|
AL-ZAYTUN: 1
2
3 4
5
=
Ma'had Al-Zaytun (3)
Al-Zaytun Pancarkan Toleransi
Dari Ma’had Al-Zaytun memancar cahaya persaudaraan, damai dan toleransi.
Laksana satelit mengorbit memancarkan sinyal pesan damai dan toleransi ke
seluruh penjuru bumi. Di pondok pesantren modern bersetting internasional,
ini suatu event persahabatan monumental, pertama kali, telah terjadi dalam
sejarah kehidupan keberagamaan di Indonesia.
Sejumlah umat beriman, Islam
dan Kristen, berjumpa dan bersukacita membuka hati dalam kebersamaan dan
persaudaraan tanpa melihat perbedaan. Saling memberi dan saling mendoakan
sesuai iman dan kepercayaan masing-masing.
Hari itu, Sabtu 31 Juli 2004, Syaykh AS Panji Gumilang dan segenap
eksponen, guru, karyawan dan santri Ma’had Al-Zaytun menyambut hangat dan
mesra kedatangan Pdt. Rudolf Andreas Tendean, Ketua Majelis Jemaat Gereja
Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia Jakarta, bersama
rombongan sebanyak kurang lebih 200 orang. Kedatangan mereka sekaligus
turut merayakan hari ulang tahun Syaykh AS Panji Gumilang yang tepatnya
pada 30 Juli 2004, satu hari sebelumnya.
Ini adalah sebuah peristiwa aplikasi toleransi nyata pertama kalinya di
sebuah pondok pesantren di Indonesia, sejumlah umat Kristen dan umat
Islam, berkumpul bersama, saling mendoakan, makan bersama, berolahraga
bersama, bahkan bernyanyi sambil bergandengan tangan untuk menyatakan
bahwa mereka adalah satu kasih, bersahabat dan bersaudara.
Tepatlah gambaran event persahabatan ini, seperti disebut Syaykh Panji
Gumilang, merupakan laboratorium toleransi dan perdamaian namun bukan
dalam skala penelitian melainkan dalam skala produksi yang
terdistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. “Ini adalah
laboratorium yang harus kita buat antar kita semua dan kita ekspose kepada
generasi muda Indonesia yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa di masa
depan agar meneladani, mampu mencontoh apa yang telah dibuat dan
dicontohkan dalam laboratorium persatuan dan kerukunan umat beragama di
Indonesia melalui Al-Zaytun dan Koinonia ini,” kata Syaykh al-Ma,had.
(Baca juga artikel: Panji Gumilang Pembawa Damai dan Toleransi)
Tak Goyah Oleh Hasutan
Matahari bersinar cerah, pertanda bahwa hari itu adalah hari yang penuh
berkah dan rahmat. Empat buah bus besar berangkat beriring-iringan dari
GPIB Koinonia, Jakarta, menuju Ma’had Al-Zaytun, sebuah pondok pesantren
yang mereka dengar termodern dan terbesar di dunia. Pondok pesantren yang
pimpinannya mengirim kartu ucapan Selamat Natal 2003 pada jemaat GPIB.
Namun, banyak dari antara mereka, selama di dalam bus, bertanya-tanya
dan tidak sedikit yang masih kuatir dan bimbang. Sebab beberapa hari
bahkan beberapa jam sebelum berangkat, mereka harus berperang menaklukkan
berbagai prasangka buruk, yang bukan saja berasal dari saudara-saudara
mereka yang berpendapat tidak perlu pergi ke pondok pesantren itu dengan
berbagai alasan, tetapi lebih lagi akibat hasutan negatif bahkan
peringatan akan adanya ancaman jika mereka pergi ke Ma’had Al-Zaytun.
Sekitar pukul 01.00 WIB, sebelum mereka berangkat pukul 06.00, Pdt.
Rudolf Andreas Tendean, yang akrab dipanggil Pendeta Rudy, menerima
telepon dari seseorang memperingatkan supaya waspada dan menyisir mobil
yang akan mereka tumpangi, jangan-jangan telah dipasangi bom. Penelepon
juga menyarankan agar rombongan minta pengawalan dari petugas keamanan.
Namun, Pendeta Rudy, tetap teguh pada pendirian bahwa tidak ada yang perlu
dikuatirkan. “Tidak perlu ada pengawalan petugas keamanan sebab kami
berniat baik untuk menjalin persaudaraan. Kami akan dikawal oleh Allah
yang menghendaki umat manusia hidup dalam damai dan persaudaraan,” kata
Pendeta Rudy teguh.
Sebelumnya, sejumlah pengurus Gereja telah diutus mengunjungi Ma’had
Al-Zaytun. Mereka sudah menyaksikan secara langsung apa yang ada di pondok
pesantren modern bermotto toleransi dan perdamaian itu. Bahkan setelah itu,
tanggal 7 Juli 2004, pimpinan Ma’had Al-Zaytun, Syaykh Abdussalam Panji
Gumilang sudah berkunjung ke Gereja GPIB Koinonia.
Pada kesempatan itu, dari depan altar Gereja, Syaykh di hadapan ratusan
jemaat menyampaikan visi dan misi Ma’had Al-Zaytun. Dijelaskan bahwa
Ma’had Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan milik umat beriman
(Islam) bangsa Indonesia, ber-setting internasional, bersemangat
pesantren dan bersistem modern serta bermotto sebagai pusat pendidikan dan
pengembangan budaya toleransi dan perdamaian.
Namun, akibat gencarnya prasangka, hasutan dan teror, sebagian anggota
jemaat secara manusiawi sempat menjadi kuatir. Namun Pendeta Rudy berupaya
memperteguh keyakinan mereka, ia berkhotbah dan berdoa, bahkan mengunjungi
jemaat di setiap sektor. Akhirnya, lebih 200 anggota jemaat mendaftar
menyatakan ikut. Bahkan pada hari-hari terakhir masih ada yang ingin ikut
tetapi tidak tertampung lagi sesuai kapasitas bus.
Namun, sejujurnya, aku Pendeta Rudy, terkadang ia sempat kuatir juga.
Kekuatiran itu bukan soal dirinya, tetapi dari segi rasa tanggung jawabnya
atas keselamatan anggota jemaat. Maka sepanjang perjalanan, pendeta ini
tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Setiap kali ia berdoa, kekuatiran
itu pun tersisihkan. Ia percaya siapa pun yang bertujuan damai pasti
direstui oleh Allah.
Setelah kurang lebih empat jam lamanya di perjalanan, bus-bus itu
akhirnya tiba di tempat tujuan, Ma’had Al-Zaytun di Desa Mekarjaya,
Kecamatan Gantar, Indramayu. Pendeta Rudy menatap gapura di hadapannya
bertuliskan: Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya
Toleransi dan Budaya Perdamaian. Ia menarik nafas lega. “Terimakasih Tuhan,
terimakasih!” serunya dalam hati. Ia merasakan damai begitu memasuki
kawasan Ma’had Al-Zaytun. Perasaan kuatir hilang tak berbekas.
Begitu pula perasaan ratusan anggota jemaat yang hampir sepanjang jalan
berdoa dan bernyanyi memuji kemuliaan Tuhan dan memohon perlindungan-Nya.
Angin perdamaian yang bertiup dalam kompleks pendidikan seluas 1.200
hektar itu, rupanya meneduhkan hati ratusan orang yang cemas sepanjang
perjalanan sebelumnya.
Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Di bagian lobi Wisma Tamu Al-Ishlah
sudah berkumpul banyak orang. Di antara mereka itu, terdapat sejumlah
eksponen Ma’had Al-Zaytun serta dosen-dosen P3T, P2T2 dan P2BT yang
kebanyakan berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Para dosen ini, sengaja
datang untuk ikut menikmati kebersamaan dan persaudaraan antarumat
beragama ini. Menurut, Ustadz Abdul Halim, eksponen Ma’had Al-Zaytun,
belum pernah para dosen ini hadir secara bersamaan selengkap ini untuk
menyambut tamu Al-Zaytun.
Para dosen dan eksponen Ma’had Al-Zaytun itu bercakap-cakap sambil
sekali-sekali menoleh ke luar menembus kaca pintu masuk Wisma Tamu Al-Ishlah,
barangkali rombongan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Setelan jas
berwarna hitam dan biru dongker begitu mendominasi suasana di lobi itu.
Syaykh AS Panji Gumilang pun kemudian bergabung bersama isteri dan
seorang puterinya.Tidak lama, mobil yang mengusung Pendeta Rudy, tiba di
depan pintu lobi Wisma Tamu Al-Islah. Rambutnya yang sebagian sudah
memutih terkesan sepadan dengan jas coklat yang dikenakannya.
Dengan langkah cepat, tidak ingin membiarkan tuan rumah menunggu
terlalu lama, pendeta Rudy menyongsong dan menyapa Syaykh AS Panji
Gumilang yang sudah menunggu di pintu masuk. Dengan senyum ramah, Syaykh
menjabat tangan dan memberi salam, dibalas Pendeta Rudy dengan senyuman
lega. Senyuman dan salam yang sarat makna persaudaraan, toleransi dan
damai.
Namun, sesungguhnya di balik rasa lega dan senang, Pendeta Rudy mengaku
merasa kaget, tidak sangka ada penyambutan sehebat dan semeriah itu. Dalam
hati, ia merasa belum patut menerima penghormatan sebesar itu. “Saya ini
hanya seorang pendeta yang melayani jemaat di sebuah gereja, yang di GPIB
saja ada lebih 250 pendeta yang setara dengan saya,” katanya kepada
Wartawan Tokoh Indonesia yang mewawancarainya tiga hari berikutnya.
Tidak lama setelah Pendeta Rudy disambut oleh Syaykh al-Ma’had dan
segenap eksponen Ma’had Al-Zaytun, kemudian menyusul para pengurus GPIB
Koinonia lainnya antara lain Dr. SB Silalahi (Ketua 1), John Pieter (Ketua
3), Andi Sutopo (Ketua 4) dan Wasiyo (Bendahara) besera dua ratusan
anggota jemaat rombongan lainnya. Para jemaat Kristen ini, yang sebagian
perempuan banyak juga mengenakan jilbab, begitu turun dari bus seakan
tidak mau kalah menebar senyum lalu berjabat tangan dengan orang-orang
yang menyambut di lobi wisma itu.
Senyuman dan jabatan tangan penuh persaudaraan itu bukanlah yang
pertama. Rabu, 7 Juli 2004, senyuman dan jabatan tangan pertama telah
dilakukan menandakan pintu persaudaraan mulai terbuka lebar-lebar. Syaykh
AS Panji Gumilang bersama rombongan telah berkunjung ke Gereja Protestan
Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia di Jatinegara, Jakarta. Gereja tua
peninggalan Belanda ini berdiri megah membelah dua jalan, yakni Jalan
Jatinegara Barat dan Jalan Jatinegara Timur.
Malam itu, pukul tujuh, sebuah ibadah yang diadakan sekali sebulan baru
saja dimulai. Seorang pemimpin pondok pesantren dan beberapa orang
rombongan datang dan duduk di tengah-tengah jemaat yang sedang mengikuti
kebaktian. Selama kurang lebih satu jam, kidung-kidung rohani dinyanyikan
dengan khidmat. Syaykh AS Panji Gumilang dan rombongan duduk dengan tenang
di dalam gereja sementara prosesi kebaktian terus berlangsung.
Selepas kebaktian, Pendeta Rudy memperkenalkan gerejanya, Syaykh AS
Panji Gumilang pun dipersilahkan untuk berbicara. Kurang lebih 250 jemaat
duduk diam mendengarkan Syaykh AS Panji Gumilang berbicara di depan mimbar
(altar) gereja. Kebaktian hari itu termasuk penuh karena biasanya
kebaktian bulanan seperti itu hanya dihadiri paling banyak 100-an orang.
Tetapi hari itu, banyak jemaat yang hadir karena mendengar seorang
pemimpin pondok pesantren akan datang.
Suasana persaudaraan 7 Juli itu, kemudian mengambil tempat di Ma’had
Al-Zaytun dalam suasana lebih meriah dan spektakuler serta penuh rasa,
semangat dan aksi nyata persaudaraan, toleransi dan perdamaian.
Seremoni Akbar
Sejenak, Pendeta Rudy bersama rombongan dipersilahkan beristerahat di
kamar-kamar Wisma Al-Ishlah, sekelas hotel berbintang lima. Rasa kaget
bercampur kagum Pendeta Rudy dan isteri mencuat lagi tatkala memasuki
ruangan kamar yang disiapkan bagi mereka. “Ini kan kamar bagi
orang-orang besar,” ucap Pendeta Rudy kepada isterinya saat mereka berada
dalam kamar VVIP itu.
Sampai di situ, Pendeta Rudy mengira penyambutan tadi sebagai acara
seremonial puncak atas kedatangan mereka ke ma’had ini. Dan, penyambutan
itu sudah dirasa terlalu besar baginya. Namun, tak lama kemudian, ia dan
isteri dipersilahkan segera masuk ke bus yang akan membawa rombongan
menuju Gedung Pertemuan Al-Akbar beberapa blok dari Wisma Al-Ishlah itu.
Saat bus meluncur menuju Gedung Pertemuan Al-Akbar, Pendeta Rudy tidak
berpikir macam-macam, ia beranggapan akan ada acara kecil-kecilan di
gedung itu, berupa presentasi mengenai Ma’had Al-Zaytun.
Eh, begitu tiba di gedung itu, ia dan rombongan kaget. Tak
disangka-sangka, puluhan ribuan santri, guru, karyawan dan penghuni Ma’had
Al-Zaytun lainnya telah menunggu kedatangan mereka. Spontan para santri
berdiri sambil tepuk tangan riuh menyambut kehadiran Pendeta Rudy dan
rombongan anggota jemaat GPIB Koinonia di kampus tolerasi dan perdamaian
ini. Rombongan tamu yang dituntun Syaykh dan para eksponen Ma’had Al-Zaytun
memasuki ruang pertemuan diringi tepuk tangan dan shalawat Thala’al
badru ’alaina. Min tsaniyyatil Wada.
Pendeta Rudy tampak tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu.
Menurut penuturannya, ia merasa diri kecil sekali seperti kotoran kutu
yang tiada artinya. “Siapakah saya dan rombongan ini, sehingga
saudara-saudara dari Muslim ini menerima kami dengan hangat seperti ini?”
begitu kata hatinya.
Menangis Haru
“Saya sangat terharu. Jiwa saya bergetar. Belum pernah saya disambut
puluhan ribu orang seperti ini, apalagi di sebuah pesantren. Sesungguhnya,
saat itu saya menangis haru, tapi saya tahan air mata itu masuk ke dalam.
Mereka sungguh luar biasa baik, membuktikan kasih persaudaraan yang nyata,”
kata Pendeta Rudy bercerita dalam khotbah, hari Minggu besoknya. Ia
berkhotbah di tiga gereja hari Minggu itu. Apalagi, kebetulan agenda nats
khotbah kebaktian Minggu itu (sudah terjadwal sebelumnya dalam Almanak
GPIB Tahun 2004) adalah mengenai kasih sesama dari Injil Matius 5:43-48.
Perasaan haru, sukacita dan kaget (kagum) tidak hanya dirasakan Pendeta
Rudy. Perasaan yang sama juga dialami rombongan anggota jemaat yang
lainnya. Bahkan beberapa di antaranya meneteskan air mata haru, menikmati
kehangatan nyata persaudaraan di antara umat beragama yang berbeda di
tempat itu.
Apalagi, bagi mereka yang kampung halamannya di Ambon dan Poso atau
daerah konflik berbau sara lainnya, air mata mereka mengalir haru. “Inilah
kasih persaudaraan dan toleransi yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan,”
kata seorang ibu yang sudah ubanan asal Ambon yang ikut dalam rombongan,
seraya menghapus air mata di pelupuk matanya.
Perasaan haru tidak pula menjadi milik para tetamu dari Jemaat GPIB
Koinonia itu. Para santri, guru, dosen, karyawan dan eksponen Ma’had Al-Zaytun,
yang memenuhi ruangan hingga di lantai dua, juga menampakkan ekspresi haru
yang sama. Bagi Ma’had Al-Zaytun, ini adalah pengalaman pertama menyambut
kedatangan rombongan anggota sebuah gereja. “Ini adalah pengalaman pertama
implementasi toleransi di sebuah pesantren,” ujar seorang dosen UIN Syarif
Hidayatullah dengan suara bergetar. Ia juga dosen di P2BT Al-Zaytun yang
sengaja datang ikut menyambut kedatangan rombongan anggota jemaat GPIB itu.
Sebelum acara dimulai, beberapa dosen dan eksponen Ma’had Al-Zaytun
mengobrol penuh kasih dengan jemaat GPIB yang duduk di dekatnya
masing-masing.
Acara dimulai dengan suara nyaring para santri menyanyikan lagu Bangun
Pemudi Pemuda yang diiringi dengan musik Full Band, lengkap dengan gitar,
bass dan drum. Pemusiknya adalah para santri. Disusul dengan Mars Al-Zaytun,
“Maju…maju… Ayo terus maju. Maju…Maju membangun negara….
Semuanya terasa makin lengkap saat seorang santriwati berteriak lantang
mengakhiri sebuah puisi, “Indonesia Harus Kuat… Indonesia Harus Kuat…”
Lalu semua hadirin diajak berdiri mengumandangkan lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Lagu-lagu itu memancarkan makna yang lebih dalam penuh
cinta kepada bangsa dan tanah air, Indonesia.
Tak kalah menariknya di pertengahan acara penyambutan ini adalah
persembahan musik dan tarian yang diberikan oleh musisi Ma’had Al-Zaytun
dan Jemaat GPIB Koinonia. Kaum Bapak dari GPIB Koinonia dengan modal dua
buah gitar membawakan satu lagu karangan Bimbo berjudul Tuhan yang
terkenal itu dan satu lagu gerejawi berjudul Daud Menari. Tidak mau kalah
dengan mereka, lima orang santriwati berpakaian khas Melayu menari dengan
liukan yang anggun diiringi lagu berjudul Cindai. Apalagi seorang santri
di tengah kelima penari itu terbilang menari lebih gemulai dari yang
lainnya.
Selain mengusung nilai daerah, Al-Zaytun juga rupanya mempunyai satu
kelompok santri asal Afrika Selatan yang terdiri dari enam orang membawa
tarian modern ala artis-artis Barat. Suara riuh dan siutan membahana di
seluruh ruangan saat keenam pria muda ganteng itu naik ke atas panggung.
Seorang santri berbadan jangkung membuka penampilan mereka dengan suara
dentum bas yang keluar dari mulutnya bak seorang rapper. Lagu berbahasa
Arab berjudul Al-Hijrah dilantukan naik turun bersamaan dengan
gerakan-gerakan tarian mereka. Suara musik mulut dari santri berbadan
jangkung itu terus berbunyi hingga penampilan mereka berakhir. Tarian
mereka juga kemudian diselingi breakdance ala Afro-Amerika yang
tidak kalah menariknya dengan tayangan yang sering terlihat di televisi.
Mungkin baru kali inilah, ada sebuah pondok pesantren di mana santrinya
tanpa sungkan membawakan tarian modern di tengah kehidupan religius mereka.
Dari situ terlihat, mereka bersikap terbuka, liberal, toleran tetapi tetap
bijaksana memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
Puncak acara pun tiba. Dimulai kata sambutan Wakil Ketua Yayasan
Pesantren Indonesia (pendiri Ma’had Al-Zaytun) H. Imam Supriyanto. Lalu
Pendeta Rudy naik ke podium menyampaikan sambutan. Ia menyatakan kekaguman
dan keterkejutannya atas penyambutan yang menurutnya belum pernah
diterimanya bahkan dari lingkungannya sendiri. Ia pun menjelaskan kata
Koinonia yang bermakna persaudaraan. Ia berharap kiranya persaudaraan yang
sudah terjalin juga menjadi bagian dalam masyarakat Indonesia.
Tidak lupa pula, Pendeta Rudy mewakili seluruh jemaat GPIB Koinonia
mengucapkan selamat ulang tahun kepada Syaykh AS Panji Gumilang, yang
kebetulan berulang tahun sehari sebelumnya. Pada bagian akhir acara,
Pendeta Rudy dan isteri Silvana Rosita Maksurila menyampaikan kado ulang
tahun serangkai kembang anggrek kepada Syaykh AS Panji Gumilang yang
didampingi isteri Khotimah Rahayu. ►atur-crs ►Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |