| |
C © updated
03082004 -22052002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Abdurrahman Wahid
Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri :
Sinta Nuriyah
Anak-anak :
Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar,
Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari
Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya
mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI: 01 02 03 04 ==
KH Abdurrahman Wahid (01)
Kemudi Sosial Bapak Bangsa
Dia akrab disapa Gus Dur, Sang Bapak Bangsa yang sering melontarkan
pendapat kontroversial. Bahkan ketika menjabat Presiden RI ke-4 (20
Oktober 1999-24 Juli 2001), ia tak gentar mengungkapkan sesuatu yang
diyakininya benar kendati banyak orang sulit memahami dan bahkan
menentangnya.
Kendati suaranya sering mengundang kontroversi, tapi suara itu tak jarang
malah menjadi kemudi arus perjalanan sosial, politik dan budaya ke depan.
Dia memang seorang yang tak gentar menyatakan sesuatu yang diyakininya
benar. Bahkan dia juga tak gentar menyatakan sesuatu yang berbeda dengan
pendapat banyak orang. Jika diselisik, kebenaran itu memang seringkali
tampak radikal dan mengundang kontroversi.
Kendati pendapatnya tidak selalu benar -- untuk menyebut seringkali tidak
benar menurut pandangan pihak lain -- adalah suatu hal yang sulit dibantah
bahwa banyak pendapatnya yang mengarahkan arus perjalanan bangsa pada rel
yang benar sesuai dengan tujuan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945.
Pendapatnya seringkali terlihat tanpa interes politik pribadi atau
kelompoknya. Ia berani berdiri di depan untuk kepentingan orang lain atau
golongan lain yang diyakninya benar. Malah sering seperti berlawanan
dengan suara kelompoknya sendiri. Juga bahkan ketika ia menjabat presiden,
sepetinya jabatan itu tak mampu mengeremnya untuk menyatakan sesuatu.
Sepertinya, ia melupakan jabatan politis yang empuk itu demi sesuatu yang
diyakininya benar. Sehingga saat ia menjabat presiden, banyak orang
menganggapnya aneh karena sering kali melontarkan pernyataan yang
mengundang kontroversi.
Belum satu bulan menjabat presiden, mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama
(1984-1999) ini sudah mencetuskan pendapat yang memerahkan kuping sebagian
besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif, yang anggotanya
segaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya itu, Gus Dur
menyebut para anggota legislatif itu seperti anak Taman Kanak-Kanak.
Tak
lama kemudian, ia pun menyatakan akan membuka hubungan dagang dengan
Israel, negara yang dibenci banyak orang di Indonesia. Pernyataan ini
mengundang reaksi keras dari beberapa komponen Islam.
Berselang beberapa waktu, ia pun memecat beberapa anggota Kabinet
Persatuan-nya, termasuk Hamzah Haz (Ketua Umum Partai Persatuan
Pembangunan). Berbagai kebijakan dan pemecatan ini membuatnya semakin
nyata jauh dari konspirasi kepentingan politik yang memungkinkan-nya
terpilih menjadi presiden.
Ketika itu, pada Sidang Umum MPR 1999, Poros Tengah yang gagal menggolkan
salah seorang tokohnya sendiri menjadi presiden (BJ Habibie, Amien Rais,
Hamzah Haz dan Yusril Ihza Mahendra), merangkul Gus Dur untuk dapat
mengalahkan Megawati Sukarno-putri.
Gus Dur, yang terkenal piawai dalam berpolitik, dengan cekatan menangkap
peluang ini. Sehingga Megawati yang partainya memenangkan Pemilu akhirnya
hanya mendapatkan kursi wapres. Terpilihnya Gus Dur ini, sekali lagi telah
menunjukkan sosok kontroversial. Kontroversi dalam kelayakan politik
demokrasi. Kontroversi mengenai kondisi pisik Gus Dur sendiri. Namun harus
diakui, itulah Gus Dur, dengan kepiawian dan keunggulannya yang melebihi
kapasitas banyak orang! Kalau bukan Gus Dur, hal itu sangat mustahil
terjadi.
Padahal tak heran bila pada mulanya ia dianggap hanya sebagai umpan oleh
sebuah konspirasi kepentingan politik. Sebab dari perolehan suara PKB dan
kondisi kesehatan, Gus Dur dianggap sangat mustahil bisa menjadi presiden.
Namun, dengan kepiawian Gus Dur memainkan bola yang digulirkan Poros
Tengah (ketika itu merupakan koalisi partai-partai berbasis Islam minus
PKB) bergandeng tangan dengan Golkar, SU-MPR menolak pertanggungjawaban
Presiden BJ Habibie. Hal ini secara etis memaksa BJ Habibie mengundurkan
diri dari pencalonan presiden pada detik-detik terakhir.
Malam setelah penolakan pertanggungjawaban Habibie dan sebelum pagi hari
pemilihan presiden, tokoh-tokoh Golkar dan Poros Tengah mengadakan
pertemuan di kediaman Habibie. Mereka mencari pengganti BJ Habibie.
Alternatif pertama, Akbar Tanjung selaku Ketua Umum Golkar. Kelompok
Iramasuka yang dimotori AA Bramuli menolak. Lalu muncul nama Hamzah Haz,
Ketua Umum PPP. Dinilai tidak kuat melawan Megawati. Terakhir, menjelang
subuh muncul nama Amien Rais, Ketua Umum PAN.
Diperkirakan Amien dapat memenangkan suara, bercermin dari perolehan suara
pada pemilihan Ketua MPR yang dimenangkan Amien Rais. Saat itu Gus Dur (memainkan
trik politik) mendukung Amien Rais bersaing dengan Matori Abdul Djalil (Ketua
Umum PKB) yang didukung PDIP. Akhirnya, dalam pertemuan di rumah BJ
Habibie itu, nama Amien Rais disepakati menjadi calon presiden, dengan
catatan Amien akan lebih dulu mengonfirmasikannya dengan Gus Dur.
Namun, sebelum konfirmasi itu dilakukan, PKB atas anjuran para kyai dan
persetujuan Gus Dur telah lebih dulu secara resmi mendaftarkan pencalonan
Gus Dur. Pencalonan secara resmi Gus Dur ini mengejutkan Poros Tengah
(yang sering kali menyebut akan mencalonkan Gus Dur). Juga mengejutkan
Golkar dan PDIP bahkan PKB sendiri. Sekali lagi, Gus Dur menunjukkan
kepiawiannya yang kontroversial dan mengejutkan.
Peta politik berobah secara mengejutkan. Pencalonan Amien Rais diurungkan.
Lalu muncul nama Yusril Ihza Mahendra (Ketua Umum PBB) dari kubu Poros
Tengah resmi mencalonkan diri bersaing dengan Gus Dur dan Megawati.
Munculnya nama Yusril membuat kubu Megawati sempat lebih optimis akan
memenangkan pemilihan. Tapi, kemudian pencalonan Yusril dicabut setelah
bertemu dengan Gus Dur. Sekali lagi Gus Dur menunjukkan kelasnya dalam
berpolitik.
Gus Dur dari partai kecil (11%), mengalahkan Megawati dari partai pemenang
Pemilu (35%). Komposisi keanggotaan MPR hasil Pemilu 1999 yang lebih 90
persen laki-Iaki itu, rupa-rupanya enggan memberikan suaranya kepada
Gus Dur, antara lain karena alasan gender. Seorang pengamat
politik LlPI menyebutnya sebagai kecelakaan sejarah. Bahkan Gus Dur
sendiri pun rupanya merasa kaget dan heran dengan mengata-kan: “Orang buta
kok dipilih menjadi Presiden”.
Suasana di luar sidang memanas. Sebab MPR dinilai telah mengesampingkan
suara rakyat yang tercermin dalam Pemilu. Namun, dalam kondisi ini, Gus
Dur, sekali lagi, menunjukkan kehebatannya. Ia punya kiat yang jitu. Ia
merangkul Megawati. PKB secara resmi mencalonkan Megawati dalam perebutan
kursi Wakil Presiden, bersaing dengan Hamzah Haz yang didukung Poros
Tengah. Megawati pun menang.
Saat itu, tampaknya Gus Dur sangat menyadari kelemahannya. Dalam sambutan
pertama beberapa saat setelah ia memenangkan pemilihan presiden, ia
mengucapkan terimakasih kepada Megawati dan PDIP yang tidak
mempermasalahkan faktor kesehatan pisiknya.
Pada awalnya banyak orang optimis bahwa duet Gus Dur-Megawati, yang sejak
lama sudah ‘bersaudara’, akan langgeng dan kuat. Apalagi ditopang dengan
susunan Kabinet Persatuan yang mengakomodir hampir semua kekuatan politik
dan kepiawian Gus Dur dalam berpolitik.
Namun seperti kata pepatah: Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh
ke tanah jua. Di mata banyak orang, kepercayaan diri Gus Dur tampak
terlalu berlebihan. Ia sering kali melontarkan pendapat dan mengambil
kebijakan yang kontroversial. Penglihatannya yang semakin buruk mungkin
juga dimanfaatkan oleh para pembisik di sekitarnya. Gus Dur pun sering
kali mengganti anggota kabinetnya dengan semaunya berpayung hak prerogatif.
Tindakan penggantian menteri ini berpuncak pada penggantian Laksamana
Sukardi (PDIP-pemenang Pemilu 1999) dari Jabatan Meneg BUMN dan Jusuf
Kalla (Golkar-pemenang kedua Pemilu 1999) dari jabatan Menperindag, tanpa
sepengetahuan Wapres Megawati dan Ketua DPR Akbar Tandjung.
DPR menginterplasi Gus Dur. Mempertanyakan alasan pemecatan Laksamana dan
Jusuf Kalla yang dituding Gus Dur melakukan KKN. Tudingan yang tidak
dibuktikan Gus Dur sampai akhir.
Sejak saat itu, Megawati mulai dengan jelas mengambil jarak dari Gus Dur.
Dukungan politik dari legislatif kepada Gus Dur menjadi sangat rendah. Di
sini Gus Dur tampaknya alpa bahwa dalam sebuah negara demokrasi tidak
mungkin ada seorang presiden (eksekutif) dapat memimpin tanpa dukungan
politik (yang terwakili dalam legislatif dan partai).
Anehnya, setelah itu Gus Dur justru semakin lantang menyatakan diri
mendapat dukungan rakyat. Sementara sebagian besar wakil rakyat di DPR dan
MPR semakin menunjukkan sikap berbeda, tidak lagi mendukung Gus Dur.
Lalu terkuaklah kasus Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur diduga terlibat.
Kasus ini membuahkan memorandum DPR. Setelah Memorandum II tak digubris
Gus Dur, akhirnya DPR meminta MPR agar menggelar Sidang Istimewa (SI)
untuk meminta pertanggungjawaban presiden.
Gus Dur melakukan perlawanan, tindakan DPR dan MPR itu dianggapnya
melanggar UUD. Ia menolak penyelenggaraan SI-MPR dan mengeluarkan dekrit
membubarkan DPR dan MPR. Tapi Dekrit Gus Dur ini tidak mendapat dukungan.
Hanya kekuatan PKB dan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) yang memberi
dukungan. Bahkan, karena dekrit itu, MPR mempercepat penyelenggaraan SI
pada 23 Juli 2001. Gus Dur, akhirnya kehilangan jabatannya sebagai
presiden keempat setelah ia menolak memberikan pertanggung-jawaban dalam
SI MPR itu. Dan Wapres Megawati, diangkat menjadi presiden pada 24 Juli
2001.
Selepas SI-MPR, Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro PKB memecat pula Matori
Abdul Djalil dari jabatan Ketua Umum PKB. Tindakan ini kemudian direspon
Matori dengan menggelar Muktamar PKB yang melahirkan munculnya dua
kepengurusan PKB, yang kemudian populer disebut PKB Batu Tulis (pimpinan
Matori) dan PKB Kuningan (pimpinan Gus Dur-Alwi Sihab). Kepengurusan
kembar PKB ini harus berlanjut ke pengadilan kendati upaya rujuk juga
terus berlangsung.
Bapak Bangsa
Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur kembali ke kehidupannya
semula. Kendati sudah menjadi partisan, dalam kapasitasnya sebagai
deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia berupaya kembali muncul sebagai
Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat presiden.
Sebelumnya, Gus Dur adalah Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), organisasi
Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 38 juta orang. Namun ia
bukanlah orang yang sektarian. Ia seorang negarawan. Tak jarang ia
menentang siapa saja bahkan massa pendukungnya sendiri dalam menyatakan
suatu kebenaran. Ia seorang tokoh muslim yang berjiwa kebangsaan.
Gus Dur sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian.
Pendiriannya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin
Islam lainnya di Indonesia. Seperti saat didirikannya Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI), yang diketuai BJ Habibie, Gus Dur secara terbuka
menentang. Ia menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian
hari, yang dalam tempo kurang dari sepuluh tahun ternyata pernyataannya
itu bisa dibuktikan benar atau tidak. Lalu, ia mendirikan Forum Demokrasi
sebagai penyeimbang ICMI.
Meski diakui ia besar antara lain karena NU, visi politiknya diyakini
rekan-rekan dekatnya sebagai melebihi kepentingan organisasi tersebut,
bahkan kadang melampaui kepentingan Indonesia. Hal ini tercermin dari
kesediaannya menerima kedudukan di Shimon Peres Peace Center dan saat dia
mengusulkan membuka hubungan dengan Israel.
Di masa Orba, saat Soeharto amat berkuasa, Gus Dur, dikenal sebagai salah
seorang tokoh yang licin untuk dikuasai. Bahkan Gus Dur dapat memanfaatkan
Keluarga Cendana dengan mengajak Mbak Tutut berkeliling mengunjungi
pondok-pondok pesantren. Gus Dur juga beberapa kali menyempatkan diri
mengunjungi Pak Harto setelah lengser.
Gus Dur dilahirkan 4 Agustus 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur,
keluarga Muslim berpengaruh di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim, adalah
mantan Menteri Agama pada 1945. Kakeknya, Hasyim Ashari, adalah satu dari
pemimpin Muslim terbesar pada pergantian abad 2000 lalu. Gus Dur mengikuti
tradisi keluarga dengan belajar di banyak pesantren. Nama Gus Dur diambil
dari tradisi di daerahnya, dimana penduduk setempat menyebut seorang putra
dari keluarga elit dengan sebutan ‘Gus’.
Ia juga sempat mempelajari sastra dan ilmu sosial di Fakultas Sastra
Universitas Baghdad, Irak. Hari-hari kuliahnya bersamaan dengan timbulnya
kekuasaan partai Baath, partai sosialisnya Saddam Hussein, yang menarik
banyak pengikut. Dengan latarbelakang ini, ia juga sempat digosipkan
sebagai ‘sosok berbau kiri’ pada masa Orba.
Dari Baghdad, ia kembali ke Indonesia 1974 dan mulai berkarir sebagai
‘cendekiawan’ dengan menulis sejumlah kolom di berbagai media massa
nasional. Pada akhir dasawarsa 70-an, suami dari Sinta Nuriyah, ini sudah
berhasil mengukuhkan diri sebagai satu dari banyak cendekiawan Indonesia
yang paling terkenal dan laris pula sebagai pembicara publik.
Nama Gus Dur makin mencuat setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU, dalam
Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Saat itu hubungan NU dengan
pemerintah sedang mesra-mesranya. Kendati dalam perjalanan selanjutnya,
Gus Dur tak selalu berkompromi dengan pemerintah. Misalnya, ketika
pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di
Muria, Gus Dur menentangnya. Demikian pula ketika Habibie mendirikan ICMI,
Gus Dur mengadakan perlawanan dengan mendirikan Forum Demokrasi.
Gus Dur pun tergolong rajin melontarkan kritik kepada pemerintah. Kritikan
itu lama-lama menyebabkan Pak Harto risih. Puncaknya terjadi pada
Mukhtamar NU di Cipasung 1994. Pemerintah berupaya menjegal Gus Dur. Tapi
Gus Dur tetap terpilih untuk periode kedua. Hal ini terekspresikan dari
ketidaksudian Presiden Soeharto menerima Gus Dur dan pengurus PBNU lainnya.
Salah satu kiprah Gus Dur yang paling menonjol saat memimpin NU, adalah
ketika ia membawa organisasi itu kembali ke khittahnya, keluar dari
politik praktis pada 1984. Kendati, pada tahun 1999, ia pula yang membawa
NU kembali ke dunia politik meski dalam format yang berbeda karena
dilakukan melalui pembentukkan PKB, partai yang selalu dirujuk sebagai
‘anak kandung’ NU.
Ia juga dikenal sebagai sosok pembela yang benar. Apakah itu kelompok
minoritas atau mayoritas. Pembelaannya kepada kelompok minoritas dirasakan
sebagai suatu hal yang berani. Reputasi ini sangat menonjol di tahun-tahun
akhir era Orde Baru. Begitu menonjolnya peran ini sehingga ia malah
dituduh lebih dekat dengan kelompok minoritas daripada komunitas mayoritas
Muslim sendiri. Padahal ia adalah seorang ulama yang oleh sebagian
jamaahnya malah sudah dianggap sebagai seorang wali.
Pada awal 1998 ia terserang stroke. Tapi tim dokter berhasil
menyelamatkannya. Namun, sebagai akibatnya penglihatannya kian memburuk.
Pada saat ia dilantik sebagai presiden, ia sudah dideskripsikan media
massa Barat sebagai ‘nyaris buta.’ Selain karena stroke, diduga problem
kesehatannya juga disebabkan faktor keturunan yang disebabkan hubungan
darah yang erat di antara orangtuanya.
Ia juga pengamat sepakbola yang tajam daya analisisnya. Bahkan, setelah
penglihatannya benar-benar terganggu, pada Piala Dunia Juni 2002 lalu, ia
masih juga antusias memberi komentar mengenai proyeksi juara.
Selain menjadi idola bagi banyak orang, Gus Dur juga menjadi idola bagi
keempat puterinya: Alisa Qortrunnada Munawarah (Lisa), Zannuba Arifah (Venny),
Anisa Hayatunufus (Nufus) dan Inayah Wulandari (Ina). Hal ini tercermin
dari pengakuan puteri sulungnya Lisa. Lisa bilang, sosok tokoh LSM Gus Dur
menurun padanya, bakat kolumnis menurun ke Venny, kesastrawanannya pada
Nufus dan sifat egaliternya pada Ina.
Calon Presiden
Ketua Dewan Suryo PKB ini, dicalonkan PKB menjadi Capres
berpasangan dengan Marwah Daud Ibrahim sebagai Cawapres Pemilu Presiden
2004.
Namun pasangan ini tidak diloloskan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU)
akibat Gus Dur dinilai tidak memenuhi persyaratan kemampuan rohani dan
jasmani untuk melaksanakan kewajiban sebagai presiden, sesuai dengan
pemeriksaan kesehatan tim Ikatan Dokter Indonesia. Akibat penolakan KPU
(22/5/2004) ini, Gus Dur melakukan berbagai upaya hukum, antara lain
menggugat KPU secara pidana dan perdata ke pengadilan dengan menuntut
ganti rugi Rp 1 trilyun, melaporkan ke Panwaslu, setelah sebelumnya
melakukan judicial review ke MA dan MK. Ia pun berketetapan akan berada di
luar sistem jika upaya pencalonannya tidak berhasil.
Namanya masuk dalam nominasi calon presiden Pemilu 2004, sebagai
satu-satunya Capres dari PKB.
Disebut-sebut bahwa ia masih mendapat dukungan dari para kyai.
Dia sendiri membenarkan hal ini dalam beberapa kali pernyataannya.
Namun beberapa politisi dan pengamat politik berharap, Gus Dur bisa
mengoptimalkan perannya sebagai salah seorang ‘bapak bangsa’.
Dengan tidak mencalonkan diri sebagai presiden, dia sebagai ‘bapak bangsa’
plus sebagai pemegang kendali (paling berpengaruh) di PKB, dapat memberi
pengaruh signifikan dalam perjalanan demokrasi di negeri ini. Kiat-kiat politiknya yang
sering kali tak terduga, diperkirakan akan sangat berpengaruh pada pentas
poltik nasional.
Bintang Iklan Wiranto-Wahid
Setelah tidak lolos menjadi Capres, dia tampil sebagai bintang iklan
pasangan Capres-Cawapres Partai Golkar Wiranto-Solahudin Wahid. Menurutnya
Wiranto-Solahudin lebih pantas dipilih daripada pasangan Capres-Cawapres
lainnya. Ia merasa yakin Wiranto akan menegakkan demokrasi sesuai dengan
pidato-pidato Wiranto. Semenatara Solahudin adik kandungnya sendiri
disebut adalah orang bersih karena terbukti lolos uji kelayakan sebelum
menjadi Wakil Ketua Komnas HAM.
Penampilan Gus Dur menjadi bintang iklan Wiranto ini, tampaknya semakin
menegaskan posisinya yang seringkali kontroversial. Seolah-olah ia tidak
mengingat lagi posisi Wiranto sebagai Panglima TNI saat terjadinya
kerusuhan Mei 1998 dan tragedi Semanggi I dan II. Dalam kerusuhan dan
tragedi ini, belum satu pun pejabat teras TNI-Polri yang menyatakan
bertanggung jawab, baik secara hukum maupun secara moral.
Tampaknya Gus Dur tidak terpengaruh kepada banyaknya dugaan
keterlibatan Wiranto, mantan Panglima TNI dan mantan Ajudan Presiden
Soeharto, itu dalam beberapa kasus pelanggaran HAM dan kerusuhan Mei 1998
serta pengerahan Pamswakarsa. Sementara sebagian besar masyarakat merasa
belum mendapat penjelasan yang bertanggung jawab dari Wiranto tentang
berbagai kasus itu.
Semenara itu, Wiranto sendiri sudah bersumpah-sumpah dalam iklannya
agar dipilih rakyat dalam Pemilu Presiden. Wiranto sendiri tampaknya tidak
merasa gagal ketika menjabat sebagai Panglima TNI saat mana negeri ini
dilanda kerusuhan yang amat mengerikan.
►ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|