| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/az |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 16 ==
►
English Version
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (2)
Pelopor Pendidikan Terpadu (2)
= Semangat Pesantren & Keluarga
Ma’had Al-Zaytun yang dimulai pada tarikh 13 Agustus 1996 yang merupakan
usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Lembaga pendidikan yang
diresmikan oleh Presiden Habibie 27 Agustus 1999 ini dalam pendidikannya
mempunyai landasan semangat pesantren yaitu kemandirian atau
enterpreneurship namun dipadukan sistem modern. Pesantren spirit but
modern system.
Prinsip dan spiritnya adalah mendidik dan membangun secara mandiri
semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sementara, nilai-nilai modern
dimaksud adalah yang berazas kepada ciri-ciri modern itu yakni: pertama,
bergerak berdasar ilmu; kedua, program oriented; ketiga, kenal prosedur;
keempat, mempunyai organisasi yang tegas/kuat; kelima, mempunyai etos
kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas.
Tujuannya membuat pendidikan seperti ini, tidak lain ingin mencerdaskan
bangsa, supaya bangsa ini dan semua warganya menjadi cerdas, menjadi
bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka
terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa
yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan kemanusiaan.
Pendidikan ini juga diharapkan bisa menghasilkan putra-putri bangsa yang
sanggup menguasai ‘science & technology’ dengan segala perkembangannya.
Dan yang paling inti yakni sebagai warga bangsa, putra-putri bangsa itu
mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu
menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Dan terakhir, sanggup hidup
dalam tatanan antar bangsa yang hidup dalam peradaban yang sempurna. “Nah,
itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an-nya
disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” katanya.
Dengan demikian, Al-Zaytun diharapkan akan mempersiapkan manusia yang
menjadi dirinya sendiri di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir
menyangkut pada intelektual, emosional dan spiritual; punya bajik dan
bijak yaitu bisa memposisikan dirinya pada kondisi apapun, menguasai sains
teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan
bangsa-bangsa lain.
Itulah yang hendak dibekalkan pada setiap santri sehingga santri itu nanti
akan berinovasi pada zamannya. “Jadi tidak perlu terlalu diurai, karena
itu terlalu retorik. Jadi intinya punya self-esteem yang tinggi, “katanya
menambahkan. Hal itu menurutnya, juga merupakan cita-cita seluruh bangsa
di dunia.
Dengan demikian nantinya semua dunia akan bertemu. Itulah yang dinamakan
‘International Setting ’. Itu terjadi karena cita-cita seperti itu
merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir menjadi,
“International Thinking’, dan cara solidaritas menjadi, International
Solidarity. Tatanan hidup, setingnya menjadi “International Setting’.
Itulah menurutnya yang dinamakan dengan hidup global atau globalisasi,
yakni kekuatan nasional namun mampu mengakses kehidupan antar bangsa.
Menurutnya, cita-cita seperti itu bukan dia rangkum sendiri, tetapi
bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya. Sebelum mereka mendiri-kan
pesantren modern ini, ia lebih dulu masuk ke dalam berbagai lembaga
pendidikan yang ada di Indonesia maupun di luar, berkelana untuk melihat,
studi banding dan sebagainya.
Dalam pencarian, Syaykh AS Panji Gumilang yang berperawakan tinggi besar
ini berjalan menuju arah lokasi Al-Zaytun yang sekarang, karena di sini
menurut orang pertama yang menunjukkan, ada suatu tempat yang cukup luas.
Sejak awal, ia memang sudah menginginkan tempat yang luas, karena menurut
perencanaan yang di pikirannya, pendidikan itu haruslah mengekspos segala
kegiatan umat manusia, baik itu ekonomi, energi, environment dan
lain-lain.
Kemudian pada tahun 1996 lokasipun dibebaskan, dan didirikan atas nama
Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang juga dididirikan di daerah itu
dengan Notaris: Hj. Ii Rokayah Sulaeman, S.H di Subang. Setapak demi
setapak mulailah dibangun. Dalam tempo tiga tahun, satu pasang bangunan
selesai dibangun yaitu bangunan sekolah yang menjadi tempat sekretariat
dan bangunan asrama yang kemudian dinamakan ‘Abu Bakar’ untuk sekolahnya
dan ‘Al-Mustofa’ untuk asramanya. Setelah itu barulah mulai menerima
santri.
Namun dalam tiga tahun persiapan sebelumnya, ia juga telah menyiapkan tim
di seluruh Indonesia. Tim tersebut dimaksudkan untuk menjajakan ide
pendirian yayasan dan Ma’had tersebut. Jadi mereka sudah menjajakan ide
sebelum gedung, guru dan segala sesuatunya ada. “Ternyata direspon. Jadi
sebelum ada bangunanpun, sudah direspon, sudah berdatangan, mereka pada
bertanya di mana yang namanya Al-Zaytun di Mekar Jaya itu?” katanya
mengisahkan. Padahal di lokasi ketika itu belum ada apa-apa, masih
belantara.
Mereka mengupas lahan setapak demi setapak. Orang tidak yakin bahwa akan
terjadi perubahan, tapi mereka tetap yakin. Ia hanya tunjukkan ‘site
plan’,- “ini nanti seperti ini, site plan-nya seperti ini, akan kita buat
a,b,c,d.” Ternyata bangsa Indonesia percaya. Ketika itu ia juga sempat
bertanya dalam hati, “Percaya nggak bangsa ini?” Ternyata bangsa ini
percaya. Mereka berdatangan meninjau lokasi.
Mengenai biaya, mereka sebelumnya memperbolehkan membayarnya pakai lembu.
Cuma karena saat itu situasi rupiah goyang terhadap dollar, mereka
menghargakan dengan menggunakan dollar. Ketika itu, pertama dihargakan US$
1.500 untuk enam tahun dengan perhitungan US$ 1 sebesar Rp 4.500, padahal
ketika itu sudah Rp 9.000-10.000, setelah dipotong sesuai kurs maka
jumlahnya pun US$ 1.500.
Banyak orang yang bertanya, “Apa cukup biaya ini? Bagaimana mengelola uang
sebanyak itu untuk seorang santri selama 6 tahun?” Namun untuk menjawab
pertanyaan itu ia mengatakan, “Kalau dianggap cukup atau tidak, jumlah itu
tidak cukup sebab ini memang cuma mampu untuk menghidupi satu tahun, tapi
kita bertekad, yayasan ini mau memberikan subsidi untuk anak bangsa ini,”
katanya.
Namun sebagai pesantren, ia pun memberikan persyaratan-persyaratan di
antaranya, yang diperbolehkan masuk menjadi santri hanya anak-anak yang
sudah berumur 12 tahun, tamat sekolah dasar, sudah boleh dan mampu membaca
Al-Qur’an. Dengan demikian nantinya agak sedikit ringan dalam proses
pendidikannya. Persyaratan itu dipenuhi juga. Dan ternyata di awal
penerimaan saja, 1.600-an orang pendaftar yang datang sedangkan yang bisa
diterima baru 1.200 orang saja. Seiring dengan perjalanan waktu, dalam
tempo 5 tahun, santri sudah berjumlah 7.000-an lebih, persisnya 7.329
orang.
Sebelum menerima santri, guru telah direkrut lebih dulu. Guru yang pertama
direkrut sebanyak 150 orang dari berbagai universitas yang ada di
Indonesia. Kurikulumpun disesuaikan dengan kurikulum nasional ketika itu
maupun dari Departemen Agama.
Dalam penerimaan santri, motto dan tujuan Ma’had selalu dijelaskan. Motto
yang dimaksud adalah, bahwa Ma’had Al-Zaytun merupakan pusat pendidikan
dan pengembangan budaya toleransi dan pengembangan budaya perdamaian.
Dalam proses pendidikannya, Ma’had Al-Zaytun sengaja mengekspos sebuah
laboratorium alam untuk ditanamkan ke benak anak-anak didiknya. Ini
dilakukan agar nanti para santri berinovasi. Misalnya, bila diekspos
perahu, maka akan timbul dalam pikiran mereka, dulu kami buat sendiri itu
yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Akhirnya mereka akan buat
sendiri sebab ilmu ada, pengalamannya juga ada. Hal tersebut terbersit
dalam pikiran Syaykh karena mengenang masa kecilnya yang pernah diekspos
oleh orang tuanya menjadi guru pemberantasan buta huruf sehingga
membuatnya berinovasi sepanjang hidup.
Sedangkan globalisasi 2020 yang menjadi sangat hangat diperbincangkan
belakangan ini, bagi Al-Zaytun hanyalah suatu fase langkah, artinya, tahun
2020 itu dipersiapkan sedemikian rupa menuju tahun-tahun berikutnya,
karena tahun, bukan hanya 2020 saja. Jadi 2020 menurutnya hanyalah satu
langkah menuju langkah berikutnya, step by step.
Begitu banyak orang yang kagum akan keberhasilan yang dicapai Syaykh dalam
Ma’had Al-Zaytun, namun Syaykh yang merupakan perencana awal pendirian
Ma’had ini rupanya memegang filosofi ilmu padi, ‘semakin berisi semakin
menunduk’. Dengan merendah diakuinya, bahwa sampai sekarang, ia belum
merasa sukses. Sebab sukses itu menurutnya, masih ada di depannya
sedangkan yang diperolehnya kini hanyalah untuk yang kemarin dan hari ini.
Apa yang dilakukannya sekarang masih merupakan langkah awal dalam meraih
sukses itu. Jadi pendidikan, menurutnya, haruslah punya jiwa inovatif.
Tidak boleh mengatakan cukup, tidak boleh mengatakan sukses.
Menanggapi pernyataan betapa spektakulernya pembangunan yang dilakukan Al-Zaytun
selama lima tahun ini. Ia hanya mengatakan, “Kalau sudah ditarik rodanya,
kereta itu akan berjalan dengan sendirinya”. Diibaratkannya, kalau ban
mobil itu sudah berjalan, justru harus pandai menyetirnya. Jadi sudah
tidak ada yang berat lagi. Maka dalam menyetir Al-Zaytun ini, ia mengaku
bahwa itu dilakukannya bersama dengan sahabat-sahabatnya. “Sekali waktu
kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di
padang yang terang,” ucapnya.
Sedangkan mengenai tantangan yang dihadapinya selama ini, ia hanya
mengatakan bahwa hidup tanpa tantangan, tidak akan menemukan manisnya
hidup. Menurutnya, tan-tangan hidup adalah ciri bahwa kita di-beri
kesempatan untuk mengatasinya.
Memang sesuatu yang tidak dimengerti jika masih ada yang merasa curiga
dengan kehadiran Ma’had Al-Zaytun ini, sebab menurut apa yang dilihat dan
dialami dan diterima oleh penulis sendiri (Ensiklopedi TokohIndonesia.com)
apa yang dicurigai oleh sebagian orang itu sangat jauh dari kenyataan yang
ada.
Bahkan dalam suatu pembicaraan ketika ETI mengatakan bahwa wartawan ETI
yang datang saat itu mungkin ada perbedaan aliran dengan Syaykh sendiri.
Syaykh malah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan, selaku ciptaan Tuhan
kita ini semua sama, paling tidak sama-sama satu bangsa Indonesia.
Menurutnya sebagai satu bangsa Indonesia, berarti sudah punya keyakinan,
satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di
kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri.
Satu kiat dari Syaykh ini dalam mengatasi berbagai tantangan itu adalah
dengan terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik.
Tantangan itu menurutnya harus diatasi dengan cara demikian. Dan harus
ditampilkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu tantangan itu
justru akan memberikan satu nilai.
Termasuk berbagai pemberitaan dan buku yang menyudutkannya. “Bukan tidak
dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan,
oh…ini disini nih yang harus kita lalui, oh… ini disini yang harus kita
singkirkan, oh…disini yang harus kita laju ke depan. Itu kita jadikan
tantangan, dan kita siap mengatasinya,” katanya terbuka.
“Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna
apa-apa, dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan
reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati
karya bangsanya yang nyata itu. Kemudian mengenai masalah adanya orang
mengatakan disini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam
tadi, sejarah nanti yang akan membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah,
kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya
sendiri, kehancuranlah yang terjadi,” katanya lebih jelas.
Jadi menurutnya, jika sejarah itu ditulis sendiri dengan karya nyata, maka
sudah pasti akan menulisnya dengan sebaik-baiknya. “Ini namanya karya
sastra. Sebab sastra itu macam-macam, bukan cuma tulis saja. Sastra itu
termasuk seni dalam mengelola apapun. Kebetulan saya mendalami sastra
karena sekolah di sastra dulu,” ujarnya.
Yang lebih jauh lagi, ada orang sempat menduga bahwa Al-Zaytun didirikan
dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia. Menanggapi dugaan-dugaan
seperti itu Syaykh hanya mengatakan bahwa orang menduga boleh saja. Bahkan
ia mengatakan bahwa diduga sesat pun ia takkan pernah membantahnya.
Menduga mau mendirikan negara Islam Indonesia pun ia tidak pernah
membantahnya.
Tapi menurutnya, di dunia ini tidak boleh duga-duga, tapi harus berpikir
modern. Setiap bergerak harus berdasar ilmu. “Sekarang, antara ilmu dan
duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan
‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, duga itu tidak akan bisa mengalahkan
ilmu,” ucapnya.
Ketenangan Syaykh dalam menghadapi segala tantangan tersebut sungguh
menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Namun walaupun begitu ia tetap
merasa tidak berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak merasa lebih unggul. Ia
merasakan dan menjalani hidup ini dengan bijaksana. Apa yang diperintahkan
konsep kehidupan, dilakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan,
dijauhi. Selamat. Itu saja caranya menjalani hidup. Dan keyakinannya,
Tuhanpun akan suka.
Jika ada pertanyaan mengenai darimana dana pembangunan Ma’had tersebut, ia
menganggap pertanyaan itu wajar saja. Tapi hendaknya jangan mengukur orang
lain dengan ukuran diri sendiri. Sebab jika seseorang mengukur ukuran
orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Jadi kalau mengukur dengan
parameter umum, maka hasil yang telah dicapai Al-Zaytun menurutnya masih
wajar-wajar saja.
Demikian modernnya pendidikan Ma’had Al-Zaytun tersebut sehingga banyak
yang melakukan studi banding ke sana. Seperti IPB misalnya, mereka
melakukan praktek lapangan di sana.
Guru-guru yang terbagus dari IPB juga mengajar di Ma’had ini. Karena
diberi kebebasan, di Ma’had ini mereka merasa punya kesempatan untuk
mengembangkan kemampuannya. Sehingga sesuatu yang belum dibuat di IPB
sudah dibuat di Al-Zaytun. Misal-nya, di IPB belum mengembangkan embrio
transfer, tapi Ma’had Al-Zaytun sudah berhasil melakukannya. Di IPB belum
mengembangkan bibit sapi unggul, di sana sudah dikembangkan dan sudah
disebar. Akhirnya dengan demikian guru-guru itu penuh dengan persiapan dan
kompetensi.
Sedangkan mengenai dana, menurut Syaykh hal tersebut merupakan hal yang
gampang sebab setiap melompat (penemuan/pengembangan satu ilmu) selalu ada
harganya. Jadi jika ada suatu lompatan, orang akan memberi apresiasi,
hasilnya dibagi. “Jadi dana itu nggak susah, yang susah itu kalau kita
tidak pernah berpikir mendanai ini,” katanya.
Dan yang lebih membanggakan, saat ini Departemen Agama mengakui bahwa
Ma’had ini merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik.
Sertifikat penghargaan itu diberikan Januari 2004 lalu. Demikian juga
dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun juga merupakan yang
terbaik di Jawa Barat. Hal ini jelas merupakan suatu sejarah juga, yang
bisa terjadi karena ditulis dan diukir.
Dukungan Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik, diakuinya bahwa
keluarganya sungguh sangat membantu. Sebagaimana lazimnya, seseorang yang
memangku pemimpin pesantren biasanya memiliki istri lebih dari satu, namun
pria setia ini tidak terpikirkan untuk menambah atau malah mengganti istri
yang sangat disayangi itu. “Istri saya dari sejak pertama sampai hari ini,
itu-itu juga,” begitu katanya agak bercanda.
Khotimah Rahayu, juga sering dipanggil dengan Faridah Al Widad, istri yang
memberinya tujuh orang anak itu, juga seorang guru. Istrinya pada awalnya
adalah seorang guru PNS. Lain dengan dirinya, ia tidak mau menjadi pegawai
negeri. Dengan sangat senang ia pada pagi harinya mengajar, sore dagang,
bertani, memborong tanaman entah padi dan sebagainya atau membo-rong
kayu-kayuan yang ditanam orang, diambil terus dibelah. Atau dagang hewan
seperti kerbau dan lembu. Itulah dulu pekerjaannya sehari-hari.
Khotimah yang berasal dari Banten, Kampung Menes, Kecamatan Menis,
Kabupaten Pandeglang, keresidenan Banten (sekarang menjadi propinsi Banten),
menjadi guru bukanlah secara kebetulan atau takdirnya yang sudah begitu,
namun sebagai anak dari seorang guru (orang tua dari Ibu Khotimah Rahayu),
dalam dirinya sudah tumbuh satu kecintaan pada profesi pendidik itu.
Kehidupan bersahaja selalu ditunjukkan keluarga guru ini meski begitu
banyak dan begitu besar gedung yang telah dibangun di lokasi Ma’had Al-Zaytun.
Hingga saat ini, keluarga Syaykh ini selama 24 jam masih tinggal di salah
satu ruangan/kamar asrama bergabung dengan para santri.
Mencari ilmu, keluarga Syaykh tidak memandang bangsa dan negara, hal
tersebut terlihat dari usahanya memberangkatkan anak-anaknya ke berbagai
negara. Dua anaknya sedang belajar di New Zealand, satu di London, satu di
Ciputat menyelesaikan studinya, satu di Australia. Sedangkan yang terakhir
masih sekolah di pesantren Al-Zaytun sendiri.
Dalam mendidik, ayah dari Imam Prawoto, Ahmad Prawiro Utomo (sering
dipanggil dengan Ahmad Zaim), Ikhwan Triatmo (sering dipanggil dengan
Abdul Hamid), Khoirun Nisa (perempuan), Muhammad Hakim Prasojo, Sofyah
Alwida (perempuan), Karim Abdul Jabbar (alm), ini selalu berusaha
menunjukkan kasih sayang seorang ayah. Ia tidak mau berlaku otoriter
apalagi menghukum dengan cara mendera fisik, maka di Al-Zaytun pun ia
memberlakukan santrinya dengan bebas, sebebas-bebasnya, namun berdisiplin
setinggi-tingginya.
Disiplin yang dimaksud Syaykh, yang sangat memperhatikan kesehatannya dan
tidak merokok ini, adalah seperti aturan tidak bisa merokok dan narkoba.
Sejak awal di sana telah diambil langkah-langkah pencegahan masuknya
narkoba dengan melakukan test, baik ketika masuk maupun saat keluar
pesantren.
Demikian juga halnya dengan para karyawan. Syarat menjadi karyawan adalah
apabila sanggup tidak merokok. “Dulu, kami di sekolah itu bebas merokok
dan akibatnya kita rasakan sekarang. Jika dulu dari sekolah tidak merokok,
mungkin sehat badan ini. Untung cepat kita sadari bahwa merokok itu cuma
menyusahkan jantung dan paru-paru. Pengalaman itu kita tularkan ke
anak-anak kita. Ternyata dunia tanpa rokok itu nikmat. Paling tidak bebas
bernafas,” katanya.
Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Ma’had Al-Zaytun, Syaykh
sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya hingga saat ini. Ia makan
dengan menu yang teratur dan sehat serta rutin melakukan olahraga murah,
naik turun masjid. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat
badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg
sekarang ini. ►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|