ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
DOKTER
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
C © updated 200502
Dr.H.Abdul Radjak
INDEX PROFESI   

garis

:::::: Profesi garis

:::::: Advokat garis
:::::: Akuntan
garis
:::::: Arsitek
garis
:::::: Banker
garis
:::::: CEO-Manajer
garis
:::::: Dokter
garis
:::::: Guru
garis
:::::: Konsultan
garis
:::::: Kurator garis

:::::: Notaris garis
:::::: Peneliti-Ilmuwan
garis
:::::: Pialang
garis
:::::: Psikolog
garis
:::::: Seniman
garis
:::::: Teknolog
garis
:::::: Wartawan
garis
:::::: Profesi Lainnya
garis
:::::: Redaksi
garis

garis
garis

 


Nama Lengkap :
Dr. H Abdul Radjak, SpOG
Tempat & Tanggal Lahir:
Jakarta, 13 September 1943
Suku Bangsa:
Betawi/Indonesia
Agama :
Islam
Isteri:
Dr. Sudinaryati, MARS
Anak:
Drg. Abdul Firman, Drg. Rini Adriani, Abdul Barry, SE dan Abdul Chairi
Pendidikan/Kursus:
SD Negeri Jakarta, 1956
SMP Negeri Jakarta, 1959
SMA Negeri Jakarta, 1962
SMA Noblesville, Indiana, USA, 1962-1963
Fakultas Kedokteran UI, 1963-1969
Dokter AHli Kebidanan – Penyakit Kandungan di
di FK-UI RSCM Jakarta, 1970-1975
Hospital Management Training di Jakarta, 1980
Course on Fertility Study di Johns Hopkins
Medical School, USA, 1982
Bermacam course, training dan seminar/conference
di dalam maupun luar negeri
Pekerjaan
Direktur Rumah Sakit Umum Bekasi, 1976-1982
Team Master Plan Institut Kanker Nasional Indonesia, 1982-1984
Kepala Sub Direktorat Gawat Darurat dan Evakuasi Departemen
Kesehatan RI, 1983-1996
Mendirikan RB MH. Thamrin (10 t.t.). 1976
Mendirikan Yayasan Rumah Sakit MH Thamrin yang bergerak
Dalam bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan tenaga kesehatan, 1979
Mendirikan Rumah Sakit MH Thamrin, Jl. Salemba Tengah 26-28
Jakarta Pusat, 1981
Mendirikan Yayasan Pendidikan MH. Thamrin yang bergerak dalam bidang
Pendidikan umum
Mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer MH. Thamrin
Mendirikan Sekolah Perawat Kesehatan MH. Thamrin, Sekolah Bidan MH. Thamrin, Akademi Perawatan MH. Thamrin, Akademi Gizi MH. Thamrin, Akademi Analis Kesehatan MH. Thamrin, Akademi Teknologi Sanitasi MH. Thamrin, Akademi Analis Farmasi dan Makanan MH. Thamrin
Usaha:
Mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan MH. Thamrin dan Akademi Manajemen Pelayanan Rumah Sakit MH. Thamrin
Mendirikan PT Thamrin Karya Husada/PT. Hospital
Corporation of Indonesia/PT. HCI yang bergerak dalam bidang
Pembangunan rantaian rumah sakit (hospital chain) dan waralaba
(franchising) Indonesia
Mendirikan PT. Jaminan Kesehatan Indonesia, (PT JAMKESINDO)
Bergerak dalam bidang pembiayaan kesehatan seperti asuransi kesehatan,
Jaminan kesehatan, managed care dan sebagainya.
Mendirikan PT Alkeslab yang bergerak di bidang perdagangan dan industri
alat kodokteran dan rumah sakit
Mendirikan PT Andalucia yang bergerak dalam konsultan rumah sakit dan
pelayanan kesehatan serta konstruksi sarana pelayanan kesehatan.
Organisasi:
Ketua Senat Mahasiswa FKUI 1963 - 1967
Ketua III Dewan Mahasiswa UI 1967 - 1969
Vice President Asian Regional Medical Student Association 1969-1970
Pimpinan Delegasi Mahasiswa Indonesia ke Sidang ASEAUS (Association
of South East Asia Student) di Bandung 1970
Ketua KAMI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1966-1967
Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Masyarakat Jakarta (Permata MHT)
1977-Sekarang
Ketua Korpi Sub Unit RSU Bekasi 1978 – 1982
Anggota Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia 1980 – Sekarang
Anggota Perkumpulan Obstetri – Ginekologi Indonesia 1976 – Sekarang
Ketua dan Pendiri Yayasan Rumah Sakit MH. Thamrin
di Jakarta 1979 - Sekarang
Ketua dan Pendiri Yayasan Pendidikan MH. Thamrin
Mendirikan Badan Musyawarah Betawi (Bamus Betawi) dan Persatuan
Masyarakat Jakarta MH. Thamrin (Permata MHT)
Penugasan ke LN
Amerika Serikat, Pertukaran Pelajar Amerika Indonesia 1962-1963
Amerika Serikat, Konggres, 1974/1995/1996/1997
Australia, Konggres, 1980/1992
Jepang, Konggres, 1979/1982/1985/1990/1991
Jepang, Konggres, 1982
Korea Selatan, Konggres, 1984/1989
Kanada, Seminar W.H.O, 1985
Swiss, Konsultan W.H.O.1986
India, Seminar W.H.O 1989
Samoa Barat, Seminar W.H.O 1993

Dr. H. Abdul Radjak, DSOG

Harapan Baru Pemberdayaan Rakyat


Arah dan buah reformasi harus bermuara pada peningkatan partisipasi dan kesejahteraan rakyat. Jadikan Jakarta ‘kampung halaman’ metropolis bagi insan dunia.

Potensi bangsa ini besar. Tidak hanya potensi populasinya melainkan juga keanekaan dan kecerdasannya. Namun, pemberdayaan sumber daya ini masih belum optimal. Selain disebabkan anggaran pendidikan terlalu kecil, juga muara kebijakan belum terfokus pada pemberdayaan rakyat.
Maka dalam pengamatan Dr Haji Abdul Radjak, DSOG, diperlukan suatu paradigma, suasana dan harapan baru pemberdayaan rakyat sebagai arah dan buah nyata reformasi. Semuanya harus bermuara pada peningkatan partisipasi dan kesejahteraan rakyat. Oleh rakyat dari rakyat untuk rakyat dalam suasana baru dan harapan baru sesuai dengan azas demokrasi.
Abdul Radjak, seorang dokter pendiri Yayasan Rumah Sakit Mohammad Husni Thamrin yang juga mendirikan beberapa akademi STIE dan STMIK, tampak selalu merasa terdorong ingin berperan lebih besar dalam perjuangan bangsa ini menjemput masa depan yang lebih baik. Dia telah memulai obsesi ini sejak masa muda di semua lingkungannya, dari lingkungan terkecil hingga lebih besar.
Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini. Kendati amat pedih, harus diakui bangsa yang berpotensi besar ini, kini sedang menderita dan sakit. Stabilitas ekonomi dan keamanan terhempas. Penegakan hukum dan keadilan belum kunjung ada kepastian. Di sana-sini terjadi penjarahan, kerusuhan, pertikaian dan tawuran antar warga serta tindakan massa main hakim sendiri.
Abdul Radjak menggambarkan Peristiwa 12-13 Mei di Jakarta, sebagai salah satu dari rangkaian kerusuhan tragis yang telah mencoreng arang di dahi bangsa ini. Bangsa yang tadinya dikenal ramah, sopan dan santun, secara mengejutkan menampakkan wajah sakit dan menakutkan. Akibatnya di mata sebagian bangsa lain, para perusuh itu ibarat orang rimba yang hidup di alam modern dan global. Hal ini amat menggelisahkan semua orang yang peduli pada eksistensi dan kesejahteraan bangsa ini. Kepedulian ini pula yang mendorong Abdul Radjak selalu mengajak teman kerja dan teman bicaranya untuk menyamakan visi dan berbuat sesuatu yang bermuara pada pemberdayaan rakyat.
Bukankah bangsa ini adalah bangsa beradab dan berdaulat. Bangsa heterogen yang telah sepakat bersatu membentuk suatu negara hukum yang demokratis berasas Pancasila. Suatu bangsa yang bhinneka tunggal ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sesungguhnya, kata putera bangsa berdarah Betawi ini, perbedaan suku, ras, agama dan golongan adalah pelangi kekayaan bangsa ini. Kebhinnekaan ini sepatutnya menjadi suatu modal dasar dalam menapaki perjuangan mencapai kesejahteraan bersama.
Kehidupan Jakarta yang amat heterogen, tampaknya telah menyatu dalam aliran darah anak bangsa kelahiran Jakarta, 13 September 1943 ini. Bagi dia, Jakarta adalah kampung asli Betawi yang terbuka sebagai ‘kampung halaman’ bagi para penghuninya. Tidak saja dari suku, ras, agama dan golongan yang ada di Indonesia, bahkan dari berbagai bangsa dan negara. Suasana ini, menurut Abdul Radjak, terutama di Jakarta, harus diciptakan. “Jadikan Jakarta ‘kampung halaman’ metropolis bagi semua orang sebagai wajah Indonesia terdepan,” seru Abdul Radjak.
Tampaknya pergaulan nasional dan internasional, suami Dr Sudinaryati MARS, ini yang sedemikian luas dan luwes telah menempanya berwawasan global dalam jatidiri keindonesiaan yang kuat. Menurutnya, dalam banyak hal termasuk kecerdasan, orang Indonesia tidak kalah dari orang-orang asing. Salah satu karya nyatanya membuktikan keyakinan ini. Dia mendirikan beberapa akademi dan sekolah tinggi dengan kualifikasi mampu bersaing secara global. Dalam kaitan ini, dia punya obsesi agar kiranya Indonesia tidak hanya mampu mengirim tenaga kerja pembantu rumah tangga ke luar negeri. Melainkan juga tenaga-tenaga menengah terampil, seperti perawat, teknisi, pilot dan sebagainya.
Kepedulian kepada orang lain, anak kesepuluh dari sebelas bersaudara dari pasangan Haji Abdul Wahid dan Hajjah Asemah Aseni, ini tidak terlepas dari asuhan orang tua dan ketaatan pada ajaran agama Islam yang dianutnya. Dia seorang pribadi yang religius, nasionalis dan berwawasan global.
Dia bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Tapi proses kehidupan dan proses pengasuhan dalam keluarga telah menempanya menjadi manusia yang selalu berobsesi melakukan yang terbaik untuk semua orang, bangsa dan negaranya.
Ayahnya seorang pekerja keras. Seorang mandor derek di Pelabuhan Tanjung Priok. Guna menunjang ekonomi keluarga, ibunya juga berdagang makanan secara kecil-kecilan.
Namun demikian, Abdul Radjak selalu menekuni sekolah. Dari SD, SMP dan lulus SMA tahun 1962. Kemudian melanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Keinginan untuk menjadi seorang penerbang pesawat jet tempur tidak kesampaian, karena tidak disetujui oleh orang tuanya. Sebagai seorang yang hidup di lingkungan Islam, ibunya beranggapan menjadi seorang penerbang jet tempur hanya untuk membunuh manusia. Ibunya lebih mendorong memilih sebagai seorang dokter yang mempunyai pekerjaan menolong mereka yang menderita.
Semenjak di SMA sampai kuliah di FK-UI, karena keuangan yang jauh dari kecukupan, Radjak muda berjuang keras untuk memenuhi biaya sekolah dan kuliahnya secara mandiri. Jadi loper koran dan bisnis ke sana ke mari. Juga aktif main band. Dia kuat dengan tekadnya sendiri dan dorongan moral dari kedua orang tua, terutama ibu yang sangat dihormatinya.
Semua itu dilakukan untuk dapat menyelesaikan kuliahnya. Namun, kuliahnya sempat terpaksa ditangguhkan dulu selama satu tahun karena mendapat tugas belajar di Amerika Serikat dalam rangka tukar menukar pelajar antara pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia, American Field Service (AFS).
Sifat dan jiwa kepemimpinan sudah memancar pada dirinya sejak masa muda. Dia aktif pada organisasi kemahasiswaan, terutama kegiatannya dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Pernah dalam suatu peristiwa dia dilukai oleh salah seorang rekannya yang mempunyai pandangan politik yang berbeda.
Pada tahun 1969 dia lulus dan membuka praktek sebagai dokter umum. Pendidikannya di bidang kedokteran dilanjutkan dengan mengambil spesialisasi kebidanan dan kandungan (Obstetri Ginikologie) lulus tahun 1973.
Pada usia 27 tahun dia melepaskan masa lajangnya. Dia mempersunting adik mahasiswanya di FK-UI, seorang mojang Parahiangan menjadi teman hidupnya. Mereka dikaruniai 3 putra dan 1 putri yaitu Drg. Abdul Firman (1971), Drg. Rini Adriani (1972), Abdul Barry SE (1975) dan sibungsu Abdul Chairie (1981) masih kuliah di kedokteran.
Sebagai pejabat di lingkungan Departemen Kesehatan pernah menjabat sebagai Kasubdit Gawat Darurat dan Evakuasi Dirjen Yanmedik. Dia sering mewakili Indonesia dalam kegiatan internasional kesehatan. Pernah menjadi konsultan di Markas Besar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Direktur Umum Rumah Sakit Bekasi pada tahun 1976.
Kiprahnya sebagai seorang yang mempunyai cita-cita tinggi di bidang industri kesehatan, telah berhasil diwujudkannya dengan mendirikan satu rumah sakit bertaraf International, RS MH Thamrin. Para sahabat dan kerabat dekatnya mengatakan dia tidak berambisi memperkaya diri dari rumah sakit itu. Kata mereka, “Kalau hanya untuk memperkaya diri dengan praktek sebagai dokter ahli kebidanan dan kandungan saja, beliau sudah kaya.”
Itulah sosok Dr Abdul Radjak yang berpangkal pada ajaran agama yang kuat. Orang yang banyak beramal saleh untuk membantu kehidupan sesama umat manusia. Prinsip itu terbukti dalam segala kegiatannya, baik di lingkungan pelayanan kesehatan maupun pendidikan kesehatan. Kini, sekurang-kurangnya lembaga-lembaga yang didirikannya telah menyerap ratusan bahkan mungkin ribuan tenaga kerja. (Tokoh Indonesia)
 

PROFIL
Putra Pertama Betawi Pemilik RS
indosiar.com - Berbicara dengan dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan ini sangat menarik. Tidak hanya menguasai masalah kedokteran tetapi juga permasalahan bidang marketing, yang menurutnya sebagai bekal dalam menjalankan bisnis rumah sakitnya.

Dr. Abdul Radjak, DSOG, adalah putra Betawi asli. Ia lahir sebagai anak ke-10 dari 11 bersaudara pasangan H Abdul Wahid bin Djimun dan Hj Asemah binti Aseni. Ia dilahirkan di Jakarta, 13 September 1943. Pria yang berhasil mendirikan Rumah Sakit MH Thamrin Internasional di Jl. Salemba Tengah dan beberapa RS lainnya serta sejumlah lembaga pendidikan tinggi ini berasal dari keluarga Betawi yang sederhana. Ayahnya hanya seorang mandor derek di sebuah perusahaan derek pelabuhan di Tanjung Priok.

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Abdul Radjak telah menampakkan sifat-sifatnya yang menonjol sejak kecil. Selain memiliki wajah dan tubuh yang bersih, ia juga pintar, periang, humoris dan spontan. Kendati menjadi anak emas dan diistimewakan, Radjak tidak manja. Sebaliknya, sejak kecil ia justru telah menunjukkan sifat-sifat kemandirian.

Ia pernah menjadi tukang loper koran ketika masih duduk di kelas IV di Sekolah Rakyat (SR) dan meningkat menjadi agen koran setelah duduk di SMP. Ia juga pernah menjadi makelar tanah ketika duduk di bangku SMA dan kuliah di FKUI serta sejumlah obyekan lain termasuk di bidang musik.

Menjadi tukang loper koran memberikan kesempatan kepadanya untuk membaca koran setiap hari. Pikirannya yang cemerlang mampu menyerap berita-berita yang dicetak pada hari itu. Selain wawasannya bertambah luas, dengan membaca koran ia menjadi tahu tentang tokoh-tokoh pergerakan yang terus berjuang untuk memajukan bangsa dan siapa pula yang menjadi pecundang.

Ia juga berkesempatan untuk 'berkenalan' dengan tokoh pers nasional yang juga tokoh pergerakan seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar dan Sultan Takdir Alisjabana. "Saya ketika itu bercita-cita menjadi wartawan kalu sudah dewasa. Tapi, garis tangan ternyata menentukan lain", jelas ayah dari empat orang putra-putri yang salah satunya mengikuti jejaknya sebagai dokter.

Begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1969, Abdul Radjak langsung diterima di Departemen Kesehatan. Ia lalu mendapatkan kesempatan untuk tugas belajar di Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan FKUI. Tak lama setelah Radjak lulus dari Spesialis Kebidanan FKUI, ia diserahi tugas sebagai Direktur RSUD Bekasi. Bagi Radjak menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, berarti mendapatkan kesempatan untuk belajar di bidang manajemen RS.

Lazimnya RSUD-RSUD di sejumlah tempat di Indonesia, rumah sakit dikelola dengan apa adanya. "Rumah Sakit Bekasi waktu itu mirip seperti kandang kambing", ujarnya. Pada saat masih menjadi Direktur RSUD Bekasi, ia membangun sebuah Rumah Bersalin di Tegalan, Jakarta Pusat (1976). Dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 10 buah, klinik ini bisa menerima pasien rawat inap.

Bagi Radjak, inilah yang paling membahagiakan. Setidaknya, ia yang juga berdarah Betawi, tercatat sebagai seorang pertama Betawi yang menjadi dokter spesialis kandungan sekaligus memiliki rumah bersalin tersebut. Tak aneh, sebagai apresiasi akan hal tersebut, Gubernur Ali Sadikin saat itu berkenan menghadiri dan meresmikan sekaligus beroperasinya klinik tersebut.

Jakarta yang dicita-citakan Abdul Radjak adalah Jakarta yang berkehidupan dinamis, harmonis, humanis dan juga demokratis. Tanda-tanda kehidupan yang demikian tercermin dalam beberapa aspek diantaranya terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pada pencalonan Gubernur DKI Jakarta periode 2002 - 2007, Abdul Radjak mencalonkan dirinya sebagai gubernur. Namun sayang ternyata ia tidak dapat maju ke babak selanjutnya.

Jika telah menetapkan sesuatu yang ingin diraih, ia selalu konsisten dengan komitmen tersebut. Itulah ciri yang sangat lekat dengan Abdul Radjak. Mendirikan sebuah rumah sakit modern bertaraf internasional di Jakarta bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebuah perjalanan panjang yang dilalui penuh dengan liku-liku.(Idh)

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero