ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 

 


 
  C © updated 03032004  
   
  ►e-ti/  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

==   1    3       8   9   10   11   12   13   14   15   ==

English Version

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (7)

Wawancara (2):

Zone of Peace and Democracy

"Manusia itu dipersiapkan untuk menjadi dirinya di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir, punya bajik dan bijak, sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan bangsa-bangsa lain."
 

M-TI: Kehidupan berkeluarga Syaykh?

SYAYKH: Biasanya orang bertanya, berapa istrinya seorang yang memangku pesantren? Istri saya dari sejak pertama sampai hari ini, itu-itu juga.

M-TI: Peranan istri Syaykh bagaimana?

SYAYKH: Sangat membantu.

M-TI: Ada satu tadi dari pernyataan Syaykh, di mana ketika sekolah di Gontor sempat dipukul dan dicukur rambut oleh guru, bagaimana ceritanya?

SYAYKH: Waktu saya sekolah di sana, ada guru yang suka nempeleng. Nanti jangan dikatakan bahwa di Gontor pendidikannya begitu, nggak boleh. Tapi, ada guru yang suka menempeleng, itu yang mengajari kita untuk mengatakan dan berbuat “engkau jangan seperti itu tatkala kau jadi guru.”

Di sini, di Al-Zaytun, hal itu diterapkan. Bebas, sebebas-bebasnya, namun berdisiplin setinggi-tingginya.

M-TI: Melaksanakannya barangkali yang tidak mudah?

SYAYKH: Sangat mudah. Bangsa Indonesia ini bisa diajak berpikir dan berbuat seperti itu. Di sini, tidak dibiasakan merokok dan sejak awal diambil langkah-langkah pencegahan yang bisa mendekatkan masuk dalam narkoba. Sebab keluar atau masuk pesantren selalu kita test.

Dulu, kami di sekolah itu bebas merokok dan akibatnya kita rasakan sekarang. Jika dulu dari sekolah tidak merokok, mungkin sehat badan ini. Untung cepat kita sadari bahwa merokok itu cuma menyusahkan jantung dan paru-paru. Pengalaman itu kita tularkan ke anak-anak kita. Para karyawan juga syaratnya begitu. Sanggup tidak merokok boleh jadi karyawan. Ternyata dunia tanpa rokok itu nikmat. Paling tidak bebas bernafas.

M-TI: Bagaimanapun, memang Gontor itu telah banyak menghasilkan orang-orang berhasil ya?

SYAYKH: Ya, saya dari situ. Sekolah enam tahun dari sana. Anak saya yang pertama sampai yang keempat keluaran sana.

M-TI: Mungkin Al-Zaytun-lah yang menjadi lembaga pendidikan model baru untuk masa depan Indonesia?

SYAYKH: Kita tidak mengatakan seperti itu, tapi pendidik harus punya jiwa inovatif. Tidak boleh mengatakan cukup, tidak boleh mengatakan sukses.

M-TI: Bangsa ini kelihatan kurang inovasi sehingga menjadi pembeli sampai sekarang, bagaimana menurut Syaykh?

SYAYKH: Itu karena diawali dari pendidikan yang tidak ditanamkan rasa entrepreneurship yang tinggi. Makanya penyelenggara pendidikan dan peserta didiknya bercita-cita untuk menjadi pegawai bukan bercita-cita untuk mempunyai pegawai sebanyak-banyaknya, seperti yang kita cita-citakan di sini.

M-TI: Sehubungan dengan kurikulum dan sistem, mencetak manusia yang bagaimana cita-cita para pendiri dan para sahabat yang mengelola Al-Zaytun ini?

SYAYKH: Kita tidak ingin mencetak. Manusia tidak boleh dicetak. Manusia itu dipersiapkan untuk menjadi dirinya di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir, punya bajik dan bijak, sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan bangsa-bangsa lain.

Itu saja yang kita bekalkan pada mereka dan mereka nanti akan berinovasi pada zamannya. Dan itu pula yang dicita-citakan bangsa di dunia. Sehingga nanti kita bertemu yang namanya ‘International Setting’ karena cita-cita seperti itu merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir kita, ‘International Thinking’. Cara solidaritas kita, ‘International Solidarity’. Tatanan hidup kita, setingnya, ‘International Setting’.

Barangkali itulah yang dinamakan hidup global dan itulah yang dinamakan globalisasi. Kekuatan nasional, namun kita mampu mengakses kehidupan antar bangsa.

M-TI: Jadi globalisasi tahun 2020 itu sudah diantisipasi Al-Zaytun?

SYAYKH: Sebenarnya kita tidak mengantisipasi 2020. Itu hanya fase langkah. Tahun 2020 itu kita persiapkan seperti ini, seperti itu. Tentunya ini bukan hanya 2020 saja, tapi hanya sebuah proses. Kata orang, step by step.

M-TI: Kita lihat di workshop dan lainnya dibangun sedemikian rupa sampai segala sesuatunya mesti diciptakan di sini?

SYAYKH: Itu adalah mengekspos sebuah laboratorium alam. Kita ciptakan itu sebagai lab alam untuk diekspos ke benak anak-anak. Kita dulu diekspos oleh orang tua untuk jadi guru pemberantasan buta huruf saja, kita kemudian berinovasi, oh… nanti begini, begini, begini. Nah ini kita ekspos seperti itu. Zaman kita ini sudah sangat jauh dengan awal abad 20. Awal abad 20 sudah sangat jauh dengan awal abad 21 ini.

Kita ekspos seperti itu, nanti dalam benaknya dia berinovasi. Dulu kami buat sendiri itu yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Kita buat, ilmu ada, pengalaman ada. Maka pada zamannya, dia akan bersikap seperti itu.

Negara Indonesia, negara agraris, dan kita menjadi seorang yang sangat ketergantungan, mengapa kita tidak buat sendiri? Kita sudah bisa berinovasi. Sehingga kalau menjadi petani, seperti petani Amerika. Kita harus melihat petani Amerika yang jumlahnya sangat sedikit. Cuma 3 juta atau hanya 2,7% dari jumlah penduduk usia kerja, tapi mereka mampu memberi makan dengan perbandingan 1 petani untuk 411 orang. Jadi 3 juta petani Amerika mampu menghidupi 1,3 milyar manusia di dunia. Hal tersebut bisa terwujud karena satu petani menghasilkan 74 ton biji-bijian untuk dimakan manusia.

Sedangkan petani Indonesia yang jumlahnya 42,5% dari tenaga kerja usia kerja yang jumlahnya 40 juta lebih, cuma bisa menghasilkan 1,48 ton seorang petani. Jadi 74 ton berbanding 1,48 ton, atau 50 berbanding 1.

Mengapa begitu? Padahal pengalaman berbangsanya sama, mereka dulu menggali tanah dengan kuda, kita di sini dengan kerbau. Ternyata karena dibekali ‘knowledge’ maka dia menjadi ‘knowledge worker’.

M-TI: Jadi itulah sebabnya di Al-Zaytun dibuat suasananya seperti itu?

SYAYKH: Paling tidak kita tampilkan, seperti ini kamu bisa menghasilkan 74 ton. Kalau seperti itu hanya bisa menghasilkan 1 ton. Diekspos begitu saja dulu. Dan ternyata bisa dibuat. Maka kita tata, supaya tanah ini mampu menghasilkan sekian ton. Bagaimana mengolahnya, kita buat konsolidasi lahan, air harus ada terus sepanjang tahun. Kita menanam tidak selamanya biji-bijian tapi kadang rumput-rumputan. Rumput pun kita tingkatkan proteinnya, sehingga nanti hewan memakannya. Makanannya rumput, tidak kanibal, sehingga jauh dari sapi gila, dan sebagainya. Itu cuma diekspos saja dulu.

Amerika juga dulu begitu, tatkala dihina oleh Jerman yang mengatakan “Amerika tidak bisa berbuat apa-apa” pada awal Perang Dunia Pertama. Mereka mendengar hinaan itu, dikerahkan semua bangsanya, membuat kapal selam, ternyata bisa, dan menjelajah seluruh Afrika, Amerika dan Asia. Dan kemudian menang pada Perang Dunia kedua. Mengapa kita tidak belajar itu?

Kemudian tatkala Jepang pada tahun 1945 menyerah pada sekutu. Pertanyaan Sang Kaisar bukan berapa tentara yang masih ada, tapi guru tinggal berapa. Kaisar memikirkan pendidikan. “Seperti apa sih supaya bisa menyamai mereka yang mengalahkan kita?” Itu yang ada dalam pikiran Kaisar.

M-TI: Kesadaran seperti itu kelihatannya masih sangat jauh pada pemimpin bangsa ini.

SYAYKH: Kita tidak harus sama-sama sadar baru berbuat. Tatkala kapal mau tenggelam, harus ada satu yang berani tidak tenggelam. Jangan semua mau tenggelam. Kalau semuanya tenggelam selesailah kapal kita ini. Jangan nunggu rame-rame.


Mau menumbangkan bupati saja, seluruh guru meliburkan sekolah. Anak disuruh demonstrasi, guru disuruh demonstrasi, pastur disuruh demonstrasi, kyai disuruh demonstrasi. Ini berpikiran yang belum sehat.

Padahal seorang guru menghadapi gubernur atau bupati cukup dengan diplomasi guru. Guru ‘kan punya Metodik Didaktik. Untuk menaklukkan murid yang bodoh saja bisa pintar, apalagi bupati yang sudah pintar. Kita kan punya Didaktik dan Metodik, jangan-jangan dengan senyum saja sudah selesai. Mengapa harus berpekan-pekan meliburkan di luar hari libur sekolah. Ini sudah kebiasaan yang tidak bisa ditolerir. Guru merusak sistem hanya alasan menjatuhkan bupati. Itu bukan area atau domain guru. Domain guru adalah mendidik, libur sesuai dengan waktu libur yang disepakati, itulah sistem. Guru melanggar sistem, dunia ini hancur. Contohnya yang di Kampar itu.

M-TI: Bagaimana kriteria nilai yang ingin diciptakan bagi seorang santri di Indonesia ini, bukan cuma kecerdasan intelektual, tapi emosi dan spiritualnya?

SYAYKH: Cerdas itu menyangkut pada intelektual, emosional dan spiritual. Kita gerakkan itu di sini. Itu yang ingin kita capai. Bangsa Indonesia nilainya harus seperti itu. Kemudian ia harus bajik dan bijak. Orang bajik dan bijak itu bisa memposisikan dirinya pada kondisi apa pun. Tidak usah terlalu diurai dengan harus berakhlak mulialah dan segala macamnya, itu terlalu retorik. Ia mampu memposisikan dirinya pada saat apa pun karena mempunyai kebajikan dan kebijakan.

M-TI: Visi Syaykh sebagai warga bangsa, melihat bangsa dan negara kita. Seperti apa negara ini maunya dalam benak atau sudut pandang Syaykh.

SYAYKH: Bangsa kita ini sampai detik ini, 57% rural, dan 43% urban. Urbannya bangsa Indonesia ini bukan seperti urban yang ada di Singapura. Bangsa Indonesia urbannya masih tidak menghormati hukum, masih kurang memahami HAM, jiwa toleransinya kurang tinggi, cinta damainya makin tidak nampak. Di sana (Singapura –red) tidak seperti itu.

Di Indonesia, ramai-ramai meninggalkan pekerjaan yang terpaksa yaitu bertani, bukan karena kecerdasannya meninggalkan itu tapi karena memang tidak bisa bergerak. Ia laksana terendam lumpur sebatas leher sehingga ada ombak kecilpun sudah tengge-lam. Sehingga bertani ditinggalkan. Dia masuk ke kota, jadi masyarakat urban yang belum mengenal nilai urban yang sebenarnya, dan peradaban urban yang sebenarnya.

Ini yang harus ditata sebenarnya yakni pemerataan kualitas penduduk urban dan rural. Jadi rural development dan urban development dijembatani oleh pendidikan yang berkualitas. Sehingga antara rural dan urban sedikit demi sedikit akan mendekat karena sistem pendidikannya dan kualitas pendidikannya sama.

Hanya satu itu yang harus kita tempuh, karena ternyata tidak ada jalan kecuali melalui pendidikan. Kita katakan dan ciptakan pendidikan itu sebagai gula, ekonomi sebagai semut. Jangan kita ciptakan ekonomi sebagai gula dan kita semutnya, nanti sakit gula kita. Tapi kita ciptakan pendidikan itu gula dan ekonomi sebagai semut. Semut mendatangi orang yang terdidik, karena semut itu adalah makhluk yang mengerti kualitas dirinya terhadap gula, sehingga tidak pernah terkena sakit gula.

Nah, sekarang bangsa Indonesia, karena mendahulukan ekonomi sebagai gula kemudi-an kita semutnya, kita jadi banyak yang kena sakit gula. Sakit gula ekonomi, sakit gula jiwa. Gulanya kelewatan, akhirnya diamputasi.

Sekarang kita ciptakan gula itu sebagai pendidikan, ciptakan sebanyak mungkin pendidikan berkualitas. Simpanan atau invesment yang paling besar adalah manusia yang sudah punya knowledge. Itu dibentuk dari pendidikan.

Jadi pertama kali seperti itu. Baru nanti di-pecah. Pendidikan itu seperti apa? Diarahkan kemana? Maka kita buat sistem 3 jalur, jalur kiri adalah pencapaian yang tanpa batas, jalur kanan profesional khusus kejuruan, yang tengah bisa ke kanan bisa ke kiri. Maka nanti terjadilah tenaga kerja yang terdidik.

Karena negara kita ini negara agragris, maka produk andalan kita buat dari hasil pertanian, karena ke depan lebih dari 50% hajat dunia itu adalah produk pertanian. Kalau kita tidak siap dengan itu maka kita akan import. Dan tatkala import, maka kita akan dimakan oleh kekuatan yang sengaja mau menenggelamkan kita. Jadi arahnya nanti tepat, produk pertanian ini. Tapi dikelola oleh manusia yang terdidik, tenaga mahir, jangan seperti sekarang ini.

Tadi ‘kan ukurannya cuma 1 petani menghasilkan 1,48 ton. Petani Amerika menghasilkan 74 ton itu baru biji-bijian, belum termasuk yang lain-lain, belum sapi, belum susu, belum telur, belum ayam. Jadi produk pertanian ini harus ditingkatkan, tentunya nanti kiblatnya bukan kiblat green revolution. Walaupun green revolution itu mempunyai makna besar dalam menata, menghilangkan kelaparan, tapi kita jangan itu.
Abad knowledge, masuk pada gen revolusi. Karena sudah terdidik masuk gen revolusi, dia akan menggetarkan dunia melalui kemampuan knowledge tadi. Dan itu tidak lama kalau dipersiapkan, 2020 sudah tercapai itu.

Jadinya nanti kita sudah mampu mencipta, “Ayo petani, ciptakan sapi Indonesia!”—”Oh boleh”. “Mau seperti apa?” Katakan, “saya minta merah putih di jidatnya”, ini bisa sudah ada gen revolusi. “Oh, saya mau merah putihnya di sebelah kanan ini, saya mau di dadanya”. Terangkan pada anak terdidik tadi. Tatkala kita mampu memberi sumber pakan yang cukup pada hewan, maka dengan sendirinya pangan yang aktual untuk bangsa ini akan tenang.

Sekarang semua sudah impor, padahal yang lain-lain kita juga belum mampu menyediakan. Singapura boleh impor karena dia punya kekuatan yang lain. Di sini kita punya kekuatan alam, tapi masih impor.

Kita harus sangat dekat ke masyarakat desa, untuk ditata pendidikannya, ditata perikehidupannya untuk didekatkan ke masyarakat kota. Sehingga tidak ada kecemburuan sosial masyarakat kota dan desa. Dan pelan-pelan desanya menjadi kota, kotanya seperti masyarakat desa. Dan akhirnya Indonesia yang sangat luas ini menjadi berekosistem. Dan itu bisa kita buat bersama. Kita punya cita-cita yang sama.

M-TI: Al-Zaytun sudah melaksanakan-nya, tapi negara ini sendiri kelihatannya masih belum, bagaimana ya?

SYAYKH: Negara ini kan milik rakyat. Tatkala rakyat ini sudah cerdas, ya negara pasti juga cerdas. Negara itu bukan milik seseorang.

M-TI: Mudah-mudahan Al-Zaytun – Al-Zaytun yang lain lahir?

SYAYKH: Oh… tidak Al-Zaytun! Bangsa Indonesia ini jangan dijadikan Al-Zaytun, tapi jadikan bangsa Indonesia. Al-Zaytun, sebagian dari bangsa Indonesia. Nanti menjadi negara Al-Zaytun. Ini baru berdiri saja sudah dituduh macam-macam.

M-TI: Barangkali, sudah banyak yang studi banding ke sini?


SYAYKH: Banyak sekali. IPB praktek lapangannya di sini dan guru-gurunya yang terbagus mengajar di sini. Di sini mereka merasa punya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya karena diberi kebebasan. Sesuatu yang belum dibuat di IPB sudah dibuat di sini.

Di IPB misalnya, belum mengembangkan yang namanya embrio transfer, di sini sudah berhasil melakukan embrio transfer. Di IPB belum mengembangkan bibit sapi unggul, di sini sudah dikembangkan dan sudah disebar, padahal tenaganya sebagian dari sana juga. Di sana tidak digunakan, sedangkan disini disuruh gerak, kalau mau lari-larilah, kalau mau lompat-lompatlah, asal jangan patah kakinya. Akhirnya penuh dengan persiapan dan kompetensi.

Bagaimana dananya? Gampang, setiap melompat ada harganya. Kalau kita tidak bisa menghargai, orang masih menghargai. Ada lompatan ini, itu, orang memberi apresiasi, oh ini sekian, itu sekian, kita bagi, yang melompatpun dapat. Jadi nggak susah dana itu, yang susah itu kalau kita tidak pernah berpikir mendanai ini.

Tiap hari, 3.500 sak semen yang harus kita buang di sini. Kalau dihitung sak, sebanyak 3.500 sak, tapi karena pakai kapsul itu, jadi pakai ton saja. Maka segala sesuatu yang ada di sini dihargai semen, orang nginap di sini 10 sak semen. Kalau orang mata duitan, kita mata semenan. Masalahnya di sini yang berguna bukan uang tapi semen, besi. Kalau orang mau bantu, jangan bantu duit tapi bantu semen, besi dan kayu.

Di sini, pupuk ternak (kotoran) itulah yang jadi produk sebab kita memerlukan yang cuma-cuma kan? Anak ini harus dikasih makan cuma-cuma. Nah, kalau itu kita nilaikan uang, ‘kan tinggi. Daging cuma-cuma. Maka di balik, ini poduknya adalah pupuknya, bukan limbah. Kita namakan pupuk biar terhormat.

Karena abad kita ini sudah bukan kimia lagi tapi organik, maka pupuk kita di sini organik 100%. Hanya untuk memacu kecepatan, kita kasih sekian persen pupuk non organik. Itulah yang bisa membuat daging di sini sangat murah. Di sini, jeroan tidak kita sajikan ke anak-anak, kita kirim ke kampung, di pasar harganya Rp 15.000-an, di sini Rp. 2.000 – 3.000. Penjagal di sini bertanya kok bisa begitu? Yah… di sini makanan murah, makanan lembu ditanam sendiri, jadi kenapa dijual mahal-mahal. Di sini susu murah nggak beli. Kalau minum selama di dalam Al-Zaytun boleh, kalau dibawa pulang bayar.

M-TI: Indonesia bisa nggak bikin begini?

SYAYKH: Sangat mungkin. Bangsa Indonesia ini kaya. Cuma nunggu menejer saja, memenej kekayaan bangsa ini.

M-TI: Terimakasih atas keterbukaannya?

SYAYKH: Terima kasih juga Anda sudi datang ke mari, tapi saya meminta jangan mengatakan beda aliran. Tuhan kita sama, udah selesai. Anda beriman kita beriman, itu kesamaannya. Nggak usah dikatakan benar tidak benar. Yang tahu benar itu cuma yang di atas sana (Tuhan). Yang penting kita praktekkan kebenaran, kita berjalan pada nilai-nilai kebenaran, nanti yang di atas sana yang akan menilainya. Indonesia kalau sudah begitu, udah beres. Karena kita majemuk. Kalau tidak begitu, susah. Justru saya yang minta Anda jangan pakai istilah beda aliran. Aliran kita sama karena kita sama-sama ciptaan Tuhan. Itu konsep Ilahinya. ►atur-juka-crs KEMBALI

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero