| |
C © updated 07092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ac |
|
| |
Nama:
AbdulLatief
Lahir:
Banda Aceh, 27 April 1940
Ibu:
Siti Rahmah
Pendidikan:
- SMP Negeri V, Jakarta, tahun 1956
- SMA Negeri VII, Jakarta, tahun 1959
- Akademi Pimpinan Perusahaan (APP), Jakarta, tahun 1963
- Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, tahun 1965
- Kursus Manajemen Toserba, Seibu Group, Tokyo, Jepang tahun 1966
Karir:
- Pimpinan Promosi Penjualan dan Pengembangan Eskpor PT Department
Store Sarinah, tahun 1963-1971
- Mendirikan PT Latief Marda Corporation, tahun 1972
- Mendirikan PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya, tahun 1974
- Direktur Utama Sarinah Jaya Group tahun 1972-1993, yang kini dikenal
sebagai A’Latief Corporation
- Menteri Tenaga Kerja 1993-1998
Kegiatan lain:
- Pejabat Direktur Akademi Pimpinan Perusahaan, Departemen
Perindustrian, tahun 1969-1970
- Pendiri dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), tahun
1972-1973
- Ketua Dewan Kehormatan Hipmi, tahun 1973 sampai sekarang
- Ketua Kompartemen Perdagangan dan Koperasi Kadin Indonesia, tahun
1979-1982
Alamat Rumah:
Jalan Raya Kalimalang Nomor 77, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Telepon: (021) 864.2913, Faksimili: (021) 864.0009 |
|
| |
|
|
|
|
Abdul Latief
Angkat Harkat Tenaga Kerja
Ia sukses sebagai pengusaha toko serba ada yang
menampung banyak tenaga kerja dan mempromosikan aneka produksi kerajinan
rakyat. Kerja keras yang dimulainya dari bawah membuahkan kepercayaan dari
Pak Harto yang mengangkatnya sebagai Menteri Tenaga Kerja tahun 1993-1998. Di masa
kepemimpinannya UMR dan THR menjadi akrab ditelinga pekerja dan majikan
disepakati bersama untuk dilaksanakan.
Kiprah suksesnya sebagai pengusaha toko serba ada (toserba) Pasaraya
Sarinah Jaya dikenal banyak orang. Gerai terbesarnya di kawasan Blok M,
dan Manggarai keduanya di Jakarta Selatan serta di Puit Jakarta Utara
banyak menampung tenaga kerja Indonesia. Produk-produk lokal dan kerajinan
tangan khas Indonesia mengisi sudut-sudut gedung perbelanjaannya. Pasaraya
Sarinah Jaya menjadi identik pusat perbelanjaan elit kelas menengah atas
bagi warga Indonesia, sekaligus pula sebagai toko serba ada standar
maksimal bagi para wisatawan mancanegara yang wajib dikunjungi untuk
menemukan barang-barang kerajinan khas Indonesia.
Abdul Latief, pria Minang kelahiran Banda Aceh 27 April 1940 ini memulai
karir sebagai pengusaha toko serba ada terkemuka sungguh-sungguh dari
bawah. Khas sifat pedagang perantau Minang yang tak sedikitpun mau
menyia-nyiakan sisa lapak emperan toko, Abdul Latief awalnya memulai
bisnis besarnya dari sebuah toko kecil yang dibelinya di daerah Grogol,
Jakarta Barat.
Ceritanya bermula ketika dia bekerja di Toserba Sarinah, milik pemerintah
di bawah kendali Departemen Perdagangan yang gedung dan gerainya terletak
di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Sambil melanjutkan kuliah mengambil S-1 di
Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayanan (Unkris), Jakarta, oleh
perusahaan Toserba Sarinah ia dikirim ke luar negeri mengikuti studi
manajemen toserba di Grup Seibu, sebuah toserba terkenal dari Tokyo,
Jepang, tahun 1966. Antara tahun 1963-1971 Abdul Latief adalah Pimpinan
Promosi dan Pengembangan Ekspor PT Departement Store Sarinah.
Sekembali di Tanah Air, lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP)
Departemen Perindustrian tahun 1963 ini menyodorkan konsep baru tentang
pemasaran untuk diterapkan di Toserba Sarinah ya ia dasarkan atas konsep
pemasaran yang sudah ia pelajari di Negeri Matahari Terbit, Jepang. Tapi
apa lacur idenya membangun konsep pemasaran toko serba ada yang modern
kurang berkenan di hati pimpinan yang mengutusnya belajar ke Negeri
Sakuran Jepang itu.
Sebuah mobil yang dibawanya dari Jepang ia lego untuk segera dibelikan
sebuah toko kecil di daerah Grogol, Jakarta Barat. Di situlah untuk
pertama kali ia menyiapkan diri menjadi pengusaha sekalian mandi basah
turun berdagang di lapangan. “Saya tertarik pada pedagang eceran seperti
di Pasar Baru,” ucapnya memberi alasan berdagang dengan membuka toko kecil.
Latief kemudian mengajukan diri berhenti dan Sarinah dan mendirikan
perusahaan sendiri PT Latief Marda Corporation tahun 1972, dibantu oleh
adiknya Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, tahun 1974 berdiri lagi sebuah
perusahaan miliknya PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya. Sekarang
semua institusi bisnis Abdul Latief yang antara lain bergerak di bidang
agrobisnis, buku, periklanan, asuransi, developer, konstruksi, eceran, dan
media massa bernaung dalam sebuah nama bendera konglomerasi A’Latief
Corporation.
Telepon Pak Harto
Kepiawaian anak keenam dari sembilan bersaudara ini berbisnis dan
mengelola sumberdaya manusia, yang setiap hari bersentuhan dengan
pengelolaan dan pemberdayaan tenaga kerja, suatu ketika menarik perhatian
Pak Harto yang sedang menjabat Presiden.
Majalah Matra edisi Juni 1993 menuliskan, menjelang sahur di suatu hari di
bulan suci Ramadhan tahun 1993 seorang anaknya menegur Latief agar
selekasnya sembahyang tahajud agar bisa makan sahur bersama dengan istri
dan keempat anaknya. Anaknya itu berkomentar bahwa Latief jika shalat
mesti panjang-panjang berdoa dan banyak benar yang dimintakannya kepada
Tuhan.
“Eh, gue mau minta sama siapa lagi kalau bukan sama Tuhan, gue kan dirut
di atas gue cuma Tuhan,” balas Latief kepada anaknya, yang saban berbicara
selalu menggunakan bahasa dan dialek Betawi dari Jakarta sebab merasakan
hidup dan besar di bumi Betawi Jakarta. Bukan cuma kepada anak, dalam
pembicaraan formal dan dalam kapasitas sebagai petinggi pemerintahan pun
ia acapkali menggunakan bahasa Betawi yang lancar dilafalkannya. Usai
“berdebat” tak lama kemudian telepon berdering, suara berasal dari seorang
ajudan Presiden Soeharto yang lalu memberi sebuah nomor telepon untuk
segera dihubungi. Nama yang diminta hendak dihubungi siapa lagi kalau
bukan Pak Harto, penguasa Orde Baru ketika itu.
“Assalamu’alaikum,” tukas Latief memberi salam pertama. “Wa’laikum salam,
apa kabar Saudara Llatief? Saudara akan mendapat tugas dari negara untuk
membantu meningkatkan mutu tenaga kerja kita, melakukan perlindungan
terhadap tenaga kerja, kemudian memberi latihan dan meningkatkan
kesempatan kerja,” kata Pak Harto singkat.
Pak Harto sempat pula menanyakan bagaimana nantinya sebagai menteri
kelangsungan hidup perusahaan Latief yang dibangun dengan susah payah dari
bawah itu. Latief menjelaskan singkat, jika memang ada panggilan tugas
negara ia akan meninggalkan bisnisnya itu. “Apa bisa ditinggalkan,” tanya
Pak Harto lagi butuh penjelasan lanjut. Latief lalu menyebutkan sudah
sejak lama menyiapkan pengganti di setiap bisnisnya, dan kegiatan
terakhirnya lebih banyak pada urusan perencanaan dan pengawasan saja.
Latief menambahkan pula sudah mendirikan Yayasan Abdul Latief untuk
mempersiapkan pendirian Universitas dan Politeknik.
Penunjukan Abdul Latief menjadi Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
tahun 1993-1998 oleh Pak Harto berlangsung singkat saja, hanya dalam
pembicaraan sederhana berdurasi empat menit. Tapi, tentu saja Pak Harto
sebelumnya sudah mengantongi info lengkap berikut jejak rekam pendiri dan
mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) tahun
1972-1973 ini.
Berbagai prestasi dan kebijakan yang Latief telurkan semasa menjabat masih
terasa hingga kini. Misalnya, munculnya istilah upah minimum regional (UMR)
yang membatasi setiap pengusaha untuk harus memberi upah paling rendah ke
setiap karyawan yang besarnya disesuaikan dengan tingkatan kebutuhan dan
taraf hidup di lingkungan regional perusahaan. Demikian pula kebijakan
keharusan setiap pimpinan perusahaan memberikan tunjangan hari raya (THR)
kepada setiap karyawan, tanpa kecuali setiap menjelang perayaan hari besar
keagamaan seperti Hari Raya Lebaran diberikan kepada karyawan beragama
Islam dan menjelang Hari Natal kepada karyawan beragama Nasrani.
Kebijakan UMR dan THR yang dituangkannya menjadi peraturan sehingga
hukumnya wajib, itu ia maksudkan untuk mendorong para pengusaha agar lebih
memanusiakan para karyawan. Sebelum kehadiran Abdul Latief pemberian THR
dianggap sebagai tindakan belas kasihan saja dari majikan kepada buruh
tanpa payung hukum yang jelas. Karenanya THR boleh ada dan boleh juga
tidak ada. Dalam pandangan Latief THR dimaksudkan untuk mengangkat harkat
martabat dan derajat para tenaga kerja.
Demikian pula dalam upaya membangun sumberdaya manusia berjangka panjang,
Latief memastikan sistem pendidikanlah yang akan menentukan. Sambil
menggugat etos bangsa yang sudah seharusnya dipertanyakan, ketika itu
Latief menyebutkan, “Hidup santai tidak boleh lagi untuk membangun tenaga
kerja siap pakai.”
Menjadi menteri bagi mantan aktivis Hipmi dan Kadin Indonesia ini berarti
memasuki area politik, sebuah jalur kehidupan baru yang sesungguhnya sudah
menjadi cita-citanya semenjak remaja. Cita-cita itu dahulu tidak segera
direngkuhnya sebab usai tamat dari SMA Negeri VII Jakarta tahun 1959, ia
justru mengikuti jejak langkah ayahnya menjadi pengusaha, kendati ayahnya
itu seorang figur yang sesungguhnya hanya sempat dikenalnya hingga berusia
empat tahun. Abdul Latief adalah orang Padang. Ayahnya sejak berusia 19
tahun merantau ke Aceh untuk mendalami Islam sekaligus berdagang tekstil.
Ibunya, Siti Rahmah adalah aktivis Aisyiah Muhammadiyah di Bumi Serambi
Mekkah Aceh itu.
Abdul Latief anak keenam dari sembilan bersaudara lahir di Kampung Baru,
Kutaraja yang kini dikenal sebagai Banda Aceh. Ketika usianya menginjak
empat tahun ayahnya meninggal dunia. Ia sempat diasuh oleh neneknya namun
tak lama dua tahun kemudian neneknya ini meninggal dunia pula. Usia
sepuluh tahun ia bersama keluarga hijrah ke Jakarta pada tahun 1950. “Ibu
dengan penuh kasih memikirkan masa depan kami,” tutur Latief mengenang
bentuk pengasuhan ibu kandungnya, Siti Rahmah.
Sejak kecil daya pikir otak Abdul Latief sudah dikenal encer. Semasa duduk
di bangku Sekolah Dasar (SD) nilai rapornya selalu rata-rata sembilan
membuatnya sering menjadi juara kelas. Latief antara lain menggemari
pelajaran sejarah, ilmu bumi, dan berhitung. Begitu pula dibangku SMP,
yang ditempuhnya di SMP Negeri V Jakarta lulus tahun 1956. Letak
sekolahnya itu berdekatan dengan bioskop Astoria di Jalan Pintu Air,
Jakarta. Masa remaja dikenang Latief yang semasa muda rajin belajar dan
membaca sebagai masa-masa yang lumayan meriah senang berkelahi dan
menonton.
Sebagai pengusaha toko serba ada yang membuka cabang hingga ke Singapura,
Abdul Latief telah berkesempatan mengangkat produksi rakyat. Jika awalnya
ia melakukan penjualan dalam skala besar dengan menyewa satu lantai gedung
Sarinah berlokasi di Jalan Thamrin, Jakarta, maka menjelang akhir kontrak
ia membangun gedung sendiri di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Gedung inilah yang membuatnya semakin terkenal sebagai pemilik
pusat perbelanjaan modern pertama Pasaraya. Pasaraya Sarinah Jaya Blok M
menjadi landmark pusat perbelanjaan modern Indonesia. Hingga kini pusat
perbelanjaan miliknya itu masihlah terbesar nomor satu di seantero penjuru
tanah air.
Menguak kisah suksesnya sebagai pengusaha ia menyebutkan menganut sistem
manajemen terbuka. Sebagai pengusaha, menurut pengalamannya ia paham
tentang apa dan bagaimana seorang tenaga kerja yang terampil. Di masanya
pula sebagai Menteri Tenaga Kerja ia mengoreksi opini sebagian besar orang
yang membanggakan biaya tenaga kerja di Indonesia. “Saya tidak sepakat.
Dari awal saya jadi menteri saya bilang, kita jangan lagi bermimpi,
berfikir tentang tenaga kerja murah. Ini mesti kita buang,” ujarnya,
bertentangan dengan keinginan sebagian besar pengusaha yang maunya
memanfaatkan keberadaan tenaga kerja semaksimal mungkin namun menyepelekan
sumbangsihnya terhadap keberlangsungan perusahaan. Abdul Latief melansir
status pekerja bukan sekadar sapi perahan melainkan mitra usaha sejajar
bagi para majikan.
Ia sempat digosipkan menikah dengan
Desy Ratnasari, pemain siteron sekaligus petembang lagu “Tenda Biru” yang
terkenal itu. ►ht, sumber “Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang”,
halaman 25-28
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|