|
|
 |

Nama:
Abdullah Puteh
Lahir:
Meunasah Arun, Aceh Timur, 4 Juli 1948
Pendidikan:
• Sekolah Rakyat, Idi, Aceh
• SMP, Idi, Aceh
• SMA, Langsa, Aceh, (1967)
• Akademi Teknik Pekerjaan Umum (ATPUT), Bandung (1974)
• Fakultas Teknik Planologi ITB, Bandung (1984)
Karir:
• Komandan Resimen Mahawarman Batalyon VI Detasemen ATPUT Bandung
(1969-1971)
• Ketua Umum HMI Cabang Bandung (1970-1971)
• Ketua Biro Kaderisasi PB HMI (1971-1973)
• Anggota Majelis Pekerja Kongres PB HMI (1973-1975)
• Kepala Dinas PU Aceh Timur (1974-1979)
• Ketua KNPI Aceh Timur (1974-1978)
• Ketua Departemen Wisata Pemuda DPP KAPPI
• Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP AMPI (1979)
• Ketua Gema MKGR DKI Jaya (1979)
• Anggota MPR/DPR RI (1979 --.. ) Ketua Umum DPP KNPI (1984-1987)
• Ketua Umum Apjati (Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) -
1996-1999
• Wakil Sekjen Golkar
- Gubernur Provinsi Nangroe Aceh Darussalam 2000-2005
Alamat kantor:
Kantor Gubernur Aceh
Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh.
|
|
Abdullah Puteh
Ditantang Mencari Solusi Konflik Aceh
Orang yang paling menentukan untuk penyelesaian konflik Acah boleh jadi
adalah Abdullah Puteh. Selaku Gubernur Nangroe Aceh Darussalam, ia adalah
orang yang paling berkuasa di daerah itu. Termasuk dalam sosialisasi
sembilan pasal kesepakatan penghentian permusuhan (The Cessation of
Hostilities Agreement), pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
yang telah didatangani 9 Desember 2002.
Kekerasan dan pembunuhan masih berkecamuk di Aceh. Tidak hanya anggota TNI
dan GAM yang sering kali menjadi koban, melainkan juga penduduk sipil.
Rasa takut masih saja menyelimuti masyarakat di daerah itu. Kketakutan itu
bukannya tanpa alasan. Jangankan rumah penduduk dan gedung sekolah yang
dibakar, beberapa waktu lalu, rumah dinas Abdullah Puteh pun pernah
dilempari bahan peledak oleh orang tidak dikenal. Praktis, ledakan di
pintu pagar rumah itu membuat panik orang-orang.
Kini berkembang wacana, untuk dapat segera mengakhiri konflik di daerah
itu, sudah saatnya diberlakukan darurat militer. Namun banyak kalangan
yang tidak sependapat dengan pemberlakuan darurat militer tersebut. Namun
apapu yang diperbincangkan orang, yang paling menentukan dalam hal ini
adalah Abdullah Puteh selaku penguasa di daerah itu. Ia kini ditantang
untuk mencari solusi yang paling baik dalam menyelesaikan konflik di
daerah kelahirannya itu.
Lahir di Meunasah Arun, Idi, Aceh Timur, 4 Juli 1948, Abdullah
menghabiskan masa kecil di Idi. Di sana pula ia menamatkan sekolah rakyat
dan sekolah menengah pertamanya. Sementara masa remajanya dilalui di
Langsa, Aceh Timur, sambil menamatkan sekolah menengah atas. Walau dimanja,
bungsu dari lima bersaudara ini sejak kecil belajar hidup prihatin. Untuk
menambah biaya sekolah, ia berjualan telur di pasar atau menjajakan nasi
bungkus di stasiun kereta api. Di rumah indekos, ''Saya rajin membantu
induk semang,'' katanya. Sehingga ia tidak dikutip bayaran.
Insinyur Teknik Planologi Kota ini adalah putra Tengku Haji Imam Puteh (almarhum),
seorang petani yang merangkap menjadi guru agama. Ketika di SMA Langsa, ia
aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Sempat pula ia
bercita-cita masuk Akabri, sebelum akhirnya memutuskan mencoba mendaftar
di ITB. Berbekal beasiswa dari Gubernur Aceh waktu itu, ia berangkat ke
Bandung. Sayang, ketika itu ia gagal masuk ke perguruan tinggi yang,
menurut Puteh, banyak melahirkan tokoh pergerakan itu. Akhirnya, ia
memilih kuliah di Akademi Teknik Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (ATPUT).
Setelah menjadi sarjana muda, ia kembali ke Aceh dan diangkat menjadi
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aceh Timur. Di kabupaten itu, ia sempat
menjadi Ketua KNPI. Pada 1979, ia berangkat ke Senayan menjadi anggota DPR
Pergantian Antar Waktu. Begitu tinggal di Jakarta, peluangnya untuk
melanjutkan ke ITB kembali terbuka lebar. Dan ia tidak mensia-siakan
kesempatan tersebut. Tak peduli ia mesti bolak-balik Bandung-Jakarta.
Karena, sebagai mahasiwa ITB, ia mesti kuliah di Bandung. Sementara
sebagai wakil rakyat, ia mesti berkantor di Senayan. Itu, selain
aktivitasnya sebagai pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang
berkantor pusat di Jakarta.
Dan hal itu tidak sia-sia. Pada Oktober 1984, ia meraih gelar sarjana
teknik. Sebulan kemudian, ia terpilih sebagai Ketua Umum DPP KNPI. ''Semua
itu merupakan rahmat Allah,'' katanya mensyukuri. Di samping itu, karirnya
sebagai anggota Dewan juga berlanjut. Setelah periode pergantian antar
waktu dilalui, suami Linda Purnomo -- mantan penyiar TVRI -- ini terpilih
kembali sampai dua periode berikutnya, dan sempat menjadi Wakil Ketua
Komisi V dan Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan.
Setelah tidak lagi berkantor di Senayan, ia mencurahkan waktunya sebagai
pengusaha. Ia juga tercatat sebagai Ketua Umum Apjati (Asosiasi Perusahaan
Jasa Tenaga Kerja Indonesia). Selain itu, ia masih aktif sebagai Wakil
Sekjen DPP Partai Golkar. Terakhir, pada 4 November lalu, ia terpilih
sebagai Gubernur Aceh dengan mengantongi 33 suara dari 54 anggota DPRD
Aceh. Ini adalah "perjuangannya" yang kedua kali untuk mencapai tampuk
pimpinan di daerah itu. Pada suksesi Gubernur Aceh sebelumnya, ayah dua
anak ini sempat dikalahkan oleh kandidat lain, Syamsuddin Mahmud.
Periode kepemimpinannya ini tentu sangat sulit, mengingat suhu konflik di
tanah rencong itu makin meninggi. Puteh sendiri mengaku akan berupaya
menyelesaikan konflik Aceh secara damai, adil dan bermartabat. Dan
penyelesaian konflik itu, menurut pengagum Jenderal Sudirman dan John F.
Kennedy ini, harus didahului dengan penyejukan. "Kalau tegang seperti
sekarang, semua orang pada mengkristal ke kekerasan. Orang tidak mungkin
melakukan perundingan," katanya dalam sebuah wawancara dengan Suara Karya.
"Saya meminta dukungan semua lapisan masyarakat agar berupaya menuju Aceh
baru yang lebih sejahtera," harapnya di lain kesempatan. Akankah niat
luhur Abdullah itu berhasil? Yang jelas, tantangan makin hebat. *** (Tokoh
Indonesia dari Tempo Interaktif dan berbagai sumber)
|
|