ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 

 


 
  C © updated 09092004  
   
  ►e-ti/atur  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
Ibu:

Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
 
 
     

==   1    3       8   9   10   11   12   13   14   15   ==

English Version

 

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (10)

Awalnya, Sepucuk Kartu Natal

 

Kisah persaudaraan ini bermula dari ketulusan hati Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang mengirimkan kartu ucapan Selamat Hari Natal ke berbagai gereja di bulan Desember 2003. Di Indonesia, sangat jarang ditemui bahkan hampir tidak pernah ada seorang pemimpin pondok pesantren melakukan hal ini. Tapi Ma’had Al-Zaytun yang memeterai-kan motto toleransi dan perdamaian, memulainya dengan tulus.

 

Di tengah gunjang-ganjing negatif yang terus menerpa Ma’had Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang beserta seluruh eksponen Ma’had Al-Zaytun melakukan sesuatu yang yang telah diajarkannya kepada para santri. Kepada para santri selalu ditekankan ucapkanlah selamat kepada para sahabat yang merayakan hari besar keagamaannya, seperi hari natal bagi umat Kristen.

 

Seperti pada liburan semester ganjil tahun 2000 lalu, yang boleh dibilang istimewa karena berdekatan dengan tiga hari raya Islam, Nasrani dan Tionghoa. Saat itu Syaykh al-Ma’had membekali para santri jika tiba di kampung halaman, bertemu teman-teman dan menyalaminya, menjabat tangan tanpa memandang status, suku, agama dan dari kalangan mana saja, sambil bertanya khabar.

 

“Jika kamu bertemu teman yang beragama Nasrani, kasih salam, ucapkanlah selamat hari Natal, Merry Cristmas. Jabatlah tangan mereka dan ucapkan mudah-mudahan persahabatan kita kekal sepanjang zaman. Bila bertemu dengan teman dari Suku Tionghoa dalam merayakan hari raya Imlek, ucapkan, Gong xi fa cai. Ini namanya pergaulan di dunia sebagaimana Rasulullah sangat santun kepada tetangganya, tidak kira dia Nasrani atau Yahudi,” kata Syaykh dalam bagian tausiyahnya menjelaskan makna toleransi dan perdamaian secara luas.

 

Syaykh al-Ma’had pun mengimplementasikannya, antara lain dengan mengirim kartu ucapan Selamat Natal kepada sejumlah pimpinan dang anggota jemaat gereja. Berbagai gereja yang dikirimi kartu ucapan ini memberikan respon yang beragam. Umumnya membalas dengan ucapan terima kasih, dan bisa mungkin ada yang bersikap apatis dan curiga terhadap Ma’had Al-Zaytun sebab mereka mendapat kabar negatif dari berbagai media. Namun, bagi Pendeta Rudy, kartu ucapan selamat itu tak cukup hanya dibalas dengan ucapan terimakasih. Melainkan harus ditindaklanjuti dengan membuka komunikasi persaudaraan.

 

Pendeta Rudy juga maklum sikap beberapa orang anggota jemaatnya, yang trauma akibat peledakan bom pada malam Natal 2000 di depan gereja GPIB Koinonia itu. Ia tahu perbedaan agama yang memicu konflik sudah sering terjadi di Indonesia. Sehingga pengalaman traumatis menjadi tembok yang terkadang sulit diruntuhkan dalam membuka pintu persaudaraan di antara umat beragama. Pengrusakan rumah-rumah ibadah, penembakan pelayan Tuhan, hingga kerusuhan dengan isu agama di Poso dan Ambon, misalnya, sudah menjadi cermin sejarah kelam kehidupan beragama di Indonesia.

 

Namun, kenyataan itu tidak menghalangi Pendeta Rudolf Andreas Tendean untuk berbuat sesuatu dan tidak membiarkan prasangka negatif yang selama ini menguasai banyak umat juga turut membelenggunya.

Pada Natal 2003, ia memandangi sebuah kartu Natal kecil yang unik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum Natal, ia sudah terbiasa menerima kartu ucapan Natal dari berbagai kalangan gereja. Di atas kursi kantornya di GPIB Koinonia, ia mulai bertanya-tanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah puluhan tahun menjadi pendeta, ia menerima kartu ucapan Natal dari sebuah pondok pesantren. Sesuatu yang tidak biasa baginya.

 

Di atas kartu itu, tertulis Ma’had Al-Zayun. Kartu itu terbilang unik karena merupakan campuran nuansa muslim sebab ada bahasa Arab di sana dan nuansa modern bergaya nasional dan internasional (universal) yang sarat budaya damai dan perdamaian. “Ini menarik, katanya dalam hati.

 

Ketika itu, Pendeta Rudy, baru setengah tahun melayani di GPIB Koinonia. Ia efektif melayani di gereja itu di awal bulan Juli 2003. Sebelumnya ia melayani sebagai pendeta di GPIB Bethel, Bandung.

Sebagai orang baru di sana, ia masih harus mempelajari seluk-beluk dan budaya jemaat. Berbeda gereja, berbeda pula budayanya. Selaku pemimpin majelis di gereja itu, ia bertanggung jawab mengambil keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah kapal gerejanya mengarungi lautan pergaulan dunia yang sering kali tidak bersahabat.

 

Buka Komunikasi

Ia kemudian mengadakan rapat dan mengatakan bahwa tidak cukup hanya dengan mengirimkan ucapan terima kasih, tetapi harus membuka komunikasi dan menjalin hubungan dengan Ma’had Al-Zaytun. Perlahan namun pasti, Pendeta Rudy mulai berkomunikasi dan mencari kesempatan untuk bisa saling mengenal satu sama lain. Pendeta Rudy menemukan saat yang tepat yaitu dalam rangka Paskah, perayaan Kebangkitan Yesus Kristus.

 

Menjelang Maret, Pendeta Rudy menelepon Ma’had Al-Zaytun dan bertanya apakah ia dan rombongan bisa ke sana. Jawaban Al-Zaytun membuat ia semakin penasaran sebab ia ditanya berapa bus yang akan datang. Padahal menurut pikirannya, mereka hanya datang beberapa orang saja dengan sebuah mobil kijang.

 

Ia sudah mendengar bahwa Ma’had Al-Zaytun termasuk pondok pesantren yang modern. Namun, dalam benak, ia masih bertanya-tanya sampai sejauh mana modern itu dan dari segi apa. Sebab setahunya, pondok pesantren itu identik dengan kopiah, sarung, jenggot panjang dan kekhasan lainnya.

 

Komunikasi terus berlanjut. Pendeta Rudy dan rombongan bermaksud membawa persembahan untuk diberikan kepada Ma’had Al-Zaytun. Dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Yesus, ia akan mengumpulkan dana sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan. Lalu, melalui telepon, mereka pun bertanya, apakah mereka bisa memberikan sesuatu yang dikumpulkan dari persembahan (kolekte) anggota jemaat kepada Al-Zaytun? Pihak Ma’had Al-Zaytun menyambut dengan tangan terbuka.

 

Satu bulan sebelum peringatan Hari Kebangkitan Yesus (Paskah) pada 9-11 April 2004, dibuat pengumuman di gereja bahwa sejumlah uang persembahan akan dibawa dalam rangka kunjungan ke Ma’had Al-Zaytun. Saat itu, mereka masih menganggap Ma’had Al-Zaytun layaknya pondok pesantren kebanyakan.

 

Pada hari Paskah, 11 April 2004, pukul empat pagi, Pendeta Rudy memimpin jemaat beribadah dan merayakan hari Kebangkitan Yesus. Dalam ibadah itu, dikumpulkan kolekte (uang persembahan) sejumlah dua juta lebih. Namun, Pendeta Rudy melihat masih ada cukup waktu untuk bisa menambah uang persembahan itu. Tanggal 18 April 2004, ia memimpin ibadah dan memberitahukan bila masih ada jemaat yang ingin memberikan tambahan persembahan, dipersilahkan. Rupanya jemaat memberikan respon sehingga total uang yang terkumpul menjadi kurang lebih tiga juta rupiah. Uang persembahan inilah yang akan dibawa sebagai buah tangan ke Ma’had Al-Zaytun.

 

Menurut rencana, Pendeta Rudy akan ikut bersama rombongan. Tetapi karena sesuatu hal yang penting, ia tidak bisa pergi bersama 6 rekan lainnya. Enam orang berangkat dan begitu tiba, mereka disambut sedemikian rupa oleh eksponen Ma’had Al-Zaytun dengan full dress, kebiasaan sehari-hari di kampus ini. Padahal rombongan itu datang dengan pakaian seadanya, bahkan dengan mengenakan kaos. Mereka menjadi merasa tidak enak. Untunglah kebetulan saat itu, Syaykh AS Panji Gumilang juga sedang tidak ada di tempat.

 

Sepulang dari sana, rombongan yang membawa oleh-oleh majalah dan sebagainya, menyampaikan pesan bahwa Pendeta Rudy harus datang sebab Syaykh AS Panji Gumilang ingin bertemu. Selain itu, dengan antusias, rombongan itu menanyakan bagaimana bayangan Pendeta Rudy tentang Ma’had Al-Zaytun. Karena belum ke sana, Pendeta Rudy berusaha menebak-nebak dan menganggap kalau pun Ma’had Al-Zaytun dikatakan modern pasti tidak berbeda jauh dengan pondok pesantren lainnya.

 

Rombongan kemudian mengatakan tebakan Pendeta Rudy salah. Ma’had Al-Zaytun jauh di luar bayangan mereka selama ini. Itu sebuah pondok pesantren yang luar biasa modern. Mereka merasa terkejut karena setibanya di sana, mereka disambut dengan baik oleh sekelompok orang berpakaian lengkap (full dress) sedangkan mereka hanya mengenakan kaos. Mendengar hal itu, Pendeta Rudy menyesal tidak bisa ikut dan semakin tertarik dan bertanya di bagian mana yang membuat mereka mengatakan pesantren ini luar biasa.

 

Rombongan kemudian menceritakan pengalamannya yang luar biasa saat diajak berkeliling melihat gedung pembelajaran, asrama, dapur dan masjid serta pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan yang ada di Ma’had Al-Zaytun. Belum habis rasa herannya, seorang di antara mereka bercerita bahwa ia diminta berdoa di masjid. Ia berdoa di sana sembari mengangkat tangannya. Dengan setengah percaya, Pendeta Rudy mencoba memastikan kalau rekannya itu sedang tidak bercanda. Namun karena memang kenyataannya begitu, rekannya itu berkata dengan tegas apa yang dilakukannya itu benar-benar terjadi. Diam-diam Pendeta Rudy semakin penasaran.

 

Kunjungi GPIB

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Ma’had Al-Zaytun memberi kabar akan datang mengunjungi GPIB Koinonia. Mengetahui hal itu, Pendeta Rudy mencari-cari waktu yang tepat untuk menyambut kedatangan Syaykh AS Panji Gumilang dan rombongan. Ia berpikir bagaimana cara menyambut pimpinan pondok pesantren yang terbesar di Asia Tenggara itu.

 

Ditetapkanlah hari Rabu, 7 Juli 2004 sebagai saat yang tepat sebab bertepatan dengan kebaktian bulanan GPIB Koinonia. Kebaktian bulanan yang diadakan sekali sebulan pada hari Rabu minggu pertama itu merupakan kebaktian khusus untuk memperlengkapi jemaat tentang tema yang aktual seperti kesehatan, hukum, media dan sebagainya.

 

Rabu malam, 7 Juli 2004, pukul tujuh kurang lima menit, mobil Syaykh AS Panji Gumilang beserta rombongan bergerak perlahan memasuki halaman Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jatinegara, Jakarta. Tidak jauh dari gereja itu, seperti biasa para pedagang kaki lima sibuk membereskan barang dagangannya bersiap-siap pulang ke tempatnya masing-masing. Tidak banyak yang tahu kalau malam itu, di sebuah gereja tua, sekelompok burung merpati terbang membawa daun Zaytun di paruhnya. Dua saudara yang berbeda agama berkumpul bersama untuk memulai sesuatu yang indah, kebersamaan dan damai di tengah kemajemukan.

 

Malam itu gereja penuh, kurang lebih 250 orang jemaat duduk tertib mengikuti ibadah. Ini tidak seperti biasanya sebab, biasanya dalam kebaktian bulanan, jemaat yang hadir hanya berjumlah sekitar 100 orang. Di tengah jemaat GPIB, hadir pula satu dua orang jemaat dari gereja lain. Rupanya pengumuman yang diedarkan jauh-jauh hari sebelumnya mendapat tanggapan positif bila dilihat dari jumlah jemaat yang hadir.

Tepat pukul 7 malam, Pendeta Rudy memulai ibadah. Tidak lama kemudian, Syaykh AS Panji Gumilang beserta 6 orang lainnya masuk ke dalam gereja dan mengambil tempat duduk yang masih kosong. Pakaian mereka yang rapih, jauh dari kesan yang selama ini dipikirkan. Mereka berjas dan tidak berpeci, hanya ada satu orang yang berpakaian tradisional Betawi. Sejenak, Pendeta Rudy terkesima. Ia tidak menyangka kalau rombongan Ma’had Al-Zaytun mau masuk ke dalam gedung gereja, apalagi tengah melakukan kebaktian. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah mereka akan menunggu di luar hingga ibadah selesai.

 

Agenda pembacaan Alkitab malam itu diambil dari Kitab 1 Korintus 13 yang berbicara tentang kasih. Pendeta Rudy semakin takjub sebab ayat itu seakan-akan sudah dipersiapkan untuk hari itu. Perlu diketahui, pembacaan ayat Alkitab di GPIB sudah diagendakan setahun sebelumnya sehingga para pendeta tinggal mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan dengan tujuan keteraturan dan mengikuti sistematika yang ada.

 

“Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Demikianlah tinggal tiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih. Dan yang paling besar di antaranya adalah kasih,” suara Pendeta Rudy bergetar ketika membacakannya.

 

Ia kemudian menyampaikan pesan kepada jemaat bahwa wujud dari kasih adalah malam itu. Biasanya mereka mengasihi orang yang dikenal, saudara atau lingkungan mereka. Namun, malam itu, ‘orang lain’ menjadi orang yang mereka kasihi. Saking gembiranya dengan kedatangan Syaykh dan rombongan, kolekte (uang persembahan) yang biasanya diedarkan di tengah-tengah jemaat lupa diedarkan.

 

Selesai kebaktian, Pendeta Rudy memperkenalkan GPIB dan siapa dirinya. Ia merasa bersukacita karena dari 256 gereja GPIB di Indonesia, GPIB Koinonia mendapat kehormatan yang luar biasa dengan kehadiran seorang pemimpin pondok pesantren dan rombongan. Dalam penjelasannya yang singkat namun padat, Pendeta Rudy memperkenalkan berbagai komisi dan majelis yang ada dalam gerejanya.

 

Beberapa hari sebelum malam itu, sebenarnya ada segelintir orang jemaat yang menyatakan tidak setuju atas rencana kedatangan rombongan Ma’had Al-Zaytun ke gereja itu. Meski demikian, Pendeta Rudy tetap pada keputusannya. Sebab ia tahu bahwa iman kristiani itu tidak membedakan sesama dengan alasan apa pun. Orang yang tidak setuju itu pada akhirnya tidak datang malam itu.

 

Kemudian Syaykh AS Panji Gumilang dipersilahkan menyampaikan sepatah kata. Dalam pidatonya di gereja itu, Syaykh AS Panji Gumilang banyak berbicara tentang persaudaraan, apa dan siapa sebenarnya Ma’had Al-Zaytun dan siapa Syaykh AS Panji Gumilang. Pada saat itu, Syaykh AS Panji Gumilang memperkenalkan diri bahwa ia lahir di Gresik 30 Juli 1946.

 

Dalam kesempatan itu pula, Syaykh AS Panji Gumilang menanyakan kapan jemaat GPIB Koinonia akan datang ke Ma’had Al-Zaytun. Pendeta Rudy kemudian menyeletuk akan datang pada tanggal bertepatan dengan ulang tahun Syaykh AS Panji Gumilang. “Berapa bus,” tanya Syaykh lagi. “Kira-kira empat bus,” jawab Pendeta Rudy. “Catat, siapkan empat bus, semua yang hadir di sini harus berangkat, “ kata Syaykh AS Panji Gumilang akrab.

 

Setelah doa penutup, diadakan acara makan malam. Dalam obrolan makan malam itu, terlintas berbagai canda dan pertanyaan bilamana satu waktu Syaykh AS Panji Gumilang memberikan khotbah di GPIB Koinonia. Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan tidak keberatan bila diundang. Pengandaian lain juga muncul apakah Pendeta Rudy diperkenankan memasuki masjid dan merayakan hari Natal di kompleks Ma’had Al-Zaytun. Sekali lagi Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan tidak keberatan.

 

Pembicaraan akrab itu membuat Pendeta Rudy dan pengurus gereja lainnya semakin yakin bahwa Ma’had Al-Zaytun merupakan pondok pesantren penebar damai dan toleransi. Ia makin tidak menghiraukan lagi berita-berita negatif yang selalu bermunculan di berbagai media tentang Ma’had Al-Zaytun. Rencana keberangkatan tanggal 30 Juli akhirnya diubah menjadi tanggal 31 Juli karena banyak jemaat yang berhalangan.

 

Pro dan Kontra

Antara 7-31 Juli, sebelum keberangkatan, terjadi pro dan kontra di antara jemaat. Pasalnya, beberapa orang mengatakan, dengan mengutip dari sejumlah media, bahwa Ma’had Al-Zaytun menjadi basis NII (Negara Islam Indonesia) dan Syaykh AS Panji Gumilang adalah pimpinan KW IX. Bahkan seorang pelaksanan harian gereja menyatakan tidak setuju dengan keputusan yang telah diambil.

 

Meski diterpa berbagai sentimen negatif tentang Ma’had Al-Zaytun, Pendeta Rudy bersama rekan-rekannya mengunjungi 6 wilayah/sektor yang menjadi tanggung jawab pelayanannya. Ia mengundang mereka untuk turut ambil bagian mengunjungi Ma’had Al-Zaytun. Ia memperingatkan agar mereka yang tidak ikut, tidak menyebarkan hal-hal yang negatif.

 

Sebelum berangkat, Jumat malamnya, Pendeta Rudy harus membuka pertemuan GPIB wilayah Jakarta Timur dan Bekasi di Binawarga, Puncak. Pertemuan itu merupakan acara pembinaan tentang penataan keuangan gereja. Karena esok harinya ia harus berangkat ke Ma’had Al-Zaytun, ia memutuskan hanya membuka acara itu lalu kembali ke Jakarta untuk bersiap-siap. Atasannya, pimpinan Sinode GPIB bertanya, “Mau ke mana?”

“Saya harus tinggalkan acara ini karena ada perkara besar yang akan saya lakukan,” jawab Pendeta Rudy.

“Apa itu?” Sang atasan bertanya lagi.

“Saya akan pergi ke Al-Zaytun,” kata Pendeta Rudy singkat. Mendengar hal itu, pihak Sinode tidak melarang namun hanya mengingatkan dan bersikap bijaksana.

Suatu kali, Pendeta Rudy menerima telepon dari seorang ibu yang mengaku dari kejaksaan. Ibu itu mendapat kabar tentang kedatangan rombongan Ma’had Al-Zaytun ke GPIB Koinonia tanggal 7 Juli dari temannya yang hadir waktu itu. Ibu itu berkata, “Hati-hati Pendeta Rudy, apa tidak bisa dipikirkan lagi.”

“Memangnya kenapa?” tanya Pendeta Rudy singkat.

“Kondisi tak memungkinkan,“ jawab ibu yang dari kejaksaan itu mencoba meyakinkan.

Jumat lewat tengah malam sebelum berangkat pagi harinya, telepon kembali berdering. Penelepon meminta kepada Pendeta Rudy, “Tolong disisir itu bus.”

Pendeta Rudy tak gentar, ia menjawab: “Rambut yang disisir bukan bus!”

Penelepon itu pun menyarankan agar dilapor ke polisi dan minta pengawalan.

“Kami ini mau kebaktian, maun menjalin persaudaraan. Kenapa mesti lapor polisi?” jawab Pendeta Rudy dengan suara agak meninggi.

Mendengar jawaban itu, penelepon itu diam sejenak. “Yang penting saya sudah kasih ingat,” ujarnya kembali angkat bicara, bernada ancam.

“Kami mau menjalin persaudaraan dan damai, maka Tuhan akan mengawal kami,” jawab Pendeta Rudy. Dalam hati, Pendeta Rudy bergumam: “Bagaimana cara berpikir orang itu, masak ada orang mengundang tamu untuk dicelakai. Kalau mau dicelakai kenapa harus diundang?”

 

Usai menerima telepon itu, sebagai manusia biasa, Pendeta Rudy berpikir juga. Bila ia tidak berangkat, mereka yang berprangka buruk dan menuduh yang macam-macam itu akan menang. Ia bulatkan tekad, mereka harus berangkat. Oleh karena itu, sebelum berangkat, Pendeta Rudy bersama rombongan berdoa agar dijagai dan diberi kekuatan oleh Tuhan.

 

Sesuai rencana, Pendeta Rudy dan rombongan akan berangkat dengan empat bus. Setiap bus sudah ditentukan sejak awal siapa pemimpinnya dan daftar nama yang menaiki bus-bus itu. Prasangka yang lain mulai muncul lagi. Di antara mereka ada yang bertanya mengapa nama-nama yang menaiki bus harus diberitahu melalui faks ke Al-Zaytun. “Hati-hati Pendeta Rudy, “ bisik orang itu penuh curiga. Mendengar hal itu Pendeta Rudy berusaha menjelaskan bahwa hal itu wajar sebab sebagai tamu mereka perlu didata dan dicatat nama-namanya agar tertib dan bisa dikontrol.

 

Sekitar pukul 7 pagi, ke empat bus mulai bergerak meninggalkan Jakarta. Dalam perjalanan, Pendeta Rudy tiada hentinya berdoa dan berjuang mengatasi berbagai pikiran-pikiran negatif yang selama berminggu-minggu dilontarkan oleh beberapa orang kepadanya.

 

Di tengah jalan, Pendeta Rudy yang berangkat dengan mobil kijang merasa ada yang ketinggalan. Kembang hadiah ulang tahun yang akan diberikan kepada Syaykh AS Panji Gumilang tidak ada dalam mobil itu. Mereka berputar balik padahal kembang itu sudah ada di dalam bus. Lalu, dalam benaknya, biarlah ke-empat bus itu tiba duluan di sana dan disambut terlebih dahulu.

 

Setelah kurang lebih 4 jam dalam perjalanan, mobil Pendeta Rudy memasuki kawasan Ma’had Al-Zaytun. Ia melihat ke-empat bus itu berhenti menunggu kedatangannya. Dengan beriiring-iringan, keempat bus didahului mobil Pendeta Rudy berhenti di depan pintu masuk Wisma Tamu Al-Ishlah. Saat menerima sambutan khusus, perlahan-lahan pikiran-pikiran negatif yang selama perjalanan terus mengganggu sirna. Ia bahkan merasa tidak layak mendapat sambutan istimewa seperti itu. Ia merasa kecil bahkan menurutnya, lebih kecil dari kotoran kutu.

 

Selama 15 menit ia dipersilakan untuk beristirahat di sebuah kamar Wisma Al-Ishlah yang besar dan luas yang sudah dipersiapkan khusus untuknya. Belum lama merebahkan diri, ia dipanggil sebab sudah ditunggu di Gedung Al-Akbar. Pada awalnya, ia menduga kalau Gedung Al-Akbar hanyalah gedung biasa.

 

Tapi alangkah terkejutnya ia, tatkala memasuki gedung. Puluhan ribu manusia bagaikan semut menyambut kedatangannya bersama rombongan. Ia kemudian berkata kepada Syaykh AS Panji Gumilang, “Syaykh, saya ini siapa, kok disambut seperti ini.” Dengan singkat, Syaykh AS Panji Gumilang menjawab, “Pendeta Rudy merintis persaudaraan.”

 

“Tapi saya ini, wah tai kutu mah lebih gede,” jawab Pendeta Rudy.

“Saya tidak lihat itu. Saya lihat bahwa Bapak mau ciptakan peluang kebersamaan. Kita jalan terus,” jawab Syaykh dengan mantap.

 

Belum habis rasa herannya, Pendeta Rudy diminta berdoa. Dalam susunan acara, tidak tercantum kata berdoa di sana. Kalaupun berdoa, ia beranggapan yang berdoa adalah dari pihak Ma’had Al-Zaytun. Kira-kira seperempat menit sebelum berdiri di atas panggung, Pendeta Rudy bergumul. Ia meminta agar Tuhan memberikannya hikmat sesuai imannya.

 

Setelah sepanjang hari mengenal lebih dekat Syaykh AS Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun, Pendeta Rudy bersama rombongan menarik napas lega. “Mereka yang berkata jahat tentang Ma’had Al-Zaytun menuai malu atas perbuatannya. Mereka yang menabur kebencian akan menuai penyesalan nantinya,” kata Pendeta Rudy dalam percakapan dengan wartawan Tokoh Indonesia.

 

Setibanya di Jakarta, Pendeta Rudy bersama rekan-rekannya tidak langsung beristirahat. Mereka masih antusias mengobrol tentang pengalaman yang telah mereka lalui. Baru sekitar pukul 3 pagi, ia beserta istri pergi beristirahat. Padahal esok paginya ia harus memimpin tiga acara kebaktian, pukul 6 pagi di GPIB Koinonia, pukul 9 pagi di GPIB Petra, Tanjung Priuk, dan pukul 12 ibadah pengucapan syukur. Walaupun demikian, Pendeta Rudy tetap bisa memenuhi pelayanannya dan hadir di tiga kebaktian itu.

 

Beritakan Kabar Baik

Dalam khotbahnya saat ibadah pukul enam pagi di GPIB Koinonia, hampir seluruhnya bercerita tentang kunjungannya ke Ma’had Al-Zaytun. Bukan suatu kebetulan, tapi atas kehendak Tuhan, bila dalam agenda pembacaan Alkitab pagi itu mengambil ayat dari Kitab Matius 5:43-48.

 

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

 

Pendeta Rudy mulai menguraikan pemahamannya tentang ayat itu bila dikaitkan dengan pengalamannya di Ma’had Al-Zaytun. Ia mengatakan bahwa Tuhan mengambil tanah lalu membentuk manusia. Tuhan tidak mengambil tanah yang lain kemudian membentuk manusia yang lain. Ia menciptakan satu manusia dari satu tanah, dan semua umat manusia berasal dari satu manusia itu. Kepada manusia itulah, Tuhan menghembuskan nafas kehidupan.

 

Mereka yang berbeda agama bukan musuh melainkan sesama manusia sebab Tuhan yang menciptakan dan memberi hidup. Musuh yang sebenarnya adalah iblis. Ia juga mengingatkan jemaat bahwa mereka seringkali menjadikan saudara sendiri menjadi musuh. ►atur-crs Lanjut

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero