mum, gampang. Kami mengajak Anda, Anda suka, ‘kan jadi?
Kami mengajak Anda, jika Anda belum suka, besok didatangi lagi. Ya…begitu
sampai dia suka dan ikut. Maksudnya ikut bersama-sama dalam pendidikan ini.
Dalam hal ini, termasuk Anda juga terpanggil dengan program ini sehingga
Anda datang dengan bahasa yang indah seperti kita dengar tadi. Ini juga
suatu kebersamaan. Ternyata Anda ingin menampilkan Al-Zaytun ini. Apalah
artinya seorang Panji Gumilang, seorang Abdul Halim, seorang Nurdin Tsabit.
Tapi Anda ingin menampilkan Al-Zaytun ini berarti menampilkan karya bangsa
Indonesia.
M-TI: Apa yang Syaykh lihat dari sosok seorang guru sehingga begitu
tertarik menjadi guru?
SYAYKH: Saya tidak bisa menjawab kalau
ditanya itu. Tapi ketika masih kecil, ada pemberantasan buta huruf (PBB)
antara tahun 1952 atau 1953, saya waktu itu masih SR. Ketika itu, begitu
pulang sekolah, ditanya orang tua, “Kamu diajar apa tadi?”
Saya jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to,
mo, ho,…”. Jadi di Jawa dulu bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan
seterusnya.
Orang tua tanya lagi, “kamu sudah bisa nulis?”
Kita jawab, “Bisa Pak”.
“Nanti malam mengajar kamu ya…!” kata beliau. Disuruh mengajar
pemberantasan buta huruf orang-orang yang sepuh-sepuh itu. Itu terasa enak,
pagi-pagi ditanya pak guru, disuruh menulis, saya bisa. Orang yang kita
ajak bicara tatkala kita belajar pun senang (tatkala mengajar PBB), karena
belajar pada orang yang belum bisa memarahi kekurangan orang tua. Belajar
dengan beliau-beliau sama saja mengulang pelajaran dari kelas. Dulu kalau
dapat nilai 10 atau 9, tempel di pipi, lapor pada orang tua, “Pak! ini 9”.
Dari situ keluar rasa senang jadi guru. Bisa pintar ternyata jadi guru,
karena kita masih sekolah, jadi merasa bisa belajar. Beliau-beliau kita
tanya, “Pak! Bisa?”, dijawab, “Bisa karena kamu yang ngajar”. Jadi cerita
awalnya seperti itu dan masih terngiang sampai hari ini. Guru yang
mengajar kita itupun masih hidup. Kadang kalau Lebaran, kami datang,
beliau masih teringat. “Dulu kamu yang mengajar PBB di saat kelas satu SR
Ya?” kata beliau.
M-TI: Masihkah Syaykh terlibat aktif sebagai guru?
SYAYKH: Sampai hari ini saya mendidik.
Ketika sekolah di IAIN, saya membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu kita
namakan Darussalam. Saya mengajar di Madrasah yang kita buat juga di
sekolah lain yang berdekatan dengan Madrasah itu. Jadi malamnya mengajar,
pagi sekolah. Hingga hari ini saya adalah seorang guru. ►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
| Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |