| |
C © updated 20102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Abdul Haris Nasution
Pangkat:
Jenderal Bintang Lima
Lahir :
Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal:
Jakarta, 6 September 2000
Agama :
Islam
Istri:
Ny Johanna Sunarti
Pendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (1938)
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu
Ketatanegaraan, 1962)
- Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)
Karir :
= Guru di Bengkulu (1938)
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)
Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080
Sumber:
Berbagai sumber |
|
| |
|
|
|
|
Abdul Haris Nasution (1918-2000)
Jujur Pada Sejarah dan Nurani
Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir
hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada
keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme.
Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah
direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.
Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat
beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya
kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih
sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung
memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari
militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas
terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai
sekarang.
Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap
sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi
tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak
yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa
MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.
Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika
melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika
menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan
penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.
Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi
ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda
militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara
menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang
rakyat.
Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid
penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk
dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang
akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak
menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan
Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.
Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya
melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang
gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla
Warfare.
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku
wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi
militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah
mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi.
Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.
Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto,
pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk
dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika
pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas
memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.
Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun
duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu
menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh
jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan
Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba,
dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa
Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang
terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan
Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).
Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota
pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli
Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh
bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai
perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.
Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu
dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti
karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga
dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah
muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat
pasti kalah.
Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi,
Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir
gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode
perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima
Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).
Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo,
aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar
bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung)
sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang
terbunuh).
Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas
acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas
menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan
di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ''Peristiwa 17
Oktober'', yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung
Karno memberhentikannya sebagai KSAD.
Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai
KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta.
Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya
dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat
lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.
Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada
sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin
besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan
Amerika, ''Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia,
sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan.'' ►sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|