| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 ==
►
English Version
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (11)
Pembawa Damai dan Toleransi
Pemimpin Ma’had Al-Zaytun ini adalah seorang beriman pembawa damai dan
toleransi. Di pondok pesantren modern ini, dia telah mengembangkan budaya
toleransi dan perdamaian. Bukan hanya dalam teori, wacana atau slogan,
tetapi dalam aplikasi dan keteladanan. Sebagai pemangku pendidikan
pesantren, dia selalu menunjukkan keteladanan dalam membimbing santrinya
untuk membina persaudaraan dengan siapa pun tanpa membedakan asal-usul dan
agamanya.
Tidak banyak, bahkan mungkin belum ada, pemimpin pondok pesantren yang
secara khusus mencetak kartu ucapan Selamat Natal untuk dikirimkan kepada
para pendeta dan pimpinan gereja, baik yang sudah dikenal maupun belum
dikenalnya. Bahkan sebaliknya, justru ada ulama yang mengharamkannya.
Pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 berdarah Madura dan Bugis bernama
lengkap Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang ini sejak masih belajar
di Pondok Pesantren Modern Gontor, sudah mengimpikan berprofesi sebagai
guru yang tanpa kekerasan. Dia tidak suka kekerasan. Dia ingin Indonesia
memasuki zona damai dan demokrasi. Dalam perjuangan yang panjang tak kenal
lelah, pada usia memasuki lima puluhan tahun, lulusan Institut Agama Islam
Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini berhasil mewujudkan impiannya
membangun sebuah lembaga pendidikan pesantren spirit but modern system.
Yakni, Ma’had Al-Zaytun yang bermotto: Pusat Pendidikan dan
Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian. Sebuah motto yang
merupakan padanan dari visi dan obsesi dirinya sendiri bersama
sahabat-sahabatnya. Dia berobsesi dari Ma’had Al-Zaytun memancar
persaudaraan, toleransi dan perdamaian ke seantero Indonesia Raya bahkan
ke seluruh penjuru dunia.
Patutlah para sahabatnya, tidak kecuali sahabat yang nonmuslim,
menyebutnya seorang tokoh pembawa damai dan toleransi. Pendeta Rudolf
Andreas Tendean, yang baru saja memimpin rombongan Keluarga Besar Gereja
Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jakarta, berkunjung ke
Ma’had Al-Zaytun, adalah satu dari sekian banyak orang yang merasakan
bagaimana sosok Syaykh Abdussalam Panji Gumilang membawa damai dan
toleransi dalam komunikasi, pergaulan dan persahabatan mereka.
Adalah Syaykh Panji Gumilang yang memulai (berinisyatif) menyebar damai
dan persaudaraan dalam persahabatan mereka. Manakala, dia mengirim kartu
ucapan Selamat Natal kepada sejumlah pendeta dan pimpinan gereja. Kartu
Natal yang menjadi awal berkembangnya damai dan toleransi sehingga kedua
umat beriman itu saling mengunjungi dan saling memahami.
Taiwan dan Amerika
Bukan hanya kali ini Syaykh Panji Gumilang mengambil inisyatif damai,
toleransi, persaudaraan dan persahabatan. Persahabatan yang kental juga
telah lebih awal dijalin oleh Syaykh dengan komunitas Taiwan di Indonesia.
Ditandai kunjungan Kepala Kantor Perwakilan Dagang dan Ekonomi Taiwan di
Indonesia sejak dipimpin oleh Mr. Sui Chi Lin hingga pejabat yang baru Mr.
David Y.L. Lin. Kantor itu, merupakan kantor perwakilan negara Taiwan,
setingkat dengan kantor duta besar, di Indonesia. Oleh karena masih
terdapat perbedaan sikap pandang politik antara RRC dan Taiwan (yang dulu
disebut China Taipei) hal itu membuat pemerintah Indonesia yang menjalin
hubungan diplomatik dengan keduanya berada pada posisi sulit.
Persahabatan dengan komunitas Taiwan ini, bermula pada tahun 1997 dari
pertemuan Syaykh AS Panji Gumilang dengan dua orang pengusaha Tionghoa,
yakni Mr. Liang dari Taiwan, yang kemudian di Ma’had Al-Zaytun dianugerahi
nama Luqman, dan Mr. Hendra. Waktu itu, terjadi kerusuhan yang membuat
banyak warga etnis Tionghoa menjadi korban dan ketakutan. Syaykh membuka
tangan untuk memberikan perlindungan kepada keduanya.
Ketika itu, Syaykh AS Panji Gumilang menjamin: “Selama Anda di Ma’had
Al-Zaytun tidak akan ada yang menyentuh.” Tak dinyana, ternyata sikap
persahabatan yang ditampilkan Syaykh ketika itu mengalirkan simpati yang
mendalam dari komunitas bisnis Taiwan terhadap Ma’had Al-Zaytun. Sejak
itulah, persahabatan antara kedua komunitas terjaga hingga kini.
Saling mengunjungi antarsahabat pun terjadi berulang-kali. “Mari kita
bangun Indonesia bersama-sama, Indonesia memerlukan sahabat-sahabat dari
Tionghoa dan Tionghoa pun memerlukan sahabat-sahabat dari Indonesia,” ajak
Syaykh AS Panji Gumilang di hadapan komunitas bisnis Taiwan di Cirebon
pada peringatan Imlek Tahun Baru Cina beberapa waktu lalu.
Dalam serangkaian pertemuan antara jajaran pimpinan MAZ yang dipimpin
oleh Syaykh AS Panji Gumilang dan Mr. David Lin untuk menyambung tali
persahabatan antar kedua lembaga telah terjadi sinergi positif yang pada
saatnya nanti akan sangat bermanfaat bagi kedua lembaga, baik itu secara
politis, kebudayaan maupun ekonomis.
Seperti pada kunjungan Mr. David Y.L. Lin dan rombongan ke MAZ pada 11
Maret 2004. Secara bersahabat mereka diterima dalam suatu acara yang
dihadiri ribuan civitas akademika Ma’had Al-Zaytun di Gedung Al-Akbar.
Pada kesempatan itu, acara diselingi dengan hiburan tarian Liong. Kemudian
dilakukan dialog lanjutan di Conference Room Wisma Tamu Al-Ishlah.
Pada ketika itu, Syaykh AS Panji Gumilang membuka peluang
selebar-lebarnya bagi para komunitas bisnis Taiwan untuk ikut serta
mengembangkan bisnis pada lahan-lahan yang dimiliki oleh YPI-Ma’had Al-Zaytun.
Juga dibicarakan tindak lanjut pengembangan bahasa Mandarin di Ma’had Al-Zaytun
yang pernah dirintis semasa Kantor Perwakilan Taiwan dipimpin oleh Mr. Sui
Chi Lin.
Mr. David Lin dan para pemuka komunitas bisnis Taiwan (Taiwan
Bussines Club) di Indonesia itu pun merespon dengan mengemukakan
kemungkinan-kemungkinan kerja sama yang bisa segera diwujudkan. Mr. David
Lin berjanji akan mendorong setiap warganya di Indonesia, baik itu yang
bergerak di bidang industri, agribisnis atau pendidikan, untuk
menyumbangkan pikiran, tenaga dan modal bagi kemajuan Ma’had Al-Zaytun.
Begitu pula persahabatan dengan John Rath, Second Secretary
Kedutaan Besar AS yang juga sebagai Atase Politik AS, bersama rombongan
berkunjung dan berdoa di Ma’had Al-Zaytun. John Rath, Atase Politik negara
adi daya, itu ketika berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun bertutur, masyarakat
Amerika tetap ingin bersahabat dengan Indonesia. Bahkan John Rath berdoa
di dalam bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin agar persahabatan Indonesia
dan Amerika selalu abadi. “Kami berdoa untuk kejayaan sekolah ini serta
orang-orang yang bersama sekolah ini, hari ini dan di masa yang akan
datang,” kata John Rath.
Perwakilan negeri Uncle Sam, negara adi daya, itu ternyata
tertarik untuk melihat dari dekat kampus ini. Pasalnya, di kedutaan AS
pihaknya banyak mendengar perkembangan Al-Zaytun yang menggabungkan aspek
modern dan tradisi Islam.
John Rath dan rombongan, tamu dari negara super power itu,
disambut dengan penghormatan yang layak di Ma’had Al-Zaytun. Para eksponen
Yayasan Pesantren Indonesia, guru, koordinator dan beberapa perwakilan
santri dari seluruh propinsi termasuk dari Malaysia dan Afrika, turut
menghadiri acara tersebut.
Sama seperti tamu-tamu lainnya, John Rath dan rombongan dibawa meninjau
ke seluruh fasilitas pendidikan dan ke pelosok kampus hingga melongok
penyimpan makanan alias cold storage. Tentu saja juga ke Masjid
Rahmatan lil ‘Alamin yang tengah dibangun. Masjid terbesar di dunia
berkapasitas 150 ribu jama’ah.
Di ruang tengah Masjid Rahmatan lil ‘Alamin, John Rath memanjatkan
do’a.”We thanks our Lord in this opportunity to come together, to
improve our friendship to hopefully built to ties our mutual understanding
and ritual friendship to the lasting hope live longer than all of us. We
thanks God for this opportunity visit this school, to so many people which
obiously take so much effort. God given a strength. We pray for the school
and we pray to the succes to the school and people who associated with the
school, today and the future. Our Lord, we ask for your blessing and also
to the wisdom, guidance, and the patience to perceive through very top
science and good science and we ask for your guidance to all things. Here
we pray. “
(Kami bersyukur kepada Allah karena kesempatan kebersamaan hari ini
untuk menumbuhkan persahabatan dan membangun pemahaman yang mutual,
termasuk persahabatan ritual yang akan berkelanjutan, yang usianya lebih
panjang dari pada usia kami semua. Kami bersyukur kepada-Mu ya Allah atas
kesempatan mengunjungi sekolah ini dan juga kepada mereka yang telah
bersusah-payah membangunnya. Allah telah memberikan kekuatan-Nya. Kami
berdoa untuk kejayaan sekolah ini serta orang-orang yang bersama sekolah
ini, hari ini dan di masa yang akan datang. Ya Allah, kami memohon
rahmat-Mu juga hikmah dan hidayah-Mu serta kesabaran untuk meraih sains
yang tinggi dan ilmu pengetahuan yang baik. Dan kami mohon petunjuk-Mu
untuk semua hal. Di sinilah kami berdoa”).
Sahabat Sejati
Memang, dalam pandangan Syaykh Panji Gumilang, persahabatan sejati akan
selalu menghasilkan manfaat bagi siapa saja, terutama bagi para pelakunya.
Apalagi jika persahabatan dikelola dengan cerdas, tulus dan bersahaja.
Menurut Doktor HC dari IPMA London ini, persahabatan adalah pintu masuk
terbaik untuk menuju perdamaian di muka bumi. Dengan persahabatan, katanya,
tak hanya perdamaian yang diperoleh, melainkan pintu kesejahteraan pun
menjadi terbuka lebar.
Bagi dia dan Ma’had Al-Zaytun, persahabatan bukan hanya sekadar kata
manis yang enak didengar. Tetapi, segenap civitas akademika Ma’had Al-Zaytun
telah membuktikan dalam pergaulan kesehariannya. Hal mana ma’had ini
senantiasa menjalin persahabatan dengan siapa pun yang mau tanpa memandang
perbedaan agama, kultur atau afiliasi politik.
Menurutnya, toleransi adalah akidah dalam beragama. “Pengakuan adanya
kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan Allah/God/Yahweh/Elohim, yang
disertai ketundukan itu, merupakan fitrah/naluri yang dimiliki oleh setiap
manusia. Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya pemberi
peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya, mereka adalah para nabi
dan rasul,” ujarnya.
Dia menjelaskan, perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut
iman, atau i’tikad, yang kemudian berdampak pada adanya rasa suka (rughbah),
takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain lain, itulah unsur
dasar al-din (agama). Al-din (agama) adalah aturan-aturan
atau tata-cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha
Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu syareat (aturan)
yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci,
baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat
dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia.
Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam
kehidupan manusia. Berbagai fungsi tersebut adalah: (i) menunjuki manusia
kepada kebenaran sejati; (ii) menunjuki manusia kepada kebahagiaan hakiki;
dan (iii) mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.
Dari hakekat dan fungsi agama seperti yang disebutkan itu, kata Syaykh
yang tetap setia kepada isterinya satu-satunya Khotimah Rahayu, maka
pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, telah memiliki strategi, metoda
dan teknik pelaksanaannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan
sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya.
Karenanya, dia mengingatkan, sebagaimana dipesankan dengan sangat oleh
sang Pencipta agama, kiranya ummat manusia tidak terjebak dalam perpecahan
tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu justru
bermotivasikan keagamaan.
Syaykh Panji Gumilang, ketika menyambut kunjungan Keluarga Besar Gereja
Protestan Indonesia bagian Barat, Jemaat Koinonia Jakarta, mengatakan
hendaknya semua umat manusia bertaqwa kepada Tuhannya agar mendapat berkat
dalam kehidupannya dan selalu terbimbing pada jalan-Nya dan berjayalah
mereka dalam kehidupannya.
Berkaitan dengan hal ini, pada kesempatan lain kepada Wartawan Tokoh
Indonesia, Syaykh Panji Gumilang mengatakan berinteraksi dengan jiwa
toleran dalam setiap bentuk aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup
(beragama) yang kita yakini. Menurutnya, kehidupan yang toleran justru
akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang kita yakini. “Segalanya
menjadi jelas dan tegas tatkala kita meletakkan sikap mengerti dan
memahami terhadap apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita
yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan pihak yang berbeda
(yang memusuhi sekalipun) kita bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya,”
ujarnya.
Dia pun mengutip dialog disertai deklarasi tegas dan sikap toleran yang
telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Q.S. 109: “Wahai orang yang
berbeda prinsip (yang menentang). Aku tidak akan mengabdi kepada apa yang
menjadi pengabdianmu. Dan kamu juga tidak harus mengabdi kepada apa yang
menjadi pengabdianku. Dan sekali-kali aku tidak akan menjadi pengabdi
pengabdianmu. Juga kamu tidak mungkin mengabdi di pengabdianku. Agamamu
untukmu. Dan agamaku untukku.”
Syaykh menjelaskan, sikap toleran membuahkan kemampuan yang sangat
signifikan dalam menetapkan pilihan yang terbaik. Mampu mendengar berbagai
ungkapan dan menyaring yang terbaik daripada semua itu.
Sikap toleran, jelasnya, juga melahirkan kemampuan mengubah perilaku
individu (self correction) terhadap pola yang selama itu dilakukan,
yang tak berdaya mengubah masyarakat tradisional, tertutup dan represif,
sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat dicapai. “Toleran, tidak
menciptakan individu yang wangkeng, yang tidak mau mengubah
perilakunya, walau tujuannya tidak tercapai. Secara apologi bersikap dan
mengatakan bahwa: Tujuan itu tidak tercapai karena belum waktunya, atau
nasibnya memang demikian dan tidak mau mengubah diri,” kata Ketua Alumni
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat ini.
Problem Solving
Sikap toleran, katanya, mampu menemukan jalan keluar dan problem
solving yang pantas dan mengangkat martabat dan harga diri dalam
berbagai bidang kehidupan. Prinsip dan pemahaman yang sama dikemukakannya
ketika menyambut Keluarga Besar GPIB Koinonia: “Al-Zaytun mendapatkan
ajaran dari Ilahi agar disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk
menyikapi satu sikap damai dan dan toleran. Al-Zaytun menjabarkan apa yang
dipesankan oleh Tuhan melalui para nabi-nabi-Nya, baik Nabi Nuh, Muhammad,
Ibrahim, Musa, Isa, tentang agama. Berfirmanlah Tuhan: aqimuddin wa laa
tataffarraqu fiihi. Tegakkan agama dari Tuhan ini dan jangan pernah
engkau bersengketa dalam memeluk agama itu.”
Dia pun menjelaskan ulang kata Koinonia, seperti diterangkan olh
Pendeta Rudy sebelumnya yang bermakna persaudaraan dan persahabatan.
“Al-Zaytun pun menciptakan perdamaian dan toleransi yang diterapkan
melalui pendidikan,” katanya. Ternyata pesan-pesan ini mengikuti apa yang
pernah dipesankan oleh Tuhan baik melalui Nuh, Muhammad, Ibrahim, Musa,
Isa dan kita penerusnya. “Alangkah indahnya sikap umat manusia tatkala
menyikapi keagamaan seperti apa yang kita lakukan pada hari ini,” katanya,
disambut tepuk tangan hadirin.
“Kita ingin sebagai bangsa Indonesia menerapkan semua makna dan pesan
Ilahi ini dipenetrasikan di dalam kehidupan keseharian berbangsa dan
bernegara. Alangkah indahnya jika bangsa Indonesia dari sejak dini
diperkenalkan cara hidup beragama yang tanpa perpecahan, persengketaan,
dan perselisihan yang mengatasnamakan agama itu. Ini pesan Ilahi yang
dijalankan oleh Al-Zaytun. Kemudian kita bersama-sama jemaat Koinonia
memulainya,” katanya.
Menurutnya, ini adalah laboratorium toleransi yang harus kita buat
antar kita semua dan kita ekspose kepada generasi muda Indonesia yang akan
meneruskan kepemimpinan bangsa di masa depan agar meneladani, mampu
mencontoh apa yang telah dibuat dan dicontohkan dalam laboratorium
persatuan dan kerukunan umat beragama di Indonesia melalui Al-Zaytun dan
Koinonia ini.
“Kami yakin anak-anakku semua, jika hari ini kalian jadikan satu
pelajaran kamu semua tidak akan melupakan pada saat kalian menjadi
pemimpin-pemimpin bangsamu kelak. Dua puluh tahun yang akan datang engkau
akan menjadi pemimpin di Indonesia ini, paling tidak memimpin dirimu
sendiri. Tatkala itu engkau telah mempunyai visi dan misi seperti yang
hari ini dipertontonkan oleh Gereja Koinonia dan Ma’had Al-Zaytun
bersama-sama dalam satu mejelis seperti ini. Alangkah indahnya, alangkah
indahnya,” katanya berseru kepada santri yang menyambutnya dengan tepuk
tangan.
Lebih lanjut, Syaykh mengatakan, mari kita jadikan peristiwa ini
sebagai satu laboratorium, bukan dalam skala penelitian tapi dalam skala
produksi perdamaian. “Kalau hanya skala penelitian bisa diterapkan dalam
kompleks yang 1.200 ha ini belum tentu bisa diterjemahkan di tempat-tempat
lain. Namun tatkata ini skalanya kita perluas menjadi skala produksi dalam
arti memproduksi perdamaian dan toleransi dan sikap saling mengenal,
saling bersaudara, antar umat beragama di Indonesia, kami yakin Indonesia
ke depan akan mempunyai penduduk yang mengerti keberadaan keagamaan di
Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini. Kami yakin seyakin-yakinnya,”
ujarnya optimis.
Untuk itu, serunya, hari ini kita mulai, besok kita perluas, lusa kita
teruskan dan jangan pernah berhenti menciptakan persahabatan, perdamaian
dan sikap toleransi di muka bumi ini. “Insya Allah, bangsa Indonesia akan
memulai dan akan menjadi contoh bangsa-bangsa di dunia jika kita mulai
hari ini dan tidak akan berhenti. Mari kita yang ada di ruangan ini
menanamkan sikap ini dan kita tularkan ke lingkungan bangsa Indonesia dan
akan menjadi eksponen. Eksponen adalah simbol yang perlu dicontoh, menjadi
uswah baik diri kita, baik bangsa kita dan mudah-mudahan bangsa-bangsa
lain seperti halnya tumbuhnya demokrasi di Indonesia,” seru Syaykh penuh
makna.
Ternyata begitu kita masuk dalam arena demokrasi, bangsa-bangsa lain
mempunyai penghormatan besar terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
Mengapa, kalau perdamaian persatuan kita pertontonkan dalam permukaan bumi
ini sehingga bangsa lain pun akan memberikan hormat yang
setinggi-tingginya dan meniru apa yang telah kita lakukan ini.
Domain Perdamaian
Mudah-mudahan dari titik ini, titik tanah Al-Zaytun digabung dengan
tanah Koinonia yang ada di Jakarta dan kita tarik garis ke kanan-ke kiri,
ke utara-ke selatan, ke timur-ke barat dan akan menjadi domain yang luas
dalam terciptanya perdamaian dan toleransi di muka bumi Indonesia ini.
“Ini sambutan sukacita kami kepada rombongan dan atas pimpinan Bapak
Pendeta Rudi Tendean. Terimalah sukacita kami ini demi keikhlasan hati
untuk persaudaraan dan persahabatan abadi di bumi Indonesia, di bumi Tuhan
semesta alam ini,” kata Syaykh pada bagian akhir sambutan selamat
datangnya kepada Jemaat GPIB Koinonia.
Sementara itu, pada sambutan pelepasan pada malam harinya, Syaykh
mengatakan: “Malam ini sungguh indah. Sangat bersyukur pada Allah, sekian
lama kita rindukan kebersamaan di Indonesia, malam ini, diawali dari sejak
pagi tadi, tercipta setitik kebersamaan, sebab Indonesia ini luas,
penduduknya besar banyak, lahannya sama dengan dari Istambul sampai ke
London begitu luasnya. Kalau kita tengok teritori yang ada di Al-Zaytun
ini laksana debu setitik di padang pasir yang begitu luas.
Namun, puji Tuhan, sehari ini kita makhluk yang sangat terbatas ini,
jumlahnya pun sangat kecil ini, telah diberkati oleh-Nya untuk menciptakan
suatu kebersamaan yang memang ini dianjurkan dan diperintahkan oleh Sang
Pencipta kebersamaan itu sendiri yakni Tuhan.
Patut disyukuri oleh hamba-hamba Tuhan, oleh makhluk Tuhan yang
beriman, mudah-mudah kita dipandaikan oleh-Nya untuk mensyukuri apa yang
kita lakukan sejak pagi tadi sampai malam ini dan kita jadikan titik tolak
untuk Indonesia Raya ini dapat tercipta persatuan dan kesatuan yang sampai
detik ini, persoalan yang satu ini masih selalu menjadi masalah yang
krusial, kata orang.
Tetapi ternyata kita mampu dan diberikan kekuatan oleh-Nya, oleh Tuhan,
untuk membuat sesuatu yang baru, sesuatu yang belum dilaksanakan banyak
orang dan di hari ini, hari Sabtu, kita memulai dan Insya Allah akan
dilaksanakan oleh banyak orang bangsa Indonesia.
Kita syukuri. Kalau tadi Pak Pendeta mengatakan tidak ada yang dapat
dikalimatkan, ternyata sama. Kami pun punya ungkapan seperti itu, susah
untuk mengalimatkan. Maka kalimat yang kita terangkan pagi tadi atau
tengah hari tadi sama, kita susah mengalimatkan kejadian ini. Pak Pendeta
pun susah mengkalimatkan kejadian ini. Inilah yang dinamakan kalimatun
sawa.
Maka indah betul nama yang kita pilih bersama untuk sebuah bangunan,
tempat kader bangsa dididik sebagai kenang-kenangan ke depan. Pak Pendeta
susah mengkalimatkan sesuatu keindahan ini, kemudian keluarga besar Ma’had
Al-Zaytun diwakilii oleh AS Panji Gumilang juga mengatakan susah
mengalimatkan. Maka kita menemukan kalimat yang sama, susah mengalimatkan.
Maka kita sebut saja, kalimatun sawa. Dan ini yang paling tepat dan
itu pesan Ilahi: Engkau mesti menyampaikan kalimatun sawa, ungkapan
yang sama, yaitu perdamaian, ungkapan yang sama yaitu persatuan, ungkapan
yang sama yaitu persaudaraan umat manusia tanpa terkecuali.” Demikian
Syaykh AS Panji Gumilang. ►atur-crs ►Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|