamu kepada bulan’. Jadi kalau angin
lebih dekat ke angin yang lebih segar.
Pembebasan lahannya mungkin yang sulit?
Jangan pernah dibebaskan lahan itu. Kalau dibebaskan tidak mau orang,
bertahan. Ini dibuat sungai, rumahmu tetap di sini, lebih bagus,
kampungmu tetap di sini, karena, Indonesia tanah airku/Tanah tumpah
darahku. (Syaykh nyanyi dengan suara yang merdu).
Lah tanah tumpah darahnya dibuang, nanti ditanya dimana, ‘Itu sungai’.
Tanah tumpah darahku di kampung ini, bercerita, dulu kampung saya di
sini, yang sekarang dibuat sungai. ‘Lo, kok namanya tetap’. Iya, namanya
tetap, nggak boleh dirubah.
Jadi, kalau dia orang di Tebet ya tetap di Tebet. Cuma dulu Tebetnya
sini, sekarang Tebet sini (rumah vertikal). Jadi KTPnya enak.
Ngontrolnya enak. Yang punya KTP jelas. Yang tidak punya KTPpun jelas.
Budaya bisa ditata dengan baik. Bhineka Tunggal Ika bisa dimasukkan di
situ. Jadi bukan hanya simbol, tapi ilmunya dan amalnya.
Bagaimaan dengan Banjir Kanal Timur atau Kanal Barat yang sedang
dikerjakan?
Itu tidak memadai, sama saja dengan ini ada kudis, tet, dipencet terus
keluar, pindah ke sini, tet, keluar. Kalau ini nggak. Kasih jalan air,
‘kamu’ lewat sini. Oh terlalu melimpah, buka sedikit pintunya, masuk
dalam kota. Kotanya sudah lurus, air sungainya bisa disambung dengan
sungai Cikeas, bisa disambung dengan sungai Ciliwung, interdependen.
Nanti dibuat interdependen. Kan asyik dalam kota ada perahu, ada boat
seperti negara-negara besar lain.
Mimpi yang sangat orisinil dari Syaykh?
Ya, tidak tahu, namanya juga mimpi.
Konsep Belanda dulu, masih konsep feodal Banjir Kanal Barat dibangun
untuk melindungi Menteng saja?
Karena dulu batasannya kecil maka dikatakan orang kampung Kali Deres.
‘Deres’ itu cepat larinya. Begitu masuk Banjir Kanal Timur sekarang
dinamakan Kali Malang. Dinamakan Kali Malang karena melintang masuk kota.
Mestinya utara-selatan, ini lari ke barat menjadi timur-barat
malang-melintang, Kali Malang.
Di mana-mana sungai itu ke timur, ini ke barat. ‘Ah, sudah, kali
malang-melintang’, gampang saja orang Indonesia kasih nama.
Sekarang ada nama bagus Tirta Sangga Jaya?
Kalau Tirta Sangga Jaya agak sedikit pantas daripada Kali Deres atau
Kali Malang. Masak orang segar-segar dikatakan Malang. Pantas banjir
terus sebab kalinya malang. Coba kalau kalinya mujur.
Waduk Windu Kencana mungkin bisa menjadi wujud awal Tirta Sangga Jaya?
Itu, aplikasi mimpi. Sebelum yang besar kan yang kecil dulu.
Waduk Windu Kencana akan menjadi objek wisata juga?
Ya. Pembangunan itu harus punya nilai ekonomi, nilai hiburan, nilai
rekreasi, nilai arsitektur, nilai kelestarian, baru namanya sustainable.
Kalau cuma air, kaku.
Selain menyangkut ketahanan terpadu pertanian, ada manfaat Waduk
Windu Kencana untuk masyarakat sekitar?
Oh, pasti. Kalau Al-Zaytun tinggal di belantara padang pasir Azwan sana
ya nggak ada (manfaatnya). Ini kan tinggal di masyarakat. Kalau
berbicara Zaytun bicara masyarakat sekalipun agak jauh letaknya.
Sungai itu kan air, tidak diam, dia merambat. Setiap yang dirambati air
pasti bagus karena air itu sumber kehidupan.
Tirta Sangga Jaya sepertinya bukan mimpi sebab miniaturnya Windu
Kencana sudah ada?
Yah, kalau bagi saya itu mimpi. Karena kita di sini.
Jakarta akan mengadakan Pilkada pada Agustus 2007. Tirta Sangga Jaya
mestinya bisa menjadi isu andalan setiap kandidat?
Kalau sekadar oleh gubernur juga kurang. Harus oleh negara. Karena harus
ada political will dari atas, kokoh sebagai payung yaitu MPR.
Secara politis Al-Zaytun bisa berperan mendorong political will dari
atas tadi?
Oh, kalau peranan, semua bangsa. Al-Zaytun kan sebagian kecil dari warga
bangsa.
Paling tidak calon gubernur Jakarta datang ke sini memperoleh masukan
konsep membangun Jakarta?
Biasanya kalau datang ke sini, ‘Oh, ini kan tempat kecil, jadi gampang.
Jakarta itu besar, jadi susah’. Selalu mengedepankan susah.
Kalau kita selalu mengedepankan, semua tidak ada yang susah kalau
dikerjakan. Dan tidak ada besar tidak ada kecil pekerjaan itu. Karena
nilainya sama. Kecil tidak selesai ya tambah rusak. Besar tidak
dikerjakan juga susah.
Tahun ini Al-Zaytun genap berusia sewindu. Syaykh bisa mengukur
persentase pencapaian mimpinya, sudah berapa besar?
Kalau dipersentase kecil, wong mimpi itu besar. Kalau mimpi kecil ya
sudah selesai. Mimpi kita kan besar. Daripada mimpi kecil mending mimpi
besar. Tercapai sudutnya, lumayan. Jadi jangan pernah memprosentase
pekerjaan. Lepaskan saja prosentase itu tapi terus perbesar mimpinya.
Karena mimpi besar belum terlaksana pun sudah gembira, ‘Ah, saya tadi
malam mimpi,’ ya itu. (Syaykh kembali bernyanyi merdu). Waktu semalam
bung aku bermimpi/Ketemu ular bung besar sekali/Ular menggigit jari
kakiku/Aku menjerit aduh/Kenapa kok aduh/Mimpi. Jadi asyik, mimpi itu
bisa jadi obat.
Visi Pendidikan Al-Zaytun 2020 juga mimpi yang mengasyikkan?
Oh, iya. Harus mimpi 2020. Jangan lama-lama, 2030 kelamaan. Bangsa ini
kuat kok. (Tahun) 2030 lama belum tentu itu dipimpin oleh yang mimpi.
Kalau mimpi ciptakan yang riil dalam konsep yang bisa dilaksanakan.
Kalau suatu negara mimpinya tuangkan dalam keputusan majelis yang
tertinggi. Kalau (diputuskan) oleh Presiden yang berjalan itu kan
terbatas cuma lima tahun belum tentu dipilih lagi. Itu (Visi 2030)
sebetulnya kampanye. Kampanye kan bisa saja ngomong setumpuk
pelaksanaannya belum ada. ► e-ti/ berindo
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |