A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 

 
 


 
  C © updated 09092004  
   
  ►e-ti/mti  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

AL-ZAYTUN:    1    3   4     =

Ma'had Al-Zaytun (3)

Al-Zaytun Pancarkan Toleransi

 

Dari Ma’had Al-Zaytun memancar cahaya persaudaraan, damai dan toleransi. Laksana satelit mengorbit memancarkan sinyal pesan damai dan toleransi ke seluruh penjuru bumi. Di pondok pesantren modern bersetting internasional, ini suatu event persahabatan monumental, pertama kali, telah terjadi dalam sejarah kehidupan keberagamaan di Indonesia.

 

Sejumlah umat beriman, Islam dan Kristen, berjumpa dan bersukacita membuka hati dalam kebersamaan dan persaudaraan tanpa melihat perbedaan. Saling memberi dan saling mendoakan sesuai iman dan kepercayaan masing-masing.

 

Hari itu, Sabtu 31 Juli 2004, Syaykh AS Panji Gumilang dan segenap eksponen, guru, karyawan dan santri Ma’had Al-Zaytun menyambut hangat dan mesra kedatangan Pdt. Rudolf Andreas Tendean, Ketua Majelis Jemaat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia Jakarta, bersama rombongan sebanyak kurang lebih 200 orang. Kedatangan mereka sekaligus turut merayakan hari ulang tahun Syaykh AS Panji Gumilang yang tepatnya pada 30 Juli 2004, satu hari sebelumnya.

 

Ini adalah sebuah peristiwa aplikasi toleransi nyata pertama kalinya di sebuah pondok pesantren di Indonesia, sejumlah umat Kristen dan umat Islam, berkumpul bersama, saling mendoakan, makan bersama, berolahraga bersama, bahkan bernyanyi sambil bergandengan tangan untuk menyatakan bahwa mereka adalah satu kasih, bersahabat dan bersaudara.

 

Tepatlah gambaran event persahabatan ini, seperti disebut Syaykh Panji Gumilang, merupakan laboratorium toleransi dan perdamaian namun bukan dalam skala penelitian melainkan dalam skala produksi yang terdistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. “Ini adalah laboratorium yang harus kita buat antar kita semua dan kita ekspose kepada generasi muda Indonesia yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa di masa depan agar meneladani, mampu mencontoh apa yang telah dibuat dan dicontohkan dalam laboratorium persatuan dan kerukunan umat beragama di Indonesia melalui Al-Zaytun dan Koinonia ini,” kata Syaykh al-Ma,had. (Baca juga artikel: Panji Gumilang Pembawa Damai dan Toleransi)

 

Tak Goyah Oleh Hasutan

Matahari bersinar cerah, pertanda bahwa hari itu adalah hari yang penuh berkah dan rahmat. Empat buah bus besar berangkat beriring-iringan dari GPIB Koinonia, Jakarta, menuju Ma’had Al-Zaytun, sebuah pondok pesantren yang mereka dengar termodern dan terbesar di dunia. Pondok pesantren yang pimpinannya mengirim kartu ucapan Selamat Natal 2003 pada jemaat GPIB.

 

Namun, banyak dari antara mereka, selama di dalam bus, bertanya-tanya dan tidak sedikit yang masih kuatir dan bimbang. Sebab beberapa hari bahkan beberapa jam sebelum berangkat, mereka harus berperang menaklukkan berbagai prasangka buruk, yang bukan saja berasal dari saudara-saudara mereka yang berpendapat tidak perlu pergi ke pondok pesantren itu dengan berbagai alasan, tetapi lebih lagi akibat hasutan negatif bahkan peringatan akan adanya ancaman jika mereka pergi ke Ma’had Al-Zaytun.

 

Sekitar pukul 01.00 WIB, sebelum mereka berangkat pukul 06.00, Pdt. Rudolf Andreas Tendean, yang akrab dipanggil Pendeta Rudy, menerima telepon dari seseorang memperingatkan supaya waspada dan menyisir mobil yang akan mereka tumpangi, jangan-jangan telah dipasangi bom. Penelepon juga menyarankan agar rombongan minta pengawalan dari petugas keamanan. Namun, Pendeta Rudy, tetap teguh pada pendirian bahwa tidak ada yang perlu dikuatirkan. “Tidak perlu ada pengawalan petugas keamanan sebab kami berniat baik untuk menjalin persaudaraan. Kami akan dikawal oleh Allah yang menghendaki umat manusia hidup dalam damai dan persaudaraan,” kata Pendeta Rudy teguh.

 

Sebelumnya, sejumlah pengurus Gereja telah diutus mengunjungi Ma’had Al-Zaytun. Mereka sudah menyaksikan secara langsung apa yang ada di pondok pesantren modern bermotto toleransi dan perdamaian itu. Bahkan setelah itu, tanggal 7 Juli 2004, pimpinan Ma’had Al-Zaytun, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang sudah berkunjung ke Gereja GPIB Koinonia.

 

Pada kesempatan itu, dari depan altar Gereja, Syaykh di hadapan ratusan jemaat menyampaikan visi dan misi Ma’had Al-Zaytun. Dijelaskan bahwa Ma’had Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan milik umat beriman (Islam) bangsa Indonesia, ber-setting internasional, bersemangat pesantren dan bersistem modern serta bermotto sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian.

 

Namun, akibat gencarnya prasangka, hasutan dan teror, sebagian anggota jemaat secara manusiawi sempat menjadi kuatir. Namun Pendeta Rudy berupaya memperteguh keyakinan mereka, ia berkhotbah dan berdoa, bahkan mengunjungi jemaat di setiap sektor. Akhirnya, lebih 200 anggota jemaat mendaftar menyatakan ikut. Bahkan pada hari-hari terakhir masih ada yang ingin ikut tetapi tidak tertampung lagi sesuai kapasitas bus.

 

Namun, sejujurnya, aku Pendeta Rudy, terkadang ia sempat kuatir juga. Kekuatiran itu bukan soal dirinya, tetapi dari segi rasa tanggung jawabnya atas keselamatan anggota jemaat. Maka sepanjang perjalanan, pendeta ini tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Setiap kali ia berdoa, kekuatiran itu pun tersisihkan. Ia percaya siapa pun yang bertujuan damai pasti direstui oleh Allah.

 

Setelah kurang lebih empat jam lamanya di perjalanan, bus-bus itu akhirnya tiba di tempat tujuan, Ma’had Al-Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Indramayu. Pendeta Rudy menatap gapura di hadapannya bertuliskan: Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian. Ia menarik nafas lega. “Terimakasih Tuhan, terimakasih!” serunya dalam hati. Ia merasakan damai begitu memasuki kawasan Ma’had Al-Zaytun. Perasaan kuatir hilang tak berbekas.

 

Begitu pula perasaan ratusan anggota jemaat yang hampir sepanjang jalan berdoa dan bernyanyi memuji kemuliaan Tuhan dan memohon perlindungan-Nya. Angin perdamaian yang bertiup dalam kompleks pendidikan seluas 1.200 hektar itu, rupanya meneduhkan hati ratusan orang yang cemas sepanjang perjalanan sebelumnya.

 

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Di bagian lobi Wisma Tamu Al-Ishlah sudah berkumpul banyak orang. Di antara mereka itu, terdapat sejumlah eksponen Ma’had Al-Zaytun serta dosen-dosen P3T, P2T2 dan P2BT yang kebanyakan berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Para dosen ini, sengaja datang untuk ikut menikmati kebersamaan dan persaudaraan antarumat beragama ini. Menurut, Ustadz Abdul Halim, eksponen Ma’had Al-Zaytun, belum pernah para dosen ini hadir secara bersamaan selengkap ini untuk menyambut tamu Al-Zaytun.

 

Para dosen dan eksponen Ma’had Al-Zaytun itu bercakap-cakap sambil sekali-sekali menoleh ke luar menembus kaca pintu masuk Wisma Tamu Al-Ishlah, barangkali rombongan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Setelan jas berwarna hitam dan biru dongker begitu mendominasi suasana di lobi itu.

 

Syaykh AS Panji Gumilang pun kemudian bergabung bersama isteri dan seorang puterinya.Tidak lama, mobil yang mengusung Pendeta Rudy, tiba di depan pintu lobi Wisma Tamu Al-Islah. Rambutnya yang sebagian sudah memutih terkesan sepadan dengan jas coklat yang dikenakannya.

 

Dengan langkah cepat, tidak ingin membiarkan tuan rumah menunggu terlalu lama, pendeta Rudy menyongsong dan menyapa Syaykh AS Panji Gumilang yang sudah menunggu di pintu masuk. Dengan senyum ramah, Syaykh menjabat tangan dan memberi salam, dibalas Pendeta Rudy dengan senyuman lega. Senyuman dan salam yang sarat makna persaudaraan, toleransi dan damai.

 

Namun, sesungguhnya di balik rasa lega dan senang, Pendeta Rudy mengaku merasa kaget, tidak sangka ada penyambutan sehebat dan semeriah itu. Dalam hati, ia merasa belum patut menerima penghormatan sebesar itu. “Saya ini hanya seorang pendeta yang melayani jemaat di sebuah gereja, yang di GPIB saja ada lebih 250 pendeta yang setara dengan saya,” katanya kepada Wartawan Tokoh Indonesia yang mewawancarainya tiga hari berikutnya.

 

Tidak lama setelah Pendeta Rudy disambut oleh Syaykh al-Ma’had dan segenap eksponen Ma’had Al-Zaytun, kemudian menyusul para pengurus GPIB Koinonia lainnya antara lain Dr. SB Silalahi (Ketua 1), John Pieter (Ketua 3), Andi Sutopo (Ketua 4) dan Wasiyo (Bendahara) besera dua ratusan anggota jemaat rombongan lainnya. Para jemaat Kristen ini, yang sebagian perempuan banyak juga mengenakan jilbab, begitu turun dari bus seakan tidak mau kalah menebar senyum lalu berjabat tangan dengan orang-orang yang menyambut di lobi wisma itu.

 

Senyuman dan jabatan tangan penuh persaudaraan itu bukanlah yang pertama. Rabu, 7 Juli 2004, senyuman dan jabatan tangan pertama telah dilakukan menandakan pintu persaudaraan mulai terbuka lebar-lebar. Syaykh AS Panji Gumilang bersama rombongan telah berkunjung ke Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia di Jatinegara, Jakarta. Gereja tua peninggalan Belanda ini berdiri megah membelah dua jalan, yakni Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Jatinegara Timur.

 

Malam itu, pukul tujuh, sebuah ibadah yang diadakan sekali sebulan baru saja dimulai. Seorang pemimpin pondok pesantren dan beberapa orang rombongan datang dan duduk di tengah-tengah jemaat yang sedang mengikuti kebaktian. Selama kurang lebih satu jam, kidung-kidung rohani dinyanyikan dengan khidmat. Syaykh AS Panji Gumilang dan rombongan duduk dengan tenang di dalam gereja sementara prosesi kebaktian terus berlangsung.

 

Selepas kebaktian, Pendeta Rudy memperkenalkan gerejanya, Syaykh AS Panji Gumilang pun dipersilahkan untuk berbicara. Kurang lebih 250 jemaat duduk diam mendengarkan Syaykh AS Panji Gumilang berbicara di depan mimbar (altar) gereja. Kebaktian hari itu termasuk penuh karena biasanya kebaktian bulanan seperti itu hanya dihadiri paling banyak 100-an orang. Tetapi hari itu, banyak jemaat yang hadir karena mendengar seorang pemimpin pondok pesantren akan datang.

 

Suasana persaudaraan 7 Juli itu, kemudian mengambil tempat di Ma’had Al-Zaytun dalam suasana lebih meriah dan spektakuler serta penuh rasa, semangat dan aksi nyata persaudaraan, toleransi dan perdamaian.

 

Seremoni Akbar

Sejenak, Pendeta Rudy bersama rombongan dipersilahkan beristerahat di kamar-kamar Wisma Al-Ishlah, sekelas hotel berbintang lima. Rasa kaget bercampur kagum Pendeta Rudy dan isteri mencuat lagi tatkala memasuki ruangan kamar yang disiapkan bagi mereka. “Ini kan kamar bagi orang-orang besar,” ucap Pendeta Rudy kepada isterinya saat mereka berada dalam kamar VVIP itu.

 

Sampai di situ, Pendeta Rudy mengira penyambutan tadi sebagai acara seremonial puncak atas kedatangan mereka ke ma’had ini. Dan, penyambutan itu sudah dirasa terlalu besar baginya. Namun, tak lama kemudian, ia dan isteri dipersilahkan segera masuk ke bus yang akan membawa rombongan menuju Gedung Pertemuan Al-Akbar beberapa blok dari Wisma Al-Ishlah itu.

 

Saat bus meluncur menuju Gedung Pertemuan Al-Akbar, Pendeta Rudy tidak berpikir macam-macam, ia beranggapan akan ada acara kecil-kecilan di gedung itu, berupa presentasi mengenai Ma’had Al-Zaytun.

 

Eh, begitu tiba di gedung itu, ia dan rombongan kaget. Tak disangka-sangka, puluhan ribuan santri, guru, karyawan dan penghuni Ma’had Al-Zaytun lainnya telah menunggu kedatangan mereka. Spontan para santri berdiri sambil tepuk tangan riuh menyambut kehadiran Pendeta Rudy dan rombongan anggota jemaat GPIB Koinonia di kampus tolerasi dan perdamaian ini. Rombongan tamu yang dituntun Syaykh dan para eksponen Ma’had Al-Zaytun memasuki ruang pertemuan diringi tepuk tangan dan shalawat Thala’al badru ’alaina. Min tsaniyyatil Wada.

 

Pendeta Rudy tampak tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu. Menurut penuturannya, ia merasa diri kecil sekali seperti kotoran kutu yang tiada artinya. “Siapakah saya dan rombongan ini, sehingga saudara-saudara dari Muslim ini menerima kami dengan hangat seperti ini?” begitu kata hatinya.

 

Menangis Haru

“Saya sangat terharu. Jiwa saya bergetar. Belum pernah saya disambut puluhan ribu orang seperti ini, apalagi di sebuah pesantren. Sesungguhnya, saat itu saya menangis haru, tapi saya tahan air mata itu masuk ke dalam. Mereka sungguh luar biasa baik, membuktikan kasih persaudaraan yang nyata,” kata Pendeta Rudy bercerita dalam khotbah, hari Minggu besoknya. Ia berkhotbah di tiga gereja hari Minggu itu. Apalagi, kebetulan agenda nats khotbah kebaktian Minggu itu (sudah terjadwal sebelumnya dalam Almanak GPIB Tahun 2004) adalah mengenai kasih sesama dari Injil Matius 5:43-48.

 

Perasaan haru, sukacita dan kaget (kagum) tidak hanya dirasakan Pendeta Rudy. Perasaan yang sama juga dialami rombongan anggota jemaat yang lainnya. Bahkan beberapa di antaranya meneteskan air mata haru, menikmati kehangatan nyata persaudaraan di antara umat beragama yang berbeda di tempat itu.

 

Apalagi, bagi mereka yang kampung halamannya di Ambon dan Poso atau daerah konflik berbau sara lainnya, air mata mereka mengalir haru. “Inilah kasih persaudaraan dan toleransi yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan,” kata seorang ibu yang sudah ubanan asal Ambon yang ikut dalam rombongan, seraya menghapus air mata di pelupuk matanya.

 

Perasaan haru tidak pula menjadi milik para tetamu dari Jemaat GPIB Koinonia itu. Para santri, guru, dosen, karyawan dan eksponen Ma’had Al-Zaytun, yang memenuhi ruangan hingga di lantai dua, juga menampakkan ekspresi haru yang sama. Bagi Ma’had Al-Zaytun, ini adalah pengalaman pertama menyambut kedatangan rombongan anggota sebuah gereja. “Ini adalah pengalaman pertama implementasi toleransi di sebuah pesantren,” ujar seorang dosen UIN Syarif Hidayatullah dengan suara bergetar. Ia juga dosen di P2BT Al-Zaytun yang sengaja datang ikut menyambut kedatangan rombongan anggota jemaat GPIB itu.

 

Sebelum acara dimulai, beberapa dosen dan eksponen Ma’had Al-Zaytun mengobrol penuh kasih dengan jemaat GPIB yang duduk di dekatnya masing-masing.

 

Acara dimulai dengan suara nyaring para santri menyanyikan lagu Bangun Pemudi Pemuda yang diiringi dengan musik Full Band, lengkap dengan gitar, bass dan drum. Pemusiknya adalah para santri. Disusul dengan Mars Al-Zaytun, “Maju…maju… Ayo terus maju. Maju…Maju membangun negara….

 

Semuanya terasa makin lengkap saat seorang santriwati berteriak lantang mengakhiri sebuah puisi, “Indonesia Harus Kuat… Indonesia Harus Kuat…” Lalu semua hadirin diajak berdiri mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu-lagu itu memancarkan makna yang lebih dalam penuh cinta kepada bangsa dan tanah air, Indonesia.

 

Tak kalah menariknya di pertengahan acara penyambutan ini adalah persembahan musik dan tarian yang diberikan oleh musisi Ma’had Al-Zaytun dan Jemaat GPIB Koinonia. Kaum Bapak dari GPIB Koinonia dengan modal dua buah gitar membawakan satu lagu karangan Bimbo berjudul Tuhan yang terkenal itu dan satu lagu gerejawi berjudul Daud Menari. Tidak mau kalah dengan mereka, lima orang santriwati berpakaian khas Melayu menari dengan liukan yang anggun diiringi lagu berjudul Cindai. Apalagi seorang santri di tengah kelima penari itu terbilang menari lebih gemulai dari yang lainnya.

 

Selain mengusung nilai daerah, Al-Zaytun juga rupanya mempunyai satu kelompok santri asal Afrika Selatan yang terdiri dari enam orang membawa tarian modern ala artis-artis Barat. Suara riuh dan siutan membahana di seluruh ruangan saat keenam pria muda ganteng itu naik ke atas panggung.

 

Seorang santri berbadan jangkung membuka penampilan mereka dengan suara dentum bas yang keluar dari mulutnya bak seorang rapper. Lagu berbahasa Arab berjudul Al-Hijrah dilantukan naik turun bersamaan dengan gerakan-gerakan tarian mereka. Suara musik mulut dari santri berbadan jangkung itu terus berbunyi hingga penampilan mereka berakhir. Tarian mereka juga kemudian diselingi breakdance ala Afro-Amerika yang tidak kalah menariknya dengan tayangan yang sering terlihat di televisi.

 

Mungkin baru kali inilah, ada sebuah pondok pesantren di mana santrinya tanpa sungkan membawakan tarian modern di tengah kehidupan religius mereka. Dari situ terlihat, mereka bersikap terbuka, liberal, toleran tetapi tetap bijaksana memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

 

Puncak acara pun tiba. Dimulai kata sambutan Wakil Ketua Yayasan Pesantren Indonesia (pendiri Ma’had Al-Zaytun) H. Imam Supriyanto. Lalu Pendeta Rudy naik ke podium menyampaikan sambutan. Ia menyatakan kekaguman dan keterkejutannya atas penyambutan yang menurutnya belum pernah diterimanya bahkan dari lingkungannya sendiri. Ia pun menjelaskan kata Koinonia yang bermakna persaudaraan. Ia berharap kiranya persaudaraan yang sudah terjalin juga menjadi bagian dalam masyarakat Indonesia.

 

Tidak lupa pula, Pendeta Rudy mewakili seluruh jemaat GPIB Koinonia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Syaykh AS Panji Gumilang, yang kebetulan berulang tahun sehari sebelumnya. Pada bagian akhir acara, Pendeta Rudy dan isteri Silvana Rosita Maksurila menyampaikan kado ulang tahun serangkai kembang anggrek kepada Syaykh AS Panji Gumilang yang didampingi isteri Khotimah Rahayu. ►atur-crs Lanjut


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)