| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
AL-ZAYTUN: 1
2
3 4
5
=
Ma'had Al-Zaytun (1)
Ponpes Peradaban Berskala Dunia
Ma’had Al-Zaytun, sebuah model pondok pesantren modern, berskala
internasional. Sebuah kampus peradaban terpadu, pesantren spirit but
modern system, yang diharapkan bisa mempersiapkan peserta didik agar
sanggup, siap dan mampu untuk hidup secara dinamis di lingkungan negara
bangsanya dan tatanan masyarakat antarbangsa dengan penuh kesejahteraan
dan kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.
Sebuah kampus yang bertujuan mempersi-apkan peserta didik untuk beraqidah
yang kokoh kuat terhadap Allah dan Syari’at-Nya, menyatu di dalam tauhid,
berakhlaq al-karimah, berilmu pengetahuan luas dan berketerampilan tinggi
(menguasai science & technology dengan segala perkembangannya) yang
tersimpul dalam ‘basthotan fil ‘ilmi wal jismi’.
Dalam konsep Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, pemimpin Ma’had Al-Zaytun,
pendidikan itu haruslah mengekspos segala kegiatan umat manusia, baik itu
ekonomi, energi, environment dan lain-lain. Menurutnya, Indonesia harus
masuk dalam zone of peace and democracy jika ingin menjadi negara yang
beradab dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama dengan negara-negara
lain.
Ma’had Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Zaytun (Ma’had Al-Zaytun), ini memang
dimeteraikan dengan visi dan misi sebagai Pusat Pendidikan dan
Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian. Di
setiap pintu masuk kampus ini terpampang serangkaian kalimat itu. Kalimat
yang menghadirkan kejernihan pikiran dan perasaan tenteram bagi setiap
orang yang datang. Sekaligus sebagai undangan terbuka bahwa kampus ini
terbuka untuk dikunjungi semua kalangan baik dari kalangan agama, bangsa,
suku maupun golongan. Kata Zaytun itu sendiri adalah nama sebuah pohon
yang umurnya terpanjang di dunia. Pohon ini sering dipakai sebagai simbol
perdamaian.
Namun, sungguh banyak informasi yang kontroversial, baik yang positif
maupun yang negatif, mengenai keberadaan Ma’had Al-Zaytun ini. Banyak
orang yang sering menduga-duga dan berprasangka buruk padahal belum
melihat dan merasakan kenyataan yang sebenarnya ada di kampus ini. Redaksi
TokohIndonesia DotCom, juga menerima beberapa surat yang menilai positif
dan negatif kampus ini, termasuk pribadi tokoh pemimpinnya Syaykh
Abdussalam Panji Gumilang.
Guna menghindari terjebak dalam praduga, apalagi praduga negatif, Tim
Wartawan Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) yang juga
menerbitkan Majalah Tokoh Indonesia, berkesempatan mengunjungi Ma’had ini,
sehari penuh, Kamis 19 Februari 2004. Tadinya direncanakan sekadar
wawancara dengan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang. Namun oleh salah
seorang stafnya, Abdul Halim, yang menyambut kehadiran Wartawan Tokoh
Indonesia, menyarankan jauh lebih baik meninjau secara langsung semua
gedung, lahan dan aktivitas yang ada di ma’had ini, sebelum wawancara.
Jadilah peninjauan langsung dilakukan, mulai dari bangunan masjid, gedung
pembelajaran, klinik, laboratorium, workshop, asrama putera dan puteri,
bahkan sampai ke kamar tidur, ruang makan, dapur, penyimpanan makanan,
sampai ke lahan pertanian dan peternakan. Pada setiap tempat yang
dikunjungi dilakukan dialog dengan para santri, mahasiswa, staf dan
karyawan secara spontan dan terbuka, transparan. Di samping adanya
penjelasan rinci dari Abdul Halim, yang setia mendampingi.
Sungguh susah mengungkapkan kalimat yang cukup bisa menggambarkan
keberadaan Ma’had Al-Zaytun ini. Selepas melakukan peninjauan yang
kemudian disusul wawancara dengan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, malam
harinya, Tim Wartawan Tokoh Indonesia bersepakat menyebut Ma’had Al-Zaytun
ini sebagai pondok pesantren (kampus) peradaban berskala dunia.
Laporan pandangan mata ini, disadari sangat terbatas menggambarkan
keberadaan kampus ini, yang juga pantas disebut sebagai laboratorium
peradaban. Di kampus ini, konsep pendidikan sebagai gula, sebagai inti
peradaban, sungguh terwujudkan.
Ma’had Al-Zaytun dihuni lebih dari 12 ribu orang, terletak di sebuah
kawasan yang jauh dari keramaian kota, Desa Mekarjaya, Kecamatan
Haurgeulis, Dati II Indramayu, menempati tanah wakaf dari berbagai
kalangan Ummat Islam Indonesia, seluas 1.200 hektar, 200 hektar
dipergunakan sebagai sentra pendidikan/kawasan Kampus Ma’had Al-Zaytun,
sedang sisanya 1.000 hektar dipergunakan sebagai sarana pendukung
pembelajaran di berbagai bidang, antara lain, aquakultur/perikanan,
hortikultur, industri makanan ternak, unit peternakan, industri kecil dan
lain lain.
Ibarat melihat satu rumah tangga besar yang relijius, sekaligus ibarat
melihat sebuah perkampungan modern, kawasan pendidikan terpadu, kawasan
pertanian dan industri terpadu, sebuah kampus peradaban, manakala berada
di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu ini. Suasana yang nyaman, tenang, penuh
keakraban dan persahabatan, sangat jauh dari bau perkelahian, bau iri dan
dengki, maupun suara politik. Yang ada hanya suara pendidikan, budaya
toleransi dan perdamaian. Suasana aktivitas para santri, para guru dan
para tenaga karyawan membuat suasananya terasa di kota kecil modern
bernuansa desa. Suasana yang membuat hati para santri dan setiap orang
yang mengunjunginya semakin lekat di sana.
Belasan ribu orang setiap harinya berkegiatan di Ma’had ini. Di antara
gedung-gedung yang berdiri kokoh tumbuh subur pula berbagai jenis pohon,
jati, tien dan zaytun. Di dalam kompleks kampus ini terhampar berbagai
tanaman dan tumbuhan nan hijau yang menyejukkan. Pembangunan gedung pun
masih terus dilaksanakan beriringan dengan penanaman rumput maupun kentang
manis untuk pakan sapi, kemudian kotoran ternak itu diolah jadi pupuk
organik yang digunakan untuk berbagai tanaman, padi, sayuran dan
lain-lain.
Begitu sempurnanya sistem yang dibangun di sana sehingga
membentuk siklus seolah satupun tidak ada yang tidak berguna, melainkan
mendukung satu dengan yang lainnya. Suasana ini menggambarkan satu rumah
tangga besar yang dikepalai seorang ayah yang bijak.
Pembangunan Ma’had Al-Zaytun ini dimulakan pada tarikh 13 Agustus 1996,
yang merupakan usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Sedangkan
Yayasan Pesantren Indonesia digagas pada tarikh 01 Juni 1993 bertepatan
dengan Hari Raya ‘Idul Adlha 10 Dzu Al-Hijjah 1413 H dengan akta pendirian
tertarikh 25 Januari 1994 No.61 oleh notaris Ny. Ii Rokayah Sulaeman SH,
beralamat di Desa Mekarjaya Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu, Jawa
Barat. Pembukaan pembelajaran dilaksanakan pada tarikh 01 Juli 1999 dan
peresmian keberadaannya pada tarikh 27 Agustus 1999, oleh Presiden Prof.
Ing. B.J. Habibie.
Hingga saat ini, 4 gedung pembelajaran yang sudah selesai dibangun adalah
Gedung Abu Bakar Al-Shiddiq, Gedung Umar Ibnu Khaththab, Gedung Utsman
Ibnu Affan, Gedung Ali bin Abi Thalib, diambil dari nama sahabat Nabi. Dua
gedung lagi sedang dalam proses pembangunan yakni Gedung Jenderal Besar
H.M. Soeharto, dan Gedung DR. Ir. Ahmad Soekarno.
Sedangkan gedung asrama yang sudah selesai dibangun adalah Gedung Al-Mushthofa,
Gedung Al-Fajr, Gedung Al-Nur, Gedung Al-Madani, Gedung Persahabatan,
Gedung Syarifah Hidayatullah. Direncanakan 12 unit gedung asrama akan
dibangun di kampus ini.
Selain gedung pembelajaran dan gedung asrama serta fasilitas pendukungnya,
juga ada Gedung Perkuliahan Serba Guna yang diberi nama Gedung Tan Sri
Dato’ Ismail Hussein. Gedung ini diperuntukkan bagi perkuliahan Mahasiswa
Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik
Terpadu (P2T2), dan Program Pendidikan Bahasa-Bahasa Terpadu (P2BT) Ma’had
Al-Zaytun, serta kantor redaksi Majalah Al-Zaytun.
Selain itu terdapat juga sarana olahraga seluas 26 ha, terdiri dari 3 blok,
dua blok di arena pembelajaran yang masing-masing seluas 6,5 ha, 1 blok di
sebelah utara dengan luas lahan 13 ha. Sarana olahraga di arena
pembelajaran sebelah timur dilengkapi dengan sebuah lapangan sepak bola
lengkap dengan track atletik dengan standar internasional yang diberi nama
Lapangan Sepak Bola Palagan Agung.
Direncanakan akan dibangun 2 buah kolam renang (putra dan putri), 2 buah
gedung olahraga (putra dan putri) dan sebuah gedung kesenian. Sarana olah
raga di arena pembelajaran sebelah barat dilengkapi dengan 6 lapangan
sepak bola untuk pelatihan sehari-hari, kemudian lapangan hockey, lapangan
basket, dan lapangan volley. Sarana olahraga di sebelah utara arena
pendidikan direncanakan dengan sarana dan prasrana olah raga yang lebih
lengkap dan lebih besar yang dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan
olah raga yang bertaraf internasional di masa depan.
Menurut rencana, Ma’had Al-Zaytun mempersiapkan 24 gedung masing masing
5-6 lantai dengan kontruksi baja yang sangat memadai sehingga mampu
bertahan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti
gempa bumi dan lain sebagainya. 12 gedung diperuntukkan untuk asrama
santri/mahasiswa, sedang 12 lainnya untuk gedung pembelajaran.
Juga direncanakan pembangunan bertahap gedung Perkhidmatan Kesihatan,
berupa hospital di sebelah selatan arena pendidikan dengan luas lantai
22.000 m2. Rumah sakit ini direncanakan sebagai sarana pendukung untuk
fakultas kedokteran yang akan dikembangkan kemudian.
Saat ini telah dioperasikan perkhidmatan kesihatan dengan mengambil tempat
lantai dasar bangunan pembelajaran Umar Ibnu Khaththab. Berfungsi
memberikan pelayanan kesihatan kepada seluruh santri para guru dan civitas
Ma’had lainnya serta masyarakat sekitar. Khusus masyarakat di tiga desa
yang telah berpartisipasi dalam pengadaan lahan wakaf diberikan konsultasi
kesihatan secara cuma-cuma.
Luar Biasa
Kalimat lain yang tepat untuk menggambarkan Ma’had Al-Zaytun, adalah satu
kalimat singkat: Luar biasa! Lokasinya tidak terlalu sulit dijangkau
karena sudah didukung oleh sarana jalan dan transportasi yang memadai.
Dibutuhkan kira-kira 3,5 jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil
dari Jakarta.
Di setiap pintu masuk kampus ini terpampang serangkaian kalimat: ‘Ma’had
Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta
Pengembangan Budaya Perdamaian’. Beberapa pos satpam berjejer setiap
beberapa ratus meter untuk memantau dan menjaga keamanan dalam kampus.
Penjagaannya cukup rapi dan terkoordinir. Setiap pengunjung baik undangan,
tamu atau pers akan didata dan dilayani sebaik-baiknya.
Setelah melewati beberapa pos satpam, pengunjung atau tamu bisa mampir ke
wisma tamu AI-Ishlah yang cukup megah. Bangunan ini ditempatkan di sebelah
selatan Masjid AI-Hayat dengan luas lantai 7.600 m2, bangunan lima lantai,
dengan 150 kamar tidur tamu dan dilengkapi dengan fasilitas pendukung
seperti; coffee shop, meeting room, dan pendukung lainnya.
Suasana wisma tamu yang dibangun 1 Juli 1999 dan selesai 27 Oktober 2001
ini tidak berbeda jauh dengan suasana hotel-hotel berbintang di Jakarta.
Mulai dari lobi hotel, coffee shop, meeting room sampai restoran didisain
sedemikian rupa sehingga sungguh menunjukkan kesan modern yang tertata
apik. Petugas penerima tamu dan pelayan restoran pun kompak menggunakan
seragam yang menyiratkan kesungguhan dan profesionalisme dalam melakukan
tugasnya.
Tidak jauh dari wisma tamu ini, berdiri Masjid Al-Hayat yang dibangun di
atas tanah seluas 5.000 m2 dengan tiga lantai yang dapat menampung kurang
lebih 7.000 jama’ah. Masjid Al-Hayat adalah pusat kegiatan seluruh
penghuni Ma’had Al-Zaytun dari subuh sampai dengan Isya’, dan para
pengunjung Ma’had Al-Zaytun akan melihat kegiatan sholat berjamaah dan
tadarrus Al-quran yang dilakukan oleh seluruh penghuni Ma’had. Masjid ini
mulai dibangun 1 Januari 1999 dan selesai Juni 1999.
Di masjid inilah setiap hari Jumat Syaykh AS Panji Gumilang memberikan
pengarahan khasnya kepada para santri dan seluruh penghuni kampus, dan
merupakan acara khusus yang sangat menarik dan selalu mendapatkan respons
dari jamaah Sholat Jumat. Syaykh selalu memberikan tekanan agar kelak para
santri mampu berkiprah dalam kemandirian, dan sanggup mewarnai kehidupan
masyarakat sekelilingnya.
Di kampus ini mereka dilatih dan dibiasakan hidup berdisiplin dan
beribadah dalam tradisi kepesantrenan, namun hidup dalam suasana modern.
Seperti misalnya, ruang tidur yang representative, cara berpakaian yang
rapi dan sikap-sikap yang sopan dan gentle. Oleh sebab itu, janganlah
heran bila mendapati para santri duduk dalam masjid dengan pakaian yang
sangat rapi, seperti memakai jas dan dasi.
Pesatnya pertambahan jumlah santri dan penghuni Ma’had Al-Zaytun
menyebabkan Masjid Al-Hayat sudah tidak mampu lagi memuat jamaah, baik
pada hari-hari biasa maupun Jumat. Oleh sebab itu, Ma’had Al-Zaytun kini
sedang membangun sebuah masjid besar yang diberi nama “Masjid Rahmatan
Lil-Alamin” yang berdiri di atas tanah 6,5 hektar, berlantai 6 (enam),
yang dapat menampung 150.000 jama’ah. Masjid yang akan rampung dibangun
dalam waktu 1.000 hari ini memerlukan biaya kurang lebih 14 Juta dollar
Amerika atau Rp 100 milyar lebih. Menurut rencana, setelah Masjid Rahmatan
lil ‘Alamin digunakan, Masjid Al-Hayat akan difungsikan untuk perpustakaan
Ma’had Al-Zaytun.
Semua bangunan di Ma’had Al-Zaytun, gedung seperti asrama, masjid dan
sebagainya, menggunakan konstruksi baja. Khusus untuk keperluan ini Ma’had
Al-Zaytun memiliki pabrik pengolahan besi dan beton. Semua proses
pengadukan semen, persiapan kerangka bangunan dan sebagainya dikerjakan
dan diusahakan secara mandiri di pabrik ini.
Fasilitas Pendidikan
Decak kagum dan perasaan terkesan semakin kuat ketika mengunjungi gedung
pembelajaran dan asrama para santri. Setiap gedung pembelajaran
diperuntukkan bagi 1.500-1.700 orang santri dan atau mahasiswa, masing
masing ruang kelas berukuran 12 x 8 meter persegi untuk 36 santri maksimal,
dilengkapi dengan fasilitas pembelajaran modern dan perpustakaan kelas,
untuk memudahkan proses pembelajaran, termasuk audio visual aids.
Informasi pribadi dan prestasi para santri tersimpan rapi dalam database
yang diprogram khusus sesuai kebutuhan administrasi pendidikan di Ma’had
Al-Zaytun. Setiap gedung pembelajaran dan asrama disediakan sebuah
komputer khusus untuk meng-input data dalam jaringan LAN dengan pengamanan
data yang sangat baik.
Dengan adanya konektivitas komputer dan database informasi para santri,
guru dan orang tua murid bisa memperoleh informasi secara cepat dan
real-time tentang para santri yang diinginkan. Informasi seperti biodata,
prestasi, nilai, wali kelas, teman-teman sekelas hingga masalah/kasus yang
pernah dihadapi betul-betul terintegrasi penuh dan disimpan selama santri
bersekolah. Katakanlah seorang santri bersekolah selama enam tahun, maka
semua informasi tentangnya dicatat secermat mungkin mulai dari tahun
pertama hingga tahun ke enam.
Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dalam mengatur manajemen
pendidikan di Ma’had Al-Zaytun sudah menjadi keharusan. Sebab setiap
tahunnya, pertumbuhan santri baru semakin pesat. Menurut data terakhir
tahun 2003, Ma’had Al-Zaytun berhasil menyerap 7.329 santri, di mana
santrinya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia termasuk mancanegara
seperti Malaysia, Singapura, Timor Lorosae, Australia, Kamboja, dan Afrika
Selatan.
Untuk merekrut santri dan mahasiwa, Ma’had Al-Zaytun mempunyai perwakilan/representative
di semua propinsi di Indonesia, termasuk di Malaysia barat/timur, yang
juga berstatus sebagai public relation staffs Ma’had Al-Zaytun.
Setiap orang tua yang menginginkan anak-anaknya sekolah di Ma’had Al-Zaytun
harus menyiapkan dana partisipasi sebesar 3.000 dolar atau sekitar Rp 24
juta. Sekali bayar untuk pendidikan selama enam tahun. Dengan dana
partisipasi ini para santri mendapatkan hampir semua kebutuhan selama
menjalani pendidikan, mulai dari konsumsi makan dan minum, pakaian seragam
sekolah, asrama penginapan, buku teks pelajaran berdasar kurikulum yang
berlaku, tanpa dipungut SPP, uang gedung, dan uang bangku selama enam
tahun.
Setiap santri dan orang tua juga dibekali kalender pendidikan untuk masa
pendidikan selama enam tahun. Dengan adanya kalender ini, santri dan wali
santri dapat mengetahui secara pasti hari-hari libur dan kegiatan akademik
hingga enam tahun ke depan.
Dalam kegiatan belajar mengajar, setiap santri belajar berdasarkan
penggabungan tiga kurikulum yaitu Kurikulum Diknas tahun 1994, Kurikulum
Departemen Agama, Kurikulum Muatan Lokal berupa Tahfidh Qur’an dan Bahasa.
Dengan adanya penggabungan kurikulum ini diharapkan para lulusan Ma’had
Al-Zaytun akan menguasai Al-Qur’an secara mendalam, terampil berkomunikasi
menggunakan bahasa-bahasa antarbangsa yang dominan, berpendekatan ilmu
pengetahuan, berketerampilan teknologi dan fisik, berjiwa mandiri, penuh
perhatian terhadap aspek dinamika kelompok dan bangsa, berdisiplin tinggi
serta berkesenian yang memadai.
Jadual kegiatan santri setiap hari sudah dimulai sejak persiapan dan
shalat subuh dan tahfidz Qur’an pukul 04.00-05.15. Dilanjutkan kegiatan
olahraga pagi, pembelajaran sesi I s/d VI dan kegiatan lainnya sampai
pukul 22.00. Termasuk pelatihan muhadloroh (pidato tiga bahasa), pelatihan
kepanduan dan prakarya.
Di samping mendapat pendidikan formal, para santri juga bisa memperdalam
ilmu dan keahliannya dalam berbagai bidang mulai dari seni, olahraga,
komputer dan sebagainya. Misalkan saja, untuk memberikan bekal kemampuan
IT standar yang diakui keberadaannya oleh dunia internasional bagi para
santrinya, AGICT (Al-Zaytun Global Information and Communication
Technology) bekerja sama dengan ICDL (International Computer Driving
License) yang berkedudukan di United Kingdom. Pada bulan Januari 2003,
AGICT mendapatkan akreditasi ICDL sebagai test centre yang pertama di
seluruh kawasan Indonesia.
Kursus ini berlangsung selama 9 bulan efektif untuk 3 level yakni Basic,
Intermediate dan Advance. Peserta kursus akan memperoleh berbagai
fasilitas seperti Laboratorium komputer yang terhubung dengan LAN dan
spesifikasi komputer terbaik dengan aplikasi terkini, ruangan kelas
eksklusif ber-AC dilengkapi dengan sound system serta projector, setiap
komputer untuk satu orang, skills card untuk melaksanakan test ICDL dan
mendapat sertifikat ICDL yang bertaraf internasional.
Khusus untuk program pendidikan terpadu, setiap mahasiswa alumni akan
langsung dikaryakan. Misalkan saja, alumni Program Pendidikan Pertanian
Terpadu (P3T) langsung dikaryakan untuk mengelola lahan di Ma’had Al-Zaytun
dan menangani koperasi simpan pinjam yang bekerjasama dengan masyarakat
desa sekitar Ma’had Al-Zaytun, serta memberikan penyuluhan untuk
peningkatan hasil pertanian masyarakat desa sekitar.
Dalam waktu dekat, Ma’had Al-Zaytun akan mendirikan “Ma’had Asas” di
setiap Propinsi di Indonesia, yang menyelenggarakan pendidikan dasar
modern, dan dirancang sebagai resources utama santriwan/wati Ma’had Al-Zaytun
di kemudian hari. Ma’had Asas pertama yang kini sedang dalam proses
pembangunan adalah Ma’had Asas di Dati II Subang dan Dati II Gresik.
Proses pembelajaran dilakukan dengan mengguna-kan bahasa Indonesia, akan
tetapi ada beberapa mata pelajaran yang diberikan dalam bahasa Arab dan
Inggris.
Asrama
Para santri tinggal di asrama (Residence Halls) yang sudah disediakan.
Pada setiap gedung asrama terdapat 170 ruang berukuran 72 meter persegi
yang dihuni oleh 10 orang santri/wati atau mahasiswa, ruangan ini
dilengkapi dengan almari pakaian, meja meeting, tempat tidur beserta kasur
(dari bahan pilihan) untuk 10 orang, kamar mandi dan toilet 3 units,
perpustakaan kamar berisi buku-buku wajib.
Gedung asrama didukung oleh berbagai fasilitas yang terdiri dari rumah
makan, kitchen, dan laundry. Untuk setiap unit asrama memiliki ruang makan
dengan kapasitas 2.000 santri makan sekaligus dan sudah dibangun tiga buah
ruang makan. Gedung serba guna yang diberi nama Gedung Al-Akbar terdiri
dari 2 lantai bangunan. Lantai 1 untuk 3 ruang makan santri yang disatukan
dan lantai 2 untuk ruangan serba guna.
Kitchen dan laundry dengan bangunan masing-masing 1.200 m2 dilengkapi
dengan peralatan yang modern. Barangkali sebagai sebuah pesantren, Ma’had
Al-Zaytun adalah satu-satunya pesantren yang mempunyai fasilitas kitchen
dan laundry sets seharga 1 juta dollar, yang mampu menampung kebutuhan
khusus untuk itu, bagi 12 ribu lebih penghuni Ma’had Al-Zaytun. Peralatan
modern tersebut dibeli dari ElectroLux Swedia, dan merupakan satu satunya
peralatan termodern yang pernah dipasarkan oleh ElctroLux di Indonesia.
Selama bersekolah dan tinggal di asrama, para santri harus menaati
peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Selama jam sekolah tidak
diperkenankan seorang pun berada di asrama. Masuk jam istirahat/makan
snack, para santri tidak perlu ke kantin sebab setiap kelas sudah
disiapkan snack-nya masing-masing. Begitu pula pemberlakukan jam malam.
Selepas jam 10 malam, semua lampu kamar asrama harus dimatikan dan para
santri beristirahat.
Dengan adanya peraturan ini, para santri menjadi tertib dan tidak
berkeliaran. Untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan narkoba, setiap
santri yang ingin keluar dari atau masuk ke Ma’had Al-Zaytun diharuskan
mengikuti tes narkoba. Apa-bila didapati hasilnya positif mereka akan
dipulangkan atau dikeluarkan dari Ma’had Al-Zaytun. Di samping itu, Ma’had
Al-Zaytun juga tidak mengijinkan semua penghuni untuk merokok. Syarat
tidak merokok ini menjadi salah satu syarat yang diberlaku-kan untuk semua
santri dan karyawan bahkan pengunjung. Area bebas rokok adalah salah satu
ciri khas Ma’had Al-Zaytun.
Tujuan Wisata
Pada usianya yang belum genap lima tahun sebagai lembaga pendidikan
formal, Ma’had Al-Zaytun telah menjadi salah satu tujuan ziarah (wisata).
Boleh dikatakan bahwa tak satupun Pondok Pesantren di Indonesia, yang
mampu berfungsi sebagai pusat tujuan wisata seperti halnya Ma’had Al-Zaytun.
Data statistik yang dihimpun, menunjukkan angka 557.074 wisatawan domestik
dan 753 wisawatan internasional yang berkun-jung ke Ma’had Al-Zaytun,
sejak diresmikan oleh mantan Presiden RI Prof Dr Ing BJ Habibie Agustus
1999 sampai dengan Juni 2000. Pada hari-hari libur seperti Sabtu, dan Ahad
serta hari-hari besar Republik Indonesia, pengunjung biasanya lebih dari
rata-rata hari biasa, yakni 1.500-3.000 pengunjung.
Mereka terdiri dari berbagai lapisan masyarakat seperti para guru besar,
mahasiswa, siswa/santri, anggota perkumpulan ibu-ibu di kantor-kantor
pemerintah, jamaah pengajian, sampai dengan kehadiran beberapa pejabat
dari mancanegara, antara lain dari Palestina, Yordania, Arab Saudi, dan
tentu saja pengunjung Malaysia termasuk duta besarnya.
Termasuk di dalamnya berbagai tokoh nasional baik sipil maupun militer,
misalnya Abdullah Mahmud Hendro Priyono, Adi Sasono, para tokoh mantan
pejabat Orde Baru, misalnya Haji Harmoko, Jenderal Syarwan Hamid, Dr.
Saadillah Mursyid, Dr Hayono Suyono, Haji Ismail Saleh, Ir. Akbar Tanjung
dan beberapa tokoh Golkar lainnya. Bah-kan terdapat beberapa gedung dan
fasilitas pembelajaran lainnya yang diberi nama dengan nama-nama tokoh
Golkar, misalnya gedung Olahraga Al-Akbar, Palagan Agung (Drs. Agung
Laksono).
Konstribusi Ma’had Al-Zaytun terhadap masyarakat desa Mekarjaya juga
menjadi prioritas utama. Antara lain dengan membangun balai desa Mekarjaya,
membangun jalan dengan kualitas yang sama dengan yang ada di dalam kampus
sepanjang 5 km, dan penertiban adminis-trasi pemerintahan desa Mekarjaya.
Di samping itu, Ma’had setiap bulan mem-berikan sumbangsihnya kepada
negara berupa pajak PPN setidaknya sejumlah antara Rp.1-2 milyar. ►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|