A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai-Pemilu
 ► Ormas
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 10092007  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
Abdurrahman Wahid
Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Karir
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
 
 
     
 
BERITA

 

The Wahid Institute

Kembangkan Falsafah Pluralisme

 

Jakarta 10/9/07: The Wahid Institute berkomitmen terus mengembangkan falsafah pluralisme sebagai sintesis perdamaian. The Wahid Institute menjunjung pluralisme dengan menegakkan keadilan. Ikhtiar ini dipetik dari orasi Direktur The Wahid Institute Yenny Zanubba Wahid pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke-3 The Wahid Institute, Sabtu (8/9) di Jakarta.

Menurut puteri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, Wahid Institute menjadi oase pemikiran Islam yang progresif dengan menjunjung pluralisme, dan ke depan terus dikembangkan agar menjadi sarang para pemikir dan peneliti Islam di Indonesia. Wahid Institute, yang memegang pula falsafah Nahdlatul Ulama (NU) yang berwajah damai, juga meneruskan syiar Islam yang damai ke dunia internasional.

Pada kesempatan itu, Abdurrahman Wahid juga memberi orasi. Menurut Gus Dur, dari kondisi orang yang memiliki bermacam-macam pandangan, untuk menegakkan keadilan juga harus tetap menjamin perlindungan terhadap orang lain.

Menyinggung masalah yang terkait dengan kelompok orang yang berpandangan radikal Islam, yang kemudian dilekatkan sebagai kaum teroris, Gus Dur mengatakan, pihak Amerika Serikat pernah meminta supaya dirinya memberi pidato melalui rekaman. Di dalam pidato selama tujuh menit itu, Gus Dur menyampaikan agar Amerika Serikat hendaknya mencari titik persamaan-persamaan dengan kaum teroris.

The WAHID Institute merayakan usianya yang ke-3, sejak diluncurkan secara resmi pada 7 September 2004 di Jakarta. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memperingati sekaligus mensyukuri hari jadi ini.

Serangkaian acara untuk umum digelar di Kantor the WAHID Institute Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Matraman Jakarta, pada 8 September 2007, dari pukul 9.00-18.00 WIB.

Sejak pukul 09.00 - 18.00 diadakan Bazaar Buku Murah, yang melibatkan berbagai penerbit buku di Jakarta. Pukul 10.00-12.00 WIB ada ‘nobar’ (nonton bareng) film Paradise Now. Film ini besutan sutradara Hany Abu-Assad yang dibintangi Lubna Azabal, Kais Nashif, dan Ali Suliman, ini dipilih sebagai film yang akan diputar. Dijamin seru!

Untuk menyemarakkan suasana, acara dilanjutkan dengan pementasan group musik Lingkar Kreatifitas Insan Seni (eLkis), sejak pukul 13.00-16.00. Panggung musik ini terbuka bagi setiap tamu yang ingin menyumbangkan kebolehannya dalam kesenian. Mereka diharapkan kian menggayengkan kemeriahan acara.

Pukul 16.00-18.00, digelar diskusi buku teranyar karya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, terbitan the WAHID Institute, 2007.

Tampil sebagai pembicara Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Azyumardi Azra, Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI Badriyah Fayumi Lc, MA, dan sosialis DR. Daniel Dhakidae. Peneliti the WAHID Institute DR. Rumadi bertindak sebagai moderator.  ►ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)